[0:06]Di sebuah desa bernama Ngasem, tinggallah seorang wanita bernama Endang Sawitri. Tidak ada seorang pun yang tahu ia memiliki seorang suami, namun ia hamil. Tak lama kemudian ia melahirkan. Namun sangat mengejutkan karena yang ia lahirkan adalah seekor ular naga. Anakku, namamu adalah Baru Klinting. Suatu hari ketika Baru Klinting menginjak usia remaja. Ibu, apakah aku mempunyai seorang ayah? Iya Nak, ayahmu adalah Ki Hajar Salokantara yang saat ini sedang bertapa di dalam gua di lereng Gunung Telomoyo. Bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu.
[0:52]Baru Klinting pun pergi menyusuri hutan untuk mencari pertapaan sang ayah. Sampai di pertapaan, Baru Klinting masuk ke dalam gua dan menemukan seseorang yang sedang bertapa. Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara? Iya, benar. Saya Ki Hajar Salokantara. Berarti Ki Hajar adalah orang tuaku yang sudah lama aku cari-cari. Aku adalah anak dari Endang Sawitri dari Desa Ngasem. Dan ini klintingan yang konon kata Ibu peninggalan Ki Hajar. Iya, benar. Dengan bukti klintingan itu, kamu benar anakku. Namun aku perlu bukti satu lagi, kalau memang kamu anakku, coba kamu melingkari Gunung Telomoyo ini. Kalau bisa, kamu benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya. Dan Ki Hajar pun mengakui bahwa ia benar anaknya. Ki Hajar lalu memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan untuk mendapatkan wujud manusia. Namun suatu hari penduduk Desa Patok mengadakan pesta sedekah bumi. Untuk memeriahkannya, rakyat beramai-ramai mencari hewan dan akhirnya menemukan seekor ular naga besar yang sedang bertapa. Dan mereka pun langsung memotongnya dan membawanya pulang. Dalam pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting yang ingin menikmati hidangan, namun ia diusir oleh warga. Pak, bolehkah saya meminta sedikit makanan? Tidak, tidak. Pergi sana. Baru Klinting pun pergi mengitari hutan sampai akhirnya ia tiba di rumah seorang nenek. Nek, bolehkah saya menumpang untuk beristirahat di sini? Iya Nak, tentu saja boleh. Dan ini ada sedikit makanan untuk mengisi perut kosongmu. Terima kasih, Nek. Nek, kalau terdengar suara gemuruh, nenek harus menyiapkan lesung itu agar selamat. Iya Nak. Singkat cerita, Baru Klinting sudah berada di tengah lapangan di Desa Patok. Di sana ia mengumpulkan para warga dan mengadakan sayembara. Jika ada yang bisa mencabut lidi yang ia tancapkan di tanah, ia akan segera pergi meninggalkan desa itu. Namun tidak seorang pun yang bisa mencabut lidi itu.
[3:37]Akhirnya Baru Klinting dengan mudahnya mencabut lidi itu, lalu muncullah sebuah mata air yang deras, semakin membesar dan menenggelamkan seluruh desa itu.
[3:55]Kecuali nenek yang sudah ia peringatkan untuk menaiki sebuah lesung. Tempat itu akhirnya menjadi sebuah rawa yang airnya sangat jernih dan bersih. Sehingga disebut dengan rawa pening.



