[0:00]Ada satu pendapat gue tentang pendidikan yang mungkin sebagian dari teman-teman bakal anggap cukup kontroversial.
[0:07]Tapi gue siap mempertanggungjawabkan pendapat gue ini dalam bentuk apapun, gue siap diajak diskusi ataupun debat soal ini di mana pun, dengan siapapun. Di video ini, gue bakal sampaiin pendapatnya dan gue bakal jelasin. Mudah-mudahan teman-teman semua berkenan untuk menyimak pembahasannya sampai selesai.
[0:42]Pemikiran gue ini udah gue bangun sepanjang 5 tahun gue bergelut di dunia pendidikan, baik itu sebagai pengajar, trainer, penyusun kurikulum. Maupun warga ya, simply warga yang peduli pada kebijakan-kebijakan ataupun sistem pendidikan. Jadi gini, teman-teman. Ketika bicara masalah pendidikan, banyak orang akan menyebut masalah fundamentalnya itu ada di gaji guru atau tenaga pengajar, iya enggak sih? Berikutnya apa lagi? Orang biasanya menyebut soal fasilitas. Seperti bangunan sekolah yang layak, kursi yang tersedia sesuai kebutuhan atau enggak. Kemudian akses jalan ataupun moda transportasi untuk anak-anak bisa mencapai sekolah kayak gimana? Pasti pernah kan ngelihat foto atau video anak-anak harus nyabrang sungai, melalui jembatan yang sangat kecil, sangat rapuh dan berbahaya, hanya untuk mereka bisa sampai ke sekolah. Nah, hal-hal ini nih yang biasanya diangkat sebagai masalah utama dan mendasar dan mendesak dalam pendidikan kita. Gue perlu tekankan bahwa gue setuju, hal-hal itu adalah masalah yang penting ya. Untuk di-address dan untuk isu gaji pengajar, gaji guru, tentu saja untuk yang sudah bekerja saat ini dan mengalami kondisi ekonomi yang buruk akibat gaji yang tidak layak, itu mendesak. Harus di-resolve ya, harus segera dicari solusinya diperbaiki keadaan. Tapi di sini gue mau ngomong pada tataran framework kebijakan, gitu ya. Gue memandang hal-hal tadi, bukannya dia bukan masalah ya, tapi itu bukan titik pertama yang harusnya kita sasar, teman-teman. Menurut gue, dalam konteks pembuatan kebijakan pendidikan, yang paling penting, mendasar, fundamental, dan paling pertama harus dibenahi dan dibenarkan adalah ujian. Atau tes, atau assessment.
[2:53]Sekarang gue mau ambil contoh, misalnya kita punya suatu rangkaian mesin untuk memproduksi obat batuk. Setelah obat batuknya melalui proses produksi, dia akan masuk ke fase Quality Control atau QC, ya, atau pengecekan kualitas gitu, udah sesuai belum sih sama spek, spesifikasi atau standar yang dibutuhkan. Bayangin, misalnya alat QC-nya itu enggak ngecek obat batuknya tuh meredakan batuk atau enggak ya. Yang dicek adalah obatnya manis atau enggak, obatnya warnanya apa, hitam atau biru atau merah misalnya. Harusnya misalnya yang benar hitam gitu. Jadi yang dicek cuman manisnya, warnanya, tapi efikasi ya kan atau seberapa obat itu bisa meredakan batuk, sebagaimana fungsinya dia sebagai obat batuk, itu enggak dicek. Ngaco dong hasilnya ya kan? Mesin pun akhirnya memproduksi miliaran obat batuk yang enggak berfungsi sebagai obat batuk. Belum lagi kalau alat QC-nya justru menguji apakah obatnya beracun dan yang lolos justru yang beracun. Iya, terjadilah masalah krisis ya di orang-orang yang mengkonsumsi obat batuk ini, keracunanlah orang-orang itu. Ujian itu ibaratnya ya kayak alat QC gitu.
[4:15]Semua hasil dari proses penyelenggaraan pendidikan diuji lewat ujian atau assessment atau tes. Bentuknya bisa macam-macam ya, enggak harus tes tertulis gitu. Bisa juga proyek mandiri ya kan, penelitian atau skripsi, itu kan bukan tes tertulis tapi itu ujian juga gitu, portfolio dan lain sebagainya. Tapi intinya, dari berbagai bentuk ujian itu kita menentukan nih, produk seperti apa sih yang akhirnya keluar dari mesin-mesin pendidikan yang kita bayar dengan ratusan triliun rupiah uang pajak kita. Masih dalam analogi mesin produksi, QC itu juga menentukan penilaian performa mesin dan pekerja ya kan? Standar QC-nya apa, itu yang jadi ukuran berarti performa mesinnya gimana, performa pekerjanya gimana yang menghasilkan barang itu. Ukuran performa inilah yang seharusnya menjadi acuan insentif atau gaji dan bonus dalam sistem. Maka itu, kita mesti benahin standar output dan QC-nya dulu ya kan, baru turunan dari situ kita bisa punya sistem pengukuran performa dan sambungannya lagi pemberian insentif yang layak dan berkualitas. Benar nih mutu sistem insentifnya gitu. Makanya gue bilang tadi di awal ujian, tes atau assessment itu menjadi masalah paling dasar, paling fundamental, paling akar dari suatu sistem penyelenggaraan pendidikan. Sekarang kita coba keluar ya dari analogi obat batuk tadi. Kita masuk ke contoh yang lebih konkret dalam konteks pendidikan. Misal gue lagi belajar geografi, ya kan. Gue kan ceritanya lemah nih ya, geografinya dan gue lagi belajar nih geografi. Terus salah satu kemampuan yang mau dibangun itu adalah bisa membaca peta buta Asia. Dalam ujiannya, gue ditanya negara apakah yang ditunjukkan oleh huruf X? Harusnya kan itu negara apa? Coba, jawab dulu. Itu Bangladesh. Tapi ternyata pas gue jawab Bangladesh, menurut soalnya nih atau si pembuat soal, itu salah. Jawaban yang benar adalah Vietnam. Akhirnya, gue yang udah benar nih sebenarnya pemahamannya bahwa itu Bangladesh itu skornya malah lebih rendah dari orang yang ngawur nih bilang itu Vietnam. Dan gue lulus dari pendidikan itu mikir bahwa titik X tadi itu Vietnam, alias nyasar dong jauh banget ya kan? Nah, jadi ujian yang salah menghasilkan pemahaman yang salah dan memberikan nilai performa yang baik ke orang yang justru sebenarnya tidak kompeten. Dan sebaliknya, memberikan nilai performa yang buruk ke orang yang sebenarnya kompeten. Gitu loh, seberapa krusial dan pentingnya elemen ujian atau assessment dalam proses pendidikan. Bukan cuman soal ada, modelnya benar, tapi isinya juga benar ya kan, yang diuji juga benar. Jadi ini keseluruhan bagian dari elemen ujian atau assessment akan menentukan pada akhirnya ya, output dari keseluruhan penyelenggaraan pendidikan itu sendiri.
[7:30]Pemerintah bisa berganti ya, rezim berganti, menteri pendidikan berganti, tapi soal ujian di Indonesia bisa dibilang masih konsisten bermasalah sampai hari ini. Belakangan gue dapat banyak laporan dari pelajar-pelajar se-Indonesia yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian seleksi universitas. Jadi di dalam rangkaian ujian seleksi itu ada sebuah subtes yang bernama Tes Literasi Bahasa Indonesia atau LBI.
[8:08]Kalau dari namanya, gue tanya dulu nih. Lu kepikiran enggak, bahwa tes itu akan menguji kemampuan dan pengetahuan kimia atau biologi, atau bahwa lu harus paham apa itu pasteurisasi. Dari nama tesnya, Literasi Bahasa Indonesia, yang terbesit di kepala gue pun adalah soal comprehension atau kemampuan memahami dan menalar informasi dalam Bahasa Indonesia. Tapi, teman-teman, yang ada sekarang di soalnya itu enggak menguji itu ya. Soalnya malah menguji pengetahuan sains. Contoh nih, jadi ada teks kayak gini. Silakan teman-teman pause, baca ya, nanti bisa balik lagi. Nah, sekarang kita masuk ke soalnya. Yang menjadi soal adalah simbol salah satu mineral yang terkandung di dalam susu sesuai dengan bacaan di atas adalah... Nah, artinya ini yang diuji sebenarnya adalah pengetahuan tabel kimia ya, tabel periodik unsur-unsur kimia. Gitu, bukan kemampuan memahami teks tadi. Kalau teman-teman lihat di teks, itu enggak ada informasi tentang simbol-simbol ini gitu.
[10:10]Untuk menjawab soal ini, kita mesti punya pengetahuan apa yang dimaksud dengan senyawa karbohidrat dan apa contohnya, yang di mana salah satunya adalah laktosa. Dan itulah jawabannya. Nah, sekarang pertanyaannya, ini lagi-lagi, ini soal kimia atau soal literasi gitu loh ya? Soal seperti ini enggak menguji pemahaman dan penalaran, tapi pengetahuan dan ini adalah dua kompetensi yang sangat berbeda. Dalam konteks soal seperti tadi, jawaban untuk pertanyaannya enggak bisa didapat hanya dengan memahami dan menalar informasinya. Kita cuman bisa jawab itu kalau kita punya pengetahuan kimia tentang tadi karbohidrat, tentang laktosa gitu. Nah, sekali lagi gue perlu tekankan di sini, bukan berarti menguji pengetahuan kayak gini itu salah atau enggak penting. Ya, itu sebenarnya bisa-bisa aja, itu tepat, itu benar, itu penting, tergantung tujuan output yang dicari ya kan dari si ujiannya gitu. Dan tentu saja yang fair, pesertanya juga harus dikasih tahu dong, bahwa itu kompetensi yang diuji, ya kan? Bukan pesertanya dikasih tahu yang diuji literasi, isi soalnya nguji pengetahuan kimia. Nah, ini kan enggak fair juga untuk anak-anak yang mengikuti ujian tersebut. Tapi kenyataannya enggak begitu kan di tes tadi. Pengetahuan kimia dan literasi itu padahal dua hal yang sangat-sangat berbeda. Kalau tes literasinya begini, konsekuensinya yang skornya tinggi bukan literasinya bagus, ya kan? Yang skornya tinggi ya dia lebih punya pemahaman kimia, bukan soal literasi. Tanpa dia memahami teksnya pun, kalau pertanyaannya adalah soal tadi itu misalnya simbol-simbol itu kan bisa dijawab hanya dengan pengetahuan tabel periodik unsur. Jadi di soal-soal seperti tadi kita sama sekali enggak menguji kemampuan dia menarik kesimpulan atau menganalisis informasi bacaan. Kita menguji apakah dia paham tabel kimia, apakah dia tahu laktosa itu karbohidrat gitu. Di situ akhirnya terjadi ketidaknyambungan ya antara output yang dicari dengan QC-nya. Dalam konteks ini, gue assume output yang dicari adalah kemampuan literasi ya, sesuai dengan nama tesnya gitu. Tapi standar QC-nya menguji pemahaman dan pengetahuan kimia. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika kritik ini berkembang, pembuat soal merespons. Tapi responsnya lucu ya, dia bilang katanya tes literasinya memang tes dengan konteks saintek dan soshum. Oke, sekarang kita kasih paham dulu ya untuk para pembuat soal, soal problematik seperti ini. Gue punya satu contoh soal literasi dengan konteks pengetahuan sains ya. Nih, konteksnya pengetahuan sains nih, tapi ini benar. Ini benar menguji literasi, ini dibikin sama tutor kimia dari tim pengajarnya Zenius.
[13:11]Soalnya begini. Hubungan yang benar antara suhu dan pH dalam kelarutan gas CO2 adalah... Nah, ini kan kesannya kayak pengetahuan kimia nih ya, gitu, pengetahuan tentang pH tentang CO2. Nah, tapi kalau teman-teman balik ke teksnya, ini bisa dijawab hanya dengan mengolah informasi dari teksnya. Dari teks tadi, kita bisa tahu bahwa jawaban yang benar adalah B. Semakin rendah suhu, pH minuman akan semakin kecil. Di paragraf pertama kita bisa lihat ada informasi, semakin dingin minuman, makin tinggi keasamannya. Artinya, makin rendah suhu, makin tinggi keasamannya. Nah, tapi kan di pilihan jawabannya enggak ada ngomongin keasaman kan, yang diomongin tingkat pH. Terus gimana dong? Kita harus tahu dong berarti keasaman sama tingkat pH nih gimana hubungannya? Nah, itu dijelasin lagi di paragraf berikutnya, bahwa semakin rendah pH, semakin tinggi keasaman. Dari sini kita bisa tahu jawaban yang benar adalah B tadi, makin rendah suhu, makin kecil pH-nya. Bisa dilihat ya. Ini contoh soal literasi yang benar dengan menggunakan konteks pengetahuan sains. Tapi kompetensi yang diuji bukan dia tahu kimia atau biologi atau enggak, tapi apakah dia bisa memahami dan menalar informasi dalam Bahasa Indonesia dengan benar, sehingga dari situ dia bisa menarik kesimpulan yang tepat dari suatu bacaan.
[14:47]Kenapa masalah ini menjadi masalah publik yang penting ya dalam konteks penyelenggaraan pendidikan nasional yang harus kita kritisi bersama, yang harus kita koreksi? Salah satunya adalah dalam konteks soal ini menjadi alat seleksi untuk masuk universitas, untuk masuk pendidikan tinggi. Anak-anak Indonesia dengan soal yang seperti ini, tidak mendapat kesempatan yang adil dalam seleksi tersebut. Jadi kita ambil dulu salah satu faktor ya, yaitu dari sisi ketidakadilan nih. Ketika soal ujiannya dikatakan adalah soal literasi, maka ekspektasi kompetensi yang diuji adalah pemahaman dan penalaran informasi. Ternyata anak-anak diminta punya pengetahuan kimia, biologi dan lain sebagainya dengan batasan yang tidak jelas. Bayangin misal ada anak-anak SMK yang kurikulumnya berbeda gitu kan dengan SMA. Nah, kebetulan kurikulum mereka enggak belajar nih pengetahuan sains seperti tadi secara mendalam. Nah, bisa jadi ya banyak dari mereka akhirnya enggak bisa mengerjakan tes literasi. Padahal ekspektasi kompetensi yang diuji adalah mereka bisa memahami dan menalar informasi. Mereka enggak dapat kesempatan ini gitu loh, karena soalnya ternyata menguji pengetahuan sains yang di kurikulum mereka enggak masuk. Uji kompetensi itu harus jelas scope kompetensi yang diuji. Bahkan pun dalam konteks menguji pengetahuan kimia, harus jelas level dan kedalamannya seberapa, bukan random aja sesuka hati pembuat soal mau topik sains level mana. Udah gitu, dikasih bungkus tes literasi Bahasa Indonesia. Ini bukan cuman tidak adil untuk murid tapi juga untuk guru. Guru literasi Bahasa Indonesia juga bingung ya kan? Kalau uji kompetensinya begini, artinya guru-guru literasi Bahasa Indonesia harus menguasai pengetahuan di luar domain mereka, pengetahuan sains lagi-lagi dengan scope level dan luas yang tidak jelas. Mungkin sampai ke geografi, ekonomi juga lagi, karena scope-nya emang enggak ada, batasannya enggak ada. Gimana ini ya, tes literasi, tapi kok literasinya rendah begini? Membuat alat ukur yang ambigu, tidak jelas batasannya, dan penamaan yang tidak sesuai. Jelas harus dikoreksi dan ini harusnya menjadi gambaran sebetulnya, bisa jadi masalah yang lebih besar ya. Bahwa kualitas atau mutu berbagai macam alat seleksi, alat ukur, dan ujian di negara ini mungkin memang banyak yang bermasalah seperti ini gitu. Jadi perlu kita koreksi dan ini adalah masalah yang sangat serius karena balik lagi, sudah gue jelasin dari awal tadi. Di sinilah sebetulnya tumpuan keseluruhan output dari sistem penyelenggaraan pendidikan itu akan seperti apa.
[17:35]Kepada pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan, ini adalah PR yang harus segera dikerjakan, harus segera dikoreksi. Jangan sampai kita menghancurkan masa depan banyak anak-anak Indonesia dengan literasi yang baik karena tes literasi kita justru tidak berliterasi. Hal yang sama juga berlaku untuk segala jenis ujian dan assessment, termasuk uji kompetensi guru. Kalau itu ada yang perlu dikoreksi, harus segera dikoreksi. Mari kita benahi segera, jangan ada lagi ujian-ujian bermasalah yang membuat murid dan guru sama-sama bingung, frustrasi, dan kehilangan kesempatan terbaik untuk belajar dan berkembang dengan optimal. Tolong bagin juga video ini kepada jaringan teman-teman, terutama orang tua, murid dan guru yang jelas terdampak langsung oleh adanya persoalan ujian di negara ini. Terima kasih sudah menyimak sampai selesai. Gue Canya Citta, salam masyarakat baru.



