Thumbnail for Blak-blakan Bos Danantara Soal Rencana Review Bisnis BUMN by CNBC Indonesia

Blak-blakan Bos Danantara Soal Rencana Review Bisnis BUMN

CNBC Indonesia

18m 53s2,496 words~13 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Timestamped outline
Pull quotes
[0:11]Setelah hadir juga di antara kita, ya, Bapak Doni Oskaria, COO Danantara yang mengepalai operation dari seluruh anak usaha Danantara, artinya seluruh BUMN yang ada di Indonesia.
[0:27]Pak Doni, tadi Pak Presiden, Pak Prabowo sangat luar biasa bicara tentang Danantara.
[0:36]Ya, diminta untuk berkontribusi sampai dengan 50 billion US dollar atau 50 miliar US dollar yang kalau dirupiahkan kurang lebih berjumlah 800 triliun.
[0:53]Tadi bahwa memang kita sudah mendengar langsung harapan daripada Bapak Presiden dan tentu saja ini juga harapan daripada rakyat Indonesia.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:00]Anda kembali menyaksikan special talk show, Nota Keuangan dan RAPBN 2026. Membaca arah ekonomi dan kebijakan fiskal 2026.

[0:11]Setelah hadir juga di antara kita, ya, Bapak Doni Oskaria, COO Danantara yang mengepalai operation dari seluruh anak usaha Danantara, artinya seluruh BUMN yang ada di Indonesia.

[0:27]Pak Doni, tadi Pak Presiden, Pak Prabowo sangat luar biasa bicara tentang Danantara.

[0:36]Ya, diminta untuk berkontribusi sampai dengan 50 billion US dollar atau 50 miliar US dollar yang kalau dirupiahkan kurang lebih berjumlah 800 triliun.

[0:48]Nah, gimana Danantara menyikapi harapan Presiden yang seperti ini?

[0:53]Terima kasih, Pak CT. Tadi bahwa memang kita sudah mendengar langsung harapan daripada Bapak Presiden dan tentu saja ini juga harapan daripada rakyat Indonesia.

[1:03]Bahwa pengelolaan BUMN ini diharapkan ke depannya memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi fiskal kita dan juga bagi pertumbuhan ekonomi kita ke depan.

[1:13]Karena itu kami di Danantara memang saat ini, Pak, tentu tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan.

[1:19]Ada beberapa tahapan yang kita lakukan, tadi termasuk di dalamnya tentu saja mengenai governance.

[1:26]Ada empat tahapan yang sedang kami lakukan, yang pertama kami melakukan fundamental business review dari setiap perusahaan yang ada di BUMN.

[1:33]Jumlah perusahaan kita itu, Pak, sebagai gambaran juga untuk masyarakat Indonesia, jumlah perusahaan yang ada di BUMN itu 1.046 perusahaan, Pak.

[1:40]Jadi jumlahnya sama sekali. Itu antara anak, cucu, cicit, sampai anaknya cicit lagi, ya.

[1:47]1.046. Tetapi ini juga perlu kita komunikasikan bahwa 97% dividen daripada BUMN itu datangnya dari delapan perusahaan, Pak.

[1:56]Ini sebagai gambaran. Dan 52% perusahaan BUMN itu rugi.

[2:02]Dan total kerugian itu kurang lebih direct loss dan indirect loss akibat dari daripada inefisiensi dalam pengelolaan itu kurang lebih sekitar 50 triliun setiap tahun.

[2:10]Ini kan PR yang sedang kita lakukan, nomor satu adalah kita melakukan fundamental business review. Kita lakukan setiap perusahaan itu hari ini.

[2:20]Kita lihat, kita masukkan ke dalam matriks. Apakah memang secara investasi punya, ya, punya potensi, Pak, tidak untuk menjadi untung.

[2:26]untuk menjadi untung. Jadi kita lihat industrial analysis-nya, kompetitor analysis-nya, kemudian kita lakukan juga internal capabilities-nya.

[2:35]Nah, ini kita masukkan di dalam matriks, Pak.

[2:38]Ini tahapan supaya nanti masyarakat juga supaya ekspektasi ini bisa termanage bahwa pencapaian ini tentu kita harapkan akan terjadi.

[2:44]Sebagai contoh misalkan kita memiliki 18 perusahaan logistik, Pak, tetapi scale-nya itu kecil-kecil.

[2:50]Ada Angkasa Pura logistik, semen logistik, Pelindo logistik, dan lain-lain.

[2:57]Tetapi juga ini tidak memberikan manfaat dan keuntungan yang signifikan.

[3:03]Begitu juga insurance company kita ada 15. Manajemen aset kita, jumlahnya banyak, dan lain sebagainya.

[3:10]Ini nanti tahapan kedua dari hasil yang kami lakukan matriks terhadap internal fundamental business review ini akan terjadi bisnis konsolidasi, Pak CT, kurang lebih.

[3:18]Jadi kita akan punya satu perusahaan logistik tetapi dengan big scale, very kompetitif, kita redesign business model-nya, kita redesign revenue stream-nya, sehingga dia masuk ke dalam benchmark di dalam pengelolaan perusahaan yang proper.

[3:32]Sehingga nanti kita harapkan dari 1.046 ini akan menjadi 228 perusahaan, Pak.

[3:38]Ini perlu kami komunikasikan supaya nanti kita memiliki visi bahwa 228 perusahaan ini nantinya akan menjadi perusahaan yang scalable.

[3:45]Mampu berkompetisi, memiliki business model yang proper, revenue stream yang proper, dan dikelola secara transparan.

[3:54]Sebagaimana tadi kita mendengar, Presiden juga berharap bahwa tidak ada lagi perusahaan-perusahaan yang keuntungannya itu karena abal-abalan.

[4:01]abal-abalan. Emang ada yang abal-abalan, Pak Doni?

[4:06]Ee, tentu ada, ya, tentu ada, kita juga sampaikan kepada publik dalam 6 bulan ini kita melakukan restate juga, Pak.

[4:13]Karena tadi pembukuan yang kurang proper, kita melakukan restate terhadap bukunya dan ada beberapa lagi akan kita restate, tetapi ini sekali lagi bukan kita ingin memperlihatkan keburukan-burukan, tapi sebagai base untuk kita menuju ke 50 billion yang diharapkan oleh Bapak Presiden, tentu fundamental daripada perusahaannya harus kita rapikan, Pak.

[4:31]Jadi nanti akan ada tahapan kedua business konsolidasi.

[4:36]Business konsolidasi ini akan ada merger dan akuisition, kurang lebih ada 300 merger yang akan terjadi, Pak.

[4:42]Kemudian ada spin-off. Akan terjadi spin-off daripada perusahaan sehingga kembali ke core, misalkan contohnya ada perusahaan yang bergerak di contohnya oil and gas.

[4:51]Kita punya Pertamina tapi range of bisnisnya begitu luas, Pak, sehingga tidak fokus lagi menjadi oil and gas company.

[4:57]Ini nanti akan terjadi juga spin-off daripada perusahaannya, ada ada hospital-nya akan keluar, hotel-nya akan keluar, dan lain sebagainya.

[5:05]Sehingga nanti bisnis-bisnis di BUMN itu akan fokus kepada core kompetensinya.

[5:10]Akan memudahkan kita juga men-develop business model-nya dan juga men-develop orang-orangnya, Pak.

[5:14]Jadi kurang lebih ini tahapan yang sedang kami lakukan hari ini, kurang lebih begitu, Pak.

[5:17]Nah, tadi yang menarik kan soal direksi dan komisaris. Betul, Pak. Jumlah dan tancap, ya, ah, ya, sampai seluruh anggota DPR tadi berdiri untuk applause, ya, termasuk Pak Misbakun tadi.

[5:31]Ah, ya, nah, pertanyaan saya gimana pola penunjukan direksi komisaris ke depan dan soal tancap ini.

[5:39]Yang pertama, Pak, perlu kami sampaikan juga ke masyarakat, dan ini saya bicara apa adanya sebagai seorang profesional yang diminta untuk mengelola danantara.

[5:48]Penunjukan daripada direksi hari ini itu, Pak, tidak satupun diintervensi oleh Presiden.

[5:55]Saya bisa sampaikan demikian kepada rakyat Indonesia juga bahwa komitmen Presiden untuk perusahaan-perusahaan BUMN ini di-running secara profesional itu ditunjukkan bahwa saya bersaksi tidak satu pun di di diintervensi oleh Presiden.

[6:07]Direksi? Direksi. Karena memang diharapkan bahwa ini melalui satu mekanisme rekrutmen yang proper.

[6:14]Karena itu kami punya tim, Pak.

[6:17]Punya tim yang melakukan proses assessment terhadap direksi.

[6:21]Assessment ini dasarnya dari mana? Dari fundamental business review tadi, Pak.

[6:24]Jadi kita menempatkan orang yang tepat sesuai dengan needs daripada perusahaan.

[6:28]Sebagai saya contoh, misalkan bagaimana kita mentransform perusahaan-perusahaan yang terjadi declining.

[6:36]Contohnya misalnya semen Indonesia, bagaimana kemudian dari profit 5 triliun sekarang bisa tinggal menjadi 500 miliar, dan mungkin masuk ke zona yang apa namanya, menyulitkan buat mereka.

[6:47]Kita mencari bahwa root cause problem-nya adalah di sales.

[6:52]Bahwa bagaimana kemudian perusahaan ini menjadi mampu berkompetisi, distribution-nya kita kontrol sampai ke toko-toko selama ini hanya di distributor, sehingga kita mencari profesional yang pas.

[7:02]Akhirnya kami mendapatkan CEO Coca-Cola yang memang berpengalaman di bisnis retail.

[7:09]Sebelumnya beliau di Unilever, kita tempatkan dan hari ini kita memiliki monitor sampai ke 6.000 toko daripada semen-semen kita dan saya mendapatkan laporan monthly report dari mereka mengenai progress daripada perkembangan.

[7:22]Nah, inilah mekanisme yang kita lakukan one by one. Memang ini takes time, Pak. Sampai hari ini kalau kita bicara 1.046 perusahaan yang sudah berhasil kami lakukan assessment itu, mungkin baru kurang lebih 50 sampai 60 perusahaan, Pak.

[7:32]Jadi masih panjang itu pun kita bagi kepada priority, yang memang memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi kita, itu yang kita jadikan priority.

[7:40]Jadi rekrutmen untuk manajemen dilakukan oleh tim profesional untuk mencari kesesuaian antara kebutuhan perusahaan dengan profesional yang kita dapatkan.

[7:50]Oke. Sekarang kita coba beralih lagi isu yang juga ramai sekarang adalah Koperasi Merah Putih.

[7:58]Koperasi Desa Merah Putih. Tidak cuma desa, kelurahan juga, ya, Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, ya.

[8:06]Supaya enggak usah disebut langsung aja Koperasi Merah Putih.

[8:12]Supaya desa dan kelurahan masuk juga. Nah, Pak Anggito. Iya, Pak. Ini kan lagi ramai, ya.

[8:19]Anggarannya 200 triliun.

[8:24]Ya, tapi sebenarnya tidak ada dalam APBN.

[8:27]Ya, itu dananya diambil dari BUMN.

[8:30]Ya, untuk disampaikan ke koperasi.

[8:34]Cuma, ini ada mislead banyak sekali, ya.

[8:38]Salah satu menteri bicara, enggak perlu dibayar nanti, itu adalah kontribusi desa kepada apa namanya koperasi, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

[8:47]Nah, dari Pak Anggito dulu, ya.

[8:52]Nah, ini sebenarnya, karena ada eh Kepmen tentang penjaminan.

[8:57]Bisa disampaikan, Pak Anggito, duduk permasalahannya ini gimana? Nanti Pak Doni terkait dengan BUMN-nya, nah, Pak Misbakun dari policy politiknya.

[9:09]Ya, sebetulnya kalau kita sebut perKMKM ya, koperasi desa Merah Putih itu adalah suatu instrumen untuk meningkatkan perekonomian dari desa.

[9:20]Ya, jadi itu basic-nya.

[9:23]Nah, untuk tahun ini kita kan sudah memiliki anggaran dana desa, Pak, ya.

[9:30]Dan itu akan kita lanjutkan tahun depan.

[9:33]Nah, dana desa itu tahun depan dialokasikan 60 triliun.

[9:38]Itu dulu dilaksanakan oleh desa untuk melaksanakan pembangunan di desa.

[9:44]Tapi itu kan tidak cukup, Pak CT, ya, dan kita ingin supaya uang dari desa itu kembali ke desa dalam bentuk kegiatan usaha, apakah disebutkan tadi adalah mengenai Bumdes atau kemudian membuat gudang, kemudian rest milling dan sebagainya.

[10:00]Itu artinya adalah membangun dari desa. Nah, tetapi kita harus mencari namanya creative funding, Pak.

[10:06]Creative funding itu tidak lagi desa diajari, tidak semua tergantung dari APBN, maka diciptakanlah namanya pembiayaan, Pak.

[10:17]Pembiayaan yang berasal dari bank Himbara.

[10:20]Bank Himbara. Nah, caranya gimana supaya tidak berat anunya itu, bunganya, maka pemerintah menaruh dana, Pak, di bank Himbara itu.

[10:30]Jumlahnya adalah sebenarnya 100 triliun ya, Pak Doni ya, tahun depan 83 triliun kita sudah tempatkan beberapa.

[10:37]Nah, dengan bunga tertentu, Pak, subsidiary rate, lah, iya.

[10:41]Tidak bunga pasar. Bukan. Jadi, eh jadi itu viable dan visible untuk Himbara untuk melakukan apabila unit usaha koperasi itu ingin meng-ekspansi usahanya.

[10:55]Nah, supaya itu risikonya nol, Pak, maka pemerintah diperbolehkan untuk melakukan intersep.

[11:01]Intersep. Jadi tidak ada gagal bayar, Pak.

[11:06]Gitu, Pak. Jadi memang kalau dari sisi APBN itu ya 60T, Pak.

[11:13]Tetapi kalau itu kita kaitkan dengan economic white-nya, itu ya 60, kalau sebetulnya yang besar adalah pembiayaan dari atau pinjaman dari bank Himbara yang dijamin oleh sebagian oleh pemerintah dan pemerintah punya mekanisme intersep.

[11:29]Intersep dari dana desa nanti apabila terjadi gagal bayar.

[11:32]Tapi bukan sifatnya volunteer, Pak ya. Kalau desanya mampu, dan itu usahanya kan harus menghasilkan, Pak, sehingga dia bisa membayar pokok dan bunganya.

[11:41]Nah, kalau itu dia menghasilkan, maka Himbara tidak punya risiko, Pak, gitu.

[11:46]Dan tetapi itu prosesnya lalu business to business ya, meskipun bunganya murah gitu, Pak ya, Pak CT ya.

[11:51]Jadi kira-kira itu, Pak. Jadi kayak apa pinjaman di-backup sama pemerintah, Pak, gitu.

[12:06]Gitu. Mirip seperti pinjaman-pinjaman dalam bentuk kur yang lain, Pak, yang sebetulnya ada backup dari pemerintah sehingga risikonya buat Himbara ya nol, Pak, gitu.

[12:18]Dari Pambara? Eh, betul, Pak, dari kami bahwa memang nomor satu adalah bahwa yang namanya pinjaman kami harus comply sesuai dengan aturan yang berlaku bahwa prioritasnya adalah bagaimana structure-nya itu harus mencerminkan secara komersial.

[12:33]Yang pertama bahwa Koperasi Merah Putih ini memang diamanatkan oleh Bapak Presiden untuk memutus rantai kemiskinan di desa.

[12:41]Itu objektifnya. Kemudian bagaimana caranya? Tadi sudah disampaikan juga oleh Pak Anggito bahwa di antaranya kita membuat di desa ini menjadi sumber daripada ekonomi, Pak.

[12:55]Jadi di dalam koperasi ini ada beberapa alat-alat perekonomian yang akan terjadi.

[13:00]Kita akan menjadikan mereka sebagai agen untuk LPG, kemudian juga penyaluran pupuk, kemudian juga retail, brilling, dan lain sebagainya, sehingga kita harapkan ini koperasi ini menjadi koperasi yang produktif.

[13:12]Lalu kami diminta sebetulnya melihat untuk melakukan pembiayaan, Pak.

[13:17]Pembiayaan ini kami bagi atas dua, Pak, ada capex dan opex.

[13:21]Karena bagaimanapun kita menghitung repayment capacity daripada industri bisnis yang akan dijalankan oleh Koperasi Desa.

[13:26]Karena itu kita membatasi bahwa capex-nya itu seminimal mungkin, karena kalau capex-nya besar, sebagian besar kemungkinan justru cicilannya akan didapatkan dari dana desa, walaupun ada backup dana desa.

[13:37]Karena itulah kami melakukan assessment bahwa 20% capex, 80%-nya adalah opex.

[13:42]Sehingga dengan demikian, kita harapkan koperasi itu mampu mencicil sendiri daripada pinjaman yang diberikan.

[13:48]Jumlah pinjaman yang diberikan juga tergantung daripada size bisnisnya, karena itu pendekatannya tidak pukul rata, tetapi kita melakukan business assessment terhadap Koperasi Merah Putih-nya.

[13:58]Nah, bunganya tadi sampai oleh Pak Anggito, bunganya 6% sehingga ini lebih memberikan kemudahan kepada koperasi untuk berbisnis, kemudian juga LPG-nya dari kita, dari Danantaranya nanti dari Pertamina akan memberikan, menjadikan mereka sebagai agen sehingga ada pendapatan di situ.

[14:15]Kemudian juga apotek desanya juga dari Kimia Farma kita akan membantu mereka juga di situ.

[14:20]Nah, kemudian bagaimana risiko kreditnya? Tadi disampaikan bahwa risiko kreditnya ini apabila kemudian terjadi gagal bayar, secara otomatis kita dana desa akan mengintervensi untuk pembayaran kepada kami, mengintersep kepada apa namanya, Bank Himbara.

[14:36]Dengan demikian ATMR-nya nol, jadi kita tidak menanggung, tidak ada risiko sebetulnya buat bank, dan ini karena itulah kita mendukung program ini dalam bentuk pembiayaan yang akan dilakukan oleh Bank Himbara, kurang lebih gitu.

[14:48]Oke, Pak Misbakun, ini dari segi politik, ya.

[14:51]Kita tahu koperasinya kan hidup.

[14:54]Tapi kan sebelumnya itu kan ada pedagang, ada semua segala macam, dan posisi itu kan akan tergantikan.

[15:00]Ya.

[15:03]Dengan koperasi ini. Nah, di satu sisi koperasinya hidup, di sisi lain ini ada UMKM-UMKM yang ada tadinya pedagang-pedagang di desa, ini automatically akan kehilangan.

[15:15]Ya. Nah, gimana dari segi politiknya ini, Pak Misbakun?

[15:18]Begini, Pak. Praktik bisnis di desa selama ini mau didesain ulang oleh Bapak Presiden karena melihat praktik ijon rentenir di desa-desa itu berjalan dan menghisap ekonomi rakyat di bawah, Pak.

[15:32]Maka Presiden melakukan intervensi secara policy, secara politik ini, bahwa perlu didesain ulang.

[15:39]Praktik yang terjadi pupuk bersubsidi itu selama ini tidak nyampe ke petani.

[15:44]Ke pedagang. Yang jatuh ke pedagang. Kemudian berikutnya pemerintah melakukan apa? Intervensi terhadap harga gabah selama ini juga tidak nyampe.

[16:05]Iya kan? Kemudian yang berikutnya penyaluran gas LPG pun yang harganya Rp 14.000 sampai di masyarakat Rp 21.000, Pak. Bayangkan, cap-nya seperti apa ini? Yang menikmati siapa? Orang-orang desa yang menggunakan mata rantai subsidi untuk mempermainkan rakyat kecil di desa.

[16:16]Maka Koperasi Desa ini diharapkan memutus mata rantai itu.

[16:20]Bahkan tadi Bapak Presiden menyatakan, "Saya akan menghapuskan rentenir di desa-desa."

[16:26]Lah, ini salah satunya adalah intervensi policy.

[16:30]Koperasi Merah Putih ini harus kita desain sebaik-baiknya.

[16:34]Apa yang disampaikan oleh Pak Anggito tadi ada intervensi penempatan dana negara.

[16:40]Kemudian Pak Doni bicara soal bahwa resikonya harus comply dan sebagainya.

[16:45]Saya sudah saya saya termasuk salah satu orang yang sering menyampaikan ini ke publik.

[16:51]Dan saya melihat sendiri praktiknya. Ada salah satu desa di daerah saya sudah membentuk Koperasi Daerah Merah Putih.

[16:59]Dia sudah mulai menjalankan satu koperasi simpan pinjam.

[17:03]Koperasi simpan pinjam, dia sudah menjalankan penyaluran LPG 3 kilo.

[17:09]Dan mereka butuh dukungan yang lebih kuat lagi. Dan memang yang terganggu nanti pedagang yang selama ini mempermainkan masyarakat di ekonomi masyarakat desa itu untuk kepentingan pribadinya.

[17:21]Lah, ini nanti ekonomi itu diputar di antara mereka karena apa? Koperasi itu kan dari masyarakat untuk masyarakat, semacam crowdfunding.

[17:29]Ada simpanan wajib, simpanan pokok, dan simpanan sukarela.

[17:33]Lah, mereka nanti uang-uang yang ada di mereka ini dikumpulkan untuk men-generate ekonomi mereka.

[17:42]Kemudian yang perlu memang didukung itu adalah ketika mereka mulai main simpan pinjam tadi.

[17:47]Karena apa? Mereka kalau main simpan pinjam, nanti itu kan SHU-nya itu akan kembali ke mereka.

[17:53]Kembali ke mereka. Sebenarnya yang dipotong oleh Pak Presiden itu. Banyak sekali penyaluran, misalnya ya, subsidi pupuk.

[18:00]Selama ini luar biasa intervensi negara.

[18:05]Harga gabah, Pak. Itu yang menikmati siapa selama ini? Sekarang dengan harga berapa, dengan kualitas apapun dibeli oleh negara dan di-absorb bantalannya oleh negara.

[18:16]Nanti ruginya itu negara yang memikul, menanggung.

[18:22]Tapi kemudian terjadi kan delivered, delivered apa? Kemampuan gabah kita ada di itu.

[18:27]Risikonya di mana? Risikonya di bulog, tinggal dihitung.

[18:32]Ini nanti akan menjadi miliknya siapa? Miliknya negara apa tidak ini stok di bulog?

[18:35]Kalau menjadi stok miliknya negara, sama dengan sistem selama ini Amerika menjaga stabilitas beberapa komoditas seperti gandum, jagung, dan gula di Amerika di mana stok tertentu itu ditanggung oleh negara dan kemudian risikonya risikonya negara.

[18:50]Tidak lagi menjadi risiko itu. Lah, menurut saya mata rantai ekonomi bisnis praktisnya ini harus diselesaikan dan keputusan negara untuk memutus mata rantai ijon rentenir ini, menurut saya sesuatu yang luar biasa, berpihak sekali kepada rakyat kecil. Oke.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript