Thumbnail for Sejarah Tragedi Mandor Berdarah Kalimantan Barat ~ Melawan Lupa by KALBAR PULAU BORNEO

Sejarah Tragedi Mandor Berdarah Kalimantan Barat ~ Melawan Lupa

KALBAR PULAU BORNEO

19m 44s1,138 words~6 min read
Auto-Generated

[0:48]Suara ledakan bergemuruh dan asap tebal menggumpal. Ketika Jepang meluluh lantakan Pearl Harbour Hawaii, Pangkalan Armada Amerika Serikat di Pasifik pada tanggal 8 Desember 1941. Jepang melancarkan rencananya ini membentuk negara Asia Timur Raya. Amerika Serikat yang awalnya bersikap netral berubah menjadi sigap menyatakan perang terhadap Jepang. Jepang telah menyerang wilayah kita. Jepang juga membunuh rakyat Amerika. Sejak dimulainya perang ini di wilayah kami, kami yakin menang. Inilah tanda berkobarnya perang Asia Pasifik yang membuat Jepang dalam waktu yang relatif singkat berhasil menguasai kawasan Asia Tenggara. Termasuk Indonesia. Keberhasilan Jepang menguasai beberapa wilayah di Indonesia membuat Belanda menyerah tanpa syarat terhadap tentara Jepang pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Inilah babak dimulainya kependudukan Jepang di Indonesia. Pada tahun 1941 ketika Perang Dunia kedua itu berkecamuk. yang merambah seluruh kawasan Asia, di mana Jepang mengatakan Daitoa Nisensho. Teno Haika. Jadi seakan-akannya semua wilayah di bawah langit ini adalah kepunyaan Kaisar. Kalimantan Barat khususnya Pontianak adalah sasaran Perang Dunia kedua yang pertama kali di Indonesia ini. menjadi tumpuan serbuan dari bala tentara Daini Fontai Koku itu.

[3:07]Jejak kejamnya kekuasaan Jepang di Indonesia ada di sejumlah daerah. Salah satunya adalah di Kalimantan Barat. Ibarat datang petir tanpa langit mendung, Jepang tiba-tiba melakukan serangan udara bertubi-tubi dan memberondong pusat Kota Pontianak. Ya, inilah cara keji Jepang menguasai dan menyingkirkan kekuasaan Belanda dari wilayah kota ini. Pontianak pada hari naas itu dibom oleh sembilan pesawat yang meluluh lantakkan seluruh isi kota. Ribuan masyarakat Kota Pontianak ini tewas terkena ledakan-ledakan bom. Selesai peristiwa naas ini ternyata mempawwah juga dibakar. Kota Ngabang juga dijatuhi bom, Sanggau juga, Pemangkat juga. Inilah awal mula malapetaka yang akan mengantarkan Kalimantan Barat kehilangan satu generasi terbaiknya kelak. Jepang terus melancarkan serangan, namun Belanda tidak menyerah begitu saja. Mereka meninggalkan kota ini dengan taktik bumi hangus agar tempat-tempat dan perlengkapan yang penting secara strategis tidak jatuh ke tangan Jepang.

[4:32]Yang berkuasa waktu itu Angkatan Darat, Angkatan Darat ini sebutannya Rikugun. Rikugun Sensei. Rikugun Sensei. Dia ini lebih kooperatif, masih ada rasa kemanusiaan, masih ada belas kasihan. Karena dia menyadari kami ini, orang-orang Jepang ini, begitulah bahasa dia kira-kira ya, sebagai tentara Rikugun Angkatan Darat ini yang simbolnya ini adalah bintang di di lengan sebelah kanannya ini gambarnya bintang. Tugas kami adalah mengamankan daerah yang kami duduki. Begitu prinsip mereka. Pada tanggal 21 Juli tahun 42, kebijakan menentukan lain. Kalimantan bersama dengan Sulawesi dan kawasan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara, kawasan Timur Indonesia lain berada di bawah kekuasaan Kaigun Tayku. Kaigun ini Angkatan Laut. Simbolnya adalah Jangkar di sebelah kanan. Jadi Kaigun ini adalah tentara-tentara yang mayoritas perwira-perwiranya itu adalah anak-anak muda Jepang yang dulu orang tuanya itu adalah orang-orang Cina yang dibantai oleh Jepang. terjadi perkawinan paksa yang melakukan apa? Asimilasi menjadi tentara, menjadi tentara Jepang ya, tentara pendudukan. Mereka ini sangat kejam, sangat bengis. Kalau Jepang membunuh. Dia enggak ada urusan dengan orang keraton, orang Cina, orang Dayak, tetap bunuh. Harta diambil.

[8:26]Kemudian perempuan yang diperkosa, lakinya dibunuh. Kalau Belanda lain, Belanda enggak dia kerja sama dengan kerajaan. Dari sehari ke sehari, sehari ke sehari Jepang ini semakin buas, semakin ganas.

[8:47]Para pemuka, kaum terpelajar yang ada di Pontianak ini menghimpun diri di dalam satu organisasi yang namanya Nisinkua. Di antara pengurusnya itu terdapatlah Sultan Syarif Muhammad Al-Kadri, di mana Sultan Pontianak ini menghimpun semua kepala-kepala Swapraja, para raja, para penembahan dan Sultan se Kalimantan Barat ini memikirkan. Apakah harus berdiam diri dengan keadaan seperti ini? Tindakan moral terjadi setiap hari. Orang Jepang melakukan penganiayaan, pembunuhan, bahkan pembantaian sadis itu sudah sudah tidak terbilang-bilang lagi. Dan ini bukan hanya setahun, 41, 42, 43. Sampailah satu malapetaka tahun 44. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pada bulan Januari 1944, rencana gerakan pemberontakan para cendekiawan Kalimantan Barat itu gagal karena salah seorang anggota pergerakan memilih berkhianat dan membocorkannya kepada Jepang. Inilah titik sentral dari seluruh peristiwa sejarah pembunuhan massal yang menghabiskan satu generasi terdidik di daerah Kalimantan Barat. Tapi yang ditangkap itu kan semua tidak bedakan suku. Bahkan Raja kan Melayu, ada juga mungkin dokter yang orang Jawa, orang Tionghoa yang penting waktu itu tuh para tokoh-tokoh masyarakat maupun yang terdidik. Intelektual itu memang itulah yang di yang ditangkap. Paman kakek saya yang tiap hari dipukulin pakai kayu. Dipangkong-pangkong kan jadi mereka dipenjara itu mesti minum es ini sendiri kan. Diambil, sungkup pakai karung. Dimasukin di atas truk, di sana di pancung, pancung itu. Jadi sebenarnya itu pada saat kondisi itu luar biasa sekali efek dari penungkupan itu ya. Jadi kalau malam-malam ada mobil, dulu tuh pada saat itu ya, kalau ada malam kayak mobil pakai terpal, istilah kita terpal, itu sudah mulai panik itu. Itu sudah tahu itu ini dijemput korban, kalau sudah dijemput itu enggak ada cerita hidup. Kuburannya aja kadang belum tahu itu. Aksi kejam tentara Jepang ini membuat para pemuka lapisan pimpinan masyarakat di Kalimantan Barat pun satu demi satu menghilang dan mati.

[11:39]Jangankan orang keraton, orang Cina, orang apa enggak. Itu mati. Itu makamnya di Mandor beribu, makamnya di Mandor. Enggak tahu di mana makam datuk-datuk saya ada dua diambil Jepang. Malahan abahnya Sultan Muhammad yaitu abahnya Sultan Hamid 2 itu diambil Jepang, dibunuh. Padahal orang-orang dulu pandai silat, kebal kan? Kemudian tokoh-tokoh terpelajarnya kalau kita bisa sebutkan di antaranya itu Dr. Rubini, Dr. Agus Jam, Dr. Abdurrahman Diponegoro, kemudian Nasrun Sultan Pangeran dan lain-lain sebagainya. Yang tidak, tidak, tidak tersebut-sebutkan lagi jumlah korban ini saking banyaknya, termasuk masyarakat biasa. Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dua kota di Jepang. Pengeboman ini kemudian melumpuhkan kondisi politik dan ekonomi Jepang. Peristiwa naas Hiroshima Nagasaki itulah yang menghentikan nafas, gerak dan langkah Jepang untuk melakukan pembantaian berikutnya. Bukan berarti setelah ini mereka tidak melakukan pembunuhan lagi, berlanjut terus berlanjut. Sampai awal-awalnya satu kepahlawanannya yang heroik dilakukan oleh Pangsuma di daerah Meliu, Pangsuma atau Bendera Bindulang ini memimpin rakyat pedalaman melakukan perlawanan sengit, perlawanan bersenjata kepada Jepang sehingga Kaisun Nakatani itu bisa dipenggal kepalanya di satu daerah yang namanya Sekucing Benua Labay. Bahwa beliau-beliau ini sudah sudah menyumbangkan jiwa raganya untuk apa? Kemerdekaan bangsa kita.

[18:21]Jadi beliau-beliau ini kan mungkin sebagai perintis ya, walaupun tidak melalui suatu perjuangan fisik langsung. Tapi mungkin semangat itu semangat kebersamaan kita karena mungkin di Indonesia baru ada satu tempat yang di mana semua etnis umat beragama dari itu di satu liang kubur. Dan tidak bisa dipisah-pisahkan lagi ini antara ini dan itu. Dan ini mungkin itulah Indonesia. Dan inilah semangat apa? Kebersamaan kita dan kemerdekaan kita. Tapi Mandor itu hanya tempat pembantaian terbesar ya. Karena ada di tempat-tempat lain pun ada pembantaian juga di Kalimantan Barat ini. Begitulah selesai. Selesai sudah satu riwayat kelam yang penuh dengan kepedihan, yang penuh duka nestapa kalau kita mengingat-ingat masa yang penuh rona-rona asap mesiu itu. Inilah kejahatan perang. Apapun bentuknya, setiap yang dinamakan peperangan itu akan meninggalkan kesan-kesan dan trauma mendalam yang tidak mungkin untuk terobati.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript