Thumbnail for KURMA (Kuliah Ramadhan) 3 Hukum Alam Semesta bersama Ari Tjahjani, S.Pd by SMAN 1 Loa Kulu

KURMA (Kuliah Ramadhan) 3 Hukum Alam Semesta bersama Ari Tjahjani, S.Pd

SMAN 1 Loa Kulu

37m 49s3,998 words~20 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Pull quotes
[0:10]Perkenalkan saya sebagai host Muhammad Dimas Prayata dan narasumber saya Ibu Hari Cahyani S.Pd, M.Pd.M.
[0:10]Anak-anakku sekalian untuk misi acara Ramadan belajar di rumah yang pertama Ibu akan menjelaskan tentang hukum semesta ya.
[0:10]Allah subhanahu wa ta'ala itu mengatur hambanya, makhluknya yang kita-kita ini semua manusia dengan menggunakan hukum semesta.
[0:10]Nah, untuk hukum semesta yang pertama yang ingin saya jelaskan adalah hukum cermin langit ya.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:10]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Perkenalkan saya sebagai host Muhammad Dimas Prayata dan narasumber saya Ibu Hari Cahyani S.Pd, M.Pd.M. Hari ini kami bakalan podcast dengan penyampaian tema hukum alam semesta. Nah, Ibu jelaskan dulu hukum alam semesta itu gimana, Bu? Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahi rabbil alamin wa bihi nasta'in wala illa. Ashadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba'd. Anak-anakku sekalian untuk misi acara Ramadan belajar di rumah yang pertama Ibu akan menjelaskan tentang hukum semesta ya. Hukum semesta itu ada banyak ya. E ada sekitar 20 sampai 25. Tapi untuk saat ini Ibu akan menjelaskan tiga hukum saja. Nah, nanti anak-anak bisa catat ya. E sebenarnya begini anak-anak ya. Allah subhanahu wa ta'ala itu mengatur hambanya, makhluknya yang kita-kita ini semua manusia dengan menggunakan hukum semesta. Atau biasa kita sebut itu sunnatullah, gitu ya. Nah, untuk hukum semesta yang pertama yang ingin saya jelaskan adalah hukum cermin langit ya. Nah, anak-anak akan tahu ya cermin itu apa? Dimas tahu cermin ya? Tahu, Bu. Yang tampak di cermin itu siapa? Diri kita sendiri. Diri kita ya yang bercermin, seperti itu ya, seperti itu. Nah, di alam semesta ini itu seolah-olah ada cermin besar ya, cermin besar kayak di langit gitu loh. Cermin itu akan memantulkan diri kita. Nah, diri kita itu yang seperti apa? Yang dipantulkan adalah pikiran dan perasaan kita. Anak-anak mungkin setiap hari berdoa itu misalkan berdoa itu waktunya 5 menit misalkan ya, nah kali misalkan setelah salat lima waktu, berarti 5 menit kali 5 menit lagi, eh 5 menit kali lima berapa Dimas? 25. 25 menit ya, 25 menit. Padahal sehari ada berapa berapa jam sehari? Ada 24 jam. 24 jam ya. Kalau 25 menit itu kan kita anggap setengah jam saja ya. Berarti masih ada 23 setengah jam kita enggak berdoa. Nah, itu anak-anak yang dibaca oleh cermin semesta itu adalah apa yang kita pancarkan dari pikiran dan perasaan kita. Misalkan begini, kita berdoa misalkan, ya Allah, jadikan saya orang sukses, gitu ya. Tapi yang dipancarkan di kehidupan sehari-hari yang 20, ah, 23 setengah jam itu dia selalu dalam keadaan takut, keadaan sedih, keadaan marah ya kan. Justru itu yang dikabulkan. Jadi yang namanya jalur langit itu dia harus sesuai, dia harus mengondisikan pikiran dan perasaannya selalu berani, terus dia bersyukur kayak gitu. Itu yang dipancarkan. Jadi kalau berdoa itu jangan memancarkan rasa kekurangan, tapi pancarkan rasa sudah punya bersyukur. Misalkan Dimas pengen HP ya, pengen HP. Kan kalau pengen aja itu kan kekurangan istilahnya, ya aku pengen HP lah yang bagus iPhone Pro Max berapa? 18. 18 misalkan. Itu kan perasaan ini yang dipancarkan dan kekurangan ya kan, kekurangan. Padahal sebetulnya kalau yang mau benar secara teori hukum semesta ya, dia dia enggak kayak gitu berdoanya. Ya Allah, terima kasih, saya sudah punya HP, iPhone Pro Max 18 kayak gitu. Jadi walaupun belum ada tapi disyukuri dulu. Nah, itu jadi yang terpancar di cermin semesta itu rasa syukurnya. Rasa sudah punya maka itu nanti yang akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, gitu ya. Terus yang kedua, hukum semesta yang kedua itu hukum Law of Projector ya. Atau bisa juga kalau disebut Law of Fraction atau hukum tarik-menarik atau hukum ini, proyektor. Proyektor itu kan ada layar, ada juga sumber gambarnya ya. Misalkan layar ada juga laptopnya ya kan. Terus kira-kira gambar yang ada di layar dengan di laptop itu sama enggak? Sama, Bu. Sama ya. Seandainya di laptop itu gambar orang perang kira-kira di layar gambar apa? Perang, Bu. Perang ya. Kalau di laptop gambar eh orang yang ada di padang rumput yang hijau, kira-kira gambar apa? Orang yang di padang rumput itu, Bu. Iya, seperti itu anak-anak ya. Jadi apa sih yang dimaksud layarnya itu tadi, kan Law of Projector ya, proyektor ya. Yang ada di layar itu sebetulnya adalah realitas kita sekarang. Sedangkan yang sumbernya atau laptopnya, itu juga pikiran dan perasaan kita di masa lalu, paham ya? Jadi realitas kita sekarang seperti apa, itu merupakan hasil dari pikiran dan perasaan kita di masa lalu gitu loh. Nah, tapi kalau realitas kitanya akan datang itu adalah hasil dari pikiran dan perasaan kita yang sekarang. Jadi misalkan di realitas kita sekarang kita jadi anak yang gagal, jadi anak yang nakal, gitu loh, misalkan seperti itu. Berarti ini kan realitas yang sekarang aja. Jangan lihat realitasnya, abaikan realitas. Kalau mau mengganti, kalau mau mengganti di layarnya anak-anak, kita ganti di mana? Layarnya kah dihapus atau laptopnya diganti tayangan? Di laptopnya, Bu. Di laptopnya ya. Jadi semudah itu sebenarnya kita itu mengganti diri kita yang lebih baik. Ganti pikiran dan perasaan kita. Caranya kayak apa, Bu? Ya, begini aja, kamu kalau sekarang misalkan pada realitas kamu ini anak yang enggak sukses di kelas ya, ganti pikirannya, oh, aku pasti sukses. Nah, kalau sudah ada niatan kayak gitu, niat ini menggerakkan tubuhnya. Oh, saya belajar lebih baik, gitu loh. Jadi yang pertama itu memang anak-anak, pikiran dan perasaan itu harus dibaiki dulu ya, karena itu nanti muncul niat di situ. Terus realitas kita sekarang misalkan berbeda, berbeda. Contohnya misalkan kita ingin ya banyak uang ya, banyak uang. Misalkan kita sedih, ah aku enggak punya uang. Nah, terus itu diganti di pikiran dan perasaannya. Mmm, cari buku, meningkatkan perasaan bersyukur, disyukuri dulu apa yang kita punya. Oh, alhamdulillah, orang tua masih ngasih sangunya nih, Rp10.000 sehari. Itu disyukuri dulu. Jadi yang punya disyukuri dulu. Kalau sudah seperti itu baru dia vibrasinya berubah. Kalau sudah berubah, apa ya yang kira-kira kebiasaan yang enggak baik yang mau saya rubah supaya saya banyak uang, ya kan? Misalkan dari Rp10.000 dia nabung Rp5.000. Kan kalau punya uang biar Rp5.000, biar Rp2.000, itu kan vibrasinya beda. Oh, aku punya uang, gitu loh. Ini biar jadi habit dulu, kebiasaan dulu, gitu. Itu cara merubahnya anak-anak ya. Jadi enggak bisa apa-apa itu langsung orang simsalabim dari enggak baik jadi baik. Enggak bisa. Atau dari baik jadi enggak baik, itu juga enggak bisa. Dimulai dari pikiran dan perasaan kita. Terus yang ketiga, itu ada hukum energi dan vibrasi. Nah, ini ini sudah diteliti oleh seorang psikiater ya, Dr. R. Hawkin, PhD. Maksudnya dia ini ya santis ya, atau apa ya santis itu ilmuwan ya, ilmuwan. Sudah diteliti bahwa anak-anak ternyata eh pikiran dan perasaan itu ada ukurannya. Bisa diukur ya, ini berupa energi. Energi itu ternyata bisa diukur dengan alat tertentu dan dia dikelompokkan. Jadi kalau misalkan saya bawa ini ya, ini tabel energi Hawkin ya. Nanti misalkan ada anak-anak yang pengen tabelnya bisa saya share ke OSIS ya, nanti bisa minta ke OSIS ya. Jadi begini, si Pak Hawkin ini dia itu membagi energi itu menjadi dua hal. Yang pertama adalah yang bagian bawah ini energi force ya, atau energi rendah ya, energi rendah. Yang kedua ini energi power atau energi tinggi ya, tinggi. Dan itu bisa diukur anak-anak. Nah, kita ambil yang terbawah dulu, malu ya, malu. Nah, malu ini, orang yang malu ini, orang yang malu, energinya itu kecil banget anak-anak. Kalau kamu punya HP dengan energi yang 20% itu kan cepat mati anak-anak ya, cepat ah, iya, heeh, cepat low-bat. Dia sudah low-bat jadi cepat mati. Orang yang malu, nah, itu mudah sekali bunuh diri misalkan, bersalah gitu loh. Dia merasa bersalah ya, merasa bersalah masuk ke nilainya 30. Itu rendah banget anak-anak. Bahkan saya ada murid saya itu begini, dia cerita-cerita yang belum terjadi ya, cerita-cerita ke temannya. Saya ini mau mau mendapat ini, itu, ini, itu, gitu loh. Ini murid saya betulan ini. Nah, terus ternyata apa yang diceritakan itu tidak terjadi. Akhirnya dia malulah, sehingga cerita-cerita ke kelas-kelasnya, ke teman-teman sekelasnya. Akhirnya apa? Karena malu itu dia enggak mau sekolah. Kayak gitu, memang orang malu itu energinya rendah banget. Enggak mau sekolah akhirnya dia putus sekolah. Itu kan merugikan banget ya. Kita sudah bujuk-bujuk tapi dia tetap enggak mau. Nah, itu akibat dia malu. Apalagi kalau misalkan ada anak di-bully ya, di kelas gitu ya, itu kan dia malu ya. Maka dia energinya rendah banget, nanti bisa terjadi hal-hal yang tidak baik, ya. Seperti itu anak-anak ya, untuk kalau energi yang di bawah. Terus misalkan energi yang lain adalah eh ini misalkan kesedihan ya, sedih. Sedih itu masuk ke 75, ini termasuk rendah juga. Anak-anak kalau sedih, misalkan eh ada peristiwa di luar, terus sedih kamu pikir, itu kira-kira pada saat peristiwa kesedihan itu terjadi atau sepanjang hari ini dia pikir sedih. Nah, ini kan seharian tuh dipikir sedih. Maka itu yang terpancar sedih. Maka dia akan menarik kesedian yang lain gitu loh. Sama juga dengan marah. Marah itu energinya merusak anak-anak ya, merusak. Jadinya eh enggak baik. Dia masuk energi yang force atau energi yang eh bawah, energi bawah. Nah, baru yang atas ini power, itu dimulai dari berani ya. Berani, netralitas, kemauan, penerimaan, berserah diri, nah, itu. Jadi nanti ada yang mungkin nanti ya, saya berikan ke OSIS tuh, eh misalkan dia energinya eh takut, nanti emosinya apa? Nanti kejadiannya dia dihidupnya sehari itu apa? Seperti itu ya. Seperti eh jadi nanti anak-anak bisa lihat, diriku ini seperti apa sih, saya posisi di mana gitu loh. Itu namanya eh ini hukum energi ya, hukum energi. Ini kan ada di atasnya ya, ini energi bawah dan ini ada energi atas ya. Nah, seperti itu. Nah, ternyata anak-anak, semua kesuksesan orang-orang yang sukses ya, orang-orang yang apa ini? Pokoknya pemimpin-pemimpin.

[13:20]Terus eh kebahagiaan atau eh misalkan gini loh, anak yang sukses, finansial atau uangnya banyak, gitu loh ya. Relationship atau eh hubungan ya, misalkan dengan orang tua, dengan guru yang baik itu adanya di sini. Mobil, rumah, kesuksesan semua adanya di frekuensi di atas ini, energi di atas ini anak-anak ya, energi power. Sedangkan yang sedih, malu, takut, marah, khawatir ada di sini. Kira-kira bisa ketemu enggak? Satu di bawah bergeraknya satu di atas. Bisa ketemu enggak? Enggak kan anak-anak. Jadi bagaimana caranya supaya kamu bisa ketemu apa yang kamu maui. Motor, ya HP, ya kesuksesan, jadi orang yang apa ini? Mungkin berlimpah. Jadi kamu kan harus mengganti ya, mengganti energimu itu menjadi yang energi power. Nah, seperti itu anak-anak ya. Nah, terus apa sih yang dilakukan oleh kita supaya kita ada di energi yang atas ya, energi power. Atau supaya cermin semesta ini memancarkan hal-hal baik pada diri kita. Terus atau misalkan Law of Projection. Bagaimana sih cara kita untuk mengubah laptop itu supaya ke realita kita sekarang itu menjadi lebih baik ya. Jadi abaikan realita, yang penting diri kita itu dibaiki. Cara membaikinya kita bagaimana? Yang pertama itu ya otomatis kita harus jadi menaikkan energi jadi berani ya, berani itu percaya diri kan, percaya diri. Saya bahkan melihat murid-murid saya itu, dia punya talen yang bagus, pintar juga. Tapi enggak PD, gitu loh anak-anak, enggak PD. Akhirnya enggak jadi apa-apa. Misalkan dia pintar nyanyi. Ayo kamu lomba nyanyi, naik ke atas pentas. Ah, enggak, aku malu. Aku nanti ini, ini, gitu. Itu enggak PD, itu harus dirubah ya. Bahkan saya pernah melihat itu anak yang sudah tampil menari di atas pentas ya, di atas pentas. Itu semuanya tunduk begini, semua tunduk sambil menari-nari gini. Nah, kira-kira yang melihat itu nyaman enggak? Enggak nyaman. Enggak bagus. Kenapa begitu? Karena dia pertama malu, yang kedua enggak PD, iya kan? Jadi itu dibuang anak-anak, kalau pengen baik itu dibuang gitu loh. Seperti itu ya. Nah, terus yang kedua, kita itu harus selalu bersyukur. Nah, bersyukur. Bersyukur itu anak-anak, yang terbaca oleh hukum semesta itu yang keluar dari hati. Jadi kalau misalkan saya ngasih Dimas nih, Dimas uang Rp50.000, oh iya Bu, terima kasih. Alhamdulillah itu enggak bisa terbaca anak-anak, kamu bukan orang bersyukur kayak gitu, gitu loh. Tapi dia gayanya itu harus sampai ke perasaan. Jadi, ya Allah Ibu, terima kasih, saya dapat uang gitu loh. Terima kasih ya Allah, gitu-gitu. Harus sampai begitu. Nah, itu sudah saya saya praktikkan anak-anak ya. Jadi Bu Ari itu kalau berdoa, tiap hari berdoa kan, selesai salat lima waktu, enggak pernah saya itu berdoa ya Allah, berilah saya ini, ini, enggak. Tapi saya selalu bersyukur, mensyukuri hal-hal sudah saya punya, jadi ya Allah terima kasih hari ini saya sudah punya, yang saya punya ya, saya punya motor. Terima kasih ya Allah, hari ini saya masih bernafas. Kayak gitu-gitu anak-anak. Ini sudah betul-betul menyentuh saya perasaan. Kalau kita bersyukur anak-anak, energinya langsung naik loh anak-anak. Sabar ya, masuk ke penerimaan, jadi energinya 90. Luar biasa pokoknya energi bersyukur. Saya pernah punya murid itu bilang gini, kenapa kamu kok kemarin enggak turun? Anu, Bu, saya enggak ada motor. Dilek bilang begitu. Berarti apa itu? Mengeluh kan? Mengeluh kan lawannya bersyukur, ya kan? Saya tanya, kamu punya kaki enggak? Punya. Bersyukur mana punya motor tapi kamu enggak punya kaki? Ya bersyukur punya kaki. Nah, itu caranya. Jadi anak-anak itu, apa yang kita miliki itu kita syukuri, paham ya? Jadi misalnya gini, ya Allah, terima kasih, masih punya kaki untuk bisa bergerak ke mana-mana. Terima kasih punya mata yang bisa untuk melihat yang indah-indah, gitu anak-anak. Itu dalam doa loh anak-anak. Justru yang dikabulkan Allah itu adalah vibrasi kita yang itu loh, energi-energi yang terpancar dari perasaan dan pikiran kita. Paham ya Dimas ya? Iya, Bu. Jadi namanya jalur langit itu bukan biar salat tahajud tiap malam tapi dalam dirinya selalu ada vibrasi kekurangan itu enggak nyambung. Bisa tapi lama gitu loh. Kita punya cita-cita ya. Kalau hanya dari ibadah aja itu ibarat kita mencapainya itu jalan kaki aja. Tapi kalau pakai jalur langit, pakai hukum vibrasi frekuensi ini kan ilmu Allah juga ya, anak-anak ya, sunnatullah juga. Maka itu seperti kita naik mobil menuju ke sana itu lebih cepat, gitu loh. Seperti itu anak-anak ya. Jadi, jadi jaga betul perasaan dan pikirannya, harus selalu yang baik ya. Terus selanjutnya yaitu ini, apa memaafkan. Nah, memaafkan ini energinya tinggi banget anak-anak ya. Masuk di penerimaan ya, memaafkan. Misalkan ya, kita eh kita dimarahi orang, atau dimarahi orang tua, ah, itu pasti kita itu jadi anu ya, jengkel ya kan, jengkel dan sebagainya. Itu langsung bawa ke doa. Langsung bawa ke doa. Gini, ya Allah, saya maafkan Mama saya, misalnya tadi dimarahi ya, sudah dimarahi atau dipukuli Mama, itu langsung ya Allah, saya maafkan Mama saya, bahagia kan dia. Langsung balas dengan didoakan yang baik. Mudahkanlah rezekinya, sabarkanlah Mama, gitu loh. Kayak gitu ya Dimas ya. Iya, Bu.

[19:33]Soni enggak tahu itu. Nah, malaikat itu ternyata oh Dimas sudah mendoakan si Soni itu. Eh, Dimas sudah mendoakan si Soni itu.

[20:41]Langsung dia bilang, ya Allah, ini eh hamba-Mu Dimas ini mendoakan si Soni dengan yang baik-baik, kabulkanlah.

[20:54]Malaikat bilang apa? Kabulkan dulu untuk si Dimas, kayak gitu loh. Oh. Jadi semakin banyak kita mendoakan orang, semakin banyak kita semakin banyak, gitu loh. Nah, itu sudah juga Ibu praktikkan. Nah, kalau dari ini ya, hadisnya anak-anak ya. Eh gini, kalau eh untuk berani itu ayatnya atau dalilnya itu Al Imran 139. Nanti bisa dibuka di eh Al-Qur'annya masing-masing ya, baik yang Al-Qur'an langsung musaf atau yang digital ya, bisa.

[21:33]Baru itu penerimaan atau ini belum ya penerimaan itu berserah diri atau apa ya berserah diri itu gini loh. Kamu misalkan ulangan ya, kamu sudah belajar tuh. Ternyata mengerjakannya itu terus kamu kok enggak bisa gitu loh. Ya sudah pasrah saja sama Allah. Ya Allah, saya sudah berusaha nih, saya kira-kira eh saya saya yakin ya Allah, saya dapat bagus. Nah, gitu loh. Pokoknya kita menerima, menerima, gitu loh ya, seperti itu. Itu dalilnya di atau Al-Qur'an At-Talaq ayat 3 ya. Baru tuh yang memaafkan itu dalilnya Al-Qur'an surah Asy-Syu'ara ayat 40. Dan kalau mendoakan itu di hadis, yaitu apabila seorang Muslim dia mendoakan saudaranya yang tidak sepengetahuan dia maka doanya akan terkabul. Ada riwayat mengatakan bahwa malaikat nanti mengatakan kepada Allah dan Allah bilang, kabulkan dulu untuk si dia. Nah, untuk yang mendoakan. Makanya Bu Ari itu minimal sehari itu mendoakan 10 orang. Semakin orang itu kita benci, semakin kita doakan yang baik. Misalkan saya benci nih sama murid saya ini jengkel nih, gitu loh. Maka saya doakan dia, ya Allah semoga muridku yang ini jadi baik, jadi anak yang saleh, salehah, jadi orang yang sukses. Saya doakan yang kayak gitu loh. Kenapa? Nanti balik ke saya. Anak saya jadi berbakti pada orang tua gitu loh. Kayak gitu ya Dimas ya. Iya, Bu. Oke, itu hasil dari pemaparan materi dari Ibu Ari. Nah, sekarang sesi tanya jawab yang akan dibacakan oleh Soni ini, Bu. Iya, silakan Soni. Silakan Soni. Menurut Ibu, bagaimana ketertarikan antara Law of Attraction, Law of Vibration, dan Law of Action dalam membentuk pola kehidupan seorang siswa? Oh, bagus sekali ya pertanyaannya. Jadi, gini loh anak-anak. Segala sesuatu itu energi ya, energi. Dan setiap energi itu mempunyai frekuensi atau bisa diukur ya. Segala sesuatu diri kita, pikiran kita, perasaan kita, termasuk juga benda mati ini, manusianya kita juga ya, hewan, tumbuhan itu semuanya adalah energi ya. Segala sesuatu itu energi. Dan energi itu bisa diukur. Dia bergetar di mana. Itu namanya frekuensi. Baru frekuensi ini nanti bisa mevibrasi, menyebar, menyebar ya. Kita ini bisa jadi yang menyebarkan vibrasi ya. Bisa juga kita sebagai receiver atau penerima vibrasi. Contohnya begini anak-anak ya. Kalau misalkan eh kamu posisi menguap nih, ngantuk puasa ya, menguap. Tidak lama itu sebelah, teman kita sebelah itu menguap. Iya enggak kayak gitu. Nah, itu tandanya kita mevibrasi. Contohnya lagi, kalau misalkan saya, nanti Dimas jawab ya, Dimas jawab ya. Assalamualaikum. Waalaikumsalam. Nah, kalau sudah bilang, assalamualaikum. Waalaikumsalam. Nah, kan bisa beda itu loh, itu namanya eh vibrasinya mengalir ya. Kita memancarkan, kita juga menyerap. Nah, kalau frekuensi itu begini. Kalau frekuensinya sama itu anak-anak, biasanya saling tertarik, saling tertarik. Ini namanya resonansi. Frekuensinya sama dia saling beresonansi akan tertarik. Misalkan gini, Dimas hobinya apa? Olahraga. Olahraga ya. Dia akan menarik orang-orang yang sefrekuensi yang suka olahraga. Enggak mungkin Dimas ini bergaul dengan orang yang suka masak, misalkan. Beda, frekuensinya beda. Nah, makanya kita itu pikiran kita, misalkan pagi itu kita jengkel, marah sama adik. Jangan dibawa-bawa terus. Kita diam dulu, hilangkan marahnya. Soalnya kalau tidak nanti di sekolah itu akan menarik hal-hal lagi yang sama. Kita jadi marah lagi, enggak tahu kita tiba-tiba tersandung batu, atau tiba-tiba teman kita jahil nyubit, gitu loh. Pasti itu anak-anak, ini hukum semesta sudah. Kalau hukum semesta itu percaya enggak percaya pasti terjadi. Orang orang masih pelajar atau orang dewasa pasti terjadi, gitu loh anak-anak ya. Jadi enggak enggak peduli orang kaya, orang miskin pasti terjadi. Itu hukum vibrasi. Nah, kalau energy, Law of Action ya. Hukum Action itu ya apa yang kita pikirkan itu pasti akan kita lakukan, kan? Jadi dalam dunia ini penciptaan itu ada dua ya. Penciptaan yang pertama itu di pikiran kita, penciptaan kedua adalah di realitas. Contohnya begini, kalau eh misalkan ada seorang tukang bangunan mau membuat gedung, ya kan? Itu apa yang dilakukan dulu? Lihat toh jangan eh lihat toh apa yang ada di pikirannya. Nanti saya bangun gedung itu, eh apa ini? Rumah misalkan ya, kamarnya dua, ya kan. Terus eh ada ruang tamu. Dibangun dulu, dibayangkan toh di pikirannya. Baru dibangun dari bayangan itu tadi menjadi aksi, gitu loh, menjadi aksi, Law of Action. Jadi pikiran dan perasaan itu akan jadi aksi gitu loh nanti, seperti itu ya. Paham ya, sudah? Kalau vibrasi kita menyebarkan, ya kan? Menyebarkan emosi kita itu loh. Sedih, menyebarkan sedih, bahagia, menyebarkan bahagia. Saya sekarang bahagia anak-anak, kita bahagia. Gitu ya. Lalu bagaimana hubungan antara pikiran, perasaan dan tindakan dalam penerapan tiga hukum alam semesta tersebut, Ibu? Nah, gini. Eh, ini tadi pikiran dan perasaan itu penentu anak-anak, penentu utama ya. Penentu utama kita melakukan tindakan. Kadang-kadang orang itu jadi berbeda, pikiran dan perasaan itu bahasa kita itu niat gitu loh, niat. Misalkan gini, kamu eh ini mengerjakan tugas.

[27:42]Ada orang tertentu yang berniat bahwa jadi tindakan dan niatnya saya mengerjakan tugas ini supaya saya pintar. Ada yang kayak gitu. Tapi ada kalanya dia saya mengerjakan tugas ini yang penting saya dapat nilai, akan berbeda itu. Hasilnya dampaknya akan berbeda. Iya paham ya? Sudah masuk enggak di pertanyaannya? Iya, Bu. Oh, ya, oke. Lanjut, Ibu. Mengapa Law of Action dianggap sebagai pelengkap dari Law of Attraction dan Law of Vibration itu? Nah, gini. Law of Action pelengkap aja kan? Karena apa? Begitu sudah Law of Attraction. Jadi pertama itu di pikiran dan perasaan itu tadi berupa niat ya. Baru dia itu kan memancar Law of Vibration, ya kan? Baru setelah memancar dia kan light attract light, atau sesuatu yang sejenis itu saling tertarik. Kalau bahasa agama itu kan, laki-laki yang baik pasti ketemu wanita yang baik kan kayak gitu. Laki-laki yang buruk ketemu wanita yang buruk. Itu kan light eh light attract light ya, atau sesuatu yang sejenis itu saling tarik-menarik. Kayak tadi itu, Dimas hobinya olahraga, pasti dia narik orang-orang yang seperti itu. Misalkan ya, kamu pikiranmu gini, aku mau motor ya, motor. Misalkan Soni pengen motor apa? ZX. ZX ya. Misalkan Soni mau motor ZX. Soni kalau mau tidur, pejam aja, pejam aja, bayangkan aja motor ZX. Warnanya apa? Bayangkan aja kamu itu sudah pegang, sudah naik, kamu bahagia kayak gitu. Besok itu, enggaknya tiba-tiba ada motornya, enggak. Tapi kamu sepanjang jalan ke sekolah itu akan ketemu aja motor-motor itu yang kamu idamkan. Kayaknya gitu. Nah, dicoba anak-anak ya, kamu kalau enggak nyoba enggak bisa. Eh, mau tidur itu ini namanya istilahnya kuantum jam ya, kuantum jam itu kita menarik apa yang kita inginkan di dunia kuantum atau dunia energi. Ditarik dulu rasanya, kan hubungannya sama pikiran sama perasaan, rasanya. Baru nanti secara Allah ya, melalui alam semesta itu nanti akan mengisahkan, jadi fisiknya. Nah, gitu loh. Udah tahu nanti yang kabulkan itu atau dikabulkan pasti Allah ya, melalui dikasih orang tua kah, kamu ulang tahun tiba-tiba surprise dapat motor, gitu ya. Atau tiba-tiba dapat undian, gitu loh. Kayak gitu ya. Itu eh namanya kuantum jam ya. Lanjut. Lalu bagaimana contoh penerapan tiga hukum alam semesta dalam kehidupan pelajar di Indonesia? Nah, ini Indonesia itu secara umum ya, tapi untuk kita-kita aja ya. Dari tiga hukum alam semesta itu yang terpenting itu adalah kan kita harus memper memperbaiki pikiran dan perasaan. Gitu ya. Usahakan pikiran dan perasaan itu pada posisi energi yang power ya. Selalu bersyukur, tidak pernah mengeluh, itu. Kan saya sering tuh anak-anak itu, misalkan dikasih tugas, ih tugas lagi, tugas lagi sedang menulis. Misalnya hujan, kuah kok hujan lagi ya. Nah, itu enggak benar itu anak-anak. Itu sudah narik yang enggak baik-enggak baik. Itu nanti bisa jadi penerapannya ya di pelajarnya. Kalau kita sering mengeluh, nanti yang ketarik kan, ketarik ya, hukum Law of Attractionnya ya. Kan keluar keluhan lagi. Misalkan dapat nilai oh enggak sesuai mengeluh lagi, kayak gitu loh. Paham ya? Itu sudah dalam sekop kecil perorangan dari diri kita. Kalau semua pelajar itu suka mengeluh, tidak mau bersyukur itu kan enggak baik untuk Indonesia ya kan? Gitu ya. Oke. Nah, ini Indonesia itu secara umum ya, tapi untuk kita-kita aja ya.

[31:59]Mungkin ada kesimpulan singkat dari Ibu nih dari materinya, Bu. Closeting statement ya. Anak-anak, jadi dari banyak hukum semesta ya, Ibu hanya membahas tiga hal, yaitu cermin semesta, yang kedua Law of Projection, dan yang ketiga hukum energi, vibrasi dan frekuensi. Nah, itu diterapkan terutama eh kita harus tiap hari itu bersyukur ya. Mensyukuri apa yang sudah kita dapat dan kita mensyukuri apa yang belum dapat. Yang disyukuri apa? Rasanya. Dia secara fisik kan belum punya ya, misalnya pengen motor. Disyukuri dulu, ya Allah terima kasih sudah punya motor itu tadi ya. Nah, itu tadi seperti itu disyukuri dulu. Kalau sudah di dunia kuantum disyukuri, kuantum itu dunia energi ya, disyukuri nanti Allah melalui alam semesta itu diwujudkan. Diwujudkan dalam bentuk materi. Itu kan energi, kan kalau memadat jadi materi. Nah, seperti itu. Itu aja ya sudah dari Ibu. Terima kasih anak-anak ya sudah mendengarkan.

[37:12]Saya akhiri, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Nah, sekian dari podcast saya tadi. Nah, ini ada pesan nih dari saya untuk siswa Ibu selama Ramadan. Untuk siswa di bulan Ramadan, tetap semangatlah. Eh, apa ini? Tetap pikir positif juga. Jangan lupa salat. Oke. Mungkin sekian. Terima kasih ya, Bu. Iya, sama-sama. Sumassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript