Thumbnail for YANG DISAKITI TERNYATA SEORANG MANTAN M4FI4 PALING DI TAKUTI- Alur cerita film Action terbaik by Mager Santay

YANG DISAKITI TERNYATA SEORANG MANTAN M4FI4 PALING DI TAKUTI- Alur cerita film Action terbaik

Mager Santay

16m 32s4,703 words~24 min read
Auto-Generated

[0:02]Kisah berlatar di sebuah kota Marseille di Prancis. Kita akan diperlihatkan pada seorang pria bernama Charlie Mattei. Dia merupakan mantan mafia yang paling ditakuti dan masih berpengaruh di kota tersebut. Setelah memutuskan pensiun dari dunia mafia, Charlie kini menjalani hidup damai bersama keluarganya. Dan memiliki dua anak bernama Eva dan si bungsu David.

[0:27]Pada suatu hari Charlie sedang jalan-jalan menghabiskan waktu bersama David dan memutuskan mampir ke sebuah pasar untuk membeli cilok. Namun di sana, David tertarik menyaksikan pertunjukan kambing berputar. Aku akan parkir di sana. Sehingga Charlie pun menurunkan David dan memintanya untuk menunggu sebentar di sana. Sementara ia pergi memarkirkan mobilnya di basement.

[0:52]Namun tiba-tiba, beberapa orang bertopeng menembak Charlie dengan sangat brutal.

[1:06]Meski dihujani tembakan terlihat tubuh Charlie masih mampu bergerak dan untungnya dia segera dilarikan ke rumah sakit agar mendapat pertolongan medis. Luka tembakan. Fungsi cardiovascular normal.

[1:18]Kondisi Charlie yang terluka parah memaksa dokter dan tim medis harus berjuang keras melakukan operasi untuk mengeluarkan 22 peluru yang bersarang di tubuh Charlie. Peristiwa ini pun langsung menjadi viral dan menggemparkan semua warga di Kota Marseille. Termasuk si kepala polisi dan bawahannya yang seorang detektif bernama Merry Goldman. Merry diperintahkan langsung oleh Pak Komandan untuk menyelidiki kasus ini dan mencari siapa dalang di balik penembakan tersebut. Saya lebih suka pembunuhnya dihukum. Saat sampai di tempat kejadian, Merry menemukan sebuah kejanggalan di mana ia memperhatikan ada enam lubang tembakan yang sengaja diarahkan di titik yang sama. Seolah-olah mengirim pesan rahasia, berkat penyelidikan ini terungkap fakta yang mengejutkan bahwa Charlie Mattei adalah mantan mafia besar yang pernah menjadi penguasa dan paling ditakuti di kota ini. Charlie Mattei, usia 57, salah satu dari gembong mafia terakhir di Marseille. Sejak usia muda, Charlie sudah meniti karir sebagai seorang mafia dan berhasil membangun kerajaan bisnisnya. Mulai dari klub malam tempat karaoke, kasino, panti pijat, rental PS, warung kopi hingga berbagai bisnis lainnya yang membuat nama Charlie semakin disegani.

[2:38]Tapi sejak 3 tahun lalu, Charlie memutuskan untuk bertobat dan pensiun menjadi bos mafia. Dia menjual semua usaha bisnisnya kepada dua orang mafia yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri bagi Charlie. Mereka bernama Tony dan Aurelio. Sahabat sampai mati. Sahabat sampai mati. Sahabat sampai mati. Charlie Mattei telah pensiun, tiga tahun lalu Mattei menjual sahamnya

[3:05]terlihat Tony sedang berkumpul bersama keluarganya dan ia sangat terkejut ketika mendapat kabar dari anak buahnya tentang insiden yang menimpa Charlie. Lalu kita akan diperlihatkan dengan sifat Tony yang arogan. Dia menjewer anak buahnya hanya gara-gara masuk ruangan tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Sudah tua gak tahu sopan santun.

[3:27]Sementara partner Tony yaitu Aurelio bahkan lebih kejam. Dia tanpa ragu menembak anak buahnya setelah ketahuan korupsi sedikit uang organisasi untuk biaya pengobatan ibunya.

[3:42]Tony dan Aurelio benar-benar tak ada toleransi, tak mengenal ampun dan tak ada rasa kasihan. Sifat kejam inilah yang membuat keduanya sangat cocok sebagai partner bisnis dalam dunia mafia. Sedangkan Charlie terlihat baru pulih dari komanya dan masih terbaring di rumah sakit. Namun tiba-tiba Merry datang dan mencoba menggali informasi dari Charlie agar mendapatkan petunjuk tentang para pelaku penembakan tersebut. Charlie yang masih kesakitan menahan banyak luka tembak di tubuhnya, dia hanya mampu mengatakan kalau dirinya tidak tahu dan tak memberi informasi apapun. Penyelidikan kami akan buntu tanpa bantuanmu. Kau mengenal penembaknya? Tidak. Setelah kepergian Merry, datanglah dua anak buah Charlie bernama Karim dan Martin, yang keduanya juga telah pensiun dari dunia mafia. Melihat kondisi Charlie yang memprihatinkan, seketika Karim langsung emosi dan akan memburu pelaku penembakan tersebut. Martin mencoba menenangkan Karim dan memintanya untuk bersabar dan tak melakukan tindakan ceroboh hingga menunggu Charlie sudah pulih agar mereka bisa menyusun rencana yang lebih matang. Ketika suasana rumah sakit begitu sepi munculah seorang pria yang menyamar sebagai seorang dokter dan pastinya diperintahkan untuk menghabisi Charlie. Namun untungnya, lagi dan lagi Charlie berhasil selamat berkat Merry yang memindahkan Charlie ke ruangan lain setelah ia menyadari jika si pelaku akan kembali datang untuk menghabisi targetnya.

[5:16]Keesokan paginya Tony datang ke rumah sakit untuk menjenguk Charlie sahabatnya. Kedatangan Tony membuat para polisi yang berjaga sampai ketakutan dan memilih pergi dari sana setelah tahu siapa yang datang. Aku ingin merokok dulu. Kondisimu membaik. Luar biasa. Bunganya indah sekali. Kau saudaraku, aku bersumpah akan kutemukan pelakunya. Terima kasih. Setelah kepergian Tony, dokter memeriksa kondisi Charlie dan menyampaikan kabar buruk di mana sebagian saraf di tangan kanan Charlie telah rusak yang menyebabkan jari-jarinya mati rasa dan tidak lagi bisa digerakkan. Namun jarimu tak bisa berfungsi lagi. Saraf radialmu sudah rusak. Kami sudah berusaha semampunya. Tak lama kemudian Karim dan Martin datang ke rumah sakit dan membawa Charlie pergi dari sana untuk bertemu dengan seseorang yang diyakini mengetahui informasi tentang siapa pelaku penembakan tersebut. Namun ternyata aksi mereka telah diketahui Merry lewat kamera CCTV sehingga dia langsung melakukan pengejaran. Mengetahui kalau mobil mereka sedang diikuti, Karim segera meminta bantuan temannya untuk menemukan jalur yang aman agar bisa mengelabui Merry.

[6:31]Nordine, sekarang! Cepat!

[6:43]Mereka akhirnya sampai di sebuah bangunan tua yang terdapat seorang pria yang berhasil ditangkap dan ternyata dia adalah anak buah Tony bernama Fredy. Melihat kedatangan Charlie membuat Fredy sangat ketakutan bahkan dia sampai ngompol di celana. Aku tak melakukan apapun. Yang kukatakan cuma omong kosong. Ceritakan dari awal. Dengan gemetar Fredy mengungkapkan fakta yang sebenarnya terjadi. Tony ternyata berencana mengembangkan bisnis kotor di kota ini, yakni jualan narkoboy dan obat-obat terlarang. Bisnis tersebut tentu saja akan membuat Charlie sangat marah karena kota tempat tinggalnya tercemar oleh barang haram. Tony pun menyadari kalau Charlie akan menjadi penghalang sehingga dia memutuskan untuk menyingkirkan Charlie dengan menyuruh delapan anak buahnya untuk menghabisi Charlie sahabatnya sendiri. Dia takut denganmu. Dia kuatir melihat reaksiku. Hanya kau penghalangnya. Aku? Mendengar pengakuan Fredy tersebut membuat Charlie tak menyangka dengan kelakuan Tony yang berani mengkhianatinya. Karena tak terima jika bosnya sedang diburu, mereka pun mengusulkan untuk memperpanjang masalah ini yaitu melakukan pembalasan dengan menghabisi Tony. Namun Charlie yang kini ingin menjalani hidup dengan damai memutuskan mengampuni perbuatan Tony, bahkan juga si Fredy. Dengan tegas Charlie melarang mereka bertiga untuk melakukan balas dendam. Aku harus menepati janji. Sahabat hingga mati. Beri dia pakaian dan antar kerumahnya. Setelah mengetahui dalang di balik semua ini Charlie lalu diantar Martin pulang ke rumahnya. Dan seketika suasana tangis haru tak terbendung. Mereka semua sangat bersyukur menyaksikan Charlie telah sembuh dari masa kritisnya dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga tercinta. Di sisi lain kita akan diperlihatkan pada salah satu anak buah Charlie yaitu Karim. Yang berlatar belakang keluarga muslim, kehidupan mereka terlihat sangat sederhana namun penuh kebahagiaan dan kedamaian. Tapi siapa sangka, kebahagiaan itu direnggut oleh anak buah Tony yang datang menculik Karim dan membawanya ke suatu tempat.

[8:50]Ternyata dalang di balik aksi penculikan ini adalah si Fredy yang tak tahu terima kasih, meski sebelumnya nyawanya diampuni. Lalu kita diperkenalkan dengan salah satu anak buah Tony yang paling kejam bernama Pascal. Dia langsung menembak Fredy hanya gara-gara banyak bicara.

[9:09]Kekejamannya belum sampai di situ, Pascal meminta sebuah pisau untuk memotong tubuh Karim. Lalu diberikan kepada anjing-anjing yang kelaparan. Frank, lepaskan anjingmu. Mereka harus diberi makan. Sungguh betapa sakit hatinya Charlie ketika harus melihat keluarga duka menangis saat tubuhnya Karim dimakamkan. Amarah Charlie pun memuncak hingga ada sebuah bisikan merasuki jiwanya untuk menciptakan lingkaran karma yaitu balas dendam. Allahuakbar. Allahuakbar. Sebelum memulai rencananya, Charlie meminta salah satu anak buahnya yaitu Susan untuk menyembunyikan keluarganya ke tempat yang aman dan tak mudah dilacak oleh siapapun. Sementara di sisi lain anak buah Tony dan Pascal sedang berpesta merayakan ulang tahun salah satu rekan mereka. Dengan sombongnya mereka merasa sebagai mafia yang tak terkalahkan oleh siapapun. Namun tanpa mereka sadari, tiba-tiba Kumpulkan semua senjata kalian. Satu per satu. Cobalah bertindak bodoh, kita akan jadi abu bersama. Charlie datang sambil menodongkan pistol dan menggenggam sebutir granat di tangannya yang membuat mereka semua ketakutan. Kedatangan Charlie di sini hanya untuk memberi peringatan dan tidak berniat membantai mereka semua. Ia memberi kesempatan kepada Pascal dan kawan-kawan untuk pulang dan bertemu dengan keluarga mereka masing-masing. Charlie ingin mereka merasakan penyesalan bagaimana rasanya cemas diburu seseorang dan merasa takut akan bayang-bayang kematian. Karena entah sekarang atau nanti Charlie akan datang lagi untuk menghabisi mereka satu per satu tanpa ada seorang pun yang selamat. Sebagai permulaan Charlie menghabisi salah satu dari mereka untuk membuktikan bahwa peringatannya tidak main-main. Kalian tak akan aman, selagi aku masih hidup. Selamat ulang tahun, Bastien.

[11:02]Di sisi lain Susan telah membawa keluarga Charlie ke tempat aman dan menjadi pengawalnya. Sementara Charlie melanjutkan misinya dengan memburu si gondrong ketika sedang ziarah ke makam putranya. Si Gondrong pun hanya bisa pasrah ketika akan dieksekusi karena telah menjadi fakta bahwa tak ada yang bisa lolos dari seorang Charlie Mattei.

[11:26]Tentu saja insiden ini memancing perhatian Merry yang sebenarnya masih sibuk menangani kasus penembakan Charlie. Namun kini ia dihadapkan pada kasus baru yaitu tewasnya beberapa anak buah Tony. Merry pun memutuskan untuk menemui Tony di rumahnya dan berharap mendapatkan informasi dari Tony tentang kematian dua anak buahnya. Sebenarnya Tony telah mengetahui bahwa Charlielah pelakunya. Namun dia mengaku kepada Merry kalau dirinya tidak memiliki informasi apapun. Tony khawatir jika dia mengungkapkan yang sebenarnya, tentu saja Merry dan kepolisian akan menyelidiki lebih jauh kasus ini sehingga justru akan menyeret dirinya ke dalam masalah. Kau ingin membujukku menyelidiki kasus ini? Kusarankan awasi Mattei.

[12:13]Tanpa buang waktu, Tony segera memerintahkan anak buahnya untuk mengobrak-abrik rumah Charlie dengan tujuan memancing di mana Charlie bersembunyi. Dan benar saja, Martin yang mengetahui hal itu bergegas pergi menemui Charlie untuk melaporkan kejadian tersebut. Namun tanpa ia sadari jika dirinya sedang diikuti oleh anak buah Tony. Sehingga keberadaan Charlie pun ketahuan. Alhasil anak buah Tony langsung menyerbu tempat persembunyian Charlie dan baku tembak pun tak bisa dihindari.

[12:55]Karena kalah jumlah menghadapi musuh Charlie meminta Martin untuk segera pergi. Namun sayangnya dia malah tertangkap. Sementara Charlie memutuskan kabur dengan naik KLX untuk menyelamatkan diri, sehingga aksi kejar-kejaran pun terjadi.

[13:23]Di tengah pengejaran Charlie mengambil keputusan nekat. Ia dengan sengaja menabrakkan dirinya tepat di hadapan para polisi supaya musuh tak lagi menyerangnya. Kalian mendengarku? Charlie akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa langsung oleh Merry. Di sana Merry memberikan informasi tentang temuan mencurigakan di tempat kejadian. Bahwa dari total 22 peluru yang bersarang di tubuh Charlie, namun terdapat enam bekas tembakan yang sengaja diarahkan meleset. Hal ini menunjukkan bahwa dari delapan pelaku penembakan ada satu orang yang nampaknya tidak berniat membunuh Charlie. Merry akhirnya memutuskan untuk membebaskan Charlie karena dia telah mengetahui dalang dari semua insiden ini adalah Tony. Karena belum memiliki bukti yang kuat untuk menangkapnya, maka dia mengajak Charlie untuk bekerja sama sehingga Tony bisa ditangkap secepatnya. Kau boleh pergi. Di sisi lain Martin dipertemukan oleh Tony dan diminta mencari informasi keberadaan Charlie dan keluarganya. Sehingga akhirnya terungkap bahwa Martin lebih memihak kepada Tony dan ada keterlibatan dalam aksi pembunuhan Charlie. Sebaiknya segera beritahu aku. Edi. Beberapa waktu berlalu, terlihat Tony sedang mengadakan pesta pernikahan salah satu anak buahnya bernama Samsul yang sudah dianggap sebagai anak sendiri. Namun di saat yang sama Charlie mendatangi anak buah kepercayaan Tony yaitu Frank. Dia bertugas sebagai admin yang memiliki semua data transaksi dan keuangan bisnisnya Tony. Charlie memaksa Frank untuk memindahkan semua data tersebut ke dalam sebuah flash disk sebelum akhirnya ia dihabisi oleh Charlie. Dengan begini, kau tak akan disakiti lagi. Kau bisa gunakan semua data ini sebagai senjata. Tapi aku tak bisa memaafkan perbuatanmu pada Karim. Setelah mengetahui adminnya tewas, Tony pun langsung mengamuk dan menyusun sebuah rencana licik. Ia dengan tega menghabisi dua anak buahnya sendiri dengan memakai senjata yang terdapat sidik jarinya si Charlie. Korban pertama adalah seorang pengawal yang sedang menemani ibunya healing di taman. Dan yang kedua adalah si Samsul yang akan menikmati malam pertamanya.

[15:42]Akibat kematian dua anak buah Tony membuat Charlie menjadi buronan polisi. Di mana si komandan menugaskan Merry untuk segera menangkap Charlie. Namun Merry yang cerdas tentu saja mengetahui bahwa semua itu hanyalah siasat yang dibuat oleh Tony. Dia sedang dijebak. Jebakan tolol. Seorang profesional seperti Mattei tak akan meninggalkan barang bukti. Sementara itu, Charlie bersembunyi entah ke mana yang membuat Merry kehilangan jejaknya. Maka dia pun mencoba melacak Charlie melalui nomor telepon yang sering dipakai untuk menghubungi keluarganya yang bersembunyi di suatu tempat. Tanpa diketahui Merry, ternyata percakapan itu berhasil disadap oleh Tony sehingga persembunyian keluarga Charlie pun ketahuan. Kemudian Tony langsung mengirim anak buahnya ke lokasi keluarga Charlie untuk menculik kedua anaknya. Yes, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, co, c

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript