[0:17]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pagi ini, Khazanah kembali menyajikan kepada Anda embun-embun ilmu yang terpendam dalam luasnya Khazanah Islam.
[0:32]Pohon beringin memiliki batang yang besar serta daun yang rindang. Entah mengapa pohon ini kerap dianggap angker dan dipercaya bahwa jin dan setan menyukai pohon ini hingga menjadikannya sebagai tempat tinggal. Tidak ada nas yang menjelaskan bahwa jin menjadikan pohon tertentu sebagai rumahnya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta'ala menumbuhkan pohon dan tanaman agar manusia, jin, binatang, dan seluruh makhluk yang hidup di dunia dapat mengambil manfaat dari pohon dan tanaman itu. Akar pohon berguna untuk mengatur siklus air. Apabila menghasilkan buah, maka buahnya bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi. Bahkan para ahli kesehatan menyatakan buah-buahan adalah makanan yang baik bagi tubuh. Tentu ini merupakan rezeki dari Allah Subhanahu wa ta'ala, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui. Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 22. Begitu pentingnya eksistensi pohon bagi kehidupan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahkan melarang pasukannya menebang pohon saat berperang. Selain itu, pohon yang memiliki daun rindang juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh. Dalam kisah sebab turunnya surah Al-Fath ayat 18 diceritakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersama para sahabat yang sedang melakukan perjalanan ke Baitullah berteduh di bawah pohon ketika sampai di bumi Hudaibiyah. Di bawah pohon itulah terlaksana sebuah bai'at atau janji setia para sahabat kepada Nabi yang dikenal dengan Bai'atur Ridwan. Namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang kita berteduh di sebuah tempat yang sebagiannya panas dan sebagian lainnya teduh. Sebuah riwayat hadis menyebutkan, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang duduk di antara tempat yang panas yang tidak ada naungannya dan tempat yang dingin yang ada naungannya dan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda itu adalah tempat duduknya setan" (HR. Ahmad). Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan, tempat duduk seperti ini dapat membahayakan tubuh. Sebab, apabila dua hal yang bertolak belakang seperti panas dan dingin berada pada satu badan bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Oleh sebab itu, apabila hendak berteduh, maka berteduhlah di tempat yang benar-benar ternaungi secara sempurna. Dari Qais bin Abi Hazim dari ayahnya dia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melihatku duduk di bawah terik matahari lalu beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Pindahlah ke tempat teduh!'" (HR. Al-Hakim).
[3:39]Pemirsa Khazanah, selain mitos pohon beringin dan tempat kesenangan jin, ada pula tanaman yang paling ditakuti jin. Inilah pohon bidara. Pohon ini banyak tumbuh di Indonesia. Khasiatnya bukan pada batang atau akarnya, tetapi daunnya. Bagian inilah yang ditakuti jin, bahkan bisa menjadi racun bagi bangsa jin. Bagaimana cara menggunakan daun bidara untuk mengobati sihir atau gangguan jin? Wahab bin Munabih, salah seorang pemuka tabiin yang ahli dalam sejarah dan ilmu kedokteran menyarankan cara menggunakannya untuk pengobatan dan pengusir jin dengan cara mengambil tujuh lembar daun bidara yang dihaluskan, kemudian dilarutkan dalam air dan dibacakan ayat Kursi, surah Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Untuk mengobati sihir, Al-Qurtubi menceritakan dari Wahab, "Ambil tujuh helai daun bidara, tumbuk halus lalu dicampurkan air dan dibacakan ayat Kursi lalu diberi minum pada orang yang terkena sihir tiga kali teguk. Dan air di ember yang telah dibacakan ayat-ayat dan juga dicampur bidara dipakai untuk mandi. Insya Allah akan hilang sihirnya. Dan diutamakan membaca Al-Falaq, An-Nas, juga ditambah ayat Kursi karena ayat-ayat itu dapat mengusir setan. Selain untuk mengobati sihir dan gangguan jin, daun bidara juga bisa dipergunakan untuk bersuci bagi orang yang baru masuk Islam atau mualaf. Hal ini terjadi pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, saat ada seseorang yang akan memeluk Islam, lantas Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sider, daun bidara. Hadis riwayat Nasa'i, Tirmidzi, dan Ahmad. Wanita bersuci dari haid juga disarankan dengan air yang dicampur daun bidara. Aisyah Radhiyallahu 'anha menuturkan, "Salah seorang di antara kalian (wanita haid) mengambil air yang dicampur dengan daun bidara lalu dia bersuci dan memperbaiki bersucinya kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya seraya menggosoknya dengan gosokan yang kuat sampai air masuk ke akar-akar rambutnya kemudian dia menyiram seluruh tubuhnya dengan air kemudian dia mengambil secarik kain yang telah dibaluri dengan minyak misk lalu dia berbersih darinya." Aisyah berkata, "Dia mengoleskannya ke bekas-bekas darah." (HR. Muslim 'Aisyah). Masih ada manfaat daun bidara yang lain dan inilah yang banyak dikenal di tanah air. Daun bidara biasa digunakan campuran untuk memandikan jenazah. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar daun bidara digunakan sebagai campuran air memandikan jenazah putrinya Zainab. Atiyah berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemui kami sedangkan kami kala itu tengah memandikan putrinya Zainab lalu beliau bersabda, 'Mandikanlah dia tiga, lima, atau tujuh kali atau lebih dari itu. Jika kalian memandang perlu maka pergunakan air dan daun bidara. Ummu Atiyah berkata, 'Dengan ganjil.' Beliau bersabda, 'Iya. Dan buatlah di akhir mandinya itu tumbuhan kapur atau sedikit darinya.'" Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan yang lainnya. Lalu pohon bidara jenis apa yang memiliki khasiat semacam itu? Pohon bidara termasuk tanaman yang bisa tumbuh di berbagai kondisi, termasuk di kondisi yang kering. Oleh sebab itu, tumbuhan yang bernama latin Ziziphus mauritiana tersebar secara alami di berbagai wilayah lain seperti Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Uganda, dan Kenya di Afrika. Di Asia pohon bidara juga tumbuh subur seperti Afghanistan, Pakistan, India Utara, Nepal, Bangladesh, China Selatan, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia, hingga Australia. Tumbuhan ini bisa ditemukan mulai dari tepi pantai hingga daerah berketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Termasuk di Nusantara, tumbuhan ini menyebar secara merata di berbagai wilayah Indonesia. Di Indonesia memang banyak perbedaan pandangan mengenai pohon bidara ini. Ada yang bilang bidara yang bisa digunakan untuk rukyah adalah bidara Arab, sedangkan bidara Cina dan bidara Jawa Widoro atau yang sering disebut apel India tidak dapat digunakan untuk rukyah. Tapi para pakar rukyah menegaskan bidara apel India buahnya bisa dimakan dan insyaallah dapat menghilangkan gangguan sihir yang menyerang perut. Perbedaan bidara Cina dan bidara apel India sama seperti perbedaan pisang Ambon dengan pisang jenis lainnya. Insyaallah, kedua-duanya sama-sama dapat dipergunakan untuk mengusir jin. Pohon bidara inilah yang dikenal bangsa Arab dengan pohon Sider. Pohon yang sangat istimewa karena banyak disebutkan dalam Al-Qur'an Al-Karim. Di antaranya, Allah menyebutnya dengan pohon surga. Karena penduduk surga begitu menikmati suasana surga karena adanya pohon bidara. Inilah yang disebut dalam surah Al-Waqi'ah, "Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri" (Qs. Al Waqi'ah: 27-32). Dengan demikian, pohon bidara bukan pohon sembarangan, tapi pohon yang sangat istimewa karena merupakan tumbuhan surga. Bahkan Allah Subhanahu wa ta'ala selalu menyebutkan sebagai kenikmatan di surga. Tentu saja pohon bidara di surga berbeda dengan pohon bidara di dunia. Jika pohon bidara yang ada di dunia biasanya banyak duri dan sedikit buah, maka pohon bidara di surga tidak berduri dan banyak buahnya.
[9:36]Awalnya, saat sahabat Nabi mendengar tentang pohon bidara di surga, informasi ini mengejutkan orang karena pohon bidara yang dikenal mereka banyak durinya. Mana mungkin Allah menyediakan kenikmatan surga dengan pohon bidara yang banyak durinya. Inilah yang ditanyakan oleh seorang Arab Badui kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Orang Badui itu mempertanyakan kenapa di surga ada pohon yang bisa menyakiti penghuninya. Ia pun menyebut pohon bidara. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pun menjelaskan bahwa pohon bidara di surga tidak berduri, berbeda dengan pohon yang ada di dunia. Dan tempat-tempat duri pada pohon tersebut justru terdapat buah. Dan uniknya buah-buah tersebut mengeluarkan hingga 72 aneka warna dan tidak satu pun warnanya sama. Diriwayatkan oleh Hakim dalam kitab Mustadrak.
[10:28]Lebih dari itu, pohon bidara yang dilihat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam di langit ketujuh saat dimi'rajkan Allah Subhanahu wa ta'ala yaitu Sidratul Muntaha. Sidrah berarti bidara. Muntaha berarti puncak atau penghabisan. Maka Sidratul Muntaha berarti pohon bidara yang merupakan puncak atau penghabisan. Karena namanya pohon bidara, jadi kemungkinan bentuknya memang seperti pohon bidara, hanya saja hakikatnya tentu berbeda. Dinamakan Sidratul Muntaha atau pohon bidara yang menjadi puncak atau penghabisan karena di pohon inilah sumber dari segala makhluk termasuk para malaikat.
[11:08]Ia juga puncak dari ketinggian yang pernah dikenal makhluk karena ia terletak di langit ketujuh. Pohonnya besar tak terkira, daunnya seperti telinga gajah, sedangkan buahnya seperti kendi. Kemudian terdapat laron-laron yang terbuat dari emas. Pohon ini juga menampilkan warna yang berubah-ubah karena diliputi oleh perintah Allah. Pohon ini sangat indah hingga tidak ada manusia yang mampu menggambarkan keindahannya. Di dekat pohon inilah Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam telah melihat wujud asli dari malaikat Jibril yang memiliki sayap sebanyak 600 sayap. "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) Di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal." (QS. Annajm : 13-15). Dikatakan pula bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam telah melihat Allah yang berupa cahaya atau hanya tertutup dengan cahaya. Di Sidratul Muntaha ini, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam mendapatkan perintah salat lima waktu seperti yang kita kenal hingga sekarang.
[12:19]Pemirsa Khazanah, kita mungkin tidak asing dengan buah yang satu ini, buah kurma Ajwa. Kurma istimewa yang seringkali menjadi buah tangan bagi para jemaah haji maupun umrah yang berkunjung ke kota Nabi Madinah Al-Munawwarah. Perkebunan kurma Ajwa selalu menjadi tempat favorit untuk dikunjungi para jemaah haji dan umrah. Buah ini cukup istimewa karena disebut sebagai buah yang ditakuti setan dan jin. Hal ini hadis Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan dari sahabat Sa'ad bin Abi Waqqas bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu dia tidak akan terkena racun maupun sihir" (HR. Bukhori & Muslim).
[13:08]Keterangan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ini tentu memunculkan tanya, zat apa yang terkandung dalam buah kurma Ajwa sehingga begitu ditakuti jin dan bisa menangkal sihir? Mengutip perkataan Imam Al-Khattabi, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, "Kurma Ajwa bermanfaat untuk mencegah racun dan sihir dikarenakan doa keberkahan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam terhadap kurma Madinah, bukan karena zat kurma itu sendiri." Dengan demikian, tidak semua kurma dengan segala jenisnya memiliki keistimewaan seperti kurma Ajwa. Semua itu karena doa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Selain kurma Ajwa, ada buah lain yang diberkahi Allah Subhanahu wa ta'ala dan ditakuti oleh jin dan setan yaitu buah zaitun.
[14:02]Pohonnya memang tidak ada di Indonesia, tapi banyak tumbuh di Timur Tengah, Palestina, Yordania, Suriah, Lebanon. Pohon ini juga menjadi komoditas penting di kawasan negara-negara sekitar Laut Mediterania, kawasan yang sangat banyak tumbuh dan dibudidayakan pohon zaitun. Ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa pohon zaitun merupakan pohon sebangsa kaya yang berumur panjang untuk masa lebih dari 100 tahun. Menghasilkan buah secara terus-menerus tanpa harus menguras tenaga manusia. Pohon ini akan selalu nampak hijau dan indah bila dipandang. Belakangan terungkap bahwa pohon ini menghasilkan buah yang banyak khasiatnya bagi kesehatan. Pantas jika Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al-Qur'an sampai bersumpah atas nama buahnya. "Demi buah tin dan zaitun." (QS At Tin : 1). Sebagian ahli tafsir menyebutkan, tin adalah nama sebuah bukit di Damaskus dan zaitun nama pula dari sebuah bukit di Baitul Maqdis. Tandanya kedua negeri itu penting untuk diperhatikan.
[15:30]Hal ini dipertegas oleh riwayat Ibnu Abbas bahwa tin adalah masjid yang mula didirikan oleh Nabi Nuh di atas Gunung Al-Judi sedangkan zaitun adalah Baitul Maqdis. Tetapi terdapat lagi tafsir yang menyatakan bahwa buah tin dan zaitun itu banyak sekali tumbuh di Palestina, di dekat Yerusalem pun ada sebuah bukit yang bernama Bukit Zaitun karena di sana memang banyak tumbuh pohon zaitun itu. Menurut kepercayaan dari bukit itulah Nabi Isa Al-Masih Mi'raj ke langit. Begitu istimewanya buah zaitun hingga yang keluar dari tanaman yang barokah ini pun diliputi keberkahan. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Makanlah minyak zaitun! Sesungguhnya ia diberkahi, berlauklah dengannya dan berminyaklah dengannya! Sesungguhnya ia keluar dari pohon yang diberkahi" (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Pemirsa, sebagian masyarakat meyakini garam yang belakang harganya melambung tinggi memiliki khasiat yang baik untuk mengusir jin. Benarkah demikian? Jangan ke mana-mana, Khazanah akan segera kembali sesaat lagi.
[16:40]Pemirsa Khazanah, fenomena yang banyak kita temui di masyarakat adalah menabur garam. Taburan ini diyakini bisa menghalau jin atau mengusir makhluk halus. Benarkah jin dan setan takut dengan garam? Apakah ini sekadar mitos atau fakta yang dianjurkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam?
[17:00]Praktik semacam ini tidak pernah dikenal di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Namun Nabi memang pernah menggunakannya saat beliau terkena sengatan kalajengking. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Baihaqi, saat itu Nabi disengat kalajengking di jari tangan ketika sedang salat. Setelah salat Rasulullah keluar dan berkata, "Semoga Allah melaknat kalajengking, ia tidak membedakan antara Nabi dan orang lain." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu meminta diambilkan bejana berisi air dan garam lalu merendam bagian yang disengat itu ke dalam bejana tersebut sambil membaca surah Al-Kafirun dan Muawwizatain atau surah Al-Falaq dan An-Nas hingga sakitnya hilang.
[17:42]Jadi memang benar, garam digunakan oleh Rasulullah untuk rukyah, tapi penyebabnya adalah gigitan kalajengking. Atas dasar ini sebagian orang berpendapat, garam juga bisa digunakan untuk mengusir jin atau karena kesurupan. Adapun praktik untuk melindungi rumah dengan menabur garam tidak pernah diketahui sumbernya. Yang jelas untuk melindungi rumah dan penghuninya dari gangguan jin dan setan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sudah mengajarkan zikir tanpa menggunakan garam. Di antara doa yang dibaca, "Barangsiapa yang ketika sore membaca: 'Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa'i wa huwas samii'ul 'aliim' tiga kali, maka tidak akan terkena musibah secara mendadak sampai pagi, dan barangsiapa yang membacanya ketika pagi tiga kali, maka tidak akan terkena musibah secara mendadak sampai sore." (HR. Tirmidzi).
[18:41]Wallahu A'lam. Nah, Pemirsa, sampai di sini akhir perjumpaan kita pagi ini. Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan hidayah dan taufiknya kepada kita. Terima kasih atas perhatian Anda. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



