[0:01]Nah, ee Pak sempat membuat suatu gambar gitu ya bahwa Quran dan sunah ini ada di tengah-tengah. Kemudian lapisan persis di atasnya setelahnya ada daruriat, hajjiyat, kemudian yang paling lebar adalah tahsiyat. Nah, itu hanya untuk menunjukkan bahwa Illustrasi ya. Ya bahwa yang disebut sebagai eh itu yang isinya ada lima tadi itu. Memang didapat dari mana lima itu? Oh, ini gambar itu yang mengatakan. Sumbernya dari situ iya. Artinya bukan berfikir ngarang aja begitu ya. Ya, oke. Saya akan skip beberapa slide dan sekarang kita akan masuk pada the purpose of Islamic Economic System, Pak sebagai bagian dari maqasit tadi. Ya, jadi ini yang pertama ini achievement of falah. Jadi mungkin sedikit sudah bisa, sudah dibahas ya. Bahwa Pak dengan itu awas ya. Bukan hanya falah here. Iya, betul, betul. Worldly life ini ya. Iya. Kehidupan dunia ini tapi juga hereafter. Nah, itu yang harus masuk hitungan dan ya Islam sangat sangat ber-Quran, sangat sangat menggarisbawahi ini. Ya, bahwa berapa kali saja Quran itu mengatakan bahwa kehidupan yang nyata itu itu. Iya. Sampai Nabi itu ketika membangun membangun Masjid Madinah ya. Mengangkut batu merah ya, mencangkul dan sebagainya itu. Membangun masjid itu. Nabi itu menyanyi. Yaitu lagunya bagaimana tidak tahu tetapi dalam hadis disebutkan bunyinya adalah la hayata illa hayatul akhirah. Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. Ya. Kemudian Allahummaghfir lil Anshari wal Muhajiroh. Ya Allah, ampunilah orang Anshar dan orang Muhajirin, kaum Muhajirin itu. Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. Wa ma hayatuddunya illa mataul ghurur, Quran mengatakan begitu. Kehidupan dunia itu adalah tak bukan adalah kesenangan yang memperdaya. Tapi bukan tak berguna karena Iya. Kehidupan akhirat yang setinggi apapun tidak bisa dicapai kecuali dengan beramal di dunia. Betul, betul. Dunia ini penting. Ya, ya. Ya, tapi tertipu oleh dunia, lah itu yang tidak benar. Itu yang bahkan orang-orang seperti saya dan Anda ini juga masih belum tahu apakah kita ini bukan orang yang termasuk orang yang tertipu oleh dunia ya, gitu. Nah, itu yang tadi menarik, Pak. Tadi yang tadi Pak Herman mengatakan bahwa kehidupan yang akhirat itu adalah kehidupan yang nyata ya. Ya, ya, ya. Eh kalau kita nih memahaminyata ini kan biasanya kita umumnya itu adalah menyama menyamakan ya. eh apa ya? Biasanya ada dua istilah nyata dan maya. Maya. Jadi kalau nyata saya dengan Pak Herman sekarang nyata kita di. Tapi di di maya di online itu kan kita lewat online gitu. Heem. Nah, kemudian tadi yang Pak Herman mengatakan bahwa kehidupan yang akhirat itu yang nyata itu di akhirat. Seolah-olah ini saya juga habis diskusi dengan Pak Ugi beberapa bulan yang lalu ya bahwa kehidupan yang akhirat nanti lebih nyata dari yang nyata sekarang gitu. Bisa jadi bahwa sekarang itu mayanya, Pak. Nanti yang nyatanya itu nanti di akhirat. Yes. Anda mesti ingat satu sabda Nabi. Annasu niyamun waidza matu indhabau. Manusia itu tidur setelah mati baru dia bangun. Berarti sekarang itu kita ada dalam mimpi kira-kira gitu ya. Mimpi. Ya, nanti setelah mati kita baru tahu. Wah, ternyata punya duit banyak enggak penting. Ternyata kenal dengan orang-orang penting itu enggak penting. Ya, yang penting itu sujud yang dinilai Allah itu. Rasa syukur yang dinilai itu. Iya, ya, ya. Ternyata dipanggil ke sana kemari dengan hormat Pak Anu, Pak Herman, ah itu. Dulu bangga sekali. Iya, ya. Nanti setelah mati baru. Kaaya orang tidur ketika ketika tidur ya mimpi jadi rajalah atau apa. Baru bangun aduh ini aja. Baru tahu. Nah, the purpose of Islamic economic system fair and equitable distribution. Ya. Adil and distribusi yang merata. Tidak ada di dunia ini ajaran Islam, ajaran yang mengajarkan redribusi kecuali agama kita. Heem. Ya, eh redribusi, apa toh distribusi itu dan apa redribusi itu. Distribusi itu adalah di hasil yang didapat dari pekerja. Redistribusi itu adalah activity. Gitu ya. After the distribution. Setelah saya punya uang dari bekerja, uang tadi saya redistribusikan lagi. Dan umumnya for free. Iya, betul. For free. Ya, itu untuk menunjukkan apa? Wah, ini. Ini instrumen. Secara teoritik redistribusi itu menggeser kurva Lorentz ke kiri. Sehingga lebih menjamin keadilan. Heem. Ke antara siapa yang punya. Yang punya, ya. Itu eh apa itu namanya? Makin lah di agama lain tidak ada. Heem. Tidak ada pelajaran zakat, sedekah, infak, apa itu kurban. Iya. Dan karakter yang macam-macam. Fitur-fitur ya, ya. Itu tidak ada seluruhnya itu. Agama kita memiliki itu. Eh untuk menunjukkan apa? Wah, ini kaya instrumen. Bukan hanya itu. Bukan hanya itu sebetulnya. Masya Allah. Ini yang saya sampaikan di Bogor Pak, kemarin itu. Oh. Bahwa our ekonomi, perekonomian Islam itu bukan perekonomian produksi tapi ekonomi distribusi. Heem. Ya. Kata produksi hampir-hampir enggak ada di Quran. Atau ada sekali, dua kali. Itupun setelah ditafsirkan. Heem. Tapi kata sedekah itu hampir setiap halaman. Heem. Quran. Iya, ya, ya. Apa tujuannya sedekah itu? Hanya increasing purchasing power. Iya. Kurva demand ke kanan gitu. Kurva demand, iya. Eh, nah, apa maknanya itu? Jadi itulah yang pernah saya sampaikan itu bahwa Ekonomi Islam itu seharusnya bukan production economic tetapi adalah purchasing power economic. Saya saya melihatnya gini, Pak. Tadi Pak Herman yang kita mengatakan bahwa distribusi tadi, Pak ya. Jadi kemudian peningkatan purchasing power itu yang kemudian menggeser kurva demand ke kanan gitu kan, Pak ya. Supply ini kan dari produksi, Pak ya. Produksi in in many example itu kan sangat tergantung ya. Misalnya misalnya produksi pertanian tergantung dari alam. Tergantung dari macam-macam gitu kan, Pak ya. Yang kita perlu advancement teknologi dulu baru kemudian kurva supply itu dengan cepat bergerak ke kanan gitu kan, Pak ya. Dengan adanya pelajaran tentang redistribusi ini yang kemudian mempercepat demand itu ke kanan, maka pricing itu sebetulnya akan bisa lebih konsisten. Karena demandnya ke kanan karena supply-nya itu kan bergerak lambat ke kanan, Pak ya. Dan apa namanya? Demand-nya itu kita arahkan untuk selalu distribusi terus. Ini kan selalu ke kanan terus, Pak. Iya, tapi jangan lupa kalau supply itu tidak bergerak dan demand bergerak itu harga bisa naik. Inflasi ya. Iya. Ya. Tapi kalau misalnya tidak ada ajaran tentang distribusi Heem. Berarti? Berantakan itu, berantakan itu. Masalahnya. Inilah makna daripada surat Al-Hasyr ayat 7 itu. La ilaha illallah. Yang aku. Iya. Artinya apa? Artinya bahwa sebetulnya redistribusi itu akan secara langsung maupun tidak langsung akan Ehh mengatur pricing-nya ini, Pak. Supaya akan tetap di equilibrium atau tidak dinamik dengan. Karena pricing itu kan sunatullah. Iya. Itu pricing itu ya. Terbukti harga karena Rasulullah mengatakan innallah musair. Allahlah yang menetapkan harga. Iya. Lanjut, Pak ya. Jadi yang ketiga sekarang, bahwa purpose of Islamic economic system itu adalah provision of basic human needs. Ya. Jadi gini, Islam itu sakjane ya. Sakjananya ini. Bahasa Inggrisnya apa sakjananya itu? Apa? To tell you the truth. It's likely atau apa ini? Enggak dong. I don't know. Eh actually actually ya. Tapi itu semuanya tidak bisa menggambarkan sakjananya. Sakjananya. Ini hanya orang Jawa yang tahu, Pak. Bahasa Indonesia apa sakjananya? Sebetulnya, sebenarnya gitu ya. Sebenarnya gitu ya. Eh apa topik kita ini? Provision of basic human needs. Ya. Sebetulnya ya. Eh basic needs, basic human needs gitu ya. Eh itu tidak bisa dicapai. Tidak bisa dicapai tanpa kita eh tanpa ada political will. Dari pemerintah. Ya, sebetulnya ini yang nomor tiga. Butir berapa ini? Tiga. Tiga ini ya. provision of basic human needs. Itu kan kepada persoalan khilafah. Artinya ini diarahkan kepada kebijakan negara. Kebijakan negara. Iya. Ya, dalam istilah Arab disebut khilafah. Heem. Eh, nah ini fungsi utama khilafah itu adalah Indonesia itu sakjananya ya. Sakjananya ya. Sakjananya. Tidak mengenal GNP. Oh, iyalah. Itu kan. Gini gini gini gini. Bentar ya. Pendapatan perkapita. Pendapatan perkapita itu apa sih? Ya. Pendapatan nasional itu apa sih? Nasional itu adalah pendapatan orang Indonesia naik apa turun gitu ya. Iya. Tapi mungkin di dalamnya ada orang lapar. Ya, enggak terdeteksi iya. Enggak terdeteksi iya. Kebijakan ekonomi Islam itu adalah orang per orang. Bukan per kota, bukan per provinsi. Tidak penting bahwa Jawa Timur ini maju atau Surabaya ini maju. Yang penting tiap orang Jawa Timur itu makan. Gampangannya begitu. Kalau Bapak mengatakan itu mungkin lebih representatif dalam Islam itu mungkin rasionya, Pak. Rasionya, ya, betullah. Tetapi rasionya pun masih makro dia itu, variabel makro. Tapi paling tidak kita bisa tahu bahwa di situ ada orang miskin. Berapa banyak. Gitu kan. Daripada yang tadi Bapak sebutkan. Ya, maka itu inilah yang disampaikan oleh Syekh Mahmud Sulaiman itu dalam bukunya politik ekonomi Islam ya. Al-Syiasatul Iqtisod gitu ya. Eh yang mengatakan bahwa kita tidak berhubungan dengan negara dan provinsi. Tapi kita berhubungan dengan Abdullah dan Halimah. Orang per orang. Orang per orang. Mikro itu kita bicara mikro ya. Super mikro. Jadi kalau tujuan anu yang disebut kemakmuran ekonomi. Gitu ya. Yang disebut keberhasilan pembangunan itu adalah setiap orang itu gampangannya makan. Artinya eh eh Islam itu mengajarkan untuk hal-hal yang mikro. Karena mikro itu makro akan baik kalau mikronya baik gitu, Pak ya. Oh, ya, ya. Maka itu Sayyidina Umar pada waktu kedatangan tamu ya. Dari Anatolia. Ya. Bahwa kue ya, dimakan. Enak sekali ini. Iya. Ya. Jadi ini sudah makan rakyat di sana. Oh, enggak, Tuhan. Itu makanan para pejabat. Umar mengatakan. Aku tidak punya kebutuhan dengan roti ini. Bawa pulang dan jangan ke sini lagi sebelum semua rakyat sana makan. Ini. Heem. Karena Umar merasakan itu apa enak sekali lah gitu ya. Semua rakyat makan kayak gini ya gitu. No, sir. Ya. That's only for the nobleman. Gitu. Hmm. Oh. Aku tidak punya kebutuhan apa-apa dengan rotimu ini. Yang. Itu kan kita bicara ini, Pak ya. Sorry agak menyimpang sedikit ya. Kita bicara tentang enak tidak enak atau kita bicara tentang kemerataan. Itu pemerataannya. Tapi
[12:37]Oh iya, kalau itu iya. Kalau itu sih pasti. Gitu, Pak ya. Kalau itu sih pasti. Cuma cuma gitu ya. Kita sudah bicarakan tadi itu bahwa ini menyangkut khilafah. Pemerintah. Iya. Umar mengatakan. Isu itu adalah masih ada kemiskinan di situ ya. Iya. Kalau kalau ada kemakmuran, saya yang merasakan terakhir. Karena kalau ada kemelaratan saya merasakan pertama. Saya dia mengatakan, satu hari Umar bin Khattab itu makan tepung, enggak dimasak tepung. Ya, didorong dengan air. Enggak punya samin. Ya. Ya kesulitan dan enggak enak. Ya. Umar, kenapa kok makan itu? Orang bertanya begitu. Saya harus makan sesuatu yang dimakan oleh rakyatku yang paling miskin. Heem. Kenapa? Kalau tidak saya lakukan, saya tidak punya keinginan untuk mengentas mereka. Jadi artinya eh harus dapat feel-nya gitu, Pak ya. Iya, betul. Supaya bisa semangat dalam membuat kebijakan gitu, Pak ya. Ya, bukan hanya itu. Ya, ya. supaya punya semangat untuk iya, betul ya. Supaya bisa semangat dalam membuat kebijakan maka dia harus merasakan. Lanjut, Pak. Establishment of social justice. Itu untuk ya itu. Tujuan lain dari ekonomi Islam. Ya. Eh pendirian dari penegakan keadilan sosial. Keadilan sosial. Ya. Keadilan sosial gitu ya. Keadilan sosial. Aslinya keadilan sosial itu muncul dalam perekonomian barat, ya. Sebagai suatu akal, cara, sarana untuk menutup pengisnya kapitalisme. Bungisnya kapitalisme. Oke, oke, lanjut, lanjut. Ah, supaya kelihatannya kan kalau kapitalisme everybody is an economic animal gitu ya. Kalau Anda menghalangi jalan saya saya sikat ini kapitalisme kan gitu aja. Ya, ya. Eh, kemudian tapi itu di dibicarakan dirasakan banyak orang. Ya sebagai ekonomi yang pengis gitu. Maka muncul ide tentang keadilan sosial itu. Ya. Muncullah kemudian CSR. Ya yang aslinya itu sih ya enggak ada dalam kapitalisme itu enggak ada. Sebetulnya kalau kita berpikir kan gini, Pak. Kita harus bisa membedakan saya, Pak ya. Nanti tolong dikomentari, Pak. Eh karena ada orang mengistilahkan Islamic capitalism gitu loh. Oh, iya. Sehingga ya. Oke lah ten. Artinya gini. Ketika kita berdagang dengan jujur ya. Mengikuti aturan-aturan main yang digariskan oleh Islam. That is? Capitalism. Capitalism. Iya. Apakah itu yang di? No, no, no. Iya dan tidak. Ya jadi gini. Islamic socialism, Islamic capitalism ya. Ya. Artinya harus harus di harus dijelaskan ya. Islamic capitalism apa? Cara hidup kapitalistik menurut ajaran Islam. Yaitu berorientasi kepada laba. Iya. Laba is the most important apa itu namanya? Motif ya. Ya, objektif ya. Objektif and also motif ya. For doing business. Ya. Saya gitu. Itu diakui dalam. Ya, ya. Sangat diakui. Nah, ini supaya tidak salah. Saya khawatirnya adalah orang yang belajar ekonomi Islam itu kemudian menyangka menyangka bahwa laba itu haram, haram dan sebagainya gitu loh. Kalau kan enggak mungkin. Enggak mungkin orang seperti maksudnya sahabat Rasulullah seperti Abdul Rahman bin Auf itu kalau tidak orientasinya laba. Itu kan. Ya. Iya. Cuman masalahnya sekarang adalah laba saja. What next after laba itu didapat. Nah, itu yang kemudian membedakan. Oh, saya mengatakan laba akhirat. Iya. Ya. Did you put it into account? Betul. Betul. Iya. Oke. Jadi intinya adalah social justice itu. Social justice ini sebagai nilai-nilai dasar yang dimiliki Islam. Aslinya itu ya. Eh that it it means keadilan bagi semua. Ya. Setiap orang mendapatkan haknya sesuai dengan haknya masing-masing. Enggak, itu eh dan kemurahhatian. Apa? Generosity. Ya. Kemurahhatian itu yang aslinya tuh tidak ada. Kemudian diperkenalkan di dalam perekonomian konvensional ya yang tadi saya sebut untuk menutupi kepemisan kapitalisme itu. Ya. Tetapi kadang-kadang ini kita mesti tahu bahwa harus dilakukan secara Islam karena kadang-kadang memperkosa sesuatu. Misalnya ya. Misalnya eh HT, harga eceran tertinggi. Tertinggi. Iya. Ya toh. Nah, itu itu adalah perkosaan terhadap sistem supply and demand. Oh, karena enggak market eh market mechanism. Nah, sudah diplot. Iya. Misalnya gitu ya. Begitu pula low price. Tapi mungkin ada tujuan tertentu kan dia ada di HT itu kan, Pak. Tidak. Gini ya. Seorang ahli ekonomi di Indonesia ini saya mau nyebut namanya tapi enggak enak karena nanti urusan politik. Oke, oke. Enggak usah dibahas. Enggak, dia mengatakan begitu. Idenya saja. Idenya saja. Ya. Kalau harga beras tinggi petani makmur. Wajar. Ya. Yang celaka adalah harga beras tinggi petani miskin. Oke. Jadi ada masalah di tengah sini. Tatan Niaga namanya. Betul. Ya. Nah, ini dia. Social justice itu. Nah, itu dia. Ya. Tidak ada social justice di sini. Keadilan tidak ada. Harga beras tinggi petani miskin. Ya. Cari pupuk enggak bisa. Heem. Atau harga pupuk mahal. Dan seterusnya dan seterusnya dan sebagainya. Melarat aja mereka terus-menerus. Gitu ya. Ini ada di sini. Inilah social justice itu. Lanjut, Pak. Promotion of brotherhood persaudaraan dan unity. Bahwa tujuan ini adalah menunjang ukhuwah. Brotherhood kan? Ukhuwah. Iya. Gitu ya. Ukhuwah itu memang salah satu cabang atau sisi daripada eh daripada filsafat ekonomi Islam itu adalah adalah brotherhood. Iya. Itu. Oh, ada Pak. Itu feeling that you are my brother. Ya. Everybody is my brother and sister. Ya. Semua orang itu bersaudara. Ya. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah ketika beliau mengatakan. Bahwa sesungguhnya sekelompok kaum muslimin itu seperti sebuah badan. Bagian manapun yang sakit akan dirasakan sakitnya oleh bagian yang lain. Iya. Gitu. Iya. Eh brotherhhod itu isinya apa? Isinya adalah saling bantu. Merasakan ke penderitaan orang lain, kekurangan orang lain. Iya. Dan ini apa itu wujudnya yang paling nyata secara ekonomi adalah redribusi. Betul, betul. Gitu. Infak, sedekah, segala macam itu ya merasakan ke eh penderitaan orang, kekurangan orang. Iya. Ini hadisnya banyak sekali, ayat Qurannya banyak sekali tentang infak, tentang sedekah itu. Iya, ya. Yang untuk itu itu sesungguhnya itu sebenarnya adalah alat untuk mewujudkan brotherhood. Iya. Rasa bersaudara. Dan juga eh Islam juga mendorong ini ya apa artinya bahwa kita itu seperti bangunan yang kokoh gitu Pak. Itu enggak akan mungkin ketika tidak ada brotherhood yang kuat gitu kan, Pak ya. Iya, ya. Innahallah yhibbuladziina yuqotiluna fi sabilika sofa kaanahum bunyaanum marsus. Seperti bangunan yang kokoh. Iya. Gitu. Lanjut. Achievement of moral and material development. Bahwa tujuan economic system. Moral. Iya. Ini yang sekarang ini we are missing. Yaitu kita hanya berpikir bahwa ekonomi itu ya material. Betul. Ya. Betul. Kalau ngomong mau ngomong apa itu material, jangan bilang jangan bicara ekonomi. Ah, ya. Perdagangan ya perdagangan. Berapa banyaknya kita mau mempunyai pengalaman misalnya. Tapi orang konvensional sendiri kan juga ketika berdagang pasti mau enggak mau mereka pakai moral juga kan. Oh, yes. The basic apa itu listen from there discipline doesn't say that. Heem. Contoh ya. Contoh ya. Di dalam perekonomian konvensional ya tidak pernah dibicarakan kepemilikan. Kepemilikan ownership. Ownership. Ya, enggak ada. Jadi enggak peduli yang dijual itu milik kamu atau atau bukan. Pokoknya laba. Heem. Ya. Ekonomi konvensional itu kalau kita dari sisi bisnis itu pelajarannya cuma tiga kata saja. Kalau Anda hafal tiga ini Anda lulus sudah. Nomor satu laba, nomor dua laba, nomor tiga laba. Itu ya. Kakak baik bisnis. Oke. Gitu ya. Kalau dari teori, ya. Kalau dari teori berilah seekor burung beo. Ajari lah dua kata. Yaitu supply dan demand maka Anda sudah menciptakan seorang ahli ekonomi. Ya. Artinya apa? Eh 100% duniawi. Nomor dua 100% materialistik. Iya. Gitu ya. Eh sudah itu saja. Heem. Ya. Padahal Islam itu ditegakkan atas kesadaran bahwa kita we will have another life after this life. Iya. Itu kan. Betul. Itu. Maka itu tidak ada gunanya sama sekali salah satu cabang terkecil dari sistem ekonomi Islam atau pelajaran ekonomi Islam. Yang tidak mempertimbangkan moral. Maka itu di mana-mana saya katakan apa, Pak, bedanya marketing Islam dengan marketing tidak Islam? Ya. Kalau marketing yang konvensional ya kewajiban Anda memuji barang. Heeh. Ya. Di dalam ekonomi Islam kewajibannya itu menceritakan aib barang. Ah. Sedangkan memuji itu boleh asal enggak bohong. Heem. Ya. Maka itu testimoni itu pemakai obat ini. Iya. Si A sudah sembuh si B sembuh si C sembuh. Ya. Asal enggak bohong boleh. Iya. Maka itu testimoni itu pemakai obat ini. Iya. Si A sudah sembuh si B sembuh si C sembuh. Ya. Asal enggak bohong boleh. Sedangkan memuji itu boleh asal enggak bohong. Heem. Ya. Maka itu testimoni itu pemakai obat ini. Iya. Si A sudah sembuh si B sembuh si C sembuh. Ya. Asal enggak bohong boleh. Iya. Maka itu testimoni itu pemakai obat ini. Iya. Si A sudah sembuh si B sembuh si C sembuh. Ya. Asal enggak bohong boleh.



