Thumbnail for #momscorner 1 INDRA PRIAWAN | Anak Tidak Akan Mau Cerita ke Orang Tua, Karena Merasa TIDAK DI DUKUNG by Nikita Willy Official

#momscorner 1 INDRA PRIAWAN | Anak Tidak Akan Mau Cerita ke Orang Tua, Karena Merasa TIDAK DI DUKUNG

Nikita Willy Official

25m 58s3,832 words~20 min read
Auto-Generated

[0:00]Mungkin kita semua pasti ada yang dipengen dulu sama orang tua kita tapi kita enggak dapetin. Apapun itu yang kita enggak dapetin dari orang tua kita, aku pengen anak kita tuh selalu dapat.

[0:28]Don't be the mediocre. If you want to be mediocre, ya udah. Ngapain harus nya-nyain waktu kamu buat kalau misalnya kamu pengen cuma jadi mediocre aja. Hi, welcome to Moms Corner. Hai. Thank you so much for stopping by, padahal schedule kamu udah sibuk banget tapi kamu mau sempatin datang ke sini. Terima kasih. Ini apa sih? Moms Corner ini apa sih? So, seperti judulnya Moms Corner ini adalah tempat untuk ibu-ibu, well papa-papa juga, untuk ngomongin hal-hal yang biasanya diobrolin sama ibu-ibu. Kayak kesehatan anak, tumbuh kembang anak, terus parenting, kesehatan wanita, kesehatan suami dan masih banyak lagi. I see. Wah, menarik banget ya. Ini bakal banyak ada knowledge-knowledge dan pengetahuan baru tentang cara mengasuh anak dan Totally. Yes. Oke. Very good. Thank you. Now you're here as my first guest, let's talk about your fatherhood. Oke. So, how's your fatherhood so far? So far, eh seru sih. Kayak orang bilang bakal berubah pola hidup segala macam. Menurut aku sih enggak enggak banyak berubah ya. Mungkin jadi prioritasnya aja yang lebih berbeda tapi kalau misalnya secara perubahan hidup kayaknya enggak ada ya. Dan so far, I really love being a father. Like love like how? Aku merasa semenjak aku menjadi ibu, eh kehidupan aku 180 derajat berubah. Kayak aku jadi suka kebangun malam-malam in the middle of the night waktu awal-awal aku baru melahirkan. Sementara kadang-kadang kamu di samping aku masih sleep peacefully. So, pasti tapi ada yang kamu rasakan kan, ada perbedaan di diri kamu yang benar-benar kamu rasakan. Betul, betul. Kalau mungkin perbedaannya kalau misalnya ibu sama bapak mungkin karena kalau misalnya ibu akan lebih attach banget kali ya ke anaknya ya. Kayak anaknya kan kadang-kadang kalau misalnya nangis prefer dipeluk sama ibunya gitu. Kalau misalnya malam-malam juga Isa kadang-kadang kan lebih pengennya nyarinya Bu, Bu, Bu, Bu gitu kan daripada Bapak. Mungkin kalau dari aku yang paling berubah adalah gimana cara ngebagi waktu pas sebelum pergi kerja sama pulang kerja aja sih. Karena kan kalau misalnya main sama anak tuh sebenarnya capek ya, walaupun enggak ngapa-ngapain tapi untuk umur segini gitu dia lari-lari, ngeladenin dia ngelakuin sesuatu yang kita belum bisa berbicara too ways gitu kan kadang-kadang sebenarnya capek kan. Mungkin itu aja sih. Dan akhirnya yang dulu pergi malam tuh masih ada tenaga, terus kalau misalnya dinner tuh masih bisa agak late. Sekarang kayak kayak jam 9.00 tuh I prefer to already stay in bed jam 9.00. Responsibility-nya juga beda kan. Beda. Dan mungkin yang paling berubah responsibility sama ini sih sama priority ya.

[3:20]Kalau dulu kan yang dipentingin pasti lebih ke diri sendiri dulu terus baru misalnya keluarga. Kalau kalau misalnya sekarang tuh kayak prioritasnya ya lebih ke anak dulu, keluarga baru diri sendiri gitu. I see. Ya. Oke, speaking of fatherhood, what kind of father do you want to be? Mungkin aku pengen jadi sosok Bapak yang selalu ada di semua life event-nya dia.

[3:50]Kan kadang-kadang dulu kita kalau pas masih kecil pasti ada ingat kayak oh life event ini ingatannya sama teman-teman atau enggak saudara seumurannya. Aku pengen di setiap life eventnya dia itu, aku menjadi sosok yang memorable buat dia dari kecil sampai gede. Dan aku pengen jadi sosok yang dia look up into. Jadi mungkin kita semua pasti ada yang dipengen dulu sama orang tua kita tapi kita enggak dapetin. Apapun itu yang kita enggak dapetin dari orang tua kita, aku pengen anak kita tuh selalu dapat. Ya. Apa dulu almarhum Papa kamu sosok Papa yang seperti itu, makanya kamu ingin banget menjadi seperti sosok beliau. One off. Cuma mungkin karena aku ditinggal papaku saat aku masih muda banget pas umur 17. Jadi kayak actually kan sebenarnya kan laki-laki itu kan growing up pas kamu 17. Sebelum 17 itu kan actually laki-laki ya ya basically kami cuma main-main doang lah, belum literally growing up. Jadi pas di saat aku growing up, aku tuh enggak ada sosok Bapak. Jadi kalau misalnya umurnya memungkinkan dikasih Allah buat bisa ngelihat anakku sampai tumbuh dewasa, I want to be in every part of his life event. Dan bisa jadi person yang he's looking up into. Dan terbuka. Kan kadang-kadang kalau anak cowok lebih terbuka sama ibunya ya. Kadang-kadang sama bapaknya kayak ada kayak kurang kurang dekat lah gitu loh. Atau kurang kurang agak malu gitu loh terbuka sama bapaknya. Aku pengen jadi sosok Bapak yang bisa terbuka sama anaknya dan anaknya pun juga bisa terbuka sama bapaknya. Apa mungkin karena laki-laki itu kadang-kadang suka susah communicate kali ya. Kalau perempuan tuh kayak bisa lebih open. Jadi anak-anak tuh lebih attach terus bisa lebih kasih tahu apa yang diinginkan sama anak tersebut. Tapi kadang-kadang laki-laki tuh suka susah untuk membuka komunikasi. Makanya mungkin yang kamu bilang kadang-kadang anak cowok tuh suka susah untuk communicate atau anak suka susah untuk berkomunikasi sama papanya. Itu itu mungkin menurut aku one of the reason. Cuma menurut aku reason lain adalah karena kalau misalnya pas lagi kecil bapaknya tuh enggak sering ngobrol sama anaknya tentang segala hal. Terus enggak sering melakukan sesuatu kegiatan yang anaknya suka barang atau bapaknya suka barang bersama-sama. Itu menurut aku juga menjadi salah satu yang menyebabkan anak sama Bapak jadi agak sungkan buat ngobrol satu sama lain. Kayak kayak for example misalnya kamu kamu tahu anak kamu misalnya suka banget main tenis. For example. Terus kamu enggak pernah ngikutin dia main tenis atau enggak pernah coba berusaha supaya kamu bisa main tenis juga buat bisa main sama dia. Misal dia udah 20 tahun, 21 tahun kamu enggak pernah main tenis sama dia ya masa sih dia bakal kayak, aku mau tennis ini dong kasih input harus ngapain atau segala macam. Kan it's maybe it's impossible to do that, right? Karena you don't share any common interest, ya kan? Kayak sebisa mungkin aku mau share anything that he likes.

[7:04]Aku pengen juga berusaha likes dan kalau bisa apa yang aku hobi dia juga bisa jadi hobi. Kayak aku hobi main basket, I really hope that he can also become a basketball player gitu. Kalau misalnya kita share the same interest and then bisa main bareng, bisa sharing bareng, spend time bareng udah kayak sama teman aja itu pasti hubungan antara Bapak sama anak bakal beda sih. Oke, we're gonna talk about that. Tapi sekarang I want to talk about your childhood. Masa kecil kamu tuh dulu kayak gimana sih? Or gimana rasanya lahir di old money family? Actually dulu pas aku masih kecil itu, papaku tuh orang yang salah satu kurang bisa menge-enjoy apa yang dia punya. Jadi papaku sama nenekku itu walaupun mereka tuh udah berkecukupan tapi mereka tuh selalu hidup yang penting ada aja. Mereka enggak pernah melebihi apa yang harusnya mereka bisa lakukan. Jadi kayak pas pas aku masih kecil, naik bisnis class itu sesuatu yang yang yang yang mewah sekali gitu. Kayak makan room service aja untuk bisa boleh pesan room service itu udah merupakan sesuatu yang mewah sekali. Karena kayak bukan pelit ya tapi kayak menurut papaku kalau misalnya kita bisa menghemat sesuatu yang kita bisa enggak lakukan kenapa kita harus lakukan itu gitu loh. Jadi kayak sampai sebelum papaku sakit, ya hidup aku tuh sebenarnya basically sederhana banget. Iya bisa beli apa yang aku mau cuma kayak enggak terlalu apa yang mau aku mau tuh langsung ada di depan mata tuh enggak juga. Karena my dad agak tough orangnya. Sampai akhirnya waktu dia sakit, and then maybe at that time dia udah tahu kayak this is time for him to enjoy life with my family. Setelah itu baru berubah. Jadi kalau misalnya pergi liburan bisa lebih enak dikit, hotelnya jadi lebih bagus. Terus yang dulunya naik pesawat cuma orang tuanya di bisnis terus anaknya juga udah mulai ikutan dikasih boleh duduk di bisnis. Kayak gitu-gitu lah. Dan terus papaku kan dulu polisi ya, mantan polisi. Terus jadi dia tuh orangnya keras gitu loh. Jadi disiplin banget sama anak-anaknya. Mm, gitu. Jadi disiplin dan hidup sederhana. Apa itu kayak prinsip atau hal-hal yang memang ditanamkan sama orang tua kamu ke kamu when you are growing up? Jadi itu udah kayak pass through generation. Karena nenekku sama kakekku tuh juga salah satu orang yang sangat pekerja keras banget. Jadi memang mereka tuh pekerja keras dan hidupnya itu sederhana. Jadi kerja keras dan sederhana itu menjadi salah satu moto hidupnya merekalah. Kalau kenangan masa kecil kamu ada enggak yang masih sangat-sangat kamu ingat sama orang tua kamu? Wah, banyak ya. Yang Yang ngapain? Apa ya? Yang yang happy-happy mungkin atau yang yang menurut kamu enggak akan pernah bisa kamu lupain. Pokoknya kalau ingat kegiatan ini kamu selalu ingat, oh ini orang tua gue dulu selalu melakukan hal ini. Banyak banget sih cuma kayak yang paling Maybe traveling? Yang paling diingat adalah karena dulu nenekku sakit. Terus pas nenekku sakit nenekku dirawatnya di Belanda. Jadi pas aku masih kecil, aku tuh sama mamaku sama papaku sempat tinggal di Belanda lama. Oh, ya. Iya sempat tinggal di Belanda lama, sempat sekolah juga di sana tapi karena papaku kerja jadi bolak-balik. Nah jadi kalau misalnya aku ingat traveling sama keluarga itu pasti yang travelingnya traveling di Belanda karena sama keluargaku tuh di sana sempat lama ada nenek, ada ada mama, ada papa, ada kakak-kakakku gitu. Berarti dulu pas kita kemarin kita ke Belanda kamu ngerasa throwback banget ya. Iya, dan papaku kan juga meninggalnya kan di Belanda ya. Jadi kayak kalau memori traveling sama keluarga itu udah pasti on top of the mind-nya pasti adalah Belanda. Oke. Jadi Belanda itu kayak your second home gitu. Third home lah third home. Second home-nya apa? I would say United States karena mungkin aku sekolah dulu di sana kan ya. Terus kita juga dulu ngelahirin Isa di sana. Jadi kayak ada bond-nya lah ada bond-nya lah. Oke. So, tadi kamu bilang kan kamu berharap kamu bisa share the same interest sama your son kan. Terus waktu itu kamu sempat mention kalau kamu tuh suka banget basketball tapi kamu enggak didukung sama orang tua kamu. Ya, apa karena itu kamu jadi kayak setengah-setengah untuk main basket atau so how do you how did you feel pada saat orang tua kamu enggak mendukung your interest? Jadi aku tuh dulu nih ini cerita sejarah aku main basket. Aku pertama kali main basket itu kelas 3 SD. Itu karena tadinya aku mau main bola. Sukanya bola. Cuma dulu kelas 3 SD aku gendut banget. Gendut tapi aku dulunya main tinggi. Jadi main bola tuh enggak bisa. Akhirnya kayak pas main basket, oh ternyata aku lumayan juga nih bisa main basket. Nah, sejak itu main basket yang tadinya cuma pengen kurus akhirnya jadi hobi banget. Itu pertama kali main basket. And then pas aku kelas 6 SD, aku udah mulai sering juara nih. Mulai sering juara, terus pas masuk SMP aku lebih sering lagi juara daripada SD. And then aku dapat gelar MVP. MVP itu most valuable player di salah satu turnamen pas di Jakarta lah. Terus kayak, oh ternyata I'm not bad doing this. Mungkin aku bisa masuk club terus bisa try to get better, spend more time in a basketball. Terus mungkin bisa jadi pemain pro kayak gitu dulu. Mikirnya kan kayak gitu. Terus dulu papaku bilang kayak, udah enggak usah main basket cuma buat main-main aja. Hobi aja yang penting belajar. Nah akhirnya kan kalau digituin kan jadi yang namanya anak muda senang sama sesuatu digituin kan pasti akhirnya jadi nge-drop kan. Iya. Kayak, oh ternyata walaupun gua bisa membuktikan kalau misalnya gua di sini itu berprestasi banget tapi tetap enggak didukung. Nah itu menurut aku kayak menjadi salah satu yang menyebabkan anak itu enggak mau cerita lagi ke orang tuanya. Kayak kamu udah berprestasi terus kamu enggak didukung. Eh mungkin waktu itu concern-nya tahu karena pas aku sering banget main basket nilainya jadi jelek. Cuma nilai jelek itu kan sebenarnya bukan segalanya kan. Sebenarnya kan bisa aja kamu tetap didukung main basket and then you spend more time studying gitu. Sebenarnya bisa aja kan. Kalau misalnya nanti Isa suka sama sesuatu, aku akan ngedukung 100% sih. Walaupun itu memang berbeda dari plan kamu dan misalkan interest kamu benar-benar berbeda banget sama interestnya Isa, kamu akan tetap dukung. Yes. Akan selalu dukung. Apapun itu. Hai, sorry for interrupting the podcast. Di podcast ini kalian akan selalu lihat aku menggunakan Oppo Find N3 Flip sebagai Q card aku. Oppo Find N3 Flip nyaman sekali untuk bikin konten karena memiliki vertical cover screen yang super useful dan lipatan layar yang hampir enggak kelihatan sama sekali. Back to the podcast. Kalau menurut aku prinsip aku, kalau misalnya dia suka sama sesuatu, terus dia hobi dan dia good edit. Jangan setengah-setengah ngerjainnya. Kalau misalnya setengah-setengah ya cuma jadi good aja. Bukan jadi great atau ngejadi the best. Kalau misalnya rata-rata seumpama, oh ternyata pas dia SD, SMP dia suka banget acting gitu. Ya udah, go for it. But be the best. Don't be the mediocre. If you want to be mediocre, ya udah. Ngapain harus nyia-nyain waktu kamu buat kalau misalnya kamu pengen cuma jadi mediocre aja. If you want to do something, if you want to do something that you like and you sacrifice something else, ya udah be the best. Dan aku akan ngedukung. Kalau misalnya dia gagal untuk menjadi the best. Kalau kalau menurut aku, kalau misalnya kamu enggak gagal berarti kamu enggak pernah mencoba. Right? Jadi gagal itu menurut aku sesuatu keharusan buat kamu bisa menjadi the best. Ya, setuju. Kalau misalnya dia gagal dari apa yang dia interest, kamu tetap akan dukung dia untuk mencoba lagi atau kamu akan bilang, kamu enggak dengerin Papa sih. Kan kita kan pasti bisa ngelihat ya nanti. Ternyata kalau misalnya anaknya nyoba banget tapi ternyata dia kita bisa lihat kayaknya emang bakatnya bukan di situ deh. Kan kita bisa mulai perlahan-lahan coba ngarahin ke tempat yang lain lah. Cuma kalau misalnya emang ternyata kita ngelihat dia gagal karena dia belum naruh best effort-nya dia, ya kita push sampai dia melakukan best effort-nya. Baru kalau misalnya dia udah melakukan best effort ternyata gagal juga, ya kan namanya takdir ya. Kita cuma bisa berusaha tapi at the end of the day kan Allah yang menentukan. Emangnya plan kamu untuk anak-anak kamu apa? Meneruskan bisnis family or Apapun yang mereka mau sih. Yang penting aku harus bisa nyiapin pendidikan dia sampai setinggi-tingginya. Nyiapin mental mereka buat bisa tough menghadapi dunia nyata sama mempersiapkan pribadinya buat bisa bersosialisasi dengan orang-orang. Yang penting kan itu ya. Oke. Speaking of pendidikan, what are your thoughts about education and schooling for your children? Aku ingat banget kamu pernah bilang di karir pendidikan tuh cuma beberapa persen aja. The other percent tuh luck and connection. Oke. Kalau menurut aku pendidikan itu tetap penting harus karena at the end of the day pendidikan itu yang ngebikin mindset seseorang. Kalau misalnya kamu enggak sekolah sama kamu sekolah, pasti mindset kamu akan berbeda. Walaupun mungkin orang yang enggak sekolah bisa jadi lebih sukses daripada orang yang sekolah. Cuma menurut aku pendidikan itu tetap penting, pendidikan formal ya, tetap penting. Tapi on the other hand pendidikan informal juga penting. Pendidikan informal itu kayak pendidikan di rumah. Gimana cara orang tua ngajarin anaknya supaya bisa tough, supaya enggak manja, supaya bisa bersosialisasi dengan baik dengan orang lain. Menurutku itu penting. Dan kerja keras sih. Iya. Karena kalau misalnya sepintar apapun kamu sebagus apapun ide kamu tapi eksekusinya nol kan tetap enggak jalan juga. Berarti salah satu yang penting juga adalah life skill ya. Yes. Menurut kamu life skill yang paling penting banget itu apa? Wah, paling penting banget bingung. Cuma menurut aku ada beberapa yang sangat penting. Yang pertama kerja keras, yang kedua enggak peduli dengan orang lain ngomong atau mikir apa. Dan yang ketiga enggak takut buat gagal. Ya. Menurut aku tiga itu sih. Karena kalau misalnya kamu enggak kerja keras, eksekusi enggak bakal jalan. Kalau misalnya kamu masih peduli sama orang lain pikirin segala macam, kamu enggak bisa berinovasi. Kalau misalnya kamu masih takut gagal ya enggak ngelakuin apa-apa. Menurut aku tiga hal yang paling penting itu. Kalau sekolah kan kamu sempat sekolah internasional, terus swasta dan negeri juga kamu pernah enggak sih? Enggak, negeri eh negeri pernah pas kuliah S1. Iya, terus kamu juga pernah sekolah di luar juga. Apa ada perbedaannya enggak sih atau penting enggak sih kayak anak dari negeri terus internasional terus study abroad itu penting enggak sih? Menurut aku harus untuk pernah ada pengalaman study abroad, harus. Dan mungkin kalau dari dari pendidikan terbawah dulu ya dari dari TK SD ya. Kalau menurut aku TK harus dikasih pendidikan yang fun, enggak terlalu pushy, fun, anak-anaknya playful, based ya. Iya harus fun tapi anaknya juga udah mulai belajar dikit-dikit. Kemudian kalau menurut aku kalau SD itu anaknya lebih penting di tempat yang ada agamanya. Mm. Jadi supaya umur-umur segitu kan krusial ya. Harus ditanamin benar-benar agama dan akidah gitu loh. Kalau misalnya enggak ditanamin agama atau akidah pasti telat nanti kalau misalnya SMP apalagi kalau udah balik. Terus kemudian SMP menurut aku udah harus di SMP yang banyak active learning. Karena pengalaman aku di sekolah-sekolah Indonesia itu pendidikannya dikasih bagus cuma passive learning. Jadi pas belajar kayak active learning kitanya tuh kewalahan. Kaget. Kaget. Kayak pas pindah ke luar negeri kan di luar negeri active learning banget kan. Kayak dosennya cuma ngejelasin aja kita harus nanya kita harus aktif dan itu kaget. Jadi kalau menurut aku SMP SMA udah harus mulai internasional. Mungkin sekalilah ya, SMA gitu internasional atau SMP atau ya we'll see at that time situasi di Indonesia kayak gimana kan sekarang juga udah mulai banyak sekolah non internasional yang bagus kan. Mungkin sekolah negeri juga udah bagus banget nanti ya kan. Iya. Dan mungkin kalau kuliah aku harus kalau bisa lah kalau bisa kalau ada rezekinya ngirim anak-anakku ke luar negeri. Biar dia tahu culture difference itu gimana, gimana cara handle discussion, handle group meeting sama orang-orang dari negara lain. Tahu gimana mereka mindset-nya, mereka suka telat atau enggak. Yang gitu-gitu lah. Jadi dari study abroad itu kamu belajar buat disiplin juga kali ya. Betul. Karena kayak di sana contohnya ada orang di beberapa negara ya enggak usah kita sebutin negaranya. Kalau misalnya meeting jam 01.00 mereka datang 12.45. Jadi kalau misalnya mereka datang jam 01.00 itu udah dianggap ya kita telat. Heem. Karena jam 01.00 itu bukan jam 01.00 kita duduk bareng, jam 01.00 itu udah mulai. Jadi jam 12.45 mereka datang mereka buka-buka laptop segala macam ya jam 01.00 tuh kita mulai atau 12.59 kita mulai. Jadi kayak dari situ aja kan udah kelihatan work ethic-nya beda kan. Jadi kalau misalnya kita sebagai orang Indonesia atau ya dari bangsa mana pun itu enggak ngikutin work ethic itu ya pasti dengan kondisi ekonomi yang udah globalisasi kayak gini kan pasti pasti ketinggalan ya. Lalu selain disiplin apalagi yang kamu dapat dari study abroad? Public speaking in English. That's very important. Menurut aku kalau misalnya kita bisa bahasa Inggris, bisa ngomong Inggris itu akan beda banget sama kita pas public speaking dengan bahasa Inggris. Di situ belajar presentasi dan lain-lain. Yes. Pertama kali. Dulu pas aku kuliah S1 udah sering presentasi dengan bahasa Inggris. Tapi audiensnya kan bukan native speaker. Pas kamu punya audien native speaker tuh kamu pasti akan beda feeling-nya. Kayak aku salah ngomong enggak ya? Gitu. Salah pronunciation enggak ya? Nah itu akan menjadi pengalaman yang tidak terlalu bahkan juga sih. Kalau kita ngomongin beberapa tahun ke depan berarti kan job desk kita as a parents sudah beda lagi kan. Karena mom turns babies into boys sedangkan dad turns boys into men. So, how do you envision your role as a parents ke depannya nanti? Mungkin lebih engage sama kehidupannya sih. Kayak aku bilang tadi ya, engage ke kehidupan yang kayak lebih engage ke kehidupan dia di sekolah gimana? Terus selalu tahu dengan update perkembangan dia di sekolah kayak gimana supaya supaya enggak ada yang kelewat juga. Kan sekarang kan anak dewasanya cepat banget kali ya. Dengan ada sosial media lah pas segala macam. Jadi selalu update lah dengan perkembangan anak. Iya. Kita juga jadi orang tua harus up to date juga kan. Jadi supaya kita enggak ketinggalan banget nih gitu. Iya iya iya. Oke, to last question. Kamu ingin harapan kamu untuk anak-anak kamu nanti gimana? Anak-anak kita. Untuk anak-anak kita gimana? Or kalau misalnya Isa 5 tahun ke depan lagi menonton podcast ini, kamu mau sampaikan apa? Mungkin lebih ke supaya mereka bisa mandiri pas umur yang sudah cukup mereka bisa enggak tergantung lagi sama orang tuanya. That's what I'm preparing them for. Jadi jangan cuma anak yang kerja ini cuma minta-minta sama orang tua aja. Jangan kayak gitu. Kalau bisa anaknya yang ngebiayain bapak sama ibunya lah. Iya kan? Yes. Iya kan? Terus kalau bisa selalu give the best in everything that you want to do. Whatever it is, acting, sports, education, harus give the best. Give the best effort. Jangan jadi anak laki-laki yang enggak bisa olahraga apa-apa. Karena itu penting banget menurut aku. Kenapa sports is really important? Untuk laki-laki. Oke, karena menurut aku kayak gini. Di sport apalagi yang kontak fisik sport, itu ngelatih kamu buat buat tough. Ngelatih kamu buat tough dan ngelatih kamu buat jadi competitiveness-nya tuh lebih ada. Contohnya kamu main basket. Main basket full contact physic sports, full competitive dan kamu akan ngadapin orang yang lebih jago daripada kamu, lebih gede daripada kamu. Dan kamu harus bisa teamwork juga. Jadi kalau misalnya kamu enggak ngelakuin benar-benar suatu sport yang benar-benar sport, itu akan beda mentalnya sama anak-anak yang benar-benar enggak ngelakuin sport apapun. Ah. Menurut aku ya. Enggak tahu. Mungkin kalau misalnya ada yang tidak setuju bisa taruh di komen. Cuma kalau menurut aku anak-anak yang melakukan full sport itu akan beda pasti. Kompetitive mentalnya kalau misalnya dia nanti teamwork itu akan beda. Kalau kamu harus milih your life or your children, kamu akan pilih siapa? Pilih siapa ya? Susah kan. It's really silly. Susah. Tapi gini menurut aku. Kalau misalnya anak setelah dia punya keluarga itu mereka udah punya kehidupan sendiri. Tapi pas kita udah tua, kita balik lagi sama istri kita, sama pasangan kita. Right? Dan dan dan kamu bakal end your life ya sama pasangan kamu. Jadi lebih penting untuk memperbaiki hubungan sama istri kamu. Whatever it takes. Ya sama anak juga penting ya. Cuma kalau misalnya banyakan orang bilang, ah anak, ah pasangan buat dibiarin main aja. Kalau misalnya sama anak pas anak udah menikah mereka punya kehidupan sendiri. Tapi kalau misalnya sama pasangan dari pertama begini tapi makin lama makin naik, makin lama kehidupannya cuma sama pasangannya doang.

[25:39]Setuju. Iya kan? Kamu kalau misalnya nanti 70 tahun, hangout-nya sama siapa? Hangout-nya sama pasangan kamu doang kan. Jadi kalau bisa buatlah pasangan kamu sebagai sahabat kamu ya. Yes. Oke. So, my dear husband, thank you so much for sharing. Thank you. Thank you and see you guys next week.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript