[0:20]Indonesia negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia. Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
[0:34]Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
[0:40]Negara yang memiliki lebih dari 17.000 pulau ini menjadi rumah bagi ribuan kelompok etnis.
[0:50]Meskipun sekitar 83% penduduk Indonesia muslim, tetapi jumlah pemeluk agama-agama lain juga signifikan.
[1:03]Di Indonesia Islam tidak dipertentangkan dengan nasionalisme dan demokrasi. Ideologi nasional yang inklusif bernama Pancasila diterima secara luas. Belakangan ujian terhadap kemapanan ideologi kebangsaan yang inklusif ini menguat kembali di tengah goncangan politik identitas.
[2:22]2 Desember 2016, kawasan Monas Jakarta dipadati ratusan ribu umat Islam.
[2:32]Mereka datang tak hanya dari Jakarta, tapi juga dari berbagai daerah. Teriyakan takbir, silih berganti dengan hujatan terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.
[2:59]Hujatan terhadap Ahok juga dituangkan dalam bentuk poster dan spanduk yang dibawa para pengunjuk rasa. Termasuk yang ada tulisan tolak pemimpin kafir. Ahok dituding sudah menyinggung umat Islam dalam pidatonya di Kepulauan Seribu. Masa menuntut Ahok diadili sebagai penista agama Islam. Penggerak aksi adalah Habib Rizik Shihab, pemimpin organisasi Islam Front Pembela Islam. Juga Bahtiar Nasir yang membentuk Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI.
[3:44]Aksi 212 yang masif ini dinilai menunjukkan menguatnya identitas supremasi Islam di Indonesia. Identitas keislaman itu terus menguat, bahkan hingga 2 tahun sesudah aksi 212.
[4:04]Bulan November 2018, acara Hijrah Fest di Jakarta dihadiri puluhan ribu anak muda. Pengunjuk Hijrah Fest berasal dari latar organisasi keagamaan dan orientasi politik yang beragam. Tetapi nuansa keislaman kegiatan ini cukup kuat dengan pembicara-pembicara yang mengusung narasi supremasi Islam.
[4:29]Sukses di Jakarta, acara serupa digelar di Surabaya selang 3 bulan kemudian.
[4:51]Hijrah dan Islamic Fest menjadi ruang pertemuan pasar, budaya pop, dan transmisi gagasan kebangkitan Islam. Aksi 212 menumbuhkan kesadaran kebangkitan Islam. Tidak hanya di ranah politik tetapi juga di ranah sosial dan ekonomi yang bersifat eksklusif.
[5:14]Bermunculanlah gerai dan toko yang menonjolkan identitas Islam seperti Halal Mart, 212 Mart dan dikotomi antara bisnis muslim atau pribumi melawan bisnis asing atau kafir. Kampanye kebangkitan Islam ini tumbuh dengan memanfaatkan isu ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi.
[5:39]Dosen Universitas Indonesia Inaya Rahmani melakukan penelitian tentang motif para peserta aksi 212. Ia menemukan motif aksi tak semata-mata urusan politik agama. Ia menemukan motif aksi tak semata-mata urusan politik agama.Ya artinya secara alamiah orang kelas menengah itu akan mulai merasa gamang karena kesempatan di masa depan sulit untuk dia kontrol dan peran negara semakin lemah. Perasaan gamang itu keluar dalam narasi-narasi keagamaan. Ketika orang itu merasa cemas, merasa gamang, ada kecenderungan di antara kelas menengah muslim di Indonesia, di dalam kasus ini DKI Jakarta untuk kembali ke agama untuk mendapatkan sebuah kepastian. Sehingga ketika ada situasi politik tekanan tinggi di mana ada musuh bersama yang menunjukkan sosok yang bukan muslim, bukan dari ras Melayu, menimbulkan persepsi bahwa seseorang yang merupakan musuh kita akan mengambil pegangan kita yang akan menambah ketidakpastian lagi. Musuh bersama yang dimaksud Inayah adalah Ahok, Gubernur DKI Jakarta kala itu. Ahok adalah sosok beretnis Tionghoa dan beragama non-muslim.
[7:08]Isu penista agama yang disematkan ke Ahok berkembang menjadi kampanye penolakan pemimpin kafir dan bisnis asing. Sebagai dasar argumentasi, mereka menyitir surat Al-Maidah ayat 51.
[7:34]Banyak ulama yang menafsirkan ayat ini tidak dalam pengertian larangan memilih pemimpin nonpolitik. Tetapi bagi sebagian kalangan, kata Al-Maidah 51 digunakan sebagai simbol aspirasi supremasi Islam.
[7:58]Salah satu tokoh utama pengusung narasi ini adalah Bahtiar Nasir.
[8:06]Ia adalah salah satu tokoh utama penggerak aksi 212 yang tidak berhenti dengan keberhasilan menggulingkan Ahok. Dalam ceramahnya di Masjid Jogokarian Yogyakarta pada Februari 2019, Bahtiar Nasir menegaskan jasa besar umat Islam Indonesia dalam sejarah Indonesia.
[8:26]Karena itu, sudah selayaknya umat Islam Indonesia mendapat posisi istimewa dalam kepemimpinan politik. Karena itu, sudah selayaknya umat Islam Indonesia mendapat posisi istimewa dalam kepemimpinan politik.Yang berkhianat pada khilafah itu siapa Saudi.
[8:54]Islam adalah yang paling besar kontribusinya dalam proses lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Sebagaimana kita ketahui kerajaan-kerajaan Islam bukan cuma menyerahkan aset yang mereka miliki tetapi ya kekuasaannya bersatu untuk Indonesia melawan invasi serangan dunia atau kolonialisme barat pada saat itu.
[9:21]Sampai pada akhirnya tokoh-tokoh Islam pula yang menjadi Founding Father berdirinya negeri ini. Tidak bisa dipungkiri dan bahkan sejarah tidak pernah bisa dihapus peran besar umat Islam pada pembentukan negeri ini.
[9:46]Orang Islam dipimpin oleh orang-orang Islam, yang non muslim yang kafir dipimpin oleh mereka. Dan kita enggak boleh terbolak-balik.
[10:02]Jadi umat Islam yang harus dipimpin oleh umat Islam. Jika mau jujur Indonesia adalah mayoritas muslim dan Anda adalah penganut demokrasi proporsional jika umat Islam yang mayoritas ini dipimpin oleh umat Islam. Bahkan lebih dari itu ada satuan-satuan terkecil. Umat Islam rela kok kalau pemimpin di Bali itu bukan orang Islam. Ya, karena mayoritas Hindu misalnya, ya mestinya tidak ada yang salah. Jika Aceh kemudian menerapkan Perda Syariah yang hanya diberlakukan hanya untuk masyarakat muslim saja.
[10:40]Ustaz Zain An-Najah sering satu panggung dengan Bahtiar Nasir.
[10:56]Ustaz Zain adalah akademisi dan dai yang aktif di lembaga yang sama Bahtiar Nasir. Miumi, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia. Sebuah lembaga yang mewarisi pemikiran tokoh-tokoh politik Islam seperti M. Nasir yang pada masa-masa awal kemerdekaan menuntut agar Indonesia menjadi negara Islam.
[11:32]Zain menjelaskan mengapa umat Islam harus menolak pemimpin kafir. Diprediksi kalau pemimpin kafir itu kalau dalam dalam pandangan Islam orang kafir itu kan tidak amanat dalam pandangan Islam sekali lagi ya. Kenapa enggak amanat? Karena dia enggak bersyukur kepada sang pencipta Allah Subhanahu wa taala. Padahal dia menciptakan orang ini, mestinya kan bersyukur kepada sang pencipta.
[12:00]Syukurnya itu dalam bentuk menyembahnya masuk Islam, menyembah salat lima waktu dan seterusnya. Berarti kalau orang kafir itu orang yang tidak bersyukur terhadap Tuhannya, tidak amanat terhadap nikmat yang diberikan kepadanya. Lah kalau dia tidak amanat dengan Tuhannya, biasanya juga enggak amanat sama rakyatnya. Kan sederhana banget ya, itu dari pandangan agama Islam.
[12:30]Tetapi dalam sejarah Indonesia, aspirasi negara Islam tidak menjadi kekuatan utama. Arus besar organisasi keagamaan Islam menerima bentuk negara saat ini telah sejalan dengan cita-cita politik Islam. Saat narasi penolakan pemimpin kafir menguat, Nahdlatul Ulama, organisasi muslim terbesar di Indonesia mempunyai sikap berbeda. Istilah kafir menjadi salah satu tema dalam Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama Januari 2019 di Kabupaten Banjar, Jawa Barat.
[13:26]Salah satu pertemuan para ulama NU, mereka merekomendasikan istilah kafir tidak digunakan dalam kehidupan bernegara, sebab baik orang muslim maupun nonmuslim mempunyai hak yang sama dalam konstitusi.
[14:04]Islam memiliki posisi penting dalam lanskap politik Indonesia, bahkan sejak berdirinya Republik ini. Dalam berbagai kesempatan Bung Karno menyitir Islam dalam pidatonya.
[14:58]Dengan jumlah pemeluk mayoritas, Islam menjadi faktor penting dalam pembentukan ideologi bangsa. Karena itu, sebagian pendiri bangsa beragama Islam menuntut agar Indonesia menjadi negara Islam.
[15:13]Diskusi keras terjadi pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, PPKI jelang proklamasi 17 Agustus 1945. Yang paling kencang adalah debat seputar Piagam Jakarta dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Yakni 7 kata Negara berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dihapus.
[16:04]Di mata intelektual muda Nahdlatul Ulama Ahmad Suaedy, sikap Kiai Wahid Hasyim itu adalah refleksi dari ideologi Islam inklusif NU.
[16:21]Itu memang ada munculnya berbagai ide bentuk negara Islam itu seperti apa. Ada yang mengusulkan kerajaan, kerajaan Islam raja berarti ada yang Republik, ada yang negara Islam, ada yang negara sekuler.
[16:39]Yang kemudian Soekarno menawarkan Pancasila. Tetapi Pancasila yang bagaimana?
[16:45]Jadi Wahid Hasyim dengan dengan terbuka, dengan ikhlas gitu kira-kira, itu dengan menghapus itu dengan pertimbangan kesatuan Republik Indonesia karena waktu itu terancam pecah. Yang kemudian juga dari perwakilan Muhammadiyah.
[17:06]Selain Nahdlatul Ulama, organisasi besar Islam Muhammadiyah juga memiliki wakil di PPKI, yakni Ki Bagus Hadikusumo. Awalnya Ki Bagus adalah salah satu tokoh yang berkeras agar naskah asli Piagam Jakarta dipertahankan. Namun setelah disepakati tanggal 18 Agustus 1945, Muhammadiyah menerima kesepakatan itu. Secara keagamaan, Muhammadiyah membingkai penerimaan atas sistem politik yang ada saat ini dalam konsep Darul Ahdi Wa Syahadah atau negara kesepakatan dan persaksian.
[17:44]Najib Burhani, intelektual muda Muhammadiyah menyebut, konsep ini menyiratkan bentuk negara Indonesia sudah sesuai dengan substansi perintah untuk menerapkan syariah sebagaimana Nabi Muhammad membangun negara yang multikultural melalui Piagam Madinah.
[19:37]Maumere adalah wajah lain Indonesia. Karena di sini umat Islam hidup di tengah mayoritas umat Katolik.
[19:47]Maumere adalah gambaran bahwa tidak semua wilayah Indonesia mayoritas beragama Islam. Ini menjadi salah satu alasan kenapa gagasan negara Islam dianggap tidak sesuai bagi Indonesia.
[20:39]Kiai NU yang sedang naik daun saat ini.
[35:54]Di kalangan NU konsolidasi ini mengangkat kembali komitmen terhadap Pancasila yang pernah ditegaskan dalam Munas NU tahun 1983 di Situbondo.
[41:59]Islam di Indonesia masih akan berkembang dalam pergulatan narasi kebangsaan. Indonesia tidak selesai di sini.



