[0:00]Ada orang semalam itu ya, eh bukan semalam, saya minggu lalu, saya hampir setiap malam minggu itu ada di Jawa Timur. minggu yang lalu, sama saya enggak bisa tidur karena enggak bisa tidur. Saya lihat ada supir taksi Bluebird itu parkir di pintu masuk bandara Juanda, jadi saya dari Ploso, dari pesantren Ploso kemarin itu di Kediri itu selesai ngaji masuk ke bandara. Itu kira-kira masih 1.30 malam atau jam 02.00 malam, tahu-tahu ada supir taksi apa ini? Bluebird standby di pintu airport. Saya ngerasa ini supir Bluebird ini apa enggak tahu jadwal pesawat? Enggak ada pesawat jam segitu gitu. Tapi dia standby di situ. Karena supir Bluebird itu di situ, maka saya berpikir, ah daripada saya masuk ke hotel transit cuman mandi, saya ajak supir-supir Bluebird itu nyari mie Jawa itu mie godok. Pak, lagi nunggu orang? Oh, ndak ndak, ndak nunggu. Bapak kalau saya aja ke Kota Surabaya mau enggak? Alhamdulillah katanya. Naik saya. Begitu naik, saya lihat usianya tuh enggak muda, usianya sudah tua. Saya bertanya kepada dia, Pak, Bapak ndak istirahat, cari uang apa anak Bapak misalnya tidak lagi pada usia yang bisa menggantikan peran Bapak? Maka orang tadi bilang gini, saya ini, Pak, masih punya begitu banyak cita-cita dalam hidup untuk memberi makna dalam kehidupan ini. Singkat cerita ini karena waktunya mepet, saya bilang sama orang tadi, Bapak cita-citanya apa? Cita-cita saya itu seketika anak-anak saya sudah selesai, maka urusan anak biologis saya sudah selesai. Tapi di tempat saya tinggal itu ada beberapa panti asuhan yang sangat minim untuk mendapatkan donasi. Maka sekarang saya itu cari uang untuk mereka, kata supir tadi. Maka karena dia cari uang, saya tanya, loh, Bapak, Bapak, malam-malam begini kok masih saja taksi kan Bapak, enggak mungkin enggak ada penumpang di bandara itu. Jawaban itu memukul hati saya. Kata dia, ini sifat penghambaan, kata dia, Pak, hidup itu kayak malam ini. Saya bilang, malam ini kenapa, Pak? Malam ini sunyi. Yang berisik itu hati yang tidak pernah menerima takdir tuh ya. Saya mikir ini casing-nya supir taksi, tapi hikamnya lebih dalam dari kita semua ini. Ini yang sok-sok ngaji pakai peci kayak Kiai ini ya kan, itu dia bilang itu. Lah ini dia punya sifat bashariah di satu sisi dia cari duit, cari materi, cari dunia, tapi niatannya kan bagus. Nanti kalau saya punya uang, anak saya sudah enggak butuh uang ini, tapi saya punya cita-cita dalam hidup bukan sekedar anak saya, tapi juga anak orang lain, saya mau bantu itu dia cari duit itu. Saya bilang, Pak, malam-malam kayak gini kan apa ada-ada penumpang kata saya, kok Bapak, saya memang udah enggak kuat, Pak, kalau siang karena panas mata saya macet, saya selalu jalannya itu malam. Saya bilang, kalau malam, Pak, kan mestinya ke tengah gitu loh. Enggak, Pak, tadi saya dapat penumpang memang mau ngantar ke bandara karena dia mau terbang ke Indonesia Timur itu besok jam 4.00 pagi. Jadi saya berpikir, sudahlah, saya nunggu di sini daripada balik jauh ke tengah sebelum ketemu Bapak, saya di situ aja. Lihat, sifat dasarnya itu mau cari duit. Sifat dasarnya ada keserakahan, tapi tapi ya hatinya itu tunduk kepada Allah. Dia bilang, hidup itu akan tenang, Pak, kalau kita tahu bahwa segala sesuatu yang menjadi bagian kita itu akan datang sekalipun kita ini dalam keadaan lemah. Dan sesuatu yang bukan milik kita, sekalipun kita kejar dengan segala daya upaya dan kekuatan, kita enggak dapat.

BELAJAR NGAJI DARI SEORANG SUPIR TAKSI ‼️#shorts #gusfaiz #kisahhikmah #kisahmotivasiislam #fypp
HitamPutih
2m 58s564 words~3 min read
Auto-Generated
Watch on YouTube
Share
MORE TRANSCRIPTS


![Thumbnail for قصص الشفاء بتكرار آية الكرسي والحرز النبوي ...✔✔ by [ تفسير الأحلام ] - أبوالبراء حِلِّس](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fimg.youtube.com%2Fvi%2FbWmRsdzPExA%2Fhqdefault.jpg&w=3840&q=75)