[0:04]Coba kalian ingat-ingat, di rumah kakek nenek kalian atau mungkin di rumah kalian sendiri waktu kecil. Pasti ada satu barang dengan logo kotak berwarna biru atau merah, dengan tulisan huruf miring tebal bernama Nasional. Di era 70-an hingga awal 2000-an, merek Nasional seolah menjadi anggota keluarga di jutaan rumah di Indonesia. Merek ini adalah simbol keawetan, simbol barang mewah yang terjangkau. Tapi pernahkah kalian menyadari, kapan terakhir kali kalian melihat barang baru di toko elektronik dengan merek National? Ke mana perginya merek raksasa ini? Apakah mereka bangkrut dihempas krisis moneter? Kalah saing dengan merek Korea dan Cina, atau ada rahasia besar lain yang disembunyikan? Hari ini kita akan memutar waktu kembali, membahas sejarah, masa kejayaan, dan alasan mengejutkan di balik hilangnya merek legendaris. Inilah sejarah tentang Nasional.
[1:10]Kisah Nasional tidak bisa lepas dari satu nama, Konosuke Matsushita. Bagi orang Jepang, Matsushita bukanlah sekedar pengusaha. Ia dijuluki sebagai Dewa Manajemen. Dari keluarga yang jatuh miskin, Matsushita muda harus bekerja sejak usia 9 tahun. Di usia awal 20-an, ia bekerja di perusahaan Cahaya Elektrik Osaka sebagai inspektur. Saat itu ia punya ide brilian, membuat soket lampu yang jauh lebih praktis dan aman daripada yang ada di pasaran. Tapi bosnya menertawakan ide tersebut. Merasa tidak dihargai, pada tahun 1918 di usia 23 tahun, Matsushita nekat keluar dari pekerjaannya. Bersama istrinya, Momeno, dan adik iparnya, Toshio Iue, yang kelak mendirikan merek Sanyo, mereka mendirikan perusahaan kecil di rumah petak mereka yang sempit. Nama perusahaannya adalah Matsushita Electric Housewares Manufacturing Works. Produk pertama mereka bukanlah TV atau radio, melainkan sesuatu yang sangat sederhana, stop kontak ganda, attachment plug. Mereka bekerja siang malam membuat soket lampu dari isolator. Awalnya sangat sulit, barang mereka tidak laku. Tapi inovasi tidak berhenti. Pada tahun 1923, Matsushita merancang lampu sepeda bertenaga baterai yang bisa menyala hingga 40 jam, sebuah revolusi di masa itu. Karena lampu sepeda sebelumnya hanya bertahan 3 jam. Di sinilah nama Nasional lahir. Pada tahun 1927, saat Matsushita ingin memasarkan lampu sepeda berbentuk persegi ini, ia mencari nama yang mudah diingat. Ia memilih kata Nasional dengan harapan bahwa produk ini akan digunakan oleh seluruh rakyat secara nasional. Ternyata nama itu menjadi kenyataan yang jauh melampaui ekspektasinya. Matsushita punya satu filosofi bisnis yang sangat terkenal, yaitu Tap Water Philosophy atau Filosofi Air Keran. Ia percaya bahwa produk elektronik harus diproduksi dalam jumlah masif sehingga harganya menjadi semurah dan semudah mendapatkan air keran. Tujuan perusahaan menurutnya bukan sekedar mencari untung, tapi mengentaskan kemiskinan dengan menyediakan kenyamanan hidup bagi semua orang. Filosofi inilah yang membawa Nasional menyeberang lautan hingga akhirnya tiba di Indonesia. Di tahun 1950-an, Indonesia belum lama merdeka. Kebutuhan akan informasi dan hiburan sangat tinggi, tapi barang elektronik mayoritas diimpor dari Eropa dengan harga yang mencekik leher. Masuklah seorang visioner asli Indonesia asal Gorontalo bernama Tayeb Mohammad Gobel. Beliau adalah pelopor industri elektronik di Indonesia. Pada tahun 1954, Bapak Gobel berhasil memproduksi radio pertama buatan Indonesia yang diberi nama Radio Cawang. Melihat visi yang sama untuk memakmurkan masyarakat melalui teknologi, takdir mempertemukan Tayeb Muhammad Gobel dengan Konosuke Matsushita pada tahun 1957. Mereka menjalin persahabatan yang luar biasa. Konosuke melihat Gobel bukan sekedar distributor, melainkan saudara. Puncak dari persahabatan ini terjadi pada tahun 1970. Mereka mendirikan perusahaan joint venture bernama PT Nasional Gobel yang kini kita kenal sebagai PT Panasonic Gobel Indonesia.
[4:35]Dari pabrik di Jakarta Timur inilah, jutaan produk dengan merek Nasional lahir. Mesin cuci, kulkas, AC, TV, hingga barang-barang kecil yang esensial. Nasional tidak lagi dianggap sebagai merek asing oleh orang Indonesia, ia sudah menjadi bagian dari keluarga.
[4:59]Dekade 70-an hingga 90-an adalah era keemasan Nasional di Indonesia. Jika kalian bertanya kepada orang tua kalian tentang barang elektronik pertama yang mereka beli setelah gajian, kemungkinan besar jawabannya adalah Nasional. Mengapa? Karena build quality-nya yang gila-gilaan. Barang Nasional dikenal tidak bisa rusak meskipun dibanting zaman. Mari kita bahas beberapa produk paling ikonik yang pernah merajai pasar Indonesia. Yang pertama, Kipas Angin Meja. Inilah kipas angin meja yang desainnya sangat melekat di kepala masyarakat Indonesia. Bentuknya kokoh, berat, dan memiliki ciri khas yang tidak dimiliki kipas angin modern. Baling-baling plastik mika tebal berwarna biru, kaki kotak berat dengan tombol mekanis cetak-cetek, berbentuk sirip hiu yang unik untuk mengatur kecepatan. Kipas meja Nasional ini memiliki motor yang luar biasa kuat. Putarannya sangat kencang, suaranya halus, dan angin yang dihasilkan sangat fokus dan sejuk. Saking awetnya, kipas ini bisa digunakan puluhan tahun dengan hanya sesekali diberi pelumas di as motornya. Siapa yang masih punya kipas angin legendaris ini, tulis di komentar! Yang ke-2, Senter Kaleng Nasional. Senter ini adalah pahlawan ronda malam dan mati lampu. Beratnya luar biasa, apalagi kalau sudah diisi tiga baterai besar. Saking kokohnya, senter ini tidak cuma dipakai untuk menerangi jalan, tapi kadang dijadikan senjata darurat kalau ada maling. Yang ke-3, Radio Transistor. Sebelum ada Spotify atau YouTube, dari kotak bersuara kresek-kresek inilah orang tua kita mendengarkan Sandiwara Radio Sahur Sepuh, siaran berita RRI, hingga pertandingan bulutangkis Thomas Cup. Radio Nasional terkenal dengan receiver-nya yang sangat peka. Walau antena ditarik setengah, suaranya tetap jernih sampai ke pelosok desa. Yang ke-4, Pompa Air Nasional. Kalau bicara pompa air memang ada saingannya, yaitu Sanyo. Saking melekatnya, orang menyebut semua pompa air itu Sanyo. Tapi bagi mereka yang mencari keawetan kelas dewa, Nasional adalah jawabannya. Pompa Air Nasional memiliki motor dengan gulungan tembaga asli yang luar biasa tebal. Banyak kasus di lapangan, pompa ini ditaruh di luar rumah kepanasan. Bodinya sudah habis dimakan karat, tapi mesinnya masih menghisap air dengan kencang selama 20 tahun lebih. Di era ini, Nasional adalah raja tak terbantahkan. Slogannya terngiang di mana-mana. Namun badai perubahan sedang bersiap menanti.
[7:37]Tahun berganti tahun, masuk ke era milenium baru. Tiba-tiba merek Nasional mulai lenyap dari rak-rak toko, papan reklame diturunkan. Di Indonesia, produk-produk baru tidak lagi memakai nama Nasional. Banyak rumor beredar di masyarakat saat itu. National bangkrut kalah saing sama produk China! Jawabannya, tidak sama sekali! Di sinilah letak kesalahpahaman terbesar sejarah elektronik. Merek Nasional tidak pernah mati karena bangkrut. Merek ini dimatikan secara sengaja oleh perusahaan induknya sendiri demi strategi bisnis global. Bagaimana ceritanya? Sejak awal Matsushita Electric memiliki dua merek besar yang berjalan bersamaan. Di Jepang dan Asia, mereka menggunakan merek Nasional untuk produk perabotan rumah tangga seperti kulkas, kipas angin, mesin cuci, dan pompa air. Namun sejak tahun 1955, mereka juga membuat merek lain khusus untuk produk audio dan diekspor ke Amerika Serikat. Kenapa tidak pakai nama Nasional di Amerika? Karena di Amerika sudah banyak perusahaan yang menggunakan kata Nasional, sehingga merek tersebut tidak bisa didaftarkan secara legal di sana. Akhirnya, mereka menciptakan kata gabungan Pan yang artinya semua dan Sonic yang artinya suara. Merek itu adalah Panasonic. Selama puluhan tahun, Nasional dan Panasonic hidup berdampingan. Kadang bahkan digabung menjadi Nasional Panasonic. Tapi memasuki era 2000-an, era digitalisasi dan globalisasi, Matsushita sadar bahwa memiliki banyak merek justru membuat biaya pemasaran membengkak dan citra perusahaan terpecah. Maka pada tahun 2003, Matsushita Electric membuat keputusan radikal. Mereka mengumumkan kampanye Global Brand Unification. Seluruh produk di seluruh dunia akan disatukan di bawah satu bendera yang dianggap lebih modern dan universal. Bendera itu adalah Panasonic. Di Indonesia, transisi ini terjadi pada 2004. PT Nasional Gobel resmi berganti nama menjadi PT Panasonic Gobel Indonesia. Logo Nasional yang legendaris itu secara perlahan ditarik dan diganti dengan logo Panasonic biru yang kita kenal sekarang. Puncaknya, pada tahun 2008, perusahaan induk di Jepang mengubah nama perusahaan mereka dari Matsushita Electric Industrial Co. LTD menjadi Panasonic Corporation. Jadi Nasional tidak kalah, ia hanya berganti baju. Hilangnya merek Nasional dari pasaran bukanlah sebuah kisah kegagalan, melainkan kisah evolusi. Ini adalah contoh sempurna bagaimana sebuah perusahaan raksasa berani membunuh darling kesayangan mereka sendiri demi bisa bertahan dan relevan di abad ke-21. Bagaimana dengan kalian? Barang merek Nasional apa yang dulu paling legendaris di rumah kalian? Apakah sampai sekarang masih ada yang berfungsi? Coba ceritakan pengalaman nostalgia kalian di kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa like dan subscribe agar kamu tidak ketinggalan arsip sejarah nostalgia teknologi yang membentuk dunia kita hari ini. Sampai jumpa di video berikutnya.



