Thumbnail for MTPJ GMIM 13-19 November 2022 | Galatia 6:1-18 | Pdt. Belly Pangemanan by Multimedia GMIM

MTPJ GMIM 13-19 November 2022 | Galatia 6:1-18 | Pdt. Belly Pangemanan

Multimedia GMIM

30m 37s2,810 words~15 min read
Auto-Generated

[0:00]Shalom, Bapak Ibu Saudara-saudara. Saya berharap bahwa Bapak Ibu Saudara-saudara yang menyaksikan tayangan ini dalam keadaan baik-baik saja. Dalam kesempatan ini Bapak Ibu Saudara-saudara kita akan membaca firman Tuhan dalam kitab Galatia pasal 6. Mari Bapak Ibu Saudara-saudara kita siapkan diri untuk mendengarkan firman Tuhan. Dalam Galatia pasal 6 ayat 1 hingga ayatnya yang ke-18, firman Tuhan berkata demikian. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut sambil menjaga dirimu sendiri supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Sebab kalau seorang menyangka bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, maka ia boleh berbegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri dan baiklah dia yang menerima pengajaran dalam firman membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. Jangan sesat, Allah tidak membiarkan dirinya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang itu juga yang akan dituainya. Sebab barang siapa menabur dalam daging, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya. Tetapi barang siapa menabur dalam roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Lihatlah bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri. Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat. Hanya dengan maksud supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. Sebab mereka yang menyunatkan dirinya pun tidak memelihara hukum Taurat, tetapi mereka menghendaki supaya kamu menyunatkan diri agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru itulah yang ada artinya. Dan semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. Selanjutnya, janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara. Amin. Bapak Ibu Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan, demikianlah pembacaan firman Tuhan. Alkitab katakan, yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya dalam kehidupannya. Dalam kesempatan ini Bapak Ibu Saudara-saudara kita akan merenungkan satu tema yang berjudul janganlah kita jemu-jemu berbuat baik. Tentu tema ini diangkat dari salah satu ayat dari bacaan Alkitab kita, yaitu dalam ayatnya yang kesembilan. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik. Saudara-saudara, ketika mendengar atau membaca tema khotbah kita saat ini tentang berbuat baik, mungkin akan muncul di benak pikiran kita, apakah tema ini masih relevan untuk kita bahas? Saat di mana dunia sering mempertontonkan kejahatan, saat di mana media masa selalu memberitakan tentang kejadian kejahatan dan tindakan kriminalitas. Seolah-olah Saudara-saudaraku, kasih semakin dingin sehingga bagi kita mungkin dunia ini sudah banyak dipenuhi oleh orang jahat daripada orang baik. Sehingga kita juga akan berpikir, masih adakah orang baik di dunia ini? Ataupun kalau dia masih ada, mungkin tinggal sedikit. Seperti mungkin hewan atau binatang dinosaurus yang oleh waktu dia kemudian jadi punah, akankah demikian orang-orang baik di dunia ini oleh waktu mereka akan punah? Saudara-saudaraku, ada orang yang berkata bahwa menjadi orang baik atau berbuat baik di zaman sekarang ini adalah pilihan kebodohan. Hanya orang-orang bodohlah yang mau jadi baik di tengah dunia yang semakin jahat. Sehingga pada akhirnya ada orang yang kemudian berhenti berbuat baik karena dia memiliki pengalaman yang buruk dalam hidupnya terkait perbuatan baik yang ia lakukan. Sebab terkadang Saudara-saudaraku bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak serta merta berbanding kebaikan yang kita akan terima dari orang yang merasakan kebaikan yang kita berikan. Banyak yang kita saksikan Saudara-saudaraku di dunia ini, ada orang-orang baik yang kemudian disingkirkan. Saya pernah mendengar sebuah cerita Saudara-saudaraku atau sebuah pengalaman yang disampaikan oleh anggota jemaat ketika dia kemudian diterima di satu perusahaan. Dia masih baru di situ dengan jabatan yang baru pula. Lalu kemudian dia berada di tengah lingkungan yang kemudian bagi dia adalah lingkungan yang jahat. Saat kemudian dia mau menegakkan kebenaran di kantor di mana dia bekerja karena kebaikan yang ada di dalam hatinya. Dia melihat ada orang-orang yang kemudian mengutak-atik angka untuk memanipulasi data, bagi dia ini sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Sebagai orang baik dia ingin meluruskannya, tapi apa yang terjadi, Saudara? Ketika dia mengungkapkan kebenaran itu, dia malah kemudian dipecat dari perusahaan di mana dia bekerja. Sehingga dia berkata, guna apa menjadi orang baik kalau pada akhirnya orang jahat yang lebih dihargai. Saudara-saudara, mungkinkah pengalaman itu jadi pengalaman kita? Sebab pada akhirnya ada orang yang enggan berbuat baik karena dia merasa perbuatan baik itu sia-sia. Nah, menarik Saudara-saudaraku yang terkasih bacaan kita di saat ini. Yang menceritakan tentang bagaimana pengalaman hidup atau orang-orang Kristen yang ada di jemaat Galatia. Rasul Paulus Saudara-saudaraku menulis surat ini dengan menyapa orang-orang yang ada di Galatia, seperti dalam pasalnya yang ketiga dengan sebutan orang-orang bodoh. Apa maksudnya Saudara-saudaraku? Kalau di bagian Alkitab yang lain, Paulus selalu memuji jemaat tentang bagaimana iman mereka, bagaimana kasih mereka. Tapi dalam surat Galatia Saudara-saudaraku, dalam pasal 3 di situ Rasul Paulus menyebut jemaat di Galatia sebagai orang bodoh. Kenapa dia menyebut jemaat Galatia sebagai orang yang bodoh? Karena ini menunjukkan kekesalan, kekecewaan bahkan mungkin kemarahan Rasul Paulus ketika kemudian orang-orang Kristen yang ada di Galatia begitu cepat berbalik dari keyakinan mereka kepada Yesus Kristus. Ada sekelompok orang yang kemudian tidak senang dengan Rasul Paulus. Menyebar provokasi dengan mengatakan Rasul Paulus itu bukan rasul. Saudara, ibarat orang yang kemudian dituduh menggunakan ijazah palsu. Ketika kemudian benar bahwa itu terbukti betul bahwa orang itu menggunakan ijazah palsu, Saudara. Maka apa yang orang itu akan katakan pasti tidak akan dipercaya. Seperti saya mungkin lalu ada orang mengatakan, oh Pendeta yang berkhotbah itu ijazahnya palsu. Dia pakai untuk melamar di gereja untuk menjadi seorang pendeta pakai ijazah yang tidak benar. Dengan demikian, kalau itu terbukti, maka apa yang saya katakan tidak akan dipercaya orang.

[9:11]Nah, demikian juga yang dialami Rasul Paulus. Dia diserang soal status kerasulannya karena kalau orang akan percaya bahwa dia bukan rasul, maka ini akan berdampak pada pengajaran yang Rasul Paulus sampaikan. Sehingga dalam pasal-pasal sebelumnya, Rasul Paulus mengklarifikasi bahwa kerasulannya itu sudah diakui oleh para rasul yang lain.

[9:41]Demikian juga Saudara-saudaraku ketika orang-orang atau jemaat yang ada di Galatia disebarkan dengan pemahaman-pemahaman yang membuat mereka ragu pada keyakinan mereka. Karena kita tahu bersama Saudara-saudaraku bahwa jemaat Galatia ini terdiri dari orang yang berlatar belakang Yahudi dan non-Yahudi. Ada kelompok yang menekankan bahwa keselamatan itu belum lengkap kalau tidak melakukan hukum Taurat. Bagi mereka bagaimana orang-orang non-Yahudi dapat memahami kehendak Allah kalau mereka tidak melakukan hukum Taurat. Soal sunatlah, soal makananlah, soal sabat. Tapi hal ini dibantah oleh Rasul Paulus. Bukan karena melakukan hukum Taurat manusia diselamatkan. Tetapi manusia diselamatkan karena dibenarkan oleh iman. Nah, orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang menerima Yesus Kristus sebagai juru selamat. Dan Rasul Paulus mengatakan, orang-orang yang menerima sang Mesias itu adalah orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus. Dalam Galatia pasal 5, Paulus menguraikan, orang yang dikuasai Roh Kudus bisa kita lihat dari buahnya.

[11:13]Saudara, jika kita ingin menentukan apakah buah mangga yang ada di tangan kita atau di halaman kita ini berbuah manis atau tidak, kita tidak mungkin akan makan daunnya. Kita tidak mungkin akan makan kulitnya. Kita pasti akan makan buahnya. Dari situ kita akan menentukan, oh pohon ini buahnya terasa manis. Demikian juga, orang Kristen akan dilihat benar bahwa dia adalah orang Kristen dari buah yang kemudian dia hasilkan. Salah satu yang diuraikan oleh Rasul Paulus ketika berbicara soal buah roh adalah kasih. Yang itu kemudian Rasul Paulus katakan, dalam bacaan Alkitab ini, orang yang hidup di dalam Kristus adalah orang yang memenuhi hukum Kristus. Apa itu hukum Kristus Saudara-saudara? Dalam bacaan Alkitab ini seperti yang tertulis dalam ayatnya yang kedua, di situ dikatakan, bertolong-tolonglah menanggung bebanmu. Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Jadi di sini Saudara-saudaraku, hukum Kristus itu adalah hukum kasih. Yang itu adalah intisari juga dari hukum Taurat. Saat manusia mengasihi Allah dan manusia mengasihi sesamanya. Jemaat Galatia berada pada situasi yang kemudian mereka saling curiga, mengejek, yang dibahasakan dalam bacaan Alkitab ini seperti dalam pasalnya yang kelima ayatnya yang ke-15, saling menggigit, menelan, membinasakan. Dan dalam pasal 5 ayat 26, di situ dikatakan mereka saling mendengki. Ini jadi potensi perpecahan di jemaat.

[13:17]Sehingga pada akhirnya, karena jemaat hidup saling mendengki, saling curiga, satu dengan yang lain membuat orang tidak mau berbuat baik lagi.

[13:47]Guna apa saya mau berbuat baik kalau kemudian orang-orang di sekitar saya itu jahat. Nah, Saudara-saudaraku, tentu kita memahami sebagai orang Kristen, berbuat baik itu bukan agar kita mendapatkan keselamatan.

[14:15]Tapi berbuat baik adalah tanda dari orang yang sudah diselamatkan. Kita tidak diselamatkan karena perbuatan baik kita. Tapi karena kita diselamatkan, maka kita diubahkan jadi baru. Itulah yang dalam ayatnya yang ke-15 dikatakan oleh Rasul Paulus, menjadi ciptaan baru. Hidup di dalam roh. Dan orang yang dikuasai roh, salah satunya adalah akan dia hidup dalam kasih. Memenuhi hukum Kristus, yang seperti dalam ayatnya yang kedua dikatakan, bertolong-tolonglah. Saudara-saudaraku, bertolong-tolonglah menanggung bebanmu. Mungkin di zaman ini Saudara-saudara akan berpikir seperti ini, saya saja punya beban, guna apa saya mau menanggung beban orang lain. Saya juga punya masalah. Kenapa saya harus mengurusi masalah orang lain?

[15:26]Sehingga pada akhirnya kita berpikir, enaknya dia, ruginya saya, masa bebannya ditimpakan kepada saya.

[15:40]Nah Saudara-saudaraku, dalam bagian Alkitab ini, untuk hidup sebagai orang Kristen, kita harus hidup sesuai hukum Kristus, yaitu bertolong-tolonglah. Nah bagaimana kita hidup bertolong-tolong? Nah dalam ayat 1, Saudara-saudaraku menarik jika kita perhatikan. Di situ Alkitab mencatat demikian, Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar. Jika kedapatan ada orang yang melakukan pelanggaran, maka kamu yang dewasa imannya, yang kuat imannya, menolong orang itu supaya dia menemukan jalan kebenaran. Jadi menarik kita perhatikan di sini adalah salah satu cara kita untuk bisa bertolong-tolongan satu dengan yang lain adalah membantu orang yang jatuh dalam pelanggaran supaya dia kembali ke jalan yang benar. Bagaimana dengan kita, Bapak Ibu Saudara-saudara? Ketika melihat orang jatuh dalam kesalahan.

[17:09]Ada begitu banyak orang sekarang lebih senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Rasanya Saudara-saudaraku, hidupnya akan terganggu ketika melihat orang itu dalam keadaan baik. Dan ketika orang itu jatuh Saudara-saudaraku, wah, betapa senangnya dia melihat ada orang yang jatuh atau tertimpa musibah, tertimpa masalah. Dalam bagian Alkitab ini kita diajak, dalam rangka memenuhi hukum Kristus, kita menuntun dia, memimpin dia. Ibarat seperti dokter yang merawat sehingga orang yang dirawat itu sembuh, kesehatannya dipulihkan. Demikianlah tanggung jawab kita sebagai orang Kristen. Melihat orang yang jatuh dalam pelanggaran bukan kita menghakiminya. Tapi kita punya tanggung jawab untuk apa? Memberikan pertolongan kepadanya agar dia menemukan kebenaran. Selanjutnya Saudara-saudaraku, dari bacaan Alkitab ini kita juga diajar untuk apa? Jangan sombong. Mari kita perhatikan apa yang Rasul Paulus katakan dalam ayatnya yang ketiga. Sebab kalau seorang menyangka bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Dalam kaitan menuntun orang menemukan jalan kebenaran Saudara, jangan menganggap diri kitalah yang paling kuat. Karena kita menganggap kita sudah memiliki iman yang kuat akhirnya kita jadi sombong. Saudara, paling banyak orang jatuh karena kesombongan rohaninya, Saudara. Dan ini yang menjadi tanda awas. Sebab pada akhirnya kita bisa juga jatuh dalam lobang yang sama seperti orang lain juga rasakan. Sehingga dalam bagian Alkitab ini, orang yang berbuat baik pasti tidak akan sombong. Sebab kesombongan itu akan menutup pintu hatinya untuk melihat orang lain. Orang sombong itu dia akan berpikir dialah yang paling benar. Seharusnya Saudara-saudaraku, semakin tinggi rohani seseorang semakin dia rendah hati. Bukan sebaliknya, semakin tinggi iman seseorang atau rohani seseorang, semakin dia tinggi hati. Ini terbalik Saudara. Bagian Alkitab ini mengajarkan kepada kita, seperti memberi tanda awas bahwa ketika kita mau menuntun orang di dalam kesalahan yang dia perbuat, kita juga harus mawas diri. Selanjutnya juga Saudara-saudaraku dari bacaan Alkitab ini kita diingatkan untuk apa? Dalam ayatnya yang kesembilan, janganlah kita jemu-jemu berbuat baik. Apa yang bisa kita artikan Saudara-saudaraku dari kata, janganlah kita jemu-jemu berbuat baik? Ini berarti merasa bosan, merasa lelah, merasa capek untuk berbuat baik. Ada begitu banyak orang Saudara-saudaraku karena dia mengalami pengalaman yang mengecewakan terkait apa yang dia lakukan di dunia ini. Akhirnya dia berhenti jadi orang baik dan menjadi pribadi yang jahat. Dalam kaitan bacaan Alkitab ini kita diajak untuk janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.

[21:26]Sebab apa? Ada kaitannya seperti dalam ayatnya yang ke-10, selama masih ada kesempatan. Saudara, Tuhan masih memberikan kepada kita kesempatan. Dan begitu banyak kesempatan yang sebenarnya Tuhan anugerahkan bagi kita untuk bisa berbuat baik. Ada keluarga kita yang harus kita sayangi, ada sahabat-sahabat kita yang kemudian harus kita perhatikan. Merekalah orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekeliling kita agar kita bisa mengasihi mereka. Itulah kesempatan yang Tuhan anugerahkan bagi kita untuk bisa berbuat baik kepada mereka. Jemaat dan Saudara-saudaraku yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan. Memang menjadi orang baik sangatlah sulit. Menjadi orang baik kita bisa kecewa. Menjadi orang baik kita bisa terluka. Sebab apa Saudara?

[22:36]Di dalam diri orang baik, pikirannya hanya mau berbuat baik, bukan berbuat jahat. Ada dalam hidup ini Saudara-saudaraku, orang berbuat baik, tapi balasannya jahat. Sehingga ada orang berpikir, lalu bagaimana dengan prinsip tabur tuai? Saya sudah berbuat baik, tapi yang saya tuai adalah kejahatan. Jangan kecewa Saudara. Walaupun mungkin kita tidak menerima kebaikan dari orang yang kita perlakukan baik, tapi kita pernah merasakan kebaikan dari orang-orang yang tidak kita kenal. Itulah balasan yang Tuhan izinkan kita terima ketika kita melakukan kebaikan. Ketika kita melakukan kebaikan, ada orang-orang yang Tuhan utus, ada orang-orang yang Tuhan kirim untuk membalas perbuatan baik kita. Ataupun kalaupun tidak ada orang, pasti Tuhan memperhatikan. Sebab dalam bacaan Alkitab ini disinggung soal apa? Tabur tuai. Allah tidak bisa dipermainkan karena apa yang kau tabur itulah yang kau tuai. Berbuat baik Saudara-saudaraku tidak harus besar. Tidak harus dengan melakukan perkara-perkara yang hebat yang harus diliput kamera. Berbuat baik itu bukan tindakan musiman. Ketika ada peristiwa, kita jadi orang baik, perbuatan baik itu harus dan selalu kita lakukan. Sebab apa? Kita adalah pengikut Kristus, roh Tuhan ada pada kita, dan roh Tuhan itu yang menuntun kita untuk mengerjakan kebaikan di dalam kehidupan kita. Ada orang yang berkata, kebaikan itu adalah bahasa yang bisa dipahami oleh orang bisu. Sesuatu yang bisa dilihat oleh orang buta dan sesuatu yang kemudian bisa dirasakan oleh semua orang. Jadi kebaikan itu bahasa universal. Semua agama mengajarkan tentang kebaikan. Dan seringkali kekristenan juga dikaitkan dengan kebaikan. Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, walaupun berbuat baik itu bisa menyusahkan dan menyedihkan. Tetapi di dalam diri orang baik, dia tidak akan pernah berhenti untuk berbuat baik. Sebab apa? Dia adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan. Perbuatan baik itu Saudaraku bukan urusan saya dengan orang lain, tapi perbuatan baik itu Saudara urusan saya dengan Tuhan. Ada orang yang berucap begini. Suatu ketika ketika kita menghadap Tuhan, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari kita, bukan apa yang orang perbuat padaku, tapi apa yang kita perbuat pada orang. Oleh karena itu selama masih ada kesempatan seperti ajakan firman Tuhan ini. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik. Jangan biarkan kebaikan itu berhenti padamu, kebaikan itu harus diteruskan. Kebaikan itu tidak hanya bicara soal keharusan. Saya berbuat baik karena dia berbuat baik padaku. Tapi kebaikan itu selalu berbicara soal apa? Ketulusan. Walaupun orang itu membenciku, tapi kewajibanku adalah berbuat baik padanya. Memang sulit Saudara, memang ini tidak mudah. Tapi dalam rangka kita memenuhi hukum Kristus, kita harus melakukannya. Dan orang baik itu Saudara adalah saya dan Saudara-saudara yang menyaksikan renungan ini. Biarlah Roh Kudus memakai khotbah kita di saat ini sebagai suara Tuhan yang mengingatkan kepada kita. Mungkin kita sudah mulai berpikir, kalau orang jahat lebih diterima di dunia ini, saya mau jadi orang jahat saja. Maka saat ini berhentilah berbuat jahat, tapi tetap teruslah berbuat baik. Kebaikan itu harus tetap tersebar. Walaupun mungkin di dunia ini tinggal kau sendiri orang yang berbuat baik, tapi tetap lakukanlah. Biarlah itu menjadi sebuah cahaya yang kemudian menyinari kegelapan dunia. Perbuatan baik itu bisa kita lakukan kapan saja. Paku yang kemudian kita lihat di tengah jalan. Jika kita biarkan Saudara, itu bisa mencelakakan orang lain. Tapi kalau kita baik, paku yang sekecil itu, kita ambil dan kita letakkan di tempat yang aman, bisa menyelamatkan pejalan kaki. Segelas air memang jika dibandingkan dengan minuman mewah di hotel-hotel, tidak ada bandingnya. Tapi itu bisa menjadi sebuah spirit kebaikan bagi mereka yang kemudian kehausan. Di tengah hujan, kita ingin kemudian melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada orang yang membawa payung agar kita bisa berteduh dan kemudian melanjutkan perjalanan. Itu adalah juga sebuah tindakan kebaikan.

[30:18]Jadilah baik, Bapak Ibu Saudara-saudara, karena dengan demikian kita akan memenuhi hukum Kristus. Tuhan memberkati Bapak Ibu Saudara-saudara. Amin.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript