Thumbnail for SIAPAPUN PRESIDENNYA INDONESIA TETAP MENUJU NEGARA MISKIN!? - Gema Goeyardi by CERITA UNTUNGS

SIAPAPUN PRESIDENNYA INDONESIA TETAP MENUJU NEGARA MISKIN!? - Gema Goeyardi

CERITA UNTUNGS

26m 14s4,125 words~21 min read
Auto-Generated

[0:00]Tapi Kris masih jauh enggak kita ya? Kita sudah krisis sekarang. Ketika inflasi naik, daya beli masyarakat benar-benar turun, itu problem. Dan kalau yang kena itu adalah middle income society, ini terancam hilang nih middle income-nya. Kalau middle terancam hilang berarti jadi antara si miskin dan si kaya. Gap banget dong tuh. hilang. Nah, risikonya apa kalau terjadi gap? Kejahatan naik pasti. Terus cara kita escape gimana?

[0:34]Nah, ini dimensi kedua. Dimensi kedua saja tidak cukup karena Indonesia sendiri internalnya rapuh, akhirnya apa? Kita punya mata uang terhadap negara-negara lain jadi lemah. Terhadap Singapura, Singapura sudah Rp13.500. Ringgit Malaysia sudah hampir Rp4.500. Kalau pakai kartu kredit saya yakin sekarang sudah Rp4.500. Padahal 3, 4 tahun yang lalu ringgit lagi melemah, sama rupiah itu cuma Rp3.300. Sekarang sudah 4,5. Pantesan kemarin nitip beliin raket paddle lebih mahal di luar ya. berasa lebih mahal di luar. Saya biasanya kalau beli kayak iPhone, GoPro, apa itu, saya beli di luar karena masih oke. Tapi sekarang Indonesia lebih murah karena impor mungkin langsung dari dari China langsung kan. Benar. Nah, rupiah kita melemah, ini problem gede. Karena kita mostly import, apapun kita import. Kita itu bukan negara yang memiliki ketahanan pangan. Kalau sekarang misalnya kita melalui satu, dua tahun terakhir, satu tahunlah terakhir kita tuh surplus neraca perdagangan. Nah, tapi dengan kondisi seperti ini, dengan akhirnya rupiah ini naik, ini adalah dejavu seperti tahun 2013 di mana waktu itu rupiah melemah dan kita itu ekspornya kurang. Kita impornya banyak, akhirnya neraca kita menjadi defisit. Nah, ini yang saya bilang, ini merefleksikan 2013 dan 15 bisa terjadi sekarang. Nah, kalau kita rupiahnya seperti ini terus, neraca perdagangannya akhirnya jatuh ke level defisit, impor tetap jalan. Pemerintah tidak cepat memberikan insentif untuk ekspor, ini kita bisa masalah gitu. Pengaruh juga tuh ya. Oh, pengaruh. Kita, di dua step ini semuanya sudah di sudah sudah ngerasain kita ini. Udah ngerasain. Sudah ngerasain belum lagi nanti ditambah dengan global economic growth yang slowing down. Nah, kalau itu seperti tahun 2015. Begitu China juga mendeklar bahwa ada economic growth yang slowing dari China, itu langsung kena dampak ke financial market satu. Terus bisnis juga problem karena sekarang kenapa bisa begitu? Kenapa sih global ekonomi bisa kena? Sekarang begini contohnya. Ribut-ribut nih, tak tak tak tak perang, ya kan? Kena tarif war. Tarif war aja belum selesai kan urusannya gitu ya. Tarif war itu enggak di-suspend ya selama perang ya? Ya, sekarang sih tetap ada tarif war. Oh, masih ada ya? Masih tetap. Sekarang saya mau beli alat elektronik untuk spare part simulator pesawat, itu aja mereka enggak mau kirim ke Amerika. Karena dia bilang ini tarifnya masih enggak jelas, harga kita akan lebih mahal. Jadi masih ada dampak. Nah, sekarang kalau misalnya demikian, akhirnya US perang, segala macam, mereka akan bilang, oh entar dulu deh lagi ribut-ribut, kita juga enggak jelas nih mau gimana, kita pending dulu. Kalau mereka sudah bilang pending produksi, mereka akan bilang ke negara-negara eksportir, India, Indonesia, Vietnam, segala macam, eh entar dulu ya. Semua on pending, akhirnya kita enggak bisa kirim, kita enggak bisa ekspor. Ekonomi enggak jalan dunia, global ekonomi. Ini jadi masalah. Ikutannya ini penasaran ini apa ini yang diinginkan sama Trump gitu ya. Ibaratnya kan dia juga butuh ekonomi juga. Nah. Nanti kita ke sana ya. Iya, itu, itu juga kemungkinan kan. Nah, terus habis itu ya at the end pasti larinya dimensi kelima, kita bicara financial market kita yang drop. He eh. Jelaslah ya, karena ekonomi, financial market drop. Udah kayak domino effect dong nih. Pasti, semua itu domino. Makanya enam itu berkaitan. Dan kalau kita bicara harga komoditas dan impor Republik Indonesia, itu kan Indonesia impor gandum 100%. Kedelai itu 90-an%, bawang putih itu 99%. Itu core loh.

[4:07]Itu impornya gede banget. Berarti kalau harga komoditas dengan perang ini akhirnya naik, semua harga perolehan kita itu naik. Kita enggak bisa dapat barang murah lagi. Jadi, ya kita kan berarti harus siap-siap memiliki kemampuan untuk bisa achieve itu. Itu kalau kitanya enggak punya, memberikan saran kepada regulator atau government, marilah kita hadapin kenyataan ancaman. Ini kan belum pasti terjadi, bisa saja kita doakan semoga ini tidak terjadi. Ya. Tapi kan sebagai government, kita mesti realistis, kita melihat apa yang terjadi dan kita mempersiapkan. Nah, masalahnya narasi yang saat ini disampaikan untuk menenangkan publik itu bagus bahwa everything will be oke. Ya, bisa bisa dihandle lah. Bisa dihandle. Itu perlu dong, karena enggak mungkin government bilang, oh kita bahaya ya gitu kan. Udah begitu terus kayaknya makin tambah parah lagi. Enggak bisa, enggak boleh gitu ya. Tapi yang saya harapkan, secara eksternal mengatakan everything gonna be oke, yang saya harapkan internally mereka benar-benar mem-prepare. Karena kalau ini tidak di-prepare internal, ini, ini benar-benar jadi masalah gitu. Tapi sekarang sudah ada proses prepare-nya itu enggak Bro lu? Saya tidak tahu. Oh. Nah, ini yang saya harapkan benar-benar dipersiapkan dengan matang. Tentunya Menteri Keuangannya juga, ya kan? Karena sekarang kan nampaknya Menteri Keuangan dan BI sendiri kan tidak berkomunikasi dengan smooth. Lagi. Dari media yang saya baca, yang saya asumsikan, ya, menurut keyakinan saya nih Pak Purba dan BI ini tidak terjadi. Duduk bareng lah ya. Bareng. Kenapa? Karena statement Pak Purba ya, itu kan bukan urusan saya, mana saya tahu itu kan BI. Di dalam sebuah negara yang dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya jika informasi yang diberikan itu satu suara. Satu suara ya. Dengan adanya ini bukan bagian saya, itu bagian BI, itu menunjukkan terjadi jalan sendiri-sendiri. He eh. Nah, kalau situasi sudah seperti ini pemangku kepentingan jalan sendiri-sendiri, nah itu sedikit banyak menggambarkan bahwa belum ada koordinasi yang baik. Itu nalar. Masyarakat jadi berkubu. Berkubu. Mau yang berpihak kepada Purba atau BI-nya nih gitu kan. Yes, yes. Jadi kalau selama ini menurut Bro Gema, bahwa sebenarnya kita tuh terlihat atau merasa baik-baik saja. Ini kayak disuntikkin painkiller gitu. Iya. Itu yang gua bilang ini Ya, ini enggak bisa lama dong. Enggak bisa lama. Karena core-nya itu di awal tahun saya sudah bicara tentang ini. Boleh dilihat di YouTube-nya Astronaci tentang Prabowo Nomics. Saya sudah ceritain, saya sudah berikan saran pada pemerintah karena saya melihat ini akan terjadi. Hal ini itu akan terjadi sudah kelihatan dari awal tahun, even itu belum perang Iran. Cuma kan bentuknya apa saya enggak tahu. Karena itu tadi, membaca pola kelakuan Amerika. Jadi sebelum perang pun lu sudah baca gini. Coba lihat di, jadi memperparah nih keadaan sekarang. Lebih parah. Prabowo Nomics itu waktu itu gua diundang ke podcast, dari awalnya gua keluarin dari dari konten mata rakyatnya Astronaci tentang Prabowo Nomics. Ramai itu awal tahun, kejadian. Karena waktu itu saya sudah bilang, benerin pemerintahan segera secepat mungkin. Karena sekarang itu terpecah di government sendiri itu sudah kayak menurut saya, pengamatan saya itu agak pecah nih, enggak bisa solid gitu. Enggak solid satu ini ya. Apa sih membuat seperti itu gitu. Ini seperti satu komunikasi yang tidak terkoordinasi ya kan. Ibaratnya kayak masing-masing ini ya menyelamatkan perahunya masing-masing ini, tapi di satu payung yang sama gitu kan. Jadi mungkin kita bisa belajar dari negara seperti Singapura atau Commonwealth Country yang lain ya, walaupun tidak sempurna, tapi yang menjadi masalah di Indonesia itu ganti pejabat ganti aturan. Ya, betul. Seakan-akan kalau enggak ganti aturan dia enggak kerja. Nah, justru itu yang memperparah. Masalahnya 10 tahun di bawah pemerintahan Pak Jokowi, begitu diganti Pak Prabowo, ini kan ada perubahan besar. Ya. Nah, Pak Prabowo sendiri saya rasa juga pusing. Kasih menteri, menterinya bermasalah, reshuffle lagi, reshuffle lagi. Lagi nih kemarin. Udah berkali-kali reshuffle. Lah sekarang menterinya aja di-reshuffle terus, kebijakannya berubah terus dong. Kebijakannya berubah ataupun programnya tidak dijalankan. Bagaimana mungkin menghadapi situasi seperti ini menterinya ganti kiri ganti kanan? Kita aja enggak usah bicara skala negara, perusahaan deh. Iya. Manajernya diputar-putar di situ ganti ini enggak bagus, itu bukan, itu strategi, strateginya Pak Prabowo benar. Ada corrective action. Berarti kan beliau melihat ini enggak efisien. Ayo kita ganti, cabut, ganti. Itu benar. Pertanyaannya harus bisa segera dioptimalkan ini. Dengan kondisi seperti ini jangan terus ganti-ganti terus. Jadi masalah ini. Kadang-kadang orang menjabat dia butuh waktu untuk adaptasi gitu ya. Pasti kan. Kalau dikatakan apakah Pak Prabowo bisa dalam waktu 5 tahun mau siapapun presidennya, bukan saya bela Pak Prabowo nih, mau siapapun selama dia adalah manusia disuruh benerin apa yang sudah terjadi 10 tahun. Ganti pemerintahan dengan ancaman yang baru suruh 5 tahun, kagak bakal bisa. Memang jadi, jadi presiden itu enggak mudah ya. Pasti ya. Pasti. Dan secara politik juga di masyarakat bahwa ya masih yang dibaca masyarakat, Pak Prabowo memerintah juga masih ada bayang-bayang Solo sebenarnya kan. Nah, ibaratnya kebijakan-kebijakan mungkin banyak yang terbentur-bentur mungkin. Mungkin ada beberapa hal yang terjadi misalnya dari ya masyarakat di bawah tuh sering komplain dengan pemerintah gitu misalnya. Mungkin aja bisa dibetulin tapi terbentur dengan sesuatu. Terbentur. Ada kadang-kadang ada satu kebijakan dilakukan anak buahnya, salah ngomong, salah ini, segala macam, beliau juga kena. Kena. Kalau gua pikir jadi presiden ini pusing banget ya. Ngapain pada yang mau jadi presiden sih maka gua pikir ya. Zaman waktu sebelumnya dari presiden ada covid, sekarang ada perang. Ini bingung kan. Jadi, jadi kalau kita mau ngomong lucu-lucuan nih, dark jokes-nya adalah laki-laki itu cuma tiga kan, harta, tahta, wanita. Iya. Gitu loh. Harta sudah punya, wanita sudah punya, tahtanya belum, ya gua kejar inilah nanti.

[10:14]Sekelas lu aja bilang belum ada harta, nih parah nih orang. Sekolah pilot gitu ya, segala macam, masih bilang belum ada harta, belum. Dia mau sampai sekelas masuk di Elite Global nih. Baru ada harta, baru ada harta ini. Kalau menurut lu nih, ya, yang paling mematikan itu di fase yang mana, dimensi yang mana? Menurut gua, ketika inflasi naik, daya beli masyarakat benar-benar turun, itu problem. Dan kalau yang turun itu yang kena itu adalah middle income society, ini terancam hilang nih middle income-nya. Kalau middle terancam hilang, berarti jadi antara si miskin dan si kaya. Gap banget dong tuh. Hilang. Nah, resikonya apa kalau terjadi gap? Kejahatan naik pasti. Wih, itu. Targetnya yang kaya. Targetnya yang kaya karena yang suara jadi miskin. Padahal ekonomi ada di tengah nih. Ekonomi di tengah, nah yang tengah hilang. Karena kan yang tengah itu kan adalah orang yang mencoba jadi kaya. Berarti dengan semua harta yang dia punya, kalau dulu dia jadi petani, dia mau memperbaiki hidupnya, dia susah jadi petani selama puluhan tahun, anaknya sekarang kuliah, dibiayain sama bapaknya kan. Iya. Kuliah ternyata anaknya sudah kuliah lulus, bapaknya jual sawah untuk anaknya bekerja. Iya. Anaknya kerja kena, bus kayak begini, bangkrut anaknya. Anaknya enggak bisa kerja. Anaknya enggak bisa kerja. Bapaknya sudah miskin. Bapaknya sudah jual aset. Akhirnya anaknya mau tidak mau jadi benalu lagi sama bapaknya. Kemudian bapaknya meninggal karena sakit misalnya kan, stress. Enggak survive nih anak. Enggak survive nih anak. Jadi pengangguran. Kan itu aja. Habis itu larinya ke mana? Parameter yang paling mengerikan buat gua adalah pinjol di Indonesia tembus Rp100 triliun. Itu kan bukti bahwa middle society-nya sudah hilang, sudah makin downgrade. Ini, ini bukti. Jadi kalau ditanya itu kan teori lu dasarnya apa? Kalau kamu bisa berpikir, begitu pinjol itu mencapai Rp100 triliun, artinya ekonomi di tengah ini tidak jalan sehingga orang enggak ada duit, mau tidak mau pinjam. Kalau enggak nipu temannya, ngutang duit, pinjam sama pinjol. Karena jalan pintas. Jalan pintas untuk menutup kebutuhan hidup dia. Not to mention orang-orang gila yang pinjol untuk judol, itu kan ada juga. Itu yang lebih parah. Itu lebih parah. Banyak, tapi ini kan anggapannya orang-orang gila nih. Ini orang yang enggak jelas. Karena begitu kamu enggak punya duit, kamu mau coba peruntungan di judol, yaitu itu out of context. Tapi yang context utamanya adalah untuk beli nasi untuk keluarga saya, untuk beli susu, Bro, buat anak saya harus pinjol, something really wrong with this country. Iya, kayak kemarin ada bapak-bapak dipukulin gara-gara dia mencuri susu buat anaknya karena enggak punya beli. Sebenarnya itu kan walaupun kita enggak enggak bisa apa namanya?

[12:51]Membenarkan mencuri, ya. Tapi maksudnya, berarti semiris itu kehidupan kita gitu. Buat susu aja enggak punya gitu. Itu bukan salah saya loh. Benar. Kan jadi, jadi pembelajaran buat kita semua bahwa sesuatu terjadi memang di kalangan itu. Terlepas dari dia punya kompetensi atau tidak. Terlepas dia sorry ngomong nih IQ gorila atau tidak dan pemalas gitu ya. Tapi fakta bahwa sampai segitu nya itu sudah terjadi. Indonesia tidak mau dicap sebagai negara miskin. Kalau kita sebagai negara miskin, ya kita jadi Zimbabwe atau sebagai negara yang kita lihat di Afrika sana masih ada anak kelaparan, ya kan? Ada singa gambarnya sampai tulang semua. Indonesia kan tidak mau dibilang negara miskin, tapi faktanya kalau ini terus dibiarkan, ini lama-lama akan ke sana. Suka tidak suka pemimpin kita sekarang, yang terjadi di lapangan adalah people suffer. Jadi antara yang miskin sama yang paling kaya banget. Iya. Ini pasti akan jadi chaos. Karena yang bawah ini kan pasti pengin nyari yang ke atas dong. Karena di atas ada sesuatu yang dia kepengin. Biasanya yang di tengah ini adalah yang bikin ekonomi berputar, benar enggak? Iya, memang begitu kan. Tapi ini masa, masa gini. Lu bisa lihat analisa ini, masa di penyandang kebijakan enggak ngebaca ini. Mereka mereka ngebaca, tetapi kan seperti yang Bang Ari tadi bilang, conflict of interest. Unsur kepentingan, keganjal kiri kanan, akhirnya juga tangannya keikat gitu, enggak bisa ngapa-ngapain. Tahu ya tahu. Cuma tangannya keikat. Itu dia ya. Kadang-kadang memang kalau jadi pejabat itu ada hal yang dos and don'ts, yang ada pakem yang harus dijalani gitu kan. Jadi kita mengertilah. Saya mengerti 100%. Saya pernah di dalam kan. Gitu ibaratnya. Jadi saya tahu bagaimana kan namanya birokrasi itu apa. Tapi yang kita berharap kali ini, mari kita tinggalkan itu semua dulu. Karena apa yang terjadi sekarang itu cukup serius untuk untuk ditindak gitu. Kalau kita lihat pinjol sekarang ini kan kayak jalan pintas ya. Jalan pintas orang sebagai solusi pintas, maksudnya ya. Solusi pintas. Kalau udah parameternya itu bisa kelihatan, ibaratnya gini. Satu, pinjolnya ini makin banyak. Kedua, kok izin pinjol juga tetap diadain itu. Iya. Mau enggak mau kalau orang misalnya punya pinjol terus enggak bisa bayar gimana? Ada yang kemarin cuma gara-gara pinjam Rp2 juta tiba-tiba tagihannya Rp140 juta, itu bisa kejadian tuh. Dalam waktu berapa bulan kan kapitalism gede tuh. Depan kantor gua ini ada lima, enggak ada ini. Enggak ada. Jadi habis pinjol gadai. Ada ya.

[15:19]Gadai. Betul. Saking banyaknya. Berapa meter lagi ada lagi gadai lagi. Nah, sekarang kan kalau kita bicara izin pinjol dibekukan, enggak bisa juga. Enggak bisa ya. Orang kan berhak juga bikin itu selama dia mengikuti aturan. Jadi pinjol sama judol ini kan. Oh, kalau judol lain cerita kan. Kalau judol ya memang itu pelanggaran hukum. Tapi kalau pinjol dan dia mengikuti aturan OJK misalnya ya boleh-boleh aja. Karena masalahnya tidak. Ada juga pinjaman yang resmi juga ada juga ya. Resmi ya kalau yang enggak. Perbankan bisa kena juga ya. Bisa kena juga dong. Kalau sekarang dia enggak boleh pinjamin ya susah. Enggak bisa. Karena that's not the point gitu kan. Jadi ini kayak lingkaran ini juga ya. Lingkaran setan. Makanya aku bilang enam dimensi kematian. Terus cara kita escape gimana kan gua dengar ada beberapa opsi nih ya kan termasuk nyetak duit. Gitu misalnya untuk menyelamatkan dululah sementara gitu lah. Ada enggak opsi-opsi yang kira-kira mungkin bisa jadi jalan keluar kalau menurut lu nih. Kan orang udah lihat ini, ini kita kritis nih gitu. Terus jalan keluarnya apa maksudnya itu. Jadi gini. Saya, saya bukan orang yang sepintar Pak Purbaya atau yang lain-lainlah. Saya percaya mereka semua yang ada di pemerintahan itu expert. Tapi saya menggunakan logika dasar. Misalnya nih Bang Ari, Anda kena yang namanya pengerasan hatilah atau you kena faty liver akut. Iya. Misalnya. You punya hati bermasalah. Langkah pertama menurut Anda untuk menyembuhkan itu apa? Apa ya? Kalau kena faty liver, tidak makan gorengan, ya kan. Olahraga, diet. Iya, enggak makan gorengan, olahraga.

[16:51]Berarti apa? Sakitnya ini harus disembuhin dulu.

[16:57]Oh, iya iya iya ya. Masalahnya kan sekarang yang terjadi ini dimulai dari kesalahan manajemen yang harusnya bisa dimitigasi. Mencetak uanglah, ini dan itu, itu hanya painkiller. Sementara aja. Sementara. Tapi apakah kita mau benar-benar menyembuhkan problem utama? Misalnya kita terluka nih lubang. Iya. Yang harus dilakukan pertama apa? Tutup dulu kan. Bukan ditutup. Apa tuh? Kasih alkohol dulu. Supaya tidak infeksi kan. Oke. Tapi kira-kira kalau luka borok yang berdarah ini dikasih alkohol itu rasanya gimana? Wah, ya sakit. Mau enggak menahan sakit untuk membersihkan ini? Berarti pasti akan sakit loh nih. Pasti sakit. Artinya apa kalau kita siapin sakit? Harus ada yang berkorban, enggak bisa korupsi lagi, enggak bisa ini, enggak bisa itu. Semuanya untuk kepentingan negara. Kan lu bilang tuh kemarin. Lu mengkhianati lu kalau masih korupsi. Lu biadab gua bilang, binatang gua. Emang kalau masih korupsi berarti itu sudah benar-benar ini kaya, ini miskin banget dan dia masih korupsi lagi. Iya. Itu tadi karena dia dari dari sini mau, mau cepat naik ke atas kan. Tapi mereka melakukan secara bersama-sama, secara sistemik. Sistemik ya. Tanpa mereka sadarin bahwa itu adalah cikal bakal kehancuran secara sistem secara total. Ini mesti didengerin sih sama, sama pemangku kebijakan sih, ibaratnya kayak, ya kan banyak juga itu ibaratnya ya. Jadi ibaratnya benar itu. Sebenarnya gini, lu kalau mau korupsi 3 tahun lagi deh korupsi. Sekarang berhenti dulu gitu loh. Bukan berarti membenarkan korupsi ya. Sejahat-jahatnya lu jangan biadab gitu loh. Iya. Biadab. Sarkasnya tuh gitu. Lu korupsi, korupsi aja. Tapi tunda dulu 3 tahun lagi. Sekarang, eh nanti aja ya, jangan korupsi dulu. Ayo kita bantu masyarakat dulu nih. Ah. Contoh paling gampang. Pangkas kamu punya income pribadi, berani enggak? Jepang Airline itu airline-nya bangkrut loh dulu. He eh. Begitu ganti CEO baru, dia enggak ambil gaji. Dia benerin semuanya, sampai sekarang hidup lagi. Oh, jadi seperti pola, lu bilang tadi, disembuhin dulu. Sembuhin dulu. Walaupun harus sakit, sakitnya enggak terima gaji. Pasti sakit. Enggak terima gaji, apa segala macam, enggak ada proyek, enggak ada apa. Tapi semuanya diperuntukkan menyelamatkan masyarakat, misalnya. Tapi walaupun misalnya di awal nih, dia nyembuhin, apa namanya? Alkohol dulu, segala macam sakit. Tapi kalau secara internalnya enggak dibenerin, akan balik lagi kayak gitu kan. Iya, balik lagi. Nah, setelah kasih alkohol kan baru dibenerin, dijahit lah, apa segala macam, lukanya dibuang kan. Berarti apa? Harus ada orang-orang expert yang nyembuhin luka. Bukan orang-orang yang abal-abal, yang kelihatan expert tapi sebenarnya enggak. Tukar-tukar jabatan, kasih jabatan nepotisme. Sekarang mau lu, tangan borok yang nyembuhin tuh bukan dokter gitu. Pokoknya ya tukang jahit aja. Tukang jahit pakaian suruh jahit tangan. Tambah sakit lagi entar. Yang infeksi ke mana-mana. Nah, setelah kita siram itu pakai alkohol, berikutnya adalah suruh expert benerin. Hairlah 100 orang seperti Pak Purbaya, ibaratnya kan gitu. Benerin sistemnya. 270 juta orang di Indonesia, masa sih enggak ada yang pintar kan enggak mungkin ya. Cari pintar banyak, Bro. Yang punya hati enggak ada. Oh, iya iya iya iya. Pintar juga banyak. Nyocap-nyocap cuma jadi komentator nyalah-nyalahin pemerintah banyak. Makanya orang bilang gema nyalahin pemerintah. Enggak. Saya tidak perlu nyalahin pemerintah. Ngasih masukan. Ngasih masukan dan mungkin menyadarkan aja gitu. Menyadarkan juga dua belah pihak masyarakat, eh lu jangan bacot terus menyalahkan pemerintah. Mendingan lu juga mikirin nasib lu karena lu teriak-teriak ke pemerintah, pemerintah enggak bakal berubah juga gitu. He eh. Tapi piring nasi lu kegerus. Berarti secara enggak langsung polanya begini, berarti. Cari orang-orang terbaik yang punya rasa ingin kembali bangun Indonesia. Yes. Dimasukkan ke dalam satu tim di pemerintahan ini. Ya, mungkin kalau perlu ada reserve-reserve lah untuk mereka yang enggak kompeten. Betul. Tapi di sini polanya adalah benar-benar selektif untuk mengembalikan perekonomian. Iya. Begitu. Sesimpel itu, Bro. Sesimpel itu sebenarnya ya. Kita itu sebenarnya cuma sedang luka. Luka ini karena diabetes. Iya. Luka Indonesia itu karena diabetes gitu ya. Tapi gulanya enggak distop. Iya iya iya iya. Insulinnya kagak dimasukkin. Ya borok lu amputasi nanti. Benar. Mau enggak mau amputasi. Mau enggak mau amputasi. Mau enggak mau. Ya memang begitu guys. Ini adalah sebuah pola yang kayaknya. Iya, gini kalau politik kan tetap transaksional. Transaksional terhadap politik. Kadang-kadang kadang-kadang ini kepentingan negara sama kepentingan partai itu lebih urgent kepentingan partai. Karena para pelaku politiknya. Karena negara tunduk pada partai kan gitu katanya. Emang satir sih, tapi ironis memang kejadiannya kayak gitu. Itu kan bukan kata saya loh. Ya. Gitu kata orang itu. Termasuk meeting di DPR waktu itu kalau enggak salah ada cuplikan ya izin dululah sama ketua partai kan itu. Viral kan. Itu kan bukan kata saya. Maaf ya. Mungkin expertise-expertise yang duduk juga paham ini. Paham. Cuma mungkin terbelenggu dengan beberapa terikat tangannya. Ah. Lu cocok masuk di dalam sih sebenarnya. Waduh. Iya ini kan inside yang perlu diketahui. Cuma enggak bisa podcast entar gua. Oh, iya iya benar. Diikat juga gua. Ada beberapa, ada tamu kita yang waktu itu, kritis kan, kemudian kita mau ajak diskusi, sorry gua lagi dapat tawaran jabatan ini, gua enggak bisa ngomongin ini. Ya. Tapi itu bisa kita maklumi. Karena memang itu loh dunianya. Itu loh dunianya. Itu dunianya. Benar benar benar benar. Tapi ini masukan seperti ini memang dibutuhkan. Ini kan vitamin ya. Buat kita dua arah biar masyarakat juga paham. Dan kita kan cinta negara. Podcast ini dibuat karena ada kepedulian Bang Ari untuk kepada negara. Kalau enggak ngapain kita ngomong begini kan. Iya, kita ngomong yang apa jauh aja biar orang tiba-tiba, tiba-tiba krismo aja gitu ya. Iya. Benar. Tapi krismo masih jauh enggak kita ya? Kita sudah krisis sekarang. Cuma kita pakai painkiller aja ya. Painkiller. Kita ini sudah masuk krisis. Gimana enggak krisis pinjolnya Rp100 triliun. Rp100 triliun itu pemerintah aware pasti kan. Aware, itu data dari OJK kan. Bukan data dari saya. Kadang-kadang soalnya pinjol juga terjadi gara-gara misalnya gini. Orang lihat sosmed. Ya kan. Ada kehidupan yang layak, tetangganya beli mobil apa segala macam. Pinjam dia. Pengaruhnya besar juga maksudnya sosmed ini. Dari mana dasarnya? Karena kurangnya intelektual dan pendidikan. Tidak ada yang namanya mereka memahami financial planning itu apa, enggak nyampe ke sana. Tahunya instan. Tahunya instan, tahunya pokoknya tetangga saya beli mobil motor, ya saya harus beli mobil motor. Kalau enggak status sosial saya turun. Oh. Itu masalah edukasi yang gagal disampaikan dan itu tanggung jawab siapa? Ya Kementerian Pendidikan. Jadi semuanya terkait ini. Terkait. Kalau mereka memiliki kurikulum seperti dulu pendidikan moral Pancasila zaman kita dulu ya. Ada PPKN gitu. Itu diberlakukan budi pekerti, tata krama dari awal, mungkin tidak separah ini. Karena saya masih ingat kok zaman kita dulu waktu SD, kita masih pelajarin itu kan budi pekerti. Iya. Dulu itu orang muda lewat di depan orang tua bungkuk loh.

[23:59]Iya, sama di rumah saya juga gitu. Saya sampai detik ini masih bungkuk. Hari gini enggak ada orangnya. Enggak ada. Iya. Elu anak gadget eh apa, norm-nya ada di TikTok. Saya ajarkan anak-anak saya untuk tetap bungkuk. Masih gitu. Oh, keren banget loh. Masih. Cium tangan, walaupun bukan kita bukan muslim ya. Tapi ketemu yang lebih tua. Ada cium tangan.

[24:15]Berarti kayak di Jepang ya. Sebelum masuk ke pendidikan apa yang benar-benar pendidikan, apa namanya? Edukasi akhlak dulu apa namanya? Adab dulu ya. Adab. Dibagusin ya. Nah, kalau sekarang nih, situasi kita ini kan secara enggak langsung sedang ditopang dengan subsidi. Bisa bertahan berapa lama menurut lu? Lah ini subsidinya kan kalau misalnya oil terus naik, secara hitung-hitungan itu sampai akhir tahun ini kan sebenarnya. Sampai akhir tahun. Tapi ada kemungkinan kita escape dari situ enggak? Tiba-tiba mungkin kita ketemu sumber lagi yang baru atau mungkin perang selesai, itu mungkin. Nah, kalau kita bicara perang selesai berdasarkan siklus yang gua lihat, paling cepat itu adalah Juni minggu kedua. Paling cepat itu.

[25:00]Paling cepat. Itu mulai agak mereda. Terus impact-nya dari Juni itu ke perekonomian kita berapa bulan? Dari perang selesai, seharusnya harga minyak itu bisa lebih terkontrol, di bawah 85 lah. Nah, mungkin saat itu nanti mulai ada perbaikan, harga minyak mulai turun, subsidi mulai berkurang sehingga resource kita masih bisa buat nge-hedge yang lain misalnya rupiah yang diberesin satu lagi gitu. Jadi memang kuncinya adalah pertikaian di Selat Hormuz ini harus segera berakhir dan kalau gua lihat Minggu kedua Juni itu mungkin sudah mulai ada pereda paling cepat ya. Paling cepat minggu kedua Juni. Ini berarti kita masih punya harapan ini guys, ya. Kita mungkin di sini memang agak sedikit tegang tapi tetap aja masih ada kemungkinan-kemungkinan terbaik yang bisa aja terjadi ya. Nah, kalau menurut lu sendiri ini tadi kan gua agak sedikit mengkritik yang lu bilang bahwa ini perangnya by design. Kalau ini perang by design, ini impact-nya ke ekonomi. Misalnya ini kan perang antara Amerika dan Iran ya kan. Impact ekonomi pun terjadi sama mereka nih, bukan cuma ekonomi, fisik juga kena. Nah, siapa yang nge-design dan yang punya yang dapat benefit siapa? Amerika yang dapat benefit. Loh, ekonominya juga naik juga kan per barelnya dia Rp100-an, di atas 100 ya.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript