Thumbnail for "Rahasia Besar di Balik Syawalan" | Ustadz Salim A. Fillah | KAJIAN SYAWALAN HISWANA MIGAS DIY by Pro-You Channel

"Rahasia Besar di Balik Syawalan" | Ustadz Salim A. Fillah | KAJIAN SYAWALAN HISWANA MIGAS DIY

Pro-You Channel

39m 52s3,802 words~20 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Pull quotes
[0:27]Wasstagfiruhu wanastaghfiruhu wanastahdi wanatubu ilaih wala na'budu illa iyyaahu wanatawakkalu alaih.
[0:27]Hadrat al-Afadil, Hadrat al-Mukarromin yang kami takdlimi segenap pimpinan Hiswana Migas Daerah Istimewa Yogyakarta.
[0:27]Yang kita takdlimi segenap pengurus seluruh keluarga besar Hiswana Migas DIY, Bapak Ibu para tamu undangan yang kami takdlimi baik dari Pertamina, dari berbagai unsur pemerintahan maupun juga rekanan.
[0:27]Puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah atas limpahan karunia-Nya pada pagi menjelang siang ini kita dihimpun di dalam majelis yang indah ini.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:10]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[0:19]Alhamdulillahi haqqa hamdi, alhamdulillahi hamdan kasiran.

[0:27]Wasstagfiruhu wanastaghfiruhu wanastahdi wanatubu ilaih wala na'budu illa iyyaahu wanatawakkalu alaih. Allahumma fasholli wasallim wabarik ala sayyidina wa habibina wa shafi'ina wa maulana Muhammadin wa ala ali wa ala ashabihi wadurriyatihi waman saara ala nahjii wa sunnah bi sunnatii wahdada bihadhi ila yaumil ya rabbi amma ba'du. Hadrat al-Afadil, Hadrat al-Mukarromin yang kami takdlimi segenap pimpinan Hiswana Migas Daerah Istimewa Yogyakarta. Yang kita takdlimi segenap pengurus seluruh keluarga besar Hiswana Migas DIY, Bapak Ibu para tamu undangan yang kami takdlimi baik dari Pertamina, dari berbagai unsur pemerintahan maupun juga rekanan. Puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah atas limpahan karunia-Nya pada pagi menjelang siang ini kita dihimpun di dalam majelis yang indah ini. Mudah-mudahan setiap langkah kita menghadiri majelis ini menjadi pemudah jalan kita semua menuju surga. Dan duduk kita semua semoga termasuk taman di antara taman surga tempat Allah mencurah-curahkan rahmat-Nya menaungkan sayap-sayap malaikat-Nya. Menurunkan sakinah ke dalam hati kita dan menyebut-nyebut nama kita semua dengan bangga pada makhluk-makhluk mulia yang ada di sisinya. Bapak Ibu yang dirahmati oleh Allah, budaya Syawalan dan tradisi halal bihalal adalah satu hasanah kekayaan umat Islam di Nusantara kita yang sangat luhur. Kiai Haji Ahmad Baso dalam penelitiannya menyebutkan kata halal bihalal yang tertua dalam naskah ditemukan dalam serat babad Cirebon. Yang ditulis pada era Panembahan Ratu bertahta di Cirebon pada akhir abad ke-16 dan Panembahan Ratu ini adalah cicit dari Sunan Gunung Jati. Di mana diceritakan di situ halal bihalal ini sudah menjadi tradisi dalam era para Wali Songo menyebarkan Islam di Nusantara. Dan kita ketahui di antara para Wali Songo Sunan Gunung Jati adalah salah satu yang sanad ilmunya paling dihormati. Karena beliau adalah putra dari Rara Santang, Putri Raja Pajajaran pada saat itu. Yang pada saat naik haji bersama Kakandanya Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakra Buana kemudian di Tanah Suci menikah dengan Syarif Abdullah Al-Masri yang berasal dari negeri Mesir. Lalu diboyonglah Putri Rara Santang yang kemudian bergelar Syarifah Mudaim ini ke negeri Mesir. Sang putra oleh kakaknya telah dipesan nanti kalau lahir anak kalian laki-laki. Wakafkanlah satu untuk Tanah Jawa. Maksudnya nanti ketika dia dewasa kirimlah ke Jawa untuk membantu dakwah. Maka Syarif Hidayatullah ini putra Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah Al-Masri menghabiskan waktu 20 tahun di Mesir dan 10 tahun di Haramain sebelum berlayar dan kemudian mendarat di Cirebon. Menemui uaknya Pangeran Cakra Buana.

[5:14]Dan dalam sanad keilmuan Syarif Hidayatullah adalah murid langsung dari Syaikhul Islam Zakaria Al-Ansori dan Syaikhul Islam Zakaria Al-Ansori adalah murid langsung dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dan kita mengenal Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Mufti Dunia Islam pada zaman itu di Kesultanan Mamluk di Mesir adalah yang menulis Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari. Yang menulis Bulughul Maram min adillatil Ahkam yang menjadi kitab pegangan hukum di berbagai wilayah yang mengikuti pemahaman mazhab Syafi'i. Maka begitu sampai ke Jawa dengan tawaduk beliau belum berkenan mengajar ketika Said Ahmad Rahmatullah alias Sunan Ampel sebagai sesepuh masih hidup.

[6:20]Maka ketika Sunan Ampel wafat wali pertama yang dengan semangat menuntut ilmu kepada Syarif Hidayatullah ini kepada Sunan Gunung Jati ini adalah Raden Said Sunan Kalijaga. Sehingga tempat tinggal Sunan Kalijaga selama berguru kepada Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah di Cirebon sampai hari ini masih disebut Desa Kalijaga. Nah ternyata tradisi halal bihalal ini sudah ada pada masa hidup para wali tersebut di mana setiap bulan Syawal mereka berhimpun untuk saling memaafkan dan satu sama lain kemudian menghalalkan hal-hal yang mungkin terambil sebagai haqqul adami di antara mereka hak sesama di antara mereka. Barangkali kemudian kita ditanya kalau begitu apakah tradisi halal bihalal dan Syawalan itu adalah bagian dari amalan Islam. Tentu dalil umumnya sangat kokoh, dalil umumnya sangat kuat untuk diikuti. Apa dalil umumnya? Bahwasanya bulan Ramadan, Bapak Ibu yang dirahmati Allah, adalah penghapus dosa-dosa kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

[8:00]Bahkan sejak bulannya seperti di dalam hadis riwayat Imam Muslim as-Shalawatul khamsu wal jumu'atu ilal jumu'ah wa Ramadan ilal Ramadan mukaffiratun lima bainahunna majtanabatil kabair. Shalat yang lima, Jumat ke Jumat, Ramadan ke Ramadan adalah penghapus semua dosa di antaranya selama dijauhi dosa-dosa besar. Pemahamannya seperti yang dikemukakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis yang lain. Tentang sholatnya misalnya bagaimanakah kiranya salah seorang di antara kalian jika dia mempunyai sebuah rumah di tepi sungai lalu dia turun ke sungai itu untuk mandi sehari lima kali. Menurut kalian apakah masih tersisa kotoran di badannya. Para sahabat menjawab tidak ya Rasulullah, maka demikianlah orang yang sholat lima kali sehari dia seperti dibersihkan dari dosa-dosanya sebagaimana orang yang turun ke sungai lima kali untuk mandi selama sehari itu. Demikian pula Jumat, demikian pula Ramadan. Kehadirannya asalkan kita memenuhi syarat minimal ibadah di dalamnya maka otomatis dosa-dosa itu terhapus kecuali yang dosa besar di mana dosa besar membutuhkan taubatan nasuha istighfar secara khusus. Demikian pula di bulan Ramadan. Siangnya juga ampunan malamnya juga ampunan.

[9:43]Siangnya Rasulullah katakan Man shoma Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih. Siapa yang puasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah dihapus diampuni segala dosanya yang telah lalu. Demikian pula malamnya, Man qoma Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih.

[10:13]Siapa yang Qiyamul Lail Ramadan menghidupkan malamnya yang kalau keterangannya Imam Ibnu Rajab Al-Hambali menghidupkan malam Ramadan itu minimalnya sholat Isya berjamaah, sholat subuh berjamaah. Karena sholat Isya itu senilai kalau berjamaah senilai sholat malam separuh malam penuh dan sholat subuh itu senilai sholat malam semalam penuh kalau berjamaah. Maka kalau sudah sholat Isya dan subuhnya berjamaah itu sudah menghidupkan malam senilai satu setengah malam.

[10:44]Sehingga syarat dapat Lailatul Qadar itu juga sama minimal Isya dan subuh berjamaah. Ini menghidupkan malam Ramadan pun berhadiah ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih diampuni semua dosanya yang telah lalu. Lah kalau Ramadan menjadi tempat di mana dosa kita semua kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu diampuni. Bagaimana dengan dosa kita kepada sesama. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis riwayat Ashabus Sunan yang shahih.

[11:25]Beliau bersabda kepada para sahabat Araitumul muflis tahukah kalian siapa orang yang bangkrut. Qolu para sahabat menjawab al-muflisu fina ya Rasulullah man laisa lahu malun wala mataun wala amalun. Orang bangkrut itu yang tidak punya harta, tidak punya pencukup kebutuhan dan tidak punya pekerjaan dia bangkrut. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam meluruskan mengatakan balil muflis sebaliknya yang disebut orang bangkrut itu man Allah yaumal qiyamati bi sholatin kaza wa bi shomin kaza wa bi shadaqatin kaza. Adalah orang yang datang kepada Allah pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat yang sangat besar, membawa pahala puasa yang sangat besar dan membawa pahala sedekah yang sangat besar. Walakin tetapi dia itu kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam syatama haza dia suka mencela yang ini, dia suka mencaci yang ini, dia suka mengolok-olok yang ini. Dia suka waba haza menggibah menggunjing menggosipkan yang ini, dia suka melanggar dan menjatuhkan kehormatan yang ini, dia suka mengambil haknya yang ini, dia suka kemudian bahkan mungkin sampai pada tingkatan mendzolimi dan bahkan menjadi penyebab kematian yang ini atau membunuh yang ini. Maka Allah pada hari itu akan memerintahkan semua orang yang dirugikan olehnya berbaris dan mengajukan tuntutan-tuntutannya. Ketika orang-orang yang dirugikan disakiti di dunia itu mengajukan tuntutan, maka Allah perintahkan agar dosanya orang yang dirugikan diambil ditambahkan kepada dosanya, dosanya orang yang dirugikan diambil ditambahkan kepadanya.

[14:01]Fadalikal muflis maka yang demikian itulah orang yang bangkrut. Karena kesalahannya kepada sesama harus dia bayar, harus dia tebus dengan semua amal-amal sholehnya ketika amal sholeh itu habis, maka dosanya orang yang dirugikan ditambahkan ke dalam dosanya.

[14:24]Maka Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah mengatakan sebuah kalimat yang membuat heran orang-orang. Kata beliau menghadap Allah dengan membawa 1000 dosa kepada Allah itu kurasa lebih ringan daripada menghadap Allah membawa satu dosa kepada sesama. Menghadap Allah dengan membawa 1000 dosa kepadanya itu aku anggap lebih ringan daripada menghadap Allah dengan membawa satu dosa kepada sesama. Murid-muridnya bertanya ya Imam kenapa kok begitu wahai Imam. Beliau menjawab karena sesungguhnya Allah itu kalau kita berdosa kepadanya maka dia menutupi aib kita, dia tidak akan cerita-cerita kepada orang bahwa kita berdosa kepadanya, bahwa kita bermaksiat dan durhaka kepadanya enggak, Allah tutupi aib kita, Allah tidak buka rahasia kita. Dan pada saat itu Allah akan menunggu kita bertaubat untuk diampuni dosa kita, selama kita ditunggu bertaubat tidak dia buka, tidak dia cerita-ceritakan rahasia kita kepadanya kepada sesama kepada orang lain tidak. Sudah dia menutup aib itu pun dia menunggu kita bertaubat, ketika kita bertaubat maka dia mengampuni bukan cuma mengampuni dia hapus semua kesalahan kita dari catatan amal tidak lagi dia tuntut tidak lagi dia gugat dan ketika kita diampuni karena tobat kita maka derajat kita dinaikkan lebih dari orang yang tidak pernah berdosa. Itu Allah. Kalau kita punya salah sama Allah Allah tutupi aib kita, Allah rahasiakan Allah enggak pernah ceritakan Allah tidak menuntut ganti. Allah tunggu kita bertaubat, ketika kita bertaubat beristighfar mohon ampun kepadanya dia bahagia menerima kita. Kalau kita datang kepadanya sejengkal, dia mendekat kepada kita sehasta, kalau kita datang kepadanya sehasta, dia datang kepada kita sedepa, kalau kita datang dengan berjalan kepadanya, dia sambut dengan berlari-lari kecil.

[16:42]Dan Allah itu kalau ada hamba yang bertaubat lebih bahagia daripada gambaran cerita Rasulullah tentang apa. Ada orang naik unta perjalanan di padang pasir lalu di satu tempat dia berhenti, ketika dia berhenti untanya tiba-tiba pergi hilang meninggalkan dia. Sesore dia cari-cari unta itu sesore sampai capek sampai lelah dehidrasi akhirnya pingsan. Ketika orang itu pingsan pingsan semalaman pagi kena sinar matahari anget-anget di pipinya dia bangun, ketika dia ucek-ucek mata ketika dia bangun dia melihat untanya yang kemarin dicari sampai dia hampir mati itu sudah berdiri di depannya tanpa kurang satu apa. Maka dia pun dengan senang sekali mengatakan Allahumma anta rabbi, Allahumma anta abdi wa ana rabbuk. Saking senangnya sampai kualik ngomong ya Allah engkau memang hambaku aku ini memang Tuhanmu. Saking senangnya orang ini karena untanya kembali tanpa kurang satu apa padahal kemarin dicari-cari sampai hampir mati.

[18:00]Allah kalau ada hamba bertaubat lebih senang daripada orang ini. Kalau ada hamba kembali kepadanya lebih senang lebih bahagia daripada orang yang ketemu untanya ini.

[18:13]Masya Allah, tapi kalau kita bersalah kepada orang kata Imam Sufyan Ats-Tsauri, salah sama orang itu dia pasti curhat sama orang lain ceritain kesalahan kita kepadanya. Salah sama orang itu orang itu enggak bisa jaga rahasia bahwa kita bersalah kepadanya. Salah sama orang itu dia bukan nunggu kita tobat tapi menanti kesempatan untuk bisa balas. Salah sama orang itu kalaupun dia memaafkan dia bilang memaafkan si iya melupakan nanti dulu. Tadi pagi ada teman itu ngetweet ku hapus dari timeline tapi tidak kuhapus dari hati. Kalau memaafkan itu manusia itu begitu. Beda sekali sama Allah subhanahu wa ta'ala dan manusia itu nuntut ganti rugi nanti di akhirat kalau dia belum mengalkan sepenuhnya gugat kayak tadi orang-orang tadi. Itu masalah. Jadi maka benar yang dikatakan Imam Sufyan Ats-Tsauri menghadap Allah membawa 1000 dosa kepada Allah itu kok rasa-rasanya lebih ringan daripada menghadap Allah dengan membawa satu dosa kepada sesama. Repot. Itulah kenapa MH Ainun Najib pernah menulis dengan tajuk selilit sang Kiai. Pak Kiainya pulang dari kenduri ada selilit nempel di sela gigi. Maka ketika dia lewat di tempat jalan kampung itu tetangganya punya pagar pagarnya terbuat dari bambu bambunya sudah agak apa namanya pecah sehingga kemudian dia bisa memetik itu ya.

[19:54]Bagian dari bambu itu kecil untuk apa membersihkan selilit yang ada di sela giginya dibersihkan. Selilit ngambil bambu kecil dari pagar tetangga, itulah nanti akan menjadi penghalang Kiai itu untuk masuk surga. Karena pemilik pagar yang tidak ridho pagarnya dicuil untuk ngutik-ngutik selilit. Tabarakallah. Jadi ini kenapa dosa kepada sesama itu merepotkan sekecil apapun bisa merepotkan. Sehingga inilah logika para ulama pendahulu kita di Nusantara para Wali Songo, Ramadan menghapus dosa kepada Allah, maka akan tetap jadi masalah kalau dosa kepada sesama belum selesai. Sehingga kita kemudian mengambil kesempatan waktu Idul Fitri untuk apa untuk saling memaafkan satu sama lain. Untuk saling merelakan apa-apa yang sudah terjadi di antara kita mungkin selama setahun ini. Kenapa kok para ulama berpikir begitu. Oh sebenarnya kan sebenarnya ya yang namanya orang salah itu segeralah minta maaf. Betul kan. Bersegera minta maaf pada saat itu juga enggak nunggu Idul Fitri. Karena kata Kasino Warkop DKI yang lucu itu orang Jakarta bikin dosanya di Jakarta minta maafnya di kampung pas mudik.

[21:41]Tapi kita kan kadang-kadang tidak ngeh atau kadang-kadang tidak merasa bahwa itu kesalahan tidak merasa berdosa pasti ada yang kelewat sengaja maupun tidak. Pasti ada yang kemudian nah model ala Indonesia ala Nusantara kita rapelan. Kalau ada yang kelewatan selesaikan di saat bulan Syawal supaya bersihnya total tidak hanya dosa kepada Allah tapi juga dosa kepada sesama itu. Yang menarik lagi Bapak Ibu yang dirahmati Allah. Kalau kita telusur Quran dari awal sampai akhir memang ada perintah mohon ampun kepada Allah. Tapi adakah perintah minta maaf kepada orang lain. Tidak ada. Yang ada adalah perintah memaafkan, motivasi untuk memberi maaf, janji pahala tak terhingga untuk yang memberi maaf, pujian untuk orang yang memaafkan yang ada itu.

[22:44]Unik Quran ini, jadi tidak ada perintah minta maaf yang ada perintah memberi maaf. Janji pahala tak terhingga untuk yang memberi maaf, motivasi untuk memberi maaf dan pujian untuk orang yang memberi maaf. Perintah memaafkan wa'fu wa'fu bilfu wa jahilin maafkanlah perintahkan yang makruf berpalinglah dari orang yang jahil.

[23:17]Perintah janji pahala tak terhingga faman walah fa'allahi maka siapa memaafkan dan berbuat kebaikan dan mendamaikan maka pahalanya tak terhingga di sisi Allah. Motivasi untuk memaafkan walu walfau ala tuhibbuna ahyallah lakum. Maka hendaklah mereka memaafkan dan hendaklah mereka berlapang dada, apakah kalian tidak suka jika Allah mengampuni dosa-dosa kalian karena kalian suka memaafkan sesama. Bukankah harapanmu untuk diampuni Allah lebih besar daripada harapan orang untuk dimaafkan olehnya. Pujian untuk yang memberi maaf wal walminal walfina, orang yang bisa menahan amarah dan orang yang bisa memaafkan sesama manusia maka dia bertakwa dan dia orang yang muhsin orang yang baik. Semuanya motivasi memaafkan janji pahala tak terhingga untuk yang memaafkan, perintah memaafkan pujian untuk yang memberi maaf. Pertanyaannya kenapa tidak ada perintah minta maaf. Satu perintah minta maaf tidak diperlukan karena harusnya tanpa diperintah pun otomatis segera minta maaf.

[24:32]Yang kedua karena agama kita ini adalah petunjuk untuk mengatur hidup kita supaya kita ini fokus pada tujuan kehidupan. Apa tujuan kehidupan kita. Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya'budun. Kata Allah tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Misi hidup kita itu misi hidup kita adalah untuk beribadah kepada Allah di alam dunia yang sebentar ini supaya nanti di alam akhirat mendapatkan keselamatan dan kemuliaan di sisinya. Itu misi kita, sehingga seorang mukmin mengatakan qul inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. Katakan sesungguhnya sholatku ibadahku hidupku matiku untuk Allah, Robb semesta alam. Seorang mukmin itu ibadahnya bukan cuma sholat, bukan puasa, bukan dzikir, bukan cuma sedekah, dia bekerja, dia beribadah, dia makan, dia beribadah, dia mandi, dia beribadah, dia minum, dia beribadah, dia buang air, dia beribadah, dia berjalan, beribadah, duduk, beribadah, berbaring beribadah, semua hidupnya ini ibadah. Seluruh hidup dan matinya ini ibadah. Maka yang akan sangat kesulitan untuk fokus pada hidup ibadah ini, orang yang belum memaafkan. Bukan orang yang belum minta maaf. Si A punya salah sama si B belum minta maaf, si B si A punya salah sama dia dan dia belum memaafkan. Maka siapakah yang lebih tersiksa. Si A sebenarnya hari itu moodnya sudah baik ketemu si B juga moodnya baik. Si A tidak merasa bersalah si B belum memaafkan, si B lihat si A makan enak enggak selera Pak.

[27:48]Malam si A tidur nyenyak karena tidak merasa bersalah, si B enggak bisa tidur karena si A. Lah iya wong dia itu salah sama saya ini mosok enggak mau minta maaf toh, apa enggak sadar ya, mosok sih harus saya bilangin Anda tuh salah sama saya harusnya minta maaf. Wah kalau bilangin kayak gitu ya gengsi enggak selesai.

[28:16]Maka luar biasa agama kita memberikan kepada kita ajaran untuk memaafkan. Diperintahkan diberi motivasi.

[28:29]Kamu enggak suka Allah mengampuni kamu karena kamu suka memaafkan sesama. Bukankah harapanmu untuk diampuni Allah lebih besar daripada harapan orang untuk dimaafkan olehnya. Faman fa'alah fahullahu, sedangkan memaafkan dan mendamaikan itu pahalanya tak terhingga di sisi Allah.

[29:47]Maka karena ada motivasi semacam ini tadi dan keadaan seperti yang tadi kita sampaikan, kadang-kadang kita memaafkan orang bukan karena dia layak untuk diberi maaf tetapi karena kita tidak layak memikirkan orang yang tidak pernah memikirkan kita itu. Karena belum memaafkan itu ingat segala sesuatu tentang yang belum kita maafkan. Karena dia suka baju merah lihat baju merah ingat iya dia tuh belum minta maaf. Padahal orang lain yang pakai baju merah. Ingat ini sholat pun ingat fokus kita rusak. Padahal tadi tujuan kita hidup adalah untuk beribadah kepada Allah dengan fokus, dengan menghadapkan wajah kita lurus kepada Allah, meniti shirotul mustaqim jalan yang lurus dalam kehidupan. Ada cicitnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam namanya Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

[30:57]Ali Zainal Abidin bin Husein ini menjadi saksi bagaimana ayahandanya dibunuh di Karbala beserta keluarga besarnya yang dibantai. Dia tumbuh menjadi seorang yang mulia, dia tumbuh menjadi seorang yang dermawan, rumahnya di Madinah menjadi tempat ditampungnya para fakir miskin. Anak yatim, orang-orang kesusahan dan diceritakan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah dengan mengutip beberapa riwayat. Semua orang yang terlibat dalam pembunuhan cucu kesayangan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Sayyidina Husein dan keluarganya ini di usia tuanya kena balak. Ada yang dari pejabat tiba-tiba jadi buronan, ada yang dari orang kaya jatuh miskin, ada orang yang dulu kecukupan dililit hutang, ada orang yang dulu keluarganya besar berantakan dan lain sebagainya. Yang luar biasa mereka kemudian pergi ke Madinah dan oleh Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib ditampung, disantuni, ditolong, dibantu semua kesulitan mereka. Orang-orang bertanya kepada beliau, apakah engkau wahai Ali tidak punya dendam, sehingga orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan ayahmu justru engkau tolong dan bantu.

[32:27]Kata Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, dendam itu seperti menenggak racun ke dalam mulut kita sendiri tapi kita berharap orang lain yang mati karenanya. Apakah itu pekerjaan orang berakal. Kita dendam itu menyakiti diri kita sendiri tapi kita berharap orang lain yang sakit karenanya tidak masuk akal kata beliau. Maka lapang dadanya seorang mukmin kepada sesama dalam kehidupannya di dunia adalah salah satu kunci surga yang paling landai dan indah. Itulah yang disaksikan Said Abdullah bin Amru bin Al-As tentang seorang sahabat yang ketika Rasulullah sudah mau takbiratul ihram tiba-tiba Rasulullah berbalik kepada jemaah mengatakan akan datang kepada kita seorang dari antara ahli surga. Kata Abdullah bin Amru bin Al-As menceritakan lalu bergabunglah ke dalam saf di belakang ada seorang yang wajahnya masih basah oleh air wudu dan air wudu menetes-netes dari janggutnya. Lalu Rasulullah pun bertakbir. Ketika sholat selesai salam aku berdzikir sejenak aku cari orang itu sudah tidak ada. Berarti kan orang ini ibadahnya minimalis Pak. Datang menjelang takbiratul ihram bersalam prt bubar pergi. Ini kesaksiannya Abdullah bin Amru hari kedua sama Rasulullah mau takbiratul ihram beliau bilang akan datang kepada kita seorang dari antara penduduk surga dan orang itu datang Abdullah bin Amru cepat-cepat menjajeri orang itu sholat.

[34:31]Tapi ketika benar ternyata habis salam langsung bangkit keluar masjid diikuti sampai ke rumahnya. Begitu sampai di rumahnya Abdullah bin Amru bilang Paman izin boleh enggak saya numpang di tempat Paman. Kenapa Nak saya lagi ada masalah sama Bapak boleh enggak numpang sini. Oh ya silakan. Numpang tiga hari tiga malam niatnya apa cari ini orang ibadahnya apa kok bisa disebut oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai ahli surga ahli surga ahli surga. Pasti punya ibadah rahasia yang keren. Diamati semalaman sudah sepertiga malam terakhir kok enggak tangi-tangi kok enggak tahajud kok enggak sahur. Bangunnya itu ketika azan subuh. Azan subuh bangun langsung wudu berangkat ke masjid enggak tahiyatul masjid enggak qabliyah enggak opo langsung sholat. Pulang juga begitu sarapan mangannya ngimul gitu ya. Enggak ada puasa-puasanya, diamati kok ya enggak ada shodaqohnya 3 hari 3 malam dia dapati ini orang enggak punya amalan istimewa. Nyerah dia Abdullah bin Amru kemudian mengatakan Paman mohon maaf saya sebenarnya enggak punya masalah sama Bapak cuman saya itu penasaran lah Rasulullah nyebut Paman itu ahli surga ahli surga ahli surga sampai tiga kali. Saya pengin tahu amalan Paman apa. Loh Nak lah iya ini saya saya cuma begini ini enggak pernah punya amalan-amalan khusus. Enggak ada Paman, amalan khusus khusus pakai kha dan pakai shat enggak ada Pak. Enggak ada seperti kamu lihat sendiri. Tapi saya penasaran Paman pasti Paman punya sesuatu yang tidak dilakukan orang lain. Coba Paman cerita. Apa ya Nak yang saya lakukan tapi tidak dilakukan orang mungkin ini ya tapi saya enggak yakin katanya. Saya itu setiap mau tidur saya itu enggak pengin tidur saya terganggu, maka saya kalau mau tidur semua orang yang salah sama saya hari ini saya maafkan di hati saya saya tidak nyimpan dendam enggak nyimpan dengki enggak nyimpan baper enggak nyimpan ghal apa namanya sakit hati dan tersinggung. Wes semuanya saya relakan, semuanya saya maafkan, bahkan saya mohonkan ampun kepada Allah untuk mereka lalu saya istighfar lalu saya tidur biar nyenyak. Kata Abdullah bin Amru bin Al-As itu dia yang tidak banyak orang bisa melakukannya. Memaafkan semua orang sebelum tidur. Padahal alasannya apa supaya tidurnya nyenyak. Dan itu kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjadi jaminan bagi orang ini untuk min ahlil jannah termasuk di antara ahli surga. Maka ciri dari ahli surga itu adalah orang yang memiliki salamatus soder, dada yang lapang kepada sesama. Tidak mudah tersakiti oleh sesama kalaupun dia merasa orang itu salah sama dia dengan mudah dia maafkan dengan mudah dia lapangkan dadanya. Dan itu menjadi jalan surga yang sangat landai. Para ulama kita mendesain kita berhalal bihalal paling tidak setahun sekali menjadi orang yang berlapang dada kepada orang. Nuwun gunging samudro pang sami nggih nggih, kita itu Syawalan itu kan latihan tahan-tahanan senyum Pak. Syawalan-syawalan nggih, nggih.

[38:17]Luar biasa. Dan ketika kita jujur memaafkan, lapang hati kita beres bukan cuma dunia kita terasa damai tetapi akhirat kita berjaminan surga memaafkan orang lain adalah surga sebelum surga. Demikian yang dapat kita sampaikan sebagai hikmah dari Syawalan bersama Hiswana Migas Daerah Istimewa Yogyakarta pada saat ini. Besok sore masih ada materi insya Allah untuk Hiswana Migas Jateng Insya Allah temanya beda jadi kalau mau ikut lagi boleh. Dan masih dalam kesempatan bulan Syawal kami mengucapkan kepada Bapak Ibu sekalian taqobbalallahu minna wa minkum Kullu am waantum bi Khair. Mudah-mudahan Allah terima amal kita di bulan Ramadan diampuni semua dosa-dosa kita dinaikkan derajat kita menjadilah kita orang bertakwa sampai 11 bulan dan berjumpa Ramadan lagi. kullu aam wa antum bi khair dalam tahun ini semoga kebaikan bagi Bapak Ibu semuanya bagi bisnisnya Bapak Ibu semuanya menggeliat lagi pasca pandemi semakin bertumbuh berkembang berkah dunia dan akhirat insya Allah. Dan kami meskipun mungkin ada yang pernah bertemu beberapa kali bertemu atau baru kali ini bertemu kalau ada yang kurang berkenan dari kami kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Jazakumullah Khairan Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript