Thumbnail for Cara Berwudhu Dengan Setengah Gayung Sesuai Sunnah - Ustadz Farhan Abu Furaihan by Media Sunnah Aceh TV

Cara Berwudhu Dengan Setengah Gayung Sesuai Sunnah - Ustadz Farhan Abu Furaihan

Media Sunnah Aceh TV

7m 29s789 words~4 min read
Auto-Generated

[0:00]dalam hadis berapa mud air wudu yang dipakai oleh Nabi? Satu mud. Dua mud. Dan afdalnya memang menggunakan gaya dalam wudu. Kenapa?

[0:11]Berapa alasan? Di antaranya karena air akan lebih hemat. Pakai apa namanya? Keran, boleh. Tapi sebagian ulama ada yang menyatakan kalau ada gayung enggak boleh pakai keran.

[0:23]Zaman Nabi selalu pakai pakai gayung. Jadi masa Nabi juga ada model keran seperti tempat air minum Nabi. Seperti yang tidak mengapa, hanya saja lebih afdal pakai gayung bukan karena zat gayungnya, tapi karena air akan lebih hemat kalau menggunakan gayung.

[0:44]Dalam masalah wudu telah kita ingat hadis paling inti dalam masalah wudu adalah dua, ya. Hadis Utsman bin Affan, yang kedua adalah hadis Abdullah bin Zaid radhiyallahu anhuma dan kedua-duanya riwayat Bukhari dan Muslim.

[0:59]Telah mempraktikkan wudu Nabi yang disaksikan oleh para tabiin secara gamblang. Dalam hadis tersebut disebutkan, fa'affa, apa dulu? Bismillah. Dan itu bukan rukun, ya.

[1:09]Sebagian ulama belum berpendapat rukun, syarat, syarat sah. Fa'affala yadihi salah satu marrat. Beliau menuangkan ke telapak tangan kanan atau kiri sebanyak tiga kali. Boleh tiga, boleh dua, boleh satu.

[1:21]Dan ulama sepakat bahwa menyiram air ke telapak tangan sebelum memulai berwudu, itu hukumnya sunah, bukan wajib.

[1:30]Ya, kalau ada yang berkata, ada najis? Ya berarti bersihkan najis dulu, baru berwudu. Ya.

[1:37]Boleh berapa kali? Boleh, nah.

[1:57]Banyak tiga kali. Boleh dua, boleh sa? Boleh satu. Kemudian wajah telah kita sebutkan tiga caranya.

[2:03]Ima dengan satu telapak tangan, ya, atau kedua telapak tangan langsung, atau mengambil air dengan satu telapak tangan, kemudian ketika mengusapkan wajah dengan kedua telapak tangan. Tiga-tiganya dilakukan oleh Nabi.

[2:16]Kata, tetapi Imam Syafii menyatakan lebih afdal mengambil air dengan dua telapak tangan dan mengusapnya dengan dua telapak tangan karena akan lebih sempurna.

[2:24]Ya. Sekali. Tiga kali, ya. Kemudian tangan sampai ke siku sebanyak tiga kali.

[2:40]Telah kita bahas bahwa sampai ke siku bukan berarti harus dari sini ke siku, enggak boleh dari siku ke bawah. Yang rojih, boleh dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah, selama semua yang dicucinya itu adalah sampai siku.

[2:56]Tiga kali, dua kali, atau sekali. Mana dulu? Kanan dulu atau kiri dulu? Kalau dia mulai kiri dulu baru kanan, sah enggak wudunya?

[3:02]Sah. Sepakat ulama Islam kata Imam Nawawi sah. Hanya saja dia meninggalkan yang lebih afdal.

[3:53]Ada syubhat di tengah-tengah masyarakat kita, kok tangannya dimasukkan ke gayung? Bisa jadi kan tangan najis, kotor.

[4:02]Kita jawab, agama ikut dalil. Nabi memasukkan, para sahabat ketika mempraktikkan wudu Nabi memasukkan. Kedua, kalau beralasan najis, ya, sudah pasti bersihkan dulu najis baru berwudu.

[4:14]Oh kayak-kayaknya bisa jadi. Ilmu agama ilmu pasti, tidak boleh kayak-kayak. wal aslu fi thiyabi. Hukum asal pada pakaian tempat adalah kesucian. Tidak boleh di najis kecuali memang sudah dipastikan adanya benda najis. Setelah itu baru kepala.

[4:30]Ke belakang, kembalikan lagi ke depan. Kemudian tadi disebutkan Nabi mengusapkan kedua telinga daun telinganya, bi sabahataini bahihi wa bahihi bisahaini.

[4:45]Luarnya dengan dalamnya dengan dua jari telunjuk, luarnya dengan jempol. Ya, boleh juga dia tanpa mengambil air baru lagi.

[4:58]Tapi afdalnya dia mengambil air baru baru setelah tangan, mengambil air lagi untuk mengusap kepala.

[5:08]Ini kalau kepalanya tidak ada imamah. Kalau ada imamah, maka diusapkan imamah saja, bersama daun telinga.

[5:16]Iya. Tapi, ya, yang ketiga, ujung kepala sedikit, kemudian baru imamah. Jelas, ya?

[5:23]Tayib. Tadi air setengah gayung, ya? Bukan satu gayung, ya? Sekali.

[5:30]Dua kali. Boleh dua, boleh satu, boleh tiga.

[5:36]Sekali, dua kali. Air setengah gayung, enggak sampai satu gayung.

[5:46]Jelas? Bagaimana celah-celah jari? Telah kita bahas, apabila memang air enggak mungkin sampai atau enggak akan bersih kecuali dengan sela-sela, maka wajib dia menyala-nyalakannya.

[5:58]Nah. Tapi kalau airnya sampai, maka tidak wajib. Sedangkan kalau pakai keran, coba antum wudu pakai keran. Pasti lebih dari satu gayung. Bahkan sebagian orang berwudu bisa kalau kita hitung-hitung mungkin sudah satu ember.

[6:09]Ya, dan sering kekeliruan ketika berwudu pakai keran adalah ketika cuci kaki. Sudah besar lagi, Ini andai kata kena semua, masih dihitung seka sekali.

[6:24]Sah, tetapi dia belum dikatakan tiga kali. Karena sekali itu dikatakan sekali kata Imam Nawawi bil istib. Apabila seluruh bagian di anggota wudu itu telah kena air.

[6:36]Misalkan sekali, depan. Dua kali, tiga kali, tetap dibilang seka sekali. Jelas, ya? Oke, kalau berwudu pakai keran, usahakan enggak perlu keras-keraslah. Pelan aja, kan airnya sama juga.

[6:53]Keras pun nanti tumpah juga, dapatnya sama juga. Hanya saja terkadang tabiat orang tamak, ya. Kalau enggak hidup semuanya enggak enak.

[7:03]Akhirnya dihidupkan keras seperti pemadam kebakaran, ya. Usahakan pelan saja. Dan usahakan ketika mengusap kepala, keran matikan supaya enggak mubazir air.

[7:14]Pas mau cuci kaki baru hidupkan lagi. Karena di antara bentuk hal yang tidak baik kebanyakan orang ketika berwudu ketika menggunakan keran, di saat dia mengusap kepala, kerannya dibiarkan hidup. Lalu itu baru cuci kaki.

[7:29]Mubazir. Wallahualam bisawab. Saya kira cukup, ya?

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript