[0:06]Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang berkuasa dari tahun 1613 sampai 1645. Ia merupakan raja ketiga setelah Penembahan Sido Krapak. Letak geografis kerajaan yang berada di pedalaman membuat Mataram menjadi kerajaan agraris. Pertanian yang menjadi sumber pokok ekonomi masyarakat berkembang pesat karena didukung tanah yang subur. Pada masa kejayaannya, Mataram berhasil menjadi pengekspor utama beras. Tapi siapa yang bisa menyangka bahwa kerajaan itu akan terpecah? Permasalahan dimulai saat VOC datang dengan segala kelicikannya.
[1:07]Siapa kalian? Mengapa kalian kemari? Perkenalkan kami utusan dari Tuan JP Coen, kami kemari ke sini diperintahkan untuk bertemu dengan Sultan Agung. Baiklah, tunggu di sini sampai aku kembali.
[1:26]Salam Tuan. Ada apa? Ada utusan dari VOC yang ingin bertemu dengan Tuan. Apa? Utusan dari VOC? Ada urusan apa orang-orang licik itu datang kemari? Hei Prajurit, apakah kau tahu apa urusan mereka kemari? Maaf Sultan, hamba sungguh tidak tahu. Ya sudah, segera ajak mereka kemari dengan rasa hormat. Baik Sultan. Silakan, kalian diperbolehkan masuk oleh Sultan. Prajurit itu segera memanggil Jenderal VOC dan mempersilakannya untuk menemui Sultan Agung Hanyokrokusumo.
[2:05]Jadi ada perlu apa kalian datang kemari? Perkenalkan, kami adalah utusan dari Tuan JP Coen. Dengan hormat tuanku meminta agar VOC dan Mataram bekerja sama. Kerja sama seperti apa yang diinginkan oleh tuanmu? Apakah dia ingin kalau Pulau Jawa ini tunduk kepadanya? No, no, no. Mengapa kau berpikir seperti itu kepada tuanku wahai Sultan? Janganlah buruk sangka, kita hanya akan bekerja sama dalam memerintah. Memerintah seperti apa yang kau maksud? I think seperti memerintah dalam wilayah dan hasil bumi. Jangan terima penawaran mereka, Kakanda. Mereka adalah orang-orang licik yang tidak dapat dipercaya. Kau benar Adinda. Hei Jenderal, kalau itu yang kau mau, segeralah kau pergi dari kerajaanku ini. Katakan kepada tuanmu, selama aku masih hidup jangan pernah kau bermimpi untuk menginjakkan kaki di kerajaanku ini! How dare you! Baiklah kalau keputusanmu seperti itu tapi jaga bicaramu terhadap tuanku. Lihat saja apa yang akan dilakukan oleh tuanku pada kerajaanmu yang lemah ini! Silakan saja, aku tidak takut. Hei prajurit, cepat bawa mereka berdua pergi dari kerajaanku ini! Baik Sultan. Pada tahun 1620, target utama Mataram bergeser ke arah kota Surabaya. Selama tahun 1620-1625, pasukan Mataram secara berkala mengepung Surabaya dengan 5 kali ekspedisi. Lima tahun kemudian tepatnya 1629 Sultan Agung mengirimkan pasukan untuk melakukan penyerangan terhadap VOC. Namun serangan ini gagal akibat medan yang terlalu berat. 1632, Sultan Agung mengirimkan kembali 1000 prajurit beserta keluarganya ke Karawang untuk membangun lumbung beras atau pusat logistik. Namun saat merencanakan itu semua ada seorang suruhan VOC yang menyamar untuk memata-matai mereka. Prajurit! Segera siapkan perlengkapan peperangan, kita akan menyerang VOC. Baik Sultan, kami akan mempersiapkan semuanya. Tingkatkan jumlah kapal dan persenjataan, bangun lumbung beras untuk persediaan makanan. Ooh, jadi begitu rencana mereka. Baik Sultan. Namun, saat Sultan Agung menyiapkan peperangan, rencana itu diketahui oleh VOC yang dipimpin oleh J.P. Coen. Lapor Tuan. Kami mempunyai berita yang penting. Mataram sedang mempersiapkan pasukan yang ditujukan kepada kita Tuan. Apa?! Kurang ajar. Apa yang telah disiapkan oleh Mataram? Mereka telah menambahkan jumlah pasukan dan membangun lumbung beras di Karawang, Tuan. Hal ini tidak bisa kita biarkan begitu saja! Apa yang harus kita lakukan Tuan? Haruskah kita mengabisi warga Mataram? Tidak! Belum. Kita pertama-tama hancurkan rumah Mataram yang ada di Karawang dan persiapkan senjata untuk menghancurkan Mataram. Baik Tuan. Penghancuran rumah warga pun mulai dilakukan oleh VOC dengan tanpa rasa belas kasihan.
[5:37]Eh, Bu, sayur ini harganya berapa? Murah bu, 50 perak saja, segar lagi. Wah, sayurnya sangat segar sekali ya Bu. Di mana para petani mendapatkannya? Kami baru saja memanennya di selatan. Oh pantas saja, di sana tanahnya sangat subur. Pasti hasil panennya pun bagus-bagus. Kalian melihat kedatangan VOC tidak ke pelabuhan dagang kita? Iya, tadi aku melihatnya banyak sekali prajurit yang datang. Hei, mari kita pulang. Tadi aku melihat banyak prajurit VOC yang mengarah ke sini. Hah, apa iya?
[6:20]Hei rakyat pribumi! Enyahlah! Jika tidak kalian semua akan mati. Hei! Aku.
[6:36]Tuan, kami telah menjalankan perintah Tuan. Rumah warga telah hancur tak bersisa. Bagus komandan. Siap! Bagus. Pastikan tidak ada yang tersisa lagi bagi Mataram! Sampai Mataram membawa pasukan yang lemah ke Batavia. Siap, Sir! Jalankan tugas yang lain.
[7:04]Sementara itu, kondisi di Mataram sangatlah buruk. Mataram lalu melakukan penyerangan terhadap VOC dan menuju ke Batavia, tetapi penyerangan itu gagal. Sultan, apalagi yang bisa kami lakukan Sultan? Kita sudah kalah, Sultan! Kalah. Tidak, kita masih belum kalah. Masih ada harapan. Tapi Sultan, banyak prajurit kita yang telah gugur di perjalanan yang melelahkan ini. Selain itu senjata kita tidak sebanding dengan senjata VOC. Ya sudah, kita kembali ke Mataram sekarang juga. Setelah itu perlawanan demi perlawanan antara Mataram dengan VOC terus terjadi. Banyak daerah-daerah Mataram yang melakukan pemberontakan ingin cepat merdeka. Naas, pada akhirnya Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Pasca kematian Sultan Agung, pemerintahan Mataram digantikan oleh Amangkurat 1 yang justru bekerja sama dengan VOC. Pada masanya itu terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Trunajaya yang tidak setuju jika Mataram harus bekerja sama dengan VOC. Apa yang membawamu ke sini wahai Kompeni? Menurutmu aku akan bertemu siapa lagi selain Tuan Raja Amangkurat? Tolong beritahu dia bahwa aku sudah sampai di sini. Baiklah, tunggu di sini sampai aku kembali. Tuan, kompeni sudah sampai di kerajaan. Suruh dia masuk segera. Baik Tuan. Apa yang membawamu ke sini? Aku tidak akan bertele-tele ya Amangkurat, aku kemari karena punya suatu penawaran untukmu. Penawaran apa itu? Jika kamu menyerahkan hasil beras kerajaanmu kepada kami, kami akan memberikan keuntungan yang besar! Keuntungan besar apa yang kamu berikan sehingga aku harus menerima tawaran itu? Aku akan menjanjikan perluasan wilayah kerajaanmu jika kamu menerima penawaranku. Tapi bagaimana caramu untuk memperluas wilayah kerajaanku? Huh, kau lupa ya Amangkurat? Aku mempunyai jalur perdagangan yang luas sehingga aku dapat dengan mudah memperluas wilayah kerajaanmu. Jika aku menolaknya, apa yang kamu lakukan wahai Kompeni? Ya, dengan berat hati pastinya kita akan bersaing di jalur perdagangan. Hmm, tunggulah sebentar di sini, aku akan dengan permaisuri. Bagaimana menurutmu, Adinda? Lebih baik kita terima saja penawaran itu. Perasaanku mengatakan bahwa kompeni itu memang tidak ada niatan jahat untuk kerajaan kita. Apakah kau yakin Adinda? Aku yakin, percayalah kepadaku wahai Kakanda. Baiklah. Hmm, keputusan ini sangat berat untukku. Baiklah, saya terima tawaran itu asal itu dapat mensejahterakan rakyatku. Permisi Tuan Amangkurat. Ada Tuan Trunajaya yang ingin bertemu dengan Tuan. Trunajaya? Ada urusan apa dia kemari? Baiklah, persilakan dia masuk dan bawa dia ke sini. Ada gerangan apa Saudara Trunajaya jauh-jauh datang kemari? Apakah ada yang ingin dibicarakan? Siapa mereka? Apa urusan mereka? Oh, mereka adalah orang yang membantu kita untuk memperbesar dan memperluas kerajaan kita. Apa maksudmu?! Apakah mereka salah satu Kompeni? Kau sudah gila! Apa maksudmu Trunajaya? Tidakkah kau harusnya punya rasa hormat kepadaku? Apakah kau tahu Amangkurat, betapa liciknya mereka? Tentu aku tahu mereka, mereka lebih baik darimu, merekalah yang membantu kita untuk memperbesar wilayah kerajaan kita. Kau salah besar Amangkurat! Jika kau beranggapan bahwa VOC akan membantu kita. Aku tidak akan setuju dengan keputusanmu Amangkurat! Hentikan omong kosongmu itu! Sudahlah, kau diam saja, aku tidak butuh pendapatmu dan aku juga tidak akan memanggil dan bahkan meminta bantuanmu lagi. Pergilah! Jika itu keputusanmu. Aku akan melakukan penyerangan untuk merebut kemerdekaan Mataram dari tangan VOC! Silakan saja kalau kau mau berhadapan dengan persediaan VOC yang super lengkap. Baiklah kalau begitu Amangkurat! Aku dan pasukanku akan melawamu dan memusnahkanmu! Prajurit amankan permaisuri! Ayo kita selesaikan ini Trunajaya! Akhirnya terjadilah pemberontakan yang dilakukan Trunajaya terhadap Mataram karena tidak setuju dengan keputusan Amangkurat 1. Trunajaya berhasil melakukan pemberontakan, sedangkan Amangkurat 1 beserta Putra pertamanya, Mas Rahmat melarikan diri dalam kedaan sekarat. Dan dalam pelariannya, Amangkurat 1 meninggal di daerah Tegalwangi. Lalu tahta Mataram diwariskan kepada anak sulungnya, Mas Rahmat yang bergelar Amangkurat 2. Setelah Amangkurat 2 wafat, terjadi peristiwa Perjanjian Giyanti antara VOC yang dipimpin oleh Hartight (Gubernur VOC untuk Jawa Utara) dan Paku Buwana III serta kelompok Pangeran Mangkubumi. Maka berdasarkan Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755 yaitu Mataram dibagi menjadi 2 : 1. Kesultanan Yogyakarta oleh Manskubumi yang berselar Hamengkubuwana 1. 2. Daerah Kasultanan Surakarta oleh Susuhunan Pakubuana 3. Lalu pada tahun 1757, dengan intervensi Belanda dan berdasarkan Perjanjian Salatiga. Kesultanan Mataram dipecah lagi menjadi 3. yaitu: Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Surakarta, dan Mangkunegaraan. Pada tahun 1813. Kesultanan Yogyakarta dipecah lagi menjadi 2, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman.



