[0:00]Belum pernah dalam sejarah kita, sejak merdeka atau sejak reformasi yang namanya Cell Indonesia. Makanya gua ngebuat kenapa gua masih berani ngeramal bahwa Dolar ini bisa ke Rp22.000 bahkan ke Rp25.000 itu karena ada kemungkinan dari rating kita di downgrade. Purbaya atau Hati Basri? Oh pasti Hati Basri.
[0:24]Ya kayak filmnya Barbara Streisen, A star is born. Bro, Ferry Latuhihin. Tos dulu dong. Salam metal. Oke Bro. Ferry Latuhihin. Salam metal. Salam metal. Salam metal. Jadi pandangan gue itu enggak salah loh. Tiba-tiba dulu kami sama-sama di Dewan pakar. Kurang siapa itu? Iya kan. Udah kayak Key Richard gitu, kadang-kadang dia kayak apa yang Johnny Depp gitu. Tapi ngomongnya gila ngomongnya. Jadi gue di grup gua tanya sama teman gua si Rudi. Rudi itu siapa, Rud? Enggak tahu gua, Bro. Akhirnya gua punya insting nih. Ini orang kalau ditampilin di podcast gua pasti meledak. Pertama lu nolak ya? Iya. Lu tahu enggak dia ditonton? Lu kagak ada yang nonton, Pak. Lu siapa gue gitu ya. Tapi gua punya insting, Pak. Iya iya. Jadi begitu gue akhirnya dia mau. Lu kagak ada yang nonton. Enggak, dia 450.000 gitu ya. Dari sebenarnya Pak Ferry itu bukan orang yang tidak dikenal tapi dulu. Detail. Tahun 2000 sampai 2010 I was the star in the in the capital market. Di capital market. Pernah jadi apa? Trader terbaik? Enggak, the most popular analis, ya kan, and I was the only economist interviewed by the Washington Post. Ya kan? Ya jadi boleh dibilang at the time it was my golden time. Mobilnya sport car. Mobil sport car. Sekarang di mana, Bos? Sekarang naik ojek. Sekarang dia waktu ke studio gua pertama dia gojek, nyasar-nyasar lagi ya. Oke Mas. Akhirnya pernah nyangka akan menjadi begini. Ferry berapa podcast undangan? Bisa lima, lima podcast ya. Eh sangat padat sekali apalagi terkait dengan masalah pasar modal ya dengan dolar. Ya itu because they they believe gitu. I am an economist. I can tell them gitu loh. Dulu dia dianggap gila lah ngomongnya sembarangan, dolar bisa Rp20.000, IHSG 5.000. Ternyata benar. Jadi ekonom atau dukun sih sebenarnya? Keduanya dua-duanya. Paranormal. Ada paranormalnya gitu. Ada juga. Pake menyan, Bro.
[2:33]Sama dikit botol. Heeh, dikit botol. Air kata-kata gitu. Air hati. Air hati. Kita punya pernah punya program sama Coach Justin. Oke. Yang diksinya juga membodohin orang gitu. Sayang dia bilang nyerah. Kita ngomongin kan apa? Hutten Burger Menir ya? Iya gue dulu Hutten Burger Menir. Ya pengalaman kita di Belanda dulu waktu kuliah. Karena beliau dari Belanda dan Justin juga dari Belanda. Tapi dia benar loh. Dia bilang, "Bos, gua berhenti, Bos." Kenapa? "Enggak sesuai dengan personal branding gua." Gua takut orang bingung.
[3:09]Gua takut orang. Sekarang aja bingung. Pak, apa, Pak Ferry ya Bro Ferry, lu kalau udah enggak ada, bukan ngebayangin ya, lu mau dikenang sebagai apa sih? Ekonom kah, trader kah, provokator kah apa sih? Enggak ya, gua sebagai ekonom kan gua konsisten kalau ngomong masalah ekonomi ya, Bos ya. Ya kan gua enggak pernah ngomongin politik, kayak gua enggak ngomongin sosial ya. Kemarin juga ada yang mau maksa ke arah sana gua bilang enggak di TV kan ya. Ya memang trek gua itu ekonomis gitu loh ya kan. Sekolahnya juga S3 gitu loh ya kan. That's it gitu loh. Ya gua sekolah ekonomi, gua sekolah ekonometri sebetulnya. Hmm gitu ya? Dulu pernah kerja membantu beberapa apa? Ya, Chief Economic di BI dan Areksa. MNC Chief Economic Dulu Areksa ketemu Purbaya ya? Sama Purbaya waktu itu. Ya iya ya iya. Satu angkatan? Saya kurang lebih satu angkatan. Pernah satu tim? Ya satu tim dan. So you know him well? I know him very well. Baik, itu simpan dulu. Eh Pak Ferry ya. Jadi Bro Ferry sekarang kita lihat ya bahwa Dolar udah menyentuh Rp18.000. Ini angka psikologis nih ya. Yes, betul. Ya terus kemudian IHSG makin turun. Saya cuma mau nanya aja, saya enggak perlu ke mana-mana. Apa yang harus dilakukan untuk melakukan penyelamatan? Gini, komplainnya, komplainnya para investor di Indonesia kan tadi sampai sempat juga muncul ya di beberapa di YouTube juga, Cell Indonesia gitu kan ya. Cell Indonesia, jual Indonesia. Siapa ngomong gitu? Itu Investment Bank ya kan di salah satu Big House kalau enggak salah JP Morgan atau di mana ya kan yang mengatakan Cell Indonesia. JP Morgan. Kalau enggak salah ya, bisa dicek nanti. Apa artinya? Artinya ya jangan masuk Indonesia. Dan kalau ada di Indonesia your investment keluar. Jual aja? Jual aja. Itu kan yang membuat dolar makin naik? Oh iya iya. Kebutuhan orang akan dolar. Iya. Yang ditukar dari rupiah ke dolar makin naik. Iya. Gitu. Jadi orang asing terutama keluar ini sudah puluhan triliun ya dari pasar obligasi. Kalau enggak salah 30 triliun, dari pasar saham kalau enggak salah 50 triliun, total 80 triliun ya kan ya. Nah sekarang porsi asing tinggal dikit 12, 12,5% di SBN kita ya. Dan ada potensi mereka juga keluar-keluar lagi sehingga pressure on rupiah juga semakin tinggi gitu kan ya. Karena yield daripada obligasi dua negara ini berbeda ya. Kita cuma SBN di bawah 7% sementara di sana treasurytionnya sudah 4,5%. Gapnya jauh ya. Karena rating kita kan jauh sama Amerika ya ada risk premium di atasnya. Itu enggak menarik untuk asing. Nah kesalahan daripada pemerintah terutama Purbaya adalah menekan SBN ke bawah untuk menstabilkan, justru itu salah. Seharusnya dinaikkan ke atas supaya mereka tertarik untuk masuk ke Indonesia. Kan kalau suku bunga rendah kan enggak menarik ya kan, atau yield-nya. Jadi harus kasih sweetener? Harus iya, harus. Melebihi daripada negara-negara saingan kita. Ya misalnya BI kemarin menaikkan suku bunganya BI Rate 50 basis poin tapi enggak ditengok karena sekarang masalahnya begini. The point is this, bukan masalah fundamental lagi ya. Ini sudah masalah psikologis. Iya. Jadi psikologis itu gini, ada dalam namanya di dalam Behavioral Economic ya. Itu yang disebut ya, behavioral orang itu ditentukan oleh persepsi dan ekspektasi ya kan. Nah itu salah satunya adalah Robert Schiller ya di dalam Irrational Exuberance ya.
[6:11]Nah ini behavioral, behavioral economics ini bermain di tataran psikologis. Jadi bukan di tataran kognitif ya kan. Secara fundamental mungkin Indonesia tidak jelek ya kan ya, bisa tumbuh 5% saya percaya. Kan enggak, enggak bad dong. Tapi masalahnya ekspektasi bahwa ekonomi ini akan rusak dengan kebijakan-kebijakan yang ada, mereka ya tetap aja keep buying Dolar. Nah itulah. Jadi sesuatu yang boleh dibilang irasional ya, sesuai dengan ekspektasi mereka. Kan kalau Purbaya kan fundamental kita kuat, enggak usah khawatir, nanti dolar balik lagi. itulah the point. Sekarang sudah bergeser dari masalah fundamental ke psikologis level. Karena banyak sekali pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang boleh dibilang anti market ya. Misalnya adalah PTPDSI. Ya kan itu anti market ya kan. Dia pengen menjadi penengah antara eksportir dengan buyers ya kan dan makanya China bilang, kalau gitu enggak akan deal sama Indonesia gua beli batu bara dari dari orang lain. Begitu juga eksportir. Wah, kalau gitu nih, ini jangan-jangan nih kan yang namanya satu badan itu tidak terlepas dari corporate governance and moral hazard. Yes. Ya kan? Kalau terjadi moral hazard, misalnya you are exporter, ya aku orang SD bisa bilang, "Heh Bung Helmy, mau bayar gua berapa?" Kan bisa terjadi. Nah ini kan masalah trust jadinya ya kan. Lantas dikeluarkan lagi holding ya dari dana reksa yang katanya boleh minta duit dari APBN tapi dia sendiri enggak setor dividen. Kan ini semua masalah kebijakan yang boleh dibilang di ekonomis makanya mengatakan, ini kan ada buktinya bukan ngomong saya ya, bukan ngomong gue ya. Ekonomis bilang Prabowo is endangering our economy itu adalah bukan kita yang ngomong. Ya kan? Bisa dilihat ya, itu the Economist bilang. Tapi Purbaya menyambutnya apa? Ini mah bego. Harusnya you must not do it. You are a main Q loh. Ya, unless you talk it in the warung, warung kopi. Ya kan? Tapi kalau in front of the public kan enggak pantas ya. Pejabat publik. Pejabat publik ya dengan bahasa yang boleh dibilang ya bahasa yang jorok lah gitu ya. Nah ini membuat investor kabur, Bos. Karena apa dia bilang? Wah, ini kok running the, running the government, running the economy like this gitu kan ya. Wah, dan setiap hari regulasi bisa berubah. Ya kemarin misalnya ya, tahu-tahu UMKM atau CV dikenakan pajak 22% ya kan ya. Lantas kalau enggak salah kemarin juga royalty semua dinaikin lagi ya kan. Bahkan kemarin juga saking paniknya EV ya kan, electric vehicle ya kan ya. Mau dikenain pajak. Ini bagaimana sih your commitment ya.
[8:37]Bahkan China sampai mengeluarkan surat cinta loh, Bos, gara-gara investmentnya. Kadinnnya. Kadinnnya ya kan ya. Ya gara-gara investment dia mampus ya. Nickel Smelting Nickel di Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara itu kan ya. Dan itu jarang sekali, Bos. Yang namanya China diplomasi China, you know lah ya. Orang China kan sangat prudent, hati-hati gitu. Enggak mau musuhan gitu kan ya. Enggak mau ada friction lah ya. Karena mereka berpikir long term kan. Beda sama Barat apalagi si Trump kan. Hajar kiri, hajar kanan gitu kan ya. Kalau China mah yang penting cuan ya. Yang penting sama-sama cuan. Cuan, ya. Gitu loh. Kalau sampai China mengeluarkan statement kayak gitu, itu kan tandanya udah ke ubun-ubun, Bos. Ya kan ya. Nah artinya apa? The problem is not in the di dalam infrastruktur, tapi di dalam suprastruktur, Bos. Ya kan? Regulasi, birokrasi, ya kan? Rule of law yang dibilang enggak ada ya kan ya. Security ya kan? Ini semua kan enggak ada, ini, ini measurement-nya kualitatif semua. Ya, kualitatif semua. Kualitatif semua gitu loh ya kan. Siapa yang mau masuk ke Indonesia dengan kondisi seperti ini? Apalagi demokrasi you must not forget. Yang namanya demokrasi itu, Bos ya kan political system ya, itu sebetulnya pisau bermata dua. Di satu sisi memang itu istilahnya ini forum untuk memilih the best leader gitu kan ya. Tapi di lain forum juga kalau tiap 5 tahun ini leader ganti, FDI itu malas loh. Karena you never know the next leader. Ya mau bikin apa? Will the world gitu kan ya. Ya ini ini makanya pisau bermata dua. Kenapa zaman Soeharto kita berhasil dalam 6,5% selama 32 tahun? Karena everyone FDI yang datang kemarin dia dia tahu, ini enggak akan diganti besok. Berarti regulasi enggak akan change everyday gitu. Oh, oke, oke, oke. Ya. Mereka lebih merasa feel at home ya dengan istilahnya ya tangan besi walaupun dianggap tidak demokratis. Walaupun dianggap tidak demokratis, tapi buat orang asing yang masuk kemari, mereka merasa secure gitu kan ya. Ada kepastian bahwa besok dia tidak pergi. Kan yang namanya FDI kan sedikitnya 50 tahun, 100 tahun kan begitu. Celakanya negara-negara yang maju sekarang yang enggak terlalu demokrasi lah ya. Ya basically ya, istilahnya China ya kan, Vietnam. Iya gitu kan yang tidak demokratis ya kan sama sekali. Karena mereka investor datang ke sana merasa secure bahwa this guy will stay forever gitu loh. Kepastian hukum. Kepastian hukum. Itu menjadi apa? Challenge yang luar biasa ya. Luar biasa. Enggak ada yang mau ya kalau kita ada di dispute di dalam bisnis enggak ada kepastian bagaimana? Gimana ya? Orang udah rancang-rancang dipikirin tahu-tahu berubah gitu. Iya kan? Tahu-tahu berubah semuanya. Dan ini yang menjadi kendala kenapa tadi sampai saking parahnya itu gila loh. Belum pernah dalam sejarah kita sejak merdeka atau sejak reformasi yang namanya Cell Indonesia. And one year ago, even one year ago I told everyone, Indonesia will be avoided. Atau Bos, yang gua bilang tuh dari tahun lalu baru ini hari keluar, Bos. Termasuk exchange rate gua bilang Rp17.000 sekarang Rp18.000. Termasuk rating kita yang di-downgrade gua 8 bulan yang lalu gua bilang, ya, ya akhirnya di-downgrade. IHSG jeblok ya kan? Saya follow, saya follow. Ya kan? Itu semua terjadi gitu. Kenapa orang-orang kadang karena tadi you told me, karena dukun atau apa? Enggak. Selama 40 tahun di karier lu sebagai seorang ekonom, pasti you must have a sort of instinct. Insting. Heh. Jadi enggak perlu kita bikin equation, mathematical equation yang canggih-canggih, vision time series analysis. Enggak, lu begitu ngelihat numbers, ya lu tahu suaranya. Ini bakal jebol nih, Bos, market. Simple, because of what? Because of your experience. Ya, ya, ya. Samalah ya semua kan. Makanya experience. Jadi experience counts. Experience counts. Experience counts. Tapi bukankah melihat banyak ekonom senior jadi stay silent sekarang ya? Karena udah tidak tajam, suka salah karena sekarang ada AI, Bos. Di sementara trader-trader muda ini pakai AI gitu. How do you see that? Enggak, AI juga limited ya sebetulnya untuk melihat ke depan ya kan? Karena dia kan mendapatkan info dari apa yang pernah terjadi ya kan? Tapi untuk outlook ke depan, behavior ini kan susah diramal. Tetap diperlukan insting, dukun gitu. Tetap insting. Iya. Jadi enggak bisa nanya AI bahkan kadang-kadang salah kalau nanya AI. Enggak, AI itu is not perfect gitu loh. Ya kan? To a great extent it is you can count on it. Oke. Gitu loh, tapi it is not perfect. Jadi tetap diperlukan satu ya, pengalaman ya. Pengalaman. Wisdom gitu, insting. Insting tadi itu. Nah insting ini dalam matematik tuh semacam fuzzy logic. Yang mengontrol air condition, mengontrol sensor itu fuzzy logic. Iya. Itu insting gitu manusia. Iya. That's what you have. Iya. Itu otomatis kalau there's something you you smell something wrong, insting itu jalan langsung. Ya kayak air condition lah ya. Dia nyala sendiri pada temperatur tertentu gitu kan. Bos, gua nanya aja, you are a human. Pernah salah prediksi ya? Ya kalau salah prediksi sih pasti ya in my lifetime ya. Tapi rasanya sih jarang. Hmm. Karena when I was a student, I was basically my basic is in math ya. matematik ya. Jadi kita deal with equation with numbers with mathematical models yang di situ pun sebetulnya I got the instinct ya kan. Cuman sekarang I don't need it again ya. The instinct jalan sendiri itu. Ya karena pengalaman bikin modelnya. Pasti lah itu memang itu hard training ya pada waktu itu ya. Kita bikin ramalan mengenai misalnya dengan Lia pun of exponent dengan chaos theory ya, meramal satu exchange rate. Wah, ini ternyata cuma seminggu bisanya nih. Lebih dari seminggu udah ngaco nih model ini gitu kan. Kita mesti robah lagi parameters-nya, simulasi lagi gitu. Nah itu memberikan kita insting akhirnya. Terus lu latih terus ya Bos ya? Oh itu latihan terus, Bos. Apa yang lu, apa yang lu pakai? Yang dipakai ya. Analisis, model, analisis, mathematical equation, structural equation semuanya itu basic-nya gitu loh. Tanpa basic logic itu enggak akan mungkin ini insting kita jalan. Enggak takut dengan kemajuan AI ke depan? Enggak takut, because ya gini, biar bagaimana AI enggak bisa menandingi tadi yang disebut logical kita gitu loh ya. Insting kita, experience kita gitu kan ya. Walaupun AI I can tell you everything tapi it is not perfect. Especially untuk looking forward. Bro, ini satu pertanyaan. Sorry kalau agak nyimpang gitu. Packaging lu kan enggak ekonom banget gitu loh. Iya. Pernah pakai kacamata orange gitu. Kaki diinjak. Pakai jeans sempit gitu kayak gini. Punya podcast, salam metal, rocker gitu. Itu ini ada unsur personal branding yang how to be different? Enggak, enggak, memang begini. Jadi I tell you two hal yang berbeda nih. Jadi gini, memang dari dulu tuh when I was also Chief Economist di BI ya orang-orang pakai ya rapi lah pakai-pakaian dan segala macam ya gua pakai kaos oblong, pakai celana jeans ya. Pakai jeans ya. Karena apa? They know me as such. Market tahu gua tuh seperti itu. Kan waktu itu Metro TV baru buka gitu ya. I tell you sedikit ya. Satu TV lah baru buka minta gua sebagai market review gitu tampil. Dia bilang lu pakai jas yang bagus. Jangan, kalau lu rubah you change you change me nanti enggak ada yang kenalin gue gitu loh ya. Justru ini bukan. Jadi lu ngerti banget ilmu personal branding ya? Diferensiasi. Iya, this is my personal. You have bukan you have to be different ya, memang I am different gitu loh. Iya kan? Kan orang bisa, kan orang suka bikin gini ya, ya kan. Memang I am different gitu loh. Ya. My boss pada waktu itu orang Singapore ya. Itu Henry Ho. Boss dulu kerjanya di mana? waktu itu di BI. Oh di BI ya. Itu orang Singapore ya. Henry Ho. ya kan? Yang namanya tema saya kan harus pakai pakaian rapi. Wah, dulu dia dia bingung kan lihat gua kayak begini pakaian gitu kan? Gua chief economist di Alco. Gua sejajar sama dia. Dia di BOD ya kan? Terus dia pikir, gua bilang gini Henry, you come along with me. We have an event in Surabaya. Ya kan ya. Dia datang kan dia ikut ke Surabaya, Bos. 300 yang hadir. Gua datang pakai kaos oblong pakai jeans. Gua bilang gini, "Peace." gitu kan. Dia kaget ya kan? Dia panggil dan they stayed di sana to my audience sampai jam 11 malam. Henry kan ngelihat. Sampai dia bilang, "Don't change the color of your hair." Kayak lagu don't go change. Iya kan? This is my ini ya selling point ya, personal branding gitu. Iya. Ada selling point. Selling point.
[16:43]Jadi kalau misalnya lu digaji tinggi nih, Bos. 1 miliar sebulan gitu. Tapi harus pakai jas C, pakai jas, pakai pantofel. It's not me salah, it's not me. Jadi salah kalau ada orang mau gaji gua. Lu kalau dirubah gitu packaging-nya, pemikirannya jadi berubah juga. Iya itu itu matters. Itu berpengaruh loh. Lu percaya enggak? Lu percaya enggak? Mungkin your experience juga ya. Iya. Begitu lu berubah pakaian lu. Jadi bukan lu. Bukan lu, someone else. Otomatis kan lu mengganggu ini lu ya, apa? In lu. Mungkin pede juga jadi berkurang ya? Pede juga jadi berkurang. Benar lu, benar itu benar. Dan sebagian otak lu lebih mikirin kenapa gua tampil begini. Iya benar jadi terganggu. Heeh, jadi terganggu itu. Iya. Kemarin ada ngundang podcast harus dirubah penampilan. Enggak ya? Enggak, enggak ada karena this is my selling point gitu loh ya kan begini. Selling point. Dia pernah ke studio gua pertama, udah nyasar. Dia. Ferry Latuhihin. A star is born. Gua dulu sering rapid question ya. Menurut lu ya. Suruh milih Purbaya atau Hati Basri? Gini ya, dua-duanya gua kenal lah ya. Purbaya, Hati Basri ya. Ya tentu kalau gua jawab pasti Hati Basri, ya kan. Hati Basri studinya linear ya kan? Dari awal ekonomi sampai dia S3 sampai dia ke Harvard sampai ekonomi ya kan? Purbaya itu non linear. Bukan berarti gua bilang non linear bukan berarti dia bodoh. Karena kalau non linear itu basic-nya enggak kuat, Bos. Ya kan? Dia kan awalnya ITB ya. Elektro. Elektro malahan gitu kan. Terus ngambil master and PhD-nya di Perju kalau enggak salah. Waduh. Perdu Universitas ya. Nah itu jarang ya orang yang non linear itu bisa menguasai masalah. Karena ekonomi itu kan dibilang the small science ya kan ya. Yang artinya tuh istilahnya gini sangat luas sekali dan itu kan akarnya sebetulnya dari Adam Smith punya philosof ya kan yaitu the moral sentiment ya kan. Ini akarnya aja udah filsafat gitu loh ya. Bahwa tukang roti bikin dia bikin roti buat lu tuh bukan karena dia masalah moral dia tapi dengan bikin roti untuk lu dapat untung kan gitu. Itu moral sentiment namanya ya. Jadi for the for the benefit of all lah gitu kan. Tanpa tukang roti juga kan lapar kan gitu ya. Nah jadi di situ yang mis bagi Purbaya. Makanya kebijakan-kebijakannya aneh pada saat 2735 triliun diambil saldo dari BI ditambahin lagi likuiditas. Gimana it doesn't work lah orang lagi banjir kok lu tambahin air kan gitu. Dan tidak masuk ke sektor riil. Enggak, enggak malah orang kalau sektor riil aja yang ditawarin enggak mau. Kan gitu. Ya kan bank-bank nawarin dong ya Bos, Bos lu ngambil 2 bulan ajalah enggak 50. Loh gua enggak ada project bagaimana sih? Akhirnya sama bank dibeliin lagi sama SBN. Ya kan lucu. Balik lagi. Balik lagi. Dia pikir makanya terbalik-balik gitu. Purbaya SMI. SMI lah ya kan? SMI kan to a great extent punya experience bertahun-tahun ya dari zaman SBY sampai zaman Jokowi sampai sebagian zaman Prabowo. Ya istilahnya based on experience ya SMI jauh lebih lebih juga lebih humble ya kan diplomasinya sopan ya kan? Enggak bilang bego ya kan? Enggak bilang saham. Ya ini kan enggak boleh yang namanya Menko ya. Maaf ya Pak Menko ya. Maaf Pak Presiden kasih tahu Menko Anda, ini enggak pantas dilakukan oleh seorang Menko. Saham, lantas waduh bego lah. Aduh, ini kata-kata yang tidak pantas dan tidak memiliki nilai intelektualitas sama sekali gitu loh ya. Jadi orang kan curiga, Bos ya kan? Ini kok benar apa enggak sih ya kan? Kembali lagi sekarang bagaimana dia check up sekarang dia salahin bahwa dia memberikan ini apa? salah satu masukan dia ketangkapnya Kepala BGN Adan Hidayana kan? Dia klaim itu kan. supaya dapat kredit poin ya bahwa itu juga memang dia dia kan tapi kan sebetulnya pada waktu itu juga dia tujuannya adalah untuk men-check up consumption ya kan? memberikan ruang yang begitu besar beli motor lah ya kan? beli pick up lah ya kan ya. Nah ini juga curang dia sebetulnya dalam kasus itu ya. Begitu ketangkap si dia dia bilang ya itu masukan kita. Padahal dia juga perlu si dia dan untuk men-check up tadi consumption tadi. Maka kita lihat bagaimana 5,61%. Di government spending ya. Ya di government spending kan tumbuhnya sampai 22% ya kan sehingga pertumbuhan kita bisa 5,61%. Heeh. Itu juga curang ya. Nah sekarang dia coba menyalahkan Perri Wajiyo, BI, BI. Padahal kan kasihan Ferri loh. Ini boroknya kan ada di fiskal bukan di money. Moneter itu enggak bisa berbuat apa. Moneter kan tugasnya cuma naikin suku bunga pada saat overheating ya kan. Nurunin suku bunga pada saat slow demand. Enggak ada yang ini kok disuruh intervensi-intervensi kalau memang Perri bilang, "Duit cadangan devisa lu habis loh." Jadi Purbaya seolah-olah mendiskreditkan Perri Wajiyo untuk melempar dosanya. Dan syukur-syukur dia dipindahkan ke tempatnya Perri Wajiyo. Ada isunya enggak? Ada isunya. Memang dia ngincar posisi itu. Oke. Ya kalau dia memang mampu enggak apa-apa. Ini masalahnya kan dia kagak punya dasar yang kuat. Udah dapat. Kemarin saya dapat kiriman juga lah kalau Purbaya apa dipindah atau Purbaya mundur gitu ya. Dan kemudian berseliweranlah berapa nama kandidat. Hati Basri, Bambang Brojo, ya, Suhasil gitu. Iya tapi oke. Mau siapapun juga di di menjadi Menko tapi tidak memindah memindahkan Purbaya ke BI. Kan dia tidak punya basic sama sekali. Sekarang tugas BI itu apa sih kalau memang dia jadi gubernur dia mau ngapain memperbaiki rupiah? Ya kan? Naikin suku bunga enggak mungkin, Bos. Ya kan? Naikin suku bunga pun mau berapa persen enggak dimakan. Karena problemnya adalah trust jadi distrus ya kan? Dia mau intervensi cadangan devisa habis, Bos. Tapi dia merasa prestise kalau dia jadi gubernur BI. Jadi Pak Presiden please jangan pindahkan dia. Kalau seandainya Menko harus diganti, jangan pindahkan dia menjadi gubernur BI. Karena dia tidak punya kapasitas dan pengalaman sama sekali. Gua potong nih, Bos. Ini ada satu tadi gua baru bikin konten. Lu tahu enggak? Ada tiga Ferry sekarang yang mau warnai dunia sosmed dan pendapatnya, wah gimana? Satu Ferry Latuhihin. Nomor dua Ferry Irwandi. Nomor tiga Ferry Amasari. Ditambah satunya pakai Ferri Wahyu. Ferry Latuhihin. Ini waktunya Ferri lah ini ya. Ferry Koma. Ferry Koma. Ferry Wahyu. Ferry Koma juga Pake B dong. Itu Ferry Koma. Itu lagunya. Ini Ferry semua. Ditunjukin umurnya aja ini. Siapa Bos? Siapa Fansnya itu dulu ya? Ferry Koma, ya. Oke, kalau dari yang diumumkan akan menjadi Menteri Keuangan berikutnya menurut, ya gue sih bilang begini. Enggak, tadi ya banyak rumor mengenai Dede. Dede, Dede pantas. Dede pantas. Kan udah pulang katanya dari Amerika ya. Iya tapi gua bilang juga ya sama Raden sama kakaknya Raden Padede sama Dani juga ya kakaknya Dede, Dani Basri, ya kan Dani Basri. Gua bilang kalau si Dede mau ya kan harus pakai ini syarat. Ya kan? Gua mau jadi Menko tapi ya gua pengen ini begini, ini begini misalnya MBG dihapus ya kan? KMP dihapus, dan Tarra dibekukan dulu ya kan? And so on and so on. Purbaya ini jangan dikirim ke BI. Karena nanti menyusahkan gua gitu kan. Jadi enggak nerima begitu saja.
[24:03]Gua yakin Dede juga akan mempertimbangkan itu gitu loh. Ya kan dia kan pintar, enggak enggak ini. Iya, enggak mau lah gua juga kalau dikasih tugas kan harus ada syaratnya dong, Bos ya kan? Enggak bisa begitu aja kan? Kalau enggak ya gua enggak bisa menjalankan tugas gue. You can imagine you are a Menko. Ya you don't stop MBG yang ngerong-ngerong APBN. They put the blame on you loh. Enggak ada apa-apa. Ya kan? Kan you are kasirnya negara. Ya kan? Kalau allowing such a project sih kan gitu. Bos, Bro Ferry itu selalu analisisnya kan selalu yang diomongin yang utama kan dua dong. Dolar, kurs Dolar sama IHSG. Apakah itu masih tepat dalam situasi geopolitik kayak sekarang di mana terjadi tren dedolarisasi gitu? Gini, itu sih enggak ada urusan sama dedolarisasi sebenarnya. Kita nanti kita ngomongin dedolarisasi ya. Nah, tapi sekarang masalahnya adalah ya kalau kita ngomongin IHSG dan Dolar ya kan? Jangan ngomong ekonomi kita fundamental kuat. Ya fundamental ekonomi kuat itu, ya itu ada cerminnya di dalam karansi kita. Ya kan? Kalau karansi kita melorot-melorot, ya kan? Artinya kan itu cermin daripada ekonomi yang tidak kuat gitu loh ya.
[25:16]Begitu juga apalagi yang namanya indeks saham, ya kan? Orang main saham kan based on expectation, ya kan? Expectation-nya apa? Ekonomi bakal booming gitu. Oke. Ya company bakal booming, bayar dividen besar ya kan? Tapi kalau they sell and sell, sell off, sell off everyday berarti kan dia tidak percaya kepada ekonomi kita. Kan begitu. Jadi ini masalah trust, Bos gitu loh ya. Dan sering kali dikait-kaitkan ya kita sudah berhasil melakukan pembayaran atau transaction dalam mata uang lain bukan Dolar. Jadi dedolarisasi kan ya? Ya utang kita memang dalam apa? Utang kita kan dalam dolar ya kan? Kemarin juga ngeluncurin Panda Bond dan apa bond lain ya. Juga kan enggak gede ya kan? Tapi most of udah udah debt itu 225 miliar, 220 miliar milik negara, 220 miliar milik swasta. Itu in term of dollar gitu loh. Dan tahun ini kita akan keluar 1.400 triliun untuk bayar utang dan bunga ya. Dan utang bunganya sama ini sama nambal defisit, 550 sampai 600 triliun itu untuk defisit ya. Artinya makin sedikit yang kita bisa spending ya. Iya, makanya kan gua bilang begini, Bos, ya kan? Jangan dipakai ukurannya itu dead to GDP ratio. Bayar utang kan tidak pakai GDP. Bayar utang kan pakai pajak. Heeh. Fiskal. Iya, yang yang harus dilihat adalah dead service ratio, ya. Berapa besar pembayaran utang kita terhadap penerimaan pajak kita. Kan begitu, sama kayak kita company lah ya. Kita punya utang berapa ya kan? Kita punya revenue berapa? Kan gitu ya. Sampai net income berapa? Kan gitu. Itu kan yang paling matters ya kan? Untuk bisa membayar utang dan bunganya. Oke. Bukan GDP gitu kan ya. Nah ini kan udah di atas 15% menurut rating agencies. Gua malah hitung-hitungan di atas 24%. Ada tergantung formulanya yang dipakai ya. Ada ekonom lain bilang 44%. Kalau enggak salah Hati Basri juga kayak begitu. Tapi kalau formula yang gua pakai itu cuma 24%, 22%. Dan itupun udah bahaya. Karena di atas 15% mereka sudah kasih lampu kuning gitu loh. Alarm. Nah, makanya gua ngerejainnya buat kenapa gua masih berani ngeramal bahwa dolar ini bisa ke Rp22.000 bahkan ke Rp25.000 itu karena ada kemungkinan dari rating kita di-downgrade. Kemarin ada satu yang gua juga kaget bahwa turunnya FDI ya, foreign direct investment ke Indonesia itu karena indeks persepsi korupsi kita juga makin turun. Itu kan berhubungan banget. Iya. How can I trust you gitu untuk taruh money? Dan ini sekarang menurut saya ada gerakan yang cukup apa, mengagetkan ya minggu ini ya bahwa ada BGN tiga tersangka. Kemudian ada juga apa, Silmi gitu ya, Woman gitu. Dan juga bea cukai juga lagi diacak-acak. Bukankah ini indikasi bahwa terjadi apa ya? Terjadi gerakan untuk betul-betul menegakkan anti korupsi yang mestinya berhubungan dengan akan kenaikan itu. Tapi kan lucu. Udah terbukti bahwa MBG itu adalah sarang korupsi. Kenapa enggak dibubarkan? Kalau memang punya niat baik untuk memberantas korupsi, bukan mengganti kepalanya.
[28:16]Ya kan? Bubarkan. Ya kan? Ini badan ini ya kan. Evaluasi dulu ulang ya kan. Seandainya mau diteruskan, pilih daerah-daerah tertinggal yang memang membutuhkan. Ya kan? Yang memang benar-benar urgent lah tadi. 3T misalnya ya kan? 3T bisa ya. Nah itu paling cuma butuh 5 sampai 10 T, Bos. Enggak 335 T. Makanya pada dari dulu dari tahun lalu pun gue kan nyap-nyap di mana-mana. Ini ini jadi bancakan dan terbukti kan jadi bancakan. Ini proyek bancakan, Bos. Ya kan? Gua udah lama ngomong. Orang, orang Pak, Pak, Pak masih pada takut ngomong kayak gitu, gua udah ngomong ini proyek, Pak. Nah gilanya lagi Rahmat Pambudi yang sekarang Menteri Bappenas, dia bilang MBG lebih penting dari lapangan kerja. Eh, my friend, otak lu terbalik. Di mana-mana government itu naik itu untuk menciptakan lapangan kerja bukan ngasih makan gratis. Betul enggak? Lu mau sosialis, lu mau liberal, lu mau kapitalis, yang penting buat rakyat satu, eh government ya, gua pilih lu nih, ciptakanlah lapangan kerja. Kan rakyat itu maunya begitu. Ya kan? Punya pekerjaan bukan punya makan gratis. Jadi dari awal paradigmanya pemerintah ini udah salah.
[29:19]Bos, gua tuh ngikutin banget ya. Zaman, there's one day gitu Malaysia itu menganggap Indonesia lebih maju. Zaman sana Najib dan kita Pak Jokowi periode pertama tuh. Karena mereka menghitung oh Indonesia tuh udah selesai dengan reformasi. Tinggal ngebangun. Malaysia belum tuh. Tapi tiba-tiba sekarang Malaysia ekonominya menguat luar biasa. Oh, keren. Ringgit tiba-tiba menjadi, oh iya. Kursi terkuat Asia.
[29:46]Di atas Yuan sekarang ya. Dengan apa ya yang menurut Bro Ferry gitu yang membuat Malaysia bisa kuat. Malaysia gini, masalah ekonomi ya. Masalah ekonomi tidak tidak terlepas dari masalah politik, Bos. Ya kan ya. Jadi kan itu mau demokrasi, mau apa Pilpres segala macam itu kan akan menciptakan elit-elit dalam politik gitu loh ya. Nah itu kita tidak lihat di Malaysia ada elit-elit politik yang memang kerjaannya mau nyolong gitu kan ya. Jadi mereka relative lebih stabil dan demokrasinya pun boleh dibilang termasuk bantai-bantaian di sana. Tapi zaman Najib kan habis-habisan juga, Bos. Iya pada waktu itu Najib ya. Nah inilah yang kita takutkan. Dan antara menjadi 1MDB. Itu kan zamannya Najib ya. 1MDB. Tapi itu boleh dibilang enggak separah di Indonesia. Makanya gua bilang tadi ya demokrasi ini pedang bermata dua. Di satu pihak ini adalah forum untuk memilih pemimpin terbaik. Tapi karena ada money politik kenapa yang akhirnya yang terpilih itu yang terburuk gitu loh. Ya kan? Bahkan menjadi ada bentukan elit-elit politik yang istilahnya begini. Demokrasi ini telah membuka pintu untuk sejuta maling mencapai kekuasaan. Dan itu terjadi loh, Bos. Bikin partai, Pak. Bukan hampir belasan apa kan? Itu kan tujuannya satu ya. Untuk membentuk istilahnya begini. Sekarang ini Belanda udah pergi nih. Kita kan kekayaan kita kekayaan alam, Bos. Iya. Betul enggak ya? Nah Belanda kan dulu datang kemari menguasai kekayaan alam kita ya. Begitu Belanda pergi, kekayaan alam ini jatuh ke tangan elit sampai sekarang loh. Dulu kan Pertamina kan dipegang sama Ibnu Sutomo. Ya kan? Iya, iya. Elit-elit politik kita lah ya. Sampai akhirnya tahun 73 pada saat harga minyak naik dari 3 dolar ke 12 dolar, Pertamina bangkrut. Meninggalkan 10 miliar dolar utang. Ya kan? Nah ini kan kembali lagi. Nah, balik lagi ke Malaysia. Malaysia itu enggak separah itu, Bos. Yang Malaysia makanya gua bilang sustain ya. Ya kan? lihat aja mana sih ada isu-isu yang. Salah satu tujuan investasi yang paling menarik. Paling menarik ya. Bahkan kita banyak juga pekerja kita ya dari Indonesia yang bekerja di ladang-ladang sawit mereka gitu kan ya. Karena lebih terjamin di sana dibandingkan di sini gitu kan. Saya enggak tahu masalah demokrasi. Pak Mahfud tuh pernah ngomong, Guys. Saya dengar dia bilang, sebenarnya demokrasi itu hanya cocok diaplikasi di negara yang penduduknya udah kaya dan pintar. Karena kan base suara terbanyak ini. Kalau selama miskin, suaranya bisa di dibeli. Betul ya, Bos? Ya itu dari Plato ya. Plato kan enggak suka dengan demokrasi. Oh iya. Ya kan? Iya Plato kan pengen jadi king philosopher yang memimpin negara.
[32:17]Gitu kan ya. Istilahnya memang orang-orang terpilih yang ya dengan intelektualitas yang tinggi ya. Kemampuan menalar yang tinggi itu preferable buat Plato gitu loh ya. Seorang filsuf zaman Yunani itu kan ya gurunya Sokrates dan gurunya Aristoteles gitu kan ya. Sokrates, Aristoteles.
[32:33]Nah kan kalau kita demokrasi kan gini, eh lu lapar ya lu ceban beli gua ya. Ya kan? Padahal ini yang nyogok monyet nih. Ya kan? Kayak gitu kan? Nah itulah buruknya demokrasi, Bos. Benar Pak Mahfud. Makanya syarat ada setiap setiap idealisme ada syaratnya. Idealisme demokrasi kan memilih pemimpin yang terbaik. Tapi syaratnya apa? Memang orangnya sudah mampu berpikir, Bos. Iya. Perutnya sudah kenyang gitu kan ya. Tapi untuk negara yang masih kita ini boleh dibilang kaing-kaing gitu loh. income kita kan cuma hidup dari Rp2 juta sampai Rp10 juta. Iya kan? Kaing-kaing lah ya. Dia dibikin demokrasi. Makanya kan gua bilang, gua nyesal juga sih ikut ngejatuhin Soeharto, mahasiswa gua kan mahasiswa gua kan ke DPR. Ternyata begitu kilas balik anjrit man. Enggak ada dia. Anjrit loh negara kita tuh enggak ada Soeharto. Sorry ya bukan pengen membela Soeharto ya gitu kan. Sampai nyata ini begini after he is gone ya. Kita lihat begini hancur-hancuran. Lihat di belakang apa trek-trek enak zaman gue tuh. Iya itu benar kan. Itu benar. Ini gini loh. He ternyata dia itu very brilliant ya. Walaupun orang bilang dia kan anak anak kampung ya. Bahkan sekolahan tinggi. SD, sekolah rakyat, SD ya kan. Itu tapi kalau kita lihat dia punya gesture ya, dia punya smile ya kan? Public speaking. Public speaking dia kan keren. Dan kabinetnya penuh dengan teknokrat. Teknnokrat. Bayangin loh. Dia tahu ya, ini bobrok. Begitu dia naik, dia pilih Wijoyo Nitisastro, Soeharto, Sumarlin, Radius Prawiro, Sutami. Habibie, Arifin Siregar. Ini kan semua orang-orang yang punya otak. Tapi begitu gua ngelihat kabinet ini anjing man. Gua enggak ada yang, maaf ya, gua bukan menghina ya. Enggak deh, gua kenal ini.
[34:23]Terus kenapa enggak sih?
[34:27]Tapi kita enggak bisa membalikkan jarum jam lagi. Enggak mungkin juga. Enggak mungkin. Tinggal kita bagaimana berpikir saat ini ya kan untuk memperbaiki ya problem-problem yang tadi puncaknya itu baru gua lihat Cell Indonesia. Aduh jarang loh, Bos. Iya. Bro, ini masih ada hope enggak kita ke depan? Harus dong, jangan kehilangan harapan. Hope itu ada pasti. Tergantung begini ya kan. You want to get a different result, don't do the same thing. Yes. Iya. Kalau you do the same thing, hasilnya akan sama juga. Iya kan? you expect different. You want to change the result, change the change. Yes. Change the people. Iya. Change the people, change the system. That's a good question. Ada kesempatannya. Rombak ini kabinet. Iya. Satu ya. Perkuat fiskal kita. Reshuffle the kabinet dengan orang-orang yang memang boleh dibilang credible and punya kapasitas. Ini kan di kabinet 108 menteri dengan wakil-wakilnya gua hampir enggak sama sekali enggak tahu loh, Bos. Ini parah apalagi asing. Dulu janjinya kan second kabinet. Ternyata kabinet ini ya. Second kabinet.
[35:31]Oke, Bro. Thank you banget. Oke, Bro. Thank you.
[35:36]Ya. Jadi kita berharap hari ini gua mancing dia untuk udah ngomong yang lain ajalah. Ngomong sesuatu yang lebih mencerahkan. Iya pasti. Ya tapi Pak Ferri, Prof Ferri itu memang memberitahu kita nih. Ya kadang-kadang dengan kalimatnya, dengan diksinya kadang-kadang. Untung gua temannya dia gitu. Thank you for coming. Thank you. Thank you. Thank you. Gua tahu lu sibuk ya. Haduh. Thank you. Thank you. Salam metal. Habis ini ke podcast lu juga. Iya. Jangan lupa nonton channel gue juga ya. Ferri Latuhihin. Itu FFF juga. Ada di YouTube juga. Lah lu dinyanyikan gue. Tenang lah. Berapa subscriber? Subscriber masih kecil, masih 16.000 tapi viewers sudah 150.000 dalam satu hari. Wow, udah berapa lama bikin? Baru 2 minggu. Berapa video? Baru 7, 8. 7, 8 video. Gila. Lumayan deh. Ada orang tua yang begitu. Kurang ajar. Jangan, dia akan jadi Rasputin ya. Tokoh spiritual lebih kepada spiritual nih. Bermain dengan intuisi. Intuisi. Intuisi gitu. Jangan anggap enteng itu. Jangan anggap enteng gitu. Itu supranatural juga gitu. Dan dia terkenal istilahnya kalau di WA, "Saya itu pokoknya dari kota sampai ke desa." Pokoknya kalimatnya semua begitu. Baik di kota-kota besar maupun di desa-desa. Kalau itu kalau orang mau ketemu gua bawa apa ke sana? Yang penting lu pakai celana. Nah itu memang diksi-diksinya seorang Ferri Latuhihin. Sama kalau dia maki stupid monkey. Thank you Bos. Thank you. Thank you. Thank you. Insatnya luar biasa ya. Thank you so much. Oke, Bro. Thank you banget. Thank you for coming. Tetaplah berpikir untuk memajukan Indonesia. Salam metal. Ya. Kita jumpa lagi dengan tamu hebat saya selanjutnya. Bye bye.



