[0:03]Tuhan yang baik, Tuhan yang mengasihi kami, Tuhan tolonglah kami boleh bersama-sama belajar tentang disiplin rohani, sebuah disiplin rohani yang terlupakan yaitu puasa.
[0:20]Mampukan kami memahami dan mampu melakukan apa yang Tuhan mau dalam kehidupan kami.
[0:28]Berkatilah setiap Bapak Ibu, Saudara-saudara yang bersama kami, yang melihat materi ini. Tuhan berkati perekonomian kami, kerohanian kami, kesehatan kami,
[0:41]ekonomi kami dan semua aspek kehidupan kami, relasi-relasi kami, sehingga boleh mendatangkan kemuliaan buat Allah Tritunggal.
[0:51]Kami mohon Roh Kudus memakai penginjil Maria dalam segala keterbatasan dan kekurangan, Tuhan memampukan.
[0:59]Berkati semua interaksi kami. Biarlah segalanya mendapat mendatangkan kemuliaan buat Tuhan demi Yesus kami sudah berdoa. Amin.
[1:10]Ya, ini di tempat kami angin keras ya. Jadi berharap tidak lampu mati begitu ya. Jadi sehingga internet boleh terus berjalan. Angin cukup besar sekali di Malang ya, di Jawa Timur.
[1:27]Oke, saya akan berikan waktu kepada Penginjil Maria.
[1:31]Sebelumnya saya akan
[1:40]sekarang kita akan bersama-sama belajar tentang materi ini.
[2:18]Ya. Tuhan memberkati kita.
[2:28]Selamat malam Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan. Suatu anugerah kalau kita boleh bertemu kembali pada malam hari ini ya. Kita akan membahas secara khusus yaitu kuasa puasa. Disiplin yang terabaikan.
[2:40]Nah, Bapak Ibu, Saudara yang dikasihi, puasa ini sekarang mungkin lagi dilakukan oleh beberapa gereja ya, karena mendekati Paskah gitu. Sekarang kita ini sekarang Prapaskah.
[2:54]Kemudian saya tertarik karena buku ini sebenarnya sudah pernah saya baca. Namun setelah saya baca ulang, ternyata saya punya kerinduan untuk membagikannya buat setiap kita.
[3:04]Mari kita akan mulai ya. Ini adalah penulisnya yaitu Bapak David Rushworth Smith. Beliau adalah seorang pendeta dan penulis buku yang berasal dari Inggris, dikenal karena karyanya dalam bidang teologi dan spiritualitas, serta sebagai editor beberapa buku Kristen.
[3:26]Beliau juga terlibat dalam pelayanan Kristen, termasuk sebagai Pastor di beberapa gereja di Inggris. Beliau sudah meninggal pada tahun 2012, pada usia 84 tahun. Oke. Selanjutnya,
[3:43]Maaf. Ya. Kalau kita mendengar yang namanya puasa, puasa ini sebenarnya lazim di antara orang Kristen mula-mula, suatu disiplin kuno yang diteruskan ya. Setiap orang Kristen itu sebenarnya punya rasa tanggung jawab kepada orang lain dan dirinya sendiri, dan juga kepada Tuhannya.
[4:08]Nah, di sini kita akan melihat tanggung jawab ini terdapat di dalam Matius 6 ayat 1 sampai 18, di mana ada tiga aspek yang ada. Yaitu yang pertama yaitu memberi sedekah, ya.
[4:19]Memberi sedekah itu adalah tanggung jawab seseorang percaya kepada orang yang lain. Kemudian yang kedua berdoa yaitu tanggung jawab orang Kristen kepada Allah ya. Yang ketiga berpuasa ya.
[4:36]Ini adalah tanggung jawab orang Kristen kepada dirinya sendiri ya. Ini ya. Tiga aspek perilaku Kristen ini ada di dalam Matius pasal 6 ayat 1 sampai 18.
[4:50]Jadi sebenarnya tiga rangkaian ini menjadi satu disiplin rohani yang biasanya dilakukan oleh orang Yahudi pada saat itu. Thomas Cartwright dalam bukunya The Holy Exercise of a True Fast yaitu tahun 1580 mengatakan puasa yang benar itu terdiri dari latihan-latihan jasmani secara lahiriah.
[5:14]Namun tidak hanya itu saja, tetapi perlu adanya disertai kebajikan batin yang didukung oleh latihan-latihan jasmani. Dengan kata lain, puasa keagamaan itu punya tujuan untuk kepentingan lahiriah dan batiniah ya. Ini melibatkan tubuh, pikiran dan roh.
[5:33]Selanjutnya. Puasa itu sebenarnya punya memiliki arti. Yang pertama yaitu merendahkan diri berarti melibatkan tubuh kita dalam tindakan penyangkalan diri.
[5:54]Menyebabkan manusia menarik diri dari kesenangan-kesenangan duniawi, arti lain yaitu merendahkan hati dihadapan Allah di dalam Yakobus 4 ayat 8 sampai 10. Dan juga menyiratkan pengorbanan kehendak pribadi yang membuat puasa menjadi bernilai. Nah, ketika seseorang berpuasa ini salah satu artinya ya, merendahkan diri terutama dihadapan Tuhan.
[6:20]Yang kedua, arti yang kedua yaitu berpantang. Dalam Perjanjian Lama puasa itu artinya menutup mulut. Kalau di dalam Perjanjian Baru itu lebih sifatnya artinya tidak makan ya.
[6:31]Nah, kata yang digunakan untuk hal berpantang total/sebagian makanan untuk tujuan keagamaan. Jadi bisa juga arti puasa itu juga itu pantang total atau sebagian. Jadi ada makanan yang dimakan ada yang tidak ya.
[6:50]Kemudian orang Kristen itu ketika berpuasa itu sebenarnya tidak hanya asal makanan, tetapi berpantang dalam segala hal. Ya, ia tidak berlebih-lebihan dalam apapun juga dan selalu tahu kapan harus membatasi dirinya berkenaan dengan selera jasmaniah.
[7:10]Jadi orang Kristen itu berpuasa sekali lagi, tidak selalu dalam pantangan makanan, tetapi juga dengan hal lain. Contohnya misalnya gini, seseorang yang suka HP gitu ya.
[7:22]Nah, puasa tidak HP-an. Nah, itu salah satu juga yang disebut sebagai orang ini berpuasa dalam hal lain. Jadi tidak melulu ketika orang ngomong saya ini puasa. Tidak selalu tidak makan atau tidak minum. Tapi bisa dalam arti lain. Lah puasa juga berarti menyangkal diri.
[7:40]Penyangkalan diri itu mencakup semua disiplin rohani, puasa hanya salah satunya. Penyangkalan diri penting bagi kehidupan Kristen merupakan pembentukan watak. Diri menjadi semakin berkurang, Yesus menjadi semakin bertambah.
[8:00]Kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang konsisten yang tidak menonjolkan diri dan tidak mementingkan diri sendiri, punya keinginan untuk terus-menerus mati terhadap diri sendiri. Contoh Alkitab: Puasa sebagian (tidak makan, hanya minum air): Daniel - Dan. 1:8-20; Puasa penuh (tnp makan & minum): Musa - Kel. 34: 28; Ezra - Ez. 10:6; Ester - Est. 4:16; Paulus - Kis. 9:9 Tuhan akan menopang mereka secara ajaib.
[8:08]Mengapa? Karena tidak mengutamakan kepentingan pribadi lagi, tetapi mengutamakan relasi dengan Tuhan itu menjadi yang terutama gitu ya.
[8:24]Nah, menyangkal diri juga berarti kita dipanggil menjalani kehidupan yang konsisten yang tidak menonjolkan diri dan tidak mementingkan diri sendiri. Jadi punya keinginan untuk terus-menerus mati tanda petik ya terhadap diri sendiri. Jadi keinginan-keinginan daging itu distop gitu ya, dibatasi.
[8:42]Contoh di dalam Alkitab kalau kita melihat puasa itu bisa berarti puasa sebagian tidak makan, hanya minum air di dalam Daniel pasal 1 ayat 8 ayat 20. Ini ketika Daniel pertama kali datang gitu ya, ke Babel gitu ya, dia diambil gitu ya dari negaranya, kemudian di situ bersama dengan rekan-rekannya, dia berpantang makanan yang sudah dipersembahkan gitu kepada berhala.
[9:02]Dan kemudian dia kayak seperti memberikan semacam kuis gitu ya, bukan kuis ya, isinya kayak tantangan gitu loh. Saya ini nggak makan, eh nggak makan, nanti diuji itu sama berapa hari. Apakah saya yang nggak makan ini makin lebih sehat atau enggak dengan yang orang yang makan gitu ya.
[9:36]Nah, ini puasa sebagian. Selanjutnya contoh Alkitab yaitu puasa penuh. Lah kalau penuh itu tanpa makan dan minum. Nah, ini memang satu apa ya? Boleh dikatakan ini nggak mudah, nggak mudah.
[9:51]Kenapa? Karena benar-benar harus eh benar-benar nggak makan apapun, nggak minum apapun ya. Ini satu apa ya? Istilahnya karunia khusus gitu. Seperti Musa tiga Keluaran 34 ayat 28.
[10:04]Ketika dia ada di Gunung Sinai, kemudian berpuasa dan sebagainya. Ezra. Ezra 10 ayat 6. Ester. Ester 4 ayat 16. Ketika dia meminta pamannya Mordekai untuk berpuasa buat dirinya. Kalau ini 3 hari ya, 3 hari 3 malam. Untuk supaya Ester ini bisa datang kepada Raja Hasweros supaya dia tidak kena hukuman mati gitu ya.
[10:28]Paulus, Kisah 9 ayat 9. Nah, tentunya butuh pertolongan Tuhan dan menariknya di sini Tuhan pun menopong mereka secara ajaib, sehingga mereka bisa melalui proses puasa penuh ini dengan kekuatan daripada Tuhan.
[10:46]Selanjutnya. Puasa ini sebenarnya bukan merupakan suatu kewajiban, namun sebagai suatu sarana untuk mengarahkan kita kepada kewajiban-kewajiban yang lain. Yaitu kewajiban tadi disiplin rohani yang lain.
[11:00]Yesus berkata, apabila kamu berpuasa, bukan mengatakan kamu harus berpuasa, tidak. Berarti ketika dikatakan ada apabila, itu adalah suatu kata pilihan ya. Pilihan hanya untuk murid yang menginginkan kehidupan yang lebih dekat dengan Tuhan, sehingga boleh dikatakan ini bukan merupakan suatu kewajiban. Jadi puasa itu sebenarnya, sekali lagi, adalah kegiatan keagamaan di mana seseorang berpantang dari makanan untuk jangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya, atau berpantang dari hal lain untuk jangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
[11:40]Puasa karena adanya suatu kebutuhan yang bersifat pribadi dan tersembunyi, sekali lagi itu suatu pilihan.
[11:49]Nah, puasa ini adalah praktik yang dulunya diperintahkan Allah memang di dalam PL sebagai pengingat bahwa manusia itu berdosa. Jadi sebagai suatu kewajiban rohani pada saat itu. Namun sekarang hal ini berbeda gitu ya. Jadi kita melihat hal ini mungkin mengalami satu perubahan yang berbeda.
[12:09]Nah, kita perlu menyadari bahwa hampir segala sesuatu yang kita lakukan merupakan reaksi tiba-tiba terhadap sesuatu yang telah terjadi pada kita, atau kalau tidak, suatu tindakan yang dipertimbangkan sebelumnya yang telah kita pikirkan sebaik-baiknya, termasuk juga.
[12:37]Saat kita berpuasa, yang adalah suatu praktek yang akan menuntut pemikiran yang matang sebelumnya, paling penting kita harus mengetahui mengapa kita melakukannya. Nah, ini lebih pentingnya kita harus mengetahui mengapa kita melakukannya. Apa motivasi ketika kita melakukan puasa? Itu yang penting ya. Jadi setelah kita tahu apa yang menjadi motivasi, mengapa kita melakukannya, itu akhirnya lebih memudahkan kita ketika kita melakukan praktek puasa ini, disiplin rohani puasa ini. Mengapa? Karena begini ya.
[13:28]Jadi ketika kita tahu bahwa kita perlu matang dulur memikirkan apa yang mengapa kita lakukan, yang akhirnya kita mau memikirkan begini. Ada sesuatu. Misalnya, saya tahu bahwa saya ini pengin punya kehidupan pribadi yang dekat dengan Tuhan, maka dari itu saya puasa. Nah, ketika kita puasa, bisa jadi kita lemah, kita nggak berdaya. Mungkin kita mengalami kondisi, waduh, sudah nggak kuat, sudah gini.
[13:57]Namun ketika kita tahu motivasi apa, tujuan apa saya melakukan puasa, itu menjadi satu apa ya? Istilahnya goal yang kita akan mau meraih ke sana, sehingga terus dikembalikan ke situ, supaya oh iya ya, saya pengin ini. Berarti supaya goal saya tercapai ya saya harus puasa. Saya harus kuat, harus motivasi lagi, begitu ya, untuk boleh berpuasa.
[14:22]Nah, sebenarnya ada sejumlah keberatan akan puasa. Apa katanya? Dikatakan ini seluruh perbuatan ini dari orang-orang yang umum terjadi yaitu lebih penting berpuasa dari dosa daripada berpuasa dari makanan. Nah, ini memang betul. Namun begini, kita perlu melihat bahwa berpuasa memang bertujuan supaya kita berhenti dari dosa. Betul. Namun perlu diperhatikan tidak hanya berhenti dari dosa, namun ada kelanjutannya perlu adanya disiplin hati dan pikiran itu jauh lebih penting.
[14:50]Yaitu rindu mengalami kekudusan batiniah. Jadi begini. Ketika kita tahu bahwa kita perlu berhenti melakukan satu dosa yang kita gumulkan sekali yang sering kita jatuh di dalamnya. Betul. Kalau kita tahu berpuasa, Tuhan saya tahu saya lemah di dalam ini, saya mau puasa supaya saya benar-benar berhenti dari dosa ini. Oke.
[15:20]Namun tidak hanya berhenti sampai di situ saja, yang perlu kita lakukan selanjutnya, tidak berarti iya saya berhenti dari dosa itu. Titik, bukan gitu. Namun perlu ada disiplin hati, pikiran. Kadang kita bisa jatuh lagi kan? Nah, di situlah ketika kita bukan berarti ketika kita puasa wis kita pasti total, nggak mungkin melakukan hal yang dosa, tidak.
[15:43]Nah, tentu harus ada kelanjutannya. Perlu ada disiplin hati dan pikiran supaya membuat kita punya kehidupan yang kudus di hadapan Tuhan ya. Perlu proses tidak hanya langsung ketika puasa selesai sudah. Tidak.
[16:01]Gitu ya. Yang kedua, keberatan yang kedua adalah adalah tahayul mengatakan bahwa Allah menuntut beban ini pada zaman sekarang. Nah, tentu ini adalah latar belakangnya. Ternyata itu didasarkan pada pemahaman yang keliru tentang Allah yang Maha Kuasa.
[16:18]Dikatakan Tuhan itu sudah mengubah citranya. Kalau dari Perjanjian Lama itu suka menghukum, Allah yang kejam, Perjanjian Baru menjadi Allah yang mengasihi ketika Yesus itu boleh hadir, menjadi manusia gitu ya. Nah, rasanya pada masa sekarang lebih tenggang rasa. Mengapa? Kalau dulu orang Israel melakukan dosa, Perjanjian Lama ya, bisa langsung dihukum mati saat itu juga, atau diberikan hukuman. Bisa mereka bisa dihukum, bahkan itu ya, nyawa juga hilang dan sebagainya.
[16:57]Namun sekarang kok sepertinya Allah itu tenggang rasa ya. Orang sehingga seenaknya melakukan dosa tanpa nggak tahu ini Tuhan ini kapan hukumnya dan sebagainya itu. Nah, ini loh yang kadang itu pemahaman keliru tentang Allah ini, dan juga ada penafsiran Injil dengan cara tertentu, sehingga itu membuat akhirnya ini apa namanya, bahwa Allah menuntut beban ini pada zaman sekarang tidak gitu ya. Tidak. Karena memang sekali lagi Allah itu tetap sama dari dulu sampai sekarang sampai selama-lamanya gitu ya.
[17:42]Jadi perlu diketahui bahwa ini bukan satu beban yang dituntut oleh Allah pada zaman sekarang. Yang ketiga, tidaklah wajar kalau kita tidak makan. Ini keberatan yang ketiga. Padahal di sisi lain kita tahu bahwa ada manfaat psikologis yang sudah terbukti ketika kita berpuasa.
[18:07]Nah, ini ngomong tidaklah wajar. Padahal sebenarnya nggak masalah kalau kita tidak makan untuk jangka waktu tertentu tentunya ya. Ini keberatan yang ketiga. Yang keempat, ini ajaran Katolik Roma katanya. Nah, ini muncul dari kesalahpahaman dan prasangka.
[18:22]Nah, apakah ajaran mereka ini salah? Saya pikir faktanya sebenarnya pelaksanaan puasa yang benar itu mungkin bisa jadi bukan karena itu ya. Bukan berarti ketika kita melakukan puasa berarti kita berubah menjadi orang Katolik. Enggak. Saya melihat kalau kita melihat ajaran meskipun itu menjadi tradisi mungkin di dalam ajaran Katolik misalnya ya. Apa yang salah kalau kita juga mengikuti dan mengambil yang baik gitu loh.
[18:54]Di mana kita bisa belajar sekali lagi untuk lebih dekat kepada Tuhan, untuk lebih punya hubungan yang intim dengan Tuhan. Nah, ini ya. Ini mungkin perlu hal yang pemikiran-pemikiran keberatan ini semua kita tahu supaya setelah itu kita luruskan gitu ya.
[19:11]Selanjutnya, puasa hanya cocok untuk murid-murid Tuhan Yesus setelah Ia disalibkan, tetapi sekarang tidak perlu lagi dilakukan. Ini sebenarnya didasarkan pada satu kutipan dari ucapan Yesus di Matius 9:14-15 dan Lukas 5:33-35 yang seharusnya diimbangi dengan lebih dari satu petunjuk yang lain.
[20:00]Lebih baik menjauhkan diri dari iri hati dan kesombongan ketimbang dari makanan. Prinsipnya semua dosa itu tidak benar, tetapi melakukan kehendak Allah selalu benar. Saya telah mencobanya beberapa kali dan tidak melihat perbedaan dalam diri saya atau dalam kehidupan doa saya. Perlu ditanggapi dengan jujur. Yang diperlukan: harus bertekun dalam menerapkan disiplin ini sampai hal itu memiliki arti dan nilai. Jadi maksudnya begini, ketika Yesus mengatakan kamu tidak perlu puasa, karena saat itu aku masih ada bersama dengan kalian gitu ya.
[19:42]Setelah itu, setelah itu baru dilakukan. Sebenarnya ini tidak sepenuhnya benar gitu ya. Jadi boleh dikatakan nggak ada salahnya kalau kita lakukan saat ini. Ini kan waktu konteks saat itu ketika Yesus masih bersama dengan murid-muridnya gitu ya.
[20:00]Selanjutnya, lebih baik menjauhkan diri dari iri hati dan kesombongan daripada ketimbang dari makanan. Nah, ini kembali lagi ke seperti yang prinsip yang pertama tadi. Prinsipnya begini, semua dosa itu tidak benar ya, termasuk iri hati, kesombongan itu. Tetapi melakukan kehendak Allah selalu benar. Jadi yang penting ketika kita, yaitu kita harus melihat frame bahwa puasa itu tidak hanya selalu dengan makanan, tetapi juga di dalam segala hal.
[20:34]Mungkin seseorang sudah berkali-kali jatuh di dalam dosa iri hati, kedengkian, misalnya ya, kesombongan. Nah, itu juga ketika kita tahu bahwa itu tidak benar, kita mencoba untuk berpuasa terhadap hal-hal ini, dosa yang kadang mengganggu yang membuat kita ketergantungan dan sebagainya.
[20:54]Kemudian bisa keberatan yang selanjutnya, saya telah mencobanya, maksud mencoba berpuasa berberkali-kali dan tidak melihat perbedaan dalam diri saya atau dalam kehidupan doa saya. Nah, ini perlu ditanggapi dengan jujur. Mengapa kok saya ini nggak ada perbedaannya ya ketika saya melakukan puasa dan nggak.
[21:11]Yang diperlukan sekali lagi bukan berarti berhenti, namun harus bertekun dalam menerapkan disiplin ini sampai hal itu memiliki arti dan nilai. Jadi ketika kita melakukannya coba kenapa ya, kok nggak ada perbedaan dalam diri saya, kehidupan doa saya memang ya.
[21:30]Nah, perlu direfleksi kembali, bukan berarti berhenti namun terus bertekun, dilakukan rutin, terus terus-menerus, sehingga akhirnya kita bisa mendapatkan arti atau nilai ketika kita berpuasa.
[21:44]Nah, sebenarnya kita perlu melihat alasan-alasan orang berpuasa. Yang pertama, menghindari murka Allah. Nah, tentunya kadang orang melakukan dosa, dia mengalami pertobatan, dia takut melakukan hal Tuhan akhir murka sama dia, akhirnya dia berpuasa. Yang kedua, reaksi emosi. Kadang ada beberapa orang yang mengalami masalah psikologis tentang masalah emosi dan tidak memiliki nafsu makan, sehingga dia berpuasa.
[22:09]Yang ketiga, tindakan berjaga-jaga ya, di mana kemenangan rohani nanti akan diraih. Jadi ada sesuatu yang diharapkan yaitu ada satu kemenangan rohani setelah menyelesaikan pergumulan-pergumulan yang dihadapi. Yang keempat, memelihara tradisi pada masa Perjanjian Lama. Kita tahu sama-sama ketika orang Israel pun baru mau keluar dari tanah Mesir, mereka diminta untuk berpuasa dan sebagainya.
[22:34]Selanjutnya, meminta pengampunan Allah setelah jatuh dalam dosa, di mana unsur pentingnya di sini adalah penyesalan. Boleh dikatakan ini masuk di dalam yang pertama ya. Meminta pengampunan Allah, menghindari murka Allah dan sebagainya.
[22:48]Selanjutnya. Alasan yang keenam, sarana untuk membantu mengendalikan nafsu. Nah, ini tentu nilai rohaninya sifatnya pribadi. Ketika seseorang mungkin sering apa ya? Punya kelemahan di dalam dosa tertentu ya. Nah, kemudian perlu berpuasa supaya dia terkendali dan sebagainya ya.
[23:09]Alasan yang lain, menjaga keseimbangan antara hal jasmani dan rohani. Selanjutnya, kerinduan untuk mendapatkan belas kasihan yang khusus yaitu punya kebutuhan khusus untuk mencari Tuhan. Bisa jadi mengalami satu pergumulan, mengalami satu masalah, di mana perlu mendapat pertolongan Tuhan. Nah, kemudian dia berpuasa.
[23:31]Selanjutnya untuk penyembahan dan perjamuan kudus. Di mana ketika seseorang berpuasa itu merendahkan diri dan menundukkan diri. Ini bisa menjadi banyak alasan seseorang untuk melakukan puasa.
[23:42]Nah, kalau dikatakan puasa di dalam kitab Injil ya, ya. Puasa itu kadang yang diperoleh ada upahnya. Kalau orang Farisi itu dipuji oleh manusia ya, di dalam Matius pasal 6 itu ya. Kamu kalau orang percaya yang rendah hati itu upahnya dari Bapa yang di surga.
[24:02]Memang puasa orang Kristen sejati itu tidak perlu memperoleh manfaat yang nyata saat itu juga. Bisa jadi itu suatu balasan yang diberikan Bapa yang di surga memiliki sifat kekal yaitu sifat rohani maupun segi jasmani.
[24:16]Nah, ini ya, ada manfaat-manfaat yang kita terima sebagai hasil puasa. Yang pertama yaitu persekutuan yang lebih dalam dengan Kristus. Yang kedua, memberi saya pertolongan dan bimbingan Ilahi ya, misalnya ya, untuk persiapan pekerjaan, pelayanan gitu. Ketika seseorang berpuasa dia ingin mendapatkan pertolongan dan bimbingan dari Tuhan.
[24:39]Yang ketiga, bertumbuh dalam kasih karunia. Di mana dasarnya memberi umat Allah pengertian yang mendalam mengenai kemahakuasaan Allah dan ketergantungan mereka sendiri sepenuhnya kepada Allah. Yang keempat, manfaatnya, bertumbuh di dalam iman. Karena puasa itu memiliki kemampuan untuk mendorong iman dalam diri seseorang. John Wesley mengatakan doa dan puasa itu adalah sarana yang ditetapkan oleh Allah untuk memperoleh iman itu.
[25:07]Yang kelima, kuasa atas si jahat. Nah, kuasa itu diberikan oleh Allah yang hanya dapat kita terima, suatu karunia Ilahi yang perlu dipelihara. Yang keenam, berfungsi pada waktu memberitakan firman. Adakalanya fungsi puasa itu digunakan dan merupakan suatu cara yang efektif, sehingga ketika berpuasa mempersiapkan kebenaran firman Tuhan, bisa menghasilkan khotbah yang selalu sangat dihargai, berkobar-kobar akan kebenaran.
[25:37]Selanjutnya, manfaat selanjutnya yaitu kesejahteraan fisik. Nah, ini ya, perlu mendekati topik ini dengan motif yang benar. Ya, perlu ada yang dinamakan keseimbangan antara cara hidup dan memperbaiki jiwa. Suatu perbaikan secara fisik juga dengan cepat. Jadi ketika seseorang itu ingin berpuasa ketika untuk orang yang mengalami penyakit itu perlu ada konsultasi dengan dokter. Apakah saya perlu ini? Bisa puasa dengan cara bagaimana? Kondisi kesehatan saya bagaimana? Jadi perlu ada motif-motif yang benar.
[26:07]Ya, perlu ada keseimbangan. Jadi walaupun tetap berpuasa tetap bisa tetap sehat gitu ya. Ada konsultasi-konsultasi dengan dokter diperkaitaan dengan mungkin penyakit yang diderita itu akan lebih fleksibel. Misalnya disarankan dokter tidak harus puasa minum air ya, hanya puasa makan, hanya tidak misalnya tetap bisa minum air gitu ya, yaitu tergantung kondisi masing-masing. Kedelapan, kuasa atas keduniawian.
[26:43]Maksudnya adalah puasa itu kadang-kadang diperlukan karena merupakan sarana untuk mengekang kedagingan kita dan keinginan-keinginan akan kedagingan itu. Karena kita mengizinkan pikiran kita berpaling kepada masalah-masalah rohani, sehingga tidak menjadi ujian utama lagi kedagingan itu, namun ada sesuatu nilai yang berbeda, mengutamakan kerohanian. Yang kesembilan, mengatasi krisis. Dengan berpuasa, didapati bahwa diri mereka lebih mampu mengatasi krisis daripada sebelumnya.
[27:17]Nah, inilah manfaat puasa. Namun ada hal yang perlu penting yaitu perangkap atau bahaya yang dapat membuat seseorang terjebak saat berpuasa. Yang pertama, ritualisme. Nah, ini terjadi jika terus-menerus dilakukan sehingga menjadi kebiasaan yang membosankan. Jadi ada ritualnya terus, sehingga tidak ada kesan yang berbeda, kesan yang spesial lagi ketika seseorang mengalami puasa. Askese, tahu ya sendiri ya. Askese itu adalah suatu tindakan seperti mengekang diri.
[27:50]Seperti kayak menghindari hal-hal yang sifatnya duniawi, seperti ini. Salah satu contoh yang lebih ekstrem itu bertapa, memisahkan diri. Nah, ini sebenarnya merupakan anggapan aliran stoa, yang mengatakan bahwa kalau seseorang askese itu berpuasa tujuannya itu untuk melawan sifat buruk dan kecemaran pribadi melalui suatu sistem disiplin rohani yaitu puasa. Jadi kalau puasa berarti bisa melawan sifat buruk, kecemaran pribadi. Betul memang, tapi tidak sepenuhnya betul.
[28:25]Karena ketika seseorang itu berpuasa, bukan berarti sekali lagi yang saya katakan tadi, semua urusan beres. Semua dosa bisa. Tidak. Askese itu bukan untuk istilahnya menjadi satu apa ya? Satu obat, jaminan bahwa ketika seseorang itu boleh dikatakan berpuasa, semua selesai. Berpantang segala hal seperti benar-benar ini kalau askese itu boleh dikatakan berpantang apapun ya, hidup benar-benar seperti maaf di sini seperti orang biarawan ya. Biarawan yang tidak mau menggubris hal-hal yang duniawi seperti itu.
[29:11]Nah, ada juga terjebak saat berpuasa yaitu puasa-puasa palsu. Nah, ini sebenarnya tindakan-tindakan ini itu bukan termasuk puasa. Misalnya aksi mogok makan. Nah, biasanya kalau aksi mogok makan itu biasanya untuk menarik perhatian demi alasan yang baik. Misalnya mogok makan terhadap akhirnya demo ke suatu perusahaan gitu ya, supaya mendapatkan kenaikan gaji dan sebagainya. Akhirnya gaji itu pokok makan dan sebagainya itu hanya untuk menarik. Itu puasa palsu, bukan untuk yang yang kita bicarakan gitu ya. Ini semua tindakan-tindakan yang berbeda gitu ya, yang tidak mau tidak mau makan, tidak mau mengambil tindakan makan gitu ya. Jadi memang sengaja tanda petik menyiksa diri gitu ya.
[30:47]Kemunafikan ya, perangkap bahaya selanjutnya kemunafikan. Kemunafikan itu berarti kepura-puraan. Nah, bahaya yang paling tak kentara yang akan dihadapi di dalam puasa. Matius 6 ayat 16 ya. Jadi kemunafikan supaya dilihat orang rohani gitu ya. Makanya dia puasa, dilihat orang. Wah, orang ini ternyata puasa ya. Wah, luar biasa imannya rohaninya. Begitu ya.
[31:30]Bukan itu ya, Ma. Perangkap bahaya selanjutnya yaitu mementingkan diri sendiri. Nah, ketika seseorang berpuasa, perlu ada kesadaran akan kehendak Allah dan ingin kehendak-Nya itu dinyatakan kepada kita. Jika tidak, maka dapat menjadi suatu tindakan mementingkan diri sendiri. Zakharia 1:1-7, Matius 6:16-18 itu ya. Jadi beda bergeser, bukan kembali kepada Allah kehendak Allah yang benar yang dinyatakan di mana kita menantinya.
[32:20]Namun ketika puasa itu dilakukan tanpa punya patokan ini melenceng, mementingkan diri sendiri, supaya pengin dipuji, dinilai rohani, luar biasa dan sebagainya. Lebih ke diri akhirnya. Bahaya perangkat selanjutnya yaitu sikap ekstrem. Adanya aturan-aturan yang kaku dalam berpuasa. Misalnya begini, adanya tekanan harus puasa. Kalau nggak puasa berarti kamu bukan orang Kristen. Bukan itu ya.
[32:51]Kadang ada seperti itu. Puasa dalam jangka waktu yang panjang. Harus puasa kalau panjang. Kalau nggak panjang itu berarti kamu punya iman yang rendah dan sebagainya. Kemudian lagi ya. Bahkan kalau kita lihat di dalam Yunus itu ekstremnya sampai ternak pun diminta untuk berpuasa. Nah, itu. Ini rasanya tidak seharusnya begitu ya.
[33:17]Namun ini kan memang kondisi yang ada saat itu. Memang tidak bisa dipersalahkan. Namun ini yang perlu kita perhatikan bahwa jangan sampai kita terperangkap dalam bahaya ini. Harus puasa supaya dinilai punya iman yang kuat. Harus puasa panjang waktunya, tidak boleh tidak. Karena kamu nanti dianggap ini dan sebagainya. Nah, ini jadi satu hal yang perlu kita waspadai yang kadang kala terjadi di dalam kehidupan orang-orang Kristen sampai saat ini ya.
[34:56]Merasakan diri ketika seseorang berpuasa itu lebih kerohaniannya daripada yang lain. Padahal itu juga tidak demikian. Karena yang pentingnya bukan pameranya, bukan mengutamakan dirinya, tapi ketika puasa itu dijalankan, itu ada satu apa ya? Dorongan dalam hati, keinginan untuk mau dekat dengan Tuhan, mau intim dengan Tuhan. Banyak hal yang bisa dilakukan.
[35:21]Tadi kita sudah melihat alasan-alasan ketika kita berpuasa. Nah, ketika puasa itu dilakukan disiplin puasa ini tidak merupakan perintah, tidak ada kewajiban yang tercakup di dalamnya. Tidak ada waktu yang jelas yang diberikan untuk melakukan disiplin ini fleksibel. Karena setiap orang percaya itu secara pribadi itu bertanggung jawab atas cara puasa yang dilakukannya. Suatu kebebasan. Jangan menjadi satu beban gitu ya. Jangan sampai seperti nanti menjadi satu sifat yang ekstrem ya, harus berpuasa ya.
[36:03]Gitu ya. Boleh dikatakan setiap orang itu setiap orang percaya itu secara pribadi itu bertanggung jawab atas cara puasa yang dilakukannya. Suatu kebebasan. Nggak ada ketentuan harus hari Senin, harus hari Rabu, tidak. Fleksibel ya. Karena setiap orang percaya itu secara pribadi itu bertanggung jawab atas cara puasa yang dilakukannya. Suatu kebebasan. Nggak ada ketentuan harus hari Senin, harus hari Rabu, tidak. Fleksibel ya. Maka dari itu, waktu yang normal bagi seorang Kristen dewasa untuk melakukan puasa itu adalah ketika hatinya memberitahu dia untuk melakukannya. Kesimpulannya memang Tuhan lebih memperhatikan sikap yang digunakan orang Kristen berpuasa daripada waktu berpuasa itu sendiri. Anggapannya adalah motif-motif kita itu lebih penting daripada frekuensi atau durasi puasa kita.
[38:17]Nah, ketika puasa itu dilakukan, disiplin puasa ini tidak dapat dipisahkan begitu saja dari doa. Keduanya perlu berjalan bersama-sama. Mengapa? Ketika puasa itu dilakukan, ada satu kerinduan dalam hati untuk dekat sama Tuhan melalui doa ya. Komunikasi kepada Allah dengan doa ya, berjalan bersama-sama, supaya apa? Menjadi satu kekuatan yang indah, menjadi satu disiplin rohani yang indah. Tidak melalui jangka waktu yang lama, baru dikatakan orang itu mendapat sesuatu hal yang luar biasa dalam kehidupannya. Tidak ya. Tidak benar kalau untuk apa ya? Istilahnya mematikan pendapat bahwa selalu jangka waktu lama, itu tidak benar. Ya, memang ada pertentangan yang bisa saja terjadi ketika seseorang puasa yaitu ada rasa lapar, merasa lemah, sakit kepala mungkin. Nah, ini jangan minum obat kalau sakit kepala. Nanti sakit kepala itu akan hilang dengan sendirinya ketika kita rajin berpuasa. Selanjutnya bau nafas. Nah, kadang ya karena kan istilahnya kan mulut ini tidak dipakai untuk makan gitu ya.
[40:28]Jadi akhirnya ini eh boleh dikatakan mulut ini geliga dan sebagainya itu apa ya? Istilahnya mengeluarkan bau yang tidak sedap ya. Akhirnya untuk itu perlu perlengkapan diri dengan mungkin air jeruk segar ditambah madu begitu untuk menghilangkan bau nafas gitu ya.
[40:46]Nah, belum bisa jadi pertentangan penganiayaan dari orang Kristen yang tidak setuju kalau puasa itu merupakan suatu disiplin untuk masa kini. Perlunya sikap tenang dan ramah. Nah, bisa jadi pertentangan penganiayaan dari orang Kristen yang tidak setuju bahwa berpuasa merupakan suatu disiplin untuk masa kini. Perlunya sikap tenang dan ramah. Nah, bila ini boleh jadi berkat buat setiap kita. Nah, saya persilakan mungkin ada Bapak Ibu yang mungkin ingin memberikan pertanyaan, saya persilakan. Terima kasih, Tuhan memberkati.



