[0:02]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pagi ini Hazanah kembali menyajikan kepada Anda embun-embun ilmu yang terpendam dalam luasnya Khazanah Islam.
[0:17]Mengungkap tentang malaikat seperti membuka tabir alam gaib. Karena para malaikat merupakan makhluk istimewa yang diciptakan Allah yang tak dapat diketahui keberadaannya dengan indra manusia. Maka mengungkap keberadaan makhluk Allah ini tak bisa hanya merujuk pada fakta-fakta ilmiah manusia. Akan tetapi harus merujuk pada informasi-informasi akurat dari Al-Quran dan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
[0:48]Keberadaan makhluk ini sangat istimewa. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan malaikat dari cahaya. Cahaya apa? Tidak dijelaskan rincian tentang hal ini dan kita tidak dibebani syariat untuk mencari tahu tentang hal itu. Ibunda Aisyah radhiyallahu anha menyampaikan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian (tanah)." Hadis riwayat Muslim. Makhluk yang tidak dianugrahi syahwat, tidak makan dan tidak minum ini, tentu saja memiliki kecenderungan yang berbeda dengan kecenderungan manusia dan jin. Kecenderungan para makhluk yang tercipta dari cahaya itu adalah kecenderungan rohani. Seperti yang dilakukan oleh para malaikat di sekitar arsy Allah. Mereka bertasbih memuji Allah Subhanahu Wa Ta'ala memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. Mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala." Al-Qur'an surat Ghafir ayat 7. Demikian pula yang dilakukan malaikat-malaikat lain. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya dan memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi. Ingatlah, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Al-Qur'an surah Asy-Syura ayat 5.
[2:43]Tasbih di sini tidak terbatas pada ucapan, tetapi juga sikap dan perbuatan. Ada di antara mereka yang berdiri dan yang rukuk. Ada yang sujud, ada yang bertawaf mengelilingi Al-Baitul Makmur, ada yang berselawat untuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, serta ada juga yang terus beristigfar untuk orang-orang mukmin. Itu semua mereka lakukan tanpa jemu dan tanpa henti. Dalam pengabdian itu mereka sangat teratur, bahkan melakukannya dengan bersof-sof. Dan sesungguhnya kami selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah). Dan sungguh, kami benar-benar terus bertasbih (kepada Allah). Al-Qur'an surat As-Shaffat ayat 165 hingga 166.
[3:33]Informasi tentang wujud para malaikat ini pun juga terbatas. Dari keterangan hadis Nabi bisa diketahui tak semua alam malaikat dan seluk-beluknya diizinkan Allah untuk diinformasikan oleh Nabi pada umatnya. Hal ini bisa kita lihat dari ungkapan Nabi sendiri saat menyampaikan ukuran fisik malaikat pemikul arsy Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam sabdanya, "Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah pemikul Arasy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan." Hadis riwayat Abu Dawud.
[4:10]Berdasarkan keterangan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ini jika dihitung dengan perhitungan sekarang, panjang pundaknya malaikat pemikul arsy Allah lebih dari 10 juta kilometer. Padahal panjang bumi hanya sekitar 6 juta kilometer lebih, artinya panjang pundak malaikat pemikul arsy sekitar dua kali panjang bumi. Dengan begitu, lebar badannya bisa mencapai 20 juta kilometer, belum terhitung lebar lehernya bisa lebih dari empat kali panjang bumi. Sulit dibayangkan makhluk sebesar ini wujudnya seperti apa.
[4:47]Salah satu dari pemikul arsy itu adalah Israfil, sang peniup sangkakala. Tahukah Anda besarnya sangkakala itu? Diameternya saja sebesar antara langit dan bumi, sedangkan jarak langit dan bumi adalah 500 tahun perjalanan dengan kuda yang tercepat. Rasulullah bersabda, "Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?" Kami (para sahabat) menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Jarak langit dan bumi adalah perjalanan 500 tahun..." Hadis riwayat Abu Dawud dan lainnya. Bayangkan, betapa agungnya penciptaan malaikat pemikul arsy. Jika postur para malaikat begitu besar dan jumlahnya sangat banyak, tentu membutuhkan tempat yang sangat besar dan luas. Lalu di mana mereka tinggal? Berdasarkan keterangan Al-Qur'an, kita bisa mengetahui bahwa para malaikat itu tinggal di seluruh lapisan langit. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Berapa pun banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka tidak akan berguna sedikit pun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang Dia kehendaki dan ridhai." Al-Qur'an surat An-Najm ayat 26. Saat Nabi sallallahu alaihi wasallam Mikraj ke langit didampingi Malaikat Jibril alaihi salam, Malaikat Jibril meminta izin untuk dibukakan setiap pintu langit dari tujuh langit yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hal ini berarti setiap lapisan langit menjadi tempat tinggalnya para malaikat dan pintu langit pun dijaga oleh makhluk mulia ini. Setelah mencapai langit ketujuh saat Mikraj, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Kemudian aku dibawa naik ke Baitul Makmur. Setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke sana. Setelah keluar dari sana, mereka tidak kembali lagi."
[6:47]Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Baitul Makmur adalah tempat para malaikat bertawaf di langit. Ia seperti Ka'bah untuk tawaf manusia di bumi. Mengutip pemaparan Ibnu Shakir, Ibnu Katsir menyebutkan, pada suatu hari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya, Langit bergemuruh dan ia berhak untuk bergemuruh. Tak satu pun tempat berpijak di langit, kecuali di atasnya ada malaikat yang sedang rukuk atau sujud. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membaca ayat, "Tiada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan memiliki kedudukan tertentu. Sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah). Sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah)." Al-Qur'an surat As-Shaffat ayat 164 hingga 166. Dari tempat yang tinggi inilah para malaikat turun ke berbagai belahan bumi dalam berbagai kesempatan. Turun dan naiknya para malaikat inilah yang disebut dengan nuzul, uruj atau su'ud yang berarti turun dan naik.
[8:04]Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Pada malam itu malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril turun dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." Al-Qur'an surat Al-Qadr ayat 4. Pada malam Lailatul Qadar, malam kemuliaan, para malaikat turun dipimpin oleh Jibril Al-Amin dari langit menuju hamba-hamba Allah yang sedang melaksanakan salat. Mereka datang memberikan berkah, kabar gembira dan kebaikan kepada para hamba Allah yang beribadah.
[8:42]Pemirsa Khazanah, perintah dan titah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada para malaikat terjadi di tempat para malaikat berada, yaitu di langit. Langit yang disebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala berlapis tujuh, tak ada yang bisa memasuki area dan wilayah khusus ini kecuali mendapat izin dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Namun ada makhluk lain yang memiliki kemampuan bergerak seperti malaikat, yaitu para jin dan setan. Beberapa riwayat menyebutkan, dahulu sebelum diutus Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, jin dan setan dengan mudah naik ke langit dengan bebas untuk mencuri-curi dengar pembicaraan para malaikat. Perbincangan para malaikat tentang informasi perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka. Itulah informasi yang dicuri jin. Lalu disampaikanlah informasi itu pada para dukun dan tukang ramal di bumi. Oleh karena itu perdukunan pada masa sebelum Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sangatlah populer, selalu mendapat tempat yang mulia di masyarakat.
[9:48]Namun setelah Muhammad sallallahu alaihi wasallam diutus Allah sebagai rasul, para jin itu kaget karena mendapati langit telah dijaga ketat oleh barisan para malaikat. Setiap kali mereka mencoba melintasi langit, para malaikat melempari bola api sehingga membuat mereka banyak yang binasa. Hal ini diakui oleh para setan dan jin seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." Al-Qur'an surat Al-Jin ayat 9 hingga 10. Lalu apa yang diperbincangkan para malaikat dengan sesamanya di langit sehingga menarik minat para jin dan setan? Dan bagaimana pula cara jin dan setan mencuri dengar pembicaraan para malaikat di langit? Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menginformasikan pada kita dalam sabdanya, "Apabila Allah SWT menetapkan suatu ketetapan para malaikat merendahkan sayap mereka pertanda tunduk pada ketetapan-Nya bagaikan rantai yang menyentuh batu yang halus serta takut kepada-Nya. Maka apabila ketakutan mereka telah reda (sebagian) mereka bertanya kepada sebagian yang lain, "Apa yang disampaikan Tuhan?" Maka yang ini menjawab kepada yang bertanya. Ketika itu para jin yang mencuri-curi pendengaran dalam keadaan seperti ini, perawi hadis itu menunjukkan tangan kanannya dengan merenggangkan jari-jarinya satu di atas yang lain. Ketika itu boleh jadi yang mencuri pendengaran terkena semburan api sehingga membakarnya.
[11:50]Dan boleh jadi pula ia luput dari semburannya, sehingga ia menyampaikan kepada jin yang ada di bawahnya dan akhirnya sampai ke bumi dan diterima oleh tukang sihir, lalu ia berbohong seratus kebohongan dan ia percaya." Hadis riwayat Bukhari.
[12:07]Dalam hadis ini diterangkan bagaimana proses jin dalam mencari berita-berita gaib, yaitu dengan bertenger satu di atas yang lainnya. Seperti pertunjukan orang manjat pinang atau seperti seni binaraga yang dilakukan di sekolah-sekolah, yaitu dengan cara lima orang di bawah, lalu pada tingkat kedua naik empat orang, kemudian pada tingkat berikut tiga orang dan begitulah seterusnya. Lalu informasi seperti apa yang mereka cari? Mereka mencari berita gaib yang dari perkataan Allah kepada para malaikat. Saat para malaikat menerima perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk melakukan tugas tertentu, lalu perintah Allah itu menjadi perbincangan para malaikat. Mereka saling berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. Maka melalui percakapan malaikat ini, jin dan setan menguping dan mencuri dengar. Hasilnya mereka sampaikan kepada mitranya dari kalangan dukun dan peramal. Inilah yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat Asy-Syuara. "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa." Al-Qur'an surat Asy-Syura ayat 221 dan 222.
[13:28]Upaya mencuri berita ini tidak mudah. Karena Allah menjadikan sebagian bintang sebagai pelempar para jin dan setan yang berusaha mencuri dengar berita langit tersebut. Jika ada yang lolos dan selamat dari lemparan bintang berapi, mereka mencuri satu kalimat dari berita langit. Artinya mereka tidak mengetahui secara detail atau seutuhnya tentang berita langit tersebut. Lalu berita tersebut mereka campur dengan seratus kedustaan. Maka adanya manusia yang mempercayai dukun adalah gara-gara tidak melihat kebohongannya dan hanya mengingat satu kalimat yang terdapat seratus kebohongan itu. Lalu kalimat yang satu tersebut diekspos ke mana-mana, namun tidak mengekspos kebohongannya yang begitu banyak. Dulu sebagian sahabat Nabi pun sempat terkecoh dengan informasi dukun yang terkadang benar. Maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentang dukun. Jawab beliau, tidak perlu percaya. Lalu sahabat bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka kadang-kadang memberitahu kita sesuatu yang benar terbukti." Rasulullah kembali menjawab, "Itu adalah sebuah kalimat yang benar yang dicuri oleh jin, lalu ia bisikan ke telinga pembantunya, dukung. Kemudian ia campur dengan seratus kebohongan."
[14:50]Itu sebabnya Nabi sallallahu alaihi wasallam melarang umatnya untuk mempercayai kebohongan para dukun dalam sabdanya, "Barangsiapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima salatnya selama 40 hari." Hadis riwayat Muslim. Bahkan Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." Hadis riwayat Abu Dawud.
[15:38]Pemirsa Khazanah, langit yang setiap hari kita pandang sesungguhnya menyimpan banyak misteri. Apa yang belum berhasil diungkap oleh manusia, sesungguhnya masih jauh lebih banyak daripada yang sudah berhasil dicapai. Berbagai penelitian riset justru semakin menegaskan keterbatasan manusia. Setiap manusia berhasil mengungkap sesuatu yang baru. Saat itu juga mereka berhadapan dengan misteri baru. Maka di sinilah Islam menuntut manusia jika berhadapan dengan hal-hal gaib yang manusia buta informasi tentangnya, maka hanya wahyulah satu-satunya kebenaran yang bisa diandalkan. Baik wahyu Allah berupa Al-Qur'an atau yang disampaikan melalui lisan dan kalimat Nabinya, Al-Hadis. Salah satu informasi langit yang dikabarkan kepada manusia adalah Lauh Mahfuz, pusat data yang paling terjaga keamanan dan kerahasiaannya, termasuk dari para malaikat dan para nabi yang dekat sekalipun. Pusat data yang menyimpan segala sesuatu tentang informasi bumi dan langit, jauh sebelum keduanya diciptakan. Lauh Mahfuz berkaitan dengan takdir Allah untuk setiap dan semua makhluk. Sebelum Allah Azza Wa Jalla menciptakan semua makhluk, Allah sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh setiap makhluk. Kemudian pada masa 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, Allah menciptakan qalam atau pena. Lalu diperintahkannya qalam untuk menulis semua takdir. Hal ini dapat kita pahami dari kedua hadis berikut ini. "Allah menulis takdir pada makhluk 50.000 tahun sebelum diciptakannya semua langit dan bumi." Hadis riwayat Muslim. "Yang pertama yang diciptakan oleh Allah adalah pena." Allah berfirman, "Tulislah!" Pena menjawab, "Apa yang aku tulis?" Allah berfirman, "Tulislah takdir yang telah terjadi dan akan terjadi selamanya!" Hadis riwayat Tirmidzi. Hal ini juga telah Allah terangkan di dalam Al-Qur'an, "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya Allah mengetahuinya apa saja yang ada di langit dan di bumi? bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." Al-Qur'an surat Al-Haj ayat 70.
[18:20]Pada saat itu hanya ada Allah dan tidak ada apapun sebelumnya. Singgasananya di atas air, menulis semuanya dan menciptakan langit dan bumi. Hadis riwayat Bukhari. Menurut Ibnu Hajar yang memberi penjelasan hadis Bukhari ini, Allah menulis semuanya di Lauh Mahfuz. Secara bahasa, Lauh Mahfuz terdiri dari dua kata, lauh dan mahfuz. Lauh pada masa dahulu dikenal sebagai sebuah bidang papan atau tulang yang biasa digunakan untuk menuliskan sesuatu. Papan dan tulang itu hanya disebut lauh jika sudah ditulisi. Sedangkan qalam adalah alat tulis atau pena. Dulu biasanya dalam qalam berupa bulu unggas yang dipakai untuk menulis setelah sebelumnya dicelupkan ke tinta terlebih dahulu. Atau bisa juga berupa sebatang ranting atau kayu yang diruncingkan untuk menggores lauh. Sedangkan mahfuz berarti terjaga. Sebagian ulama mengartikannya terjaga dari penambahan dan pengurangan. Sebagian lain memaknai terlindungi dari intervensi setan. Tentang Lauh Mahfuz dan pena yang telah menulisnya, ada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, Sesungguhnya Allah menciptakan Lauh Mahfuz dari mutiara putih. Kedua sampulnya dari permata yakut merah. Bagian atasnya terkait dengan Al-Arsy atau singgasana Allah. Panjangnya seperti jarak langit dan bumi dan lebarnya seperti jarak antara timur dan barat. Sedangkan alat tulisnya atau yang disebut juga qalamnya berupa cahaya dan tulisannya juga cahaya. Dalam sehari Allah melihatnya sebanyak 360 kali dan setiap itu Allah Ta'ala memberi kehidupan dan mencabut nyawa, menciptakan dan memberi makan, meninggikan dan merendahkan dan melakukan apa yang dikehendakinya.
[20:55]Setiap waktu terus mengurus makhluknya.
[21:01]Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Kunci perkara gaib itu ada lima, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta'ala. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta'ala, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah Ta'ala, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah Ta'ala, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah Ta'ala, dan tidak seorang pun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah Ta'ala." Hadis riwayat Bukhari dan Ahmad. Nah, pemirsa Khazanah, sampai di sini perjumpaan kita hari ini. Terima kasih atas perhatian Anda. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



