Thumbnail for ISLAM Sbg INOVASI SOSIAL TERSUKSES MASUK INDONESIA LEWAT BUDAYA TAHLILAN DLL- by Rachmat Kriyantono

ISLAM Sbg INOVASI SOSIAL TERSUKSES MASUK INDONESIA LEWAT BUDAYA TAHLILAN DLL-

Rachmat Kriyantono

24m 57s2,425 words~13 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Pull quotes
[0:09]Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Tuhan yang Maha Kuasa.
[0:09]Saudara-saudara mahasiswa, Islam merupakan salah satu inovasi sosial terbesar yang pernah dirasakan oleh bangsa Indonesia.
[0:09]Ini membuktikan bahwa inovasi sangat tergantung pada kapasitas sistem komunikasi yang dijalankan.
[0:09]Untuk menyampaikan isi inovasi sehingga masyarakat bisa aware, bisa tahu, bisa paham, ya.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:00]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala sayyidina Muhammad.

[0:09]Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Tuhan yang Maha Kuasa. Kita bertemu lagi dalam perkuliahan hari ini. Saudara-saudara mahasiswa, Islam merupakan salah satu inovasi sosial terbesar yang pernah dirasakan oleh bangsa Indonesia. Mengapa? Karena menghasilkan hasil yang luar biasa. 244 juta orang Indonesia sekarang ini beragama Islam. Artinya 13% dari total 1 miliar 150 juta. Ini bukti inovasi yang luar biasa. Mengapa demikian? Karena strategi komunikasi dakwah yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa inovasi sangat tergantung pada kapasitas sistem komunikasi yang dijalankan. Di dalam inovasi ya, komunikasi itu harus dimanajemen untuk apa? Untuk mengenalkan inovasi. Untuk menyampaikan isi inovasi sehingga masyarakat bisa aware, bisa tahu, bisa paham, ya. Bisa mengerti. Kemudian yang berikutnya inovasi harus dikomunikasikan supaya apa? Muncul rasa senang, muncul sikap positif, rasa positif terhadap inovasi tersebut sehingga orang apa? Tertarik atau interest. Kemudian komunikasi harus bisa membangun hubungan makin baik dengan masyarakat. Tidak terjadi konflik, tidak terjadi rasa tidak suka, rasa benci, ya. Kemudian inovasi harus dikomunikasikan supaya muncul perubahan sikap dan perubahan perilaku pada diri masyarakat. Nah, perubahan sikap dan perilaku ini yang bisa disebut telah terjadi adopsi atau mengimplementasi ya. Atau masyarakat mengonfirmasi dengan menerapkan inovasi berulang-ulang. Nah, saudara-saudara, penyebar Islam di Indonesia boleh dikatakan telah menjalankan strategi komunikasi dakwah yang sesuai dengan prinsip atau ajaran Al-Qur'an, ya. Secara umum, Al-Qur'an sudah memberikan fondasi dalam menyebarkan Islam itu harus apa namanya? Menyampaikan dengan hikmah, dengan kebijaksanaan, dengan ilmu, dengan pengetahuan, ya. Bukan dengan paksaan. Dengan semangat apa? Amar ma'ruf nahi mungkar. Dengan semangat bahwa jika inovasi ini dilakukan atau Islam diadopsi, maka berefek pada kemaslahatan bersama. Kemaslahatan bersama, bukan kemaslahatan para penyebarnya, bukan, tapi kemaslahatan bersama dunia dan akhirat ya, untuk harmoni kehidupan. Nah, itu secara umum pedoman dari Al-Qur'an. Ya. Kita ketahui bersama ya, dalam bukunya Profesor Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Wali Songo bahwa penyebaran Islam di Indonesia ini sudah mulai masuk pada abad ketujuh. Nah, pada abad itu, Indonesia ini sudah terbentuk ya, terbentuk dalam artian tata masyarakatnya. Ya, nama Indonesia belum ada ya, waktu itu masih Jawadwipa ya, masih Nusantara. Pada waktu itu di Jawa sudah ada kerajaan Kalingga, ya, Hindu. Kemudian juga pada abad ke-10, penyebaran Islam juga sudah masuk dari orang-orang Persia. Orang-orang Persia ini dianggap sebagai Wong Lor karena datangnya dari utara ya, kemudian orang-orang Persia ini sudah mulai bermukim di Indonesia, ya di Nusantara. Sehingga disebut perkampungan Loram. Kemudian pada abad ke-14 ya, penyebaran Islam sudah mulai sistematis dan mulai masif, tertata, termanage ya, dengan strategi yang sudah baik ya. Waktu itu tokoh yang terkenal ya, adalah Sayyid Maulana Malik Ibrahim, yang kemudian kita kenal sebagai Wali Songo yang pertama. Juga ada nama Jamaluddin Kubro, ada nama Sayyid Hasanuddin Kurong. Jadi ketiga sayyid ini merupakan cucu asli Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari jalur Sayyidina Hasan Sayyidina Husein. Nenek moyang mereka, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein ini berasal dari Hijaz. Hijaz itu ya Makkah, Madinah ya. Namun mereka berimigrasi ke Maroko ya, ada yang ke Iran dan Uzbekistan. Kemudian mereka datang ke Nusantara ini. Ya, jadi mereka adalah keturunan Kanjeng Nabi yang asli. Ini saya tekankan karena banyak orang sekarang ini yang ngaku-ngaku keturunan Nabi, ngaku-ngaku cucunya Nabi, tapi ternyata secara ilmiah tidak terbukti ya. Nah, ini yang perlu kita hati-hati. Kembali ke bahasan semula, bahwa penyebar Islam telah mengadopsi strategi komunikasi dakwah yang luar biasa. Apa itu ya? Dalam menyebarkan Islam, mereka menjalankan prinsip illa rahmatan lil alamin, wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin, bahwa menyebarkan Islam harus berprinsip Islam itu untuk rahmatan lil alamin. Untuk harmoni seluruh humankind. Bahwa Islam itu adalah universal ajarannya untuk semua manusia. Tetapi cara mengomunikasikannya harus sesuai juga dengan ayat Qur'an yang lain ya, ada Qur'an surat Ibrahim ayat 4.

[6:51]Bahwa para rasul diutus dengan bahasa kaumnya. Quran Internasional dari Abdullah Yusuf Ali itu menyampaikan bahwa the word bahasa, kata bahasa ini tidak hanya pada kata-kata, kalimat-kalimat, huruf ya. Tetapi juga ya, tetapi juga bahasa nonverbal. Ini juga sesuai dengan teori komunikasi, bahwa bahasa itu adalah produk budaya. Produk akal budi manusia untuk menyampaikan pesan. Nah, bahasa ini dikenal dengan bahasa verbal dan bahasa nonverbal. Ya, jadi meskipun ajarannya universal, tetapi menurut Al Hujurat ayat 13, manusia itu diciptakan. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, beretnis-etnis yang berbeda. Ya, sehingga mereka harus saling memahami, saling lit'aruf, saling mengenal. Nah, artinya meskipun Islam itu universal ya, ajarannya universal, tetapi cara menyampaikan ajaran itu harus sesuai dengan karakter manusia yang berbangsa-bangsa, bersuku-suku, beretnis yang berbeda. Dan ini diperkuat oleh wahyu Allah Ar-Ra'd ayat 7, yakni bagi setiap kaum ada pemberi petunjuk. Kemudian juga An-Nahl 36, setiap umat telah diutus rasul. Nah, jadi setiap umat diutus oleh para rasul ya, sehingga para rasul juga diminta untuk berbicara dengan bahasa kaumnya. Ya, terbukti ada 124 ribu nabi dan 315 rasul yang telah dikirim selama sejarah manusia. Bahkan ada prinsip lain dari hadis Kanjeng Nabi Muhammad, yakni berbicaralah sesuai kadar akal atau kemampuan masyarakat.

[9:30]Kadar akal dan kemampuan masyarakat ini ya, merupakan pola pikir, termasuk juga kebiasaan masyarakat ya, yang mereka telah lakukan sehari-hari. Masyarakat itu pasti punya standar bahwa ini yang cocok untuk saya, ini perilaku ini yang terbaik untuk saya. Itulah yang kita maknai sebagai standar kadar akal atau kemampuan masyarakat. Nah, Saudara-saudara, prinsip-prinsip Al-Qur'an tadi oleh para wali diterjemahkan dalam dua strategi besar, yakni asimilasi dan akulturasi. Asimilasi itu pertemuan antara dua budaya ya, dan akhirnya dua budaya ini melebur sehingga muncul budaya baru. Budaya lama itu seakan-akan tidak tampak. Nah, contoh ya, di Qur'an itu ada bahasa Shouum ya. Di Qur'an ada bahasa apa namanya itu? Shouum. Tapi oleh para wali ya, kemudian mereka mengasimilasi dengan bahasa masyarakat waktu itu yaitu Upawasa. Upawasa ini kebiasaan berpuasa pada masyarakat Hindu. Nah, sekarang menjadi puasa. Ya. Kemudian yang kedua ada contoh salat, tapi kemudian diterjemahkan menjadi sembahyang. Dipakai kata sembahyang. Kata Hyang, yang tulisannya Hyang ya, Hyang, itu sebenarnya bukan dari bahasa Hindu ya. Tetapi itu merupakan bahasa Jawa kuno. Nah, sembahyang, yang itu artinya Tuhan yang Maha Kuasa ya. Kemudian ada Kanjeng. Kanjeng Nabi Muhammad ya. Kanjeng Nabi Muhammad. Penggunaan kata Kanjeng ini enggak ada di bahasa Arab, di bahasa Qur'an ya. Tetapi kemudian dipakai untuk menyebut nama Kanjeng Nabi Muhammad. Juga penggunaan kata Kiai yang khas Nusantara ya, serta ada budaya imsak. Di Arab Saudi maupun di negara lain itu enggak ada imsak itu enggak ada. Tapi di masyarakat kita ada kebiasaan budaya namanya Imsak. 10 menit sebelum subuh, ya kan? Nah, itu biasanya masyarakat kita itu tabuh beduk, ya kan? Atau mungkin apa namanya itu memperdengarkan selawat tahrim dari masjid-masjid, ya kan? Termasuk juga pengumuman-pengumuman ya, saudara-saudara, imsak telah tiba, imsak telah tiba, imsak telah tiba, maka berhati-hatilah untuk tidak banyak makan. Nah, gitu contohnya. Itu hanya budaya di Indonesia. Ya. Asimilasi dari ajaran Islam. Ajaran Islam itu mengatakan bahwa puasa itu ya, sebelum subuh itu jangan makan ya, ya. Kalau azan masih makan itu berarti puasanya batal. Nah, kemudian diterjemahkan oleh masyarakat kita dalam bentuk imsak. Dan yang kedua, strategi akulturasi. Akulturasi ini adalah perpaduan dua budaya, tetapi sifat masing-masing budaya masih tampak. Ya. Contoh, Tahlilan. Tahlilan itu mengadopsi ya, mengadopsi ajaran Islam ya. Eh dan juga budaya di Arab ada ya, mendoakan orang yang meninggal ya, bersedekah ya kan? Kemudian apa senyum, sapa, salam, saling membantu, baca Qur'an ya. Itu ajaran Islam yang juga dilakukan oleh masyarakat di Arab ya. Nah, tetapi masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat yang gotong royong. Masyarakat Indonesia itu senang ngumpul. Masyarakat Indonesia itu mangan gak mangan sing penting kumpul, ya kan? Nah, budaya cangkruan, budaya gotong royong akhirnya dikemas, doa bersama untuk para arwah dilakukan bersama-sama, kumpul-kumpul. Maka itulah tahlilan ya. Kemudian juga ada megengan, sama. Megengan ini adalah kegiatan ya, untuk menyambut datangnya bulan puasa. Ah, ini kebiasaan khas masyarakat kita, tetapi isinya ya, isinya adalah ajaran Islam yang juga dilakukan oleh orang Arab. Seperti apa? Ziarah kubur, ya kan? Kemudian bersih-bersih lingkungan ya, dan sebagainya, itu megengan. Ya, juga ada acara halal bihalal. Budaya bermaafan ya, bertemu dengan budaya kebersamaan gotong royong, muncul budaya baru yang disebut halal bihalal. Nah, Saudara-saudara, itu alasan pertama ya, bahwa penyebaran Islam itu sukses karena sesuai strategi komunikasi yang disampaikan dalam Al-Qur'an. Alasan yang kedua begini ya. Islam itu untuk manusia ya. Islam itu ditujukan untuk manusia. Nah, manusia itu baru bisa disebut manusia ya, kalau dia berbudaya. Jadi enggak mungkin manusia itu hidup tanpa budaya. Tiap hari manusia itu berinteraksi sosial. Tiap hari manusia itu saling apa namanya? Memenuhi kebutuhan hidup dengan berinteraksi dengan manusia yang lain. Di situlah muncul pola-pola perilaku, pola-pola pemikiran ya, dan pola-pola itulah yang disebut budaya. Jadi budaya itu adalah hasil akal budi ya, hasil pemikiran manusia dalam menjalani kehidupan untuk mempermudah kehidupan sehingga manusia itu bisa langgeng, manusia itu bisa bertahan hidup, punya daya, punya kekuatan. Jadi budaya adalah hasil akal budi. Nah, Edward T. Hall, seorang ilmuwan dari Barat mengatakan, communication is culture. Artinya apa? Bahwa semua proses komunikasi tidak berjalan dalam ruang hampa. Proses komunikasi itu pasti melekat di dalamnya budaya atau kebiasaan masyarakat. Saya berbicara seperti ini, itu juga sangat terkait dengan budaya saya. Anda juga demikian ya. Sehingga dalam menyampaikan inovasi, Anda juga harus tahu kebiasaan masyarakatnya. Anda adalah the man behind the gun. Anda adalah orang yang memegang senjata, yang menembakkan pistol ya, yang berisi peluru, peluru ditembakkan sampai ke sasaran. Anda harus tahu sasarannya siapa ya, sehingga nembaknya tidak ngawur ya, nembaknya tepat sasaran. Nah, ketahuilah budayanya ya, karena manusia berbeda-beda, Anda harus lit'aruf, harus memahami dan mengenal ya. Kemudian yang berikutnya, kenapa kok pakai budaya? Karena Nusantara ini bangsa yang besar, Saudara ya. Kita ini bangsa besar. Banyak kerajaan-kerajaan yang luar biasa. Tadi ada Kalingga, belum lagi Sriwijaya, belum lagi Singosari, kemudian Tarumanegara, Pajajaran, bahkan negara yang paling besar adalah Majapahit. Indonesia adalah superpower. Sehingga Indonesia sudah punya tata pemerintahan yang baik, sudah punya peradaban yang luar biasa ya, peradaban Hindu, peradaban Buddha. Jadi Indonesia ini sudah tertata. Tiba-tiba muncul inovasi baru bernama Islam. Islam juga sudah sempurna ya. Al-Ma'idah ayat 5 mengatakan, Islam itu agama yang paling sempurna. Nah, yang sempurna ketemu sempurna. Indonesia masyarakatnya sudah sempurna, tertata ya, Islam juga sempurna, tertata. Nah, ini bagaimana mengolahnya? Kalau tidak hati-hati, maka bisa memunculkan konflik, bisa memunculkan perang agama, ya kan? Antara Hindu, Buddha, dan Islam. Tentu ini sangat sulit ya untuk dihindari kalau para Wali Songo, para Kiai tidak menggunakan pendekatan budaya. Manusia itu ya, menganggap budaya itu bagaikan darah yang mengalir dalam diri kita. Jadi budaya itu bagaikan darah.

[18:09]Kita itu seringkali tidak terasa kan kalau di dalam tubuh kita itu ada darah yang mengalir. Kita juga tidak merasa kalau kita itu setiap saat menghirup udara. Jadi budaya itu bagaikan aliran darah atau bagaikan hirupan udara lewat hidung kita. Jadi ketika kita menyampaikan inovasi lewat jalan budaya, orang itu merasa tidak apa ya, tidak terasa ya, tidak ada unsur pemaksaan. Tiba-tiba loh, ternyata sama ya. Ternyata di sana ada puasa, di sini juga ada Upawasa ya, sehingga mereka mudah untuk menerima ya. Ada prinsip homofili yang saya lihat dilakukan oleh para ulama kita. Homofili itu artinya ketika kita berkomunikasi, kita harus berusaha menyamakan diri kita dengan orang yang diajak berbicara. Kita harus paham mereka. Kita bagaimana caranya harus memposisikan diri seperti mereka. Sasaran kita pasti punya namanya frame of reference, kerangka rujukan. Masyarakat kita itu sudah turun temurun punya budaya. Budaya itu dari nenek moyang mereka. Nenek moyang itu menjadi kerangka rujukan, dianggap contoh, teladan. Sehingga kebiasaan nenek moyang dianggap yang terbaik bagi mereka. Nah, karena itu Islam bagaimana caranya ya, harus memposisikan diri ya, untuk juga menjadi kerangka rujukan. Nah, supaya tidak terjadi konflik, bagaimana kerangka rujukan yang lama bisa hidup berdampingan dengan kerangka rujukan yang akan dikenalkan atau akan diinovasikan. Kemudian masyarakat juga punya field of experience, punya pengalaman, punya kebiasaan, ya. Sehingga kita juga harus memahami kebiasaan itu ya, jangan kita menentang kebiasaan itu ya. Belum-belum sudah menentang, belum-belum sudah mengatakan kebiasaan lama itu jelek. Nah, ini nanti bisa muncul konflik. Dan yang terakhir, mengapa kok sampai 244 juta masyarakat Islam di Indonesia ini terbentuk ya? Karena strategi komunikasi para Wali Songo pada abad-abad yang lalu, sekitar 500 tahun yang lalu sampai sekarang tetap diwariskan lewat komunikasi dakwah. Diwariskan oleh para Kiai, Kiai sekarang ini. Salah satunya lewat pondok-pondok pesantren. Jadi para Kiai meneruskan ajaran-ajaran Wali Songo tersebut ya, budaya tahlilan ya, yasinan, istighosaan, selawatan, halal bihalal, megengan dan sebagainya, itu harus tetap dilestarikan, diteruskan. Kenapa? Edward T. Hall mengatakan, Communication is culture, culture is communication. Komunikasi adalah budaya, budaya adalah komunikasi. Komunikasi tanpa budaya akan bersifat kaku. Kaku itu artinya muncul konflik, muncul penolakan, kaku. Tidak bisa harmoni dengan kebiasaan masyarakat ya. Kemudian budaya tanpa komunikasi mati atau hilang atau musnah. Jadi kalau dulu Islam ini masuk lewat jalur tahlilan, Islam masuk lewat jalur wayang, Islam masuk lewat jalur megengan, selawatan, yasinan dan sebagainya, maka tentu saja ketika sekarang Islam ini berkembang, jalur-jalur budaya tersebut jangan dianggap ketinggalan zaman. Jalur-jalur budaya tersebut jangan dibida-bidahkan, jangan diharam-haramkan, jangan disesat-sesatkan. Kita ini seringkali lupa diri. Kita ini seringkali sombong, mentang-mentang Islam ini sekarang sudah besar ya, kemudian kita lupa pada sejarah ketika Islam ini baru masuk. Islam ini bisa masuk dan berkembang karena memang para Wali Songo menerapkan jalur-jalur budaya dalam komunikasi dakwah tersebut, ya. Jadi ini pewarisan yang harus dilakukan. Karena itulah para Kiai kita ya, punya apa namanya itu? Punya prinsip Al Muhajazah ala qodimi saleh wal aslah. Artinya apa? Kebiasaan-kebiasaan yang baik di masa lalu, kebiasaan lama yang baik itu tetap dijaga, tapi akan menerima kebiasaan baru yang lebih baik. Tahlilan itu baik ya. Kenapa? Tahlilan itu satu, dapat pahala membaca Qur'an, Qulhu ya kan? Qur'an An-Nas, Al-Falaq, ya juga apa namanya? membaca Yasin, juga membaca Al-Baqarah, juga Qur'an apa ayat Qur'an yang lain ya, banyak ya. Eh, meskipun hanya potongan-potongan seperti ayat Kursi ya, itu dibaca juga dalam tahlilan. Kemudian juga mendapat pahala selawat ya. Kemudian mendapat pahala sedekah, mendapatkan pahala mendoakan orang yang sudah wafat atau orang tua yang sudah wafat, mendapat pahala senyum, sapa, salam, mendapat pahala harmoni, kumpul-kumpul, guyup rukun. Nah, artinya apa? Sekali acara, sekali duduk kita mendapatkan banyak pahala. Itu kan kebiasaan yang baik. Jadi ya, jangan dihilangkan. Kemudian kita juga harus yakin ya, bahwa kebiasaan-kebiasaan itu yang membuat apa? Harmoni terjaga bagi NKRI. Kenapa? Karena sering terjadi keguyupan bersama. Persatuan dan kesatuan terjaga. Masyarakat kita itu senang gotong royong, senang kebersamaan. Sehingga para wali mengadopsi nilai-nilai itu dengan mengenalkan ya, kegiatan-kegiatan ibadah dengan cara kumpul-kumpul kebersamaan. Itulah Saudara, bagaimana sebuah strategi komunikasi yang sukses membangun inovasi baru. Wallahul muwaffiq illa aqwamith Thoriq. Assalamualaikum.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript