[0:00]Allahu Akbar Allahu Akbar. Saya mengazankan anak saya. Meleleh air mata saya saat azan. Apa yang Ustaz bayangkan? Saat ini aku yang membisikkan ke telingamu, Ashhadu alla ilaha illallah. Kita sebagai orang tua yang kita inginkan cuman satu. Kita ingin anak itu nanti yang membisikkan ke telinga kita saat sakaratul maut, Laa ilaaha illallah. Lima anak yang kau azankan dulu, satu pun tak bisa membalas membisikkan ke telingamu Laa ilaaha illallah. Untuk apalah anakmu sukses, untuk apa kau datang wisudanya? Untuk apa kau habis duit menyekolahkannya, kalau membisikkan ke telingamu Laa ilaaha illallah pun satu tak ada yang bisa? Kalau saya, saya pesankan itu. Ibu-ibu yang belum punya anak, pesankan ke istrinya. Nanti kalau aku mati anak kita belum ada, kau yang membisikkan. Ibu-ibu waktu ditanya, "Siap, Bu?" "Siap." Suaminya demam dikit, langsung dibisikkan, "Laa ilaaha illallah."
[1:15]Itulah saking shalihahnya. Lambat shalat subuh dikit, "Laa ilaaha illallah."
[1:35]Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Wassholatu wassalamu ala Rasulillah wa ala alihi washohbihi wa mawwalah. Yang sama-sama kita hormati, Ustaz Ardi beserta seluruh pimpinan, jajaran, para majelis guru dari mulai TPQ, SD, SMP, SMA Tahfidz sampai perguruan tinggi. Para tamu yang tak dapat saya sebutkan satu persatu. Mudah-mudahan semuanya selalu dalam keadaan sehat walafiat. Diberikan kebaikan dunia akhirat insyaallah. Amin ya rabbal alamin. Tema kita, pribadi anak cerminan ketakwaan orang tua. Yang namanya cermin itu, kalau kita lihat, berarti sama dengan yang ada di cermin dengan orang yang bercermin. Jadi kalau mau melihat bagaimana pribadi anak itu, ya bagaimana orang tuanya. Tidak mungkin saya bercermin beda antara wajah saya yang asli dengan yang di cermin. Kecuali cerminnya ada Photoshop-nya, bisa diedit. Maka kalau mau melihat bagaimana anak-anak kita, lihatlah bagaimana orang tuanya. Ada seorang laki-laki namanya Tsabit. Dia mandi di sungai. Saat mandi di sungai, dia melihat ada buah apel yang hanyut.
[3:25]Biasalah kita mandi di sungai nampak ada apel hanyut. Lalu kemudian dia makan itu apel sampai habis. Setelah selesai, baru dia berpikir itu tadi yang dimakan itu apel punya siapa. Dia telusuri sungai. Dia telusuri ke mana ini muara sungai, hulunya ke mana. Akhirnya ketemu kebun. Ketemu kebun apel, lalu dia cari yang punya kebun. "Bapak yang punya kebun ini?" Kata yang punya kebun, "Betul, saya yang punya kebun apel." Saya tadi mandi di sungai di hilir sana, ketemu buah apel, lalu saya makan. Jadi besar dugaan saya, apel itu jatuh dari pohon yang ada di kebun ini. Saya mau minta izin, Pak. Takut saya apel ini nanti termakan menjadi darah daging, saya takut mencuri. Cuman saya teringatnya setelah kenyang. Sabit ini ingatnya itu setelah kenyang. Beda sama tempat kita, setelah pensiun baru ingat. Kata yang punya kebun, "Tidak bisa semudah itu minta izin makan apel saya."
[5:00]Kamu tidak akan saya izinkan, sebelum memenuhi syarat. "Apapun syaratnya saya terima." Daripada saya mencari Bapak nanti di akhirat, minta izin di Padang Mahsyar, lebih baik saya minta maaf di dunia. Enggak apa-apa susah di dunia. Karena di akhirat itu hisabnya mencari orang lama. Saya kalau salah sama Bapak Ibu, mencarinya di akhirat. Bayangkan berkumpul sejak zaman Nabi Adam sampai Adam Smith. Susah nyari orang di akhirat. Lebih baiklah saya minta maaf di dunia. Kata Tsabit, "Saya minta maaf, Pak." Harus ada syarat. "Syaratnya apa?" Kamu mesti ke rumah saya. "Terus nanti sampai di rumah Bapak?" Kamu mesti menikahi anak saya. Wah, ini enak sekali ini. Sudah makan apel gratis, dapat anak lagi. Ini adalah kisah yang sangat dirindu-rindukan jomblowan. Baik lah. Tapi kamu perlu tahu, Tsabit. "Apa itu?" Anak saya ini tidak punya kaki, tidak punya tangan, tidak punya mata, tidak punya telinga, tidak punya mulut.
[6:26]Sudah terbayangkan? Bulat macam semangka. Dan kamu mesti menikahi anak saya ini, baru saya maafkan. Kalau kamu tidak nikah, tak mau kamu menerima anak saya ini, sampai mati, sampai di akhirat kamu akan bertemu saya di Padang Mahsyar nanti. Lama Tsabit berpikir. Mau dinikahi, di mana ceritanya? Mau tidak dinikahi, di akhirat, tapi karena Tsabit ini sangat takut kepada Allah, baiklah saya nikahi.
[7:00]Jadi zaman dulu itu, laki-laki, perempuan itu sebelum nikah dia tidak ketemu. Zaman sekarang, tak usahlah kita ceritakan. Jadi zaman dulu itu tidak ketemu. Seorang Bapak bisa menikahkan anaknya dengan perempuan, "Aku nikahkan engkau dengan anakku dengan mahar sebentuk cincin emas tunai, sah." Itu nikahnya sah. Anaknya tanpa melihat calon suami. Lalu kemudian, "Aku nikahkan engkau, Tsabit, dengan anakku dengan mahar sebentuk cincin emas tunai, sah." Selesai menikah. Selesai acara akad nikah, malamnya Tsabit masuk ke dalam rumah. Habis itu dia masuk ke dalam kamar. Dia lihat istrinya itu. Ternyata, dia bukalah cadar penutup wajah istrinya.
[8:05]Kalau mau difilemkan nanti, mana tahu ada OSB yang mau buat film pendek. Lebih kurang backsound-nya itu yang pas. Kaget sekali Tsabit. Ternyata istrinya itu punya tangan, punya kaki, punya mata, punya telinga, dan cantik sekali. Kalau ini nanti mau difilemkan, sulit mencari artis Indonesia yang bisa seperti ini. Paksa kita cari dari Turki atau dari Mesir, Maroko. Lalu Tsabit terkejut. Akhirnya dia tanya, "Kata Bapak kamu, kamu tidak punya tangan, tidak punya kaki, tidak punya mata, tidak punya telinga." Tapi kamu, apa kamu anak Bapak yang punya kebun kurma yang? "Iya, saya anaknya." Akhirnya dia tanya, "Pak, Bapak kan bilang anak Bapak tidak punya kaki, tidak punya tangan, tidak punya mata, tidak punya telinga, tidak punya mulut." Tapi anak Bapak? Dia takut juga takut salah. Dua kali salah, sudah makan apel salah, ini menikahi anak orang salah lagi. Masa salah terus hidup? Kata si Bapak, "Saya bilang anak saya itu tidak punya kaki, karena memang kakinya tidak pernah melangkah ke tempat maksiat." Saya bilang anak saya itu tidak punya tangan, karena memang tangannya tidak pernah buat dosa. Saya bilang dia tidak punya mulut, karena memang mulutnya tidak pernah dipakai untuk membicarakan aib orang lain, buat dosa. Saya bilang dia tidak punya telinga, karena telinganya tidak pernah dipakai untuk mendengarkan kata-kata maksiat. Saya katakan dia tidak punya mata, karena memang dia tidak pernah melihat perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Maka inilah dia anak saya. Saya nikahkan ke kamu, Tsabit, karena belum ada orang di zaman ini yang mau makan buah, tiba-tiba minta maaf. Memang sudah lama saya mau mencari menantu, dan kamulah orangnya, Tsabit. Akhirnya menikahlah Tsabit. Saya pakai huruf Tsa. Tsabit artinya orang yang kokoh. Kita lanjutkan setelah yang berikutnya. Lalu kemudian Tsabit pun minum-minum.
[10:33]Setelah minum, baca doa dan seterusnya. Akhirnya lahirlah seorang anak laki-laki buah pernikahan dari Tsabit yang takut makan apel dengan istrinya yang tak punya mata, tak punya telinga, tak punya kaki, tak punya mulut, karena tak pernah buat dosa. Dengan mertua yang tak memikirkan menantunya ini apa dan siapa yang penting jujur, takut makan buah apel, minta maaf. Pernikahan Tsabit dengan anak yang shalihah, dengan mertua yang shalih, lahirlah seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu diberi nama Nu'man. Nama ayahnya Tsabit. Itulah dia Nu'man bin Tsabit, lahir tahun, meninggal tahun 150 Hijriyah. Nu'man bin Tsabit nama kerennya Imam Hanafi. Imam mazhab yang pertama. Yang pertama Imam Hanafi. Yang nomor dua Imam Maliki, nomor ketiga Imam Syafi'i, nomor keempat Imam Hambali. Imam Hanafi nama aslinya Nu'man bin Tsabit. Jadi kita kalau kenalan sama orang, kita mesti sebut nama asli dan nama keren. "Itu siapa?" "Ustaz Somad."
[11:51]"Loh, kemarin saya lihat di Facebook mirip kayak itu namanya Anton." "Nama saya Ustaz Abdul Somad, tapi selalu disingkat dengan UAS." Karena sulit sekali menyebut banyak panitia yang ribut menyebut. Saya bilang, "Enggak usah sebut detailnya, sebut saja Ustaz Abdul Somad dan seterusnya." Nu'man bin Tsabit inilah ulama Ahlussunnah wal jamaah. Berguru langsung dengan cicitnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam namanya Imam Ja'far Shadiq. Nabi punya anak perempuan namanya Fatimah Az-Zahra. Dulu saya kalau nyebut Fatimah Az-Zahra ingat anak Nabi, sekarang ingat istri saya. Fatimah Az-Zahra ini punya anak laki-laki namanya Husain. Sayyidina Husain punya anak laki-laki namanya Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin punya anak laki-laki namanya Muhammad Al-Baqir. Muhammad Al-Baqir punya anak laki-laki namanya Imam Ja'far Shadiq. Imam Ja'far Shadiq punya murid yang hebat namanya Nu'man bin Tsabit. Gurunya hebat, Bapaknya jujur, Ibunya bertakwa, dan Kakeknya juga tidak pilih-pilih menantu. Sekarang banyak juga yang jujur seperti Nu'man ini, cuman enggak ketemu mertua seperti itu.
[13:19]Ini yang jadi masalah. Mandi di sungai ketemu apel, dimakan gitu dipulangin, "Pak, minta maaf." Ya sudah, banyak yang lain. Enggak terlalu peduli dengan orang jujur. Jadi memang diperlukan ada kerjasama. Kadang ketemu anak yang jujur, makan apel, dicari yang punya kebun juga jujur, anaknya laki-laki semua. Jadi memang, pertemuan itulah yang melahirkan orang-orang saleh. Maka dikenallah dengan Imam Hanafi ini Sirajul Ummah, penerang umat. Imam Hanafi itu meninggalnya karena apa? Diangkat menjadi Hakim Agung. Hakim-hakim-hakim-hakim. Lalu kemudian hakim ini yang paling tinggi namanya Qadi Qudat, hakimnya hakim-hakim, hakim agung. Diangkat jadi hakim, enggak mau. Raja merasa tersinggung karena orang, "Kamu mau jadi hakim?" "Enggak." Akhirnya merasa dipenjara, masuk penjara. Menurut satu riwayat, diracun. Meninggal. Jadi orangnya amat sangat jujur, amat sangat baik. Dari mana datangnya itu? Buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Kecuali jatuhnya ke sungai atau dilarikan burung. Jadi kalau ketemu anak yang jujur, baik, Bapaknya. Jadi Bapak Ibu guru yang ada di OSB dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA Tahfidz, kalau ketemu anak-anak yang muda sekali ngafal, baik, itu Bapaknya. Tapi kalau ketemu yang enggak, mungkin Bapaknya baik juga. Jadi jangan ini dijadikan rumus baku. Saya enggak ingin juga Bapak Ibu guru langsung pakai jurus saya ini pas ketemu, "Wah, ini Bapaknya enggak jelas!" Boleh jadi Bapaknya jelas, Ibunya jelas, cuman anak ini lama nyusu ke sapi.
[15:26]Bagaimana orang tua itu menurunkan sifat-sifat kepada anak? Karena tidak ada campur tangan tetangga di sana. Murni Bapak dengan Ibunya. Lahir karena cinta, buah hati, belahan jiwa, kasih sayang melahirkan anak yang luar biasa. Ada satu daerah namanya daerah itu Marwah. Orang yang berasal dari Marwah disebut dengan Marwazi. Lalu kemudian dia Marwah ini ada seorang hakim. Hakim Marwah. Hakim Marwah punya kebun anggur. Luas sekali kebun anggurnya. Lalu kemudian datanglah seorang perantau. Cari kerja jaga kebun anggur. Nama perantau ini Mubarak. Mubarak artinya orang yang diberkahi. Datanglah Mubarak melamar mau jadi penjaga kebun anggur Hakim Marwah. Akhirnya diterima jaga kebun anggur. Lalu Hakim Marwah pas hari libur pergi ke kebun. Sampai di kebun anggur. "Mubarak, tukang kebun!" "Ya."
[16:39]Tolong petikkan saya anggur yang manis-manis. Dipetikkanlah anggur, disuguhkan. Biasanya kalau saya tausiyah tentang anggur ini, yang datang anggur biasanya. Sudah, kami tadi di dalam sudah makan buah-buah. Ini hanya sekedar intermezo saja. Dibawakanlah anggur. Dicicipi sama Hakim Marwah. Asam. "Carikan lagi pohon yang lain!" Diambil lagi pohon yang lain, dicicipi. Asam juga. Pohon yang lain lagi. Lama-lama Hakim ini ngamuk sama Mubarak, tukang kebun. "Kamu sudah kerja di sini sama sebulan, enggak tahu kamu di kebun ini mana pohon yang manis?" Masa sudah sebulan kerja di sini enggak tahu pohon ini mana yang manis? Apa kata Mubarak menjawab? "Mohon maaf Tuan Hakim." Saya kerja di sini hanya menjaga kebun, bukan mencicipi buah anggur. "Maksudnya?" Selama saya kerja di sini, enggak pernah satu anggur pun yang saya makan. Terkejut Hakim Marwah. Selama ini yang bekerja di situ bukan cuma mencicipi, jual malah. Ini, satu pun enggak pernah dia makan. "Ini kok aneh ini orang?" Akhirnya Hakim Marwah punya seorang anak gadis. Diceritanya anak gadis terus. Motivasi supaya segera habis ini mencari kebun apel dan kebun anggur.
[18:16]Dinikahkanlah anak gadis yang semata wayang, yang cantik jelita dengan tukang penjaga kebun anggur bernama Mubarak. Hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki diberi nama Abdullah. Namanya Abdullah bin Al-Mubarak. Itulah Ahli Hadis selevel dengan Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Hanbali, Imam Mazhab yang keempat. Kejujuran menjadi pit and propertest. Jadi ke depan, kalau mau memperbaiki umat ini, maka carilah menantu-menantu yang jujur dan itu ada di alumni OSB.
[19:03]Ibu-ibu yang punya anak kecil, masa depan ada itu. Lalu kemudian setelah dinikahkan punya anak laki-laki diberi nama Abdullah. Itulah dia Imam Abdullah Ibnu Al-Mubarak hafal Hadis, orangnya alim, orangnya luar biasa, menjadi salah seorang ulama benteng Ahlussunnah wal jamaah. Jadi memang kalau mau mencari bibitnya itu, mesti ditanam di tanah yang baik. Bibitnya bagus, ditanam di tanah yang bagus, tumbuhlah bunga mawar yang cantik, indah dipandang, dicium harum semerbak. Bibitnya bagus, ditanam di tanah yang tandus, keluar pohon kaktus. Bunganya tidak sedap dipandang, dicium salah-salah hidung kita bengkak, ditusuk durinya.
[20:00]Jadi memang dia mesti ada korelasi antara bibit yang bagus dengan tanah yang subur, dijaga, dipelihara, dikasih makan yang baik, pendidikan yang baik, maka lahirlah. Bagaimana dengan Nabi kita? Ayahnya Abdullah, Ibunya Aminah. Abdullah nama Bapaknya, Aminah Ibundanya. Abdullah hamba Allah, Aminah perempuan yang amanah. Karena Bapaknya hamba Allah, Abdullah, Ibunya Aminah, perempuan yang amanah, lahirlah seorang anak Muhammad yang terpuji di langit dan di bumi. Tapi jangan gara-gara ini nanti Bapak pulang ke rumah, "Pantasan anak kita enggak terpuji, karena kamu bukan Aminah!" Istri pun bisa juga jawab, "Anak kita tidak terpuji karena kamu bukan Abdullah!" Artinya ini makna. Kalau mau anaknya Muhammad, maka Bapaknya mesti hamba Allah. Bukan hamba dunia, bukan hamba harta, bukan hamba jabatan, apalagi hamba handphone. Banyak sekarang orang jadi hamba handphone. Pagi handphone, siang handphone, malam handphone. Sakaratul maut tangan megang handphone. Gimana mau dapat anak yang sholeh?
[21:34]Istrinya juga seorang yang amanah, orang yang amanah, perempuan yang shalihah. Karena memang tema kita adalah pribadi anak cerminan ketakwaan orang tua.
[22:07]Bagaimana dibesarkan dengan kasih sayang. Akhirnya anak lahir. Di saat anak lahir, dibisikkan ke telinganya sebelah kanan azan. Azan seperti azan shalat, Hadisnya Hadis Hasan, ada dalam kitab Sunan Tirmidzi.
[22:36]Jam berapa pun anaknya lahir, tetap diazankan. Makanya kalau enggak tahu, tanya. Ini anak lahir jam 5, diazankan as-sholatu khairum minan-naum. Azannya tetap azan seperti biasa. Dibisikkan ke telinga sebelah kanan. Allahu Akbar Allahu Akbar. Saya mengazankan anak saya. Meleleh air mata saya saat azan. Apa yang Ustaz bayangkan?
[22:56]Saat ini aku yang membisikkan ke telingamu, Ashhadu alla ilaha illallah. Kita sebagai orang tua yang kita inginkan cuman satu. Kita ingin anak itu nanti yang membisikkan ke telinga kita saat sakaratul maut, Laa ilaaha illallah.
[23:20]Jangan sampai nanti saat kita sakaratul maut, dokter bertanya, "Anaknya yang ke berapa?" "Anaknya lima, Pak. Yang pertama, lagi ke luar negeri. Yang kedua, lagi sidang penting. Yang keempat, lagi meeting rapat. Yang kelima, lagi show. Yang keenam, enggak tahu di mana." Lima anak yang kau azankan dulu, satu pun tak bisa membalas membisikkan ke telingamu Laa ilaaha illallah. Untuk apalah anakmu sukses? Untuk apa kau datang wisudanya? Untuk apa kau habis duit menyekolahkannya, kalau membisikkan ke telingamu Laa ilaaha illallah pun satu tak ada yang bisa?



