[0:20]Waktu dimulai dari sekarang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillahirabbil alamin. Wasalatu wassalamu ala asrofil anbiya wal mursalin. Sayyidina wa Maulana Muhammad. Allahumma sholli wa sallim wa barik alaih. Allahumma sholli alaihi. Allahumma sholli alaihi. Allahumma sholli wa sallim wa barik alaih. Waala alihi wa ashabihi ajmain. Amma ba'du. Segala puji bagi Allah, selawat dan salam bagi Rasul-Nya. Dewan hakim yang arif dan bijaksana. Hadirin kaum muslimin sebangsa dan setanah air yang kami muliakan. Mental adalah modal utama manusia untuk mencapai suatu kejayaan. Jika mental tertata, karakter mulai terjaga, maka generasi Indonesia siap menghadapi tantangan dunia. Namun hadirin, tanpa sadar saat ini Indonesia tengah terjajah, bukan secara fisik tapi malah jatuh dalam gaya baru imperialisme. Di mana kehidupan penuh dengan hedonisme, nilai-nilai keluhuran budaya terlupakan, korupsi terjadi di berbagai bidang dan kemaksiatan semakin transparan. Mukhtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia halaman 23 menggambarkan karakter manusia Indonesia yang lemah, canderung hipokrit, suka meniru dan ber balas-balas. Dalam kondisi seperti ini hadirin untuk membangun peran pemuda. Revolusi mental lah sebagai kuncinya. Sebagaimana yang dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1956. Bahwasanya revolusi mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia untuk menjadi manusia yang baru, berhati putih, lebih maju dan berjiwa tangguh. Kini hadirin, setelah 74 tahun merdeka, perjuangan ini belumlah usai. Kita harus terus melakukan revolusi meski dalam artian yang berbeda. Bukan lagi mengangkat senjata, tapi membangun jiwa bangsa. Untuk itulah hadirin, dalam Majelis Musabaqah Syarhil Quran di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel ini, perkenankanlah kami menyampaikan syarah Al-Qur'an yang bertajuk karakter pemuda dalam membangun revolusi mental bangsa. Dengan berlandaskan Al-Qur'an surah Al-Anfal ayat 53 sebagai berikut. Auzubillahiminasyaitonnirojim.
[4:16]Bismillahirrohmanirrohim.
[4:42]Alhamdulillahillahi lam yakul ghairan ni'matan an'ama'ala qomin hatta yugoyiru ma bi anfushim wa anallah samil alim.
[5:40]Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah diberikannya kepada suatu kaum. Hingga kaum itu mengubah atas apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui. Hadirin yang dirahmati Allah, dalam tafsir Ibnu Katsir jilid 4 halaman 65 menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberitahukan tentang keadilannya yang sempurna. Allah tidak akan mengubah nikmat yang dikaruniakannya kepada seorang melainkan karena dosa yang telah dilakukannya. Dari ayat tersebut hadirin, jelas bahwa Allah tidak akan mengubah suatu apapun jika kita tidak memiliki niat dan upaya untuk mengubahnya termasuk membangun peran pemuda. Maka kita harus berusaha untuk mendidik diri sendiri dan bangsa kita agar selalu berakhlakul karimah. Jujur kita akui hadirin, saat ini banyak generasi bangsa kita yang masih bermental keras, berdaya hebat, gagah kuat dan berandalan maksiat. Sebagai contoh, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat jumlah tawuran pelajar di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Terdapat 12,9% di tahun 2017 dan meningkat menjadi 14% di tahun 2018. Belum lagi ketidakjujuran dan manipulasi, komunikasi yang tidak empati dan sikap perilaku yang kurang menghargai warna pemuda kita saat ini. Berulang kali kasus itu terjadi seperti korupsi, tak jujur bahkan tak empati. Karakter bangsa harus terus dijaga, revolusi mental menjadi kunci yang utama. Hadirin, begitu pentingnya pendidikan karakter hingga Aristoteles pernah berkata, "Mendidik pikiran saja tanpa mendidik hati dan karakter hanyalah aman kosong belaka."
[9:06]Pendapat ini didukung oleh Thomas Lickona dalam bukunya Educating Character bahwasanya pembinaan karakter adalah hal yang utama untuk menentukan masa depan bangsa. Lalu hadirin, bagaimanakah karakter yang sesuai untuk revolusi mental di Indonesia? Dengan sangat indah Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjawabnya dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 110 sebagai berikut. Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnasi ta'muruna bil ma'ruf wa tanhauna anil mungkar. Watanhauna anil munkari wa tukminuuna billah.
[11:14]Kamu umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Karena kamu menyuruh untuk berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah.
[11:43]Sekiranya ahli kitab beriman, maka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Hadirin sebangsa dan setanah air yang kami muliakan. Muhammad Ali As-Sarbuni dalam kitab tafsirnya Sofwa Tufasir jilid satu menjelaskan bahwasanya kita umat Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam adalah umat terbaik yang dipilih Allah untuk menghadapi tantangan akhir zaman. Merujuk pada tafsir tersebut hadirin, karakter yang sesuai untuk revolusi mental Indonesia adalah amar makruf nahi mungkar. Generasi bangsa kita harus intensif dan dan dalam menolak kemaksiatan dan gemar menebar kebaikan. Dari syarahan tadi hadirin, dapat kita ambil tiga kesimpulan yang pertama, mental adalah modal utama untuk meraih sebuah kejayaan. Yang kedua, revolusi mental dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter dan yang ketiga, amar makruf nahi mungkar adalah salah satu contoh karakter yang dapat kita terapkan di Indonesia. Demikian syarahan yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Hai pemuda, karakterlah yang utama. Tebar kebaikan dan segemar untuk negeri kita Indonesia.



