Thumbnail for [Akusuka Eps.17] Lailatul Qadar Menurut Hadits, Apakah Jatuh Di Malam Jum'at ? - Ustadz Adi Hidayat by Adi Hidayat Official

[Akusuka Eps.17] Lailatul Qadar Menurut Hadits, Apakah Jatuh Di Malam Jum'at ? - Ustadz Adi Hidayat

Adi Hidayat Official

14m 6s1,413 words~8 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Pull quotes
[0:08]Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wassalamu ala rasulillahil karim Nabina wa sayyidina Muhammadin waala alihi wasahbihi ajmain wa ba'du.
[0:08]Alhamdulillah kita bersyukur pada Allah subhanahu wa ta'ala yang telah memberikan kesempatan yang begitu luas untuk menikmati rangkaian ibadah di bulan Ramadan tahun ini 1445 Hijriah.
[0:08]Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan mengantarkan kita pada akhir puncak Ramadan di tahun ini.
[0:08]Bahkan kita esok hari insya Allah akan menemui Jumat terakhir di bulan Ramadan di tahun ini.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:08]Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wassalamu ala rasulillahil karim Nabina wa sayyidina Muhammadin waala alihi wasahbihi ajmain wa ba'du. Saudara-saudariku pemirsa di mana pun berada. Alhamdulillah kita bersyukur pada Allah subhanahu wa ta'ala yang telah memberikan kesempatan yang begitu luas untuk menikmati rangkaian ibadah di bulan Ramadan tahun ini 1445 Hijriah. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan mengantarkan kita pada akhir puncak Ramadan di tahun ini. Bahkan kita esok hari insya Allah akan menemui Jumat terakhir di bulan Ramadan di tahun ini. Semoga seluruh rangkaian ibadah yang telah kita tunaikan berkenan diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Semoga doa-doa kita diijabah oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan semoga dosa-dosa yang kita perbuat berkenan digugurkan dan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Saudara-saudariku, perjalanan yang mengantarkan pada puncak akhir Ramadan tentu seringkali menghadirkan tanya mengenai momentum yang begitu istimewa. Pencarian terhadap satu malam yang begitu diselimuti dengan keberkahan, begitu diselimuti dengan kemuliaan, begitu diselimuti dengan ampunan. Sehingga dengan itu Nabi shalallahu alaihi wasallam memotivasi kita untuk mencari kemuliaan itu khususnya di 10 hari terakhir di malam-malam Ramadan. Begitu banyak hadis yang viral sampai kepada kita dan bahkan terhimpun di dua kitab sahih utama, baik di Al-Bukhari ataupun dalam Sahih Muslim dengan setidaknya lebih dari 5 sampai 6 perwayat hadis dari kalangan sahabat-sahabat mulia yang kualifikasi mereka sangat dekat dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Baik itu istri tercinta beliau Sayyidah Aisyah radiallahu ta'ala anha pun demikian di antara keluarga beliau, keponakan beliau Abdullah bin Abbas radiallahu ta'ala anhuma.

[2:56]Didapati juga tentu sahabat pegiat ilmu yaitu sahabat Abu Hurairah radiallahu ta'ala anhu pun demikian dengan Abu Said Al-Khudri radiallahu ta'ala anhu dan juga sahabat Ubadah bin As-Samit radiallahu ta'ala anhu. Kesemuanya memberikan gambaran kepada kita, baik itu tentang keistimewaan malam ini. Yang kedua mengenai motivasi dari Nabi tentang pencarian keistimewaan malam dimaksud di 10 hari terakhir dan tentunya yang ketiga mengenai kode-kode isyarat-isyarat yang menunjukkan potensi besar turunnya malam Al-Qadar berupa tanggal-tanggal atau waktu tertentu dalam 10 hari terakhir di bulan Ramadan yang penuh dengan berkah. Teman-teman yang pertama, kita temukan setidaknya dalam Shahih Bukhari nomor hadis 35, dikonfirmasi oleh Al-Imam Muslim dalam Kitab Shahih beliau, nomor hadis 760 dari sahabat Abu Hurairah radiallahu ta'ala anhu. Ketika menyampaikan informasi dari Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang motivasi bangun atau menghidupkan malam Al-Qadar. Saat Nabi menyampaikan Man yaqum lailatul qadri imanan wa ihtisaba gufiralahu ma taqaddama in dzanbih. Siapa yang mampu menghidupkan di sini konteksnya yaqum atau di riwayat lain qoma lailatul qadri yaitu menghidupkan dengan salat. Karena setiap motivasi ibadah yang diawali dengan turunan kata ini baik itu qoma ataupun aqoma yuqimu iqomah ini menunjukkan ibadah salat. Secara spesifik kalau kita hadirkan dengan pemaknaan ini, siapa yang menunaikan salat bersamaan dengan malam Al-Qadar. Atau kalau kita ingin hadirkan makna umumnya, menghidupkan malamnya dengan ibadah, dengan semangat sesuai dengan kemampuan. Ada yang menghidupkan dengan salat yang utama tentunya, ada yang menghidupkan dengan bacaan Al-Qur'an, dengan zikir, dengan taubat. Maka apa yang didapatkan? Gufiralahu ma taqaddama min dzanbih. Bila ia mampu menghidupkan malam itu dengan penuh keimanan. Imanan ikhlas karena Allah wahtisabah dan dia berupaya mengharap kemuliaan yang Allah berikan. Allah janjikan diberi kemuliaan lebih dari 1000 bulan. Khairun min alfi syahr, dia memohon dengan penuh ketawadhuan dan dia mengevaluasi dirinya. Dengan evaluasi itu ia berharap diampuni dosa, dengan harapan permohonan kemuliaan itu dia mendapatkan limpahan pahala. Ada rojak di sini, ada khauf di situ, ada harapan akan kemuliaan, ada juga ketakutan agar supaya senantiasa mendapatkan rahmat Allah dan dihindarkan dari murka Allah subhanahu wa ta'ala. Teman-teman, dikonfirmasi dalam hadis lain, pencarian malam istimewa yang dapat menggugurkan dosa, melimpahkan keberkahan itu. Seperti diisyaratkan dalam salah satu hadis yang dikuatkan oleh Al-Imam Muslim misalnya dalam kitab hadisnya didokumentasikan di nomor hadis 1166 setidaknya dari Sayyidah Aisyah radiallahu ta'ala anha. Dikonfirmasi dari keterangan Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika beliau menyampaikan, au kama qala, taharau lailatul qadri. Cobalah engkau berusaha untuk memburu, cobalah engkau berusaha untuk bisa sungguh-sungguh mencari. Lailatul Qadri malam Al-Qadar itu fil asyril awahir, di 10 hari terakhir min Ramadan, dari bulan Ramadan itu, au kama qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Diriwayat lain dikonfirmasi kalimatnya dengan al asyrul gawabir fil asyrul gawabir, di malam-malam yang terakhir tapi tidak menggunakan awahir menggunakan gawabir. Kata gawabir sering diungkapkan untuk menunjukkan sosok yang terasing, sosok yang sedang mengembara, sosok yang sedang meninggalkan sesuatu. Seakan-akan ia berada dalam kalangan akhir karena yang lain sudah mulai meninggalkan, karena yang lain sudah mulai sibuk dengan keadaan-keadaan tertentu. Maka ini isyarat dari Nabi seakan memberikan kesan bahwa di 10 hari terakhir semangatnya umumnya yang dialami oleh umat Islam tidak sama dengan malam-malam pertama. Ke masjidnya tidak sama penuhnya dengan malam pertama, tilawah Al-Qur'an tidak seramai di malam pertama. Saat orang sudah mulai sibuk mungkin dengan sebagian urusan dunianya, maka ada orang-orang yang menyibukkan diri memburu di situasi itu kehadiran malam Al-Qadar. Dan tentunya ini di antara mukjizat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang memberikan gambaran umat di kemudian hari. Kini tentunya kita rasakan malam pertama beda dengan malam pertengahan, jauh dibandingkan dengan malam-malam yang terakhir. Kita bisa melihat bagaimana kualitas ibadah dan kuantitas masyarakat yang datang. Namun tentunya hadis ini menjadi tantangan bagi kita, saat sebagian masih sibuk dengan dunia, maka jadilah Anda, saya, kita di antara yang disebutkan Nabi memburu dan tetap giat untuk mencari keistimewaan malam mulia itu. Teman-teman dalam beberapa hadis ketika kita dimotivasi untuk mencari di 10 malam terakhir ini, maka ada beberapa detail yang menyampaikan kepada kita. Semisal beberapa hadis memberikan rincian. Ada yang mengatakan fit tis'il akhir, ada yang mengatakan fis sab'il akhir, ada yang mengatakan fil khamsil akhir. Sembilan hari terakhir, tujuh hari terakhir, lima hari terakhir. Maka ada yang memahami dengan 10 kurangi satu, sembilan, ya, 10 kurangi sembilan satu bila 30 hari kurangi sembilan berarti malam 21. Bila dikurangi tujuh berarti malam 23. Bila dikurangi lima berarti malam 25. Sebagian dengan semangat ini mencari khususnya pada isyarat yang disampaikan oleh sahabat Abdullah bin Samit di penekanan tentang pencarian di waktu-waktu ganjil. Malam-malam yang ganjil. Maka beberapa mengkonfirmasi dan menghitung. Oh, hidupkan malam 21. Hidupkan malam 23. Hidupkan malam 25. Ada riwayat spesifik malam 27. Bahkan mengejar sampai terakhir di malam 29. Sesungguhnya pencarian dengan tanggal-tanggal ini menggunakan bilangan witir memang terdapat dalam hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam. Namun demikian, tidak menghalangi malam Al-Qadar itu turun di waktu-waktu malam yang genap. Sekali lagi, tidak menghalangi malam Al-Qadar itu turun di waktu-waktu malam yang genap, karena hakikatnya Allah subhanahu wa ta'ala ketika menyebutkan tentang turunnya malam Al-Qadar itu, sesungguhnya Allah menyebutkan dalam kalimat yang umum. Inna anzalnahu fi lailatil qadar. Sungguh demi keagunganku kata Allah aku turunkan Al-Qur'an yang istimewa yang mulia itu di malam yang penuh dengan kemuliaan yaitu malam Al-Qadar. Jadi bisa saja diturunkan di malam ke-22, di malam ke-24, di malam ke-26, malam ke-28 dan potensi besar didapatkan di malam-malam yang sifatnya ganjil. Untuk itu, kita tidak harus menghidupkan di malam-malam spesifik. Misalnya malam 27 saja, misalnya malam 29 saja. Mungkin pernah terjadi di malam 27 di masa-masa yang lampau. Tapi juga boleh jadi Allah subhanahu wa ta'ala menurunkannya di waktu yang berbeda. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah berkomentar bahwa aku pernah diperlihatkan malam Al-Qadar itu. Namun tiba keluargaku membangunkan sehingga aku dilupakan tentang kapan terjadinya. Maka burulah oleh kalian di 10 malam terakhir. Nabi tidak menyebutkan dan merinci apakah malam 21, 23, 25, 27 atau 29. Artinya di setiap malam 10 malam terakhir selalu ada peluang untuk bisa mendapatinya. Malam ini adalah malam Jumat. Malam Jumat terakhir di bulan Ramadan 1445 Hijriah. Tentu kita merindukan malam-malam Jumat yang lain. Namun demikian, di samping keutamaan Jumat juga ada keutamaan bagi kita untuk bisa memuliakan malam ini dengan malam yang terbaik. Pun demikian juga dengan malam-malam yang lainnya. Jika sanggup beribadah di malam ini kita hidupkan, jika kemudian kita punya kesempatan yang luas, maka jangan tinggalkan malam Sabtunya, malam Ahadnya sampai malam puncak berakhir Ramadannya. Jika ada pertanyaan di tanggal berapakah malam Al-Qadar itu didapatkan, maka jawaban yang paling sempurna adalah di setiap malam yang Allah inginkan bisa saja Allah turunkan. Karena itu jangan tinggalkan sisa malam-malam sampai Ramadan ini berakhir dan semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mendapatinya. Kuncinya selalu saya tekankan, hidupkan setiap malamnya walaupun dengan dua rakaat, walaupun dengan satu ayat, walaupun dengan kalimat satu istigfar. Astaghfirullahal adzim. Semoga dengan itu memberikan kepada kita kesempatan untuk meraih segenap kemuliaan yang Allah janjikan. Allahumma taqabal minna innaka antas samiul alim. Watub alaina innaka antatawabur rahim. Wasallahu ala sayyidina Muhammadin waala alihi wasahbihi ajmain waakhiru da'wana anilhamdulillahi rabbil alamin. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript