Thumbnail for KRAI - LUCIA DI CULIK ! KRAI MULAI KHAWATIR !! Light NOVEL VOL 13 Part 33 [Arwah Berduka] by REBORN OJISAN

KRAI - LUCIA DI CULIK ! KRAI MULAI KHAWATIR !! Light NOVEL VOL 13 Part 33 [Arwah Berduka]

REBORN OJISAN

20m 5s2,466 words~13 min read
Auto-Generated

[0:02]Baiklah, pikir Lady. Tunjukkan padaku ketakutan yang tersembunyi di hati musuh. Bebuyutan Treasure Vault bernama Sarah ini. Apakah benar-benar ada sesuatu yang bisa membuat gadis itu takut? Keraguan itu perlahan memudar saat kabut hitam berkumpul di satu titik. Udara menjadi berat, suhu turun. Dari kegelapan yang berputar, sesuatu mulai terbentuk. Lady menatap tanpa berkedip. Apa yang ditakuti oleh perempuan ini? Perempuan yang bahkan mampu mengendalikan makhluk hitam mengerikan itu? Kabut mengeras, membentuk sosok manusia. Langkah demi langkah, bayangan itu menjadi jelas. Seorang perempuan berambut hitam muncul di hadapan mereka. Kulitnya pucat bagai salju, rambut panjangnya terurai liar. Dari celah poni yang menutupi sebagian wajah, tampak sepasang mata merah menyala, berkilat seperti darah segar. Untuk pertama kalinya, ekspresi Sarah menunjukkan keterkejutan. Lady sendiri terpaku, nyaris tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Tidak mungkin, di dunia ini tidak mungkin ada manusia yang hal yang paling ditakutinya adalah dirinya sendiri. Sosok Sarah yang terwujud dari mimpi buruk itu menatap tanpa suara. Tanpa ekspresi, ia mengangkat tongkat dan menggenggamnya erat. Sepasang mata merah menyala dingin, kosong dari emosi. Tongkat beradu dengan tongkat, memercikkan kilatan keunguan yang menyambar udara dan memecah lantai di bawahnya. Wajah Sarah yang asli sedikit terdistorsi. Hanya dengan satu benturan, ia menyadarinya. Yang berdiri di hadapannya benar-benar dirinya sendiri. Keduanya melangkah mundur bersamaan, gerakannya nyaris identik, seperti bayangan yang saling meniru. Lady menatap dengan mata lebar. Selama ini, ia telah berkali-kali menggunakan Bad Dream untuk memunculkan wujud ketakutan seseorang, tapi belum pernah ada yang melahirkan diri sendiri. Apa yang akan terjadi bila dua makhluk dengan kemampuan yang sama persis saling bertarung? Bahkan bagi Lady, jawabannya adalah sesuatu yang tak bisa ditebak. Namun kali ini, ia melihat peluang. Treasure Vault ada dalam kendalinya. Jika ia membantu Sarah palsu, mungkin ada kesempatan untuk menang. Dan bukankah akan menjadi kisah yang sempurna, sebuah tragedi penuh teror, jika seseorang dikalahkan oleh dirinya sendiri? Kedua Sarah itu saling berhadapan, bergerak maju, mundur perlahan, menunggu celah pertama untuk menyerang. Di saat ketegangan mencapai puncaknya, langkah kaki tergesa terdengar. Lucia berlari masuk, napas tersengal, wajahnya pucat. Pandangannya terpaku pada dua sosok Sarah di hadapannya. "Apa ini?" katanya tercekat. "Lucia, serahkan ini padaku! Cepat cari jalan keluar! Hanya aku yang bisa mengalahkannya!" seru Sarah. Bagi Lady, itu adalah momen yang sempurna. Perpecahan di antara mereka justru menguntungkannya. Selama ini Lucia selalu terlindung oleh Sarah, membuatnya sulit disentuh oleh rasa takut. Tapi jika ia sendirian, ia bisa digiring ke dalam jebakan dengan mudah. Lady memejamkan mata, menggerakkan kekuatan Treasure Vault. Dalam sekejap, semua pintu keluar menghilang. Vault kini menjadi ruang tertutup sepenuhnya. Tanpa koneksi ke dunia luar, pasokan mana material memang akan terhenti, dan kekuatan Vault perlahan melemah. Tapi itu risiko yang pantas diambil. Jika musuh alami Treasure Vault, gadis bernama Sarah, berhasil dihabisi, maka tidak akan ada lagi penyusup yang mampu masuk. "Larilah Lucia," pikir Lady. "Menjeritlah, dan biarkan ketakutanmu menjadi bahan bakarku!" Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di depan Lady yang menunggu dengan senyum yakin, Lucia menggertakkan giginya dan berteriak. "Jangan meremehkanku Sarah! Aku tidak akan meninggalkan temanku dan lari sendirian!" katanya. Kata-katanya menggemas keras di ruang itu. Aura magis mendadak meledak dari tubuh rampingnya, menciptakan pusaran mana yang bergetar hebat. Dalam sekejap, udara membeku. Embun es turun, membungkus dunia dalam dingin yang tajam. Lady terpana. Ia sudah banyak membunuh para magi, dan sebagian sempat melancarkan sihir serangan. Tapi ini berbeda. Lucia Roger memang tidak kebal terhadap rasa takut. Namun tingkat penguasaannya jauh melampaui manusia biasa. Ia bisa melancarkan sihir lewat refleks, bahkan di tengah tekanan yang menghancurkan. Suara napasnya, getaran tekadnya, setiap denyut emosinya, semuanya terpancar jelas di mata Lady. Gadis ini, pikirnya, adalah tipe yang bisa mengerahkan kekuatan jauh lebih besar demi orang lain daripada demi dirinya sendiri. Sarah palsu melompat mundur, menilai sihir Lucia sebagai ancaman nyata. Padahal Sarah yang asli nyaris tidak terusik bahkan oleh serangan monster Diggi. Merepotkan, tapi luar biasa. Rasa takut dan keberanian berpadu di dalam Lucia. Kekuatan yang tajam, murni dan penuh emosi. Dalam hati, Lady menyadari sesuatu. Jika kedua gadis itu mampu melampaui dirinya, maka Treasure Vault dan semua Phantom di dalamnya akan berubah selamanya. Keputusan itu diambil dalam sekejap. Sebuah bisikan samar disalurkan langsung ke telinga Lucia, seolah berasal dari udara itu sendiri. Sesaat kemudian, ketenangannya runtuh, dan tubuhnya menegang.

[5:49]Lady mengamati dari kejauhan. Meski Treasure Vault berada sepenuhnya dalam kendalinya, bukan berarti ia maha kuasa. Energi yang tersimpan di dalamnya terbatas, dan sambungan menuju Leyline kini terputus sementara. Setiap tindakan membutuhkan pengorbanan. Namun untuk memisahkan dua penyusup itu, apapun layak dicoba. Lucia menunduk, merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan kakinya. Dari bawah kegelapan yang menganga, muncul tangan-tangan pucat. Jumlahnya tak terhitung, bergoyang perlahan seperti kelopak bunga yang ditiup angin malam. Satu per satu, tangan itu melilit pergelangan kakinya dan menarik tubuhnya masuk. Tubuh Lucia terseret ke dalam kegelapan, meninggalkan gema langkah dan jeritan terputus di udara. Sarah berusaha mengejar, namun langkahnya terhenti ketika serangan datang dari belakang. Tongkat logam milik dirinya yang palsu menghantam punggungnya dengan keras. Tubuhnya terpental ke lantai, menggelinding, sebelum berhenti di tengah lorong yang remang. Tidak ada tanda-tanda makhluk yang biasa ia panggil. Namun ia tahu, hal itu sia-sia. Sosok yang diciptakan dari mimpi buruk itu memiliki kemampuan yang sama dengannya, dan setiap upaya bantuan akan sia-sia. Sarah segera bangkit. Matanya berkilat tajam, napasnya berat, namun langkahnya mantap. Di kejauhan, Lady memperhatikan dengan tatapan dingin. Ia tahu bahwa akhir dari pertempuran ini sudah dekat. Sekarang tinggal menunggu waktu sebelum gadis manusia itu kalah. Tidak ada gunanya menangkapnya hidup-hidup. Ia terlalu berbahaya. Cukup dengan memisahkannya dari Lucia, hasil yang diperoleh sudah lebih dari cukup. Sosok Sarah palsu kembali mengangkat tongkatnya, bersiap menyerang. Dari kejauhan, Lady hanya menyeringai. Ia bisa merasakan perubahan di udara. Niat membunuh yang tajam mulai menyelimuti ruangan, menekan setiap dinding dan menggetarkan udara. Aura merah dari mata Sarah membara semakin kuat, memancarkan amarah yang bahkan mampu membuat udara bergetar. Namun bagi Lady, itu bukan ancaman. Itu tanda kemenangan yang mendekat. Gadis itu kehilangan ketenangannya, dan saat itulah ia paling mudah dijatuhkan. Sarah berdiri tegap, matanya terfokus pada bayangan dirinya sendiri yang kini bersiap menghantam. Tongkat di tangan musuhnya terayun, membelah udara. Pada saat yang sama, Lady merasakan getaran halus lain dari kedalaman Vault. Salah satu Phantom telah bergerak menuju tempat Lucia dijatuhkan. Tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal. Ia menutup matanya, membiarkan tubuhnya larut dalam kabut hitam. Dalam sekejap, wujudnya lenyap dari lorong itu, berpindah menuju kedalaman ruang tempat Lucia terperangkap.

[8:47]Shin kini berpindah, menyorot ke arah Kray. Ruangan itu sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, seolah menandai setiap detik yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Eva berdiri di depan meja kerja yang dipenuhi dokumen. Wajahnya pucat, matanya menatap kosong pada berkas laporan yang baru saja diserahkan. Tangannya bergetar ringan ketika ia mencoba berbicara, seolah kata-kata itu sendiri menolak keluar dari tenggorokan. Lucia telah hilang. Kabar itu meluncur pelan, tapi terasa seperti hantaman. Ia menghilang ketika sedang menyelidiki kasus orang hilang, dan bersama seorang perempuan bernama Sarah. Tidak ada jejak. Tidak ada tanda perlawanan. Hanya lenyap, seperti diserap oleh udara itu sendiri. Kray mendengarkan dalam diam. Tatapannya datar, tenang, tanpa riak emosi sedikitpun. Setelah beberapa saat, ia menarik napas pelan dan bersandar ke kursinya. Punggungnya bersentuhan dengan sandaran kayu yang dingin. Gerakannya lambat, nyaris malas, seolah berita itu hanyalah satu lagi dalam deretan panjang peristiwa ganjil yang sudah terlalu sering ia dengar. Bagi orang lain, reaksi seperti itu mungkin tampak dingin, bahkan tidak manusiawi. Tapi bagi Kray, itulah bentuk ketenangan yang ia jaga dengan susah payah. Lucia bukan sekadar rekan. Ia adalah Hunter terbaik yang pernah bekerja bersamanya. Tidak seperti Luke yang selalu menyerbu tanpa pikir panjang, atau Lis yang mengincar lawan kuat hanya demi kepuasan pribadi, dan juga tidak seperti Sitri yang harus menyiapkan strategi rumit sebelum beraksi. Lucia adalah kebalikan dari mereka semua. Ia adalah harmoni antara kekuatan dan ketenangan, pintar, cekatan, penguasa berbagai jenis sihir, dan mampu menghadapi kekacauan dengan kepala dingin. Stabilitasnya bahkan mendekati milik Ansem, sang Immutable. Bagi Kray, Lucia adalah sosok yang membuat dunia terasa sedikit lebih aman untuk dipercayai. Ia bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, bahwa mungkin Lucia terlalu rajin hingga akhirnya ikut menghilang bersama misteri yang ia kejar. Ucapan itu terdengar ringan, tapi ada sesuatu di balik nadanya, bayangan rasa cemas yang disembunyikan rapi. Eva menatapnya lama. Matanya yang teduh kini mengeras, menatap Kray seolah berusaha menembus tembok ketenangan yang ia bangun. Ia tahu pria itu tidak sepenuhnya tanpa rasa khawatir, tapi sikapnya sekarang terasa terlalu datar. Ada sesuatu yang tidak wajar pada ketenangan semacam itu. Bukan ketidakpedulian, melainkan semacam kelelahan yang sudah melewati batas khawatir. Kray hanya mengangkat bahu. Dalam benaknya, segala logika sudah tersusun rapi. Lucia bersama seseorang bernama Sara, dan itu berarti mereka berdua tidak sendirian. Banyak Hunter tangguh lain telah dikerahkan, dan pihak negara sudah bergerak. Bahkan dua Saudara Rubah telah memberikan jaminan bahwa tidak akan ada Phantom Dewa yang turun tangan kali ini. Dengan semua itu, apa yang perlu ia khawatirkan? Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Lucia baik-baik saja, bahwa gadis itu hanya terlalu sibuk dengan penyelidikan, atau mungkin terjebak di medan sihir yang sulit dilacak. Lebih masuk akal berpikir begitu daripada membayangkan yang terburuk. Namun Eva tidak puas. Ia menegaskan bahwa kasus ini bukan seperti yang lain. Tidak ada yang tahu bagaimana orang-orang itu bisa lenyap. Bahkan negara yang biasanya punya jawaban untuk segala hal kini dibuat kalang kabut. Suaranya tegas, tapi nadanya menyiratkan rasa putus asa. Kray menatapnya lama lalu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sepenuhnya menenangkan, lebih menyerupai upaya halus untuk menutupi sesuatu yang retak di dalam dirinya. Bagi Kray, situasi seperti ini bukanlah hal baru. Dunia yang mereka tinggali sudah terlalu sering berubah menjadi panggung insiden dan tragedi. Ia telah kehilangan terlalu banyak untuk bereaksi dengan panik setiap kali seseorang menghilang. Mungkin, ketenangan itu bukan karena keberanian, melainkan karena kebiasaan. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan keheningan meresap di antara mereka. Bayangan wajah Lucia melintas samar dalam pikirannya: senyum hangat, tatapan yakin, dan cara gadis itu selalu menghadapi bahaya tanpa ragu. Bagi Kray, tidak ada gunanya takut. Ia memilih untuk percaya. Percaya bahwa Lucia masih hidup. Percaya bahwa Sarah ada di sisinya. Percaya bahwa rekan-rekan lain akan menemukan jalan untuk membawanya kembali. Kepalanya bersandar ke kursi, napasnya dalam dan tenang. Dari luar, ia tampak seperti seseorang yang sama sekali tidak peduli, tapi di dalam dirinya, ada doa yang diam-diam ia panjatkan.

[13:59]Doa sederhana agar gadis yang ia anggap sebagai adik itu tidak terperangkap di tempat yang tak bisa dijangkau siapapun. Di dunia yang tak pernah berhenti melahirkan kekacauan, Kray telah belajar bahwa terkadang satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Ia menatap langit-langit dengan mata lelah, lalu membiarkan napasnya keluar perlahan. Jika dunia ini bisa diam sejenak, walau hanya sebentar saja, mungkin untuk pertama kalinya ia akan mengizinkan dirinya merasa khawatir. Atau bahasa gampangnya: untuk pertama kalinya di dalam sejarah, Kray akhirnya berhasil merasakan sebuah perasaan baru, yaitu Kray merasa sangat khawatir kepada salah satu wanita yang paling dia cintai. Bukan sebagai adik, tapi sebagai wanita. Sementara itu, di sisi lain, Lady menatap pemandangan di depannya dengan senyum tipis. Baginya, inilah saat yang ditunggu, hidangan utama. Di tengah kegelapan yang nyaris total, Lucia berjalan tertatih. Ruang itu dilingkupi pekatnya bayangan, koridor yang panjang dan sempit, seakan menelan cahaya apapun yang mencoba menembusnya. Bahkan bagi seorang Hunter dengan kemampuan penglihatan malam, ruang itu terlalu gelap untuk dilalui tanpa kehilangan arah. Hanya seseorang dengan mata khusus seperti milik Saya Kromis yang mungkin bisa menembusnya. Wajah Lucia telah kehilangan warna. Ia belum menjerit atau menangis, namun tubuhnya menggigil. Gerakannya kaku dan penuh kehati-hatian. Setiap langkahnya menunjukkan ketegangan yang hampir mencapai batas. Lady dapat merasakan ketakutan itu merayap perlahan, menekan, dan menumbuhkan rasa puas dalam dirinya. Sedikit demi sedikit, kekuatan yang sempat terkuras kini kembali pulih. Ia tak berniat membunuh Lucia. Jika kematian yang ia inginkan, hal itu sudah bisa ia lakukan sejak awal bahkan tanpa perlawanan berarti. Tujuannya jauh lebih halus dan berlarut, menjerat Lucia di ruang ini selama mungkin, memaksanya menanggung tekanan rasa takut yang datang dari segala arah. Jarang sekali ada Hunter yang memberi reaksi sebaik itu hanya karena disentuh tangan-tangan dari kegelapan. Lucia sempat mencoba menggunakan sihir pendeteksi untuk memahami keadaan sekitarnya, tetapi usahanya sia-sia. Di dalam Treasure Vault, kemampuan untuk merasakan aura atau mendeteksi kehidupan telah diputarbalikkan. Semua yang hidup dan mati bercampur, menjadi satu kabut samar yang menyesatkan. Lady tahu Lucia belum menyadari hal itu, dan justru di situlah letak kesenangannya. Ia dengan sengaja menjatuhkan Lucia ke dalam area yang menyerupai akademi sihir Zebrudia. Andai hanya ingin memisahkannya dari saya, ia bisa saja mengirim gadis itu ke penjara bawah tanah atau ke ruang penyimpanan lain. Namun Lady memilih tempat yang familiar. Jaraknya cukup jauh dari lokasi saya, sehingga tak akan menimbulkan gangguan apapun. Lingkungan yang terlalu dikenal justru jauh lebih efektif. Dalam ruang seperti itu, ketakutan akan kenangan lama mudah muncul tanpa disadari. Jika ruangnya terlalu asing, Lucia bisa saja kembali ke insting seorang Hunter dan bersiap menghadapi ancaman. Itu bukan hal yang Lady inginkan. Untungnya, sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Lady tahu bahwa Bad Dream tak akan mampu menembus Lucia. Rasa takut terdalam gadis itu bukan sesuatu yang bisa direplikasi dengan mudah. Namun tanpa kekuatan itu pun, tanda-tanda keretakan sudah tampak jelas. Lucia mulai kehilangan keseimbangan mentalnya. Hanya satu pemicu kecil yang dibutuhkan untuk membuatnya runtuh sepenuhnya. Ia mulai memikirkan, siapa yang akan dijadikan medium ketakutan bagi gadis itu? Dan pada saat itulah, udara di sekelilingnya bergetar. Tanpa disadari, sejumlah besar Phantom dari Star Shrine's Garden mulai bermunculan di sekitar Lady. Sebagai peneliti rasa takut di dalam Treasure Vault, Lady memiliki otoritas tinggi untuk mengatur banyak hal. Namun kendali atas kemunculan Phantom bukan salah satunya. Itu adalah hak prerogatif sang Dewa Bintang. Wujud-wujud yang muncul di sana beragam. Ada yang berbentuk manusia seperti dirinya, ada yang berupa monster raksasa dengan tubuh terdistorsi. Bahkan beberapa tampak seperti campuran antara makhluk hidup dan mesin. Ada Phantom yang menyerupai Demon Shark. Ada pula yang hanya berupa bayangan samar tanpa tubuh, serta robot pembunuh yang memancarkan hawa dingin tak berperasaan. Namun Lady tahu, tidak semuanya memiliki nilai. Di masa kini, manusia sudah terlalu sering berhadapan dengan monster dan Phantom. Sekadar menampilkan sosok menyeramkan tidak lagi cukup untuk menimbulkan ketakutan. Hanya mereka yang mampu menembus batin dan menciptakan rasa takut sejati yang dapat bertahan di tempat ini. Phantom yang gagal menakuti manusia dalam waktu lama akan kehilangan kekuatannya dan lenyap begitu saja. Karena itulah, makhluk-makhluk itu kini berkerumun di sekitar Lady, seperti sekumpulan pemangsa lapar yang berebut perhatian, berusaha menakut-nakuti siapapun agar tetap bisa hidup. Lady menatap mereka tanpa ekspresi. Ia menyadari betapa ironisnya situasi itu. Para pencipta rasa takut kini justru tampak ketakutan kehilangan eksistensi. Dan di tengah gelap yang berdenyut, Lucia masih berjalan terseok, semakin jauh dari cahaya. Sementara rasa takut yang tak berwujud mulai menyatu, mengintai dari segala arah, menunggu saat yang tepat untuk menelan dirinya sepenuhnya.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript