[0:02]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, kami berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk mempresentasikan hasil diskusi kami. Pada pekan ini, kami akan membahas tentang hakikat sila ketiga dan sila keempat Pancasila. Sebelumnya, perkenalkan kami dari kelompok
[0:34]Dalam presentasi pekan ini, kami akan membahas tentang hakikat sila ketiga dan sila keempat Pancasila, masalah yang terjadi dan bertentangan dengan sila ketiga dan sila keempat Pancasila, serta solusi yang dapat diambil untuk menangani masalah tersebut. Baiklah, langsung saja kita masuk ke dalam materi yang pertama. Oke, materi pertama saya akan menjelaskan tentang hakikat sila ketiga Pancasila. Dalam sila ketiga berbunyi Persatuan Indonesia. Dalam sila ini sudah jelas bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga Pancasila adalah nilai persatuan. Tanpa persatuan suatu negara akan terpecah. Pemberontakan akan terjadi di mana-mana. Tetapi dengan nilai persatuan, kita bersama-sama membangun negara yang harmonis dan sejahtera. Baik untuk kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam semboyan kita disebutkan bahwa Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu di sini ditekankan adalah suatu persatuan. Walaupun kita beda, mempunyai perbedaan baik itu secara suku, ras, agama dan kemajemukan lainnya tetapi kita tetap satu yaitu kita tetap dalam Indonesia. Menurut Notonegoro prinsip-prinsip nasionalisme Indonesia tersusun dari yang pertama kesatuan sejarah. Yaitu bangsa Indonesia bertumbuh dalam proses sejarah mulai dari zaman prasejarah sampai membentuk negara Republik Indonesia. Yang kedua, kesatuan nasib. Yaitu keadaan dalam penderitaan penjajahan yang pernah kita alami. Sama-sama pernah dijajah. Yang ketiga, kesatuan wilayah. Di mana kita tinggal bersama dalam satu wilayah yang kita sebut dengan Indonesia. Yang keempat, kesatuan budaya. Walaupun budaya kita ada beraneka ragam tetapi itu tumbuh dan membentuk menjadi kebudayaan nasional. Dan yang terakhir kelima, kesatuan asas kerohanian. Yaitu adanya ide, cita-cita dan nilai kerohanian secara keseluruhan tersimpul dalam Pancasila. Selanjutnya, hakikat sila keempat Pancasila. Sila keempat Pancasila bunyinya Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Nilai yang terkandung dalam sila keempat yaitu ada mufakat, demokrasi, partisipasi dan permusyawaratan perwakilan. Nilai-nilai sila keempat Pancasila dapat dijabarkan. Yang pertama, kedaulatan berada di tangan rakyat yang bersumber pada nilai kemanusiaan, kekeluargaan dan gotong royong. Yang kedua, kerakyatan dikendalikan oleh hikmat kebijaksanaan yang dilandasi oleh akal sehat dan hati nurani yang luhur. Selanjutnya, warga negara Indonesia memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Yang keempat, musyawarah untuk mufakat dicapai dalam suatu permusyawaratan perwakilan wakil-wakil rakyat. Dan yang kelima, musyawarah merupakan cerminan sikap dan pandangan hidup bahwa kemauan rakyat adalah kebenaran dan keabsahan yang tinggi. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya akan menjelaskan materi tentang realisasi Bhineka Tunggal Ika dalam berbangsa dan bernegara pada sila ketiga. Seperti yang kita ketahui, Bhineka Tunggal Ika merupakan moto atau semboyan bangsa Indonesia yang terdapat pada lambang negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa kuno yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Kata bhinneka berarti beraneka ragam. Sedangkan kata nika memiliki dalam bahasa Sangsekerta memiliki arti macam dan kata nika merupakan penunjang terbentuknya kata aneka dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti satu dan ika berarti itu.
[5:21]Jadi, secara harafiah Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti beraneka macam itu, yang memiliki makna bahwa biarpun bangsa Indonesia bermacam-macam tapi bangsa Indonesia tetap dalam satu kesatuan yang utuh.
[5:39]Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan menggambarkan beraneka ragam bangsa Indonesia yang terdiri dari ragam budaya, ragam bahasa daerah, suku, ras, agama serta kepercayaan. Namun, nilai yang dulunya sangat dijunjung tinggi ini kini mulai luntur. Banyak masyarakat yang mulai melupakan nilai kesatuan yang mulai melupakan nilai persatuan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila Bhineka Tunggal Ika dilupakan atau apabila Bhineka Tunggal Ika sudah tidak memiliki kedudukan lagi dan sudah tidak diperdulikan lagi, maka akan memicu munculnya gerakan separatisme. Sebagai contoh yaitu gerakan pengibaran bendera organisasi Republik Maluku Selatan atau RMS. Gerakan ini atau pemberontakan ini dilakukan oleh masyarakat Maluku yang bertujuan ingin memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia kita tercinta ini. Apabila gerakan ini tidak ditanggulangi atau tidak ditindaki, maka akan memicu munculnya gerakan-gerakan separatisme yang yang lain lagi yang akan merusak persatuan bangsa Indonesia.
[7:10]Terima kasih. Saya Suci Wulandari M akan memaparkan mengenai masalah-masalah terkait dengan Bhinneka Tunggal Ika. Nah, pertama-tama perlu kita ketahui bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Nah, semboyan ini lahir dari keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan dari keberagaman tersebut bertujuan untuk menyatukan tekad serta komitmen bersama untuk bangsa Indonesia dapat bersatu padu di bawah falsafah dasar negara Pancasila.
[7:55]Nah, jika hakikat dari sila ketiga terkait dengan Bhinneka Tunggal Ika ini kita relasikan terhadap realita yang terjadi sekarang ini, maka kita masih menemukan beberapa masalah-masalah yang kemudian menyimpang dari hakikat nilai tersebut. Nah, kita bisa menemukan masalah-masalah yang lazim terjadi pada masyarakat saat ini ialah mengenai konflik pembelahan masyarakat dalam pesta demokrasi atau pilkada. Nah, sering sering sekali kita menyaksikan konflik tersebut antar masyarakat, konflik antar masyarakat mengenai masalah karena perbedaan pilihan dari mereka masing-masing. Nah, dari masalah ini kita bisa menganalisis bahwa penyimpangan-penyimpangan ini terjadi karena masyarakat tidak mengaplikasikan apa yang ada dalam nilai hakikat nilai dalam sila ketiga terkait juga dengan kurangnya pemahaman akan apa sebenarnya makna makna dari Bhinneka Tunggal Ika. Nah, oleh karenanya jika masyarakat, setiap masyarakat mampu mengaplikasikan apa yang ada dalam hakikat sila ketiga Pancasila dan juga memahami Bhinneka arti penting dari Bhinneka Tunggal Ika sangat perlu diketahui lebih dijadikan pedoman hidup bagi setiap bangsa Indonesia bagi setiap masyarakat Indonesia.
[10:18]Ini dari saya, terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Insyaallah, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang solusi-solusi yang dapat kita lakukan terhadap penyimpangan yang terjadi pada sila ketiga dalam Pancasila, yaitu meningkatkan sikap toleransi, tenggang rasa, dan tepa selira di mana sikap toleransi, tenggang rasa, dan tepa selira tidak harus dipraktikkan pada hari-hari besar saja. Tapi terwujud dalam sikap hidup sehari-hari. Tantangan kebangsaan sekarang ini begitu kompleks. Upaya-upaya untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa tidak lagi melalui cara-cara konvensional seperti kolonialisme dan imperialisme, seperti menghormati teman yang sedang melaksanakan ibadah, gotong royong di lingkungan RT atau RW dan masih banyak lagi. Yang kedua, memaknai perbedaan pilihan dalam demokrasi sebagai hal yang wajar. Perbedaan pilihan dalam pesta demokrasi merupakan suatu hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut hendaklah diletakkan dalam bingkai persatuan dan kesatuan sehingga tidak terjerembab pada konflik personal atau konflik golongan. Yang ketiga, pemaknaan keberagaman dan perbedaan yang ada pada setiap warga negara Indonesia. Pemaknaan keberagaman dan perbedaan sebagai suatu hal yang memperkaya Hasana budaya bangsa perlu dimulai sejak dalam pemikiran. Kemudian, turun dalam perkataan dan tingkah laku sehari-hari bangsa Indonesia. Pekerjaan ini tentu tidak mudah. Namun, jika semuanya dimulai dari kesadaran dan komitmen kuat untuk menyulam persatuan dan kesatuan bangsa, pemaknaan Bhineka Tunggal Ika tidak hanya sekedar jargon semata melainkan menjadi etos pikir dan etos laku manusia Indonesia. Indonesia bukanlah sekedar milik golongan tertentu saja, Indonesia milik kita bersama, kita yang beragam. Yang keempat, memahami makna yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia menyadari bahwa semboyan negara Bhineka Tunggal Ika mendorong lahirnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang semakin kokoh. Karena pengalaman sejarah bahwa semangat kedaerahan hanya akan memecah belah bangsa Indonesia sehingga mudah dikuasai oleh bangsa lain. Oleh karena itu, kita harus mempersatu semua semangat kedaerahan yang yang kita miliki menjadi semangat bangsa Indonesia yang tidak mudah dikuasai oleh siapapun. Yang kelima, memahami peran Bhineka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia menyadari bahwa di tengah arus globalisasi yang sangat cepat dan terjadinya percampuran budaya diperlukan suatu penyaringan agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap utuh dan semangat berbeda tetapi tetap satu atau Bhineka Tunggal Ika tetap terjaga serta menyadari dengan sepenuhnya bahwa Bhineka Tunggal Ika merupakan salah satu pilar selain Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 dan NKRI yang dapat menjaga kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara di negara Indonesia. Yang keenam, tidak mencari menang sendiri. Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah terjadi pada zaman sekarang. Apalagi dengan diberlakukannya sistem demokrasi yang menuntut segenap rakyat bebas mengungkapkan pendapat yang mereka miliki. Oleh oleh karena itu, untuk mencapai prinsip kebhinekaan, maka seseorang harus saling menghormati antara satu pendapat dengan pendapat yang lain. Perbedaan ini tidak tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi untuk dicari suatu titik temu dengan mementingkan suatu kepentingan bersama. Yang ketujuh, musyawarah untuk mufakat. Perbedaan pendapat antara kelompok dan pribadi haruslah dicari solusi bersama dengan diberlakukannya musyawarah. Segala macam perbedaan dirantangkan untuk mencapai suatu kepentingan bersama. Yang kedelapan, landasan rasa kasih dan rela berkorban. Sesuai dengan pedoman sebaik-baik manusia yaitu yang dapat bermanfaat bagi manusia lainnya. Rasa rela berkorban harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa rela berkorban ini akan terbentuk dengan dilandasi oleh rasa saling mengasihi, rasa saling kasih mengasihi dan sayang menyayangi. Jauhi rasa benci karena itu hanya akan menimbulkan konflik dalam kehidupan kita saja. Yang kesembilan, menegakkan pluralisme. Pluralisme adalah sikap tahu, paham, percaya ataupun mengerti bahwa adanya perbedaan merupakan hal yang wajar. Tidak hanya itu, sikap seperti ini juga sangat diperlukan untuk Indonesia untuk untuk menjaga kelancaran berlakunya kehidupan setiap wilayah yang ada di negara Indonesia. Realita sila keempat. Sila keempat mengandung makna bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang demokrasi. Di dalamnya kita diminta untuk menjunjung tinggi kehormatan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun pada praktiknya, masih banyak orang yang suka merendahkan orang lain, suka berlaku tidak adil, berlaku tidak jujur dan juga suka menipu sesamanya. Selanjutnya yaitu penyalahgunaan wewenang oleh para petinggi negara. Di dalam sila keempat juga mengandung makna bahwa dalam pengambilan keputusan hendaknya dilakukan musyawarah untuk kepentingan bersama. Namun kenyataannya, para pengambil keputusan yang mempunyai wewenang justru membuat keputusan yang cenderung memihak pada golongan tertentu. Salah satu contoh kasusnya adalah disahkannya RUU Cipta kerja yang lebih berpihak pada investor.
[15:42]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Dina Putri dari kelompok empat. Di sini saya akan menjelaskan mengenai masalah-masalah demokrasi di Indonesia yang terkait dengan Pancasila sila keempat. Sistem demokrasi Indonesia telah diterapkan sejak lama dan beberapa kali mengalami perubahan. Sistem demokrasi yang diharapkan oleh bangsa Indonesia yaitu sistem demokrasi yang dapat terkonsolidasi dengan baik. Namun sepertinya penerapan sistem demokrasi di Indonesia masih ada pada masa transisi berjalan di tempat. Bahkan ada beberapa daerah di Indonesia yang mengalami kemunduran terkait sistem demokrasi. Berarti demokrasi di Indonesia belum berjalan dengan baik. Nah, ada beberapa aspek permasalahan yang menyebabkan demokrasi di Indonesia tidak berjalan dengan baik. Masalah pertama yaitu masalah krusial. Masalah yang dapat dilihat secara krusial seperti absennya masyarakat terhadap kekuasaan. Masifnya politik uang, kaderisasi partai politik yang buruk, hilangnya oposisi, maraknya berita bohong dan lain sebagainya. Yang kedua, masalah partai politik atau dapat disingkat dengan parpol. Seperti tadi. Cuma ini lebih spesifiknya. Masalah partai politik mencakup pengkaderan anggota partai politik yang dilakukan secara sembarangan dan semakin berkurangnya toko-toko penting seperti dosen dan peneliti di bidang legislatif dan eksekutif. Yang ketiga yaitu masalah media sosial. Masalah media sosial ini menyangkut lemahnya internalisasi keadaban sipil atau sipil virtue dalam masyarakat. Artinya, mereka belum benar-benar mengetahui adab-adab dalam bersosial media sehingga mereka cenderung dengan mudah menyebarkan berita-berita yang belum tentu kebenarannya alias hoax. Nah, dengan berita-berita tersebut, masyarakat yang mudah terpercaya dan mudah terpengaruh akan merasa terusik dan merasa bahwa berita tersebut telah benar keberadaannya sehingga mereka bisa saja melakukan hal-hal di luar dari nilai Pancasila. Hal tersebut membuat mereka juga cenderung ikut-ikutan termasuk dalam memilih wakil rakyat. Padahal sebenarnya pemilihan umum bukanlah ajang untuk ikut-ikutan memilih. Mereka seharusnya memilih sesuai dengan hati nurani mereka, sesuai apa yang mereka lihat dan sebagainya. Nah, contoh kasus mengenai demokrasi yaitu pada saat pemilu. Biasanya pada saat pemilihan umum sering terjadi kekisruhan antar kubu-kubu paslon satu dan kubu paslon dua. Di mana biasanya pada saat pemilihan umum sering terjadi politik uang dan rekapitulasi suara yang dilakukan baik itu oleh pasangan calon satu dan pasangan calon dua. Sehingga ketika salah satu calon tersebut terpilih, masyarakat tidak begitu saja menerima. Sehingga mereka merasa bahwa ada yang tidak beres dengan pemilu tersebut. Nah, itulah yang menyebabkan pertikaian antar masyarakat dalam pemilu. Tentu dari permasalahan-permasalahan tersebut terdapat solusi-solusi yang dapat dilakukan. Solusi-solusi tersebut dapat berupa perlakuan dari pemerintah maupun dari masyarakat itu sendiri. Seperti peningkatan pendidikan ke yang lebih memadai perlu untuk dilakukan di negara berkembang seperti Indonesia ini agar masyarakat lebih memahami tentang persoalan-persoalan politik yang dialami negara ini. Dan juga agar mereka memahami bahwa nilai suara mereka begitu penting untuk kemajuan bangsa Indonesia. Jadi, pendidikan itu tidak hanya untuk mendapatkan ilmu akademiknya, tetapi juga non akademiknya yaitu seperti berpikir spirit dan lain sebagainya. Selanjutnya yaitu mengelaborasi sistem pemerintahan lokal yang independen. Tapi semuanya kembali ke diri masing-masing. Jika kita ingin melaksanakan solusi tersebut, maka secara perlahan penyimpangan dan permasalahan mengenai demokrasi tersebut akan secara perlahan terselesaikan. Tetapi jika kita tidak mampu untuk melaksanakannya, maka kita akan terus-menerus berjalan di tempat dan tidak akan menemukan demokrasi yang berjalan dengan lancar. Jadi semuanya kembali ke diri masing-masing. Sekian dari saya, terima kasih atas perhatiannya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



