[0:01]Koruptor Budiman karya Agus Nur. Seorang koruptor kakap mendadak muncul di kantor pengadilan. Ia menyerahkan diri minta ditangkap. Pak! Pak! Pak, tolong tangkap saya, Pak! Pak, tolong tangkap saya, Pak! Pak, tolong tangkap saya, Pak! Tolong tangkap saya. Saya ingin jadi koruptor yang baik dan benar. Saya ingin memberi contoh kepada rekan-rekan koruptor lain, tidak baik melarikan diri. Lebih baik duduk tenang di pengadilan. Kalau ingin sembunyi, Bukankah persembunyian paling aman bagi koruptor justru ada di pengadilan? Kita tidak akan diperlakukan macam maling ayam. Ampun! Ampun! Tolong ampuni saya! Tolong ampuni saya! Yah, Palingan ditanya sedikit-sedikitlah, basa-basi, minta bagian hasil korupsi. Enggak ada salahnya kalau kita berbagi rezeki dengan hakim, jaksa dan polisi. Anggap saja zakat buat mereka. Toh itu juga bukan uang kita. Makanya saya di sini. Minta diadili. Bu, apakah Ibu takut diajam? Bu, berapa banyak uang yang Ibu korupsi? Jadi Ibu mengaku bahwa Ibu maling negara? Tidak. Tidak, tidak, tidak, tidak. Tidak. Saya tidak membantah. Itu bukan urusan saya. Itu urusan para pengacara saya karena untuk itulah mereka dibayar. Membuat saya kelihatan tak bersalah. Saya hanya ingin meluruskan anggapan keliru yang menyatakan koruptor macam saya tidak lebih dari benda lu bangsa. Koruptor macam saya jelas aset bangsa. Kamilah yang menggerakkan roda perekonomian. Dengan korupsi, uang jadi terdistribusi, terjadi pemerataan pembangunan. Korupsi juga terjadi di segala bidang. Tapi, kami tidak pernah menikmati buah sendiri. Kami ikut menyumbang pembangunan rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, menyokong olahraga, bahkan iuran 17-an, banyak. Karena sebagai koruptor yang baik. Kami tahu cara melabui. Dengan berbuat baik, kami jadi dihormati. Duduk di depan bila ada hajatan. Dan dimintai bicara di pengajian. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang sedang berbahagia, korupsi adalah sumber kebahagiaan. Tapi, harus pintar-pintar nyembunyiannya.
[3:47]Lalu, bagaimana pendapat Ibu dengan para mahasiswa yang terus berdemonstrasi menuntut semua koruptor dipenjara? Naif bila semua mahasiswa menuntut koruptor dipenjara. Nanti malah repot, mesti bikin banyak penjara. Karena 70% warga Republik ini pasti akan masuk penjara. Tidakkah itu hanya menghabiskan anggaran belanja negara? Percayalah, biaya memenjarakan koruptor jauh lebih tinggi ketimbang dana subsidi BBM yang dialokasikan untuk mengatasi kemiskinan. Jadi, memenjarakan koruptor itu justru kontraproduktif bagi keuangan negara. Daripada uang dihambur-hamburkan membangun penjara, lebih baik uang itu kami korupsi lalu kami bagikan secara adil dan merata. Itu baru namanya korupsi yang adil dan beradab sesuai Pancasila.



