[0:10]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo teman-teman semuanya. Kembali lagi nih teman-teman di episode kelima dari Kurma kita yaitu Kuliah Ramadan. Dengan saya di sini Muhammad Ilham dari kelas 11. Nah, teman-teman. Kali ini itu episode yang lumayan spesial. Jadi kita di sini itu ngebawain tamu. Yaitu Ketua Rohis Putra ini teman-teman yaitu Kak Muhammad Yosi Pratista. Halo semuanya. Halo. Jadi begini Kak. Pada tema podcast kita kali ini tuh, kita ngambil tema tentang dahsyatnya istigfar. Astagfirullahalazim. Masyaallah. Iya. Jadi namanya juga keren, sudah cukup keren ya Kak. Dahsyatnya gitu. Jadi kayak pasti punya dampak yang besar sih Kak. Kira-kira kalau dari Kakak kan Rohis ya Kak, ya? Istigfar itu kayak apa sih? Oke mungkin sebelum saya masuk ke topik pembicaraan kali ini, izinkan saya perkenalan dulu ke para pendengar podcast ya. Halo, halo teman-teman semua. Saya Muhammad Yosi Pratista. Kali ini saya ingin menyampaikan materi saya tentang dahsyatnya istigfar. Saya sangat berterima kasih pada episode kali ini saya dijadikan narasumber. Yang insyaallah akan menambah ilmu pengetahuan kita, terutama tentang ajaran Islam dahsyatnya istigfar ini, teman-teman. Amin, amin, amin. Oke, mungkin langsung aja masuk ke pembahasan kali ya. Iya, boleh Kak. Sebenarnya mungkin saya tanya dulu Kak Ilham, kalimat istigfar itu seperti apa sih, Ham? Yang saya tahu ya Kak, ya, kayak Astagfirullahalazim. Astagfirullahalazim. Ya benar, teman-teman. Oh iya, benar, benar, benar. Kalau kita dengar kata istigfar, mungkin yang terbayang di pikiran kita cuman kalimat astagfirullah. Seperti yang Ilham ucapkan tadi. Pendek, sederhana, bahkan sering kita ucapkan tanpa sadar. Cuman dengan kalimat sependek itu, teman-teman, itu ada berdampak besar di kehidupan kita, terutama buat kita yang masih pelajar, seperti itu. Yang lagi banyak-banyaknya ujian yang sedang dilakukan anak kelas 3 sekarang. Cuman bukannya bukan cuman ujian sekolah aja, ada juga ujian kedewasaan, ujian emosi, bahkan ujian yang akan kelak datang di masa depan. Oke, langsung saya jawab pertanyaan Ilham tentang istigfar. Istigfar itu artinya kita memohon ampun kepada Allah. Kita mengaku bahwa kita ini manusia biasa yang pasti pernah salah, entah itu salah ngomong ke orang tua, menunda salat, bohong kecil, iri sama teman, atau mungkin lalai sama tanggung jawab kita sebagai pelajar. Luar biasanya, dengan banyaknya kita salah seperti itu, Allah itu membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Wow. Dalam Al-Qur'an, Allah menyampaikan melalui kisah Nabi Nuh alaihissalam bahwa beliau berkata kepada kaumnya, "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu. Itu ada disebutkan di Quran surah Nuh ayat 10 sampai 12. Wow, ada surahnya. Ada. Wow, keren banget. Artinya apa buat kita? Artinya, istigfar itu bukan cuman urusan dosa, tapi juga urusan masa depan, urusan rezeki, kemudahan, bahkan keberkahan hidup. Kadang kita sebagai anak SMA itu ngerasa hidup ini ribet banget. Kayak tugas numpuk, nilai turun, banding-bandingin diri sama teman, atau bahkan overthinking masa depan. Mungkin juga sebagian dari kita pernah ngerasa kayak kenapa kok hidupku susah? Kayaknya susah banget gitu. Pasti, pasti. Bisa jadi salah satu jawabannya adalah karena kita, karena hati kita terlalu jarang dibersihkan. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sendiri contohnya, padahal beliau manusia paling mulia dan sudah dijamin masuk surga kan? Tetapi beliau tetap beristigfar bahkan lebih dari 70 kali. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud. Coba bayangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang maksum atau terhindar dari dosa aja masih rutin beristigfar. Iya, iya, iya. Apalagi kita yang jelas-jelas sering khilaf gitu. Aduh, ngeri banget sih. Kenapa Rasulullah banyak beristigfar? Karena istigfar itu bukan cuman untuk orang yang berdosa besar. Istigfar itu kebutuhan hati. Coba bayangkan hati kita itu ibaratkan layar handphone. Kalau tiap hari dipakai tapi enggak pernah dibersihkan. Aduh. Lama-lama layarnya apa? Kusam. Iya, benar. Padahal kameranya bagus, mesinnya bagus, tapi karena kotor, tampilannya enggak jernih. Begitu juga hati kita, teman-teman. Kalau kita sering iri, sering marah, atau bahkan sering lalai tapi enggak pernah beristigfar, hati kita jadinya berat. Istigfar itu ibaratkan tombol reset dalam hidup, seperti kita nge-refresh aplikasi yang error. Selain menghapus dosa, istigfar juga membuka jalan keluar dari masalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa siapa yang memperbanyak istigfar, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Istigfar itu juga bisa membuat hati kita lebih tenang loh, teman-teman. Misalnya gini, ada siswa yang sudah belajar tapi dia merasa gelisah sebelum ujian. Lalu dia biasakan istigfar. Sebelum sebelum mulai ujian dia baca Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Lalu apa yang terjadi? Mungkin ya soalnya tetap sulit, tapi hatinya lebih tenang. Dan ketenangan itu bikin pikirannya jadi lebih fokus. Dari situlah jawabannya jadi lebih mudah keluar. Oke, keren-keren-keren. Istigfar juga melatih kita untuk rendah hati. Anak muda zaman sekarang kan sering terjebak pencitraan ya? Di media sosial semua ingin terlihat sempurna. Tapi istigfar mengajarkan kita untuk jujur pada diri sendiri. Kayak ya Allah, aku ini lemah, aku ini banyak salah, dan justru di situ letak kekuatan kita. Karena perlu digarisbawahi, orang yang sadar dirinya lemah, dia akan terus memperbaiki diri. Selain itu istigfar juga bisa menjauhkan kita dari kebiasaan buruk. Ketika kita sedang mengucapkan astagfirullah, kita jadi lebih sadar sebelum melakukan kesalahan. Misalnya mau ngomong kasar, tiba-tiba teringat istigfar. Mau malas-malasan, teringat lagi istigfar. Jadi istigfar itu ibaratkan membangun rem dalam dalam diri kita. Buat pelajar seperti kita ini godaan itu banyak banget. Pergaulan bebas, bolos, nyontek, konten negatif, bahkan hal-hal kecil seperti menunda tugas. Jadi istigfar itu bukan berarti kita langsung jadi malaikat, ya. Tapi istigfar membuat kita tidak nyaman dengan dosa dan itu tanda hati kita masih hidup. Yang paling indah dari istigfar adalah harapan. Selama kita hidup, selama kita hidup, pintu ampunan masih terbuka. Enggak peduli seberapa sering kita jatuh, selama kita mau bangkit dan berkata astagfirullah, dan bersungguh-sungguh, Allah Maha Pengampun. Jangan pernah merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Justru istigfar itu jalan pulangnya. Juga istigfar ini, teman-teman, bisa mempermudah kita untuk apa, ya? mewujudkan keinginan kita lebih cepat gitu. Ini ada dikisahkan tukang roti, kisah tukang roti dan Imama Imam Ahmad. Mungkin teman-teman ada yang pernah dengar atau dari Ilham mungkin pernah dengar tentang kisah tukang roti? Kayaknya belum pernah sih. Belum pernah ya? Mungkin bisa saya ceritakan dulu ya, kisah tukang rotinya. Baik, di zamannya Imam Ahmad bin Hanbal, beliau ini seorang ulama yang tersohor karena keilmuannya dan ketakwaannya. Di zamannya beliau ini, ada kisah dikisahkan bahwa seorang penjual roti tersebut seorang ahli istigfar. Ia tidak pernah meninggalkan zikir dan beristigfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan di setiap kegiatannya ketika dia sedang membuat roti, atau sedang menjualkan rotinya itu, ia terus melafazkan zikir dan bahkan beristigfar. Suatu ketika, si Imam Ahmad bin Hanbal ini terpanggil hatinya untuk pergi ke Basrah, kota tempat si penjual roti. Wow. Padahal dari awal si Imam Ahmad bin Hanbal ini, beliau tidak memiliki janji kepada seorang pun sebelumnya, seorang pun sebelumnya. Dan memang tidak ada keperluan apapun di sana. Akhirnya Imam Ahmad bin Hanbal ini pergi sendiri ke kota Basrah, tempat si penjual roti itu. Saat beliau tiba di sana, azan isya tengah dikumandangkan. Beliau ikut salat berjamaah di masjid, dan selepas salat berjamaah di masjid, beliau memutuskan untuk beristirahat dan ikut tidur sejenak di masjid tersebut. Namun tidak lama berselang waktu, seorang marbot di masjid menemuinya. Marbot tersebut menanyakan kepentingan Imam Ahmad bin Hanbal. Sebab kan zaman dulu kan enggak ada teknologi ya. Mungkin orang-orang dengar kata, mungkin tahu tentang Imam Ahmad ini siapa, cuman enggak pernah lihat seperti apa mukanya, wajahnya. Sebab ketidaktahuannya itu bahwa si Imam Ahmad ini sedang beristirahat di masjid, maka si marbot ini ngelarang si Imam Ahmad untuk tidur di dalam masjid. Imam Ahmad akhirnya berpindah ke teras masjid. Namun di sana, beliau tetap tidak diperbolehkan oleh marbot tersebut hingga didorong-dorong untuk segera pergi dari masjid. Setelah kejadian itu, Imam Ahmad melihat satu rumah yang digunakan untuk penjual dan membuat roti, tepat si penjual roti tadi. Oh, ya. Pemilik rumah melihat kejadian si pemilik rumah ini, si tukang roti itu, melihat kejadian yang dialami oleh Imam Ahmad. Dengan penuh keramahan, ia mengajak Imam Ahmad untuk beristirahat di rumahnya. Seperti yang saya katakan tadi, si tukang roti ini dari awal enggak tahu kalau ini Imam Ahmad, dari awal. Nah, si Imam Ahmad ini sudah sampai di rumah tukang roti, ia menemukan hal yang unik dari penjual roti itu tadi. Ia tidak akan berbicara jika ia tidak ditanya. Dan juga ia terus melafazkan istigfar dari lisannya. Saat membacakan tulur, saat meluangkan tepung dan mengaduk-adonan roti ia terus berzikir mengucapkan istigfar. Dari keunikan si tukang roti ini, timbul pertanyaan dari Imam Ahmad, menanyakan sejak kapan ia melakukan kebiasaan ini. Dan ada apa dan apa yang telah didapatnya oleh dari kebiasaan mengucapkan istigfar. Jawabannya si tukang roti ini. Jadi teman-teman ia telah melakukan kebiasaan menjual roti aktif dalam menjadi seorang penjual roti ini sejak 30 tahun. Wow. Dan 30 tahun itu dia menjadi ahli istigfar. Yang dia dapatkan dari keistimewahannya beristigfar itu, ia dikabulkan segala hajatnya dengan hanya menyebut namanya. Namun ada satu yang belum terpenuhi. Timbul lagi pertanyaan dari Imam Ahmad ini, apa yang apa sih yang belum dikabulkan? Si penjual roti mengatakan, "Aku ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal.
[11:52]Padahal di depannya itu Imam Ahmad, Imam Ahmad bin Hanbal. Contak membuat si Imam Ahmad kaget atas apa yang dikatakan si penjual roti itu tadi. Hingga beliau mengatakan, "Allahu Akbar, Allahu Akbar. Jadi aku bisa sampai di tempat ini karena kemuliaan istigfarmu. Akulah Imam Imam Ahmad bin Hanbal itu. Allah telah kirimkan aku ke tempat ini karena Allah tahu kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu. Wow. Dari situ kita tahu bahwa bahwasanya dahsyatnya istigfar itu seperti apa, teman-teman. Bisa mempertemukan si Imam Ahmad dengan penjual roti ini tadi. Tanpa janjian. Tanpa janjian. Masyaallah. Masyaallah. Keren banget. Jadi mulai dari hal sederhana, biasakan istigfar itu setelah salat, setelah salat ya, teman-teman. Biasakan beristigfar itu ketika kita merasa gelisah. Biasakan istigfar sebelum tidur sambil evaluasi diri. Misalnya kayak hari ini saya salah apa ya, lalu minta ampun. Enggak harus ribuan kali dulu, konsisten dulu aja enggak apa-apa. Sedikit sedikit tapi rutin. Karena dahsyatnya istigfar bukan hanya pada jumlahnya. Tapi pada kesadaran dan perubahan yang mengikutinya. Oke. Jadi kalau dirangkum, dahsyatnya istigfar itu ada beberapa hal. Yang pertama, tentu menghapus dosa dan membersihkan hati kita. Yang kedua, mendekatkan ketenangan dan mengurangi overthinking. Yang ketiga, membuka jalan keluar dari masalah. Yang keempat, menarik keberkahan rezeki dan masa depan. Yang kelima, membentuk karakter rendah hati dan terus memperbaiki diri. Wah. Tadi penjelasan yang tentang istigfar tadi, terus ceritanya dari siapa tadi? Imam Ahmad dan kisah tukang roti. Oh, iya. Itu
[13:42]Itu enggak nyangka banget sih kayak. Dia. Enggak ada janjian, enggak ada apa, tiba-tiba kok bisa ketemu dengan ngandali istigfar tiap hari. Wah, saya istigfar nih. Saya ngetik nih. Astagfirullah, astagfirullah. Eh, datang. Misalnya saya mipiin saya ketemu Ronaldo. Astagfirullah, astagfirullah. Ada Ronaldo. Terus tadi apa namanya? Ringkasannya tadi. Istigfar membuat hati kita menjadi tenang. Kemudian menghilangkan dosa atau menggugurkan dosa? Menggugurkan dosa. Menggugurkan dosa. Wah, hebat, hebat banget ya. Kita istigfar aja, loh. Kemudian enggak harus banyak ya? Enggak harus banyak kayak rutin yang penting. Konsisten ya.
[14:41]Mungkin kita ada sedikit pertanyaan nih, teman-teman, untuk Kak Yosi. Mungkin kita seringkali beristigfar nih, tapi hati kita enggak merasakan apa-apa kayak kita cuma ngerasain kayak kita ngomong aja nih Kak, astagfirullah astagfirullah tapi di hati kita enggak tenang itu gimana sih caranya kira-kira menurut Kakak untuk biar ada rasa nyaman di hati ini kayak rasa tenang gitu. Hmm. Jadi yang pertama ya tentu kita harus memperbaiki dulu kalimat istigfarnya. Dan juga sebenarnya mungkin kita harus sabar dan konsisten. Karena jikalau kita sudah memperbaiki kalimat istigfar ini dengan benar, insyaallah ya itu melapangkan dada kita tentunya. Soalnya ketenangan kita di Islam salah satunya ya dengan beristigfar itu, teman-teman. Cuman jangan sampai kalau kita istigfar aja tapi enggak salat atau bahkan enggak baca Al-Qur'an. Itu ya percuma gitu. Mungkin itu aja yang saya tahu. Mungkin pertanyaan kedua kita nih Kak. Istigfar itu kan menggugurkan dosa ya? Iya, benar. Kalau istigfar itu sudah menggugurkan dosa, apa bedanya sih Kak sama kalau kita bertobat kan sudah gugur dosa kita kalau kita istigfar, sama tobat. Bedanya istigfar dengan tobat. Sebenarnya ini sama ya? Istigfar dengan tobat, karena kita bertobat ya kita beristigfar. Dengan cara kita beristigfar. Kita paham apa yang kita lakukan dan kita merasa bahwa kita ini menyesal dengan semua perbuatan atau bahkan dosa-dosa kita. Salah satu cara untuk menggugurkan dosa itu ya dengan beristigfar itu tadi. Sebenarnya itu sama sih, kedua hal yang sama. Oh, sama ya. Saya mikir kayak kan tobat itu saya pernah dengar itu kayak harus salat tobat atau salat apa itu yang subuh, oh tahajud. Tahajud ya. Itu sama aja ya? Sama aja ya, salah satu cara bertobat ya beristigfar itu. Jadi kita dengan kita mengucapkan istigfar sekali aja itu sudah termasuk bertobat. Dengan iya, benar. Cuman dengan Cuman dengan tujuan kita dengan benar ingin kita merasa menyesal dengan dosa-dosa kita. Bukan cuman ucapan dari lisannya aja tapi enggak ngerasa atau cuman pengen riya gitu, itu yang malah tambah berdosa kita. Kalau riya sama aja sombong Kak. Iya. Makanya. Jadi dua pertanyaan sepertinya cukup sih. Saya dapat kesimpulan tadi kayak istigfar itu artinya dalam banget. Terus ada ceritanya tadi dari tukang roti yang hajatnya mau ketemu seorang imam-imam.
[17:45]Yang list harapannya sudah terpenuhi sebelumnya, cuma tinggal satu sampai beneran tercapai semua gitu, dengan istigfar. Jadi bisa sih, teman-teman kayak mulai detik ini kayak kita ngebiasain, kita mengucapkan kalimat istigfar. Enggak usah yang panjang-panjang tadi ya Kak, yang Nabi Nuh itu tadi panjang banget. Mungkin mulai dari Astagfirullahalazim aja. Kita mau makan pas buka, buka acara istigfar dulu, mau tidur istigfar dulu mungkin. Mau nyanyi tadi, mungkin istigfar juga. Iya, bisa, bisa. Kayak apapun yang kita lakukan, ingatlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu dia, benar. Benar sekali. Oke. Lumayan banyak ilmu yang kita dapat saya dapat hari ini. Mungkin bisa di-sharing juga ke teman-teman yang nonton di rumah. Teman-teman yang lagi ngabuburit gitu. Heeh. Bisa dirangkum juga. Mungkin sekian ya Kak, ya. Terima kasih Kak sebelumnya sudah mau datang ke podcast kita kali ini. Ini juga sudah lumayan lama ya Kak. Kira-kira sudah berapa menit nih Kak? 12? 20. Wah, Masyaallah, Masyaallah. Lama banget. Iya.
[19:09]Semangat juga Kak Yosi. Terima kasih. Alhamdulillah. Selamat menjalankan ibadah puasa. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin. Makasih. Iya. Mungkin itu saja. Saya akhiri. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dadah, teman-teman.



