Thumbnail for Memerdekakan Rasa (Cut & edited version) by ZEIN PERMANA

Memerdekakan Rasa (Cut & edited version)

ZEIN PERMANA

28m 6s3,607 words~19 min read
Auto-Generated

[0:08]Penyataannya diperhebat. Halo. Kesel, bete, benci, bahagia, senang, apapun itu, tanya itu sinyal apa ya. Halo. Hai. Sekarang supaya lebih realistis, tidak definitif aja, enggak teoritis, Kang Hari mau ngundang seseorang. Boleh? Ini sahabat Kang Hari, sahabat-sahabat semuanya. Beliau sekarang ini calon doktor di UGM di bidang psikolog. Ya, psikologi perkembangan. Eh, benar enggak ya psikologi perkembangan? Ya nanti kita ajak ngobrol beliau. Beliau adalah founder dari filosofi ruang hati, fokus penelitiannya, research-nya adalah anak-anak muda. Jadi pas diajakin ke sini mau enggak nemenin aku ngomong nih di depan anak-anak muda. Oh, happy banget saya-nya bahagia karena beliau bisa. Beliau-nya juga mudah-mudahan makin keren nanti research-nya tentang anak-anak muda. Siap? Siap! Kita panggil Kang Zain. Takbir! Allahu Akbar. Manga, Kang Zain di Haturanan. Oke. Alhamdulillah. Sip. Wilujeng.

[1:16]Ini kalau intelektual tuh kayak gini dan Nannya. Kang Zena Damang? Alhamdulillah. Oke. Kang Zain ini orang Bandung loh, dan tinggalnya di Kiara Condong kan? Dekat situ ya? Jadi kalau batuk nyampe ke langsung ya. Kang Zain? Ya. Kang Zain, langsung aja. Ya. Psikologi perkembangan benar ya? Sosial kan. Psikologi sosial. Sote atuhnya. Maaf ya Bapak Dosennya Om Zain ya, maaf. E mudah-mudahan doakan beliau segera jadi doktor dan bisa membuat anak-anak muda Indonesia jadi makin lama makin bagus. Sahabat-sahabat resetnya makin lama makin kuat. Kang Zain, riset apa yang akhir-akhir ini Kang Zain temui di anak-anak muda tentang bagaimana mereka mengelola perasaannya? Anak-anak muda teh jika kayaknya teh juga keur gimana sih trennya dalam mengelola perasaan mereka? Bismilahirahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ini sambil gemper dulu, Kang. Ya, sok. Agak tegang. Kenapa gemper? Karena sebetulnya sudah siap dari tadi, tapi pas tadi salat Isya pas lagi Idina Mustaqim langsung ada ada cinta ini jadi baper. Jadi baper. Jadi ingatan ke mana-mana dan itu resetnya sebetulnya. Itu resetnya? Jadi kita itu punya kecenderungan jadi gini, istimewanya manusia di Bandung, di Bandung lagi dibanding makhluk lain adalah ada kemampuan yang namanya sistem tunda. Sistem tunda. Tunda. Contohnya kalau harimau lihat mangsa langsung dikejar. Kalau ihwan lihat akhwat belum tentu langsung dikejar. Siu. Dan itu fitrah. Siapa aku yang enggak jadi.

[3:07]Jadi pas ngelewatin akhwatnya tanya, ulang tanya, ulang itu kan jadi bahaya. Manusia punya itu, punya sistem tunda dan penundaan itu tidak dimiliki oleh semua makhluk. Misalkan tadi singa. Singa enggak mikir, oke saya akan terekam ini mangsa lalu akan saya potong-potong, akan saya keluarkan kadutnya, saya angkat dagingnya, saya siapkan, terus simpan ke kulkas kan gitu. Enggak ada simpan tunda, tapi manusia punya simpan sistem tunda. Yang kedua ciri khasnya lagi fitrahnya manusia adalah dia punya kemampuan untuk membuat simbol. Punya kemampuan untuk membuat simbol. Itu enggak dimiliki sama hewan atau makhluk lain. Oke. Termasuk tulisan. Memang huruf A itu ada di dunia ini? Coba. Ada huruf A di dunia ini, huruf A? Itu kan cuman simbol yang kita sepakati. Kalau kita baca itu A. Oke. Atau matematika misalkan. Ada enggak angka satu di dunia ini? Ada satu. Wujud nyatanya, Kang.

[4:15]Kalau rese kalau di kan. Fisiknya satu atau nol. Lumayan. Nah, nanti dengan memahami fitrah awal ini, selanjutnya kita akan mulai mampu mengenali oh ini perasaan. Karena manusia satu punya sistem tunda, yang kedua, manusia punya fitrah untuk membuat simbol. Katakanlah organisasi namanya Pemuda Hijrah. Apakah ada fisiknya? Kan kita buat. Tapi itu jadi simbol, atau katakanlah Indonesia. Indonesia ini sampai mana batasnya? Memang ada ciri batasnya? Enggak, semua itu simbol yang kita buat dengan perasaan kebersatuan. Nah, perasaan itu berarti bagian dari simbol akibat sering-sering menunda, Kang. Ah. Kumaha itu?

[5:05]Benar ya? Iya, saya juga jadi mikir bisa salah. Makanya tadi gempernya saya itu salah satunya adalah mungkin kurang bergerak. Pas ngedengar Kang Hari cerita, ngajak bergerak, alhamdulillah jadi oh iya jadi moodnya dapat lagi. Kenapa? Karena di Quran juga kan dibilang Faidah Farakta Fangsop. Artinya teman-teman pasti sudah tahu, tapi yang mau saya garis bawah itu huruf fa-nya itu loh. Ya. Fa itu berarti menyegerakan, beda sama wa, beda sama suma, kalau wa ya agak ada delay sedikit baru dilakukan. Makanya Faidah Farakta Fangsop setelah beres satu aktivitas, berge segera yang lain. Jadi enggak ada jeda untuk tidak bergerak, karena sedikit saja ada jeda, maka perasaan itu timbul. Oh. Nah, makanya kenapa di psikologi kita sangat mengapresiasi di syariatkannya puasa, karena saum itu membuat kita menahan semua aspek-aspek fisik. Tapi kenalilah ketahuilah bahwa aspek-aspek psikologis itu jadi naik. Istilah ilmiahnya itu jadi Ngabul Kang. Semua itu pada muncul. Itu istilah psikologi ya. Iya, psikologi.

[6:14]Nanti saya akan jadikan ini. Jadi kenapa kok perasaan itu bisa muncul dan bisa menguasai kita bisa jadi memang karena satu tidak gerak tadi. Yang kedua memang ada yang ada sesuatu yang kita tunda dengan sengaja. Nah, ini ada penelitiannya bagus, Kang, soal tunda. Jadi eh atau dipotong dulu. Enggak, enggak, lanjutin. Ada tokoh di Perancis namanya Walter Mischel. Siapa namanya? Walter Mischel. Biasa Walter Mischel. Experimentnya bagus. Teman-teman bisa cek di YouTube, eksperimennya dan bisa teman-teman lakukan buat konten YouTube teman-teman ya. Namanya Marshmallow Experiment, dilakukan ke anak umur 2 tahun. 2 sampai 4 tahun lah ya, jadi. Oh, itu si Mischel yang ngelakuin.

[7:02]Si Mischel. Saya tuh tahunya Marshmallow research, Marshmallow research enggak tahu yang ngelakuin. Dia tahun 60-an bikin eksperimen itu sederhana, jadi anak itu diminta duduk di ruangan di ruangan yang sepi tidak ada apa-apa, hanya ada meja, piring ya piring kecil dan juga marshmallow. Anak itu diminta sama eksperimennya, Dek, ini Marshmallow buat Adik ya, kalau Adik mau, Adik langsung makan. Tapi kalau Adik mau menunda sampai waktu yang ditentukan, nanti Tante akan datang lagi bawa Marshmallow selanjutnya. Jadi Adik punya By the way, you know Marshmallow? Marshmallow, show my. Balak. Marshmallow ya, permen. Marshmallow itu untuk ukuran ukuran anak disetting penelitian di negaranya Walter Mischel, itu merupakan makanan yang sulit untuk ditolak. Jadi syahwat untuk makan marshmallow bagi anak itu sangat tinggi. Jadi sulit bagi seorang anak. Mau makan marshmallow aja pakai syahwat atuh Kang Zena. Dan supaya ada dudukan ilmiahnya, Kang, terjelaskan. Syahwat. Kan supaya kerasa pengajiannya. Syahwat atau dorongan ya, dorongan meurinya kalau isinya. Dorongan untuk memakan marshmallow itu tinggi bagi anak. Maka dicek, nah memang sesuai hasilnya. Jadi anak yang bisa nunda ya dapat dua, dapat selamat sudah pulang. Yang enggak tahan ya itu tadi makan langsung. Cuman yang menarik itu gini, ketika waktu tunggu, ada anak-anak yang melakukan hal-hal yang bersifat improvisasi. Contohnya, dia mindahin kursinya, ngebalik jadi munggungin si Marshmallow. Embung, embung, embung, embung gitu. Ada juga yang sengaja kalau makan kan enggak boleh, jilat kayaknya boleh. Jilat. Ada juga yang simpan Marshmallow-nya piringnya diangkat, ditutupin. No, no, no, no. Gitu. Itu penelitiannya cuman gitu doang, tapi di 10 tahun kemudian data anak-anak ini ditanyakan lagi, gimana hasil belajarnya di sekolah? Nah, ini yang menarik teman-teman semua, yang mampu menahan dan dapat dua Marshmallow, artinya selama 15 menit, bayangin teman-teman 15 menit. Kita nunggu Gojek aja enggak 15 menit. Waktu tunggunya 15 menit kayaknya langsung di cancel kan ya? Cancel. Ini syahwatnya tinggi untuk makan Marshmallow, dia mampu menahan itu dan ternyata hasilnya luar biasa, teman-teman bisa cek. Yang bisa nahan, alhamdulillah, hasilnya skornya lebih baik dibandingkan anak-anak yang tidak bisa menahan. Dan isengnya Walter Mischel, itu 10 tahun kemudian ditest lagi. Jadi penelitiannya pakai interval 10 tahun, 10 tahun, 10 tahun. Ada longitudinal dengan kohort yang sama, dengan kelompok yang sama. Dites lagi, waktu kuliahnya kayak gimana? Hasilnya juga sama. Dites lagi tahun 90 oleh muridnya Walter Mischel. Jadi muridnya. Sira psikologinya sangat ngelotok sekali ya. Siapa?

[10:08]Dovido dan Gatner. Tah eta. Kan nah, kenapa kayak gini, Kang? Saya mah bisi ada satu ayat lagi yang bilang, ada kata fa-nya Fatabayyanu. Fatabayyanu. Jadi jika datang kepada kalian seorang yang fasik, lah eta mah lain Ustaz Hanan, eh tidak bisa dipercaya ya. Maka Fatabayyanu bisi takutnya orang fasik ini teh. Maka. Di Quran tuh kan dituntut kita untuk Fatabayyanu, untuk tabayyun itu segera. Bukan wa tabayyanu, dan jadi delay dulu, enggak. Jadi kalau ada sesuatu informasi masuk, harus cepat-cepat. Nah, untuk mempermudah kawan-kawan meng-crosscheck kan, Fatabayyanu itu istilah ilmiahnya itu iterasi. Iterasi. Diulang-ulang sampai Bayan terbuka, jelas, oh itu tuh benar. Nah, saya nyebutin tokohnya, bisi ini mah bisi ada yang ngecek oh kata siapa itu ya. Dan hasilnya kayak gitu dan alhamdulillahnya Islam mengajarkan banyak hal untuk menunda. Jadi saya kurang sepakat sama teman-teman yang kalau saum itu justru menahan juga perasaan. Enggak, justru perasaannya dikeluarkan, diekspresikan untuk kemudian kita kelola. Kenapa? Karena perasaan ini simbol yang kita buat. Simbol ini harus kita yang menguasai. Jadi kata Kang Hari betul tadi. Menguasai perasaan, bukan dikuasai perasaan. Nah, riset saya, Kang, anak muda itu kebanyakan dikuasai perasaan, sehingga menganggap bahwa perasaan ini realitas. Aduh. Perasaan ini adalah fakta, padahal sekali lagi perasaan itu cuman simbol. Makanya tadi bisa enggak kita sedih sambil senyum? Enggak bisa, karena imajinasi itu kita yang buat. Dan akhirnya saya menemukan yang disebut dengan mental time travel, Kang. Jadi manusia itu bisa. Kela kela kela tunggu sebentar ini ketelan enggak teman-teman? Cepat cepat. Mental time travel lagi kayak ngomongin film apa gitu. Contohnya mah gini kalau kita di chat aja ya misalkan. Asalamualaikum, apa kabar? Ini maksudnya apa ya? Jadi baru ditanya apa kabar aja, bayangan kita udah ke resepsi di mana, Ustaznya siapa? Mau enggak kira-kira Ustaz Hanan khutbah nikah di situ? Itu tuh namanya mental time travel. Kejawahan. Mental kita udah terlempar kejauhan. Itu keren. Ha? Itu banyak kejadian sama anak muda. Oh, banyak kejadian? Ya memang gitu menurut penelitiannya. Baru ditanya, baru ditanya ya. Asalamualaikum, gimana sehat? Langsung dia teh suka sama aku, dia suka sama aku. Iya, iya, iya. Itu teh time travel ya. Iya. Padahal baru ditanya, kan gini, Kang, realitasnya nanya kabar. Jadi kalau secara ilmiah, itu pertanyaannya untuk kabar. Kabar, iya. Dan enggak ada maksud lain, perasaan itu yang dibangun, artinya apa? Kita yang membuat simbol. Oke. Sama kalau kita dikasih like juga kan? Oh, iya. Dikasih like, ada tanda cintanya langsung des, oh my God, langsung jelep gitu. Tapi yang lebih parah gini Kang, kita tadi kata Kang Hari, kita bikin story. Terima kasih ya kamu udah nemenin aku ke kajian. Iya, kamu. Itu mah enggak masalah ya, Kang ya. Tapi setelah diposting, oke design ditungguin dia nge-view enggak? Oke. Nah, itu yang menggelisahkan teh. Nahan teu nge-view wae. Dan memang ini yang membuat masuk dalam memori lebih panjang dibandingkan hal-hal yang faktual yang fakta. Jadi makanya time travel tadi. Iya, mental time travel. Jadi kita bisa terbang jauh ke masa lalu ya misalkan.

[13:50]Terbelenggu rasa yang harusnya tidak pernah ada. Iya, kenapa kenapa kamu tiba-tiba cemberut? Tanyain aja sama yang kamu like waktu tanggal 2 Februari itu. Siapa 2 Februari, siapa 2 Februari? Kan itu jauh ke belakang, iya enggak? Kan kita mah enggak ingat ya. Tapi kenapa dia bisa ingat? Itu teh mental time travel. Tumbuhan enggak bisa kayak gitu, teman-teman. Teman-teman punya ikan atau punya hewan peliharaan aja ya. Yang kemungkinan punya memori, enggak akan sepanjang itu memorinya. Jadi ngelihat contohnya hewan yang paling banyak dipelihara dan dianggap cerdas kan anjing. Iya. Anjing itu memorinya hanya pada saat itu. Jadi ketika melihat, loh, kok kayak kenal ya? Kayak kenal ya? Dan perasaan kayak kenal itu membuat dia jatuh cinta lagi sama pemiliknya. Makanya setiap pemiliknya pulang, anjing itu selalu merasakan jatuh cinta dan antusias. Itulah yang membuat orang senang memelihara anjing, karena eksistensinya diakui oleh si anjing ini. Astagfirullahaladzim. Mudah-mudahan enggak di. Jangan sampai kajian ini dicekal ya gara-gara. Enggak ini mah contoh binatang ya. Contoh binatang. Yang tadi contoh binatang jangan dipotong-potong ya. Oke. Oke. Ganti atau sama kucing? Saya juga punya kucing. Kucing, nah, kucing. Itu juga kayaknya punya memori, bahkan saya merasa kucing saya yang satu itu namanya Simisi, saya ngerasa jangan-jangan Simisi ini dia ngerasa dirinya adalah anak saya. Oh, iya. Heeh, karena ketika saya datang, lagi duduk di tangga, dia ada di atas tangga saya terus tangga itu tek, tek. Misi, who do you think you are? You're not my baby. You think you are my daughter? Gitu. Tapi itu jadi bingung kenapa saya jadi yang ngajak ngobrol sama Simisi. Betul. Dan, dan lucunya gini Kang, apapun yang dijawab kucingnya Kang Hari, Kang Hari anggap itu tuh jawaban yang menyempurnakan pertanyaan Akang. Mari kita kembali ke realitas, Kang Zain ya. Siap. Kang. Iya. Jadi, jadi, mental time travel itu kan kita jadinya dikuasai tuh sama perasaan kita. Itu bagus apa enggak? Kalau kita yang dikuasai ya enggak, Kang. Karena sekali lagi kalau kita dikuasai perasaan, maka teman-teman, kita akan berada dalam dimensi yang berbeda. Ruang dan waktu yang beda. Jadi makanya tubuh bisa di sini kan gitu ya, suka ada yang bilang gitu. Tapi pikiran atau hati lagi ke mana? Ya itu karena itu, kita lagi dikuasai perasaan. Makanya butuh mood booster itu salah satu cara anak muda sekarang untuk lari dari kenyataan. Aku butuh mood booster, butuh kopi dicengekan misalkan gitu. Pokoknya supaya rasanya itu yang lebih nendang. Rasa yang lebih nendang. Karena kita butuh sesuatu yang memang membuat kita luput dari kenyataan. Tapi Kang, Allah juga bilang.

[16:47]Allah tuh tidak ciptakan sesuatu secara sia-sia. Jadi nah yang kadang-kadang saya sedih Kang, melihat fenomena teman-teman itu adalah kebanyakan manusia itu menghindari rasa sedih. Rasa galau. Rasa sakit. Justru enggak. Allah menciptakan semuanya memang sengaja dipergilirkan. Tidak mungkin kita senang terus, itu stres nanti kita lama-lama. Diajak main, iya, misalkan diajak main game ya, PUBG gitu. Nembak. Padahal dia yang ketembak juga ah mati kan itu enggak. Jadi rasa itu bukan untuk dipilih jadi ya Allah izinkan aku merasakan bahagia bukan, tapi ya Allah izinkan aku di setiap rasa yang kupergiliran engkau hadirkan dirimu dekat denganku ya Allah. Masyaallah.

[17:37]Jadi sedikit gitu ya. Astagfirullah.

[17:42]Dan bahkan ketika kita jiji gitu ya, jijinya itu memang karena Allah. Aku jijik sama aku yang enggak bisa bangun lebih subuh dari ini, pada itu sudah jam 01.30 ya. Pengin lebih subuh dari ini gitu. Oke. Masyaallah. Teman-teman siapin pertanyaan mumpung ada Kang Zen. Kang Zen ini biasanya di Jogja, sekarang lagi ada di Bandung. Eh Kang Zen, jadi tadi ya, penundaan itu sometimes bagus. Menghasilkan perasaan-perasaan yang bagus. Benar enggak sih riset yang tadi itu bahwa gerakan itu bisa benar-benar mengubah kita yang dikuasai jadi kita yang menguasai. Ya. Penelitiannya teman-teman bisa crosscheck namanya Paul Van Lang ya, orang Belanda. Dia tadi betul, memang motion, gerakan, pergerakan itu creates emotion. Maka gambar yang bergerak itu akan nempel ke emosi kita. Kita akan dapat rasa dari gambar yang bergerak dibandingkan tidak bergerak. Contohnya audio, kita enggak akan punya emosi yang lebih dibandingkan ada audio dan visualnya. Bahkan visualnya saja membuat kita tergerak.

[18:49]Tergerak apa istilahnya? Paul Van Lang itu ada namanya mimikri. Mimik. Menyamai model wajah. Jadi kalau si pembicara ngomongnya seperti ini, itu pendengar tuh. Gitu. Jadi otomatis itu terjadi. I know mimikri in Sundanese. Apa? Ngegeran. Oh, ngegeran. Iya kan? Mimik, oh mimik itu tuh mimik. Iya. Makanya penting juga kenapa kita harus.

[19:17]Makanya tadi gimana cara, jadi bahagia itu memang kalau kita pengin bahagia, memang bahagia itu tuh memang tanpa syarat Kang, ya cukup bergerak tadi. Kalau mau melakukan ya tiap pagi ya beres salat Subuh misalkan ya. Betul. Gitu kayak Kang Hari tadi ya. Jangan, baru jadi omong betulan maksudnya setiap Subuh itu olahraga, olah raga ya sehingga. Enggak, enggak. Rasanya juga terolah. Jangan nanti pas mau datang ke kajian Ojol kata SM. Kan sieun. Ya. Jadi secara psikologis itu ya, secara psikologis tindakan atau gerakan itu justru yang menciptakan emosi. Jadi bahagia itu enggak ada syarat cukup, tekadkan putuskan tadi ya. Putuskan bahwa kita mau bahagia lalu gerak ya, fa idza farogta fansob. Setelah memutuskan bahagia lalu gerak. Bahagia gerak. Kenapa tadi harus olahraga juga? Ya supaya metabolisme cepat. Jadi jangan kira tubuh kita tuh abadi, justru jangan sampai kita mikir tubuh kita itu abadi. Justru kita berdoa sama Allah, mudah-mudahan tubuh kita itu metabolismenya cepat. Jadi banyak yang mati di dalam tubuh kita. Kalau banyak yang mati di dalam tubuh kita, banyak yang baru juga di dalam tubuh kita. Gitu. Makanya olahraga itu mendorong kita punya metabolisme yang lebih cepat. Metabolisme yang lebih cepat membuat kita lebih sehat. Nah, malas gerak, mager. Itu salah, membuat sel-sel di dalam tubuh kita abadi. Galaunya jadi mudah abadi, sekalinya bete abadi, dan susah untuk senang sebetulnya karena enggak enggak keluar si serotoninnya. Endorfinnya juga enggak keluar gitu. Kang Zain, pendek aja. Untuk bisa ngebuat anak-anak muda ini, setelah setiap kajian, lantas kajiannya itu bukan cuma membekas di dalam diri mereka terus mereka bilang oh oke bagus. Tapi juga bisa mengubah kehidupan mereka dengan gerakan-gerakan yang perbaikan-perbaikan yang makin lama makin bagus. Saran Kang Zain buat anak-anak muda ini apa? Ada karya. Ada karya. Ada karya. Jadi untuk membuktikan bahwa rasa ini bukan sekadar rasa, harus ada karya. Oke. Misalkan eh hasil dari kajian kan bagus, suka ada yang nge-summary. Betul. Jadi karya, terus apa yang ingin teman-teman lakukan itu harus ada wujudnya. Kalau enggak, teman-teman akan berputar-putar di soal perasaan dan pikiran sendiri. Dan itu nantinya akan membuat teman-teman bingung sendiri, kenapa? Karena tidak ada orang yang menikmati. Misalkan saya katakan gini, teman-teman tahu enggak gajah merah? Gajah apa, Kang? Gajah merah. Gajah merah. Apa yang saya bilang gajah merah? Sama enggak yang ada di kepala teman-teman?

[22:00]Saya bisa ngebayangin menangkap apa yang ada di benak mereka ketika Kang Zain tadi tanya, gajah merah. Yang kebayang gajah duduk, Kang. Gajah duduk warna merah. Ada juga yang bisa jadi mikirnya itu bukan bentuk gajah, gambar gajah, tapi tulisan gajah. Kan gitu ya. Itu perlu kita tuangkan jadi bentuk aktual, kalau enggak selamanya simbol. Kalau selamanya simbol, selamanya ada dalam pikiran kita. Kalau selamanya ada dalam pikiran kita, teman-teman tahu yang zaman sekarang disebut dengan overthinking, itu tuh muncul lagi, muncul lagi, karena enggak jadi objek. Dia tetap dari subjek, subjektivitas pikiran kita. Sekalinya dia jadi objek, orang bisa nilai, orang jadi dapat feedback, mudah-mudahan itu jadi amal saleh gitu. Kalau dalam pikiran kan ya gimana atuh Kang? Karya intinya. Harus jadi karya. Gimana orang yang sedih karena harapannya tidak sesuai dengan kenyataan? Si rasa sedih itu harus jadi karya juga. Iya, enggak apa-apa. Jadi sedih, malas, saya sering saya sering diskusi sama mahasiswa saya misalnya ya. Aduh Pak, saya malas banget ngerjain tugas. Ya enggak apa-apa. Orang tuh saya enggak peduli sama malasnya kamu kan. Yang penting tugasnya selesai. Boleh enggak kita nyelesaiin tugas sambil malas? Atau bos kita misalkan di tempat kerja, dosen kita ya. Boleh enggak kita menyelesaikan tugas sambil galau? Itu kan cuman perasaan. Yang dibutuhkan apanya? Tugasnya, karyanya. Yang dinilai sama Allah itu proses iya, tapi ketika ada karya dan itu bermanfaat. Masyaallah. Dan itu kan belum tentu juga diterima ya. Itu misteri Allah, tapi kalau enggak jadi karya, perasaan itu, mau sampai kapan kita ngeributin, ngebingungin hal-hal yang kita bikin sendiri padahal wujudnya belum ada. Masyaallah. Dan kita kan percaya sama yang gaib, itu tuh contoh simpel kegaiban itu simbol itu, perasaan itu. Bahwa kita enggak ya, makanya saya bilang, Pak, saya malas banget nih ngerjain tugas. Ya enggak apa-apa. Pak, saya malas bimbingan. Ya udah sambil malas ayo. Yang penting datang bimbingan. Males ngafalin Quran? Ya enggak apa-apa, sambil malas aja. Sambil malas, sambil malas saja ngafalinnya. Karena perasaan itu tadi cuman simbol. Faktanya apa? Orang boleh sama-sama malas kan, tapi sama-sama dapat sesuatu. Ada teman-teman yang datang ke sini ke kajian ini sambil malas. Masyaallah. Sambil BT ada ya, kan enggak masalah, yang penting kajian, yang penting kan jalannya. Nah, yang rugi itu orang yang tidak meluangkan waktu, membuang waktu untuk bergerak, hanya dengan alasan perasaan yang cuma dia sendiri yang tahu, yang dia sendiri yang membesar-besarkan, kamu enggak tahu sih persaan aku. Ya emang enggak.

[24:54]Ya kan suka gitu ya, Kang ya. Istri saya juga gitu. Allah enggak sensitif, enggak peka. Ya emang enggak. Jadi kudu kumaha itu? Jadi bingung. Iya, kadang-kadang suka gitu, Kang. Intinya mah itu lah. Sip. Baik. Sahabat-sahabat semuanya, yang terakhir tadi dari Kang Zen, Kang Zen makasih banget loh udah mau datang ke sini. Siap.

[25:13]Hatur nuhun pisan. Mudah-mudahan nanti bisa dilanjutin lagi. Sahabat-sahabat semuanya, yang paling penting dari Kang Zen tadi, gimana supaya pengajian kita, kita kan punya goals, setuju apa setuju banget? Pengajian ini tidak hanya membuat pikiran kita makin lama makin terasah, makin pintar, perasaan kita juga makin sensitif, tapi gerakan juga harus bisa ada, sehingga kita punya sebuah karya. Jadi dari satu kajian, dari satu Rabu ke Rabu yang lain, dari hari Senin ke Senin yang lain, dari satu kajian di mana pun itu membuat diri kita terus bertumbuh. Insyaallah. Halo. Yang ngerasa belajar hari ini acungan tangan dan katakan saya. Saya. Sebelum saya tutup, teman-teman semuanya dan kita nanti ada kolosal, closing kolosal. Saya mau tanya dulu, ada pertanyaan dari teman-teman? Masyaallah. Boleh ya? Oke, akhwat kalau ada yang mau bertanya, silakan pakai. Boleh pertanyaan Kang Zen? Boleh. Sok, silakan. Siapa yang mau bertanya?

[26:08]Boleh. Pertanyaannya boleh susah enggak apa-apa, yang penting bertanya ya. Yang ngejawab juga Kang Zen ya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh, kalau tadi kan ada yang. Namanya siapa, Kang? Rizki. Rizki. Tamam. Masyaallah. Eh, kalau ada sedih, terus ada satu masalah, itu kan kita tahu masalahnya bisa di dirunutin sehingga kita dapat solusinya.

[26:45]Dideketin mic-nya. Dia enggak tahu masalahnya apa, tapi ngerasa sedih banget.

[27:04]Wow. Itu teman yang curhat. Terus ada beberapa orang lagi, saya dengar ceritanya gitu.

[27:19]Sama, dia stres segala macam, tapi enggak tahu penyebabnya apa, bahkan hidupnya katanya baik-baik aja.

[27:29]Itu tuh apa ada kaitannya sama yang tadi motion, karena yang saya tahu teman saya ini emang mageran. Mager, eh bukan mager, jarang gerak. Jarang gerak, oke.

[27:53]Terus tapi kalau yang saya dengar cerita dari orang lain itu, justru dia aktif banget banyak kegiatan tapi ngerasain hal yang sama gitu. Oke, thank you. Eh, gimana gitu.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript