[0:00]Ada enggak fase 7 tahun dalam waktu kita enggak pernah ketemu ini? Prinsip hidup lu yang berubah gitu, berjalan waktu. Prinsip hidup yang berubah? Yap. Prinsip hidup mm mungkin enggak berubah ya, tapi aku itu lebih sadar banyak hal gitu. Dulu aku itu tipe orang yang perfeksionis banget. Ya, aku tumbuh di lingkungan yang di mana aku di sekolah karena aku rajin dan mungkin guruku melihat aku orang pintar. Jadi aku dikelompokkin sama orang-orang yang malas-malasan. Ya, akhirnya daripada aku kasih tugas kelompok ke mereka, mendingan aku kerjain sendiri semuanya. Jadi aku tumbuh di lingkungan yang selalu aku kerjain semua sendirian. Jadi sangat susah untuk aku kasih kerjaan ke orang lain. Pada saat aku di YouTube yang 2018, 2019 itu, itu aku kerjain semua sendiri, Bro. Iya, aku tahu. Iya kan? Bikin thumbnail, ngedit sendiri dan sebagainya gitu kan. Even lu di kereta juga ngerjain itu kan. Iya, karena aku susah banget buat aku kasih tugas ke orang lain atau delegasiin tugas ke orang lain gitu. Tapi selama 7 tahun ini aku belajar banyak sih untuk mendelegasikan tugas gitu. Dan ternyata dengan kita punya tim atau kita kerja sama sama orang, 1 + 1 itu bukan jadi 2 gitu, tapi jadi 5 gitu. Jadi ketika kita bisa mendelegasikan tugas dan ya bikin tim itu sangat powerful sih. Jadi sekarang aku udah banyak banget yang aku delegasiin ke tim aku gitu. Berapa orang yang sekarang hire Jerome? Oh tim sudah banyak banget sih. Kalau dari perusahaan sendiri sudah 40 orang lebih untuk yang mantapu corp ada legal, ada finance dan sebagainya gitu. Wow. Untuk editing sendiri aku sudah enggak ngedit sekarang. Sudah jarang banget ngedit. Enggak sempat juga sih. Apa? Enggak sempat juga, benar. Terus untuk di apa? Perusahaan terbaru aku, mantapuh Akademi yang matematika juga udah ada 15 orang gitu. Wow. Jadi ya itu sih mungkin yang berubah banget ya. Jerome 2018 sangat perfeksionis. Tapi kita harus tahu kalau perfection is stagnation. Yap. Semakin lu ngerasa gua harus yang cuma gua yang bisa bikin ini yang terbaik. Iya. Padahal itu menghambat ya. Waktu lu akan terbuang banyak banget di sana. Benar. Titik delegasi pertama kali seorang Jerome itu kapan? Kayak lu berani untuk gua, gue percaya editor baru, siapapun yang mendelegasikan. Di 2000, 2019 mungkin ya, 2018, 2019. Oh. atau 2018 menuju 2019 itu coba editor 1. Terus coba mulai kakak aku yang manage aku gitu. Dulu aku masih ngurus semua sendiri loh. Kayak partnership. Balasin DM sendiri. Balasin DM, partnership itu aku sendiri masih. Sekarang bahkan timku pegang Instagramku. Jadi ngepost-ngepost itu bukan aku juga. Berarti yang balas DM gua tadi orang gitu ya? Enggak, kalau itu aku, hehe. Jadi hal-hal yang benar-benar personal yang benar-benar enggak bisa enggak aku, itu tetap aku. Tapi untuk hal-hal yang bisa didelegasikan aku berusaha untuk delegasiin. Gitu sih. Ada enggak tamparan realita di kehidupan yang kayak sakit banget ketika nampai seorang Jerome gitu di fase lo transisi 20-an awal sampai sekarang? Wah. Ada sih mungkin ya. Eh, tamparan mungkin gini. Aku itu grow atau tumbuh dengan merasa kalau ideku itu selalu bagus. Dan apa yang aku pikir itu pasti yang paling benar. Pasti works ini. Ini pasti gitu, karena memang kita harus seperti itu kan? Pede gitu. Siap. Tapi tamparannya adalah ketika ternyata kita eksekusi video atau eksekusi suatu bisnis atau ide kita, ternyata enggak sespesial itu. Dan itu yang bikin aku jadi ya sudah, jadi overthinking malah tapi. Jadi ya sudah coba aja terus gitu. Heem. Contohnya ketika aku pertama kali bangun Mantapou Akademi. Heem. Dulu setiap kali aku bikin konten, 1 juta views. Hmm. Upload video Instagram likesnya jutaan. Waktu itu aku pertama kali bikin bisnis menanti, langsung dalam 3 bulan 100 toko. Wah, pokoknya eksplosif gitu. Jadi aku terbiasa dengan hal-hal seperti itu gitu. Hmm. Nah, aku bikin Mantapou Akademi, aku punya idealisme kan. Oke, aku mau bikin satu program, program ini program baru yang belum ada di Indonesia dan aku mau bikinnya offline, enggak ada online gitu. Oke. Dan setelah dihitung-hitung, aku butuh sekitar 100 lebih murid untuk bisa menutup expense gitu. Hmm. Tapi pede-pede aja dong ya kan. Aku udah beli ruko, bahkan beli sewa ruko, Renove sudah habis M. Terus pas marketing, pas launching, Bro, aku cuma cuma 20 orang yang daftar. Cuma 20 orang daftar, terus aku kayak, lah, padahal ini program bagus banget ini. Oke. Ini program bagus banget. Wah, ini kok enggak enggak enggak works ya. Oh, mungkin marketingku kurang gitu kan. Aku ke sekolah-sekolah, aku bagikan brosur, Bro. Lu turun langsung ya? Iya, turun langsung dan itu hal yang mungkin memalukanlah ya, bagi-bagi brosur. Terus aku ke mall bagi brosur di mall, ngajak-ngajak orang gitu. Tapi akhirnya cuma 30 orang. Dari situ tuh itu sangat-sangat tertampar realita bahwa ternyata apa yang aku bikin, apa yang aku pikirin bakal works, belum tentu works. Hmm. Sebenarnya aku udah belajar itu di konten dulu, dulu banget. Ya, ya, ya. Ya kan? Tapi kalau dulu kan kayak aku bukan masih belum siapa-siapa. Sekarang kan sudah lumayan dikenal. Dikenal banget. Jadi ketika ketika aku bikin sesuatu yang itu bahkan itu branding aku, Mat ah kayak apa ya? Kayak ngajarin matematika harusnya banyak orang dong yang join. Itu kan pikiran seperti itu. Jadi pas ditampar realita kayak gitu akhirnya aku shifting terus. Untungnya bisa adapt. Kayak baca market. Oh, mereka maunya kayak gimana? Oh, ternyata mereka maunya bimbel atau belajar sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan bukan program aku gitu. Tapi ya seperti bimbel pada umumnya. Ya sudah, aku bikin. Coba bikin terus bikinnya online juga. Itu benar-benar sambil jalan sambil belajar gitu. Dan itu mungkin skill terpenting yang harus dimiliki setiap kita ya, adaptasi. Yap. Dan enggak boleh enggak boleh terlalu idealis sih menurut aku. Wah, aku juga ketampar di situ. Iya, ya. Tadi kita sudah ngomongin perfeksionis, kita ngomongin idealis. Iya, ya, iya. Jadi harus lebih realistis menurut aku. Cara kita mengubah mindset atau shifting mindset dari idealis, perfectionist tadi, gimana cara simpelnya? Karena aku yakin yang nonton ini juga pernah di fase itu, apalagi awal-awal 20-an, ego kita tinggi banget. Iya, ya, ego tinggi. Enggak ada cara simpel sih, Bro. I learn it the hard way gitu. Maksudnya aku benar-benar belajar ya, aku sudah 9 tahun di dunia content creating dan ya, aku masih terus belajar gitu sampai hari ini kan. Jadi sebenarnya enggak ada enggak ada cara instannya gitu. Tapi step pertama ya percaya sama orang lain gitu. Coba, coba minta pendapat orang lain gitu. Step pertama dalam mikir kita itu enggak enggak yang paling jago kok. Itu egonya kena banget tapi. Benar, benar, ego kena banget. Itu kayak aku enggak paling jago, aku enggak paling benar, aku enggak paling pintar. Ada orang yang lebih pintar daripada aku. Ada orang lebih bagus daripada aku dan sebagainya gitu. Mengakui itu dulu gitu di awal. Mengakui itu bukan berarti lu merasa bodoh kan? Bukan. Tapi lu tahu ada orang lebih bagus dan akhirnya lu bisa percaya sama orang itu gitu. Dan kerja sama. Dan kerja sama. Nanti takutnya orang nge-clip 1 + 1 = 5. Dikiranya itu doang ya. Dia enggak ada konteksnya, teman-teman ya. Konteksnya itu dalam bisnis atau dalam pekerjaan gitu. Itu bukan matematika yang enggak bisa dihitung. Yes. Gitu sih. Mungkin kalau kalau gua ngelihat dari sudut pandang luar, memang Jerome itu selalu dikelilingi oleh orang-orang yang suportif gitu. Mungkin lu punya privilege itu gitu. Tapi ada enggak fase yang sebenarnya yang lu ngerasa kayak kesepian atau lu di titik udah overthinking banget sama kehidupan ini, meskipun lu surrounded by supportive people. Mmm. Kalau perasaan kesepian itu, itu aku rasain itu mungkin quarter life crisis aku juga ya gitu. Itu salah satu masalah yang aku benar-benar rasain ketika aku pulang dari Jepang. Ketika pulang, which is di tahun 2022. Ketika gini, ketika pulang dari Jepang, terus aku harus stay di Indonesia dan sudah enggak ketemu lagi sama teman-teman aku. Itu 2024 berarti. Oh, baru banget berarti. Baru-baru ini. Jadi ketika aku dari Indonesia 2022, aku sempat ada merasa kesepian itu karena semua temanku di Jepang. Hmm. Jadi selama 5 setengah tahun aku kuliah di Jepang, semua keluarga dan semua teman-teman aku di Jepang semua dan ketika aku harus kembali ke Indonesia itu kayak reset dari nol gitu. Hmm. Sedangkan teman-teman aku yang dulu SMA, SMP juga sudah sibuk masing-masing kan. Jadi kayak ngulang lagi dari awal building friends dan ini bukan bermaksud sombong tapi ya. Yap, yap. Tapi sangat susah di posisi aku. Karena kenal sama orang itu aku sudah enggak tahu motifnya apa gitu. Wow. Iya. Itu deep banget. Sudah enggak tahu motifnya apa dan aku berkali-kali ngerasain itu sampai akhirnya aku takut untuk berteman. Ya, jujur. Jadi kayak kenalan terus tiba-tiba ngajak bisnis, ngomongin bisnis, kan sudah langsung rusak pertemanannya. Benar, benar. Langsung kayak hubungannya transaksional nih, bisnis gitu. Akhirnya aku enggak mau ketemu lagi atau aku kayak takut untuk ketemu karena aduh, nanti bahas bisnis nih gitu. Aduh, nanti aku di-approach nih. Kan enggak enak, Bro. Ya kan? Jadi aku enggak tahu ya, itu antara adulting atau memang ya aku aja gitu. Yap. Jadi ketika 2024 sampai 2025 ini ya masih struggling. Bahkan salah satu resolusi aku di tahun baru ini adalah aku mau berteman, Bro. Resolusi 2025. Iya. Jadi kayak aku actively mencari teman dan ya, connecting to people gitu yang benar-benar berteman, bukan yang ada kerjaan gitu. Karena aku pas akhir tahun baru kayak mikir kan, dan juga ditanya sama temanku, kamu punya enggak sih teman yang enggak ada hubungan kerjaan gitu? Teman aja, bener-beneran teman gitu. Aku mikir-mikir, enggak ada sih kayak di Indonesia kayaknya semua. Really? Sampai sekarang hitungannya enggak ada. Aku kenal banyak orang. Berhubungan baik dengan banyak orang. Ya, ya, ya. Ya kan? Tapi untuk teman, jadi kalau misal aku kayak disuruh bikin birthday party gitu kan, atau ngundang siapa itu aku mikir, siapa ya gitu kan ya. Kayak terus aku enggak bisa curhat-curhat yang masalah yang berat atau apa. Aku bingung juga ke siapa selain keluarga gitu. Yang itu aku dapat semuanya di Jepang. Sekarang di Indonesia belum. Ya mungkin orang-orang terdekat aku adalah tim aku. Tapi itu kan kerjaan sebenarnya ya. Cuma ya aku selalu ngomong juga ke tim aku kayak, aku enggak anggap kalian sebagai tim aku ada bos sama. Ada bunderis gitu ya. Aku benar-benar cerita semuanya gitu sama mereka. Jadi aku anggap mereka adiklah atau teman gitu, teman main gitu. Ya, itulah.
[11:29]Thank you for sharing, Jerome. Nah, aku pakai topi POV ketika ketemu sama orang-orang yang menurut aku sudah di top of mind-nya di level dia ngerjain sesuatu gitu. Apakah lu di industri kreatif dan lain-lain. Itu akan ada fase itu memang. Akan ada fase ketika lu mempertanyakan apakah semua orang transactional. Karena mereka akan melihat sisi kepentingannya gitu. Pasti, ya. Kalau ketemu sama lu. Tapi enggak menutup kemungkinan dari 10 orang yang seperti itu, ada satu orang kok yang bakal pure banget yang memang melihat dari POV manusia gitu. Kalau kalau dilepas baju Jerompolin dia Jerompolinnya seorang Jerompolin di balik semua dia punya label, fame dan lain-lain. Tapi dari 2015 ketika lu mulai itu, apakah ketemu kah atau. Eh, masih proses lah. Hmm. Iya. Tapi mungkin karena aku sibuk juga ya. Karena aku sibuk. Jadi ketika di masa-masa aku tidak sibuk, aku mulai merasa tuh sepi gitu. Kayak wah gitu kan. Kayak ada rasa kosongnya gitu. Tapi ketika aku sibuk, kayaknya enggak berasa sih. Yap. Itu hal yang manusiawi. Yes. Even kayak banyak sorry for saying, banyak orang-orang yang mungkin di level tertinggi fame dia kayak Bieber dan lain-lain. Iya, ya. Kesepian.
[12:51]Itu bakal sangat kesepian. Makanya kesepian itu ada 2 pilihan, apakah lu lari ke hal positif atau lari ke hal negatif? Positif olahraga, baca buku, creating something. Heeh. Jadi gua lihat lu ambil ke jalur yang positif. Yes. Untungnya ya, untungnya. Jadi aku kayak sekarang aku senang banget karena sekarang aku suka banget sama padel. Oke. Dan di situ aku bisa ketemu orang dan kayaknya purely buat berteman gitu. Meskipun enggak hangout daily gitu, tapi ketika main padel, ya sudah enggak enggak bahas kerjaan, enggak ngomongin padel gitu. Ngomongin kayak enggak ngomongin aku sebagai seorang yang terkenal gitu. Tapi ya ya sudah, kayak main aja, main bareng padel gitu. Itu itu sebenarnya yang jadi alasan kenapa banyak mungkin artis-artis ya atau aktor-aktor Indonesia ketika ke luar negeri kayak mereka studi S1, S2-nya, ya mereka happy karena memang orang-orang di sana even enggak kenal siapa mereka dan mereka memakai topi mahasiswa gitu ya. Iya, ya. Di Jepang pun aku ketika ngobrol sama orang enggak cuma di Jepang sih, pas aku traveling, pas aku apapun, aku enggak mungkin ngomong aku itu kayak content creator atau apa gitu. Karena apa? Karena langsung beda, Bro. Langsung beda. Yap. Aku udah eksperimen, bukan eksperimen, ya, aku udah eksperimen beratus-ratus orang yang aku ketemu akan langsung beda. Langsung kayak wah Jerome gitu. Wah, kamu ternyata ini ya gitu ya. Wah, maaf ya. Aku dari tadi santai banget sama kamu gitu. Ya, enggak apa-apa. Aku, aku aku enggak gila hormat gitu. Aku ya memang penginnya santai aja gitu.



