Thumbnail for SOSOK KHALIFAH-KHALIFAH DAULAH AYYUBIYAH -- Lengkap by Roudlon CHanel

SOSOK KHALIFAH-KHALIFAH DAULAH AYYUBIYAH -- Lengkap

Roudlon CHanel

24m 6s2,523 words~13 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Pull quotes
[0:26]Jumpa lagi dengan saya di Rodon Channel yang mengungkap rahasia dan fakta di balik sejarah.
[0:26]Topik kali ini tidak kala menariknya karena dengan materi ini kita akan tahu seperti apa sosok khalifah atau Sultan Daulah Ayubiah.
[0:26]Termasuk akan tahu bagaimana bisa mereka terlibat konflik, rebutan kekuasaan sepeninggal Salahuddin Al-Ayyubi.
[0:26]Selain itu topik ini juga akan mengungkap fakta bahwa ternyata para budak yang awalnya digembleng keluarga Ayubiah justru membangun kekuatan sendiri untuk menghancurkan Daulah Ayubiyah dengan bendera Mamluk.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:07]Allahu Akbar.

[0:26]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jumpa lagi dengan saya di Rodon Channel yang mengungkap rahasia dan fakta di balik sejarah. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas khalifah-khalifah Daulah Ayubiah. Topik kali ini tidak kala menariknya karena dengan materi ini kita akan tahu seperti apa sosok khalifah atau Sultan Daulah Ayubiah. Termasuk akan tahu bagaimana bisa mereka terlibat konflik, rebutan kekuasaan sepeninggal Salahuddin Al-Ayyubi. Selain itu topik ini juga akan mengungkap fakta bahwa ternyata para budak yang awalnya digembleng keluarga Ayubiah justru membangun kekuatan sendiri untuk menghancurkan Daulah Ayubiyah dengan bendera Mamluk. Mengapa bisa begitu? Kalian ingin tahu, yuk kita membahasnya. Sebagaimana dibahas di video sebelumnya, Daulah Ayubiah merupakan pemerintahan Islam yang dirintis Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi, seorang panglima perang bangsa Kurdi. Didirikan di Mesir lalu berpindah ke Damaskus sebagai pusat pemerintahannya. Daulah Ayubiah tercatat berkuasa selama kurang lebih 79 tahun. Dari tahun 1174 hingga hancur digulingkan gerakan Mamluk tahun 1252 Masehi. Daulah ini dipimpin 9 Sultan tetapi ada referensi menyebut jumlahnya tercatat 10 Sultan. Insyaallah kita bahas seluruhnya 10 sultan yang memerintah Daulah Ayubiah karena Daulah ini sangat unik berbeda dengan Daulah-Daulah Islamiah lainnya. Hal ini karena sejak awal kekuasaan Daulah ini terpencar-pencar dan juga masih berada di bawah naungan Daulah Abbasiah. Baiklah kita mulai membahas dari sosok pendiri Daulah Ayubiah yakni Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi. Sosok Sultan pertama Daulah Ayubiah ini tidak perlu kita bahas panjang karena sudah dibahas di video sebelumnya. Juga nanti akan kita bahas secara tersendiri, sosok dan kiprahnya sebagai pahlawan perang salib bagi umat Islam. Namun yang jelas di bawah kepemimpinan beliau, Daulah Ayubiah menjelma menjadi kekuatan raksasa Islam, wilayahnya pun membentang sangat luas mulai Mesir, Syria, Syam, Mesopotamia, Libya, Maroko hingga wilayah Yaman. Selama kepemimpinan beliau, umat Islam bangkit bahkan pasukan salib pun tidak berdaya menghadapi kekuatan umat Islam di bawah pimpinan beliau. Baitul Maqdis, Masjidil Aqsa, Palestina Al-Quds pun berhasil dibebaskan dari cengkkraman pasukan Salibis. Salahuddin Al-Ayyubi tercatat menjadi pahlawan besar bagi umat Islam. Kecintaannya pada agama dan umat Islam telah menempatkan sebagian lembaran hidupnya untuk menegakkan harga diri umat Islam. Kehadiran Salahuddin Al-Ayyubi dalam perang salib merupakan anugerah. Strategi beliau dalam membangun koalisi umat Islam benar-benar menyatukan kekuatan umat Islam membela agamanya. Salahuddin Al-Ayyubi muncul bukan hanya sekadar ingin membebaskan Baitul Maqdis Palestina, tetapi memiliki tujuan suci jihad menyelamatkan umat Islam dari pembantaian tentara salibis. Keperwiraan Salahuddin terukir dalam sejarah tidak hanya diakui oleh kaum muslimin tetapi juga kaum Kristiani. Kecintaan kepada agamanya membuat sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas punggung kuda untuk berjihad di jalan Allah Subhanahu wa taala. Ini juga yang menjadi alasan beliau memecah-mecah wilayah Daulah Ayubiah yang begitu luasnya itu untuk dipimpin oleh para putra dan adik-adiknya agar bisa terurus. Sehingga Salahuddin Al-Ayyubi bisa lebih konsentrasi memikirkan gerakan jihadnya. Kesibukan jihadnya itu juga yang membuat Salahuddin tidak punya waktu lagi untuk membimbing dan menyiapkan kaderisasi kepemimpinan bagi putra-putranya. Padahal jumlah putra dan saudaranya tercatat banyak yakni 17 orang. Maka begitu Salahuddin wafat, mereka pun larut dalam perebutan kekuasaan. Tetapi ada yang menarik pada kepribadian Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi. Sebagaimana ditulis dalam buku berjudul Bangkit dan runtuhnya Daulah Ayubiah karya Profesor Dr. Ali Muhammad As-Shallabi. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa Salahuddin wafat di Kota Samosata Damaskus tahun 1193 Masehi di usia 57 tahun. Saat meninggal ternyata Salahuddin hanya meninggalkan harta berupa senjata, kuda dan uang sebesar 36 dirham. Padahal Salahuddin merupakan penguasa besar dengan wilayah kekuasaan sangat luas. Harta rampasan juga tidak sedikit, sehingga bila beliau ingin memperkaya diri sangat mudah dilakukan. Tetapi itu tidak dilakukan, itu pun harta peninggalannya diserahkan Putra Sulung Salahuddin yakni Al-Afdal Ali ke Khalifah Daulah Abbasiah di Baghdad sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Dari fakta ini menunjukkan betapa luhurnya kepribadian Salahuddin sekaligus juga menunjukkan keberadaan Daulah Ayubiah tetap taat berada di bawah pemerintahan Daulah Abbasiah kala itu. Wafatnya Salahuddin Al-Ayyubi tentu meninggalkan kesediaan mendalam bagi umat Islam. Apalagi beliau meninggalkan kekosongan kekuasaan yang tidak sanggup diisi lagi oleh siapapun dari 17 putra dan adik-adiknya. Ironisnya yang terjadi justru perebutan kekuasaan. Sesuai ditulis dalam buku berjudul Bangkit dan Runtuhnya Daulah Ayubiah karya Profesor Dr. Ali Muhammad As-Shallabi. Salahuddin Al-Ayyubi memiliki banyak anak juga saudara. Di antara saudara atau adik-adiknya bernama Al-Adil Saifuddin, Saifuk Islam Tugnigin, Al-Muayyad dan Al-Muiz. Sementara putra Salahuddin di antaranya bernama Al-Afdal Ali, Al-Aziz Imaduddin Usman, Az-Zahir Ghiyats Gozi dan Az-Zafir Khidir. Nah, Salahuddin sepertinya telah menyadari potensi konflik keluarganya. Karena itu sebelum meninggal, beliau telah mengantisipasi dengan menunjuk putra tertuanya Al-Afdal Ali sebagai putra mahkotanya. Maka ikhtiar wasiat tersebut dijaga dan dipegang teguh oleh adiknya Al-Adil Saifuddin Abu Mukh bin Najmudin Ayub. Maka saat beliau meninggal, Al-Adil pun hadir bersama para kemanakannya Putra Salahuddin untuk menerima ucapan bela sungkawa. Dan setelah pemakaman, Al-Afdal Ali meminta para Amir dan para Mamluk budak yang dibina menjadi prajurit memperbaharui baiat untuk dirinya seraya bersumpah patuh dan setia pada dirinya. Namun sebagian dari mereka khususnya dari kalangan Mamluk mengajukan persyaratan diberi wilayah kekuasaan. Dari sini benih-benih pemberontakan dari kalangan Mamluk sudah mulai terlihat. Kondisi kelangsungan Daulah Ayubiah kian mengkhawatirkan karena kematian Salahuddin Al-Ayyubi juga dimanfaatkan tentara salib. Mereka menjajagi kemampuan umat Islam pasca wafatnya Salahuddin Al-Ayyubi dengan menguasai Kota Jabil berikut bentengnya tahun 1194 Masehi. Maka Sultan Al-Afdal Ali sebagai putra mahkota pun berangkat untuk membebaskan kota tersebut namun gagal. Kematian Salahuddin juga dimanfaatkan penguasa Mosul Izzuddin Mas'ud sebagai kesempatan emasnya. Dia bergerak menduduki negeri-negeri di Pelan Timur. Begitu juga dengan Imaduddin Zanki II masih bertahan memerintah wilayah Sinjar, juga Qothbudin Sokmen pun memerintah Hasan Key dan Amit. Sementara Nashiruddin Mankurius menguasai wilayah Sahyun. Itulah kondisi Daulah Ayubiah setelah ditinggal Salahuddin Al-Ayyubi. Karena itu keluarga Salahuddin membuat terobosan dengan membagi-bagi wilayah kekuasaan. Anak tertua Salahuddin yang menjadi putra mahkota Al-Afdal Ali bin Salahuddin diberi wilayah kekuasaan Damaskus, Al-Quds, Valbek, Sahad, Tobin hingga ke perbatasan Mesir. Sementara adik Al-Afdal yakni Az-Zahir Ghiyats Gozi bin Salahuddin diberi wilayah Alipo dan Syria Utara. Sedangkan saudara lainnya Az-Zahir Khidir menguasai wilayah Busro.

[9:32]Adapun adik kandung Salahuddin yakni Al-Adil Saifuddin diberi kekuasaan wilayah di Al-Qara, Mesopotamia, Ruha hingga wilayah Diyar Bakir. Adik Salahuddin lainnya Saifuk Islam Tuqnigin menguasai wilayah Yaman dan Semenanjung Arabia. Sementara Sultan Amjad Masjuddin diberi wilayah kekuasaan Balbek dan sekitarnya. Sedangkan Sultan Al-Manshur 1 Muhammad bin Tuqniuddin Umar diberi memerintah wilayah Hama. Pembagian wilayah kekuasaan tersebut diterima keluarga Salahuddin. Namun dalam perkembangannya ternyata Sultan Al-Afdal Ali seringkali menyalahi tradisi Salahuddin. Termasuk mengangkat Wazir atau Perdana Menteri Dhiyauddin bin Al-Atshir adik kandung sejarawan Ibnu Katsir. Wazir tersebut diberi kewenangan penuh, Al-Afdal pun membiarkan wazirnya bersikap sewenang-wenang hingga mengundang kemaran para Amirnya. Para Amir dan mantan konsultan Salahuddin yang tidak tahan akhirnya lari ke Kairo Mesir mengadukan kepada saudaranya Al-Afdal yakni Al-Aziz Imaduddin Usman. Nama lain dari Al-Aziz adalah Abul Fatah. Dari kecil Al-Aziz tercatat sebagai pemuda tampan, cerdas, kuat, lincah, suka menolong, energik, dermawan dan sangat budiman. Mendapat pengaduan itu, Al-Aziz Imaduddin Usman merasa prihatin melihat tingkah laku buruk pemerintahan Al-Afdal yang menyerahkan urusan pemerintahannya kepada seorang wazir. Apalagi Al-Afdal juga suka bermain-main dan bergelimang dengan kesenangan. Ditambah lagi dengan ketidakmampuannya menghadapi tentara salib yang merampas kota Jabil. Al-Aziz pun bertekad merebut negeri Syam dari saudaranya itu menyusul dorongan sejumlah Amir mendiang Salahuddin Al-Ayyubi kepadanya. Mengetahui rencana itu, Al-Afdal berkirim surat ke Al-Aziz meminta dikasihani. Namun surat itu dicegah oleh wazirnya Dhiyauddin bin Al-Atshir yang justru menganjurkan memeranginya. Akibatnya permusuhan antara keduanya pun terjadi. Pamannya Al-Adil mencoba menengahi permusuhan kedua putra Salahuddin Al-Ayyubi itu hingga akhirnya Al-Afdal memilih mengundurkan diri dari dunia politik dan lebih memiliki hidupan Zuhud. Ia lebih fokus beribadah dan meninggal dunia secara mendadak tahun 1225 Masehi di kota Samosata di usia 57 tahun. Di kota itulah juga ayah Al-Afdal Salahuddin Al-Ayyubi meninggal dunia di usia yang sama 57 tahun. Dan atas saran pamannya Al-Adil, maka Sultan Al-Aziz Imaduddin Usman datang ke Damaskus untuk menegaskan kepemimpinan Daulah Ayubiah. Sultan Al-Aziz menjadi penguasa pusat Daulah Ayubiah, sementara pamannya Al-Adil menjadi penguasa Damaskus dan wilayah Syam. Namun belakangan Al-Adil menyerahkan kekuasaannya kepada Sultan Al-Aziz. Meski begitu, Al-Adil menjadi wakil dari Sultan Al-Aziz dan berhak mengatur pemerintahan di Mesir. Hingga akhirnya Sultan Al-Aziz meninggal dunia tahun 1198 Masehi di usia 28 tahun. Beliau tidak meninggalkan harta benda apapun padahal para pejabatnya bergelimangan harta. Beliau tercatat berkuasa selama 6 tahun 1 bulan. Ketika Sultan Al-Aziz meninggal, para pangeran sepakat melaksanakan wasiat beliau yakni melimpahkan kekuasaan kepada putra Al-Aziz yakni Al-Manshur meski masih kecil. Dan mengangkat Bahauddin Qaraqusi sebagai Atabek atau wakilnya untuk mendampinginya. Semua setuju namun dua pamannya yakni Al-Muayyad dan Al-Muiz menolak bergabung kecuali diangkat menjadi Atabeknya. Namun akhirnya posisi Atabek atau wakil diserahkan kepada Al-Adil. Namun begitu dalam perkembangannya, Al-Adil meminta fatwa kepada para Ulama dan ahli fikih atas hukum anak kecil menjadi seorang pemimpin. Fatwanya tidak boleh anak kecil memimpin apalagi masih ada orang yang layak yang bisa menjadi pemimpin. Atas dasar itulah Al-Adil mengendalikan kekuasaan Daulah Ayubiah, sementara Al-Manshur dikirim untuk sekolah hingga dewasa. Sehingga praktis Sultan Al-Manshur hanya memimpin selama 2 tahun sejak tahun 1198 hingga 1200 Masehi. Setelah itu kekuasaan Daulah Ayubiah dipimpin Sultan Al-Adil. Dan setelah kekuasaan di Mesir juga berada di genggamannya, Sultan Al-Adil mengangkat putranya Al-Kamil Nasrudin Muhammad sebagai wakilnya di Mesir. Sejak itu adik kandung Salahuddin Al-Ayyubi ini berkuasa dengan gelar Sultan Agung Al-Adil Saifuddin Abul Muluk Ahlul Muluk Abu Bakar bin Muhammad bin Al-Amir Najmudin Ayub. Usianya 2 tahun lebih muda dari Salahuddin Al-Ayyubi. Ia tumbuh sebagai ajudan Sultan Nuruddin, kemudian aktif dalam beberapa peperangan bersama kakaknya Salahuddin Al-Ayyubi. Sosok Sultan Al-Adil memang sudah bukan asing lagi bagi umat Islam. Bahkan beliau juga tercatat ikut berperang bersama kakaknya membantu As-Saddudin Syirku membebaskan Mesir tahun 1169 Masehi. Dan tahun 1174 Masehi, beliau menguasai Mesir atas nama Salahuddin Al-Ayyubi, sedangkan Salahuddin sendiri mengembangkan pemerintahannya di wilayah Damaskus. Juga tercatat berhasil memadamkan pemberontakan orang-orang Kristen Koptik di Qift-Mesir tahun 1169 Masehi. Maka selama beberapa waktu beliau dipercaya menjadi wakil Salahuddin di Mesir lalu diberi kekuasaan di Aleppo. Selanjutnya ditunjuk menjadi penggantinya di Qara dan Haran. Sementara Alipo yang ditinggalkan Al-Adil diberikan kepada putra Salahuddin Az-Zahir. Di era Sultan Al-Adil, Daulah Ayubiah mengalami kemajuan. Ia memerintah di Hijaz, Mesir, Syam, Yaman, Mesopotamia, Diyar Bakir dan Armenia. Beliau memang layak menjadi sultan, orangnya tampan, Niskani, pandai menahan amarah, kuat agamanya, pandai menjaga kehormatan, pemaaf dan suka mementingkan orang lain. Ia memberantas minum-minuman keras dan praktik prostitusi. Bahkan di saat Daulah Ayubiah terancam gerakan pemberontakan di wilayah Mesopotamia pasca wafatnya Salahuddin Al-Ayyubi, Al-Adil tampil menyelamatkan Daulah ini. Beliau menggerakkan para keponakannya yang memimpin sejumlah wilayah untuk bergerak hingga mendapat kemenangan. Sekaligus menegaskan kekuasaan Daulah Ayubiah atas wilayah Mesopotamia. Di era Al-Adil, Daulah Ayubiah juga disibukkan menghadapi serbuan tentara salib yang kembali mengobarkan perang salib kelima. Seruan perang salib dikobarkan sang Paus setelah permintaannya kepada Al-Adil agar Baitul Maqdis diserahkan tidak digubris. Bahkan tahun 1217 Masehi, pasukan Salibis sudah berada di wilayah Syam pada musim panas. Namun serangan tentara salib mengalami kegagalan karena kaum muslimin sangat gigih menghadapinya. Al-Adil berhasil mempertahankan keutuhan wilayah Ayubiah, bahkan sedikit memperluas ke wilayah Palestina dan Transjordanian bagian Utara. Beliau memerintah selama 18 tahun, mulai tahun 1200 hingga meninggal tahun 1218 Masehi. Sepeninggal Al-Adil putranya Sultan Al-Kamil Muhammad meneruskan kepemimpinan Daulah Ayubiah dari Mesir. Nama lengkap Al-Kamil adalah Sultan Al-Kamil Nasruddin Abul Mali Muhammad. Pada masa kekuasaannya, tentara salib dari Eropa kembali melakukan invasi besar-besaran ke wilayah Timur Tengah dalam perang salib kelima. Tahun 1218 Masehi, Al-Kamil memimpin pertahanan menghadapi pasukan salib yang mengepung Kota Demiat. Pada tahun 1219, hampir kehilangan tahta karena konspirasi kaum Kristen Koptik. Al-Kamil lalu pergi ke Yaman menghindari konspirasi itu dan konspirasi itu berhasil dipadamkan oleh saudaranya bernama Al-Muazzam yang menjabat sebagai Gubernur Suriyah. Berkat kebijakan diplomatis dan militernya, Sultan Al-Kamil berhasil menetralkan serangan demi serangan tentara salib. Begitu juga ketika Raja Jerman Frederick II menginvasi Syria bagian Utara dalam perang salib ke-6. Al-Kamil berhasil negosiasi perjanjian damai tanpa penyerangan. Bahkan beliau berhasil kembali merebut Jerusalem melalui jalur diplomatis. Namun pada Februari tahun 1229 Masehi, Sultan Al-Kamil menyepakati perdamaian selama 10 tahun dengan Frederick II. Isinya antara lain mengembalikan Jerusalem dan kota-kota suci lainnya kepada pasukan salib dan kaum muslimin dan Yahudi dilarang memasuki kota itu kecuali di sekitar Masjidil Aqsa dan Majid Umar. Meski begitu Al-Kamil akhirnya berhasil merebut kembali Jerusalem melalui jalur diplomatis. Selama 20 tahun berkuasa, Sultan Al-Kamil berhasil mempertahankan keutuhan wilayah Ayubiah di tengah ancaman invasi beruntun tentara Salib Eropa. Beliau wafat tahun 1238 Masehi dan digantikan putranya Al-Adil 2. Sultan Al-Adil 2 naik tahta menggantikan ayahnya Al-Kamil. Namun masa kepemimpinan Al-Adil 2 tergolong singkat hanya 2 tahun. Sepanjang pemerintahannya, Al-Adil 2 tidak melakukan banyak hal. Dia hanya melanjutkan kebijakan-kebijakan ayahnya tanpa inisiatif baru. Kondisi Daulah Ayubiah sendiri sudah melemah dan mulai kacau. Peperangan internal terus terjadi akibat perebutan kekuasaan di antara para pangeran Ayubiah. Pada tahun 1240 Masehi, Al-Adil terbunuh dalam kudeta yang dipimpin panglima Mamluk bernama Baibars. Dengan wafatnya Al-Adil 2, wilayah pusat Daulah Ayubiah di Mesir dikuasai Mamluk. Meski Mesir dikuasai Mamluk, namun keluarga Ayubiah masih mencoba bertahan di Syria di bawah kepemimpinan An-Nasir Yusuf, Putra Sultan Al-Aziz Imaduddin. Beliau melakukan perlawanan terhadap agresi Mamluk termasuk perang Laudisia tahun 1244 Masehi dan perang Home tahun 1250 Masehi. Sayangnya perlawanan tersebut berakhir sia-sia. Tahun 1250, pasukan gabungan Mamluk dan tentara Salibis berhasil mengalahkan pasukan Ayubiah dalam perang Fariskur dekat Kairo Mesir. An-Nasir Yusuf tewas dalam pertempuran itu sehingga pusat kekuasaan Ayubiah di Damaskus direbut paksa oleh tentara Mamluk. Tak hanya An-Nasir Yusuf, Putra Sultan Al-Kamil lainnya seperti Sultan Saleh Najmudin juga bertahan melawan kekuatan Mamluk bahkan mendeklarasikan sebagai Sultan Ayubiah setelah Al-Kamil wafat. Tahun 1249 Masehi, Sultan Ash-Shaleh Najmudin wafat dan digantikan putranya Al-Muazzam Turansyah yang berusia sangat muda. Kondisi Daulah Ayubiah saat itu sudah sangat kritis. Bahkan sebelum beliau naik tahta, pasukan Mamluk telah merebut sebagian wilayah Mesir dan menguasai Kairo. Turansyah sendiri tidak memiliki dukungan kuat baik dari tentara maupun rakyat. Beliau juga dianggap terlalu muda dan tidak cakap memimpin negara dalam kondisi kacau tersebut. Pada tahun 1250 Masehi, pasukan gabungan Mamluk Mesir dan tentara salib Eropa melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Daulah Ayubiah yang tersisa di Syria. Dalam pertempuran Fariskur dekat Kairo, Turansyah dibunuh tentara Mamluk. Dengan wafatnya sang Sultan, riwayat Daulah Ayubiah sebenarnya sudah berakhir. Namun sisa-sisa kekuatan Daulah Ayubiah masih mencoba bangkit dengan menggalang kekuatan di Damaskus, Syria. Para pengikut setia Daulah Ayubiah mengangkat Putra Turansyah Al-Asyraf Muzaffaruddin menjadi Sultan di Damaskus setelah kematian Turansyah. Namun kekuasaannya tidak bertahan lama. Hanya dalam waktu tidak lama setelah pengangkatannya, pasukan Mamluk dipimpin Baibars berhasil merebut Kota Damaskus. Muzaffaruddin ditawan lalu dieksekusi mati di Kairo atas perintah panglima Mamluk Aybak. Dengan tewasnya Al-Asyraf Muzaffaruddin maka berakhir sudah riwayat Daulah Ayubiah secara total dan permanen. Seluruh wilayah kekuasaan Ayubiah berada di tangan Dinasti Mamluk Bahri. Mereka yang melanjutkan perjuangan mempertahankan kejayaan Islam di wilayah Syam. Bagaimana kelanjutannya? Apakah Daulah Mamluk yang memang terbentuk dari para budak tersebut bisa melanjutkan pemerintahan Islam? Dan mengapa mereka harus konspirasi bekerja sama dengan tentara salib? Mengapa Daulah Mamluk akhirnya juga pecah menjadi dua? Namun di balik semua itu Daulah Mamluk terbukti sebagai satu-satunya kekuatan Islam yang mampu menghadapi bengisnya tentara Mongol. Mengapa keluarga Daulah Abbasiah yang selamat dari pembantaian tentara Mongol memilih berlindung di Daulah Mamluk dan menjadikan Daulah ini sebagai benteng terakhirnya? Insyaallah akan kita bahas di video selanjutnya termasuk bagaimana Daulah Mamluk akhirnya ditaklukkan dan setia kepada Daulah Turki Usmani. Demikian kisahnya, semoga bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript