[0:13]Cerita rakyat dari Bali, berjudul Legenda asal mula Desa Trunyan, Kedisan, dan Abang Dukung. Ada sebuah kisah pada zaman dahulu kala, seorang raja Solo yang bertahta di Keraton Surakarta mempunyai empat orang anak. Yang terdiri dari tiga anak laki-laki, dan yang bungsu adalah seorang anak perempuan. Pada suatu hari, di dalam keraton tiba-tiba tercium sebuah harum yang sangat menyengat. Hmm, bau apa ini? Apa kalian menciumnya juga? Ketiga adiknya mencoba mengendus. Iya Kanda, baunya harum, tapi menyengat sekali. Eh, bau apa ini? Aneh sekali. Iya, tidak biasanya di keraton tercium bau harum seperti ini. Keempat bersaudara itu pun mencari sumber bau yang menyengat itu. Sepertinya bau ini berasal dari arah timur Kanda. Kamu benar Adikku. Ayo kita cari tahu. Keempat bersaudara itu sangat penasaran pada bau itu. Akhirnya mereka sama-sama mencari sumber bau tersebut. Ternyata dicari tidak ketemu-ketemu, tetapi mereka masih penasaran. Akhirnya mereka berpamitan dengan ayah untuk mencari asa bau tersebut. Baiklah, jika itu yang kalian inginkan, pergilah dan berjanji untuk saling menjaga satu sama lain. Akhirnya keempat saudara tersebut menempuh perjalanan mencari asal mula bau tersebut. Mereka menyusuri hutan, menyebrangi sungai dan Selat Bali. Hingga akhirnya mereka berempat sampai di Pulau Bali. Kita sudah sampai di Bali, dan baunya semakin menyengat. Berarti yang kita lalui tidak salah. Kita semakin dekat dengan bau itu. Ayo lanjutkan perjalanan. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Pulau Bali di sebelah timur. Di antara Desa Ciluk Karangasem dan tepi di dekat Buleleng. Saat mereka sampai di kaki Gunung Batur, si putri bungsu tiba-tiba berhenti. Adinda, mengapa berhenti? Adinda tertarik dengan tempat ini Kanda. Sangatlah indah. Jika diperbolehkan, izinkan Adinda tinggal di tempat ini. Ketiga kakaknya pun berunding dan mengecek tempat tersebut. Baiklah, Adinda. Jaga dirimu baik-baik, ya. Kami akan mencari sumber bau itu dulu. Lalu kami akan kembali ke sini. Kau harus berhati-hati ya Adikku sayang. Tentu Kakanda, berhati-hatilah dalam perjalanan. Sejak itulah, Putri Bungsu dari Kerajaan Surakarta tinggal di lereng Gunung Batur sebelah timur. Di mana ada Pura Batur berdiri yang kemudian diberi gelar Ratu Ayu Mas Kaketek. Sementara itu, ketiga kakaknya kembali melanjutkan perjalanan mencari asal bau harum yang sangat menyengat itu. Di tengah perjalanan, mereka mendengar suara burung yang sangat merdu. Dari arah barat daya Danau Batur, yaitu di Dataran Kedisan. Suara burung tersebut sangat nyaring bunyinya, sehingga membuat Pangeran ketiga berteriak kegirangan. Bagus sekali suara burung itu. Wah, bagus sekali. Senang sekali aku. Melihat tingkah adiknya yang kegirangan, sang Pangeran Sulung menjadi murka. Hei Adikku, jika kamu senang dengan tempat ini, maka tinggallah di sini saja. Tidak perlu teriak-teriak. Tidak, Kakanda. Namun si Pangeran Sulung telah murka dengan kelakuan adiknya tadi. Akhirnya ia menendang adiknya hingga sang adik terjatuh dengan keadaan posisi duduk bersila, dan menjadi patung. Kini patung tersebut dikenal dengan patung Batara yang menjadi gelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero. Kini bersemayam di Melinggoy, di Meru Tumpang Pitu, atau bangunan Tumpang tujuh di Pura Dalam Tingit, Desa Kedisan. Kini tinggal dua orang bersaudara yang melanjutkan perjalanan, yaitu Pangeran Solo Sulung dan Pangeran kedua. Mereka melakukan perjalanan dengan menempuh Danau Batur sebelah timur. Kemudian mereka bertemu dua gadis cantik. Sang Pangeran kedua sangat tertarik. Ia pun menyapa mereka. Hei gadis cantik, mau pergi ke mana kau? Mau kah aku temani? Hehehe. Ternyata tindakan si Pangeran kedua itu tidak disukai Pangeran Sulung. Hei Adikku, jika kamu lebih senang dengan kedua gadis itu dan melupakan misi kita, tinggallah kamu di sini. Tidak Kanda, aku ingin terus mencarinya bersama Kanda. Namun sang Pangeran Sulung telah murka. Ia menendang adiknya sampai jatuh dengan keadaan terterlungkup. Alah bohong, kau pasti lebih memilih mereka. Konon, Pangeran kedua itu menjadi kepala desa di Desa Abang Dukuh. Akhirnya Pangeran Sulung melanjutkan perjalanannya seorang diri untuk mencari sumber bau harum yang menyengat itu. Ia menyusuri pinggir Danau Batur yang curam. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah daratan. Di sana ada sang Kakak dan seorang Dewi yang sangat cantik jelita. Ia duduk di bawah pohon tarum menyan. Karena parasnya yang sangat cantik, Pangeran pun terpesona melihat kecantikannya. Dan berniat untuk melamarnya. Oh, rupanya ini sumber bau harum yang menyengat itu. Kau sungguh cantik jelita. Maukah kau menikah denganku? Baiklah, engkau boleh menjadi suami Adikku, tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi. Apa itu? Kau harus menjadi pancer jagat atau pemimpin desa. Baiklah, aku terima syarat itu. Akhirnya pesta perkawinan antara Pangeran Sulung dan sang Dewi pun dilangsungkan dengan sangat meriah. Setelah pernikahan tersebut, sang Pangeran dinobatkan sebagai kepala desa di Desa Trunyan. Nama desa tersebut diambil dari nama pohon tarum menyan. Taru berarti pohon, dan menyan berarti harum. Setelah menjadi suami sang Dewi, Pangeran Sulung mendapatkan gelar Ratu Sakti Pancerin Jagat, yang menjadi dewa tertinggi orang Trunyan. Sedangkan sang Dewi bergelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar, yang menjadi penguasa danau. Sejak saat itulah, Ratu Sakti Pancerin Jagat dibantu istrinya untuk memimpin Desa Trunyan dengan arif dan bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, desa tersebut menjadi sejahtera dan berkembang menjadi kerajaan kecil. Sang Ratu Sakti Pancerin Jagat ingin agar seluruh rakyatnya hidup damai tanpa serangan dari kerajaan luar. Maka dari itu, ia meminta untuk menghilangkan bau harum yang menyengat itu. Wahai seluruh rakyatku, aku perintahkan kepada kalian agar tidak lagi menguburkan jenazah orang Trunyan. Biarkan saja di bawah pohon tarum menyan. Sehingga bau harum itu tidak mengundang kedatangan orang luar ke negeri ini. Jadi negeri ini akan aman dan damai. Sejak saat itulah, ketika ada penduduk Trunyan yang meninggal, jenazah mereka dibiarkan membusuk di bawah pohon tarum menyan. Jadi pohon tersebut tidak mengeluarkan bau yang menyengat. Begitu pula sebaliknya, jenazah tidak mengeluarkan bau busuk karena bau harum pohon tarum menyan menetralsir bau tersebut.

Legenda Asal Mula Desa Trunyan, Kedisan dan Abang Dukung - Cerita Rakyat Bali | Dongeng Kita
Dongeng Kita
7m 59s923 words~5 min read
Auto-Generated
Watch on YouTube
Share
MORE TRANSCRIPTS


