[0:18]Tolong! Tolong! Tolong! Tolong! Tolong! Tolong!
[0:51]Jaman sekarang, manusia modern hebatnya bukan main. Mereka bisa mengirim pesan sampai ke ujung dunia. Tapi tidak bisa menempuh 2 meter ke tempat sampah. Kalian pasti sudah tidak asing membaca atau mendengar larangan. Jangan buang sampah sembarangan. Jalanan kosong tidak ada tempat sampah, lalu kalian buang begitu saja. Aku saja kalau kalian pasti pernah melakukan hal itu bukan? Tetapi saya pikir tidak ada risiko dengan hal semacam itu. Tindakan itu mudah, cepat dan tidak melelahkan. Mudah, cepat, tidak melelahkan. Itu mungkin bagimu sendiri, tapi bagi kami yang kau buang tanpa pikir panjang itu adalah awal dari penderitaan. Yang tak pernah kau lihat, tetapi kau akan merasakannya nanti. Kau pikir aku akan lenyap begitu saja hanya karena kau sudah tak ingin melihatku? Aku tidak hilang, aku terseret hujan. Masuk ke selokan lalu menyumbat aliran air, membuat banjir menghanyutkan rumah satu per satu dan membiarkan nyamuk berpesta di genangan. Kau buang aku ke tanah, dan semua yang ku balas hanyalah diam. Aku meresap ke akar, meracuni padi yang tumbuh. Dan aku akan masuk ke lambung anak-anakmu. Kau buang aku ke laut, dan lihatlah kami menyumbat insang ikan, membunuh kura-kura dan mencekit camar yang kelaparan. Lalu suatu hari nanti kau akan makan ikan yang memakan sampah plastik dari tanganmu sendiri. Sebenarnya kami para sampah tak ingin dilahirkan. Tetapi manusialah yang membuat kami lahir. Lalu membuang kami seolah kami tidak memiliki dampak. Kami diam, kami diam. Tapi diam kami mematikan. Aku, aku, aku tak pernah berpikir sejauh itu. Aku hanya, aku hanya, aku hanya malas. Ku pikir membuang sampah sembarangan bukanlah masalah besar. Cuman bungkus permen, cuman plastik kecil, lalu aku berpaling dan melanjutkan hidup. Tanpa aku sadari aku sedang menyakiti bumi yang hidup. Tapi hari itu aku disela oleh sesuatu. Sesuatu yang selama ini kuanggap tak bernyawa. Dia bersuara, bersuara keras dari tempat seharusnya aku mendengarkan.
[5:55]Dia berbicara tentang lautan yang sesak, tentang sungai yang menghitam, tentang isi perut ikan yang dipenuhi zat pilihan dan tentang nyawa kecil yang tak bisa berkata. Aku terdiam, malu lalu berpikir apa yang bisa aku lakukan? Aku bukan pejabat, bukan orang besar. Tapi aku punya hati. Dari hati lahir kepedulian. Dari kepedulian lahir tindakan. Dan dari tindakan lahir perubahan. Hari ini aku tak mau hanya berbicara, tapi aku ingin menjadi bagian dari suara. Dan suaraku adalah seni. Ya, seni. Karena lewat seni aku bisa berteriak tanpa marah. Aku bisa menangis tanpa air mata. Aku bisa menggugah tanpa menyalahkan. Lewat seni, aku bisa merubah sampah menjadi lukisan. Luka menjadi puisi, perbedaan menjadi pertunjukan dan keberagaman menjadi kebanggaan. Walaupun kita berbeda, warna kulit kita tidak sama. Aksen bicara kita beragam, tapi jangan salah. Itu adalah kekuatan kita. Indonesia besar karena berbeda. Indonesia utuh karena saling peluk dalam perbedaan. Mulai hari ini aku memilih untuk menjadi bagian dari mereka. Yang merangkul bukan mengusir, membantu bukan menghina, menginspirasi bukan menakuti. Dan jika kalian mendengarkan suaraku hari ini, jangan biarkan itu berhenti sampai telinga. Bawalah sampah dengan langkah. Bawalah sampah dengan tindakan. Bawalah sampah untuk masa depan. Karena ini bukan hanya tentang sampah. Ini tentang kita semua, tentang negeri ini, tentang ekspresi seni yang melahirkan harapan dan menginspirasi bangsa. Aku bukan siapa-siapa, tapi suaraku akan tetap ada di antara warna-warna kehidupan menjadi bagian dari cinta untuk negeri yang bernama Indonesia.



