Thumbnail for Bimbingan kelompok mengendalikan emosi by Siti romlah

Bimbingan kelompok mengendalikan emosi

Siti romlah

29m 15s2,867 words~15 min read
Auto-Generated

[0:01]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Pagi, Bu. Baik, untuk memulai kegiatan kita pagi hari ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu agar kegiatan kita berjalan dengan lancar dan semoga selalu diberikan kemudahan. Kemudian semoga mendapatkan manfaat dari kegiatan kita hari ini. Siapa yang mau memimpin doa? Firza. Silakan Firza.

[0:40]Teman-teman mari kita berdoa menurut kepercayaan agama masing-masing. Berdoa dimulai.

[0:53]Berdoa selesai. Baik, terima kasih. Apa kabarnya pagi hari ini? Baik, Bu. Semangat enggak? Semangat. Semangat. Oke, Ibu mengucapkan terima kasih kepada kalian karena sudah hadir dalam kegiatan bimbingan kelompok kita pagi hari ini. Nah, sebelumnya untuk lebih mengenal dalam lagi, kalian perkenalkan diri disertai dengan hobi sekalian saya mau ngecek absensinya. Oke? Mulai dari saya dulu, ya. Perkenalkan nama saya Bulala, hobinya menulis dan nonton. Terima kasih. Eh, perkenalkan nama saya Rahmat Hidayah. Dan hobi saya bermain basket sama lari. Terima kasih. Perkenalkan nama saya Muhammad Alfin Al Farizi, hobi saya balap motor dan olahraga. Perkenalkan nama saya Muhammad Firza Miftaful Ilham dan hobi saya bersepeda. Perkenalkan nama saya Adelia Rahman, hobi saya menonton dan mendengarkan musik. Perkenalkan nama saya Amanda Ramadani dan hobi saya adalah memasak kue dan juga mendengarkan musik. Perkenalkan nama saya Amelia Nabila, hobi saya membaca dan menulis. Perkenalkan semuanya, saya Reihan Anindya Nur dan hobi saya itu bermain basket serta menari. Perkenalkan nama saya Farawula Nevada Adrian, hobi saya membaca novel dan menonton film. Baik, terima kasih. Oke, hari ini kalian tahu kita mau ngapain? Belum. Belum tahu. Bimbingan kelompok. Nah, di antara kalian semua sudah ada yang pernah mengikuti bimbingan kelompok? Belum. Belum pernah. Eh, tapi mendengar istilah bimbingan kelompok deh, sudah pernah belum? Pernah. Coba, yang pernah apa itu bimbingan kelompok? Menurut saya, bimbingan kelompok adalah salah satu layanan bimbingan dan konseling dalam kelompok kecil.

[2:59]Kalau menurut saya, bimbingan kelompok adalah suatu layanan kelompok, suatu layanan bimbingan yang dilaksanakan dalam suatu kelompok. Oke, betul, ya. Jadi, bimbingan kelompok itu salah satu layanan bimbingan dan konseling yang dilakukannya secara berkelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Nah, dinamika kelompok itu apa, Bu? Dinamika kelompok itu jadi di dalam kegiatannya peserta itu saling menanggapi, saling berkomunikasi, saling memberikan saran untuk menjalin keakraban. Nah, biasanya di dalam bimbingan kelompok itu terdiri dari delapan sampai dua belas orang, tapi di sini kita delapan orang aja, ya. Kemudian di dalam bimbingan kelompok juga ada pemimpin kelompok dan anggota kelompok. Pemimpin kelompoknya saya dan anggota kelompoknya kalian-kalian ini. Paham sampai sini? Paham. Nah, tujuannya untuk apa, Bu? Karena kita pagi hari ini akan membahas mengenai cara mengendalikan emosi, jadi tujuannya yaitu agar peserta didik dapat memahami dan mengenali pengendalian emosi dalam berbagai situasi. Kemudian yang kedua agar kalian bisa menerapkan teknik-teknik cara mengendalikan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Paham? Paham. Ada yang mau ditanyakan? Tidak. Enggak ada. Oke, kita lanjut. Kemudian di dalam bimbingan kelompok ini ada beberapa asas yang harus saya terapkan. Di sini saya akan menerapkan tiga asas. Ada asas kerahasiaan, ada asas keterbukaan dan ada asas kesukarelaan. Asas kesukarelaan, kalian datang ke sini secara sukarela, enggak? Iya. Ada paksaan, enggak? Tidak ada. Nah, ini salah satu asas kesukarelaan. Jadi nanti silakan kalian secara sukarela mengemukakan pendapatnya, kemudian memberikan saran seperti itu. Kemudian ada asas keterbukaan. Nah, asas keterbukaan ini kalian secara bebas misalkan, eh, ada yang mau bercerita pengalamannya, silakan secara terbuka. Kemudian ada yang mau menanggapi pertanyaan dari temannya itu secara terbuka, silakan. Kemudian ada asas kerahasiaan. Asas kerahasiaan di sini di mana apa yang kita bicarakan di sini itu hanya kita yang tahu, tetapi hal-hal positifnya boleh kalian kasih tahu ke temannya. Tetapi kalau misalnya di diri pribadi kalian tuh kalau misalkan cerita takut eh teman-temannya tahu. Nah, di sini karena ada asas kerahasiaan, mohon jaga kerahasiaannya apa yang teman-temannya cerita. Paham sampai sini? Paham. Oke. Nah, sebelum lanjut, kita main ice breaking dulu, nih. Eh, kita main ice breaking-nya clap, boom, pen. Kalian sudah pernah belum? Belum. Belum pernah? Eh, silakan di tengah-tengah eh taruh pulpennya satu, satu aja, ya, pulpen, tengah-tengah. Siapa aja? Oke. Yang lainnya taruh. Nah, caranya yaitu kalau Ibu bilang clap, kalian tepuk satu kali. Kalau Ibu bilang boom, kalian gini. Kalau misalkan Ibu bilang pen, kalian ambil pen-nya siapapun yang dapat duluan. Paham?

[6:33]Oke, kita mulai lagi. Ini beneran, ya, beneran, ya.

[6:45]Mulai, ya. Clap. Clap. Clap. Boom, boom, clap. Clap. Konsentrasi. Boom. Boom. Boom. Clap. Clap. Clap. Clap. Clap. Boom, boom. Pen.

[7:09]Oke. Udah, ya. Yang dapat siapa? Alfin. Oke. Kita lanjut, ya. Nah, di sini Ibu akan menjelaskan tugas dan tanggung jawab anggota kelompok. Jadi, di dalam bimbingan kelompok ini eh silakan peserta bebas mengemukakan pendapatnya, bebas mengemukakan sarannya, kemudian eh mengajukan pertanyaan. Tetapi, ketika ada anggota kelompok yang lain sedang berbicara, silakan yang lainnya mendengarkan dan menghargai pendapatnya. Nah, kemudian setelah itu eh bimbingan kelompok ini kita akan dilakukan selama tiga puluh menit. Oke? Ada yang mau nambah? Enggak. Tiga puluh menit cukup, ya? Semoga cukup. Kemudian, di sini Ibu akan menjelaskan langkah-langkahnya seperti apa. Yang pertama, eh kita akan membahas mengendalikan emosi itu seperti apa. Kemudian kita ada bermain peran, nih, roleplay. Nanti Ibu kasih naskahnya, ada empat, ada tiga peran aja. Kemudian setelah itu kita ada lembar refleksi. Sudah paham? Paham. Ada yang mau ditanyakan? Tidak. Tidak ada. Oke, kita mulai, ya. Oke. Karena eh kalian tahu enggak kenapa kalian dipanggil ke sini? Enggak tahu, ya. Oke. Jadi, dari hasil assessment dan AKPD yang eh sudah ada datanya, yang waktu eh minggu lalu dua minggu lalu kalian isi itu tuh ada hasil pernyataan di mana saya belum bisa mengendalikan emosi dengan baik. Nah, orang-orangnya itu, kalian-kalian yang ada di sini. Oleh karena itu, Ibu mengangkat topik untuk bimbingan kelompok ini, yaitu cara mengendalikan emosi. Nah, menurut kalian, nih, mengendalikan emosi itu apa sih? Marah. Perasaan.

[9:04]Oke, ya. Jadi, emosi itu perasaan atau reaksi alami yang di yang dialami setiap setiap orang, setiap individu. Contoh, misalnya, eh ketika senang karena mendapatkan nilai yang bagus. Kemudian saat marah karena eh mendapatkan sesuatu yang tidak adil, atau mungkin karena sedih karena kehilangan sesuatu. Nah, emosi itu membuat kita mengenal apa yang sedang terjadi dalam dalam diri kita. Nah, sebelum kita mengetahui mengendalikan emosi, kita harus tahu dulu, nih, emosi itu apa gitu, kan? Nah, perlu kalian ketahui, jadi emosi itu, kan, sesuatu reaksi alami yang di dialami oleh setiap setiap individu, setiap orang. Nah, tetapi yang menjadi masalah itu bagaimana cara kita mengendalikan emosinya dengan baik, ada yang tidak baik. Yang jadi masalah itu ketika kita tidak bisa mengelolanya dengan dengan baik. Nah, ada enggak di antara kalian misalkan kalau lagi marah kayak banting-banting apa, kemudian teriak-teriak. Itu dampaknya akan gimana? Merugikan orang. Merugikan orang. Terus, apa lagi? Merugikan diri sendiri. Merugikan diri sendiri juga, ya. Nah, Ibu mau tahu, nih, di antara kalian ada enggak yang punya pengalaman, eh ketika berada di situasi yang sedang marah, kesal. Nah, cara menghadapinya itu kalian seperti apa? Ada yang? Saya. Boleh. Eh, jadi kalau saya itu karena saya osis di sekolah dan setiap osis itu kan pasti punya bidangnya masing-masing. Maka dari itu saya pernah mengalami kesulitan dan sama salah satu anggota osis itu, kita berantem. Tapi kita berdua itu sama-sama saling mengatasi emosinya itu bukan dengan marah-marah, tapi kita berdiskusi. Kita tuh cari jalan kenapa sih kita bisa marah, kita bisa marahan berdua. Terus habis itu kita berdiskusi-berdiskusi, eh karena kita berdiskusi itu, akhirnya kita kita ketemu sama tujuannya, kan. Sama eh enggak, sama inti, inti dari masalahnya itu, kan. Nah, habis ketemu sama inti masalahnya itu, kita berdua jadi sama-sama tahu dan kita menyelesain masalahnya. Jadi, intinya kalau kita lagi emosi itu jangan tambah apa ya? Tambah emosi, yang ada itu kita harus rendah, apa, rendah hati. Jangan dinaikin emosinya karena semuanya itu harus didiskusikan, harus dikomunikasikan. Oke, kalau Hanan itu dengan cara diskusi, ya, sama temannya, sampai menemukan tujuan, solusinya seperti apa. Oke, lanjut. Siapa yang? Alvin. Oke, Alvin. Jadi, waktu itu saya lagi ada apa, balap di Pekanbaru, di Sumatra. Nah, itu seri pertama dan itu harus ngumpulin poin dulu, kan, kita buat ke depannya biar lebih enak. Nah, posisi saya start kesatu. Cuma pas lepas race itu saya di posisi kedua. Dan saya dari awal emang terlalu maksa banget. Nah, di pertengahan lab itu saya maksa untuk ngambil yang posisi pertama, kan. Cuma, karena saya terlalu maksa dan terlalu maksa ngerem, jadi grip ban depan saya hilang, jadi saya jatuh. Di situ saya benar-benar emosi, kesal kayak, kesal sama diri sendiri, kan. Udah pusing, akhirnya emang emosi dan saya kalau emosinya udah emosi banget emang nangis orangnya, enggak bisa ngapa-ngapain. Jadi saya lebih milih minta masuk ke ruangan saya sendiri, tempat istirahat saya sendiri. Saya nangis dulu, eh apa, pokoknya di habisin dulu, kan, emosinya. Habis itu telepon orang tua minta tolong masukan. Setelah tenang baru evaluasi sama tim. Oke, kalau Alvin berarti lebih ke ini, ya, self shooting yang di mana self shooting ini itu memberikan ruang pribadi dulu, kan, buat. Buat diri, iya. Oke, lanjut. Siapa yang mau bercerita lagi? Oke, Adel. Eh, jadi ceritanya itu pada suatu hari, kan, saya tugas sekolah numpuk, terus tugas-tugas di rumah juga banyak, dan itu saya ngerasa capek banget baru pulang sekolah. Nah, di situ saya mikir enggak bisa nyelesaiin semuanya dengan segera atau buru-buru gitu. Jadi saya milih buat kayak istirahat dulu aja, tidur. Nah, setelah tidur saya merasa lebih baik dan saya bisa ngerjain tugasnya dengan selesai. Jadi, gitu. Oke, baik. Ada yang mau memberi masukan buat temannya? Udah? Oke, betul, ya. Jadi, eh di antara teman-teman kalian ini ada yang dengan cara diskusi sampai eh menemukan solusinya tuh seperti apa. Kemudian, Alvin juga tadi memberikan ruang pribadi. Kemudian, Adel juga itu sudah bagus sekali, ya, cara mengendalikan emosinya. Nah, tadi, kan, emosi. Kalau mengendalikan emosi ini, kan, bagaimana cara kita, kemampuan kita untuk mengenali, memahami dan mengerti perasaan atau emosi itu dengan cara tidak biar tidak meledaklah, biar tidak merugikan diri sendiri maupun maupun orang lain.

[13:58]Oke, di sini Ibu akan membagikan satu naskah. Ada empat, ada tiga peran, ya. Di sini kita akan bermain role play. Sebentar. Coba lihat di sini ada hanya ada enam, ya, naskahnya. Nanti ada yang berdua, silakan.

[14:25]Coba kalian baca dulu. Yang mau bersedia, tiga orang, ya. Saya, deh, Bu. Boleh. Kamu mau jadi siapa? Dika. Dika. Rina. Andi.

[14:42]Aku aja, deh. Oke. Yang mau eh ngambil perannya silakan baca dulu. Setelah eh kalian baca, sudah siap, baru kasih tahu Ibu.

[15:45]Siap? Oke, emm mau berdiri atau duduk? Berdiri. Berdiri? Dalamin aja, kayak gitu, kan. Iya, berdiri, boleh, ya. Oke, berdiri. Eh, jadi ini judulnya mengendalikan emosi di di situasi sulit. Dika siapa? Saya. Eh, Dika berarti Rahmat, ya? Berarti kamu berperan sebagai siswa yang sering merasa kesal ketika menghadapi tugas yang sulit. Udah kebayang perannya kayak gimana? Udah, Bu. Udah. Sekarang Rina. Rina ini menjadi teman Dika yang sabar, selalu berusaha membantu. Eh, kemudian ada Andi. Andi, Alvin, ya? Oke, Alvin di sini teman sekelas yang sering bercanda, tapi kadang berlebihan. Sudah, mau mulai? Oke, mulai, ya.

[16:47]Sini kedengaran, kan? Kedengaran, kedengaran, kedengaran.

[16:53]Adegan satu. Adegan satu berada di dalam kelas. Dika duduk di mejanya, terlihat frustrasi dengan tugas matematika yang sangat sulit. Rina duduk di sebelahnya. Aduh, ini soal susah banget, enggak ngerti, deh. Sabar, Dik. Yuk, kita coba pelan-pelan. Kalau kita tenang, pasti kita jadi lebih mudah untuk berpikir. Mana bisa? Aku sudah coba berkali-kali tapi tetap enggak paham. Kalau kamu terus marah, makin sulit untuk fokus, loh. Coba tarik napas dalam-dalam dulu, yuk. Dika mencoba menarik napas dalam, meski masih terlihat kesal. Oke. Aku coba lagi. Adegan dua di luar kelas. Andi datang mendekati Dika dan Rina yang sedang berbicara. Eh, Dik, soal tadi bikin pusing, ya? Kayaknya otak kita butuh liburan, nih.

[17:48]Iya, bikin kesal banget. Wah, kayaknya Dika butuh refreshing, nih. Ayo, kita main game dulu biar enggak stres, Dik. Andi, bercanda jangan berlebihan, ya. Kita masih di sekolah. Iya, Andi. Kadang aku ngerasa candamu itu terlalu sering sampai bikin aku stres. Hmm. Maaf, Dik. Aku enggak bermaksud bikin kamu tambah kesal. Aku cuma bercanda aja. Yeay. Yang lainnya mau nyoba, enggak? Enggak. Udah. Ah, bagus banget, sih. Bagus banget, cocok buat akting, ya. Cocok banget.

[18:27]Oke. Nah, dari permainan yang sudah kalian peranin, nih, bagaimana perasaannya? Deg-degan. Kesal. Degang. Degang. Eh, Dika sebagai siswa yang sering merasa kesal, eh di situ kamu perasaannya seperti apa? Pastinya kesal banget, Bu. Terus capek. Enggak, enggak bisa, ya, enggak stres, enggak bisa ngendaliin emosi. Kalau Rina gimana, Rina? Sebagai temannya? Eh harus banyak-banyak sabar, sih. Karena kan Dika ini orangnya eh mudah merasa kesal. Jadi, kayak ya udah harus sabar-sabarin aja. Oke, Alvin, Alvin. Yang bercanda. Mungkin mau apa, meredam suasana yang eh melebikin suasana gitu, dalam bercanda. Cuma makin bercanda terlalu berlebihan atau lewat batas. Oke, nah, dari role play yang sudah kalian peranin, nih, kira-kira pelajaran apa sih yang dapat kita ambil? Silakan. Siapa yang mau? Perkenalkan. Iya, boleh.

[19:44]Nama saya Rahmat. Eh pelajaran yang bisa diambil tuh kayak jangan terburu-buru untuk terbawa emosi. Lebih memikirkan ke depannya. Terus eh mencoba untuk menenangi diri dulu sebelum bertindak dan udah segitu aja. Oke. Siapa lagi yang mau? Mungkin kalau teman kita yang lagi emosi, kan, kita enggak tahu pikirannya dia tuh mau diapain atau enggak, apa, eh mungkin pengin ditenangin dulu atau enggak mau diganggu. Jadi kalau ada teman kita yang lagi emosi, coba ditanya dulu, eh jangan langsung di apa, langsung jangan langsung dicandain, kan. Kita enggak tahu isi pikirannya mereka apa. Oke, baik. Dari adegan yang pertama tuh kita bisa tahu, ya. Kalau misalkan kita tenang tuh kalau misalkan kita tenang, kita bisa berpikir lebih jernih. Kemudian ketika berbicara sama temannya tidak menyakiti hati temannya, betul, enggak? Betul.

[20:46]Nah, bagaimana, Bu, cara mengendalikannya? Yang pertama bisa dengan eh apa sih namanya, pengambilan napas, ya.

[21:00]Jadi, kalau misalkan kalian lagi berantem, lagi misalkan ada emosi, misalkan, eh sama pacarnya lagi dichat, itu, kan, sama berantem, tapi online, ya? Tapi, bisa aja itu, kan, eh meluapkan emosinya langsung misalkan, apa sih, apa sih, barangnya di ini-ini. Yang pertama, tuh, coba, deh, kalian eh tarik napas dulu, misalkan lima sampai sepuluh menit. Tenangin dulu. Itu, tuh, bisa, loh, eh cara meredahin, mengelola emosinya.

[22:28]Kalau misalkan kita eh kamu gimana sih, eh enggak ada jeda buat napas, itu, tuh, bisa menyakiti orang lain. Kemudian kalau misalkan kita tidak bisa mengelolanya dengan baik, apa yang kita omongin tuh kadang kesal, enggak sih? Kesal banget, nyesel banget, tadi ngomong kayak gitu, iya? Sakit hati, enggak, ya? Kalian pernah pikir kayak gitu, enggak sih? Sering. Iya, kadang, kan, kita nyesal, kan, apa yang, ih, kenapa, ya? Karena menyesal itu, kan, adanya di akhir. Makanya, untuk itu, kita harus coba nenangin, yang pertama bisa dengan eh, eh apa sih namanya? Treatment-treatment gitu, gitu, kan?

[23:41]Ah, iya, kan? Nah, itu, tuh. Biasanya yang pacaran, eh, aku mau sendiri dulu, kan. Mau sendiri dulu, deh, gitu. Itu namanya self shooting, ya? Jadi, eh untuk menenangkan diri dulu, memberikan ruang kita untuk nenangin diri dulu. Itu, tuh, bisa. Kemudian, ada juga dengan yang namanya, tuh, misalnya kalian hobinya belanja, atau misalkan ada yang iya, misalkan mau dan dan-danan, itu bisa meredakan emosi juga kalau misalkan hobi kalian, kalian itu. Nah, dari kegiatan kita, siapa yang mau menyimpulkan apa yang sudah kita dapatkan dalam kegiatan ini? Silakan. Siapa yang mau menyimpulkan?

[24:28]Oke. Kesimpulan saya setelah mengikuti bimbingan kelompok ini mengenai emosi adalah saya pribadi eh lebih bisa tahu cara mengontrol emosi. Waktu kita tuh lagi emosinya tuh lagi enggak stabil banget. Gitu aja sih mungkin dari saya. Terima kasih. Siapa lagi? Firza. Kalau kesimpulan yang bisa saya ambil itu, pertama, saya dapat banyak belajar dari bimbingan kelompok ini dan tentunya kalau misalkan lagi emosi, kita memang harus eh diam diri atau gimana, kan, menyesuaikan dengan kita sendiri. Kita enggak boleh terbawa suasana, enggak boleh terlalu larut dalam keemosian kita. Terima kasih. Siapa lagi yang mau mencoba? Eh, dalam bimbingan kelompok ini sih saya belajar, ya, cara mengendalikan emosi yang baik tuh gimana biar enggak ngerugiin eh yang kita di sekitar kita dan kita harus tenangin diri dulu supaya kita dapat berpikir jernih. Ya, gitu aja sih. Oke, baik. Terima kasih. Nah, tadi, kan, kesimpulan. Pesan-kesan mengikuti bimbingan kelompok. Pesan-kesannya apa, nih? Mau pesan atau pesan? Eh pesannya eh saya jadi nambah ilmu pengetahuan cara eh kita meredakan emosi kita. Mmm, pesannya sih, ya, jadi buat eh ke depannya sih kita eh cara eh mengini, meng apa ya, namanya, meng mengendalikan masalah, gitu.

[26:26]Itu saja. Oke. Sudah. Ada lagi yang mau nambahin? Alvin. Apa ya? Iya. Enggak, deh. Rahmat dulu. Rahmat. Sudah?

[26:39]Oke, nah, mengendalikan emosi itu penting, ya. Penting, enggak, sih? Penting. Penting. Penting. Oke, sekarang di sini Ibu ada lembar evaluasi, silakan kalian isi masing-masing. Bagiin ke teman-temannya. Ini saya bagiin.

[27:01]Iya.

[27:04]Nama, kelas. Ada lagi enggak? Enggak ada.

[27:30]Oke, karena waktu kita tidak cukup, eh silakan nanti kalian lanjut isi.

[27:40]Nanti kalian lanjut, ya.

[28:44]Kita tutup dulu kegiatan kita. Jadi, mengendalikan emosi itu keterampilan kita dalam mengatur emosi, mengatur perasaan dengan cara yang lebih baik, lebih positif, dan lebih sehat. Ibu mengucapkan terima kasih kepada kalian. Alhamdulillah, kegiatan kita berjalan dengan baik. Roleplay-nya juga tadi luar biasa bagus banget. Semoga kita mendapatkan manfaat dari kegiatan kita hari ini. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript