Thumbnail for Drama mahkota Surga- Malam kreasi santri LPQ Darul Mukhlisin by LPQ DARUL MUKHLISIN

Drama mahkota Surga- Malam kreasi santri LPQ Darul Mukhlisin

LPQ DARUL MUKHLISIN

14m 23s885 words~5 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Pull quotes
[0:03]Disebuah desa hiduplah sebuah keluarga yang hidup sederhana, keluarga itu terdiri dari seorang Bapak, seorang Ibu dan seorang anak laki-laki.
[0:38]Waduh, Ibu ini gimana sih, anak keluar kok malah tidak tahu, kalau begini terus mau jadi apa anak Ibu Bu?
[0:38]Wah Bapak kok jadi marah-marah sih, yang sabar dong Pak nanti Hasan juga pulang kok.
[1:57]Seharusnya, kamu ingat pesan Ustaz, tetap murajaah di rumah supaya hafalanmu tidak hilang.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:03]Disebuah desa hiduplah sebuah keluarga yang hidup sederhana, keluarga itu terdiri dari seorang Bapak, seorang Ibu dan seorang anak laki-laki.

[0:38]Bu, sudah jam segini kok Hasan belum pulang ya Bu. Oh, iya Pak, tadi sore keluar sama temannya. Terus dia ke mana Bu? Nah itu Pak, Ibu tidak tahu. Waduh, Ibu ini gimana sih, anak keluar kok malah tidak tahu, kalau begini terus mau jadi apa anak Ibu Bu? Wah Bapak kok jadi marah-marah sih, yang sabar dong Pak nanti Hasan juga pulang kok.

[1:13]Assalamualaikum. Waalaikumsalam.

[1:20]Dari mana saja kamu, malam-malam keluar terus. Hasan habis beli pulsa Pak. Pulsa terus, yang malam HB-an terus kamu san, san.

[1:57]Ingat Hasan, kamu itu jangan sering begadang sama main HP terus Nak. Tahun kemarin kamu kan sudah wisuda tahfiz juz 30. Seharusnya, kamu ingat pesan Ustaz, tetap murajaah di rumah supaya hafalanmu tidak hilang. Bapak tidak pernah lihat kamu murajaah, Malam Jumat saja Bapak tidak pernah lihat kamu Yasin di rumah.

[2:31]Begini saja, kamu harus berangkat ke pondok pesantren, kamu harus belajar di sana dan terus hafalanmu itu. Bu, Hasan tidak mau mondok, Bu, Kasih tahu Bapak, Bu. Pokoknya Hasan tidak mau mondok, Bu. Hasan, Bapakmu itu benar Nak, lebih baik kamu belajar di pesantren saja. Enggak Bu.

[2:59]Ya Allah, bukakanlah hati anakku.

[3:10]Keesokan harinya seperti biasa, Hasan nongkrong bersama teman-temannya.

[4:17]Wah, sudah magrib nih Bro. Sini sajalah, Bro, aku malas pulang, di rumah aku hanya diceramahin sama Bapak.

[4:29]Yang lebih gawat lagi, aku disuruh mondok terus. Nah, bagus itu, Bro. Apanya yang bagus? Kamu lihat aku ini, Bro. Aku sih pengen mondok tapi orang tuaku tidak membolehkan, katanya sih biayanya mahal, jadi beruntunglah kamu Bro. Loh, kamu kok dukung aku mondok sih? Kalau aku mondok kita kan enggak bisa main lagi dan kamu tahu enggak mondok itu susah, jauh dari orang tua, makannya pun seadanya dan yang lebih parahnya lagi di pondok tidak bisa pegang HP, bisa stres aku, Bro.

[5:15]Waduh, Ibuku telepon. Halo, assalamualaikum.

[5:22]Iya Bu, iya. Aku disuruh pulang, Bro. Oke, hey Hasan, mondok itu keren loh.

[5:47]Di rumah Hasan terlihat ibu dan bapak Hasan sedang mondar-mandir memikirkan Hasan. Sudah ditelepon si Hasan? Sudah, Pak. Bu, Hasan itu amanah dari Allah untuk kita jadi berat Bu, berat. Kita sebagai orang tua jika anak kita masih seperti itu.

[6:11]Tidak ada pendidikan yang lebih baik dan lebih bagus. Selain di pondok, kalau kita biarkan anak kita lupa salat dan ngajinya, maka kita yang berdosa Bu. Kita punya tanggung jawab besar di akhirat. Iya Pak, iya. Ibu paham. Nanti kalau Hasan datang kita nasehati Pak, kita bujuk pelan-pelan agar dia mau mondok. Assalamualaikum. Waalaikumsalam.

[6:44]Hasan, besok hari Minggu kamu harus berangkat ke pesantren, jadi besok kamu harus berangkat ke pondok. Hasan, mondok itu keren loh. Pondok itu tempat yang menyenangkan Nak. Tempat yang bagus untuk meraih cita-citamu. Di pondok kamu akan mendapatkan dua ilmu. Ilmu agama dan ilmu umum Nak. Ibu berharap kamu bisa meneruskan hafalanmu. Ibu yakin kelak kamu akan menjadi orang yang sukses. Baiklah, Bu. Bismillah Hasan mau mondok, Bu. Alhamdulillah, Ibu senang sekali mendengarnya. Insyaallah Allah akan memberi kemudahan untukmu Nak. Amin.

[8:04]Assalamualaikum. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[8:14]Maksud kedatangan kami ingin menitipkan anak kami di pesantren ini, Pak Kiai. Alhamdulillah. Dengan senang hati, siapa namamu, Nak? Nama saya Hasan, Pak Kiai. Nama yang bagus sekali, insyaallah kebaikan akan selalu datang kepadamu. Amin, terima kasih, Pak Kiai. Pak Kiai, cita-cita kami semoga Hasan ini kelak menjadi penghafal Al-Quran, Pak Kiai. Kami tidak punya harta dan benda yang bisa kami berikan kepada Hasan. Namun kami ingin membekali Hasan dengan ilmu dan Al-Quran agar kelak kami bisa bersama dunia akhirat, Pak Kiai. Subhanallah, alhamdulillah. Saya bangga dan terharu mendengarnya. Semoga Allah mengabulkan keinginan kalian. Amin. Kami mohon pamit Pak Kiai. Assalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hasan, bulatkan niatmu Nak, teguhkan hatimu, kau sudah dengar sendirikan apa cita-cita orang tuamu. Buat mereka bahagia dunia hatta yaumul akhirat. Baik, Pak Kiai.

[9:50]Takkan kusia-siakan waktu yang terus berjalan. Untuk meraih impian masa depan gemilang. Berguna bagi agama, bangsa juga negara. Semangat kan kujaga untuk terus berjuang.

[10:27]Walau lelah, berkorban takkan pernah menyerah. Tantangan dan rintangan kan kuhadapi semua. Ayat demi ayat kubacakan, surat bersurat kuulang-ulang. Dari juz ke juz terus kulantunkan semoga kuhafal seluruh Al-Quran. Al-Hafiz.

[11:05]Hasan pun menghafal Al-Quran dengan setulus hati. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Hasan berhasil menghafal Al-Quran dan tibalah saatnya ia mengikuti acara wisuda kelulusan. Namun, sehari sebelum wisuda Hasan mendapat kabar bahwa ayahnya sedang sakit keras di rumah. Lalu ia memohon pamit pada Pak Kiai untuk menjenguk ayahnya di rumah.

[11:53]Bapak. Bapak. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

[12:09]Begitu cepat Bapak meninggalkan kami.

[12:22]Hasan belum bisa membahagiakan Bapak.

[12:30]Anakku, yang sabar Nak. Insyaallah ini adalah takdir yang terbaik dari Allah. Kau harus kuat Nak. Detik waktu yang memburu. Detik yang tak pernah kembali padamu. A'udzubillahiminas syaitonnirojim. Bismillahirrohmanirrohim.

[13:14]Izassama unfatorod. Izalkawakibuttasorot. Izalbiharrufujjirot. Detik waktu yang memburu. Detik yang tak pernah kembali padamu. Hasan, hapuslah air matamu. Berdirilah Nak. Taklah jika kau katakan kau belum bisa membahagiakan Bapakmu. Dengarkan Pak Kiai, baru saja Pak Kiai terbangun dari tidur. Dalam tidur Pak Kiai melihat Bapakmu sedang memakai pakaian sangat indah dan memakai mahkota yang terbuat dari nur cahaya. Semua itu karena kau Hasan. Kau telah menghafal Al-Quran sesuai cita-cita orang tuamu. Terima kasih ya Allah. Maka dari itu kau jangan bersedih lagi, Nak. Baik, Pak Kiai.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript