[0:00]Kalau lu lahir dari nol itu bukan salah lu. Tapi gua pengen kasih tahu di sini kalau lu mati dengan nol itu pasti kesalahan lu. Gua di sini ya lahir sebagai orang ya yang enggak mulai dengan segalanya. Gua mulai sama seperti kalian dengan enggak punya apa-apa bahkan gua harus bayarin orang tua gua di usia yang sangat muda. Itu kalau orang lain bilangnya itu mulai dari minus. Gua adalah bukti bahwa kita dilahirin di dunia ini itu untuk berjuang enggak cuman pasrah sama keadaan. Gua percaya bahwa kita sebagai seorang manusia itu bisa merubah yang namanya takdir. Gua ingat waktu gua masih miskin itu selalu ada rasa minder. Setiap kali gua datang ke restoran, setiap kali gua mau belanja baju aja itu ada rasa minder yang ada di diri gua. Gua lihat penuh ya kan? Gua cari oh makanan yang kira-kira paling murah mana? Bukan yang gua pengen makan. Gua cari makanan yang paling murah, kalau minum itu udah pasti es teh. Gua selalu punya ketakutan waktu gua masih miskin bahwa ketika gua datang ke restoran ini gua bisa bayar atau enggak? Gua selalu orangnya mencoba untuk menghemat apa yang gua punya gitu. Ketika gua masih enggak punya apa-apa, gua selalu menghemat apa yang gua punya. Gua selalu lihat di sekeliling gua ya bahkan keluarga gua, orang tua gua sendiri. Itu selalu khawatir soal uang ya, ketika mereka ada perdebatan semuanya segala macam. Itu selalu ujung-ujungnya duit. Dan di usia yang sangat muda waktu itu gua 15 tahun, gua berjanji ke diri gua sendiri dan Tuhan yang di atas. Bahwa kalau gua bisa menyelesaikan masalah uang ini, satu ya janji gua adalah gua enggak pengen uang itu jadi masalah lagi di hidup gua. Itu gua tulis di buku gua di paling depan ya. Gua punya buku mimpi gua tulis di situ paling depan, gua tidak mau uang itu menjadi masalah lagi di hidup gua sampai gua mati. Kedua, janji gua kepada Tuhan yang di atas adalah ketika gua sudah capai titik itu, ketika gua sudah bebas secara finansial, gua akan bebasin sebanyak-banyaknya, gua akan bantu sebanyak-banyaknya manusia untuk bisa ikut bebas dari jeratan finansial karena gua tahu seberapa menderitanya. Jadi orang yang secara finansial itu kita tidak bebas. Dan di situ gua bilang gitu, gua berjanji, gua mendingan mati dibanding gua stop untuk mencoba. Jadi kaya itu adalah hak semua manusia menurut gua, bukan cuma sekedar mimpi. Dan jadi kaya itu selalu datang ke mereka yang berani untuk ngambil resiko. Kaya itu tidak pernah datang ke orang yang pecundang. Dan itulah yang gua ambil jalannya ya, di saat gua usia yang sangat muda. Ketika gua 14 tahun ya, gua main game komputer namanya League of Legends, gua masih ingat sampai sekarang. ya, dan kadang-kadang di waktu luang gua sedikit, gua masih main sedikit ya. Itu game yang gua udah main sekitar dari gua umur 14 tahun ya. Waktu gua main game itu, gua coba jadi yang terbaik, lalu gua jadi joki di game tersebut ya. Uangnya gua kumpul sedikit demi sedikit. Waktu itu gua enggak bahkan enggak mampu beli komputer. Jadi yang gua lakukan adalah gua main di warnet gitu. Gua main di warnet ya, cari paket yang paling murah ya, gua latihan di sana, gua dapat uang joki, gua pakai untuk bayar warnet lalu gua beli laptop bekas ya. Yang gua main itu kalau gua main di rumah karena itu laptop bekas, itu tangan gua sampai panas gitu. Karena gua untuk ngejoki kan lama gitu loh. Bisa 5 jam, 6 jam gua main. Itu tangannya sampai panas karena panas sekali laptopnya. Hasil dari situ ya gua tabung pelan-pelan ya. Waktu itu gua kumpulin beberapa juta pertama gua ya setelah gua punya laptop bekas itu, gua pakai ya gua bisa main di rumah jadi gua enggak usah bayar warnet lebih murah gua kumpulin sampai Rp2 juta. Rp2 juta itu gua pakai untuk gua modal ya, gua modal untuk gua berjualan. Gua jualan minyak rambut, gua jualan pomet ya mereknya Suvaveto waktu itu. Gua jualan sedotan ya, jadi macam-macam gua lakukan di usia yang sangat muda. Gua berani untuk mengambil resiko dari uang hasil jokinya gua pakai untuk jadi pomet. Sementara itu gua pelajari gitu, seluk-beluknya pasar modal tuh seperti apa. Di saat gua enggak punya uang ya, gua enggak nyalahin orang lain ya. Gua enggak nyalahin kenapa kondisi hidup gua seperti ini. Kenapa orang tua gua begini, kenapa misalnya pemerintah begini, gua enggak pernah nyalahin faktor-faktor yang tidak bisa gua kontrol. Faktor-faktor yang di luar kendali. Yang gua bisa lakukan adalah apa? Apa yang bisa saya kontrol yang saya bisa kerjakan hari ini supaya hidup saya di masa depan bisa jadi manusia yang lebih baik. Gua berjanji gua akan fokus waktu itu untuk dapatin apapun ya. Apapun gua kerjain deh asal lu bisa kasih gua uang, lu mau ngejoki game, mau lu jualan sedotan. Gua enggak punya gengsi, mau jualan minyak rambut gua enggak ada gengsi. Gua ngecat orang buat nge-sell, gua datang pintu ke pintu ke kafe-kafe, tanya managernya ya dilecehin secara verbal gitu. Gua enggak masalah ya. Apapun gua lakukan demi uang. Gua muter otak gitu. Gimana caranya yang gua jual ini bisa lebih laku? Ketika waktu itu transisi dari Kaskus ke Tokopedia, di situ gua lihat gitu. Oh gimana caranya gua bisa iklan di Tokopedia? Gimana caranya gua bisa jualan gua lebih laku? Apa value add yang gua bisa tambah di produk gua? Ya, gua enggak merenung di situ terus gua pasrah sambil jualan santai-santai enggak. Gua mikir terus setiap hari gimana caranya pomed gua ini lebih laku. Oh yang lain cuman jualan pomed harga sekian. Gimana caranya gua jual harga yang sama, tapi gua kasih gratis sisir. Gua yang pertama menciptakan tuh di Indonesia jadi beli pomed gratis sisir gua yang bikin gitu. Akhirnya semua kompetitor contek gitu. Gua harus inovasi lagi apalagi nih yang harus dijual. Dari awal gua jualan udah macam-macam gitu. Ketika gua udah mulai besar ya modalnya gua mulai gua gulung puluhan juta ya sampai udah ratusan juta masuk ke Indonesia mulai dikerjain gitu kan karena gua impor waktu itu ada beberapa instansi yang datangin gua sampai ke rumah. Semua itu gua lewati itu di usia yang sangat muda itu anak 15 16 tahun. Dan semua hasil keuntungannya ya, kalau orang lain mereka akan santai gitu. Mereka akan santai mereka akan belanja. Gua enggak ya. Hasil keuntungan yang gua dapat dari gua berdagang, semuanya gua taruh di pasar modal. Ya, semua yang gua punya itu gua investasikan. Jadi gua berdagang dapat uang ya, gua putar uangnya untuk dagang dapat uang lagi, semua uangnya yang gua punya gua taruh untuk gua investasikan. Uang sisa gua tuh antara bisa jadi modal untuk bisnisnya lagi ya atau uang sisanya bisa jadi buku gitu kan. Buku gua belajar, jadi investasi, enggak ada uang yang sia-sia gitu. Gua anggap satu uang ya, itu seperti prajurit. Dia harus bekerja untuk cari prajurit yang lain lagi. Hidup gua di saat gua punya income puluhan sampai ratusan juta itu sangat amat hemat ya. Ketika gua udah dapat uang omset puluhan juta ya, gua waktu masih di bangku SMA yang gua lakukan tuh gua masih makan nasi telur kecap gitu. 8.000 perak tuh gua masih ingat sampai sekarang. Antara gua makan nasi telur kecap menunya cuman dua. Nasi telur kecap itu ada di warung dekat sekolah gua sama gua makan di wartek gitu. Ya, wartek itu pun cuma nasi, oreg sama kapor. Jadi gua cuman dua menunya karena gua mikir makan lu bukan sesuatu yang, oh harus dipikir gimana gitu. Gua enggak pernah peduli. Sampai sekarang pun kadang kalau gua malas, gua cuma suruh office boy gua turun ke bawah ke kantin karyawan makanan ambil makanan yang sama. Gua malas sekali mikir otak gua ini dipakai untuk mikir makan mau apa. Gua punya uang puluhan juta ya, gua tuh hidup sangat hemat karena gua mau berinvestasi. Gua tahu ini bibit yang gua bisa tanam untuk masa depan yang rindang yang akhirnya gua nikmati sekarang. Gua makan di restoran hampir enggak pernah, gua ganti tas enggak pernah dari SMP sampai SMA gua pakai tas yang sama dari dari SMA itu gua enggak pernah ganti sepatu ya. Gua enggak pernah jadi orang yang pengen gunta ganti ini, pengen merasa keren, pengen dilihat orang wah. Karena gua percaya bahwa perubahan itu harus mulai dari lu sendiri gitu. Kalau diri lu itu enggak ada perubahan yang mau lu rubah tentang hidup lu, itu lu enggak akan jalan ke mana-mana. Kalau lu emang beneran siap lu mau dari nol mau jadi orang kaya, dari nol lu pengen jadi miliarder. Lu harus siap juga dengan pengorbanannya. Bisa enggak lu jualan kayak tadi? Bisa enggak lu hemat semua uang lu untuk masa depan yang lebih cerah? Lu harus siap untuk makan tainya, lu harus siap untuk enggak kebanyakaan gaya gitu. Karena hidup itu adalah perjuangan ya dan orang-orang yang berani yang menang. Zaman dulu untuk ibaratnya mengambil peruntungan, kita gampang zaman sekarang tinggal coba berdagang secara online, enggak gampang zaman sekarang ya. Zaman dulu ketika lu harus jadi pelaut ya, itu kan kenapa orang jadi pelaut? Karena mereka mau cari kehidupan yang lebih layak ya. Mereka tinggalin daratan ya, mereka berlayar yang enggak tahu ujungnya di mana. Cuman makan roti yang disebutnya itu chips biskuit itu. Itu keras sekali. Dan itu pun terbatas gitu. Lu satu orang makan satu sehari. Habis itu kalau enggak ada ya udah bunuh-bunuhan di kapal gitu. Zaman dulu orang cari peruntungan harus seperti itu. Sekarang kalian ada informasi, ada internet, ada orang seperti gua yang mau ngajarin kalian seperti ini. Zaman dulu zaman gua aja beginian tuh enggak ada. Gua ngerasa ketika gua masih miskin ya hidup gua nothing tulus gitu. Apalagi yang mau gua hilang gitu. Uang udah enggak punya, miskin juga, ya beraniin diri aja gitu. Mau ngapain lagi kalau enggak ngambil resiko karena gua lebih takut miskin dibanding mati. Lu harus percaya di hati lu bahwa mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok ya. Mungkin bukan minggu depan, mungkin bukan bulan depan tapi suatu saat saya akan pasti jadi orang kaya. Karena kalau diri lu sendiri enggak percaya ya, siapa lagi yang lu mau percaya gitu. Orang lain kah? Emak lu kah? Bapak lu kah? Belum tentu. Lu harus rela berkorban ya uangnya disisihkan enggak dipakai dulu diinvestasikan, diinvestasikan lagi, beli buku, beli ilmu. Orang kira jadi miliarder tuh butuh banyak koneksi dari orang tua, butuh modal, enggak ada gitu. Kebanyakan billionaire di dunia, uangnya harta Rp15 triliun lebih itu kebanyakan bikin uangnya sendiri bukan dari hasil warisan. Rahasianya apa? Gua kasih tahu ya, rahasia jadi orang kaya adalah kemampuan, orang banyak bilang oh orang kaya itu orang yang begini, orang begitu, orang begini. Gua kasih tahu nih, gua ketemu orang kaya banyak macam-macam dari 1 triliun, 10 triliun, 100 triliun juga ada. Orang kaya itu punya karakter yang sama ya. Kemampuan ya untuk menahan penderitaan dalam waktu yang sangat lama. Jadi orang kaya itu udah biasa untuk menderita. Ketika usahanya lagi turun, karyawannya semua harus makan dulu sebelum dia. Banyak yang kira oh enak jadi orang kaya, enggak. Orang kaya yang kalian lihat hebat itu tadinya, itu tadinya persis orang-orang yang mulai seperti kalian yang mulai dari nol, mulai tanpa apa-apa. Gua itu orang yang bisa menderita dalam jangka waktu yang sangat panjang. Kalau lu melatih otak lu, lu melatih mental lu untuk lu pikir gitu. Hal buruk apa yang paling buruk yang bisa terjadi ke lu. Dan ketika hal itu pun terjadi, lu udah biasa aja gitu. Gua orang yang sangat fokus, disiplin dan juga konsisten. Kalau gua udah set otak gua untuk gua mau sesuatu, gua lebih baik mati dibanding gua enggak dapat itu. Nah, ketika tadi ya gua masih remaja, gua bilang gua janji kepada Tuhan, ketika gua itu berhasil, gua akan bantu sebanyak-banyaknya anak muda. Gua pengen semua generasi Z yang ada di Indonesia, Genzi yang ada di Indonesia. Itu kalau bisa bebas secara finansial ya. 74 juta sekian manusia itu bebas secara finansial.
[12:44]Gua akan bebasin satu generasi muda Indonesia buat mereka yang mau dengerin gua ngomong apa. Mereka yang mau praktikin apa yang keluar dari mulut gua, percayalah itu pasti berhasil. Gua enggak mau kalian di sini banyak jatuh kalau yang sama yang dulu gua jatuh. Gua mau kalian skip prosesnya ya. Kalian tahu cara nyari uang yang benar gimana, kalian tahu cara berinvestasi yang lebih baik gimana. Enggak perlu lakuin kesalahan-kesalahan sama yang gua lakuin. Gua percaya ya dalam hati gua bahwa generasi kalian ini, generasi muda Indonesia ini akan jadi generasi yang mengubah negara ini ya. Yang akan mengubah negara ini jadi negara yang maju. Percayalah setiap tetes keringat kalian hari ini itu adalah kemenangan untuk esok hari. Jadi jangan pernah berhenti ya, jangan pernah menyerah. Kalau lu ngerasa hidup lu sedang dalam penderitaan, telan aja, mau jadi kaya itu memang penderitaan. Nah, salah satu kunci yang kalian bisa ambil dari gua ya. Ini yang selalu gua ajarin ke karyawan gua, ke partner gua, semuanya ya. Sukses itu cinta, kecepatan. Kecepatan itu sangat penting. Lu perhatikan ya. Ini gua shoot di siang hari. Malam nanti lu akan enggak nonton video ini. Itu adalah namanya kecepatan. Pesawat itu bisa terbang. Karena ketika dia mau lepas landas, itu cepat sekali kecepatannya. Dia bisa melawan yang namanya gravitasi. Kalau lu cepat, lu bisa ngalahin gravitasi. Lu cepat banyak lu bikin gitu. Gua kasih contoh ya, lu ada ide, ide itu jadi aksinya cepat bikin. Ide aksi cepat ya. Ketika salah pelajari apa yang salah, ulang lagi, reiterasi lagi. Ide lagi aksi lagi, ide lagi aksi lagi, percaya lu pasti di orang kaya. Orang yang penakut ya, defensif, ngerasa, "Oh, ini hanya untuk hari ini aja." Orang yang penakut ya, pecundang defensif itu tidak akan pernah menang di hidup. Hidup ini akan reward orang yang nyerang terus di hidup. Dunia ini suka dengan orang yang cepat dan berani ya. Sekarang gua syuting sama kalian. Habis ini gua ada meeting. Malam gua pergi, sore gua pergi lagi, malam gua pergi lagi. Cepat gitu. Ada hal A, B, C, D, E selesai harinya. Enggak banyak yang ditunda-tunda. Banyak yang nanya, apa sih yang gua lakuin tuh? Kalau gua lagi capek. Kalau gua lagi rehat. Jawabannya tidak ada yang gua lakuin. Gua lakuin hal yang sama. Ketika hidup gua itu cepat ya kan gua syuting, gua meeting, gua ketemu orang lagi, gua ada kerjaan lagi, gua ke kantor yang lain lagi. Itu enggak bisa dikejar gitu loh. Sama yang namanya oh orang ada depresi gitu, itu enggak bisa dikejar. Karena gua ini cepat gitu, hidup gua cepat. Buat yang tanya, gimana caranya gua itu ngatur work life balance? Gua kasih tahu enggak ada yang namanya work life balance di hidup gua. Gua itu orangnya semangat ya. Jadi ketika gua ada satu visi, gua ada satu tujuan yang gua lihat. Ini kan gua pengen bebasin 74 juta ya. Manusia di Indonesia generasi Z ini. Untuk gimana caranya mereka bisa yuk kita bareng-bareng bebas finansial. Ini tujuan yang sangat sulit gitu. Ketika gua ada tujuan ini yang gua lihat, setiap hal yang gua lakukan tuh arahnya ke sana gitu. Ketika gua malam gua mikir gimana caranya gua majuin 74 juta manusia. Bangun pagi gua pikir lagi gimana caranya gua bisa bebasin 74 juta manusia ini bebas finansial. Gua semangat gitu. Gua ada tujuan hidupnya ya. Kalau tujuannya cuma sekedar oh gua mau jadi orang lebih kaya lagi mah gua udah bisa pensiun dari kapan-kapan. Tujuan gua jauh lebih besar. Jadi ketika lu tanya work life balance gua, tidak ada apapun yang gua lakukan, saat gua lagi ngapain pun itu yang gua selalu pikirin. Gimana caranya kalian semua yang di sini ya, ini bisa jadi penerus-penerus gua. Gimana caranya mulut gua ini bisa didengerin sama kalian, kalian sebarkan ke teman-teman kalian lagi, lebih banyak yang tahu ini, lebih banyak jadi anak-anak muda yang berhasil, lebih sedikit orang yang nonton konten-konten sampah, lebih sedikit orang Indonesia yang otaknya tercemar sama berita enggak penting. Lebih banyak kalian yang enggak fokus gitu dengan sosial media yang enggak penting. Kalian stop sama sekali pakai sosial media, kalian kerja, kalian fokus. Gua di sini adalah orang yang pengguna sosial media tidak. Gua bukanlah pengguna sosial media, gua sangat jarang pakai sosial media. Gua adalah kreator, gua bikin sesuatu di sosial media. Gua bukan penikmat TikTok, gua bukan penikmat YouTube. Informasi yang gua terima itu biasa gua cari antara dari buku-buku klasik yang sudah ditulis lama atau mentok kalau YouTube cuma podcast paling sama orang-orang paling kaya di dunia. Selain dua itu tidak ada yang gua konsumsi. Oh ada orang mau joget-joget ya silakan dia joget-joget. Gua enggak mau enggak mau lihat. Jadi kalau kalian tanya apakah gua bahagia, gua sang hidup sangat bahagia. Gua bangun pagi udah tahu tujuannya apa? Gua siang ini udah tahu tujuannya apa? Sore gua tahu tujuannya apa? Malam gua tahu tujuannya apa? Gua itu tipenya, gua kompetitif ya. Gua dari dulu gua jualan pomet ya. Gua akan bangun lebih dulu dari lu, gua akan kerja lebih keras dari lu, gua akan kerja lebih lama dari lu, gua akan kerja lebih pintar juga dari lu. Mungkin kompetitornya lebih besar gitu kan. Mungkin enggak besok, enggak minggu depan, enggak bulan depan tapi suatu saat gua pasti bisa kalahin. Tapi gua juga enggak pernah ngejar hidup itu untuk oh gua pengen jadi bahagia hidup, enggak pernah gua kejar ya. Karena kalau lu kejar bahagia, bahagia kan di atas. Berarti ada yang namanya kesedihan nih di hidup lu ya. Gua ngincirnya tengah-tengah aja ya. Enggak perlu bahagia, enggak perlu sedih. Kalau lu ngincir bahagia, pasti ada momen lu sedih gitu. Lu cari momen di mana lu titik tengahnya, di mana gua sebutnya damai ini. Gua damai setiap hari, "Oke, saya dilahirkan di sini ya. Gua pengen bebasin generasi muda secara finansial. Karena gua gua dibebasin gua ngerasanya ya. Dan gua berhasil buka rantai gua sini, gua pengen buka semuanya rantai kalian. Mau itu ada banyak yang enggak suka, ada setan-setan di luar sana yang enggak suka, gua enggak peduli gitu. Makanya kalau ada yang tanya gua, "Oh kalau ada orang yang ngomong begini tentang lu, ada yang fitnah lu begini, apakah lu sedih?" Enggak, karena gua enggak pernah nyari bahagia atau sedihnya. Gua enggak peduli, gua punya tujuan yang sama gitu. Ada setan-setan yang fitnah gua, ada setan-setan yang mau ngejatuhin gua ya, ada orang-orang lain ya. Biarin toh mereka dalam jangka waktu ya, skala waktu mereka jadi sampah semua ke depannya. Gua percaya ya, ketika generasi baru ini gua pimpin ya, anak-anak seperti kalian semua ini dengerin gua. Kita bisa bikin banyak nanti ya. Kan gua mulai tuh dari sekolah ya, dari paling bawah. Ya, kita mulai dari TK, SD, SMP. Gua pengen kalian udah enggak harus mikir gitu, untuk makan besok tuh bagaimana? Enggak harus mikir bahagiain orang tua itu besok gimana? Supaya otak kalian ini ya, keluar dari yang cuman jangka pendek. Kalian bisa mikirin masa depan, kalian bisa mikirin oke, kita mau bangun ini jadi apa gitu. Negara ini mau dibangun jadi apa? Biar kalian semua bisa cari pekerjaan yang layak gitu. Kalian bisa fokus jadi yang terbaik di satu hal di mana dunia ini butuhin skill kalian. Itu kenapa gua lawan sistemnya ya, sistem sekolahan yang gua bilang itu membikin anak-anak ini ya jadi budak yang otaknya enggak bisa berpikir kritis. Dia diajarin, "Oke, inflasi itu baik." "Oh iya iya aja ya, inflasi baik ya." "Uang gua digerus karena dicetak lebih banyak uang itu bagus ya," gitu. Ketika lu jadi anak muda yang lu kerja keras, lu kerja keras dan lu cuma nabung di rekening lu. Dan lu percaya di otak lu bahwa inflasi itu baik, semua orang yang lain ya, yang mereka belinya aset, mereka belinya properti, mereka belinya saham, mereka belinya bitcoin. Bahkan mereka belinya orang-orang tua itu bahkan belinya jam tangan, mereka jadi lebih kaya sedangkan lu yang nabung uang di rekening lu. Itu minus terus 10% per tahun. Lu akan kerja keras sampai lu tua ya, ketika lu tua nanti ya udah mau pensiun bingung, "Oke, gua enggak punya tabungan." Ya, karena lu tidak berinvestasi gitu. Lu kalau udah dikasih tahu sama orang ya, jangan keburu lu nabrak dulu baru lu sadar ya. Lu pernah lihat kan mungkin mobil itu ugal-ugalan gitu kan di jalan. Udah hampir ketabrak, dia lewat-lewat-lewat-lewat akhirnya nabrak juga. Jangan jadi mobil yang kayak begitu. Lu udah tahu kalau lu ugal-ugalan, kemungkinan lu nabrak itu tinggi. Jangan nanti sudah tua ya, hidup lu ibaratnya udah nabrak nih. Lu baru sadar, "Oh iya sial hidupku." Udah nabrak lu. Akhirnya lu harus minta-minta duit gitu sama teman lu, sama keluarga lu. Apakah itu hidup yang lu mau? Apakah lu pengen ngelihat diri lu jadi orang yang seperti itu di masa depan? Lu mau kerja udah enggak ada kerjanya. Semuanya udah ganti robot. Semuanya sudah pakai AI. Kerja fisik pun udah enggak ada. Udah humanoid robot semua. Optimusnya Tesla udah jalan di mana-mana. Ketika itu kejadian, lu baru ingat ada yang pernah ngajarin lo semua ini tapi lo cemo. Ada orang yang ngajarin investasi, dia skeptis dengan pikiran yang sangat dangkal dan terbatas itu dibilang, "Oh, orang ini scammer." Kenapa gua ngomongnya ke Genzi, 74 juta orang ini? Karena gua ngerasa ini generasi yang belum telat. Yang udah tua biarinlah gitu. Mereka mau cemo, biarinlah, mereka udah habis bentar lagi. Tapi kalian ini ya. Kalian ini bakal ngubah semuanya. Kita-kita ini yang bakal ngubah semuanya. Itulah kenapa gua ngomongnya spesifik sekarang. Gua enggak pedulilah generasi yang lain. Mungkin ada yang bebal gitu. Merasa paling pintar silakan. Tapi untuk kalian 74 juta ya, warga negara Indonesia yang masuk kategori tadi. Dengerin gitu. Belajar, kita kerja keras, bermimpi gitu. Oh kita mau jadi science biotech nomor satu. Oh gua pengen belajar aerospace engineering biar bisa bikin roket nanti. Bermimpilah gitu.
[26:02]Oh nanti gua mau ciptain energi yang baru dengan energi fusion. Oh nanti gua pengen coba untuk jadi orang yang berhasil bikin quantum computer. Oh gua pengen jadi research AI yang ternama nanti di dunia. Gua pengen belajarin teknologi blockchain supaya nanti sistem perbankan itu bisa gua bikin ulang gitu infrastrukturnya. Jangan malu gitu. Jangan ngerasa oh itu terlalu masa depan. Enggak gitu. Itu akan datang masa depannya ini akan datang ke depan lu lebih cepat dari yang lu bayangin. Dan ketika nanti ya lu nyampe ke tujuan lu ya. Let's say lu pengen jadi miliarder, lu pengen jadi orang kaya. Ketika lu sampai ke tujuannya perjalanannya yang lu akan ingat gitu. Dan ketika lu udah sampai ya gua pengen kalian melakukan sumpah yang sama. Yaitu kalian bantulah lagi generasi berikutnya. Kalian bantu lagi sebanyak-banyaknya orang yang bisa dibantu. Jangan jadi orang kaya yang cuma ngookop duitnya, serakah gitu.
[27:32]Kalian harus jadi orang yang ketika sudah dikasih titipan sama Tuhan yang di atas, kalian bagikan gitu. Kalian enggak cuman bagikan hartanya, tapi kalian bagikan juga ilmunya. Buat yang remehin misi gua ya. Buat orang-orang yang pengen ngejatuhin gua dan mau ngejatuhin misi gua untuk mencerdaskan satu generasi Indonesia. Gua cuma mau kasih tahu ke lu ya. Lu bisa tanya nanti partner-partner usaha gua seberapa keras dan seberapa gila gua bekerja. Ya, gua adalah manusia yang enggak pernah lupa ya, gua ingat. Semua orang ya yang pernah coba untuk ngejatuhin gua itu gua gua ingat satu by satu by namanya. Lu kalau lihat trajektori gua, umur 25 gua jadi manusia yang seperti ini. Harusnya lu mikir 20 tahun lagi gua jadi manusia yang seperti apa. Dan gua enggak akan balas untuk orang seperti itu. Biarkan saja ya. Tapi gua enggak akan bekerja sama lagi dengan orang seperti itu. Karena balas dendam yang terbaik adalah lu jadi saking suksesnya. Mereka pun enggak bisa kecuali mereka harus ngejilatin kaki lu. Gua akan tenggelemin mereka semua itu kayak sampah di pinggir jalan yang enggak enggak ada artinya. Semua yang gua bangun ya kalian lihat Timoti yang sekarang ini semua ini hanya permulaan ya. Ini baru permulaan dari apa yang gua mau kerjakan sebenarnya. Ini masih ibaratnya fondasi dari apa yang gua pengen bikin. Langkah pertama ya bebasin nih kalian semua dari finansial. Sadarin kalian ya. Kerja yang keras, kerja yang pintar, kerja lebih keras dari semua yang kompetitor kalian. Janganlah berhutang, berinvestasilah dengan baik, nikmati prosesnya yang panjang. Jangan lupa untuk bermimpi karena kalian harus ingat ya, takdir kita semua adalah untuk bebas dari yang namanya kemiskinan. Seperti biasa ya, gua akan tunggu kalian di puncak bukitnya dan nanti suatu saat kita akan bangun sesuatu yang hebat untuk negara ini. Untuk beberapa dari kalian mungkin ya cuman 5 sampai 10 dari kalian yang nanti akhirnya bisa bekerja sama dengan gua. Sampai jumpa di video selanjutnya.



