Thumbnail for Robot vs Manusia: Siapkah Anda Digantikan Robot? | Satu Cerita Untuk Indonesia feat Yohanes Kurnia by Jimmy Oentoro Channel

Robot vs Manusia: Siapkah Anda Digantikan Robot? | Satu Cerita Untuk Indonesia feat Yohanes Kurnia

Jimmy Oentoro Channel

26m 22s3,238 words~17 min read
Auto-Generated

[0:00]Jadi kalau kita enggak enggak ikut dalam pendidikan ini, Pak Jimi, nanti berikutnya bukan cuma marketing yang digantikan, Pak Jimi. sales pun digantikan. Saat generasi yang akan datang ini, generasi Z dan yang ke atasnya itu, mereka akan lebih likely learning AI more than us. Ya kan? Berarti job-job yang kita lihat sebagai petugas parkir, ya kan? Apalah gitu yang bukain pintu atau juga mungkin clerk. Ya atau pegawai bank itu akan replace by robot, by AI itself, by robot adalah pastinya. Pak kalau kita bicara robot ya banyak orang sudah ngerti, tapi kebanyakan orang kalau bicara robot kelihatannya alien somewhere gitu ya. Bisa ceritakan enggak apa sih sebenarnya robot itu sendiri? Ya kalau bagi kami Pak Jimi, robot itu adalah mekanisme yang bisa membantu kita, mempermudah kita tetapi ini otomatis dan dia cerdas. Simpelnya begitu. Jadi pembantu yang bisa automatically cerdas sesuai dengan komen dari kita gitu ya. Iya, kreasi kita. Jadi Pak Yohanes sendiri mendirikan Sari Teknologi, Sekolah Robot Indonesia Teknologi. Bisa ceritain enggak apa sih Sari Teknologi itu sendiri? Jadi dasarnya itu adalah harapan bahwa kita bisa menciptakan produk anak bangsa. Oke. Harapan dicetuskan tahun 2006, 2007. Heem. Jadi harapannya itu adalah nanti kita bisa mencetak anak-anak bangsa yang menciptakan robot buatan sendiri dengan inti the core-nya sendiri. Jadi core itu artinya sarinya sendiri. Jadi kalau kita bicara robot ya Pak Yohanes tadi kan sangat cerdas. Berarti mempunyai kemampuan intelejen yang sangat tinggi ya. Bagaimana menciptakan robot-robot yang cerdas itu sendiri? Prosesnya gimana Pak? Ya prosesnya pasti mulai dari masalah. Oke, masalah. Jadi kita selalu mencari masalah untuk bisa menemukan solusi yang kemudian solusi menjadi sebuah nilai bisnis. Heem. Dalam pembuatannya kita akan punya konsep. Nah, konsepting itu udah nomor satu bagi kami. Lalu kemudian kita designing, baik designing secara tiga rupa ya maupun juga designing secara konsepnya. Lalu kemudian baru kita pengerjaannya, Pak Jimmy. Nah itu proses-proses yang kami lalui. Mungkin enggak semudah itu. So finding the problem, lalu proses untuk solve the problem ya. Dan dibuat secara konsisten untuk solving the problem. Iya, betul. Jadi kalau kita melihat dunia robot di Indonesia sendiri kurang lebih sudah di level berapa ini sekarang, Pak? Kalau kita bilang level, boleh bilang kita masuk tingkat ya Asia lah. Cukup okelah Asia, ya. Gitu ya. Ya, cukuplah. Between Korea and Japan, okelah 11 12 lah. Wow. Iya. Saya enggak begitu realize Indonesia sudah setinggi itu ya. kalau di Jepang sudah pasti itu ya, sangat canggih sekali, Korea uprising very quickly. Tapi Indonesia disejajarkan itu wow Anda perlu tepuk tangan ini untuk Indonesia. 11 12 lah, Pak. 11 12 ya.

[3:23]Jadi kalau bicara robot ya Pak Yohanes khususnya dalam dunia teknologi dulu dalam dunia pendidikan maksud saya. Kalau bicara robot dalam dunia pendidikan bagaimana itu menurut Pak Yohanes saat ini? Iya, di dalam dunia pendidikan berarti kita punya produk ya, kit ya. Yang kemudian kita sebut sebenarnya awalnya mulai dari implementasi. Jadi kita buat implementasi yang memang dipakai di ranah industri, lalu kemudian ditarik ke bawah itu adalah bagaimana mengajarkan dalam bentuk trainer kit kepada target yang kita inginkan adalah mungkin kalangan mahasiswa atau kalangan sekolah. Nah target kit itu akan lebih muda, tetapi implementasinya menyerupai dengan yang kita terapkan di pasar. Nah, itu target kit-nya tersebut itu diserahkan kepada mereka, lalu dibikin modul pembelajarannya, kemudian pendekatannya dengan Project Based Learning. Nah itulah kita mengembangkan sekolah robot bagi mereka. Tadi kan kalau kita lihat finding the problem dulu. Betul. So berdasarkan pengamatan Pak Yohanes kalau lihat what is the problem of pendidikan di Indonesia? Sehingga Sari Teknologi menggarap robot untuk membantu solve the problem. Iya. Pendidikan di Indonesia kan boleh bilang kategorinya itu memorizing ya. Atau nilai itu adalah number one. Ya kan. Tanpa ya kita setuju tetap nilai itu adalah referensi. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa di balik nilai itu harus ada skill ya. Bagaimana dia handling the emotion, handling the creativity, innovation, and how to correlate to bridge antara problem yang ditemui dengan cara dia mensolusikan dan kemudian dijadikan satu sebuah nilai bisnis. Nah di dalam pendidikan Indonesia tuh sulit sekali menuju ke arah sana. Kami hadir lewat sebuah solusi menciptakan bridging-nya dengan project based yang kita hadirkan dengan problem based yang kita hadirkan. Awal mula kita munculkan itu sulit sekali, Pak Jimmy. Jadi karena pikiran Indonesia adalah ya udah beli yang murah aja, beli yang massal saja, beli yang mudah saja. Tiga M itu menarik ya kan. Tapi one comes to something ya, yuk kita bikin dari nol yuk, yuk kita bikin yuk, yuk kita ajak brainstorm itu susah sekali. Tapi sekarang kenapa mulai muncul mulai kencang sekali karena memang pergerakan di tahun 2011 2012 dengan gencarnya kami waktu itu lakukan itu cukup memberikan dampak bagi teman-teman lain jadi efek duplikasi. Nah efek duplikasi itu berkembang sampai sekarang dengan komunitas yang besar sekali. Nah yang saya katakan bahwa pengajaran sekarang sudah mulai masuk kepada sistem yang namanya dalam dunia pendidikan kita bilang project based learning. Nah project based learning itu akan membahas tentang pelajaran-pelajaran yang mereka temui di sekolah-sekolah. Jadi apa yang mereka pelajari di matematika, fisika, terutama fisika ya, mereka temukan di bidang robotika. Nah apalagi sekarang dengan AI, Pak Jimmy. Jadi ini malah mempercepat, mempercepat semuanya. Jadi bedanya apa dengan robotik dengan AI sendiri? Is it different technology atau up skill daripada robot sendiri namanya AI? Ya menarik nih. Jadi kita bilang itu ibaratnya kayak roh dengan tubuh. Roh dan tubuh. Iya ya kan. Tubuh pasti butuh yang namanya controlling. Dan controlling tidak bisa hanya tanpa roh. Orang bilang itu kategorinya itu adalah hardware itu adalah robotnya, software-nya itu AI-nya. Oke. Tapi robot sendiri mempunyai tingkat kecerdasan sendiri. Jadi ada berbagai macam kecerdasan. Kita bilang ada kecerdasan yang biasa atau machine, ada juga masuk lagi lebih tinggi lagi itu AI. Nah AI sendiri itu dia mampu berpikir generate sendiri solusinya dari mulai data-data yang diambil sama dia. Gitu ya. Nah saat itu di inject ke robot, maka robot itu menjadi super highly intelligence mechanism. Kita bilang mechanism. Nah itulah yang kita bisa katakan perbedaan antara robot dengan AI. Kalau AI tanpa robot dia akan hanya sebagai software atau aplikasi yang yang hanya mengambil data dan kemudian men-generate angka. Heem. Seperti itu. Jadi Pak Yohanes educate us nih. Ya kan. Robotik aja bisa kasih contoh enggak apa yang di dalam day to day kita kita enggak ngerti padahal itu robot. Oh play behind it. Iya. Sudah banyak ya, Pak Jimi ya, sudah hampir 50 60% ya. Seperti contohnya air conditioner, air conditioner maybe it's not robot to us ya. Tapi saat kita melihat air condition itu mampu menyesuaikan dengan temperatur yang ada, menyesuaikan dengan keinginan kita, lalu behavior-nya kita, lalu memantau lewat kamera tentang behavior kita kepanasan atau kedinginan, dari menyesuaikan diri itu sudah dianggap sebagai living mechanism. Living mechanism. Nah, kalau living mechanism itu kan sebenarnya kita enggak bisa mengatakan itu jadi sebuah manusia, enggak, tapi kita bilang mengatakan sebuah robot. Bukan seorang manusia. Nah, itu sudah muncul. Mesin cuci juga termasuk salah satunya. Wow. Tapi saat mesin cuci tersebut hanya dipencet oleh manusia itu bukan robot. Tapi saat mesin cuci itu bisa setelah diberikan data oleh manusia untuk mulai, lalu kemudian dia mulai tahu bahwa ini barangnya apa, bagian dari menyesuaikan sesuai dengan beratnya, maka disebut dengan AI dan robot. Ya kan. Lalu kemudian sekarang mulai berkembang otonom car, autonomous car. Di manufacturing kita banyak sekali me-handle namanya autonomous car. Ya autonomous bagaimana dia mendeliver produk dari satu tempat ke tempat lain memilih produk yang tepat. Pak Jimmy hanya menggunakan kamera vision. Dan sekarang juga kami punya robot yang sudah masuk ke retail. Kita sebut dengan ropi, Robot Pintar Indonesia. Ya itu buatan Indonesia tuh.

[9:16]Itu mampu generate data dari lingkungan sekitar lalu kemudian dia bisa merespon balik ketemu Pak Jimmy terus bilang Pak Jimmy apa kabar? Eh ketemu kemarin, kemarin gimana? Nah itu adalah sistem dari mana bagaimana menerapkan NLP. So semua bahkan the police adalah mobil ya begitu buka pintu selamat pagi. Iya, iya. Robotik semua. More likely to humanoid now sekarang. Jadi kita akan masuk satu level baru thanks to sebenarnya Jepang sudah punya itu ya dengan Asimo-nya. Tapi kita lihat percepatan sekarang mulai dari si Tesla juga. Tesla juga akan punya robot sendiri ya. Kelihatan bahwa persaingan sekarang bukan di hanya sebagai tingkat antara apa sih namanya sih ya negara saja tetapi sudah perusahaan. Iya. perusahaan melihat bahwa manusia itu butuh dilayani. Dan layanan itu harus dengan personalisasi. Nah personal itu akan masuk disebut dengan robot humanoid. Amazing. Pak Yohanes tadi you katakan bahwa Indonesia 11 12 lah dibandingin Jepang Korea sendiri. Lalu berbicara tentang dalam dunia pendidikan, kalau dalam dunia ekonomi atau e-commerce robot is everywhere. Bisa jelaskan enggak kepada audiens kita? Iya. Dalam e-commerce sendiri ya kita punya aplikasi ya di handphone kita ya. Heem. Ya banyak sekali data-data kita juga menggunakan large language model generative AI yang sekarang suka kita pakai. Mau bikin apa? Tinggal ketik aja sama chat GPT. Si large language model ini ditraining oleh data-data kita. Ya apalagi sekarang dia shake hand sama Google ya, wah seluruh data dia udah learning, Pak, behavior-nya kita. Wow. Dengan matematika yang diformulasikan lalu kemudian apa yang kita temukan di aplikasi sekarang kita mudah generate. Contoh Anda tinggal bilang karena data-data kita sudah banyak ya, karena sumber kekuatan daripada AI itu dari internet, kemudian dari data, data yang dimasukkan oleh kita, ya input oleh kita. Lalu kemudian the learning of behavior kita. Nah itu akan melahirkan apa tuh, Pak Jimi? Jadi melahirkan adalah prediksi. Jadi Pak Jimi minta bikin presentasi dia bisa keluarkan. Pak Jimi minta bahkan ada orang yang bikin presentasi juga atau bikin pembicaraan topiknya mau apa itu ada di chat GPT. Nah itu yang muncul, Pak. Muncul. Keuangan sekarang sudah melakukan dilakukan oleh AI. Heem. Jadi kalau kita ngelihat tadi robotik di bisnis dan pendidikan saya masih curious tentang pendidikan. Lalu masih perlu enggak untuk kita masuk ke jalur formal akademik with all of the robotic AI saat ini? Iya shifting ya, Pak Jimi ya, perlu dong. Tetap perlu ya. Perlu dong, kenapa? Karena shifting. Sekarang in the next 5 years to 10 years, the jobs will be shifted a lot. A lot, Pak Jimi. Sekarang kita kenal data analis. Dan mungkin enggak terlalu penting ya. Kalau bagi saya sekarang sudah penting, Pak Jimi. Misalnya ya, Pak Jimi itu punya perusahaan. Perusahaan kita bicara e-commerce lah, perusahaan lah ya. Perusahaan Pak Jimi itu melayani penjualan dan pembelian juga. Lalu bagaimana Pak Jimi melakukan marketing dengan baik? Lalu kemudian satu waktu di mana marketing Pak Jimi kurang baik, kemudian penjualan turun. Pak Jimi bagaimana analisanya? Pak Jimi akan melakukan analisa mulai dari apa result-nya, apa reasons-nya, lalu kemudian merasakan lewat sebuah aksi. Saya ulangi merasakan sebuah aksi. Sedangkan bagi AI, sebuah matematika itu tidak. Kita mempunyai data-data. Data-data tersebut kemudian kita ambil, kemudian kita tahu behavior-nya. Lalu kita bisa main simulasi. Ya, simulasinya sudah jelas di pasar itu seperti ini, ya kan, kita bikin simulasi yang kedua. Behaviour daripada penjual A B C D sesuai dengan data-data yang kita punya sekian tahun. Lalu kemudian data di masyarakat seperti ini komersialnya, data dimasukkin, Pak Jimi. Lalu kemudian tinggal main simulasi, kita misalnya main plot twist. Kalau saya main plot twist, saya naikin, saya turunkan penjualan, ya kan, saya turunkan daripada marketing-nya. Apa yang terjadi? Di situ kita akan lihat polanya. Kita sudah bermain digital twin-nya kita. Digital twin kita membuat kita punya simulasi. Itulah AI, Pak Jimi. Lalu shifting-nya apa? Jobs-nya akan butuh orang-orang seperti ini yang mampu create konsep itu. Sehingga kita dalam bisnis akan tahu oh begitu ya cara jualannya ya. Berarti saya tahu nih cara jualan saya supaya laku bagaimana dari job-nya itu. Para marketer yang biasa menggunakan intuitif itu mungkin akan mulai terbiasa menggunakan sistem ini. Nah, itu shifting-nya, Pak Jimi. Jadi kalau kita enggak enggak ikut dalam pendidikan ini, Pak Jimi, nanti berikutnya bukan cuma marketing yang digantikan, Pak Jimi. Sales pun digantikan. Saya katakan sales. Karena bagian paling susah kan sales ya. Heem. Sales itu kan bicara soal personalisasi kita, bagaimana kita mendekati dan kita punya keahlian dan berbicara. Wow, banyak sekali sekarang aplikasi yang sudah mengenal tone. Tone, nada kita. Ya kan saya ini bicara nih tone saya ini seperti apa? Rekam langsung. Iya. Lalu dia membandingkan yang tone-tone saya sebelumnya. Wah dia analisa mungkin saat ini Pak Yohanes sedang distressed. Saat distressed terus dianalisa lagi ada apa dengan Pak Yohanes lewat tracking sosial medianya dia. Oh, sebelumnya dia posting A B C D, ketahuan, Pak Jimi. After then I come up with the prediction then I come to you as a consultant. Consultant and sales is not easy to be replaced, but at the next 5 years to 10 years, maybe another 60 or 70% will be replaced. Seriously. Seriously. It's scary. It's scary. So that's why many people saying that AI is scary things. Well, I can say that we are riding on the wave.

[15:47]What it is written will be written and then we just riding on the wave. Wow.

[16:03]Jadi Pak Yohanes kalau kita melihat ya waktu you mendirikan Sekolah Robot Sari Teknologi itu berapa tahun berapa? 1000. 2006. 2006 ya. Kurang lebih hampir what 16 18 years ago lah gitu ya. Tantangan apa yang terbesar pada waktu dulu dibandingin sekarang ini? Oke, progresnya lah atau tantangannya. Iya, tantangan dulu adalah bagaimana saat saya mulai, tidak ada yang percaya. Kenapa? Buat apa sih, mendingan belajar matematika, mendingan kursus bahasa Inggris. Ya kan. Lalu kemudian tantangan yang kedua. Iya, itu dia. Mereka nobody believe what is robot for. Bahkan mohon maaf nih sampai sekarang pun itu posisinya masih nomor dua. Kita kan tahu ada primary, secondary, tertiary. Dulu tertiary, jangan ngomong tertiary. Yang keempat kali itu generasinya. Apa tuh barang aneh? Ya kan. Sekarang tuh nomor dua, secondary, not primary, but maybe in the next 2 years kita udah enggak pemerintah-pemerintah mengatakan oh tanpa AI ini susah nih. Kenapa? Karena konsumsinya sudah mulai masif lewat internet. Itu massively everyone kalau enggak pakai chat GPT itu enggak bisa meng-create kata-kata. Bahkan nulis kata-kata buat anaknya sendiri pakai chat GPT, right? So tantangan yang itu yang saya hadapi adalah tidak ada yang suka dan kedua biaya. Kenapa, Pak Jimi, biaya? Ya karena memang creating robot saya-saya ini adalah butuh namanya research. Research itu many bloods. Banyak sekali usaha yang luar biasa sekali, bukan cuma waktu tapi juga dana, Pak Jimi. Dua masalah itu masalah yang terbesar. Berbeda sama sekarang. Sekarang masalahnya beda lagi, Pak Jimi. Bagaimana break through semua inovasi yang sudah dipunya oleh negara lain. Wow. Ya, negara lain itu kompetisinya kuat sekali, Pak Jimi. Gitu ya. Kita tuh 11 ya, 11 saya katakan 11 kenapa? Actually kita levelnya masih di bawah, Pak. Tapi kenapa saya katakan 11? Saya selalu punya kepercayaan diri bahwa saat saya ketemu dengan para ilmuwan yang lain, kan saya juga termasuk salah satu peneliti. Kita mampu kok, Pak Jimi. In theoretically and practically kita bisa buat. Tapi menjadi problem tuh adalah urutan dalam penempatan dan memastikan semua itu baik adanya dan dipraktikkan di sana itu butuh ekosistem. Nah itu kita susah. Kita enggak punya ekosistem yang mendukung dalam penelitian kita. Itu Pak Jimi.

[19:35]Jadi Wow, very interesting nih guys ya. Pak Yohanes ini otak saya berputar 1.000 kali gitu ya. Eh apa yang bisa dilakukan eh nah eh ada ide-ide apa robotik atau AI ini atau dari Sari Teknologi untuk pemerintah saat ini yang baru bekerja? Iya. Kan kita selalu bingung soal macet ya, Pak ya? Nah, ini macet gimana, Pak Yohanes? Ya kita banyak sekali teori ya bagaimana mengantisipasi macet, terus kemudian juga banyak sekali konsep. Betul ya. Yang ketiga kita banyak sekali terobosan infrastruktur. Cie ceritanya nih putaran yang enggak pernah bikin macet lah seperti itu. Sebenarnya kita lupa, Pak. Sebenarnya kita punya data. Nah data itu yang bisa kita collect, kita punya data yang cukup banyak mengenai kemacetan, ya kan, segala macamnya itu data itu generate sebuah prediksi. So dengan sistem robotik ini tidak akan macet lagi. Seharusnya dia bisa memprediksi, Pak. Bukan berarti dia bisa macet tapi kita sebagai pengguna AI, kita because riding on the wave, kita bisa tahu bahwa nanti bagian mana, jam berapa ini akan terjadi kemacetan oleh karena behavior orang-orang yang muncul ini. Dan di jalan ini akan muncul seperti ini karena pada jam-jam tertentu di sebelumnya itu membuat macet. Nah itu kan sebenarnya tidak dilakukan, Pak. Coba kalau itu dilakukan dengan baik. Waktu itu kami ketemu dengan Mas ya calon yang nomor tiga ya. Kita bilang gini, Mas, ini bisa ditemukan caranya, Mas. Saya sampaikan jabarkan pada beliau semoga beliau ingat. Ya kan. Itu bisa dianalitik. Di negara lain sudah dilakukan itu, Pak. They play the scenario. Jadi polisi itu play the scenario, Pak. Dari scenario itu bisa menemukan prediksinya, Pak. AI help you to play the scenario sebelum itu terjadi. Dan you go to the traffic light. Traffic light will play your role. Benar enggak nih? Iya. And then traffic light maybe the AI will call the police. Stay there. Bedanya apa dengan GPS? Iya dengan koordinasi sama GPS. Betul. GPS itu sebagai yang memberikan input kepada kita. Sebagai AI-nya. Saya mau berangkat ke kantor gitu ya, dari Karawaci ke Slipi gitu ya. Saya sudah tahu rata-rata 1 atau 2 jam kalau Senin. Betul. Dengan robotik bisa menolong saya apa? Dengan AI ya, kita bilang AI ya, robotik itu hardware-nya. Dengan AI akan memberitahu kepada Bapak lewat jalur yang sebelah sini akan akan memperingan. Tapi waktu dia memberitahukan kepada Bapak saat itu ada memperingan sebenarnya saya sedang mengatur, Pak. Behavior Bapak pasti akan lewat jalur ini. Kalau saya lewat jalur ini, saya ketemu dengan orang-orang lain yang akan lewat jalur yang berlawanan dengan Bapak. Gini, saya sudah ada saat itu. Enggak perlu ada Gajah Genap.

[23:25]Enggak perlu ada Gaja Genap. Ini hebat nih guys ya.

[23:35]Amazing. Pak Yohanes, thank you nih waktunya. Kalau kita bicara AI, robotik yang sekarang ini is amazing.

[23:53]One click, you can ask, you can get the answer just right away. Melebihi dari semua kita kan ya, langsung klik gitu ya. Mungkin ada pesan tertentu enggak, Pak Yohanes, untuk masyarakat kita Indonesia ini untuk melek bahkan untuk level up menjadi 11-12. Iya. Ya teman-teman ya masih tahu ya another 5 years kita akan dibombardir. Ya dengan segala macam kemudahan, kecepatan, percepatan, bahkan sampai juga shifting behavior. Ya dia behavior pembelian, penjualan, kita mau enggak mau akan ketemu dengan kecepatan itu. Ya kalau kita tidak riding on the wave dengan baik kalau kita tidak mulai dari sekarang aware about that one ya apalagi memberitahu kepada generasi kita yang ke depannya anak kita atau cucu kita ya untuk aware juga mungkin kita akan menjadi yang terbelakang juga. Tapi kalau kita bisa gerakan mereka ya kan kontribusi ya kan apalagi generasi kita besar ya, Pak ya. Kita akan menjadi penyumbang besar, Pak, bagi dunia ini. Wow. Benar ya? Yes. Generasi emas kan? Penyumbang besar. Dan kalau jadi penyumbang besar bukan cuma bangsa besar. Bisa-bisa kita adalah 11-12 saya bilang gitu. Berarti get it right why I say 11-12. Karena ke depannya bakal 11-12, Pak, if you do it right. Itu pesan saya. Wow, luar biasa.

[25:48]So guys by the way kita tadi ngobrol bukan dengan Yohanes, itu robot. Sekarang baru the real one.

[26:01]Thank you Pak Yohanes, thank you, thank you. Sukses untuk Sari Teknologi dan teman-teman semuanya. Biarlah robotik Indonesia boleh membawa Indonesia lebih maju lagi menjadi Indonesia emas. Amin. Thank you, Pak. Amin. God bless you. Terima kasih.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript