Thumbnail for VESPER WORSHIP  | SDR.Deriel Syahriel | GMAHK Palem Semi | 1 MEI 2026 by GMAHK Palem Semi

VESPER WORSHIP | SDR.Deriel Syahriel | GMAHK Palem Semi | 1 MEI 2026

GMAHK Palem Semi

28m 29s2,009 words~11 min read
Auto-Generated

[4:24]Shalom, selamat Hari Sabat. Sekali lagi. Shalom, selamat Hari Sabat.

[4:34]Sebuah sukacita yang begitu indah kita boleh berkumpul kembali di malam hari ini di malam vesper membuka Sabat kita. Dan seperti yang juga sudah diumumkan di grup WhatsApp bahwa Sabat ini adalah Sabat yang istimewa karena Sabat ini adalah Sabat nubuat. Dan kita jemaat Palem Semi terberkati karena kita kedatangan pembicara yang datang dari Jawa Tengah yaitu dari Amazing Fact Indonesia bersama-sama dengan kita. Kami dari jemaat Palem Semi mengucapkan selamat datang dari tim Amazing Indonesia yang boleh datang bergabung beribadah bersama dengan umat Tuhan di Palem Semi. Baik, kita akan memulai rangkaian acara ibadah vesper kita, tapi sebelumnya saya mau ajak kita untuk sama-sama tundukkan kepala, kita mau sama-sama berdoa. Bapa kami yang bertata di dalam kerajaan surga, kami bersyukur kepada-Mu Tuhan karena kasih-Mu yang begitu besar bagi kami. Kami bersyukur Tuhan untuk hari Sabat, hari perhentian yang Tuhan telah berikan kepada kami, hari persekutuan yang indah, hari di mana kami boleh mengingat Engkau sebagai pencipta kami dan sebagai penebus kami. Mengawali dari rangkaian acara Sabat nubuat di Sabat hari ini kami rindu Tuhan menyerahkan hati kami ke dalam tangan-Mu. Biarlah Engkau berbicara kepada setiap kami dan juga setiap pendengar yang hadir lewat link live stream di YouTube. Biarlah kiranya momen ibadah malam hari ini boleh menjadi sebuah kebangunan rohani pribadi bagi masing-masing kami. Kami berdoa Tuhan menyerahkan ibadah kami di dalam nama Yesus Kristus juru selamat kami yang hidup, Haleluya. Amin. Baik, kita akan mengawali ibadah kita dengan kita sama-sama bangkit berdiri menyanyikan lagu Sion nomor 427. Ku perlu pada-Mu Tuhan. Mari kita sama-sama berdiri menyanyikan dengan penuh semangat.

[15:20]Shalom, selamat Sabat buat kita semua. Oke, pertama-tama saya mengucapkan syukur kepada Tuhan untuk kesempatan yang diberikan boleh berbicara di depan umat-umat Tuhan di jemaat Palem Semi. Dan sebelum kita memulai Firman Tuhan mari kita tunduk kepala sekali lagi kita berdoa. Maha besar Tuhan Bapa kami yang bertata dalam Kerajaan Surga. Terima kasih ya Tuhan di hari Sabat pembukaan-Mu ini Tuhan kami boleh datang kembali ke hadirat-Mu mengucap syukur untuk setiap berkat yang Engkau berikan kepada kami sepanjang enam hari kami bekerja kami hingga pada hari ini ya Tuhan. Dan pada malam hari ini kami rindu untuk membuka sedikit kepada Firman-Mu. Kiranya Engkau memberkati kami ya Tuhan. Bantu kami untuk dapat mengerti setiap Firman yang akan kami dengar. Dan secara khusus hamba-Mu berdoa kiranya Engkau memberkati hamba-Mu dengan hikmat dari surga ya Tuhan. Sembunyikan hamba-Mu di balik salib Kristus dan biarlah hanya Kristus dan kebenaran saja yang terlihat dan kami mendapatkan berkat yang berasal daripada surga. Terima kasih banyak Bapa. Kami serahkan pembelajaran Firman-Mu pada malam hari ini ke dalam tangan pengasihan-Mu karena kami berdoa di dalam nama Yesus Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. Oke sekali lagi saya mau ucapkan selamat Sabat buat kita semua. Dan saya juga mau mengucapkan selamat Sabat untuk Saudara-saudara yang mungkin menonton lewat live streaming. Dan sebelum kita mulai saya rindu untuk kita melihat sesuatu yang sangat penting Bapak Ibu, ya. Jadi ada sebuah gambaran yang sangat kita kenal kalau kita melihat saat ini. Bayangkan ada seseorang yang selama bertahun-tahun mengikuti ibadah, ya. Dia bertahun-tahun mengikuti ibadah. Setiap Sabat dia datang ke gereja, lalu kemudian dia duduk di bangku yang sama, lalu kemudian menyanyikan lagu yang sama, mendengarkan kotbah lalu kemudian pulang. Dan Sabat depan melakukan hal yang sama pula seperti yang dia lakukan setiap Sabatnya. Dia berdoa setiap hari, ia membaca Alkitab. Dan dari luar dia terlihat seperti orang yang benar-benar setia Bapak Ibu. Dan tetapi ketika kita duduk bersama dengan dia lalu kita bertanya kepada dia, apakah Anda benar-benar memiliki atau merasakan hadirat Tuhan? Mungkin orang ini menjawab pertanyaan itu dengan menggelengkan kepala dan kemudian dia katakan, mm, tidak. Dan saya mau katakan Bapak Ibu, apa yang saya sementara bicarakan ini bukanlah saya berbicara tentang orang yang jauh dari Tuhan. Saya enggak bicara tentang orang yang jauh dari Tuhan. Saya berbicara tentang orang yang terlalu terbiasa dengan Tuhan. Saya dikasih tema kita adalah kalau saya tidak salah dari rutinitas kepada kebangunan. Betul ya, Bapak Pendeta.

[17:51]Nah, di sini kita melihat bahwa banyak orang yang merasa terlalu terbiasa dengan Tuhan sampai dia tidak lagi benar-benar merasakan hadirat Tuhan itu sendiri ya. Iman yang pernah ada di mana dia berdenyut, perlahan berubah menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi sebuah rutinitas belaka saja. Dan menjadi sesuatu yang dilakukan secara otonomi atau otomatis Bapak Ibu, tanpa disadari dan tanpa kerinduan di dalam hatinya.

[18:18]Coba kita berpikir dan kita kembali flashback dalam kehidupan kita. Apakah kita sementara dalam kondisi seperti itu Bapak Ibu? Ya, dan yang menakutkan, banyak di antara kita ketika kita merasakan hal seperti ini, ya, kita tidak menyadarinya sampai krisis benar-benar datang dalam kehidupan kita. Dan hari ini Bapak Ibu, kita akan belajar dari sebuah peristiwa yang terjadi di sebuah kota kecil bernama Dotan, ya. Ini adalah kisah tentang perjalanan dari rutinitas menuju kebangunan yang terjadi pada waktu itu. Nah, saya mau melihat dulu melatarbelakangi cerita kita pada malam hari ini. Jadi ada Elisa, ya. Elisa Nabi ini, dia punya seorang hamba. Alkitab tidak pernah mengatakan siapa nama ini. Jadi ketika Alkitab tidak mengatakan siapa namanya, artinya orang ini tidak terhubung dalam konteks cerita. Dengan kata lain Bapak Ibu, orang ini, ya. Orang ini, kenapa Tuhan tidak menuliskan nama dari pada Abdi Allah ini, dia hanya disebut sebagai Abdi Allah. Dengan kata lain adalah agar kita dapat melihat hubungan orang ini dengan kehidupan kita Bapak Ibu. Itulah sebabnya kenapa di dalam Alkitab kita sering menemukan ada orang-orang tak bernama. Alasan kenapa dia tak bernama adalah supaya dia tidak terhubung dengan konteks cerita itu sehingga itu bisa diaplikasikan secara khusus dalam kehidupan kehidupan kita. Dia hanya disebut sebagai Abdi Allah yaitu pelayan Elisa. Nah, orang ini setiap hari dia bangun, lalu kemudian melayani Nabi Tuhan pada waktu itu. Menjalankan tugas-tugasnya, tidur dan keesokan harinya melakukan hal yang sama, rutinitas yang sama. Hari demi hari, minggu demi minggu, ia tinggal bersama dengan Elisa Bapak Ibu. Coba bayangkan baik-baik, ia melihat dari dekat bagaimana Elisa berdoa, bagaimana Elisa berbicara dengan Tuhan. Dan bagaimana Tuhan menjawab doa-doa dari pada Elisa. Ia adalah orang yang paling dekat dengan salah satu Nabi terbesar di dalam sejarah Israel Bapak Ibu. Tetapi saya mau katakan, pagi itu, ya, Alkitab katakan kepada kita dalam Dua Raja-raja 6 ayat 15. Kalau Bapak Ibu punya Alkitab, ya boleh dibuka di dalam Dua Raja-raja 6 ayat yang ke-15. Alkitab katakan kepada kita, ya, dalam Dua Raja-raja 6 ayat 15. Ketika pelayan Abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi keluar, perhatikan dia bangun pagi-pagi, lalu kemudian dia pergi keluar. Alkitab katakan maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu kata Alkitab. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya, celakalah Tuan, apakah yang akan ku perbuat? Pertanyaan Bapak Ibu. Ya, pertanyaan ini ketika dia katakan celakalah aku, apa yang aku perbuat? Pertanyaan ini mengungkapkan kepada kita sesuatu tentang orang ini. Bukan hanya tentang ketakutannya karena ketika dia melihat seluruh tentara ada ada di apa? Mengepung kota Dotan pada waktu itu. Tapi tentang kondisi kerohanian dari pada daripada hamba Elisa ini sendiri. Kenapa? Karena begini. Karena seseorang yang benar-benar mengenal Tuhan, yang punya ingatan rohani yang sangat kaya Bapak Ibu, yang punya kepekaan terhadap kehendak Tuhan. Maka dia tidak akan langsung menyimpulkan situasi yang dilihat oleh matanya dengan berkata celaka.

[22:04]Secepat dia melihat, seketika itu juga dia katakan celaka ya tanpa jeda Bapak Ibu. Tanpa doa dan tanpa mencari Tuhan terlebih dahulu. Dia enggak berdoa dulu kepada Tuhan, Tuhan bagaimana keadaan ini? Tidak. Dia langsung menyimpulkan situasi ini dengan berkata, celaka. Tapi pertanyaannya adalah kenapa dia menyimpulkan hal demikian Bapak Ibu? Kenapa dia sampai demikian? Karena selama ini dia menjalani hidupnya bersama Elisa secara otomatis. Ini tadi saya katakan, dia ini abdi Allah. Dia ini hidup duduk dekat dengan Elisa. Dia melihat segala sesuatu perbuatan Elisa. Tapi ketika dia melihat tentara sementara mengepung kota Dotan, hal pertama yang dia lakukan dia enggak berdoa, tapi dia bilang apa? Celaka. Apa yang aku perbuat? Kata dia. Dia melakukan demikian, Bu. Dia ada di dekat Nabi tapi dia tidak dekat dengan Tuhan. Ya, dia menjalankan rutinitas pelayanannya tapi tidak memiliki hubungan dengan Tuhan yang mempunyai pelayanan itu sendiri. Jadi Saudara, ini adalah bahaya yang sangat nyata. Kenapa? Karena iman yang otomatis, saya mau katakan, adalah iman yang bergerak tanpa kesadaran. Kita enggak benar-benar sadar. Kita bergerak, karena apa? Karena ini rutinitas. Karena kita melakukannya sebagai suatu autopilot yang sudah terbiasa. Ya kan? Itu seperti kalau kita mengemudi, ya, kita sudah tahu tuh jalannya, lewat sini, ke sana, kemari dan seterusnya. Ya, walaupun pikiran kita mungkin ke mana, kita tahu jalannya. Benar enggak? Seperti itu kehidupan Bapak Ibu. Ya, kita tiba di tujuan tapi kita tidak tahu bagaimana kita bisa sampai ke sana. Pernah enggak kita dalam kehidupan kita, kita kemudian kita melakukan sesuatu yang itu sudah biasa? Saya punya istri saya, ya. Saya punya istri. Jadi ketika saya keluar rumah, biasanya dia buka gerbang. Tapi terkadang dia yang buka gerbangnya, terkadang saya yang buka gerbangnya, Bapak Ibu.

[24:14]Padahal gerbangnya baru saja dia buka tadi pagi. Yang saya mau katakan itu autopilot Bapak Ibu. Kenapa? Tanpa disadari kita melakukan sesuatu karena ini sudah otomatis kita lakukan. Nah, ini yang terjadi pada pada hamba-Nya Elisa ini Bapak Ibu, ya. Seperti itulah rutinitas iman bekerja dalam kehidupan kita. Kita datang ke ibadah, ya, tapi pikiran kita sementara merencanakan apa yang akan ada di masa depan. Apa yang akan kita lakukan di minggu depan ya? Kita berdoa tapi kata-kata kita itu sudah dihafal.

[25:12]Ya, kita terbiasa dengan doa-doa umum yaitu apa? Tuhan berkatilah saya hari ini, bantu saya mengerti. Kita enggak spesifik, ya kan? Itu doa yang baik saya mau katakan, tapi tidak lahir dari pergumulan yang nyata. Kita enggak menyampaikan hal-hal yang benar-benar spesifik. Ketika Yesus di taman Getsemani, dia enggak katakan Tuhan berikan kekuatan kepada saya. Dia enggak katakan, Bapak berikan kepada saya. Dia bilang apa? Kalau boleh cawan ini lalu, ya, kecuali oleh kehendak-Mu jadilah demikian. Artinya apa? Dia tahu, dia merasa ketakutan Bapak Ibu, dan dia ceritakan hal itu. Nah, ini yang tidak terjadi pada kita. Kita enggak menceritakan secara spesifik kepada Tuhan, ya kan? Jadi doa, ya, doa kebangunan adalah doa yang jujur, ya kan? Doa yang jujur, dan yang ketiga Bapak Ibu, ini yang paling mendasar, doa ini mengakui bahwa kebangunan adalah anugerah. Bukan pencapaian. Perhatikan baik-baik. Elisa tidak berdoa, Tuhan, tolong hambaku agar dia bisa lebih berani. Elisa tidak katakan demikian. Yang dikatakan oleh Elisa adalah, buka matanya. Buka matanya. Doa ini mengandung pengakuan yang sangat mendasar, yaitu apa? Kemampuan untuk melihat secara rohani, Bapak Ibu. Itu adalah pemberian Tuhan. Itu pemberian Tuhan Bapak Ibu. Bukan hasil usaha manusia. Kita enggak bisa memaksakan diri kita sendiri untuk mengalami kebangunan. Ayo kebangun, ayo kita kebangunan. Ayo kita bangun sama-sama. Ayo kita kebangunan. Enggak bisa Bapak Ibu, ya. Kita tidak bisa mengusahakannya lebih lebih banyak dengan program-program. Saya mau katakan program itu baik. Tapi usaha itu akan menjadi percuma, Bapak Ibu. Program-program itu, lebih banyak disiplin mungkin kita lakukan, ya kan? Lebih banyak tekad. Kebangunan adalah anugerah, saya mau katakan. Dan seperti semua anugerah, maka itu harus diapain? Harus diminta.

[27:14]Inilah yang terjadi. Kita enggak pernah minta Bapak Ibu. Tidak heran Ellen White katakan kepada kita dalam Review Herald 22 Maret 1887. Dikatakan kepada kita, kebangunan rohani yang sejati di antara kita adalah yang terbesar dan yang paling mendesak dari segala kebutuhan kita. Jadi kebangunan rohani itu paling mendesak, katanya. Untuk mencapai hal inilah yang harus menjadi pekerjaan utama kita, katanya. Kebangunan hanya dapat diharapkan sebagai jawaban atas doa. Jadi kalau kita enggak berdoa, ya, meminta kepada Tuhan maka kita enggak akan pernah dapat kebangunan itu, Bapak Ibu.

[27:56]Jadi panggilan buat kita pada malam hari ini adalah, maukah kita meminta kepada Tuhan pada malam hari ini, Tuhan buka mata saya? Bantu saya untuk melihat realita yang tidak saya lihat. Kenapa Bapak Ibu? Sebagaimana judul saya katakan, ada yang tidak kita lihat. Yaitu apa? Hadirat Tuhan. Tapi itu semua tertutup oleh karena rutinitas yang kita lakukan dalam kehidupan kita. Itulah inti dari pada dari pada kebangunan itu sendiri.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript