Thumbnail for PEMERIKSAAN FISIK JANTUNG DAN PARU by Nursing UMY

PEMERIKSAAN FISIK JANTUNG DAN PARU

Nursing UMY

39m 17s2,983 words~15 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Pull quotes
[0:07]Selamat datang di video pembelajaran Skills Lab Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
[0:20]Perkenalkan saya Resti Yulianti Sutrisno, dosen dari Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
[0:28]Pada kesempatan ini kita akan belajar mengenai salah satu skill pada blok konsep dasar keperawatan yaitu pemeriksaan fisik jantung dan paru.
[0:39]Pada pemeriksaan fisik jantung dan paru ada beberapa hal yang nanti akan dicapai oleh mahasiswa, diharapkan nanti mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan fisik jantung dan juga melakukan pemeriksaan fisik paru.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:07]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang di video pembelajaran Skills Lab Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[0:20]Perkenalkan saya Resti Yulianti Sutrisno, dosen dari Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[0:28]Pada kesempatan ini kita akan belajar mengenai salah satu skill pada blok konsep dasar keperawatan yaitu pemeriksaan fisik jantung dan paru.

[0:39]Pada pemeriksaan fisik jantung dan paru ada beberapa hal yang nanti akan dicapai oleh mahasiswa, diharapkan nanti mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan fisik jantung dan juga melakukan pemeriksaan fisik paru.

[0:52]Ada empat komponen utama pada pemeriksaan fisik jantung dan paru, yaitu pemeriksaan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

[1:03]Ada dua area yang kemudian nanti akan kita lakukan pemeriksaan yaitu area anterior atau area depan dan juga area posterior dan area belakang.

[1:39]Ya, baik kita akan memulai pemeriksaan fisik jantung dan paru ini pada fase kerja.

[1:46]Jadi yang pertama kita bisa ucapkan bismillahirrahmanirrahim, kemudian kita mencuci tangan.

[1:54]Pada pemeriksaan fisik jantung paru ini, kita bisa menggunakan sarung tangan maupun tidak menggunakan sarung tangan sesuai dengan kondisi dari pasien.

[2:23]Pada pemeriksaan fisik jantung paru, kita akan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian anterior atau bagian dada depan dan juga kita akan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian posterior atau bagian dada belakang.

[2:37]Ada empat tahapan yang kemudian nanti akan kita lakukan. Jadi yang pertama adalah inspeksi, kemudian yang kedua palpasi, ketiga perkusi dan yang keempat adalah auskultasi.

[2:47]Baik, kita bisa langsung mulai tahap kerja pada pasien.

[2:52]Baik, Bapak, saya akan melakukan pemeriksaan fisik jantung paru seperti yang tadi sudah saya sampaikan.

[2:57]Nanti posisi Bapak selama tindakan adalah posisi tidur seperti ini atau posisi supinasi. Sebelumnya bisa minta tolong Bapak untuk melepas baju bagian atas terlebih dahulu, Pak.

[3:17]Ya, jadi yang pertama kita lakukan amati warna kulit pada area dada pasien.

[3:22]Apakah warna kulit pada dada pasien di sini tampak warnanya adalah kulit kuning kecoklatan.

[3:29]Kemudian kita melihat apakah ada jejas, jejas itu luka, apa warna lebam atau warna kebiruan pada area sekitar dada.

[3:36]Tidak tampak adanya lebam atau bekas atau jejas atau warna kebiruan pada area sekitar dada. Kita juga bisa melihat apakah ada luka atau tidak di area sekitar dada.

[3:49]Tidak tampak adanya luka pada area sekitar dada. Selanjutnya kita bisa melihat bentuk dada pada pasien.

[3:57]Apakah ada kelainan bentuk dada atau deformitas pada dada pasien.

[4:07]Kadang kita bisa menemui bentuk dada yang normal seperti ini atau kita bisa menemui bentuk dada Bichen Ches gitu ya, dada seperti burung atau bisa juga menemui dada yang dia cekung atau lebok ke dalam seperti itu.

[4:20]Kemudian selanjutnya adalah kita melihat kesimetrisan antara dada kanan dan dada kiri. Jadi apakah dada kanan dan dada kiri itu simetris atau tidak diameternya seperti itu.

[4:30]Kemudian kita bisa bandingkan diameter anterior posterior. Jadi apakah diameter anterior dengan diameter posterior pada pasien itu perbandingannya adalah 2:1.

[4:44]Pada kondisi tertentu pada apa namanya, penyakit paru kronis kita bisa menemui kondisi yang namanya barrel chest. Barrel chest itu adalah ketika diameter anterior dan posterior itu adalah 1:1.

[5:00]Selanjutnya kita bisa amati pergerakan dari dinding dada pasien. Apakah pergerakan dari dinding dada kanan dan dinding dada kiri itu simetris atau tidak.

[5:10]Pada kasus-kasus tertentu kita bisa menemui antara dinding kanan dan dinding dada kiri itu pergerakannya tidak simetris. Ada ketinggalan gerak.

[5:20]Saat dinding dada kanan sudah bergerak ke atas, baru kemudian dinding dada kiri ada ketinggalan gerak, ininya sudah turun, yang kiri baru kemudian naik. Jadi pada kondisi tertentu seperti misalnya fraktur kosta, kemudian ada massa, kemudian pneumotorax, hematotorax dan lain sebagainya.

[5:37]Bisa jadi nanti kita akan menemui adanya ketinggalan gerak pada dinding dada kanan ataupun dinding dada kiri.

[5:46]Kemudian selanjutnya kita bisa amati penggunaan otot bantu pernapasan.

[5:50]Pada kelainan respirasi atau kardio atau kardio, kita bisa melihat penggunaan otot bantu pernapasan.

[6:01]Area mana saja yang bisa kita lihat. Jadi yang pertama adalah kita bisa melihat otot bantu pernapasan di interkosta.

[6:08]Interkosta itu adalah di sela-sela dari kosta. Jadi apakah ketika pasien dia mengalami apa istilahnya, hiperventilasi atau napasnya berat, akan tampak penggunaan otot-otot bantu pernapasan.

[6:21]Selain itu, kita juga bisa melihat penggunaan otot bantu pernapasan di sternokleidomastoideus. Sternokleidomastoideus itu ada di leher.

[6:29]Bapak bisa tengok ke kiri, Pak. Nah, jadi di area sini ketika kita melakukan tengokan ke kiri atau ke kanan, kemudian kita bisa melihat ada seperti urat atau otot yang kemudian tampak.

[6:40]Ini adalah otot sternocleido mastoideus. Jadi pasien dengan gangguan pernapasan, bisa jadi nanti kita melihat penggunaan otot bantu pernapasan berupa penampakan dari otot sternocleido mastoideus.

[6:58]Selain itu kita juga bisa melihat adanya penggunaan otot bantu pernapasan di supraklavikula. Supraklavikula berarti terletak di atas klavikula ini.

[7:08]Jadi kita bisa melihat di supraklavikula, apakah kita temukan adanya otot bantu pernapasan. Selanjutnya kita bisa amati pola pernapasan.

[7:18]Pola pernapasan kita bisa melihat irama, kedalaman maupun frekuensi dalam 1 menit. Jadi kita bisa melihat apakah irama pernapasan pasien itu teratur atau tidak teratur.

[7:31]Di sini tampak irama pernapasan pasien itu adalah teratur. Kemudian kita bisa melihat kedalaman dari pernapasan pasien.

[7:42]Apakah pasien bernapas dengan normal, kedalamannya normal atau dangkal. Jadi kita bisa melihat di sini tampak bahwa kedalamannya normal, tidak dangkal seperti itu.

[7:55]Kemudian frekuensi napas. Frekuensi napas kita dapat menghitung frekuensi napas dalam 1 menit. Kita bisa melihat pergerakan dada dari pasien.

[8:06]Setiap dada naik dan turun itu dihitung dalam satu hitungan. Itu kita hitung dalam 1 menit, berapa frekuensi pergerakan dada naik dan turun.

[8:20]Kemudian selanjutnya kita bisa mengamati dari pulsasi iktus cordis. Pulsasi iktus cordis atau denyut dari apeks jantung.

[8:29]Biasanya akan kita temukan di ICS 4 atau ICS 5, mid klavikula menuju medial sekitar 2 cm. Jadi biasanya kita akan menemukan di area sekitar puting seperti ini, arah 2 cm ke arah medial.

[8:46]Karena ini masih inspeksi, jadi kita belum melakukan sentuhan atau palpasi. Jadi kita hanya melihat saja apakah sudah ditemukan adanya pulsasi iktus cordis.

[8:59]Oke, pada pasien tampak adanya pulsasi iktus cordis. Kemudian selanjutnya kita bisa melakukan inspeksi pada denyut nadi di ICS 2 dextra maupun di ICS 2 sinistra.

[9:15]Pada ICS 2 dextra di situ ada aorta, kemudian di ICS 2 sinistra ada pulmonalis. Jadi kita bisa melihat di ICS 2 dextra, ICS 2 dextra dan ICS 2 sinistra.

[9:29]Di sini tidak tampak adanya pulsasi atau denyutan. Pulsasi iktus cordis ini biasanya dapat terlihat tapi juga bisa tidak terlihat pada saat kita melakukan inspeksi pada pasien.

[9:44]Ya, selanjutnya kita akan melakukan palpasi. Palpasi adalah pemeriksaan fisik dengan melakukan sentuhan pada area dada.

[9:54]Di sini kita akan melakukan beberapa tindakan. Yang pertama kita adalah melakukan palpasi di seluruh area dari dada untuk melihat apakah adanya nyeri tekan atau masa.

[10:02]Bapak, saya akan melakukan sentuhan pada seluruh area dada Bapak. Nanti kalau Bapak merasakan adanya nyeri, Bapak bisa bilang ya, Pak ya.

[10:20]Ada yang nyeri, Pak? Tidak ada. Tidak ada yang nyeri ya. Jadi hasil palpasi ini tidak ditemukan adanya nyeri tekan maupun massa pada area di sekitar dada.

[10:31]Kemudian yang kedua adalah kita melakukan palpasi kesimetrisan dari apa, ekspansi dinding dada, apakah ekspansi dinding dada kanan dan dinding dada kiri itu simetris atau tidak.

[10:45]Caranya bagaimana? Caranya adalah ibu jari kita diletakkan di bawah dari prosesus sipoideus, kemudian seluruh jari kita melingkupi dari sternum paling bawah.

[10:57]Seperti ini. Jadi ini kita bisa merasakan area sternum paling bawah, kemudian kita melingkupi ini. Kemudian jempol kita diletakkan di bawah prosesus sipoidius.

[11:11]Kemudian kita meminta pasien untuk tarik napas dalam. Pada saat pasien tarik napas dalam, yang perlu kita perhatikan adalah pergerakan dari ibu jari kita.

[11:23]Apakah pergerakan dari jempol kanan dan kiri itu simetris atau tidak. Bapak tarik napas dalam, Pak. Nah, di sini kita bisa melihat hembuskan, Pak. Nah, jadi pada saat pasien tarik napas dalam.

[11:57]Tadi tampak pergerakan jempol ke kanan dan ke kiri simetris dan pada saat menghembuskan pergerakan jempol kembali pada posisi semula dengan simetris.

[12:10]Selanjutnya kita akan melakukan palpasi untuk mengetahui taktil fremitus. Jadi taktil fremitus ini kita akan merasakan adanya sensasi getar pada telapak tangan kita untuk melihat apakah area di bawah dada ini itu sesuai dengan kondisi yang seharusnya atau ada kelainan.

[12:31]Jadi normalnya taktil fremitus yang akan kita rasakan normal, tapi bisa juga nanti kita akan menemukan taktil fremitus yang meningkat ataupun menurun.

[12:43]Kita akan meletakkan tangan kita, kemudian kita akan menukarkan tangan kanan dan tangan kiri untuk mengkonfirmasi sensasi yang kita rasakan memang betul apa adanya antara tangan kanan dan tangan kiri.

[12:57]Kita minta pasien untuk mengucapkan kata 77. Bapak bisa ucapkan 77? 77. 77.

[13:10]Lagi, Pak. 77. 77. 77. Di sini kita dapat merasakan bahwa taktil fremitus antara kanan dan kiri sama serta tidak ada peningkatan maupun penurunan taktil fremitus pada tiga area di dada tersebut.

[13:32]Selanjutnya kita melakukan palpasi dari iktus cordis. Palpasi iktus cordis kita lakukan pada ICS 4 atau 5, mid klavikula sinistra sekitar 2 cm ke arah medial.

[13:44]Ke arah medial berarti ke arah tengah ya atau ke arah sternum. Jadi kalau kita berbicara garis imajiner mid klavikula berarti ini yang bagian tengah dari klavikula.

[13:59]Kemudian kita bisa menuju pada ICS 4 atau 5. Di bawah klavikula adalah ICS 1. 1 2 3 4 5. Kemudian ke arah medial.

[14:18]Di sini kita bisa merasakan adanya pulsasi iktus cordis walaupun terasa agak lemah seperti itu. Selanjutnya kita akan merasakan getaran atau trill.

[14:30]Jadi kita akan melihat apakah ada kelainan katup pada pasien ini atau tidak. Ada empat katup yang akan akan kita lihat. Jadi ada katup mitral, kemudian katup trikuspidalis, katup aorta dan katup pulmonalis.

[14:43]Katup aorta itu bisa kita lihat pada mid klavikula sinistra ICS 5. Jadi kita akan melihat apakah ada kelainan katup pada pasien ini atau tidak.

[15:13]1 2 3 4 5. Kemudian ke arah medial. Di sini kita bisa merasakan adanya pulsasi iktus cordis, di sini saya tidak bisa tidak menemukan adanya getaran pada ICS 5.

[15:20]Kemudian kita akan meraba pada ICS 4 parasternal sinistra. Parasternal berarti kita tinggal naikkan satu tingkat di atasnya yaitu ICS 4, tapi arahnya kita geser ke arah parasternal.

[15:35]Nah, jadi parasternal sinistra ICS 4 di sini kita akan melihat apakah ada kelainan katup trikuspidalis atau kelainan katup trikuspidalis.

[15:42]Di sini saya juga tidak merasakan adanya getaran atau trill pada ICS 4 parasternal sinistra atau pada katup trikuspidalis.

[15:54]Selanjutnya kita akan merasakan pada ICS 2 dextra. 1 2. Pada ICS 2 dextra di sini ada katup aorta.

[16:08]Di sini juga tidak merasakan adanya getaran atau trill pada ICS 2 dextra. Kemudian pada ICS 2 sinistra.

[16:18]Juga kita perlu rasakan sensasi apakah kita menemukan getaran atau trill pada ICS 2 sinistra. Di sini adalah katup pulmonalis.

[16:29]Di sini juga tidak terasa adanya sensasi getaran atau trill pada ICS 2 sinistra. Jadi pada pasien ini tidak ada kelainan katup atau tidak ditemukan adanya getaran pada empat area katup tersebut.

[16:44]Ya, selanjutnya kita akan melakukan perkusi. Perkusi adalah pemeriksaan dengan kita melakukan pengetukan dengan jari kita dan nanti kita akan mendengarkan apakah terdengar suara sonor atau kemudian apa namanya, dulness atau timpani seperti itu.

[17:05]Di sini ada beberapa hal yang akan kita lihat. Jadi yang pertama adalah kita akan melakukan perkusi pada seluruh area paru untuk melihat untuk mendengarkan apakah suara yang akan kita temukan.

[17:18]Kemudian kita akan melakukan perkusi untuk melihat batas paru dengan beberapa organ yang lain seperti batas paru jantung, lambung dan juga batas paru dengan hepar dan selanjutnya kita akan melakukan perkusi dari batas jantung.

[17:33]Yang pertama adalah kita melakukan perkusi untuk seluruh dari area paru. Di sini kita akan membandingkan area kanan dan kiri dan juga area atas dan juga bawahnya.

[17:50]Bapak saya akan melakukan pengetukan ya, Pak, ya. Ini di ICS 3 kita sudah mulai merasakan suara dari perkusi mulai meredup, masih redup 4.

[19:07]Jadi di ICS 3 4 5 itu kita merasakan adanya redup. Jadi untuk mengetahui batas antara paru dengan jantung adalah kita akan menemukan suara sonor, redup sampai kemudian nanti sonor kembali.

[19:22]Selanjutnya kita akan memeriksa atau melakukan perkusi batas paru dengan lambung. Batas paru lambung itu kita dapat melakukan perkusi pada bagian anterior dari aksila.

[19:35]Paru lambung itu biasanya nanti kita akan menemukan pada aksila anterior di ICS ke-7. Selanjutnya kita akan melakukan perkusi untuk mengetahui batas paru dengan hepar.

[20:30]Batas paru dan hepar akan kita lakukan perkusi di apa area sebelah kanan. Jadi kita bisa melakukan perkusi dari atas ke bawah.

[20:47]Di sini nanti biasanya kita akan lakukan di area mid klavikula atau area tengah seperti ini ya. Di sini kita bisa mendengarkan perubahan suara dari sonor ke redup.

[21:16]Redup akan kita temukan pada pasien ini yaitu pada ICS 5 dextra mid klavikula. Jadi batas antara paru dengan hepar terletak pada ICS 5 dextra.

[21:29]Baik, selanjutnya kita akan melakukan pemeriksaan batas jantung. Jadi dimanakah letak dari batas jantung kanan atas, kanan bawah, kiri atas dan kiri bawah.

[21:43]Pemeriksaan ini bisa kita lakukan dengan melakukan perkusi dari lateral ke medial sampai nanti kita menemukan adanya suara redup pada saat kita melakukan perkusi.

[21:55]Itu kita mulai dari ICS 1 dari arah lateral ke medial. Ini kita akan melihat terlebih dahulu batas paru kanan atas.

[23:28]Kemudian kita masih mendengarkan suara redup pada ICS 4 dextra parasternal. Berarti di sini kita menemukan adalah batas dari jantung sebelah bawah adalah ICS 4 parasternal.

[23:42]Selanjutnya kita akan melakukan pemeriksaan pada batas paru sebelah kiri. Jadi nanti kita akan mendengarkan perubahan dari suara sonor ke redup dari setiap sisinya.

[25:08]Yaitu pada ICS 5 di parasternum. Jadi batas jantung sebelah kiri bawah terletak di ICS 5 parasternal kiri.

[25:19]Ya, selanjutnya kita akan melakukan auskultasi atau mendengarkan dari suara paru dan juga suara jantung.

[25:28]Pada auskultasi suara paru kita akan melakukan auskultasi pada 10 titik. Di situ nanti kita akan mendengarkan apakah terdapat suara napas normal atau ada suara napas tambahan.

[26:05]Baik, Bapak, tarik napas, Pak. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan.

[28:52]Terdengar bunyi jantung S1 dan S2 normal, tidak ada bunyi galop ataupun murmur pada suara jantung.

[29:02]Selanjutnya kita mendengarkan bunyi jantung 2 atau S2 itu yaitu terletak pada garis parasternal di ICS 2 baik itu dextra maupun sinistra.

[29:13]Jadi di ICS 2 dextra kita akan mendengarkan katup aorta. Kemudian di ICS 2 sinistra kita akan mendengarkan di situ area katup arteri pulmonalis.

[29:32]Di sini terdengar bunyi jantung S1 maupun S2 pada pasien normal, tidak ada suara galop maupun suara murmur. Demikian pemeriksaan jantung paru untuk area anterior.

[29:47]Selanjutnya kita akan melakukan pemeriksaan fisik jantung paru untuk area posterior. Baik, Bapak, selanjutnya saya akan melakukan pemeriksaan jantung paru pada bagian belakang ya, Pak, ya. Bapak posisinya bisa duduk? Iya, bisa. Ya, silakan untuk duduk.

[30:05]Baik, pada pemeriksaan jantung paru pada bagian posterior atau pada bagian punggung, sama seperti pada bagian anterior.

[30:16]Jadi ada inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pada inspeksi pertama kita amati dulu apa namanya warna kulit dari pasien.

[30:26]Di sini kuning kecoklatan, kemudian tampak ini ini alergi atau keringat buntut ya, Pak, ya? Alergi ya? Tanpa adanya bercak-bercak kemerahan karena alergi pada pasien.

[30:37]Kemudian kita amati apakah ada tidaknya jejas atau warna biru atau lebam. Tidak tampak adanya jejas biru atau lebam pada area punggung pasien.

[30:54]Kemudian kita amati juga kesimetrisan dari dada kanan dan dada kiri. Di sini tampak dada sebelah kanan maupun dada sebelah kiri simetris.

[31:09]Apakah ada ketinggalan gerak antara dada kanan dan dada kiri? Selanjutnya kita akan melakukan pemeriksaan fisik palpasi.

[31:33]Sama seperti yang anterior, kita akan melakukan palpasi di seluruh area luka. Bapak, saya akan melakukan penekanan. Nanti kalau Bapak merasakan nyeri, Bapak bisa bilang ya.

[31:45]Nyeri tidak, Pak? Tidak ada. Tidak ada nyeri tekan ya? Tidak ada. Tidak ditemukan adanya masa ataupun nyeri tekan pada area dada posterior.

[32:07]Selanjutnya kita akan melakukan palpasi untuk mengetahui ekspansi dari dinding dada. Ekspansi dinding dada prosedurnya hampir mirip dengan yang tadi.

[32:20]Hanya saja ini nanti tangan kita akan kita letakkan pada iga ke-10. Jadi letakkan kedua tangan kita di punggung pasien.

[32:40]Itu kita letakkan di ketinggian iga ke-10 dengan jari-jari longgar. Kemudian nanti kita minta pasien untuk tarik napas dalam dan hembuskan.

[32:55]Kemudian kita akan melihat perubahan pergerakan dari ibu jari kita. Bapak tarik napas dalam. Nah, di sini kita bisa melihat bahwa ibu jari kita hembuskan. Ya.

[33:07]Tadi kita bisa melihat bahwa ibu jari kita bergerak ke kanan dan ke kiri dengan simetris dan pada saat hembuskan kembali juga dengan simetris.

[33:20]Selanjutnya kita akan melakukan palpasi taktil fremitus seperti tadi. Bapak bisa ucapkan lagi 77, Pak? 77. 77.

[33:43]77. Ada empat area di area pertama, kedua, ketiga dan keempat. Kemudian kita dengarkan taktil fremitus.

[33:53]Tadi teraba adanya taktil fremitus di seluruh area kanan dan kiri serta tidak ada peningkatan maupun penurunan dari taktil fremitus.

[34:04]Selanjutnya kita akan melakukan perkusi pada bagian posterior. Jadi yang pertama kita akan melakukan perkusi pada seluruh area posterior.

[34:16]Kemudian yang kedua adalah kita melakukan perkusi untuk menentukan letak dari diafragma. Jadi di sini nanti akan ada sembilan titik atau sembilan garis.

[34:28]Yang mana nanti ada kanan dan kiri jadi ada 18 titik ya. Seperti yang tadi prinsipnya adalah kita membandingkan antara suara di sebelah kanan dan di sebelah kiri dan area atasnya dan bawahnya.

[34:36]Kita lakukan perkusi dari sebelah atas terlebih dahulu ya. Di sini kita sudah menemukan adanya suara redup atau dulness.

[36:19]Di sini berarti kita sudah menemukan adanya area dari diafragma. Selanjutnya kita akan melakukan auskultasi paru.

[36:34]Seperti halnya yang tadi, kita akan meminta pasien untuk tarik napas dan hembuskan. Ada 10 titik pada area auskultasi di bagian posterior.

[36:46]Tarik napas, Pak. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan.

[37:35]Di sini tadi kita dapat mendengarkan bahwa seluruh area paru auskultasinya normal, tidak ada suara terdengar suara vesikuler.

[37:45]Tidak terdengar suara napas tambahan baik itu wzing maupun ronkhi. Baik, Bapak, sudah selesai.

[37:54]Bapak bisa kembali menggunakan baju. kita bisa rapikan pasien, kemudian kita bisa rapikan alat.

[38:15]Baik, Pak, alhamdulillah pemeriksaan dari fisik jantung paru pada hari ini sudah selesai ya, Pak, ya. Nanti akan saya sampaikan hasil dari pemeriksaan ini.

[38:25]Terus kita lepas sarung tangan dan kita cuci tangan.

[39:00]Demikian video pembelajaran pemeriksaan fisik jantung dan paru pada blok konsep dasar keperawatan Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[39:16]Semoga membawa kebermanfaatan. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript