[0:16]Salam jumpa dengan Kanjuddin Channel. Kita kembali jumpa dengan Kanjuddin Channel. Pada kesempatan ini, Kanjuddin Channel akan membahas tentang hakikat bahasa. Saya sebagai penulis buku Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi. Sering ditanya, Pak Kanjuddin, apa hakikat bahasa? Hakikat bahasa adalah lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan memiliki makna. Saya ulangi, lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang memiliki makna. Kemudian fungsi bahasa sebagai apa? Bahasa secara umum merupakan alat komunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam aktivitas sehari-hari, bahasa digunakan untuk percakapan. Dalam konteks ini, bahasa memiliki fungsi sebagai sarana interaksional dan transaksional. Akan tetapi, bahasa itu juga memiliki fungsi khusus. Nah, untuk mengetahui fungsi khusus bahasa, kita harus melakukan analisis atau kajian terhadap bahasa yang berkaitan dengan konteks pemakaiannya. Baik dalam kalimat, baik dalam paragraf maupun dalam wacana.
[2:37]Bahasa memiliki fungsi yang berkaitan dengan personal atau seseorang dan berkaitan dengan masyarakat secara komunal. Tadi sudah saya jelaskan bagaimana bahasa secara personal juga bisa dimanfaatkan untuk interaksi maupun untuk transaksi begitu juga secara komunal. Nah, kemudian apa fungsi bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai sarana untuk menjalankan administrasi negara. Misalnya dalam hal membuat regulasi atau aturan, dalam hal perundang-undangan, dalam hal pidato acara kenegaraan secara resmi itu menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi sebagai pemersatu antar suku yang ada di bumi Nusantara. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi sebagai penampung kebudayaan yang ada di Nusantara. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi sebagai identitas bangsa Indonesia dan sekaligus sebagai kebanggaan bangsa Indonesia. Kemudian apa jenis-jenis bahasa? Ini yang sering ditanyakan oleh orang-orang kepada saya. Jenis-jenis bahasa, pertama adalah bahasa diam, yaitu cara komunikasi antara penutur dengan mitra tutur akan tetapi mitra tutur mendakapinya dengan diam. Misalnya, ada seorang mahasiswa yang berada di dalam satu kos, satu kamar. Biasanya temannya itu pulangnya tepat waktu, misalnya setiap pukul 3.00 pulang. Akan tetapi, di suatu hari tertentu, dia pulangnya sampai pukul 7.00 malam.
[5:43]Kemudian temannya yang ditanya tadi tidak menjawab. Langsung masuk ke kamar dan banting tas, misalnya, tas kuliahnya, misalnya. Ini seorang yang paham bahasa, dia tidak akan bertanya lagi. Dia akan paham, oh, teman saya ini baru ada masalah. Sehingga di dalam berkomunikasi, dia menanggapinya dengan dia. Kemudian yang kedua adalah bahasa tanda, yaitu cara berkomunikasi dengan menggunakan tanda-tanda. Nah, bahasa tanda ini banyak digunakan oleh polisi lalu lintas. Misalnya, ada tanda dilarang parkir ya, yang diwujudkan dengan tanda-tanda tertentu itu. Kemudian bahasa kode yang ketiga, atau biasa disebut dengan bahasa isyarat. Misalnya, di dalam budaya Indonesia, orang kalau ditanya menganggukkan kepala, berarti itu sudah menunjukkan persetujuan. Sebaliknya, ada seseorang ditanya, tetapi yang bersangkutan menggelengkan kepala, berarti orang orang yang bersangkutan menyatakan bahwa dirinya tidak setuju. Keempat adalah bahasa kontak. Cara berkomunikasi dengan menyinggungkan anggota badan atau kontak jasmani. Misalnya, ada seorang nenek atau seorang kakek, cucunya yang baru datang dari jauh, kemudian dipeluk, kemudian dibele-bele rambutnya, itu menunjukkan bahwa kakek atau nenek tersebut mencurahkan kasih sayangnya atau kerinduannya yang sudah lama tidak bertemu dengan cucunya. Berikutnya bahasa simbol. Bahasa simbol merupakan cara komunikasi yang unik. Mengapa? Karena mitra tutur untuk memahami pesan yang disampaikan oleh penutur dengan cara mengamati simbol yang dipakai oleh penutur.
[8:40]Misalnya, ada seseorang yang mengenakan cincin di jari manis tangan kanan, maka pesan yang disampaikan oleh penutur yang bersangkutan adalah penutur telah menikah. Terakhir adalah bahasa verbal. Cara komunikasi antar partisipan dengan cara menggunakan organ-organ atau lambang-lambang verbal. Jika menggunakan organ, mengacu kepada bahasa lisan. Sebaliknya, bila menggunakan lambang verbal, berarti mengacu kepada bahasa tulis. Bahasa verbal inilah yang bisa dikaji, dianalisis, dan diteliti untuk dikembangkan menjadi sebuah ilmu. Dan sekaligus hanya bahasa verballah yang memiliki manfaat, memiliki fungsi untuk menyampaikan ilmu pengetahuan secara luas, secara mendalam, dan secara utuh. Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan yang dipelajari adalah bahasa verbal sebagai sebuah atau bidang keilmuan. Kemudian tujuannya apa seseorang atau kelompok orang menguasai bahasa atau tujuan penguasaan berbahasa itu apa? Pertama adalah tujuan praktis. Seseorang mempelajari bahasa karena ingin bisa berkomunikasi dengan pemilik bahasa. Contohnya, kita belajar bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan orang Inggris atau bangsa Inggris sebagai pemilik bahasa Inggris. Yang kedua adalah tujuan estetis. Tujuan estetis berkaitan dengan keindahan, misalnya, seorang penyair, seorang cerpenis, seorang novelis atau sastrawan. Dia dengan mempelajari keindahan-keindahan bahasa, kemudian untuk mengaktualisasikan perasaan, pikiran, ide, gagasan dalam bentuk karya sastra, apakah itu puisi, apakah itu cerpen, apakah itu drama, maupun novel. Yang ketiga adalah tujuan filologis. Seseorang mempelajari bahasa karena ingin mengungkap nilai-nilai budaya, pemilik bahasa yang bersangkutan.
[12:46]Contohnya, kita ingin mengungkap filosofi, nilai-nilai sosial yang ada di dalam masyarakat Jawa, maka kita harus mempelajari bahasa Jawa, harus menguasai bahasa Jawa sehingga kita bisa menganalisis, bisa mengungkapkan nilai-nilai budaya Jawa, nilai-nilai filosofi Jawa. Nah, hal ini menunjukkan bahwa bahasa sebagai produk sebuah kebudayaan. Bahasa mencerminkan budaya pemiliknya. Yang keempat, tujuan mempelajari bahasa adalah dari dimensi linguistik. Kita mempelajari bahasa, bahasa didudukan sebagai bidang ilmu. Kita mempelajari bahasa karena ingin memahami kaidah-kaidah bahasa. Dalam konteks ini, bahasa sebagai sebuah ilmu. Terakhir, berkaitan dengan manfaat penguasaan berbahasa. Manfaat penguasaan berbahasa dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama dari sisi penutur.
[14:42]Bahasa dari sisi penutur bermanfaat untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan kepada mitra tutur. Adapun bahasa dari sisi pendengar bermanfaat sebagai regulatori, artinya apa?
[15:18]Bahasa itu bermanfaat untuk mengatur orang lain.
[15:27]Jadi, kalau dari sisi penutur tadi untuk menyampaikan gagasan, dari sisi pendengar, bahasa itu bisa sebagai direktif untuk memerintah dan bahasa sebagai regulatori untuk mengatur. Misalnya, undang-undang, aturan-aturan yang mengatur kita harus begini, harus begitu, lah di sinilah kita diatur oleh bahasa. Memang kalau kita sadari, kehidupan kita ini dipenjarakan oleh bahasa. Kita menerima undangan tentang sesuatu, pukul sekian, kita harus hadir. Ini kita diatur oleh bahasa. Oleh karena itu, kalau kita renungkan, kehidupan kita ini sebenarnya dipenjarakan oleh bahasa. Sadar maupun tidak, kehidupan kita diatur oleh bahasa. Kehidupan kita dipenjarakan oleh bahasa. Terima kasih sampai bertemu di lain topik bahasan di Kanjuddin Channel.



