Thumbnail for BERKARYA DAN BEREKSPRESI MELALUI PUISI by VINA

BERKARYA DAN BEREKSPRESI MELALUI PUISI

VINA

43m 35s3,694 words~19 min read
Auto-Generated

[0:00]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi anak-anak kuat SMKN 1 Surabaya. Berjumpa kembali dengan Ibu Vina dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

[0:20]Kali ini kita akan belajar materi Bahasa Indonesia kelas 10, berkarya dan berekspresi melalui puisi.

[0:34]Secara umum, karya sastra dibedakan menjadi dua jenis, yaitu karya sastra prosa dan puisi. Karya sastra prosa ditulis dalam bentuk paragraf, sementara puisi ditulis dalam bentuk baris-baris. Puisi dikenal sebagai karya sastra yang mengutamakan keindahan kata-kata. Jadi, dalam menulis puisi, pemilihan kata atau diksi harus diperhatikan dengan baik. Pemilihan kata yang tepat akan membuat puisi menjadi indah. Pada bab ini, kita akan belajar menganalisis struktur fisik puisi, serta menilai efektivitas diksi, rima, dan tipografi teks puisi. Setelah memahaminya, kita dapat mencoba untuk menulis puisi berdasarkan kreativitas. Puisi yang telah kalian tulis dapat disajikan di depan kelas dalam bentuk deklamasi puisi ataupun musikalisasi puisi. Mari kita mulai belajar dengan penuh semangat.

[1:49]Puisi adalah suatu karya sastra yang isinya mengandung ungkapan kata-kata bermakna kiasan dan penyampaiannya disertai dengan rima, irama, larik dan bait, dengan gaya bahasa yang dipadatkan. Puisi merupakan karya sastra yang berasal dari imajinasi penyair hasil dari mengekspresikan emosi dan suasana hatinya. Puisi memiliki makna yang dapat mengungkapkan perasaan sang penyair yang dikemas dalam bahasa imajinatif dan disusun menggunakan struktur bahasa yang padat penuh makna.

[2:34]Diksi dalam teks puisi yang dibacakan. Keindahan puisi dapat dilihat dari struktur fisik puisi. Keindahan puisi dapat dilihat dari tipografi, pemilihan kata, penggunaan imaji dan penggunaan rima. Tipografi, diksi, imaji dan rima merupakan struktur fisik puisi. Struktur fisik adalah struktur yang membangun puisi secara eksplisit, yaitu terlihat melalui susunan kata-katanya.

[3:12]Puisi merupakan karya sastra dengan bentuk yang padat. Artinya, puisi ditulis dengan singkat dan tidak terlalu panjang. Oleh karena itu, pemilihan kata yang sesuai dan mengandung makna harus dilakukan. Pemilihan kata dilakukan dengan mempertimbangkan irama, nada, dan estetika (keindahan bahasa).

[3:40]Pemilihan kata disebut diksi. Pada umumnya, kosakata yang digunakan untuk menulis puisi bersifat konotatif dan puitis. Pemilihan kata pada puisi sangat berkaitan dengan makna yang ingin disampaikan oleh penyair. Diksi digunakan untuk melukiskan gambaran yang jelas dan sesuai gagasan yang akan disampaikan. Penggunaan dan pemilihan diksi yang tepat akan membantu untuk membangkitkan suasana yang dibangun di dalam puisi. Oleh sebab itu, banyak penyair senang menggunakan diksi yang tidak biasa digunakan orang lain. Hal ini dilakukan agar karya sastra yang dibuat tidak monoton ataupun membosankan. Penggunaan diksi dalam puisi dapat diaplikasikan melalui majas, pengimajian, kata konkret, dan kata konotatif.

[4:42]Penggunaan majas atau gaya bahasa. Majas atau gaya bahasa biasa ditemukan dalam puisi dan prosa. Majas atau gaya bahasa bisa digunakan untuk memanfaatkan kekayaan bahasa yang dimiliki seseorang dalam berbicara atau menulis karya sastra. Majas juga bisa digunakan untuk hal-hal tertentu guna mendapatkan efek tertentu juga. Ciri-ciri majas secara umum mempunyai ciri bahasa dari sekelompok penulis sastra. Dalam penulisan puisi, digunakan berbagai jenis majas.

[5:28]Satu, majas personifikasi. Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang menjadikan benda mati seolah-olah bertindak seperti manusia. Majas personifikasi termasuk majas perbandingan. Majas perbandingan merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menyandingkan atau membandingkan antar objek melalui penyamaan, kelebihan, ataupun penggantian. Hal yang dibandingkan pada majas personifikasi menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat seperti manusia. Perhatikan contoh berikut ini.

[6:17]Senyuman manis sang bulan menyapaku merupakan majas personifikasi. Sang bulan diibaratkan manusia yang dapat tersenyum. Kata-kata menyapaku juga seperti manusia yang dapat menyapa.

[6:36]Dua, majas metafora. Majas metafora termasuk jenis majas perbandingan. Majas metafora adalah majas yang menyatakan suatu hal menggunakan hal lainnya atas dasar kemiripan atau kesamaan. Majas metafora menggunakan kata atau frasa kiasan yang tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Perhatikan contoh majas metafora berikut ini.

[7:12]Frasa potongan surga dalam larik puisi tersebut berarti alam yang indah.

[7:22]Tiga, majas simile. Majas simile adalah pertautan yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung arti yang serupa, dan dinyatakan dengan eksplisit menggunakan kata seperti, bagai, laksana, ibarat.

[7:42]Serupa dengan majas personifikasi, majas simile termasuk majas perbandingan.

[7:51]Adapun ciri-ciri majas simile sebagai berikut. Yang pertama, ada kata konjungsi atau penghubung dalam kalimat. Dua, memiliki maksud untuk melakukan perbandingan terhadap suatu hal. Tiga, memiliki kata-kata kiasan dan analogi. Perhatikan contoh majas simile berikut ini.

[8:21]Empat, majas repetisi. Majas repetisi termasuk majas penegasan. Majas repetisi merupakan gaya bahasa yang menunjukkan pengulangan pada kata, frasa, atau klausa yang sama. Pengulangan tersebut untuk menegaskan makna kalimat. Dalam setiap kata, frasa, atau klausa yang mengalami pengulangan memiliki arti sama. Jadi, pengulangan yang dilakukan tersebut tidak mengubah makna atau arti dari ungkapan tersebut. Perhatikan contoh majas repetisi berikut ini.

[9:08]Lima, majas hiperbol. Majas hiperbol adalah majas yang menggambarkan sesuatu secara berlebihan. Bahkan penggambaran tersebut sering kali terasa kurang masuk akal atau sulit dipahami lebih jauh. Hal ini disebabkan majas hiperbol menggunakan kata-kata yang tidak sesuai kenyataan. Kata-kata yang digunakan dalam majas ini biasanya tidak masuk akal, melebih-lebihkan, dan dramatisir. Perhatikan contoh majas hiperbol berikut ini.

[9:53]Pengimajian atau citraan. Imaji atau citraan merupakan unsur yang melibatkan indra manusia, seperti indra penglihatan, pendengaran, dan perabaan. Imaji adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas pernyataan penyair dalam puisinya. Melalui pengimajian, hal yang digambarkan oleh penyair dalam puisi seolah-olah dapat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh pembaca. Pengimajian bertujuan agar pembaca dapat membayangkan, bahkan merasakan hal yang dirasakan penyair.

[10:35]Imaji yang tepat dapat membuat puisi lebih hidup dan dekat dengan kehidupan sehingga diharapkan pembaca atau pendengar merasakan dan hidup dalam pengalaman batin penyair. Pengimajian dalam puisi dapat menimbulkan citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, perasaan, pencecapan, dan penciuman. Yang pertama, citraan penglihatan atau visual. Citraan penglihatan atau visual merupakan jenis citraan yang paling banyak digunakan penyair. Citraan ditimbulkan oleh indra penglihatan atau mata.

[11:11]Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat, misalnya gelap, terang, putih, bunga, dan hujan.

[11:30]Dua, citraan pendengaran atau audio. Citraan pendengaran atau audio adalah citraan yang berhubungan dengan gambaran yang diperoleh melalui telinga. Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara. Misalnya, dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, suara mengiang, berdentum-dentum, suara petir, dan sayup-sayup.

[12:03]Tiga, citraan perabaan atau taktil. Citraan perabaan disebut juga citraan taktil. Citraan perabaan adalah citraan yang dapat dirasakan oleh kulit. Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, pembaca dapat menemukan diksi yang menyebabkan rasa nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu udara.

[12:30]Empat, citraan perasaan. Citraan perasaan adalah gambaran seakan-akan merasakan berbagai rasa atau dynathal sebagaimana yang tercantum dalam puisi. Semua hal terkait hati dan perasaan termasuk citraan ini. Contohnya, sedih, gembira, cinta, haru, hampa, dan takut.

[12:58]Lima, citraan pencecapan atau gustatory. Citraan pencecapan atau citraan gustatory adalah gambaran dalam otak seakan-akan merasakan dengan lidah berbagai rasa, sebagaimana yang tercantum dalam puisi. Semua hal terkait lidah untuk merasakannya termasuk wilayah citraan pencecapan. Misalnya, asin, tawar, hambar, pahit, dan manis. Enam, citraan penciuman atau pembauan. Citraan penciuman atau citraan pembauan atau olfactori adalah gambaran dalam otak seakan-akan mencium berbagai bau atau rasa sebagaimana yang tercantum dalam puisi. Semua hal terkait hidung untuk merasakannya termasuk wilayah citraan penciuman. Contohnya, sesemua bebauan, seperti wangi, harum, dan semerbak.

[14:04]Penggunaan kata konkret. Kata konkret merupakan sebab terjadinya pengimajian. Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Kata-kata diupayakan dapat mengarah pada arti yang menyeluruh.

[14:32]Kata konkret merupakan kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama, tetapi secara konotatif tidak sama karena disesuaikan kondisi dan situasi pemakainya. Penggunaan kata konkret bertujuan untuk memperjelas gagasan penyair sehingga pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa, perasaan, dan keadaan yang dialami penyair pada saat menciptakan puisinya. Misalnya, kata konkret permata senja dapat berarti pantai atau tempat yang sesuai untuk melihat datangnya senja.

[15:12]Penggunaan kata konotatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata konotatif mempunyai makna tautan atau mengandung konotasi. Konotasi adalah tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata. Makna konotasi juga diartikan sebagai makna yang ditambahkan pada makna denotasi. Kata konotatif banyak digunakan dalam puisi untuk menambah kesan keindahan kata.

[15:50]Perhatikan puisi berikut!

[15:58]Kata "bunga desa" dalam puisi di atas adalah kata konotatif. Bunga desa dalam puisi di atas bukan berarti "tanaman bunga yang tumbuh di desa", namun diartikan sebagai "gadis yang paling cantik sedesa". Penyair lebih memilih menggunakan kata bunga desa daripada gadis desa, karena kata-kata bunga desa terdengar lebih indah.

[16:27]Pendapat pro atau kontra dalam teks diskusi.

[16:34]Pemahaman setiap orang terhadap isi sebuah puisi tentu tidak selalu sama. Setiap orang berhak mengartikan sendiri tentang puisi yang dibacanya. Namun, untuk memahami maksud penyair sebenarnya, pembaca harus melakukan analisis secara mendalam. Analisis puisi dapat dilakukan bersama-sama dalam bentuk diskusi.

[16:59]Diskusi adalah aktivitas yang umum dilakukan di forum baik formal maupun nonformal. Diskusi adalah proses penting dalam memahami sebuah topik. Tujuan diskusi adalah memecahkan masalah. Hasil kegiatan diskusi dapat disajikan dalam bentuk teks diskusi. Teks diskusi merupakan teks yang dibuat untuk mendokumentasikan, merangkum, atau menyimpan hal-hal penting dalam pertemuan ilmiah agar dapat digunakan kembali saat dibutuhkan.

[17:42]Adapun hal-hal yang terekam di dalamnya dapat berupa pendapat dari berbagai pihak yang muncul dalam diskusi, baik berupa persetujuan maupun penolakan.

[17:57]Secara umum, teks diskusi dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama, pendahuluan atau isu. Teks diskusi diawali dengan bagian isu. Isu merupakan pokok permasalahan atau pembahasan tentang topik. Isu biasanya disampaikan secara singkat, tetapi pada beberapa kesempatan juga bisa disajikan mendetail. Dalam isu, terdapat beberapa poin penting yang harus diperhatikan sebagai berikut. Yang pertama, terdapat suatu pernyataan untuk membatasi topik yang dibahas. Dua, mengandung latar belakang topik yang dibahas. Tiga, menyoroti sudut pandang berbeda yang akan dibahas. Dua, argumen. Bagian argumen atau isi merupakan struktur yang berkaitan dengan pernyataan dan alasan logis dari berbagai pihak yang digunakan untuk mendukung atau menolak suatu pendapat mengenai permasalahan yang sedang didiskusikan. Perlu diingat, rangkaian argumen dalam isi teks diskusi paling tidak harus memiliki dua macam argumen. Yaitu argumen yang mendukung atau pro dan yang menentang atau kontra.

[19:20]Tiga, kesimpulan atau saran. Kesimpulan atau saran merupakan bagian akhir yang menjadi rekomendasi atau hasil dari diskusi yang didapat dari mengumpulkan atau mengelaborasi masing-masing argumen dari setiap orang yang terlibat dalam diskusi. Beberapa poin penting dalam bagian kesimpulan dan saran sebagai berikut. Yang pertama, memuat simpulan argumen dari sisi pro dan kontra. Dua, memperlihatkan evaluasi argumen yang paling efektif. Tiga, memuat rekomendasi atau jalan tengah yang tidak memihak terhadap persoalan yang dibahas.

[20:04]Diskusi dapat dilakukan untuk membahas karya sastra seperti film, novel, drama dan puisi. Selama ini hanya mengenal puisi lama dan puisi baru. Namun, belakangan ini muncul puisi esai yang menjadi kontroversi di masyarakat sastra. Sebuah karya tulis dapat disebut sebagai puisi esai apabila telah memenuhi empat kriteria. Pertama, sisi batin dan sisi kehidupan kemanusiaan tokoh utama tergambar dengan jelas. Kedua, tata bahasa yang digunakan indah dan mudah dipahami. Ketiga, pengalaman batin dan fakta sosial dikemukakan bersamaan melalui catatan kaki. Keempat, penyajian data dan fakta sosial yang mampu membuat pembaca memahami kondisi tokoh utama dalam cerita.

[21:04]Puisi esai pada dasarnya adalah cerita pendek atau drama yang dipuisikan sehingga bentuknya berupa puisi berbabak yang panjang. Pebabakan ini merupakan akibat dari adanya kisah dinamika karakter dan dinamika sebuah kenyataan sosial. Penanda khas dari puisi esai adalah adanya catatan kaki. Keterangan faktual dan referensial mengenai segala bentuk penokohan dan latar peristiwa dapat diperiksa melalui catatan kaki. Dalam puisi esai, catatan kaki juga berfungsi untuk mencegah terjadinya pemfaktaan hal-hal yang bersifat fiksi dan mencegah terjadinya pemfiksiian hal-hal yang bersifat fakta atau nyata.

[21:56]Diksi, rima, dan tipografi dalam teks puisi.

[22:04]Puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik puisi terdiri atas barisan-barisan puisi yang bersama-sama membangun bait-bait puisi. Struktur fisik ini merupakan media pengungkapan struktur batin puisi. Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam struktur fisik puisi adalah diksi, rima dan tipografi. Ketiganya perlu diperhatikan dengan baik untuk dapat menghasilkan puisi yang indah. Penyair harus cermat memilih kata-kata dalam puisi karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi, rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya serta kedudukan kata dalam keseluruhan puisi tersebut. Dengan pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, dan nada suatu puisi dengan benar. Diksi. Puisi merupakan karya sastra dengan bentuk yang padat. Artinya, puisi ditulis dengan singkat dan tidak terlalu panjang. Oleh karena itu, pemilihan kata yang sesuai dan mengandung makna harus dilakukan. Pemilihan kata dilakukan dengan mempertimbangkan irama, nada, dan estetika (keindahan bahasa). Pemilihan kata disebut diksi. Pada umumnya, kosakata yang digunakan untuk menulis puisi bersifat konotatif dan puitis. Rima. Sebuah puisi dapat menjadi harmonis apabila menggunakan kata-kata yang memiliki persamaan bunyi. Persamaan bunyi tersebut membuat puisi makin indah saat dibaca. Persamaan puisi pada akhir bab disebut rima. Rima atau persajakan adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf-huruf atau kata-kata dalam larik dan bait atau persamaan bunyi dalam puisi.

[24:20]Jenis-jenis rima puisi sebagai berikut.

[24:37]Tiga, tipografi. Tipografi atau wajah puisi merupakan bentuk puisi. Misalnya, halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

[25:02]Tipografi merupakan aspek bentuk visual yang berupa tata hubungan, susunan baris, dan ukiran bentuk yang dipergunakan untuk mendapatkan kesan menarik agar indah dipandang. Tujuan tipografi puisi adalah menciptakan keindahan indrawi dan untuk mendukung pengedepanan makna rasa dan suasaria puisi.

[25:29]Tema dan suasana dalam teks puisi. Menentukan tema merupakan langkah dasar penyair dalam menyusun puisinya. Tema merupakan gagasan pokok penyair yang dituangkan dalam bait-bait puisi. Tema berasal dari berbagai masalah atau peristiwa di sekitar kehidupan penyair. Ada bermacam-macam tema puisi seperti tema keagamaan, kenegaraan, kehidupan alam, lingkungan hidup, kemanusiaan, kisah kehidupan manusia, perjuangan, dan kritik sosial. Tema puisi bersifat khusus, berorientasi pada penyair, objektif atau semua pembaca harus mempunyai penafsiran yang sama dan lugas atau tidak bermakna kias.

[26:24]Tema merupakan gagasan utama penyair yang dituangkan dalam puisi. Oleh karena itu, untuk dapat menentukan tema puisi, pembaca harus memahami isi puisi tersebut terlebih dahulu. Memahami isi puisi dapat dilakukan dengan cara memahami kata-kata yang digunakan pada puisi tersebut, baik makna denotatif, konotatif maupun perlambangan. Setelah membaca puisi, kalian mungkin akan merasakan perasaan tertentu. Perasaan tersebut disebut suasana. Suasana adalah perasaan pembaca setelah membaca puisi. Suasana merupakan efek yang dirasakan pembaca setelah membaca atau menyimak puisi yang dibacakan oleh pembaca puisi termasuk puisi yang telah dimusikalisasi. Misalnya saat pembaca puisi membacakan puisi penuh semangat, pendengar akan merasakan suasana yang sama.

[27:32]Musikalisasi puisi secara kreatif.

[27:39]Puisi dapat disajikan dalam bentuk lagu. Pembacaan puisi yang dilakukan dengan cara dilakukan, diberi irama atau diiringi musik yang sesuai isi puisi disebut musikalisasi puisi. Puisi dapat disajikan dalam bentuk lagu disertai dengan iringan musik. Iringan musik untuk musikalisasi puisi dapat dilakukan dengan alat musik sederhana, misalnya gitar. Aransemen lagu dalam puisi yang akan dimusikalisasi harus disesuaikan dengan tema atau pesan yang terkandung dalam puisi. Antara tema, pesan dan isi puisi dengan irama musiknya harus selaras.

[28:42]Puisi yang bertema perjuangan penuh semangat dapat dinyanyikan dengan irama mars. Puisi yang isinya hikmat atau khusyuk dapat dinyanyikan dengan irama lamban. Sebelum menyajikan puisi dalam bentuk musikalisasi puisi, ada beberapa hal yang harus dilakukan sebagai berikut. Yang pertama, memilih puisi. Langkah pertama menyajikan musikalisasi puisi adalah menentukan puisi. Sebaiknya kalian memilih puisi dengan syair yang sederhana sehingga mudah untuk dilakukan. Dua, memahami puisi. Kalian perlu memahami puisi yang akan disajikan. Langkah ini bisa dilakukan dengan membaca puisi yang sudah dipilih secara berulang-ulang. Tujuannya agar bisa memahami tema dan makna di dalam puisi tersebut. Saat membaca, kalian harus memperhatikan pengimajian dari pilihan kata dalam puisi. Kalian juga harus meresapi nada serta suasana yang ingin dibangun oleh penyair. Tiga, menentukan alat musik. Alat musik merupakan hal penting dalam musikalisasi puisi. Kalian harus bisa memilih alat musik yang tepat. Alat musik yang digunakan bisa berupa alat musik tradisional, modern, atau campuran dari kedua jenis alat musik tersebut. Tentukan juga alat musik yang akan digunakan, elektrik atau akustik! Empat, menentukan irama dan lagu. Pemilihan nada yang akan digunakan untuk mengiringi puisi dapat dipengaruhi oleh pemahaman tentang ekspresi yang tepat dari puisi yang sudah dipilih. Dengan memahami tema dan makna yang ingin disampaikan penyair, nada dalam puisi bisa lebih mudah ditentukan. Tema dan makna yang dimaksud oleh penyair bisa memberikan inspirasi bagi nada puisi. Baik berupa nada gembira, sedih, melankolis, semangat maupun nada lainnya. Lima, mempersiapkan kostum dan efek suara. Kalian harus mempersiapkan beberapa pendukung pentas sebelum pementasan dimulai, seperti kostum dan efek suara. Kostum yang akan digunakan saat pementasan harus sesuai dan sopan. Selain itu, perlu dilakukan persiapan efek suara dengan melakukan pemeriksaan mikrofon sesuai kebutuhan. Enam, berlatih sebelum tampil. Agar dapat tampil secara maksimal, hendaknya kalian berlatih beberapa kali terlebih dahulu sebelum tampil. Persiapkan diri dengan sebaik mungkin. Artikulasi dan vokal harus jelas serta penghayatan terhadap puisi sehingga maksud puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar.

[32:03]Menulis resensi antologi puisi secara logis dan kritis.

[32:11]Kalian dapat memberikan tanggapan setelah membaca sebuah buku. Memberikan tanggapan terhadap sebuah buku dapat diwujudkan dalam bentuk resensi buku. Resensi adalah penilaian terhadap karya seni seperti buku atau novel. Resensi buku biasanya terdiri atas kelebihan, kekurangan dan informasi yang diperoleh dari buku untuk disampaikan ke masyarakat dan pembaca. Berikut langkah-langkah membuat resensi buku.

[32:47]Satu, menentukan buku yang akan diresensi. Pertimbangkan terlebih dahulu buku yang akan diresensi! Anda dapat memilih buku yang menarik, baik dari isi maupun penulisnya. Anda dapat memilih antologi puisi keluaran terbaru agar dapat memberi angin segar pada penulisan resensi. Dua, membaca buku yang akan diresensi. Bacalah antologi buku tersebut dengan seksama, resapi setiap puisi yang akan dibaca. Carilah makna yang ingin disampaikan penyair di setiap puisinya! Kalian juga dapat mengkaji struktur fisik yang terdapat dalam setiap puisi. Tiga, mencatat data atau informasi buku yang akan diresensi. Catatlah data dan informasi dari buku yang akan diresensi! Data informasi harus dicatat yaitu judul, nama penyair, penerbit, dan jumlah halaman. Empat, menuliskan poin-poin penting dalam buku. Setelah membaca dengan cermat puisi dalam antologi yang kalian pilih, langkah selanjutnya adalah menuliskan poin-poin penting dalam buku. Catatlah pula kutipan yang dirasa mengesankan, jangan lupa tandai halamannya! Tuliskan kembali yang dianggap penting ke dalam karangan singkat yang memiliki satu kesatuan yang integral. Lima, menuliskan isi resensi. Pada bagian ini kalian memberikan komentar dan pandangan terhadap buku yang akan diresensi. Langkah-langkah menuliskan isi resensi sebagai berikut. Yang pertama, menulis informasi umum tentang buku. Dua, membuat judul resensi buku. Tiga, membuat ringkasan buku secara garis besar. Empat, membuat penilaian buku. Lima, menonjolkan sisi lain dari buku. Enam, mengulas manfaat membaca buku tersebut bagi pembaca. Tujuh, menuliskan kekurangan dan kelebihan buku tersebut. Delapan, memberikan nilai dari segi kelengkapan karya, EYD, dan sistematika penulisan. Enam, menulis kesimpulan. Cara yang terakhir adalah ungkapkan yang kalian peroleh dari buku yang diresensi. Beri saran kepada pembaca alasan mereka harus membaca buku yang kalian resensi dan ruginya jika mereka tidak membaca. Pembacaan puisi dengan ekspresif dan kreatif.

[35:44]Membaca puisi termasuk keterampilan membaca estetika. Hakikat membaca estetika adalah membaca dengan memperhatikan unsur-unsur keindahan dan penghayatan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi adalah ekspresi atau mimik wajah. Satu, ekspresi atau mimik wajah. Cara membaca puisi tentu tidak bisa dilepaskan dari ekspresi wajah atau mimik. Ekspresi diperlukan untuk menggambarkan segala bentuk rasa dari isi puisi yang dibacakan. Mimik adalah ekspresi atau perubahan wajah sesuai dengan karakteristik dan suasana (sedih, semangat, atau gembira) yang digambarkan pada sajak yang dibaca.

[36:33]Pembaca puisi harus memperlihatkan ekspresi sesuai kandungan isi puisi yang dibacanya. Jika puisi itu bernada sedih, ekspresi pembaca puisi harus memperlihatkan ekspresi kesedihan pula. Jika puisi itu bernada gembira, ekspresi pembaca puisi harus gembira pula. Dua, gerak tubuh atau gestur. Dalam membaca puisi tidak hanya bermain dengan ekspresi wajah yang disesuaikan tema puisi tersebut, tetapi juga bermain dengan gestur atau gerak tubuh saat membacakan puisi.

[37:50]Gerak tubuh yang mengekspresikan isi puisi akan membantu pendengar untuk memahami isi puisi tersebut bahkan bisa ikut menjiwai isi puisi tersebut. Saat puisi sedih dibacakan, mereka bisa ikut bersedih, bahkan sampai meneteskan air mata. Namun, gestur memang sebaiknya disesuaikan dengan hal yang diungkapkan dalam puisi. Tujuannya agar pembaca puisi tidak terlihat berlebihan. Tiga, lafal atau artikulasi. Artikulasi adalah pengucapan kata demi kata dengan benar serta dengan suasana dan suara yang jelas. Dalam melafalkan suatu bunyi bahasa harus jelas, bunyi-bunyi itu tidak boleh tertukar dengan bunyi-bunyi bahasa lainnya. Misalnya, bunyi P dan B, K dengan H, atau O dengan U. Antara huruf vokal A, I, U, E, dan O juga harus jelas. Jangan sampai saat membaca puisi justru terdengar seperti berbisik atau bergumam!

[39:12]Artikulasi dalam pembacaan puisi merupakan pengucapan lambang bunyi bahasa sesuai dengan pola-pola standar sehingga kata yang diucapkan mudah dipahami pendengar. Artikulasi dalam pembacaan puisi mencakup intonasi (tinggi rendahnya suara dalam mengucapkan kata atau kalimat), pelafalan sebagaimana yang dijelaskan di poin sebelumnya, serta kefasihan dalam mengucapkan kata dan kalimat dalam puisi.

[39:44]Empat, tekanan. Penekanan kata dalam membaca puisi perlu dilakukan agar pendengar bisa menangkap langsung makna puisinya. Pembacaan puisi wajib menggunakan teknik ini dengan benar supaya pendengar bisa merasakan emosi pembaca. Lima, jeda dan tempo. Puisi juga perlu dibacakan menggunakan tanda jeda. Puisi memiliki irama, bunyi, lafal, intonasi, dan tanda suara sehingga memerlukan tanda jeda dan cara membaca yang berbeda. Hal ini dilakukan supaya puisi yang dibaca bisa menyampaikan emosi tersebut kepada para pendengarnya.

[40:34]Enam, intonasi. Intonasi adalah lagu membaca yang meliputi penggalan kata dan tinggi atau rendahnya suara pada saat membaca larik demi larik sajak. Perbedaan intonasi dapat menghasilkan jenis kalimat yang berbeda. Penggunaan intonasi yang tepat dalam pembacaan puisi dapat dimanfaatkan untuk menarik perhatian. Selain itu, intonasi berguna dalam memperjelas dan membedakan maksud atau pesan dari setiap larik.

[41:11]Setelah membuat puisi, kalian dapat menyajikan puisi tersebut dengan gaya membaca puisi yang tepat agar terdengar lebih indah serta tersampaikan makna puisi tersebut dengan baik. Membaca puisi dapat dilakukan dengan tiga cara. Yang pertama, pembacaan tekstual. Ciri khas gaya pembacaan tekstual adalah membaca teks puisi di tangan. Seperti halnya pada pembacaan teks berita, sesekali penyair melihat teks puisi yang dibawanya atau tidak dihafal sepenuhnya. Pembacaan tekstual dapat divariasikan dengan berbagai gaya maupun gerakan tubuh lainnya pada saat membaca puisi. Dua, pembacaan deklamasi. Pembacaan deklamasi puisi tidak membawa teks puisi pada saat pembacaannya. Pembaca akan lebih bebas dalam bergerak karena tidak terikat oleh teks secara visual. Meskipun demikian, pembaca harus mampu menampilkan penghayatan yang lebih baik pada saat tidak membawa teks puisi serta menghafalnya.

[42:34]Tiga, pembacaan teatrikal. Pembacaan teatrikal adalah gaya membaca puisi dengan menampilkan ekspresi, penghayatan, hingga penjiwaan penuh. Gaya membaca puisi ini mirip pertunjukan teater, yaitu pembaca puisi dapat menampilkan pertunjukan puisi yang dibantu dengan alat bantu serta media pendukung seperti kostum, musik, latar, dan tata letak panggung.

[43:07]Demikianlah materi pembelajaran kita hari ini. Sampai berjumpa di pembelajaran Bahasa Indonesia lainnya. Salam dari SMKN 1 Surabaya.

[43:29]SMKN 1 Surabaya. Kuat! Sampai jumpa.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript