Thumbnail for Kisah Nyata Pemburu Penyu yang Bertaubat - National Geographic Indonesia by Nat Geo Indonesia

Kisah Nyata Pemburu Penyu yang Bertaubat - National Geographic Indonesia

Nat Geo Indonesia

6m 14s552 words~3 min read
Auto-Generated

[0:00]Saya berburu penyu dulu sekitar tahun 80-an itu kami punya hasil. Khususnya penyu belimbing. Dulu di pasar Borobudur. Jualannya di situ. Dan penyu itu punya satu tusuk itu kena Rp100. Pada tahun 80-an itu.

[0:33]Perairan Indonesia adalah surga bagi kehidupan. Dari tujuh jenis penyu di dunia, enam di antaranya menjadikan laut kita sebagai rumah. Mulai dari penyu lekang hingga raksasa purba penyu belimbing. Semuanya adalah satwa yang dilindungi. Namun di balik kekayaan fauna yang kita miliki ini, terdapat ancaman yang selalu mengintai. Itu orang tua kami biasa ketemu jalan sepanjang pantai. Ketemu belimbing bunuh. Nanti bikin para-para besar di darat. Buka penyu, ambil dia punya daging-daging, potong, panggal-panggal, tusuk di kayu. Tusuk di kayu panjang-panjang ini baru asar. Asarnya sampai kering. Baru bawa ke kota. Dulu di pasar Borobudur. Jualannya di situ. Dan penyu itu punya satu tusuk itu kena Rp100. Pada tahun 80-an itu. Kalau penyu ini kalau mau dilihat itu memang kalau penyu belimbing itu satu hari kalau kita bunuh baru jual itu bisa dapat sampai 2 juta untuk kebutuhan hidup saja. Terus seterusnya terus 80-an sampai 90-an. 90-an tuh masih tetap. Sampai kepada Bapak sendiri juga. Itu ketemu penyu setiap ketemu penyu itu tetap itu kita punya hasil jadi bunuh. Bunuh baru bawa jual. Ambil induknya, telurnya, semua bawa jual. Nanti sampai tahun 2000-an, 2000-an ke atas itu baru Bapak sadar. Karena dulu tuh belimbing ini dan apa penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik lekang ini naik sampai siang siang malam dia naik. Bapak setelah sudah dewasa, sadar diri sadar bahwa penyu sudah menguap sudah kurang. Sudah kurang berarti sudah mau punah. Kesunyian pesisir pantai menjadi saksi bisu penyesalan Pace Frederik. Raksasa-raksasa laut yang dulu begitu mudah dijumpai, perlahan menghilang bagai ditelan ombak. Kepada kami, ia menuturkan sebuah titik balik di awal tahun 2000-an. Didorong oleh rasa bersalah dan tekad untuk menebus masa lalu, Pace Frederik bersama keluarganya mengambil langkah nyata. Halaman belakang rumahnya tak lagi sekadar pekarangan, melainkan diubah menjadi benteng harapan. Sebuah penangkaran sederhana untuk memulihkan kembali populasi penyu yang kian rapuh. Itu Bapak sangat rasa

[3:43]Rasa peduli terhadap penyu ini. Karena sepanjang pantai ini kita jalan siang malam cuma dapat berapa ekor saja. Berarti tandanya penyu sudah mau punah. Makanya Bapak rasa peduli terhadap penyu ini. Bapak sampai Bapak mengambil tindakan untuk bikin penangkaran. Bikin penangkaran supaya amankan dia punya telur. Kasih menetas dia untuk pulan. Kasih pulan dia ke laut lagi. Terus kasih stop masyarakat ini untuk tidak boleh bunuh penyu lagi. Dan masyarakat juga pada sadar. Jadi sampai sekarang itu masyarakat itu sudah jarang untuk bunuh penyu lagi. Keteguhan Pacer Frederik berbuah manis. Penangkarannya di Pantai Bremi kini menjadi pusat edukasi bagi warga, turis mancanegara hingga peneliti. Ia bukan sekadar dikenal, namun dihormati sebagai perintis ekowisata dan sang bapak pelindung penyu belimbing. Kalau ini tuh penyu penyu lekang, penyu hijau, penyu belimbing naik masih ada ininya. Ngah sama fnya fliernya jadi gede karena dia suka sama ini pasirnya mengikuti bentuk tubuhnya. Iya, Mas, gitu. Oh, raksasa. ini buat gali itu kan luar biasa itu buat yang ngalgali.

[5:36]Setiap tukik yang menyentuh ombak menghapus satu persatu luka masa lalu. Pergilah, tumbuhlah besar, dan kembalilah pulang. Kita anak cucu turun-temurun tetap masih lihat penyu dan kita saling sama-sama menjaga. Memperbanyakkan tukik-tukik penyu supaya menjadi banyak dan di dalam kemudian hari kita anak cucu masih dapat melihat.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript