Thumbnail for Panggung Gembira 697 Darussalam Gontor Kampus 4 (Puisi) #panggunggembira #credible by Faiz Geong Channel

Panggung Gembira 697 Darussalam Gontor Kampus 4 (Puisi) #panggunggembira #credible

Faiz Geong Channel

11m 14s413 words~3 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:52]Tanah surga zamrud Katiwa. Anak malang terlantung-lantung di raga.

[1:03]Menyiasih absara. Tak ada akar, batang pun jari. Sampai lumbu padi kosong tak terisi, krisis Ibu Pertiwi.

[1:31]Lapar. Ucapan manis kesejahteraan satu periode. Menyongsong ketertiban pada tapak order. Ibu. Anak sepasang saya penjarak kini terhempas di Rwanda. Bangkarapontang panting.

[2:18]Anak malang terlantung-lantung diragama. Anak malang.

[2:41]Tak bersalah. Salahkan pada si Jenggot penebar ketakutan. Salahkan pada si peci. Meneribu negeri ini. Hei anak suci. Hekumoni, Putra untuk negara. Merangkak maju di atas religi. Agama muasal pergesekan, pertikaian, tumpah darah. Amanat bangsa terpikul mereka yang lemah. Kamilah jawabannya. Benarkah sedekah? Dusta. Jabka. Sudah lama bertahun-tahun kami berjuang dari sebelum kemerdekaan. Sampai proklamasi dikan membentengi NKRI dari penjajahan. Mencetak generasi pejuang, penyambung lidah umat dan bangsa.

[4:07]Hati bajah mendengkam cipratan merah. Tunduk husyuk larut dalam putih Muara. Pandang menjadi nisan, tinta menjadi hikayat lama.

[4:34]Tahu apa? Mengagung-agung meneka-neka, merasa tahu urusan negeriku. Astagfirullahalazim. Bukan itu yang dialami.

[5:00]Bukan itu yang dimengerti. Bukan itu yang kami beli. Hentak. Kau tak amanah. Memba. Tamak pada dunia, otoritasimu tak penja Pertiwi. Menyepit sringai mikir jadi diri. Sarang kemunafikan berpuluh iman. Merjuswar elite global kapai persamaan. Ini hakku kaya miskin itu nasibmu. Pemerataan persamaan. Hidup Jaya, sama-sama berdiri, sama-sama duduk. Bibit cerita, fiksi cita. Ego Fisabilillah. Mimpilalu mengangkat kaki.

[6:09]Sodorkan visi, realita ironis tanahku.

[6:19]Kupenggal, kupuja. Tuhan, diamkan di kebingungan.

[6:33]Tuhanku, atau Tuhanku. Paksa meluntukan nasiblah.

[6:50]Kau boleh lupa nurani. Mengatup relung bangsa. Ukir sumpah pemuda. Tunduk. Dalam kibar. Pusara kesaksian Trisula, teriakan murka lubang buaya. Tajam merah saga membuka tabir tanah surga. Ya Allah.

[7:44]Kaya tak bermega. Siapa yang bersalah? Ho!

[7:58]Orang rendah mana tahu kepentingan bangsa. Pura-pura mengabdi, dunia kau lirik rupanya. Tipu daya peci mengatasnamakan agama. Curi publik dunia. Astagfirullahalazim. Mencongkel sila pertama dengki. Membisiki hati lemah memberi peran neraka. Bondok kau pikir tak perlu sana nyawanya pisan. Orang lemah, memaksa mencitra. Kalianlah masalah. Katanya kalian nasionalis. Buktinya hanya simbolis. Luarnya kalian agamis. Nyatanya kalian anarkis. Bencok sana lecehkan agama. Bencok sini. Apa hanya kalian yang masuk surga? Ini di surga kita. Kuasa, merdeka, samarata. Jaga!

[9:23]Janganlah dunia Ibu Pertiwi tak ajar angkara. Pembodohan, pengingkaran. Korupsi, nepotisme, kalian dalangnya. Hasut daya mencabik pikiran lemah. Jangan kau mengambing lautan dalam durhaka. Gema takbir membakar umat. Yang berbangsa tanpa dusta. Allahu Akbar. Billahi ikhlas menuntut negeri. Wallahi berjuang demi NKRI. Tallahi bukan citra santri. Hanyalah mardotillah. Indonesia. Jangan kau lupakan sejarahnya. Indonesia. Jangan kau hitamkan berananya. Indonesia.

[10:56]Jangan kau lupakan jasa ulama. Jas hitam. Jangan sekali-kali menghitamkan sejarah agama Islam.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript