[0:00]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam pemirsa. Anda menyaksikan program One on One bersama saya Vena Kintan. Konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah ketegangan antara Amerika Serikat, Israel versus Iran pecah. Dunia kini tengah menyoroti pemirsa kekuatan senjata antara kedua belah pihak. Siapakah yang paling unggul dan bagaimana dampaknya terhadap Indonesia dan juga stabilitas global? Malam hari ini program One on One mengundang mantan Kepala staf Angkatan Udara sekaligus Ketua Umum Pusat Studi Air Force Indonesia. Air Power Indonesia ada Marsekal TNI Purna Wirawan Chepi Hakim. Selamat malam Pak Chepi. Sehat Pak Chepi. Puji Tuhan alhamdulillah. Alhamdulillah sehat. Pak Chepi, kita tahu saat ini konflik tengah memanas antara kedua kubu, Amerika Serikat, Israel versus Iran. Tapi sebelum kita masuk ke konfliknya, kita ingin tahu terlebih dahulu dari Pak Chepi, sebetulnya apa sebetulnya kekuatan dari masing-masing ini, Pak? Ya, kita mulai mengupas Amerika dulu ya, nanti kita lihat bagaimana Iran Amerika dengan Israel dulu. Amerika di bawah pimpinan seorang presiden yang bernama Donald Trump ya. Donald Trump itu banyak analisis tentang Donald Trump itu dia dikatakan sebagai BI. Dia businessman, dia eratic dan dia one man show. Businessman itu terlihat sekali pada ketika dia dipilih pertama kali menjadi Presiden Amerika. Itu ditulis dalam buku yang ditulis oleh Bob Woodward. Bob Woodward menulis buku Trump in the White House. Di situ ditulis yang dikerjakan pertama kali oleh Donald Trump adalah dia melihat eee masalah-masalah apa yang dihadapi oleh Amerika yang membuat Amerika kesulitan finansial. Satu yang dia peroleh adalah perjanjian Koruss namanya, United States Korea Free Trade Agreement. Karena apa? Karena di Free Trade Agreement Amerika dengan Korea itu Amerika defisit miliaran dolar. Jadi dia bilang oke itu diberhentiin aja dibikin konsep untuk diberhentiin. distop maksudnya dihentikan. Dia enggak tahu ternyata di balik atau di bawah perjanjian itu di bawah Free Trade Agreement yang bernama Koruss itu ada top secret agreement antara Amerika dengan Korea. Oke. Antara Intelligence Amerika dengan Intelligence Korea. Apa itu? Perjanjian bahwa apabila ada ICBM Intercontinental Balistic Missiles peluru kendali antar benua dengan dengan kepala nuklir di diluncurkan dari Korea Utara itu 38 menit sudah meratakan Los Angeles. Padahal sistem pertahanan udara Amerika baru bisa mendetek itu 15 menit, terlambat sudah masuk US Territory. Sehingga dia memerlukan Korea untuk kasih tahu dong kalau Korea Utara meluncurkan Korea Selatan bisa memberi tahu 7 detik setelah Korea Utara meluncurkan. Oke. Ya. Itu adalah top secret agreement yang terbungkus dalam perjanjian Amerika Korea Free Trade Agreement. Jadi di dalamnya ada top secret agreement dan Presiden Donald Trump tidak tahu karena dia hanya melihat bahwa di dalam Free Trade Agreement itu dia atau Amerika defisit miliaran dolar. Itu dari sisi bisnis. Sekarang dari sisi eratic dan one man show itu banyak sekali ya, misalnya keputusan-keputusan dia mengusir transmigran. Kemudian keputusan dia Venezuela tanpa memberitahu Kongres dan sebagainya. Dan itu adalah figur seorang Donald Trump yang setengah memimpin Amerika sekarang ini. Itu Presidennya. Sekarang kita lihat Amerikanya sendiri. Amerika sampai sekarang ya, kira-kira dia adalah the best ya kalau kita membicarakan tentang kekuatan perang. Kenapa dia the best ya, karena sebenarnya Amerika itu enggak enggak best-best amat sih, dia biasa aja sebenarnya. Tetapi dia mulai terperanjat, dia mulai kaget, dia mulai dibangunkan pada tahun 1941. 7 Desember 1941, Per Harbor itu diserang. Per Harbor itu pangkalan Angkatan Laut terbesar Amerika di di Pasifik diserang oleh Divisi Udara Angkatan Laut Kerajaan Jepang ya. Surprise Air Attack, dia di di diserang tiba-tiba di Per Harbor. Banyak sekali korbannya dan dia dipermalukanlah, dia merasa jatuh harga dirinya sebagai bangsa. Martabatnya hancur lebur. Itu sebabnya setelah Per Harbor, kejadian Per Harbor, dia membangun Angkatan Perang Amerika Ugal-ugalan ya. Dengan jargonnya misalnya dia sebutkan sebagai The Global Vigilance, Global Rich, Global Power. Oke. Nanti akan sampai kepada bagaimana karena kita akan bicarakan tentang perang udara ya. Itu juga merupakan bagian dari awal-awal pengembangan taktik, teknik dan strategi perang udara. Setelah dia diserang oleh Jepang pada tahun 41, dia mereview, dia mempelajari dan menurut George and Fredrick Friedman di buku The Future of War, Per Harbor itu adalah The Origin of American Military Failure. Dan dikatakan lagi dengan kata-kata yang puitis ya, dengan tenggelamnya kapal-kapal Amerika di di Per Harbor, maka tenggelam pulalah cara berpikir militer thinker Amerika tentang perang. Oke. Karena dia enggak mengira itu, dia sama sekali enggak mengira. Kenapa dia enggak mengira? Karena pada ketika itu dia masih punya hubungan diplomatik Amerika dengan Jepang. Kemudian pada tahun 41 belum ada pesawat terbang yang bisa terbang dari Jepang ke Hawaii, enggak bisa. Jadi dia sama sekali tidak mengantisipasi itu. Itu sebabnya setelah dia pelajari Per Harbor, dia melakukan tiga hal. Yang pertama adalah dia membangun yang namanya Air Defense Identification Zone Beyond Territory.
[6:57]Kenapa? Karena dia sudah punya identification zone di teritori dia ternyata enggak cukup kan terjadi juga serangan mendadak. Jadi harus beyond, harus di luar wilayah kedaulatan dia. Yang kedua dia mengembangkan Early Warning System. Kenapa dia perlu early? Dia sudah punya Itu di tahun berapa itu Pak? Tahun 41. Dia sudah punya warning system, dia sudah punya radar. Tetapi tidak cukup kan diserang juga, dia enggak tahu. Jadi dia perlu early. Jadi dia perlu peringatan dini. Karena peringatan doang enggak enggak cukup dia bisa. Dan yang ketiga adalah dia mengembangkan sistem identification friend or full. Oke. Sistem mengidentifikasi musuh atau kawan. Karena pada 7 Desember 1941 itu Letnan Kermin yang jaga radar itu dia tahu dia lihat ada ada gerakan pesawat. Tetapi dia enggak tahu itu pesawat siapa. Dia kira itu pesawat Amerika sendiri karena tahun 41 itu mereka juga sedang Perry banyak pesawat dari Amerika ke Hawaii. Jadi dia enggak tahu. Dia sudah memiliki identification system, tapi dia identification systemnya tidak tahu friend or who itu dia kembangkan. Ya, begitu selanjutnya dan pada tahun 45 dia bomlah Hiroshima Nagasaki. Selesai. Itulah doktrin yang sampai sekarang kira-kira itu masih dipahami, masih dihayati oleh Angkatan Perang Amerika bahwa kalau ada konflik bom selesai.
[8:39]Itu juga berlaku dengan sekarang, Pak? Kelihatannya seperti itu ya, jadi dia masih memikirkan paling tidak prinsip itu masih dipegang oleh Military Thinker Amerika. Kan kita melihat dia selalu melakukan perang perang perang itu dia selalu serangan udara, serangan udara, serangan udara selesai, serangan udara. Tetapi ternyata dalam perjalanan sejarah itu tidak semulus Hiroshima dan Nagasaki. Ya. Setelah setelah Hiroshima Nagasaki kita melihat bagaimana perang Korea, bagaimana perang Vietnam. Bagaimana perang Irak, bagaimana Afghanistan. Itu semua membuktikan bahwa ternyata ternyata tidak bisa bombing to win itu. Ya, tidak bukan tidak bisa tidak terjadi. Walaupun pengalaman dia sukses sekali bombing to win itu pada Perang Dunia Kedua. Oke. Karena apa? Karena teknologi berkembang. Nah, itu sebabnya kemudian kita melihat perkembangan-perkembangan berikutnya. Kalau kita berbicara tentang kekuatan perang Amerika, kita akan berbicara tentang kekuatan perang secara keseluruhan di di dunia ini bagaimana sih berkembangnya. Berkembangnya itu adalah terutama sekali industri military industri, perkembangan kemajuan teknologi militer itu berkembang pada tahun 47 sampai 91. Apa itu? Itu adalah Perang Dingin. Pasca Perang Dunia kedua, dunia damai, mendirikan Perserikatan Bangsa-bangsa. Semua dunia bersepakat, kita menuju kesejahteraan, kita menuju peace and prosperity, kita menuju ke perdamaian dan kesejahteraan. Enggak sampai 2 tahun, tahun 47 ada Perang Dingin antara Blok Timur dan Blok Barat. Antara NATO dengan Pakta Warsawa dalam 47 sampai 91, kedua pakta ini siaga satu, dia tuh Alert One. Dan di di di kurun waktu itulah perlombaan peningkatan kekuatan persenjataan terjadi. Jadi kalau kita melihat kembali kepada bom atom yang di dia yang di drop di Hiroshima Nagasaki itu kalau diukur dengan teknologi sekarang itu enggak ada apa-apanya. Jauh ya. Jauh sekali, berkembang pesat sekali pada tahun 91. Nah, yang menarik setelah 91 selesai Pakta Warsawa bubar, NATO enggak bubar. NATO ternyata tetap dimaintain, tetap dipelihara bahkan mengembangkan ke Eropa Timur. Itu sebabnya kita melihat konflik Rusia Ukraina misalnya karena Ukraina kepengin masuk NATO. Kenapa NATO dipertahankan oleh Amerika? Karena Amerika berpendapat Amerika menganut kepada Defense strategi bahwa dia tidak cukup untuk sendirian. Dia memerlukan teman-teman yaitu NATO ya. Kenapa dia perlu itu? Karena dia tadi kan Global Vigilance, Global Reach, Global Power. National Global National Defense Budget ya, budget pertahanan nasional kan enggak mungkin bisa digunakan untuk Global Issue, untuk untuk isu-isu pertahanan global kan enggak mungkin pasti tek. Makanya dia perlu NATO kan. Dan dia mempertahankan dia Global Reach Global Power itu, makanya NATO dia tidak bubarin. Salah satu dampaknya adalah Rusia Ukraina. Nah, itulah yang terjadi Amerika. Amerika Presidennya businessman, eratic. One man show itu tadi ya, Donald Trump.
[12:24]One man show dan apa eratic sisi persenjataan adalah terkuat di dunia. Setelah 91, the only and the best The strongest Power dari dari dari kekuatan perang itu Amerika. Baik. Plus NATO. Itu sementara seperti itu. Sekarang kita masuk ke konflik ya Pak ya. Serangan pada tanggal 28 Februari yang dilancarkan oleh Israel, Amerika Serikat terhadap Iran. Nah, apa yang bisa Anda baca begitu dari serangan tanggal 28 Februari sehingga membuat konflik ini kembali memanas sampai saat ini? Ya. Sebelum sampai situ, Timur Tengah adalah ajang konflik. Ajang konflik, konflik itu One Step to War. Konflik-konflik yang yang yang berskala tinggi yang yang mudah sekali membuat pecah menjadi perang.
[13:20]Kenapa? Karena konflik itu sebenarnya pada umumnya itu disebabkan dua hal, perebutan teritori dan perebutan National Resources atau sumber daya alam atau energi. Itu dua sebenarnya dan dua-dua itu sekarang berada di Timur Tengah ya. Di Timur Tengah orang rebutan National Resources, orang rebutan Teritori. Jadi dia memang konflik kawasan konflik. Nah, sekarang kenapa Amerika ke tiba-tiba menyerang ya? Ceritanya panjang juga, dia dia dia tidak tiba-tiba menyerang begitu aja. Amerika itu ada Israel di Timur Tengah. Israel itu sebetulnya ee ya dia kuat sih, tetapi dia tidak tidak kuat sekali untuk bisa Tidak cukup kuat begitu ya. Dia tidak cukup kuat untuk berhadapan dengan Iran misalnya. Bukan tidak cukup kuat, dia mungkin bisa imbang mungkin kalah cepat terserak tapi dia tidak tidak kuat-kuat banget. Intinya butuh bantuan begitu, Pak. Dia selalu bersandar pada Amerika dan itu terjadi sepanjang konflik Timur Tengah.
[14:27]Kalau kita melihat sejarah bagaimana terjadi perang-perang di Timur Tengah itu selalu backup Israel itu adalah Amerika. Nah, apa yang terjadi di Timur Tengah itu Israel punya doktrin bahwa tidak boleh ada negara di kawasan itu yang mempunyai bom nuklir ya. Itu doktrinnya Israel ya. Karena dia merasa berada di tengah-tengah lautan Arab ya, negara-negara Arab yang merupakan ancaman semua dan banyak sekali proksi-proksi Iran dalam hal ini dan juga proksi-proksi tertentu yang yang bisa setiap saat menyerang dia. Nah, itu sebabnya dia membangun juga kekuatan pertahanan yang sangat kuat. Misalnya kita sering dengar tentang Iron Dome lah, Euro System dan sebagainya apa sebagainya. Intinya dia bikin pertahanan yang sangat kuat dan yang kedua dia akan dia akan menyerang semua negara yang memiliki atau akan memiliki senjata nuklir. Contohnya pada waktu reaktor Irak reaktor nuklir Irak di Os Irak itu disikat ya sebelum jadi. Dalam perkembangan dalam perkembangan membangun senjata nuklir mungkin baru 60 atau 70%, dia dia serang, dia langsung serang, dia enggak peduli dia serang itu. Itu itu adalah memang menjadi the way of thinking orang Israel bahwa negara-negara Timur Tengah tidak boleh ada yang punya senjata nuklir. Nuklir. Oke. Jadi tujuan utamanya itu ya Pak ya. Jadi Israel ingin memastikan tidak ada negara Timur Tengah. Enggak boleh ada. Heh. Cuman gua aja yang punya, misalnya. Mungkin ya. Intinya dia merasa terancam kalau ada orang punya. Perkembangan ini kemudian makin meningkat, makin meningkat dan dia melihat Iran sedang bikin senjata nuklir. Jadi dia khawatir sekali.
[16:25]Jadi dia Netanyahu berbicara sama Trump, mungkin dia berpikir ini bahaya nih, harus kita sikat nih. Berbahaya nih terus ini berbahaya nih berbahaya. Sampailah kepada satu titik di mana mereka bersepakat. Oh iya nih bahaya sikat aja misalnya. Nah nanti kita bicara lagi tentang. Ini sikat aja di tengah-tengah perundingan, kan gila juga ini. Jadi dia tidak taat asas tadi yang tadi itu businessman eratic dan one man show.
[17:07]Oke. Baik, kita ingin melanjutkan diskusi kita ya Pak Chepi. Apalagi kita ingin tahu lebih dalam menakar kekuatan persenjataan antara dua kubu ini, Amerika Serikat, Israel dan juga Iran. Tapi ditahan dulu kami jeda terlebih dahulu program One on One akan kembali untuk Anda sesaat lagi. Anda kembali menyaksikan program One on One, pemirsa kalau di segmen sebelumnya kita sudah membahas sejarah begitu bagaimana dua kubu ini yang pada akhirnya pecah konfliknya sampai saat ini Amerika Serikat, Israel dan juga Iran. Kini kita akan menakar bersama dengan Pak Chepi bagaimana kekuatan senjata persenjataan dan juga kekuatan militer antara dua kubu ini, Pak.
[17:54]Iran, Amerika Serikat dan juga Israel. Bagaimana perbandingannya? Ya. Tadi saya sudah ceritakan bagaimana perjalanan Amerika menuju kepada satu titik sekarang ini dan dia masih valid sebagai sebuah negara yang memiliki kekuatan perang The Best ya. The strongest ya, dia yang paling kuat. Titik kulminasi kekuatan Amerika itu begini. Pada waktu Perang Dingin 47 sampai 91, perlombaan bikin senjata paling modern modern 91 bubar kan? Perang dinginnya bubar. Pakta Warsawa bubar, Uni Soviet bubar. Amerika menjadi one and only yang punya kekuatannya. Kuat sekali. Nah, tetapi kekuatan dia yang doktrinnya Global Rich Global Power itu sebenarnya harus didukung oleh NATO. Sekali lagi, anggaran belanja pertahanan sebuah negara tidak mungkin bisa menopang anggaran belanja untuk berhadapan dengan isu Defense, isu pertahanan keamanan dunia, tekor. Mahal ya, begitu mahal. Mahal. Contohnya kan oh tahu dari mana kalau tekor? Contohnya 9/11 ya. 9/11 itu menara kembar. Masih ingat ya tahun 2001. Iya, 2001. Itu terjadi 60 tahun setelah Per Harbor. Per Harbor 91, dia 2001. Ya, 60 tahun. 9/11 ini sering disebut sebagai The Second Per Harbor. Ya.
[19:26]Eee serangan mendadak, serangan udara mendadak yang menjatuhkan martabat sebuah bangsa yang kedua kali yang dialami oleh Amerika. Yang pertama kali Per Harbor, yang kedua kali 9/11. Per Harbor 1941, 9/11 2001. Ini arsitek penyerangnya ini hebat sekali ya pada 2001 itu. Kenapa hebat sekali? Dia baru melancarkan serangan itu pada tahun 2001 yaitu 10 tahun setelah Perang Dingin usai. Kenapa? Itu perhitungan sendiri. Perang Dingin itu membuat Amerika berada pada siaga satu, Alert One, Combat Ready ya, Combat Ready. Nah, dari 91, dari Combat Ready, dari Siaga satu ke Siaga biasa, itu memang memerlukan waktu yang cukup panjang. Tidak mungkin langsung jadi Siaga biasa. Siaga satu biasa turun dulu Siaga tiga, tiga dua, satu. Ada eskalasi untuk kemudian menjadi normal. Kenapa? Karena dia melaksanakan itu baru baru aja terjadi 91, dia enggak bisa apa-apa. Dia baru menggerakkan heading pesawat sedikit aja pasti sudah ditembak. Karena karena Alert One, karena siaga satu. Jadi dia pilihlah 10 tahun. Jadi dia tahu orang sudah santai, orang sudah biasa. Yang istimewa dari 9/11 dan yang membedakan dengan Per Harbor adalah beberapa hal. Dalam Per Harbor itu yang menyerang Jepang, menyerangnya dari luar ke dalam. 9/11 yang menyerang itu bukan dari luar, dari dalam. Yang menyerang itu bukan Angkatan Perang, bukan tentara itu adalah Civil Komersial.
[21:16]Pesawat Civil Komersial. Yang menyerang itu penerbang Kami Kase yang menabrakkan pesawatnya ke Twin Tower itu flying school-nya di Amerika. Jadi dia enggak tahu nih musuh dia siapa nih. Ya, itu sebabnya dia bingung. Akhirnya dia ngarang-ngarang ah ini Irak. Makanya dia terus ngarang Irak ada senjata pemusnah massal, dia sikat Irak. Intinya ini adalah perbuatan teroris. Teroris yang mana dia enggak tahu. Akhirnya dia mencari-cari informasi. Akhirnya dia mengetahui, oh ini Al-Qaeda. Dibuatlah skenario membasmi Al-Qaeda ya. 10 tahun Amerika baru berhasil membunuh pimpinan Al-Qaeda Osama bin Laden di Pakistan. Ya. Itu 10 tahun setelah 2001, berarti 2011 dia baru. Dan 20 tahun setelah itu dia kedodoran. Menduduki Afghanistan dia sudah enggak punya uang lagi, dananya enggak cukup. Akhirnya dia mundur kan 2021. Makanya ada ada cerita lucu, ada headline lucu, From Taliban to Taliban. Karena pada tahun 2001 diduduki oleh Amerika, Taliban diambil alih oleh Amerika. Tahun 2021 Amerika mundur karena sudah kehabisan ongkos yang berkuasa Taliban lagi. Itu terkenal sekali disebut sebagai From Taliban to Taliban. Kenapa kita bisa tahu dia kehabisan ongkos? Ada dua ada satu peristiwa yang yang yang terekspos ya. Pada tahun pada ketika menduduki Afghanistan, ada Jenderal McCrystal namanya. Dia komandan komandan pasukan sekutu ya, komandan pasukan Amerika dan pasukan sekutunya yang yang dalam operasi membasmi Al-Qaeda di Afghanistan. Dia minta bantuan tambahan pasukan, dia minta bantuan dana. Kalau enggak sulit. Gua sulit nih, perlu minta bantuan. Beberapa kali dia minta bantuan tidak di tidak dikabulkan oleh oleh Amerika oleh pemerintahnya. Pada satu ketika dia curhat di di media ya. Bukan Washington Post, bukan New York Times, dia dia curhatnya di Rolling Stone, majalah Rolling Stone. Ya, majalah tabloid, tabloid Lon. Jadi dia merasa aman kan dia ngoci aja. Dia enggak tahu tabloid Rolling Stone itu sampai di gedung putih. Dan Obama pada waktu itu marah, dia dipanggil. Tidak ada satu jam kemudian dia diganti. Jenderal McCrystal diganti oleh Jenderal Petris namanya. Dan Jenderal Petris lah yang menggantikan Jenderal McCrystal itu sebagai komandan pasukan Amerika di Afghanistan. Oke, baik. Ternyata sama aja Pak, karena dia memang butuh ongkos, dia butuh dana dan dan enggak bisa di di dikabulkan. Itu sebabnya 2021 dia mundur, kehabisan. Jadi National Defense Budget tidak mungkin bisa mengongkosi Global Defense Issue ya, itu contohnya. Walaupun pada waktu itu dia masih pakai NATO. Oke, sorry ya. Pak Chepi, tapi kalau kita melihat kekuatan Iran saat ini, mampukah kemudian melawan koalisi Amerika Serikat, Israel? Ya. Oke. Jadi kalau kita lihat persenjataan, di atas meja ini kita lihat persenjataan, kekuatan perang dan persenjataan Amerika dan kita lihat kekuatan perang dan persenjataan Iran, kalah Iran jauh. Jauh. Tetapi dalam medan perang, dalam Air Battle, dalam panggung perang, itu yang menentukan bukan arsenal senjata, bukan. Nah, ini harus cerita lagi nih panjang lagi bagaimana sejarah perang itu terjadi ya. Perang itu adalah ee berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi ya. Dulu perang itu perang tradisional biasa. Orang berantem terus pakai parang, pakai perisai dan sebagainya. Kemudian ada senjata nembak dan terus. Jadi perang itu perang tradisional kemudian perang berlapis setelah laut bisa dipakai juga menjadi menjadi perang berlapis sehingga sistem pertahanan, sistem pertahanan berlapis. Setelah udara bisa digunakan sebagai sarana perang, maka perang itu menjadi perang total. Perang total. Tetapi perkembangan terakhir sekarang bukan udara aja. Kita berada di era cyber world namanya. Cyber World becoming Fifth Domain after land, water, Air and Space. Dia menjadi domain kelima setelah daratan, perairan, udara dan ruang angkasa. Sekarang kita berada di domain cyber itu di dunia. Apa sih cyber? Orang bilang cyber-cyber apa? Cyber itu ada tiga ciri yang yang yang merefleksikan yang mempresentasikan cyber. Yang pertama adalah penggunaan Artificial Intelligence, yang kedua adalah pengembangan Autonomous System. Autonomous System dan yang ketiga adalah penggunaan drone. Oke. Nah, kembali lagi tadi. Ya. Itu sebabnya di dalam cyber world dalam cyber space, maka kekuatan perang itu tidak bisa dihitung dari arsenal persenjataan. Heeh. Dia akan dia akan ee dia akan lebih banyak tergantung pada Man Behind The Gun. Dia lebih banyak tergantung kepada kecerdasan. Makanya saya memberikan istilah bukan hanya Total War yang harus dihadapi oleh Total Defense, tetapi Total and Smart War yang harus dihadapi juga oleh Total and Smart Defense System ya. Itu supaya memudahkan kita bagaimana kan dia kuat ini kelemahan pasti dia menang. Enggak. Karena apa? Kita sekarang di dunia cyber. Oke, baik. Pak Chepi sambil juga kita membahas kekuatan yang tadi Anda sudah singgung tidak hanya kekuatan total saja tapi ternyata ada cyber juga yang yang menilai bagaimana siapa yang lebih unggul. Kita juga ingin tampilkan untuk Anda, pemirsa. Kami sudah menyiapkan grafis. Ini adalah perbandingan militer Iran-Israel.
[27:28]Ya, ini ada 188 unit yang dimiliki oleh Iran pesawat tempur, sementara Israel 240 unit. Nah, kalau helikopter Iran hanya 128 unit, sementara Israel memiliki 147 unit. Jumlah tank yang dimiliki oleh Iran justru lebih banyak dibandingkan Israel ada 1.713 untuk Iran dan 1.300 unit untuk Israel. Sementara untuk kendaraan lapis baja pemirsa ini 66 65.852 kendaraan lapis baja dimiliki oleh Iran, sementara Israel sebanyak 35.985 unit. Ini kalau kita perbandingkan nih ya Pak. Ada kesenjangan begitu, tapi nampaknya Iran unggul di beberapa kekuatan militernya. Ini juga kami memiliki data lain, Artileri Swagerak. Ada 392 yang dimiliki oleh Iran. Sementara Israel 352. Tipis ya perbedaannya. Untuk Artileri Tarik juga ada 2070 untuk Iran, sementara untuk Israel 171. Nah, roket peluncur ganda. Iran memiliki 1517 unit, sementara Israel 183 unit. Selanjutnya pemirsa kapal tempur total yang dimiliki oleh Iran ini justru lebih banyak daripada Israel ada 107 unit, sementara Israel 62 unit. Untuk total kapal selam yang dimiliki Iran ada 25 unit, sementara Israel ada sebanyak 5 unit saja. Ini kalau kita lihat ya perbandingan dari kekuatan militer persenjataan yang dimiliki oleh Iran versus Israel. Ada yang unggul di beberapa hal dan ada juga yang nampaknya Israel jauh lebih unggul daripada Iran. Bagaimana Anda melihatnya? Iya. Dengan kemajuan teknologi maka arsenal persenjataan tidak lagi menjadi parameter mutlak apabila kedua negara berhadapan. Kita lihat dia lebih kuat, dia pasti menang. Tunggu dulu. Enggak. Karena kita berada di dunia cyber ya. Oke. Kita berada di era perang total dan smart war. Perang total. Sehingga yang berbicara di sini adalah strategi ya, Defense strategi. Nah, sekarang kita bicara tentang strategi. Tadi saya sudah sampaikan Israel merasa terancam ya.
[30:19]Jadi dia strategi pertahanan dia adalah dia membangun sistem pertahanan udara yang kuat sekali ya, dikenal Iron Dome ya, Euro Three Euro Two dan sebagainya apa sebagainya. Sederhananya Iron Dome itu adalah kubah yang merupakan pagar imajiner. Dia merupakan turunan dari pagar imajiner yang dibangun oleh Ronald Reagan pada tahun 69 pada era Perang Dingin. Ada namanya Strategic Defense inisiatif Ronald Reagan. Dia membangun pagar imajiner untuk membendung serangan ICBM Pakta Warsawa ke negara-negara NATO untuk memagari supaya Intercontinental Balistic Missiles, peluru kendali antar benua dengan berke kepala nuklir yang akan masuk menuju mengarah ke negara-negara NATO. Dia bangun pagar imajiner.
[31:21]Pagar imajiner inilah yang dikembangkan oleh Amerika sama-sama Israel dalam bentuk kubah yang namanya Iron Dome. Jadi kalau dilihat sebenarnya enggak ada, tapi imajiner ya. Kubah ada. Apa bekerjanya apa? Bekerjanya adalah kalau ada peluru kendali pesawat atau yang menyerang, dia langsung bisa mendetek dan dia serangan balik. Enggak bisa masuk. Tel Aviv itu aman 100% karena ada Iron Dome. Itu sistem pertahanan Israel. Yang kedua tadi sudah saya sampaikan Israel untuk antisipasi semua negara di Timur Tengah yang mau punya senjata nuklir, dia sikat.
[32:11]Jadi itu strategi Israel. Sekarang bagaimana kita melihat Iran. Iran punya sejarah sendiri ya. Iran punya sejarah tersendiri dalam menangani konflik. Dan sejarah itu membuktikan dirinya memiliki stamina yang cukup kuat dalam menghadapi konflik. Oke. Stamina yang panjang dari Iran. Dan dia buktikan pada waktu Iran lawan Irak itu 8 sampai 10 tahun dia tetap bisa bertahan. Itu strategi Iran bagaimana dia menjaga negaranya. Defense National Defense Strategy dari Iran itu adalah dia dia membangun sistem pertahanan yang mempunyai stamina yang panjang.
[33:43]Oke. Kita akan bahas Defense Strategy tapi kami jeda terlebih dahulu Pak Chepi, program One on One akan kembali untuk Anda sesaat lagi.
[34:50]Pak Chepi, Indonesia kan menganut politik bebas aktif. Bagaimana kemudian posisi Indonesia di tengah konflik antara dua kubu Iran versus Amerika Serikat, Israel?
[35:15]Iya. Nah, sekarang kita masuk babak yang paling top ini tentang politik ya. Politik adalah power struggle ya, adu kepentingan. Pertarungan kepentingan antara National Interest tiap-tiap negara antara lain. Kalau ditanyakan bagaimana harusnya Indonesia berhadapan menghadapi konflik itu. Begini. E politik luar negeri itu harus berangkat dari dari dalam negeri ya. Foreign Policy itu harus start from home katanya. Artinya adalah kita kalau menentukan kebijakan luar negeri itu di dalam negeri harus kompak dulu, harus harus Harus satu suara. Harus satu suara. Tidak bisa one man show. Tidak bisa ditentukan oleh seseorang di sebuah negara yang demokratis sifatnya, maka keputusan-keputusan itu tidak bisa diambil sendirian oleh pemerintah, enggak bisa. Kan ada DPR ya, ada macam-macam, ada mekanisme tersendiri yang intinya adalah tidak bisa ditentukan oleh satu orang. Oke. Jadi kalau kita mau menyelesaikan masalah-masalah global, kita seharusnya menyelesaikan masalah di dalam di dalam negeri sendiri terlebih dahulu. Dalam pengertian kalau kita mau mendamaikan yang terjadi di Timur Tengah, kita di dalam negeri harus bersepakat dulu. Cara apa? Strategi apa yang akan kita tawarkan? Tidak bisa ditentukan oleh presiden sendiri, enggak bisa. Sekarang kan kita melihat bagaimana ributnya di media. Ya, ada yang setuju, ada yang tidak setuju, ini harus dijadikan satu dulu. Harus satu suara dulu. Bagaimana orang bisa menerima sebuah negara yang maju sebagai mediator yang negaranya yang dia pimpin sendiri itu tidak satu suara. Kan sulit kan. Oke, intinya harus satu suara ya. Tapi kalau dari kacamata Anda harusnya seperti apa Pak Chepi? Sekali lagi itu harus kita harus satu suara. Bagaimana caranya ya? Kita secara secara eee mekanisme pemerintahan yang yang kita anut sebagai negara demokrasi. Kalau kita ingin tampil sebagai mediator, sebagai pendamai juru damai, kita kan harus punya resep kan? Resepnya apa? Ya itu. Kalau kita enggak punya resep bagaimana kita? Kita haruskan polanya, strateginya. Pola inilah yang harus disatukan terlebih dahulu di dalam negeri. Oke ya, DPR begini ya, ini begini oke, baru kita bisa maju. Baru kita bisa didengar. Kalau enggak, enggak mungkin orang mendengar. Ada orang mendengar pimpinan sebuah negara yang mengatakan begini-begini tapi di negaranya sendiri orang enggak setuju dengan itu. Oke. Credibility semua harus satu suara. Tapi bagaimana kita harus mempersiapkan diri di tengah eskalasi konflik yang sejauh ini terus meningkat, Pak Chepi? Iya.
[38:16]Sebenarnya dalam pelajaran manajemen konflik ya. Itu konflik akan muncul di mana-mana ya. Konflik mulai dari diri kita sendiri. Tiap hari kan kita konflik di kepala kita kan? Ini gua mau berangkat apa enggak? Ini ini ini konflik. Baru sendiri aja sudah konflik. Berdua konflik, bertiga konflik. Nah, selama konflik-konflik ini tidak bisa dicarikan solusi yang baik ya. Kita tidak akan bisa menilai atau kita bisa tidak bisa mereview apa yang terjadi di luar kita. Pengertiannya begini, di dalam negeri sekarang ini, kita kan konflik ini ya toh? Tentang BP lah ya, ini hal yang masih sensitif. Kita kan enggak satu enggak satu suara. Orang mempunyai pandangan BP itu salah kita. Ada yang mengatakan benar gitu. Kalau permasalahan ini tidak selesai di dalam negeri, maka kita tidak mungkin bisa tampil sebagai juru damai. Jadi apa dong yang kita mesti kerjakan? Kita selesaikan dulu, kita menyamakan dulu. Dan kita punya dasar-dasar atau rujukan-rujukan yang harus kita ikuti. Yang pertama Undang-Undang Dasar 1945. Yang kedua kita punya dasar sila Bandung. Nah, rujukan-rujukan seperti inilah yang harusnya menjadi platform kita dalam menentukan Foreign Policy, dalam menentukan politik luar negeri kita mau bagaimana. Sekali lagi politik adalah ajang pertarungan kepentingan. Kalau banyak yang menilai jika memang perang ini terus berlanjut Indonesia termasuk wilayah yang terbilang aman begitu Pak Chepi. Kalau menurut Anda bagaimana? Ada tulisan yang menarik tentang ini ya, ada tulisan menarik. Kalau Perang Dunia ketiga terjadi ya. Tulisan menarik begini, Perang Dunia ketiga tidak mungkin terjadi. Ada teori yang seperti itu. Kenapa? Karena kalau Perang Dunia ketiga terjadi, maka yang digunakan adalah senjata nuklir. Dan senjata nuklir dengan teknologi yang mutakhir seperti sekarang ini, itu akan memusnahkan dunia. Jadi orang mengatakan tidak mungkin Perang Dunia. Ya. Kemudian ada yang bilang bisa terjadi. Lihat aja sekarang di Timur Tengah seperti itu. Bisa aja salah satu nanti nekat akan akan menggunakan senjata nuklir. Kemudian ada yang bertanya. Siapa yang kira-kira memperoleh pengaruh yang paling sedikit, yang paling tidak terpengaruhlah. dipelajarilah di peta dunia itu dan ternyata yang paling selamat katanya dalam tanda petik itu Selandia Baru. Heeh. Ya, jadi itu itu itu kan tesis-tesis itu kan apa namanya, spekulasi semua. Semua apa namanya, spekulatif sifatnya. Ramalan-ramalan yang spekulatif. Sulit untuk bisa meramal, tetapi paling tidak dua hal itu kita bisa melihat bahwa tidak mungkin terjadi. Kecuali ada orang gila, tapi kan The Heken Bersensen the Will, orang gila yang yang memimpin dunia. Bisa juga terjadi. Nah, kemudian kalau terjadi siapa yang selamat? Selandia Baru katanya. New Zealand. Itu hanya itu hanya menggambarkan bahwa betapa dahsyatnya senjata nuklir digunakan walaupun dia berada jauh di Timur Tengah, dia akan berdampak ke mana-mana. Oke. Mungkinkah terjadi kah Perang Dunia ketiga Pak Chepi? Oke. Singkat saja. Saya saya yakin orang waras masih lebih banyak daripada orang gila. Oke, jadi tidak terjadi ya. Jadi. Oke, terima kasih banyak Pak Chepi Hakim atas waktunya dalam program One on One tentu kita nantikan bagaimana kelanjutan antara konflik, eskalasi konflik ini akan terus berlanjut dan mungkinkah Perang Dunia ketiga akan terjadi? Kita berharap tidak tentunya. Kita berharap semuanya bisa kembali dalam kondisi damai. Terima kasih Pak Cepi sekali lagi atas waktunya dalam program One on One. Dan pemirsa, sampai di sini program One on One hadir menemani Anda mewakili kru yang bertugas. Saya Ve Kinta pamit. Terima kasih atas kebersamaan Anda. Sampai jumpa.
![Thumbnail for [FULL] Iran vs Amerika-Israel, Siapa Lebih Kuat? | One on One by tvOneNews](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fimg.youtube.com%2Fvi%2FCcDPf3KXdik%2Fhqdefault.jpg&w=3840&q=75)


