[0:18]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu wassalamu ala asyrofil anbiya wal mursalin. Imamil Muttaqin Sayyidil ghoril muhajjalin wa alihi wa ashabihil mujahidin. Amma ba'd.
[1:07]Sa ha. Kesejahteraan di dunia, kebaikan di akhirat itu arti hasanah. Jangan macam orang dulu. Punya istri dua pergi haji. Yang satu, yang muda, istrinya namanya Hasanah. Yang satu namanya Khadijah. Waktu tawaf keliling Ka'bah, si suami ini enggak bisa doa apa-apa kecuali Rabbana atina itu. Ti . selanjutnya, suaminya bloon juga.
[2:37]Putaran kedua dia baca. Saudara-saudara, itu makna refleksi daripada doa tadi itu, doa sapu jagat. Kita ingin tercapai tujuan jangka panjang akhirat dan rida Allah juga tergapai. Oleh sebab itu Al-Qur'an menjelaskan di dunia ini.
[3:22]Cari akhirat, utamakan akhirat dengan tidak usah melupakan jatahmu di dunia. Kenapa saya katakan seorang muslim berjiwa besar? Sebab andai kata dia gagal mencapai tujuan jangka pendek. Andai kata dia gagal di dunia dan dia oleh Islam diajarkan jangan sampai gagal. Tapi andai kata dia gagal, dia masih punya tujuan jangan panjang, akhirat dan rida Allah. Dia masih bisa menghibur diri, biarlah di dunia kita sederhana, bahkan biarlah susah di dunia. Asal di akhirat kita bahagia. Orang yang tidak punya pandangan hidup semacam ini, surgalah dunia ini, segalanya telah tertumput di sini. Bila umurnya selesai ajalnya datang, selesai sudah surganya sampai di situ dan dia tidak punya pengharapan lain di belakang itu. Maka seluruhnya bertumpu pada kehidupan di dunia, padahal dunia seperti air laut, makin diminum, makin haus, makin kering, tenggorokan. Dunia yang diperturutkan menyeret manusia ke dalam lingkaran setan terjebak dalam sifat yang namanya tamak bin rakus alias rakah. Anda kata dia gagal untuk tujuan jangka pendek dia masih punya tujuan jangka panjang akhirat dia masih sanggup berkata biar di dunia kita sederhana bahkan biar kebangsak-senga susah di dunia asal di akhirat kita bisa bahagia. Kan masih ada masih ada harapan. Yang paling bangpak. Paling rusak betul sudah di dunia sengsara di akhirat celaka. Jadi dunia rumahnya bubuk. Pinggir kali miring. Asal hujan bocor. Hutang selebar warung. Bayang kakak, ngaji enggak, suara enggak. Suapan malam mirit mulu. Saudara hadirin yang saya hormati, lalu kapan mau bahagia? Kalau sudah di sini susah, di sana akan susah juga. Ini yang pertama. seorang muslim, seorang yang optimis, berjiwa besar, luas pandangan, kegagalan dia dalam jangka pendek, tidak menyebabkan dia melupakan tujuan jangka panjang. Yang kedua, positifnya apa? Cara dia mencapai tujuan jangka pendek, diwarnai oleh keyakinan adanya tujuan jangka panjang. Dia memang benar cari harta. Tapi karena dia yakin ada akhirat Allah rida apa tidak? Ini positifnya. Saya memang cari duit tapi dengan cara ini, Allah rida apa tidak? Saya memang ingin berpakaian yang rapi tapi dengan tidak menutup aurat begini, Allah rida atau tidak. Saya memang bergaul menghormati teman tapi terjebak dalam minuman keras karena menghormati teman, Allah rida apa tidak? Ini orang yang punya tujuan jangka panjang. Segala yang diberikan bingkai dengan Pertanyaan Allah rida atau tidak? Keyakinannya terhadap tujuan jangka panjang mewarnai gaya hidupnya di dunia ini mencapai tujuan jangka pendek tadi. Mau minum? Allah rida apa enggak ini? Mau makan yang saya makan Allah rida apa enggak? Pendeknya apapun yang mau dia kerjakan karena dia punya keyakinan tujuan jangka panjang, dia selalu menimbang, menimbang, menimbang terhadap rida Allah tadi. Jadi tanpa prestasi ibadah kita nol besar dalam pandangan Allah. Ini nilai manusia yang hakiki di sini, ini makna innallahi. Di akhirat nanti kan tidak pernah akan disidang. Kamu pendidikan setinggi apa? Tidak. Gelarmu berapa renteng? Profesor, doktor? Tidak. Akhirat hanya menyidang, kalau salat atau tidak? kau puasa atau tidak? Kau zakat atau tidak? Diberikan kamu harta yang banyak dari mana kau dapat ke mana kau belanjakan? prestasi ibadah itu yang ditanya. Setinggi apa pendidikan, sebanyak apa pengalaman? no problem. Tidak jadi masalah di akhirat itu. Prestasi ibadah itu yang akan kita persembahkan di hadapan Allah itu makna Kerbau dinilai dari dagingnya makin gemuk makin mahal harganya. Tapi ada perkutut lebih mahal dari kerbau. Perkutut itu mahalan mentahnya loh daripada matangnya. Karena harga perkutut pada suaranya. Lalu di mana harga manusia yang paling gemuk tidak. Suaranya oh kalau manusia dinilai dari suaranya, barangkali medona nomor awal masuk surga. Hayalah dengan prestasi ibadah kita bisa mencapai tujuan jangka panjang, akhirat dan rida Allah. Nah, baiklah ya. Kalau sudah jelas bahwa kita punya dua tujuan jangka hidup, jangka pendek dan jangka panjang, bagaimana Islam mengajarkan kita meraih dua ini? Pada prinsipnya Islam Ajarkan sistem keseimbangan. Dalam berbagai aspek kehidupan, keseimbangan ini nampak dengan nyata diajarkan oleh agama kita. Seperti ayat yang saya bacakan tadi. Dengan karunia yang diberikan Allah kepadamu, cari negeri akhirat, tapi jangan lupakan bagianmu di dunia ini. Dalam bentuk yang lebih nyata, bekerja untuk duniamu seolah kau akan hidup buat selamanya, tapi bekerjalah buat akhiratmu, seolah kau akan mati besok. Manifestasinya dalam kehidupan misalnya orang kaya diperintah membantu yang miskin, tapi orang miskin dianjurkan berusaha. Jangan mengandalkan hidup kepada yang kaya, seimpang. Kamu kaya, betul Pak, bantu yang miskin. Kamu miskin? Iya Pak, berusaha. Seimpang. Tuan rumah diwajibkan menghormati tamu, tamu diwajibkan tahu diri seimbang. Jadi bagaimana kalau sudah kita bekerja di sawah, di ladang, di pasar, di kantor, anggap kita akan hidup selamanya agar timbul gairah kerja. Tapi kalau sudah salat anggap kita akan mati besok supaya timbul khusyuknya. Nah, titik tekannya di mana? stresnya walaupun Islam mengajarkan sistem keseimbangan tapi Al-Qur'an tetap menggaris bawahi walal akhirat. Bahwa bagaimanapun seimbangnya akhirat itu lebih utama daripada dunia. Bagaimana implementasinya? kata orang-orang tua kalau kita menanam padi rumput pasti tumbuh tapi nanam rumput jangan mimpi tumbuh padi. Maksudnya apa? Kalau satu perbuatan kita niatkan karena Allah, dunianya pasti ikut. Tapi kalau satu perbuatan diniatkan karena dunia semata-mata, akhirat akan hilang. Sebab itu, biasakanlah berbuat sesuatu baik untuk tujuan jangka pendek, lebih-lebih untuk tujuan jangka panjang dengan motif lillahi taala. Jadi saya ulangi satu perbuatan kalau sudah diniatkan karena Allah, dunia biasanya ikut. Tapi kalau diniatkan karena dunia semata-mata, akhirat akan luput. Padahal itu titik tekannya walakhirat minal. Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah. Oleh karenanya masalahnya terpulang kepada kita, pandai-pandailah membagi orientasi. Satu saat tenggelam kita dalam kesibukan dunia dan seluruh isinya untuk mencapai tujuan jangka pendek. Lain saat tenggelam kita memfanakan diri untuk mencapai tujuan jangka panjang akhirat dan rida Allah. Karena kehidupan ini bukan berjalan tanpa batas. Umur ini bukan satu karunia tanpa pertanggungan jawab. Satu saat atau tidak, rela atau terpaksa kita akan sampai kepada garis finish daripada perjalanan kehidupan dunia ini. Yang memang merupakan satu perjalanan panjang, a walking tall. Kata orang Kulon, walking tall, satu jalan yang demikian jauhnya. Entah kita akan sampai ke garis finish. Bila datang ajal, senjak kehidupan datang menyelimuliti. Datangnya tidak pernah kita sangka tapi sekali dia datang tidak satu kekuatan yang bisa menolong. Kehadirannya tidak pernah kita harapkan tapi satu kali dia datang bertamu pasti terjadi dan itu pasti akan kita temui. Alangkah malangnya pada saat kembali itu datang, kita tidak punya prestasi ibadah. Lalu apa artinya prestasi dunia? Apa artinya tujuan jangka pendek kalau kita harus kehilangan tujuan jangka panjang? Rumah kita yang besar pangkat kita yang tinggi, harta kita yang banyak, bisakah menolong kita untuk kalau sudah kumpul di Padang Mahsyar nanti? Malaikat jangan gebukin saya rumah saya harga 2 miliar. Sudahlah malaikat damai saja itu rol-roi saya. Pakai saja malaikat, pakai. Kata malaikat, gua budak, gua enggak butuh gituan. Hanya prestasi ibadah yang bisa menyelamatkan kita pada kondisi semacam itu. Jadi oleh karena itu saudara-saudara biar biar, biar di dunia ini rumah kita besar, mobil bagus, uang banyak, pabrik ada, usaha lancar asal di akhirat masuk surga aja. Enggak apa-apa. Daripada di dunia sengsara di akhirat neraka, senangnya kapan? Sudah di sini sengsara, di sana keblangsak. Itu yang yang orang-orang tua bilang lacur kuda namanya. Pelan dipecut, kenceng digentak, sengga mati, serba salah. Udah kalau bisa ngomong gua serba mati serba salah. Pelan dipecut, kekencangan ditarik yang namanya lacur kuda begitu. Serba salah posisinya. Untuk itu pandai-pandailah membagi orientasi. supaya tercapai tujuan ideal ini hasanah wa hasanah. Ini tentang tujuan hidup. Nah, untuk mencapai tujuan ini, kita tidak berjalan sendiri. Kita perlu teman hidup. Di samping teman hidup ada pula lawan hidup. Siapa teman hidup kita untuk mencapai tujuan hidup ini? Dalam arti sempit teman hidup kita, suami istri yang taat kepada Allah. Suami istri lebih dari sekadar satu pasangan juga saling melengkapi merupakan bagian daripada kehidupan. Suami adalah teman istri, istri adalah teman suami untuk mencapai tujuan hidup tadi. Mencapai. Seiring, seirama, selaras, serasi, seimbang, kata orang sekarang. Teman dalam arti sempit. Adapun teman dalam arti luas, setiap orang yang pandangan hidupnya sama dengan kita. Setiap orang yang akidahnya sama dengan kita dari suku bangsa apapun, warna kulit apapun, bahasa apapun. Jikalau keyakinannya sama, pandangan hidupnya sama, dia adalah saudara kita dalam artian yang luas. Islam tidak kenal teritorial. Maka tidak ada itu Islam Jepang. Ya walaupun secara formalnya ada tapi informal muslim adalah muslim diikat dengan akidah. Itu teman hidup, lalu lawan hidup siapa? Pertama iblis. Dalam segala bentuk dan implementasinya. Yang kedua, setiap orang yang pandangan hidupnya tidak sama dengan kita. Secara ideologis, itulah lawan hidup kita. Maka yang teman jadikan teman, yang lawan jadikan lawan. Jangan teman jadikan lawan, lawan jadikan teman. Itu namanya kopiah dipasang di kaki, Pak Bakia naik ke jidan. Wajar kalau ke lalu jadi benjol, salah milih teman, salah cari lawan. Salah milih teman, salah cari lawan. Akibatnya kita yang akan susah di kemudian hari nanti. Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah, oleh karenanya pandai-pandailah dalam hidup ini. Yang teman jadikan teman, yang lawan jadikan lawan. Kalau lawan kita jadikan teman, sementara teman kita jadikan lawan dan itu yang banyak terjadi di dalam praktek kehidupan kita tidak akan bisa mencapai tujuan karena akan tertarung di kaki sendiri. Nah, ini sajalah yang kita bicarakan pada pertemuan kali ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf atas segala kekurangan. Usikum wa nafsi bitawallah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.



