[0:17]Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan puncak dari rangkaian peristiwa yang terjadi pada akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia. Sukarno dan Muhammad Hatta adalah perwakilan bangsa yang menjadi aktor di Bali pembacaan teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Momen bersejarah ini tidak lepas dari peran para pahlawan lainnya, seperti Sayuti Melik, Ahmad Subarjo, Sukarni, dan BM Dia. Banyak pihak yang ikut terlibat dalam peristiwa tersebut tidak terkecuali pihak dari luar bangsa Indonesia yaitu Jepang. Laksamana Tadashi Maeda adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang turut membantu proses perumusan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Keterlibatan Laksamana Maeda terjadi karena pada saat perumusan teks proklamasi rumah milik Tadashi Maeda menjadi tempat berkumpulnya anggota PPKI, golongan muda serta beberapa pemimpin pergerakan. Di ruang makan Laksamana Maeda dirumuskan naskah proklamasi kemerdekaan yang merupakan pemikiran tiga tokoh yaitu Soekarno, Mohammad Hatta dan Ahmad Subarjo. Dari hasil pembicaraan ketiga tokoh nasional tersebut, disepakati dialog pertama berbunyi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menjabakan kemerdekaan Indonesia.
[1:42]Pemirsa, dalam perumusan naskah proklamasi yang semula akan diberi judul maklumat kemerdekaan, akhirnya berganti menjadi proklamasi atas saran Iwa Kusumantri dengan berbagai pertimbangan bahwa Jika menggunakan kata maklumat akan berarti suatu keputusan dari suatu badan atau pemerintahan. Sedangkan saat itu yang diperlukan adalah sesuatu yang mencerminkan keputusan suatu bangsa yang menyatakan kebebasan dari penindasan penjajah dan menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia yang merdeka. Di dalam naskah proklamasi kalimat perkalimat lahir dari suatu kesepakatan yang mengatasnamakan bangsa Indonesia. Sebut saja pada kalimat pertama tertulis jelas Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Kata-kata keramat itu diguratkan dalam bentuk coretan dan tulisan tangan yang merupakan amanat penderitaan rakyat Indonesia. Sehingga memberi makna kemerdekaan diperoleh bukan hasil pemberian dari bangsa lain tetapi merupakan suatu pernyataan bentuk tekad, kemauan bangsa untuk menentukan nasibnya untuk merdeka dalam segala hal.
[2:53]Naskah teks proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno, lalu Mohammad Hatta dan Ahmad Subarjo yang berperan mendikte isi teks proklamasi tersebut. Setelah teks proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno, naskah tersebut disalin dan diketik oleh Sayuti Melik. Terdapat perbedaan antara naskah yang ditulis tangan oleh Soekarno dan yang diketik oleh Sayuti Melik. Pertama, naskah yang ditulis tangan terdapat coretan pada kata penyerahan, namun akhirnya kata yang tertulis adalah pemindahan. Juga kata diusahakan yang dicoret, lalu menjadi diselenggarakan. Naskah ini pernah hampir terbuang, namun pada awal dasawarsa 1990-an, Arsip Nasional Republik Indonesia melalui Sekretariat Negara berhasil mendapatkannya dan menyimpannya di ruangan khusus. Kedua, naskah ketikan Sayuti Melik merupakan dokumen yang diketik Mohamad Ibnu Sayuti alias Sayuti Melik. Sayutilah yang mengusulkan untuk mengganti tulisan wakil-wakil bangsa Indonesia menjadi atas nama bangsa Indonesia, serta tulisan dan tandatangan Soekarno Hatta. Juga penambahan hari 17 bulan 8 tahun 05. Kesamaan kedua naskah tersebut pada penulisan tahun 05 yang merujuk pada tahun Jawa Jepang 2605. Naskah ini tentu saja tanpa coretan dan hapusan. Tulisan proklamasi diketik huruf kapital berbeda dengan naskah proklamasi tulisan tangan.
[4:21]Pemirsa, bulan Ramadan pagi hari pukul 05.00 tepatnya hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Fajar memancar di ufuk timur, embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks proklamasi hingga dini hari. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Menjelang pelaksanaan proklamasi kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 cukup sibuk. Wakil Walikota Suwiryo memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, S. Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Ia justru mencari sebatang bambu yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit oleh tangan Nyonya Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar karena kainnya yang berukuran tidak sempurna. Sebab memang kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera. Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah khawatir akan adanya pengacau dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu, Bung Karno dalam kondisi sakit dan baru tidur setelah selesai merumuskan teks proklamasi. Para undangan telah banyak berdatangan. Rakyat yang telah menunggu sejak pagi mulai tidak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar proklamasi segera dilaku. Para pemuda yang tidak sabar mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks proklamasi. Namun Bung Karno enggan membacakan teks proklamasi tanpa kehadiran Muhammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Muhammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Bung Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih, kemudian keduanya menuju tempat upacara. Upacara itu berlangsung sederhana saja tanpa protokol. Latif Hendraningrat, salah seorang anggota Peta segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latif kemudian mempersilakan Soekarno dan Muhammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi. Kemudian teks proklamasi pun dibacakan.
[7:38]Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih. Ketika Surastri Karma Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, ia menolak. Ia mengatakan, lebih baik seorang prajurit yang mengibarkan bendera. Tanpa ada yang menyuruh, Latif Hendraningrat yang berseragam Peta berwarna hijau maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud lalu mengambil bendera dari atas bahu yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latif Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan tanpa ada yang memimpin. Para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran bendera dilanjutkan dengan pidato sambutan Walikota Suwiryo dan Muwardi. Dadan Wildan dalam artikelnya, sebagaimana dimuat pada laman Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia yang dipublikasi pada tanggal 17 Agustus 2019 mengungkapkan. Setelah upacara pembacaan proklamasi kemerdekaan ada sepasukan barisan pelopor yang berjumlah kurang lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa, S. Brata meminta agar Bung Karno membacakan proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu, Bung Karno tidak sampai hati. Ia keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar keterangan itu, Brata belum merasa puas. Ia meminta agar Bung Karno memberi amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai upacara itu, rakyat masih belum mau beranjak. Beberapa anggota barisan pelopor masih duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno. Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, datang tiga orang pembesar Jepang. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno. Utusan Jepang tersebut mengatakan, Kami diutus oleh Gunsa KKK datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan proklamasi. Proklamasi sudah saya ucapkan, jawab Bung Karno dengan tenang. Utusan Jepang itu terkejut dan keheranan. Di sekeliling utusan Jepang itu mata para pemuda yang masih berada di rumah Bung Karno melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara itu, Latif Hendraningrat terjenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekap suasana tegang ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung saja ada Frans Mendur dari IP Pos yang plat filmnya tinggal tiga lembar. Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada tiga. Yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks proklamasi, pada saat pengibaran bendera, dan sebagian foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.
[10:35]Pemirsa, peristiwa besar bersejarah yang telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung hanya satu jam dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun peristiwa itu telah membawa perubahan yang luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Gema lonceng kemerdekaan terdengar ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia.
[11:07]Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei, sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebar luaskan gema proklamasi itu ke seluruh dunia. Proklamasi kemerdekaan adalah simbol perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Momen ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah berhasil mengusir penjajah dan mengambil kendali atas tanah airnya sendiri. Proklamasi ini mengajarkan nilai-nilai ketahanan, keberanian, dan semangat untuk melawan penindasan yang terus memperkuat identitas nasional Indonesia.



