[0:04]Melanjutkan pembahasan sebelumnya di mana setelah Su Qing menghabisi si botak, situasi di seluruh dermaga pun kembali tenang dan berjalan seperti biasanya. Scene lalu berpindah ke wilayah pegunungan, terlihat leluhur sekte Fajra yang sebelumnya bertarung dengan Su Qing. Kini masih terus mencari cara untuk menghabisi putra pilihan langit tersebut. Namun meski telah membaca buku kuno yang tak terhitung jumlahnya, leluhur sekte Fajra tak kunjung menemukan solusi dari masalah ini. Tak lama kemudian salah satu tetua dari sekte tujuh pupil darah pun muncul dari pengasingannya. Ternyata beberapa waktu ini leluhur sekte Fajra terus meminta bantuan kepada para tetua untuk menghabisi Su Qing. Dia sangat yakin kalau sosok seperti Su Qing dibiarkan terus berkembang, cepat atau lambat sekte Fajra maupun sekte tujuh pupil darah pasti akan hancur di tangannya. Namun di sini tetua Xian Yun mengatakan kalau permintaan leluhur sekte Fajra sudah terlalu berlebihan. Bagaimanapun mereka tidak mungkin membunuh seorang murid tingkat bawah tanpa alasan yang jelas. Terlebih tetua Xianyun yakin bocah seperti Su Qing tidak mungkin memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Mendengar hal itu leluhur sekte Fajra sama sekali tak menyerah dan memberikan sebuah harta sebagai hadiah dan berhasil merayu tetua Xian Yun. Akan tetapi tetua Xian Yun mengatakan kalau dia hanya akan memberikan sedikit pelajaran kepada Su Qing sebagai bentuk peringatan. Scene lalu berpindah ke sebuah toko obat di puncak ketujuh. Pada saat ini Su Qing tengah menjual beberapa pil putih yang berhasil dia sempurnakan. Setelah diperiksa pemilik toko pun sangat kagum dengan kualitas pil milik Su Qing ini. Dan bersedia untuk membeli sebanyak apapun pil yang dia murnikan ke depannya. Tidak hanya itu pemilik toko juga berjanji akan memberikan harga paling murah untuk setiap bahan obat yang Su Qing beli di toko ini. Mendengar hal itu Su Qing lantas memberikan daftar obat yang dia perlukan. Di sini pemilik toko memberitahu bahwa dia memiliki semua bahan obat tersebut. Kecuali satu bahan yaitu daun Lingling karena sudah diborong habis oleh murid lainnya. Mendengar Su Qing membutuhkan bahan obat tersebut, si gendut yang bernama Huang Yan ini pun lantas mendekati Su Qing dan bertanya manfaat dari daun Lingling ini. Tanpa pikir panjang Su Qing pun menjelaskan secara detail manfaat dari bahan obat tersebut. Melihat kemampuan Su Qing si gendut pun merasa kagum dan langsung memberikan daun Lingling kepada Su Qing secara cuma-cuma. Di sini Su Qing sempat menolak dan langsung memperhatikan bagian leher si gendut. Namun Huang Yan justru menganggap hal ini sebagai pujian dan bergegas pergi menemui wanita pujaannya untuk memberikan semua bahan obat yang baru saja dia beli. Setelah kepergiannya Su Qing pun ikut meninggalkan toko dan tak sengaja berpapasan dengan seorang murid wanita. Kedatangannya kali ini adalah untuk mengambil beberapa bahan obat yang sudah dia pesan sebelumnya. Begitu melihat setumpuk pil putih yang ada di meja, gadis ini pun cukup tertarik dan bertanya siapakah pembuat pil ini. Pemilik toko pun memberitahu kalau pil ini dibuat oleh murid dari puncak ketujuh yang baru saja berpapasan dengannya. Melihat kualitas pil tersebut sangatlah murni, gadis ini pun bersedia membeli semua stok yang ada dan meminta pemilik toko untuk tidak menjualnya kepada siapapun. Sementara itu Su Qing yang masih dalam perjalanan, tiba-tiba mendapat pesan dari ketua tim untuk datang dan menyaksikan pertarungan antar divisi. Sesampainya di sana ketua tim pun memberitahu kalau belum lama ini tim divisi koordinasi mengangkat wakil ketua baru dan merubah aturan pembagian hasil dengan divisi air. Di mana yang awalnya 50 banding 50, kini berubah menjadi satu banding sembilan. Perubahan inilah yang membuat kedua divisi saling bertarung satu sama lain. Tentu saja tim divisi pembunuh tidak akan ikut campur dalam pertengkaran kecil semacam ini. Namun jika situasi semakin parah, mereka akan langsung turun tangan dan menangkap semua orang yang terlibat. Secara kebetulan si gendut yang Su Qing temui di toko obat sebelumnya, ternyata adalah anggota dari divisi air dan terlibat dalam pertikaian ini. Karena sudah muak dengan keributan yang terjadi, Su Qing pun akhirnya turun tangan dan menghentikan mereka semua.
[4:34]Tak lama kemudian salah satu tetua penegak hukum yang bernama tetua Li pun muncul dan membuat para murid merasa ketakutan. Tekanan yang dipancarkan kultivator pembentukan fondasi ini memang sangatlah mengerikan. Di sini tetua Li dengan tegas memberikan hukuman potong gaji selama 3 bulan kepada seluruh anggota divisi yang terlibat pertikaian. Setelah mengatakannya tetua Li lantas membawa wakil ketua divisi dan pergi meninggalkan tempat tersebut melalui ruang kosong.
[5:06]Sesaat kemudian Huang Yan tiba-tiba saja mendekati Su Qing dan merasa semakin tertarik dengannya. Meski di sini Su Qing mencoba bersikap dingin dan mengabaikannya, namun si gendut sudah menganggapnya sebagai teman dan mengikuti Su Qing sampai kembali ke kapalnya. Begitu melihat kapal sakti milik Su Qing, Huang Yan pun seketika dibuat kagum dengan segala modifikasi yang ada di kapal tersebut termasuk kursi bersantai milik Su Qing. Sikapnya yang begitu santai dan tak mengenal aturan, tentu saja membuat Su Qing merasa sangat kesal. Tidak sampai di situ Huang Yan bahkan terus mengikuti Su Qing ke mana pun dia pergi, bahkan ketika sedang menjalankan misi sekalipun.
[5:56]Meski merasa muak, namun di lain sisi Su Qing juga tak bisa melakukan apapun kepadanya. Bahkan Su Qing sampai rela memasak beberapa makanan untuk disajikan kepada si gendut ini. Karena Su Qing tidak pernah memasak, tentu saja rasanya sangatlah tidak layak. Namun begitu melihat tatapan Su Qing yang sangat tajam, Huang Yan pun terpaksa untuk memakannya.
[6:22]Setelah diikuti sepanjang hari Su Qing pun akhirnya luluh dan perlahan menerima kehadiran Huang Yan. Sepanjang malam ini mereka terus meminum arak tiada henti sampai keduanya benar-benar mabuk dan mencapai batasnya. Keesokan harinya Huang Yan lantas membawa Su Qing pergi ke sebuah toko di puncak keenam yang sering dia kunjungi untuk menjual beberapa barang. Akan tetapi begitu Su Qing memperlihatkan harta miliknya, pemilik toko pun langsung menolak dan mengatakan. Kalau beberapa hari yang lalu sekte Fajra telah melaporkan kasus pencurian ke puncak enam mereka. Dan semua barang yang ditunjukkan oleh Su Qing ini berada dalam daftar tersebut. Berita ini jelas membuat Su Qing waspada dan yakin kalau sekte Fajra pasti mendapatkan bantuan dari salah satu tokoh besar di puncak keenam. Huang Yan yang tidak mengetahui fakta tersebut lantas mencoba untuk membela Su Qing dan mengira kalau semua ini pasti direncanakan oleh divisi koordinasi untuk membalas kejadian sebelumnya. Sesaat kemudian si gendut lantas mengeluarkan seluruh harta yang telah dia siapkan untuk diberikan kepada seniornya sebagai bentuk ketulusan cintanya. Tentu saja barang berharga semacam ini tidak mungkin bisa dibeli oleh sekte Fajra. Di tengah keributan ini tim divisi enam yang dipimpin manusia ikan pun muncul dan membuat situasi semakin rumit. Ternyata pemilik toko pada awalnya hanya berpura-pura dan tak menyangka masalah akan menjadi serius. Tanpa basa-basi si manusia ikan pun langsung menyudutkan Su Qing dan juga Huang Yan terkait masalah yang menimpa sekte Fajra. Ditambah sudah ada barang bukti di tempat ini yang semakin memperkuat tuduhan tersebut. Tepat ketika mereka berdua akan ditangkap sebuah pedang berkekuatan petir tiba-tiba saja melesat. Diikuti dengan kemunculan sosok wanita tangguh yang tidak lain adalah senior pujaan yang disebutkan Huang Yan sebelumnya. Dari aura yang terpancar Su Qing langsung mengetahui kalau wanita ini sangatlah kuat dan sudah mencapai tahap pembentukan fondasi.
[8:22]Ternyata identitas wanita ini tidaklah biasa dan merupakan murid langsung dari ketua puncak sama seperti Pangeran ketiga yang ditemui Su Qing ketika berada di dermaga sebelumnya. Setelah kedatangan yang mulia kedua Huang Yan pun langsung mengadu dan menjelaskan semua tuduhan yang ditunjukkan padanya. Di sini dia juga memperkenalkan Su Qing sebagai teman yang ikut terkena imbas dari kejadian ini. Mendengar hal itu yang mulia kedua pun memanfaatkan berita ini dan mengaku sebagai orang yang sudah merampok sekte Fajra. Dia juga memerintahkan pemilik toko untuk memberitahu sekte Fajra agar meminta maaf padanya dalam waktu 3 hari dan memberikan hadiah yang memuaskan.
[10:20]Satu-satunya pilihan yang bisa mereka lakukan sekarang adalah melarikan diri sejauh mungkin dan menghapus jejak keberadaan mereka. Kembali ke pangkalan dermaga, terlihat saat ini gadis pencuri sedang menghadap Su Qing untuk melaporkan informasi terkait si manusia ikan. Menurut pengamatannya setiap jam 1 malam, manusia ikan ini akan keluar seorang diri tanpa adanya pengawal yang melindunginya. Mendengar hal itu Su Qing pun seketika memancarkan aura membunuh dan bersiap untuk melakukan aksinya malam ini juga.



