Thumbnail for KONFIGURASI PPPOE SERVER & CLIENT - MIKROTIK TUTORIAL [ENG SUB] by Mikrotik Indonesia - Citraweb

KONFIGURASI PPPOE SERVER & CLIENT - MIKROTIK TUTORIAL [ENG SUB]

Mikrotik Indonesia - Citraweb

29m 29s3,459 words~18 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Pull quotes
[0:16]Kembali lagi ke channel YouTube Mikrotik Indonesia, channel YouTube yang akan membahas mengenai tips dan trik mengenai pengelolaan jaringan khususnya penggunaan alat-alat Mikrotik.
[0:16]Nah, kali ini saya akan membahas sebuah fitur yang cukup banyak di-request sama teman-teman kemarin yang komen di video-video sebelumnya, yaitu mengenai PPPOE server dan klien di Mikrotik.
[0:16]Tetap tonton video ini, jangan lupa subscribe dan tekan tombol lonceng agar teman-teman mendapatkan notifikasi ketika kami upload video terbaru.
[1:02]Nah, ada banyak cara bagaimana kita bisa mendistribusikan akses internet ke jaringan lokal kita.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:16]Halo, teman-teman. Kembali lagi ke channel YouTube Mikrotik Indonesia, channel YouTube yang akan membahas mengenai tips dan trik mengenai pengelolaan jaringan khususnya penggunaan alat-alat Mikrotik. Nah, kali ini saya akan membahas sebuah fitur yang cukup banyak di-request sama teman-teman kemarin yang komen di video-video sebelumnya, yaitu mengenai PPPOE server dan klien di Mikrotik. Nah, penasaran bagaimana cara konfigurasinya? Tetap tonton video ini, jangan lupa subscribe dan tekan tombol lonceng agar teman-teman mendapatkan notifikasi ketika kami upload video terbaru.

[1:02]Nah, ada banyak cara bagaimana kita bisa mendistribusikan akses internet ke jaringan lokal kita. Yang kemarin mungkin di video sebelumnya telah kita bahas ada mungkin hotspot, kemudian DHCP atau mungkin teman-teman memilih untuk menggunakan static IP address di laptop klien. Kali ini saya akan membahas salah satu alternatif yang lain, yaitu menggunakan yang namanya PPPOE atau point to point over ethernet. Sebenarnya teknologi ini sudah lazim digunakan terutama di jaringan DSL. Kenapa? Karena sebenarnya PPPOE ini juga memiliki beragam fitur terutama untuk masalah keamanan. Ya, salah satunya mungkin ada autentikasi, kemudian juga ada enkripsinya sehingga jaringan untuk ke arah klien akan lebih aman. Nah, sekarang mungkin PPPOE ini juga sudah banyak diterapkan di FTTH atau fiber to the home. Jadi, teman-teman kalau misalnya langganan ISP menggunakan fiber optik, mungkin sebagian besar sekarang menggunakan service yang namanya PPPOE. PPPOE sendiri sebenarnya adalah sebuah tunnel, bisa dibilang dia adalah sebuah mirip seperti VPN tapi dia bekerjanya di layer dua sehingga antara server dan klien itu harus berada dalam satu segmen IP yang sama. Mikrotik sendiri dia support digunakan untuk menjadi PPPOE server maupun sebagai klien. Nah, syarat utamanya hanya bagaimana si server dan klien ini bisa terkoneksi dalam satu segmen IP yang sama. Langsung saja di sini saya sudah menyiapkan ada dua buah router, yang pertama adalah RB 450 G sebagai server-nya nanti akan saya gunakan sebagai server-nya. Kemudian ada RB HAP AC yang saya gunakan sebagai klien. Tentu saja nanti teman-teman bisa menggunakan RB apapun karena fitur ini disupport di router OS di tipe RB berapapun. Nah, kemudian sebagai topologinya nanti si RB 450 ini akan menerima internet dari ISP di sini ada kabel berwarna hitam. Kemudian nanti ada kabel yang berwarna abu ini untuk mengarah ke HAP AC yang nanti akan saya gunakan sebagai kliennya. Kemudian saya akan melakukan remote menggunakan kabel yang ada di sini. Jadi nanti kabel ini akan saya pindahkan setelah setting dari servernya selesai akan saya pindahkan ke konfigurasi di sisi kliennya. Nah, langsung saja saya akan coba mendemokan bagaimana cara konfigurasi yang pertama kita akan lakukan konfigurasi di sisi PPPOE server-nya dulu. Ya, jadi sekarang kita akan coba buka Winbox-nya dulu. Yang pertama harus dipastikan adalah setelah kita bisa berhasil remote ke Mikrotik, pastikan bahwa di Mikrotik Anda sudah ada package namanya PPP. Karena sebenarnya PPPOE ini nanti konfigurasinya masuk ke dalam konfigurasi PPP atau yang biasa kita pakai untuk konfigurasi VPN. Nah, di PPP ini tentu saja sebelum kita mengaktifkan PPPOE server, kita harus melakukan konfigurasi basic dulu. Jadi nanti router ini bagaimana caranya bisa connect ke internet dulu baru nanti kita akan sebarkan internet itu ke bawah atau ke klien itu menggunakan PPPOE. Nah, sekarang saya coba cek bahwa sebenarnya ini sudah saya lakukan basic config, kalau saya coba ping ke Google, sudah terkoneksi.

[4:26]Berarti sudah ada konfigurasi untuk bisa connect ke internet. Kemudian yang perlu dilakukan adalah kita bisa masuk ke menu PPP, kemudian kita masuk ke PPPOE server. Nah, di sinilah nanti kita bisa menambahkan PPPOE server yang ada di RB 450 G ini. Nah, sebelum ke sana, kita pastikan dulu nantinya untuk ke arah klien, kita akan menggunakan port berapa. Sebagai contoh di sini saya menggunakan ether 2. Nah, PPPOE sendiri sebenarnya bisa berjalan tidak hanya di ether. Jadi nanti dia bisa berjalan di wireless, bisa juga berjalan di bridge misalnya ether duanya Anda bridge, kemudian bisa juga yang sudah banyak diterapkan yaitu berjalan di interface fiber optik. Atau misalnya kalau Anda membuat sebuah tunnel, misalnya EOI P atau VLAN itu juga bisa diaktifkan PPPOE server di dalamnya. Nah, yang sekarang yang akan saya coba adalah saya akan mengaktifkan PPPOE server itu di ether dua. Caranya cukup mudah, tinggal kita klik tanda plus, kemudian akan tampil seperti ini. Tinggal kita tentukan di sini interface-nya kita aktifkan di interface ether berapa. Sebagai contoh misalnya di sini saya aktifkan di ether dua. Kemudian di bagian atas di sini kita bisa menentukan ada namanya service name. Sebenarnya ini bisa kita biarkan default. Nah, service name ini sebenarnya bisa kita gunakan untuk membedakan server. Ya, jadi kalau misalnya ada pertanyaan bisa enggak sih sebenarnya di satu subnet itu terdapat lebih dari satu PPPOE, jawabannya adalah bisa. Caranya adalah dengan membedakan service name-nya, sehingga nanti klien akan bisa menunjuk dia akan terkoneksi ke server yang mana dengan nama service name yang spesifik. Oke, untuk sementara saya biarkan default ya, kemudian di bagian bawah kita bisa melihat ada berbagai macam authentication yang disupport, ada MS CHAP 2, ada MS CHAP 1, kemudian ada CHAP dan juga PAP. Tergantung nanti Anda bisa mengaktifkan yang mana, tapi dia kan lebih fleksibel kalau kita aktifkan semuanya. Kemudian tinggal kita apply, langkah selanjutnya adalah si PPPOE ini juga nanti akan memberikan IP secara otomatis tapi bukan dengan seperti kinerjanya dari DHCP. Nah, pemberian IP otomatis ini nanti kita bisa set di bagian secret. Ya, kalau mungkin teman-teman perhatikan di sini hampir sama konfigurasinya dengan VPN yang lain. Jadi kita harus membuat secret dulu. Nah, di secret ini bisa kita tentukan username dan password yang nanti akan digunakan oleh si klien untuk bisa terkoneksi ke internet. Sebagai contoh saya buat di sini ada user satu, kemudian password-nya adalah tes. T. Kemudian servisnya saya pilih PPPOE spesifik seperti ini. Kemudian profile-nya saya bikin default enkripsi. Nah, ini yang tadi saya bilang di awal bahwa sebenarnya di PPPOE ini selain fitur autentikasi, juga nanti dia juga ada fitur enkripsi. Kita akan lihat nanti setelah kliennya terkoneksi, tapi untuk lebih amannya kita bisa pilih profile-nya adalah default enkripsi. Kemudian IP berapa yang akan terpasang di klien, kita tentukan di sini. Yang pertama adalah lokal address. Lokal address ini adalah IP yang terpasang di server-nya. Jadi nanti IP otomatis yang akan muncul itu tidak hanya di klien tapi di server pun juga. Misalnya saya isikan 172.16.1.1, kemudian remote address-nya adalah 172.16.1.2. Oke, kemudian sebenarnya kita juga bisa memanfaatkan ada namanya PPP profile. Nah, di profile ini kita bisa memberikan batasan yang cukup fleksibel untuk si klien nanti.

[8:35]Sebagai contoh misalnya yang sering digunakan adalah limit. Nah, di limit ini kita bisa menentukan ada pembatasan rate limit. Jadi kecepatan per kliennya berapa kita bisa bikin di sini. Kemudian bisa juga di sini ada namanya parameter only one. Only one ini biasanya dipakai kalau misalnya kita memiliki user-nya cukup banyak. Nah, kalau misalnya only one-nya itu yes, maka satu username hanya bisa digunakan oleh satu orang login dalam waktu bersamaan. Nah, untuk konfigurasi PPPOE server sebenarnya cukup sampai di sini. Jadi tinggal kita bikin server-nya, kemudian kita create untuk secret-nya. Kalau kita perhatikan di PPPOE server ini settingan IP untuk ke arah klien tidak saya set. Ya, ini hanya untuk ether satu hanya untuk ke internet. Kemudian tidak ada konfigurasi-konfigurasi yang lain misalnya route ke arah klien itu tidak ada. Jadi sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah dari server klien itu cukup hanya nyambung dari layer duanya aja. Karena sebenarnya proses dari PPPOE ini nanti memanfaatkan Mac address. Nah, sekarang kita akan coba konfigurasi di sisi kliennya. Saya akan pindahkan komunikasi laptop untuk bisa remote ke kliennya.

[10:12]Nah, saat ini saya sudah bisa melakukan konfigurasi untuk HAP AC atau yang akan saya gunakan sebagai PPPOE klien.

[10:29]Nah, di sisi klien apa sih sebenarnya konfigurasi yang dibutuhkan. Tentu saja yang pertama adalah kita harus menambahkan yang namanya interface PPPOE klien.

[10:48]Nah, tampilannya seperti ini. Untuk nama sebenarnya bisa kita ubah. Jadi misalnya saya bikin PPPOE untuk ISP. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah untuk pemilihan interface-nya. Jadi di sini kita harus memilih interface yang terhubung ke PPPOE server-nya. Di simulasi saya kali ini si klien ini terhubung ke server menggunakan ether satu. Jadi di sini saya pilih ether satu, kemudian untuk username dan password dari ISP bisa kita isikan di tab dial out di sebelah kanan di sini. Nah, apabila di sisi ISP itu tidak memberikan service name ya, nanti di sini tinggal kita kosongkan saja. Kemudian di user ini kita isikan sesuai dengan secret dari si server-nya. Password-nya juga, profile-nya kita pilih default enkripsi. Kemudian kita juga akan mencentang use peer DNS dan add default route. Nah, ini gunanya untuk apa? Add default route ini fungsinya hampir sama dengan di DHCP klien. Jadi nanti kalau kita centang use peer DNS dan add default route, maka nanti kita juga akan menerima informasi DNS server dan default route karena memang kita kebutuhannya untuk ke internet. Nah, kalau mungkin di service ISP yang sekarang ya untuk FTTH ini biasanya dilakukan di sisi modem-nya. Jadi sebenarnya di Mikrotik pun memiliki fungsi sebagai PPPOE klien, cuma untuk saat ini memang Mikrotik belum bisa digunakan sebagai pengganti modem yang diberikan oleh ISP. Jadi kalau mungkin teman-teman sekarang menggunakan service layanan fiber ke rumah, maka Mikrotik itu tidak bisa digunakan untuk pengganti modem. Jadi modemnya tetap harus digunakan. Nah, konfigurasinya cukup seperti ini. Kemudian tinggal kita apply, kita coba cek statusnya. Kalau kita cek di sini statusnya sudah connected. Kemudian kalau kita lihat encoding-nya di sini menggunakan MPPE 128. Jadi sebenarnya selain ada fitur untuk autentikasi, jadi enggak semua orang bisa terkoneksi secara sembarangan, dia juga ada fitur untuk enkripsi. Jadi datanya akan lebih aman. Kemudian di bagian bawah kita bisa melihat informasi mengenai PPPOE server-nya. Kita bisa melihat di sini ada aktif name-nya apa, kemudian ada AC name. Biasanya AC name itu mengikuti dari identity si PPPOE server-nya. Jadi sebenarnya pada saat kita bikin dial out tadi kita juga bisa menentukan AC name dan juga service name. Ini biasanya digunakan apabila mungkin di satu segmen jaringan tersebut terdapat beberapa PPPOE server. Service sesuai dengan provider-nya kalau misalnya dia menentukan service name-nya secara spesifik. Kemudian AC name atau access konsentrator ini kalau di Mikrotik biasanya mengacu pada identity dari si router-nya. Contohnya ini tadi ya, dia menggunakan active AC name-nya adalah PPPOE server. Kemudian kita akan cek, seharusnya kalau sudah terkoneksi dia juga akan dapat IP secara otomatis. Kita bisa lihat di IP address. Kemudian karena tadi kita juga centang add default route maka nanti di IP route juga akan muncul otomatis DST-nya 00, gateway-nya adalah PPPOE. Kemudian tadi kita juga centang use peer DNS. Nah, ini juga akan dapat DNS secara otomatis atau kalau di sini namanya adalah Dynamic server. Nah, setelah nanti informasi-informasi ini sudah didapatkan oleh router, maka seharusnya si PPPOE klien ini sudah bisa connect ke internet. Kita akan coba cek di new terminal, kita akan coba ping ke internet sebagai contoh misalnya ke Google.com, maka hasilnya sudah akan di play. Nah, kalau misalnya nanti di bawah router ini ya di bawah router ini misalnya akan ada laptop atau mungkin jaringan klien yang terkoneksi, maka jangan lupa kita juga harus membuat ada namanya firewall NAT. Kita bisa masuk di menu IP, kemudian firewall, kita akan membuat source NAT mask grade. Kita tambahkan baru, chain-nya source NAT, kemudian out interface-nya adalah bukan ether satu. Tetapi kita langsung menggunakan PPPOE-nya. Ya, ether satu itu hanya media kabelnya saja, tapi sebenarnya traffic-nya itu akan melewati tunnel atau akan melewati yang namanya PPPOE yang sudah kita buat sebelumnya. Jangan lupa kita akan gunakan action-nya adalah mask grade. Nah, ini adalah basic config ketika ISP teman-teman itu menggunakan service PPPOE. Jadi kita buat PPPOE klien, kemudian bagaimana caranya agar klien yang di bawahnya bisa connect ke internet. Oke, kemudian kita akan coba lihat status atau bagaimana cara monitoring klien yang sudah terkoneksi di sisi server. Saya akan pindahkan lagi.

[16:08]Nah, saat ini saya sudah terkoneksi ke PPPOE server.

[16:20]Nih, kita bisa lihat identity di atas. Nah, bagaimana cara bisa memonitoring klien mana saja yang sudah terkoneksi, kemudian traffic-nya berapa saja. Kita bisa masuk di menu PPP, kemudian kita bisa masuk di menu Active Connection. Nah, di sini kita bisa lihat bahwa sudah ada satu user yang aktif, yaitu user satu, service-nya adalah PPPOE. Kemudian kalau Anda lihat di sini biasanya active connection ini digunakan untuk monitoring user-user untuk VPN. Misalnya remote site yang jarak jauh, kemudian ada remote jaringan kantor yang beda pula dan sebagainya itu semuanya akan masuk di sini. Maka kita bisa lihat di sini dari service-nya. Kemudian yang membedakan dari service VPN yang lain, PPPOE ini dia biasanya menggunakan caller ID-nya adalah Mac address. Karena memang proses inisiasinya itu dilakukan di layer dua dengan menggunakan Mac address sebagai alamat pengiriman datanya. Kemudian ada encoding atau enkripsi. Dia menggunakan MPPE 128 dan address-nya si klien itu mendapatkan alamat IP 172.16.1.2. Kemudian biasanya di menu PPPOE interface juga akan muncul sebuah interface baru sesuai dengan user-nya. Ini kalau kita klik dua kali, kita bisa melihat bahwa ini adalah user satu, kemudian status detailnya kita bisa lihat di sini. Ya, up time-nya sudah berapa lama, kemudian IP-nya berapa dan di interface mana terkoneksi ini semuanya bisa kita lihat di sini secara lebih detail. Nah, pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kalau misalnya user kita itu lebih dari satu. Sebenarnya cukup gampang. Yang pertama dari topologinya sendiri, kita bisa menghubungkan ether dua ini ke sebuah switch. Jadi dari switch nanti bisa disalurkan kembali, dihubungkan kembali ke router-router yang akan menjadi PPPOE klien. Nah, sebenarnya kliennya itu tidak hanya bisa sebuah router tapi bisa juga misalnya laptop. Karena sebenarnya di dalam laptop sendiri juga sudah include fitur sebagai PPPOE klien atau biasanya kalau di laptop itu sebutannya adalah broadband. Nah, kita akan coba sebuah simulasi yang kedua, bagaimana kalau misalnya kliennya itu lebih dari satu dengan kondisi sekarang yang saya di sini tidak memiliki sebuah switch. Maka nanti akan saya manfaatkan fitur bridge yang ada di RB Mikrotik. Yang pertama adalah saya akan coba nanti PPPOE-nya itu akan aktif selain di ether dua itu juga akan aktif di ether empat di sini. Karena kebetulan laptop saya konek ke ether empat.

[19:22]Nah, terakhir nanti akan saya coba bagaimana caranya konfigurasi PPPOE klien di sisi laptop. Nah, pertama akan saya ubah dulu konfigurasi di server-nya, yang pertama akan saya buat bridge dulu. Kita masuk di menu bridge, kemudian kita tambahkan bridge baru namanya misalnya bridge satu. Kemudian di bridge port-nya saya tambahkan dua interface. Yang pertama adalah ether dua, masuknya di bridge satu. Kemudian ether empat, ini yang konek ke laptop, masuknya juga sama ke bridge satu. Nah, karena ada perubahan konfigurasi terutama di bridge biasanya nanti dia akan disconnect, tinggal kita reconnect ulang. Kemudian yang perlu kita ubah adalah di PPPOE server-nya. Kita masuk di menu PPP, kemudian kita masuk di PPPOE server. Nah, biasanya kalau misalnya tadi saya gunakan ether dua, di sini akan ada errornya yaitu service is on a slave interface. Artinya apa? Artinya adalah PPPOE server Anda tidak akan jalan. Nah, karena ether dua ini saat ini sudah menjadi slave interface atau dia masuk ke dalam sebuah bridge. Bagaimana agar nanti si server ini berjalan di ether dua dan ether empat, tinggal kita pindah, kita bisa klik dua kali, interface-nya kita pindah ke interface bridge satu. Kemudian kita apply. Nah, ini bisa dimanfaatkan kalau misalnya teman-teman pengen membuat service-nya itu jalan di beberapa interface sekaligus. Tinggal kita masukkan ke dalam bridge-nya. Kemudian di bagian secret ini sebenarnya kita bisa punya dua pilihan. Kalau misalnya kita punya lebih dari satu klien, Anda pengen semua klien itu menggunakan username dan password yang sama atau Anda pengen beda-beda. Kalau Anda pengen beda-beda, berarti nanti kita bisa tambahkan satu persatu. Misalnya saya tambahkan lagi ada user dua, kemudian password-nya sama tes, service-nya PPPOE, profile-nya default enkripsi. Profilenya default enkripsi. Kemudian local dan remote address-nya saya tambahkan lagi seperti ini dengan IP yang dengan IP remote address yang berbeda dari user satu, misalnya 172.16.1.2, kemudian saya oke. Kalau teman-teman misalnya tidak pengen membuat satu persatu user-nya, sebenarnya pilihan kedua bisa lebih mudah yaitu dengan menggunakan username yang sama untuk semua klien. Tapi yang perlu diperhatikan adalah agar nanti manajemen yang lebih mudah, kita akan buat agar nanti klien itu mendapatkan IP yang berbeda-beda. Caranya gimana? Caranya kita bisa memanfaatkan namanya adalah IP pool. Kita akan buat dulu misalnya ada IP pool ya, kita masuk di menu IP pool, kemudian kita tambahkan baru misalnya di sini ada pool PPPOE. PPPOE, address-nya misalnya dari 172.16.1.2 sampai 172.16.1.10. Tergantung nanti klien Anda ada berapa banyak. Kemudian kita apply. Nah, pool ini nanti kita bisa manfaatkan di profile. Kita masuk di menu PPP, kemudian profile. Misalnya kita tambahkan baru, namanya adalah profile PPPOE. Kita manfaatkan pool-nya tadi di sini di bagian remote address. Di remote address ini kita pilih ada namanya pool PPPOE. Nah, local address-nya kita bisa isikan secara manual misalnya 172.16.1.1. Di parameter yang lain, misalnya ada protokol, kita bisa aktifkan use encryption agar lebih aman. Kemudian di bagian limit, ya pastikan bahwa only one-nya kita set no karena satu username akan kita pakai untuk banyak klien. Nah, kalau pengen memberikan misalnya rate limit, kemudian Anda ingin menempatkan queue-nya itu sebagai child dari sebuah parent, kita juga bisa manfaatkan dynamic queue yang ada di menu profile. Oke, saya apply, maka saya akan memiliki sebuah profile baru namanya profile PPPOE. Nah, di secret ini tinggal Anda tentukan username apa yang akan digunakan. Misalnya, saya tambahkan baru saja, misalnya ini adalah user PPPOE. Password-nya sama tes, kemudian service-nya PPPOE, profile-nya saya arahkan ke profile PPPOE. Nah, local sama remote address di sini tidak perlu diisi karena nanti akan mengambil dari informasi yang ada di profile-nya. Kemudian saya apply.

[24:32]Percobaan terakhir yang akan saya coba adalah saya akan membuat sebuah PPPOE klien di laptop. Nah, ini mungkin biasanya bisa digunakan untuk distribusi ke arah klien. Jadi mungkin klien-klien nanti laptop langsung juga bisa atau misalnya Anda pengen melakukan konfigurasi pengetesan di mana mungkin Anda konek langsung ke jaringan ISP. Jadi sebelum masuk ke Mikrotik, Anda tes dulu dengan laptop langsung apakah memang speed-nya sesuai atau enggak. Nah, bagaimana caranya? Kondisi awalnya adalah di sisi interface-nya PPPOE server tidak ada setting IP sama sekali untuk ke arah kliennya di ether dua. Ether empat maupun di bridge-nya, kemudian di sisi laptop-nya sendiri juga tidak ada konfigurasi apapun. Bahkan kalau misalnya di ethernet-nya ini saya setting sebagai DHCP klien, dia juga tidak akan mendapatkan IP secara otomatis. Ini, kalau kita cek di sini di ethernet status, detail, nah IP-nya adalah 169. Atau dengan kata lain bahwa DHCP server-nya tidak memberikan informasi apapun karena memang untuk saat ini tidak ada DHCP server. Nah, bagaimana agar si laptop bisa connect ke internet? Caranya adalah dengan membuat interface baru. Kalau di laptop yang saya gunakan, saya bisa membuat di sebelah kiri ada namanya dial up. Saya bisa set up new connection, kemudian connect to internet. Kita next. Nah, kalau di laptop biasanya pilihannya adalah broadband atau PPPOE. Ini kita bisa klik. User name-nya misalnya tadi sesuai secret yang saya buat adalah user PPPOE, password-nya adalah tes. Kemudian connection name-nya mungkin saya bikin adalah internet misalnya. Kemudian saya connect, dia akan ada pengetesan koneksi internet. Nah, sekarang sudah ada notif bahwa kita sudah terhubung ke internet.

[26:52]Saya bisa close, saya akan lihat di broadband saya atau yang namanya internet ini saya akan cek di bagian status.

[27:09]Di bagian status, kemudian saya klik details. Nah, kita bisa lihat di sini bahwa IP yang kita dapatkan adalah 172.16.1.10. Kemudian DNS server-nya adalah 1611. Nah, kita akan coba misalnya browsing.

[27:37]Misalnya YouTube.com juga sudah bisa terbuka. Ya, jadi sebenarnya kalau misalnya Anda sebagai PPPOE klien atau VPN klien, memang di sini tidak akan terlihat gateway-nya di mana, tapi akan langsung informasi-nya seperti ini. Tapi walaupun seperti ini, gateway-nya tidak muncul, sebenarnya kita sudah bisa terkoneksi ke internet dengan konfigurasi kalau di sini saya coba adalah PPPOE klien. Itu tadi teman-teman, percobaan saya mengenai PPPOE server dan klien, baik di Mikrotik maupun di laptop. Nah, sebenarnya ini bisa jadi alternatif kalau misalnya teman-teman pengen membuat jaringan yang lebih aman untuk ke arah klien. Karena ada autentikasinya, jadi tidak semua orang bisa terkoneksi secara sembarangan, harus tahu username dan password-nya. Kemudian juga ada enkripsinya, jadi data yang dipertukarkan akan lebih aman. Kemudian kalau misalnya memang kliennya sangat banyak dan Anda pengen membuat sebuah sistem database username yang terpusat, Anda bisa manfaatkan Radius server atau kalau di Mikrotik kita bisa menggunakan yang namanya user manager. Nah, sekian video tutorial Mikrotik kali ini. Terima kasih telah menonton, jangan lupa klik subscribe dan tekan tombol lonceng. Kalau misalnya teman-teman ada pertanyaan, silakan kirim komen di bawah. Jangan lupa share juga video ini ke teman-teman yang lain. Kalau misalnya teman-teman pengen memiliki berbagai macam tipe router board Mikrotik silakan langsung kunjungi ke website Citraweb.com. Terima kasih telah menonton dan sampai jumpa di video-video kami selanjutnya.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript