[0:00]Gua akan ajarin kalian untuk bisa dapat apapun dari siapapun. This is The Art of Influence. Konon katanya kalau misalnya kita pengen sesuatu dalam hidup, kita harus minta dari orang. Tapi orang itu tricky. Berkomunikasi dan negosiasi sama orang itu kayak sebuah seni yang bisa dipelajariin. Dan orang yang sangat ahli di hal ini bisa ngegunain skill ini untuk hal-hal yang jahat. Jadi sebelum gua skill ilmunya yang again, kalian cuma bakal dapat dari video ini, karena ini versi gua pribadi. Gua mau kalian janji sama diri sendiri dulu, jangan sampai ngegunain skill ini untuk hal yang jahat. Kalau kalian dari awal niatnya untuk merugikan orang lain, mau nyolong duit orang lain atau membuat orang lain ngelakuin sesuatu yang mereka enggak mau. Kalian mendingan jauh-jauh dari video ini. Karena The Art of Influencing itu yang dibutuhkan untuk seorang leader. Dan ini skill yang dipakai sama Top Negotiator untuk bisa negosiasi apapun yang mereka butuh dari siapapun. Yes, ini berlaku untuk orang yang kalian baru kenal, ini berlaku untuk teman lama, ini berlaku untuk circle yang kalian enggak pernah ketemu. Bahkan atasan atau bawahan. Art of Influencing adalah seni untuk bikin orang lain ngelakuin apapun yang kita mau. Yes, makanya kalau misalnya dipakai untuk kejahatan bakal kesannya manipulasi. Tapi mau gimana pun ini tuh gabungan skill behavioral psychology, sociolinguistic yang ujung-ujungnya kita mencari celah, karena manusia itu manusia. Ada hal-hal yang dari lahir kita enggak sadar kita bisa ter-influence orang lain. Dan gua akan ngajarin ada 5 step. Again, disclaimer keras ya, jangan dipakai untuk kejahatan. Step satu yang paling penting ya, again, kalian enggak bakal dapetin ini di mana-mana karena step satunya subscribe. Bercanda, step satunya itu KYC atau yang namanya Know Your Customer. Siapapun yang kalian mau influence atau butuh sesuatu dari seseorang, mau misalnya project, dapetin deal. Hal pertama yang paling penting lu harus lakuin adalah Know Your Customer. Dan ini gua lakuin pribadi dulu dari zaman-zaman gua kalau meeting sama orang, misalnya gua mau closing project nilai miliaran. Yang gua pelajarin itu bukan project-nya, tapi yang gua pelajarin itu orangnya. Siapa orang yang gua temuin dan gua cari info sebanyak mungkin. Apa yang dia suka dan enggak suka? Style komunikasinya gimana? Punya anak apa enggak? Hobinya apa? Pasti kalian mikir ngapain gua riset banyak tentang orang? Nah, ini kesalahan banyak orang. Gimana caranya kalian atur strategi untuk dapetin apa yang kalian mau, kalau orangnya aja kalian enggak kenal. So step satu yang kalian lakuin adalah jangan cuma cari tahu bisnisnya tapi harus tahu personalnya. Ini enggak terbatas dari apapun. Umur, istri, anak, film favorit, siapa temennya yang beririsan sama temen kalian? Banjirkan informasi di kepala kalian apa yang kalian tahu tentang orang itu? Ini penting. Step dua, rapport. Sebenarnya ada pepatah gua lupa dari mana, katanya cuman orang bodoh kalau pengen sesuatu dari orang, dia main cuuk datang eh gua mempunyai sesuatu ini lu mau enggak? Orang dia enggak kenal lu, orang dia belum percaya sama lu, orang dia enggak pernah bisnis sama lu, ngapain dia beli dari lu? So untuk influence orang, setelah lu pelajari orangnya, hal pertama yang harus lu lakuin adalah ngebangun rapport. Atau bahasa Indonesianya, bikin dia suka sama lu. Hal paling basic yang bisa gua lakuin kalau misalnya gua ketemu sama orang, again kan gua udah KYC nih, adalah gua compliment. Make sure ini genuine, karena orang tahu kalau compliment tapi enggak genuine. Misalnya gua datang dan gua memang tahu dia tuh baru kemarin menang award buat brand-nya di sebuah penghargaan. Jadi pas ketemu mungkin hal pertama yang gua bilang, "Eh, by the way congrats ya, btw kemarin lu baru menangin brand ya?" Terus kalau misalnya orang yang lu enggak kenal gimana? Misalnya lu lagi di networking party nih. Lu datang eh sepatu lu keren banget, tapi kalau emang suka sama sepatunya. Atau sesimpel, "Eh, tadi speech lu keren banget di stage." Sebenarnya building rapport itu bukan cuma compliment, tapi ada banyak hal-hal kalau misalnya kalian ngerti behavioral psychology yang kalian bisa lakuin untuk bikin orang suka sama kalian. Dan ini bonus tips ya, untuk bikin orang lebih suka sama kalian, kalian harus pede, kalian harus punya karakter yang karismatik, ramah senyum, dan presentable. Hal-hal kecil misalnya badan kalian wangi. Misalnya, karena gua lagi collab sama Scarlett, ini yang saya akhirnya Scarlett kontak gua untuk collab. Sesimpel pakai parfum kayak Dreamy sama Sweet Memories. Gua bisa bangga nih gua collab sama Scarlett, karena mereka salah satu brand lokal yang sebentar lagi di tanggal 10-10 itu OTW tahun ke-6. Dan itu untuk dua parfum yang gua sebutin, mereka dapat rekor muri loh, penjualan tercepat dalam 30 menit pertama. Gua tuh support banget untuk semua brand lokal yang sebenarnya mau kerja sama atau brand tapin di video-video gua. Tapi ya, di luar dari collaboration, it actually matters a lot. Di step ngebilding rapport, hal-hal kecil tuh yang kalian bisa perhatikan adalah gimana cara bikin orang suka sama kalian? Dan jujur itu termasuk gimana cara kalian jaga diri, dari kalian jaga kulit, the way you dress, bahkan sampai gerak-gerik perilaku kalian. Dan gua salut Scarlett sebagai salah satu pioneer. Kalau gua sih bilangnya DNVB ya, Digital Native Vertical Brands. Salah satu brand lokal yang menurut gua top of mind, yang berhasil secara signifikan dapetin market share di vertical-nya personal care. Dari produk lotion, parfum dan teman-temannya. And yes, gua bangga ada produk lokal yang bisa bersaing dan punya market share kayak mereka. Hopefully ceritanya Scarlett yang sampai udah menang segini banyak award, bisa menginspirasi banyak brand lain biar apa? Ya ini, biar bisa bantu orang-orang yang nonton video ini lebih confident, lebih sehat, lebih stylish. Kalian cek aja parfum Dreamy sama Sweet Memories yang kemarin sempat rekor Muri, link-nya semua gua taruh di bawah. Kalau gua dikasih dapat promo, gua juga taruh di bawah. Tapi yes, ini poin-poin kecil. Step satu yang harus kalian lakuin untuk bisa dapetin apapun dari orang lain adalah building rapport. Somehow kalian harus bikin orang suka sama kalian. Tapi itu enggak cukup, kan ujung-ujungnya dari influencing people adalah kalian pengen sesuatu dari orang itu. Kalian harus offer sesuatu. Masih ada tiga step lagi, step ketiga adalah Credibility. Suka doang itu enggak cukup kalau suka itu sifatnya personal. Jadi di step tiga ini, somehow kalian harus membawa diskusinya, bikin orang itu yang pertama suka sama kalian, yang kedua adalah percaya sama kalian. So credibility itu gimana cara kalian bridge conversation atau pembicaranya dibawa pelan-pelan itu giliran nih. Kalau step satu bikin orang suka sama kalian, itu kalian harus sering mendengarkan. Kalian harus sering nanya pertanyaan ke dia. Nah di fase building credibility, kebalikannya, kalian harus mulai ngomong. Misalnya tadi gua sudah berhasil buka diskusi ya, "Pak, kemarin anaknya baru lahir kan ya?" Congrats ya, oh iya udah ngobrol-ngobrol basa-basi, udah cair dan orangnya udah suka sama kalian, udah luas. Selanjutnya kalian harus mulai cicil credibility. Nah ini seni juga, kalian enggak boleh try hard banget kayak, "Eh by the way, gua baru menang award loh." "Eh by the way, gua tuh orangnya pintar banget loh, gua orangnya bisa ngelakuin A B C lagi." Wah itu orang langsung skip. Kalian harus lakuin ini dengan finesse, yaitu cari celah-celah pembicaranya di mana kalian bisa counter dengan cerita kalian sendiri. "Oh iya, kemarin gua baru selesai kerjaan ini nih." gitu. Lu balas dengan, "Oh hebat juga ya lu ya, gua kalau Minggu lalu soalnya nge-selesaiin kerjaan ini, ya bersyukurnya akhirnya gua bisa closing project ini senilai Rp10 miliar." Buat gua sih itu project paling gede yang gua akhirnya closing. Terus nanti dia bakal nanya, "Wih, gimana lu bisa closing project senilai Rp10 miliar?" Jadi salah satu strategi yang gua lakuin adalah gua bla bla bla bla bla. Wah, bikin mereka kayak yang pertama suka dan percaya personal dengan kalian, sekarang percaya sama kalian secara profesional. Membangun kredibilitas itu bukan cuma ngomong doang, tapi kalian memang harus ada substansi. Kalian memang sebelumnya harus punya pengalaman, harus punya sesuatu yang memang kalian bisa banggakan ke orang lain. Misalnya kalian punya award, punya achievement, sukses selesaiin project, dapetin sertifikasi. Dan itu step tiga. Di sini orang yang kalian mau influence sudah suka sama kalian secara personal, kedua suka sama kalian secara profesional. Nah ini step empat yang penting banget. Tapi gua rasa enggak banyak orang yang ngajarin. Orang biasa langsung skip ke step lima, step lima itu offer. Kalau udah percaya baru kalian ngomong, "Pak, saya punya project nih, kira-kira Bapak bersedia enggak?" Nah, step empat adalah bridge. Karena hal yang paling orang benci itu kalau sadar, "Oh ternyata gua dibaik-baikin karena lu pengen sesuatu dari gua." Mentang-mentang lu udah bisa bikin gua suka sama lu, lu udah beliin gua makan, tiba-tiba lu offer, ternyata lu mau minta gua Rp10 miliar. Nah itu artinya orang langsung skip ke offer. Kenyataannya harus ada step empat yaitu bridge. Harus ada jembatannya. Nah, bridge itu adalah gimana cara kalian bikin offer itu bukan kelihatan kayak cuma lu yang pengen sesuatu dari orang lain, tapi kelihatan kayak ini awal dari sebuah relationship yang win-win. Karena di bridge ini kalian harus smooth, di sini lu harus pintar, enggak boleh kelihatan banget nih gerak-geriknya kayak habis ini lu mau offer sesuatu. Jadi secara body language, secara postur, secara nada suara, kalian harus kayak biasanya aja. Dan again, jangan lupa. Di saat mau influence orang, hal-hal kecil kayak penampilan matters a lot. And karena gua bangga ama brand lokal, kalian bisa lihat full suite productnya Scarlett mulai dari parfum, body lotion, skincare, kosmetik, body serum, scrub, body cream, facial wash, Essence Toner. Anjir, banyak banget produknya. Intinya gua support brand lokal, cek link di description! And yes, penampilan matters. Nah jadi kita lanjut di storytelling ini setelah bridging. Gua kasih contoh, misalnya di seluruh pembicaraan ini tuh kalian mau nawarin sebuah jasa. Kalian mau nawarin jasa desain dan pengen closing nilai projectnya 1 miliar. Misalnya kayak gitu, itu yang kalian mau dan kalian pengen influence orang itu untuk ngasih project-nya ke kalian. Bridge adalah gimana caranya kalian cari jembatan yang sangat smooth agar kalian bisa offer tanpa kelihatan kayak offer. Gua kasih contoh, dia udah suka sama kalian, udah percaya sama kalian. Kalian lanjut ngobrol terus bilang, "Eh, ini kayaknya semua bisnis lagi sukses, teman gua bisnisnya lagi pada sukses, kayaknya ekonominya lagi bagus lo, kayak gitu juga enggak?" Terus dibalas sama dia, "Oh iya, bisnis gua soalnya sekarang tuh startup, kemarin gua baru dapat duit ratusan miliar." Ya, lumayanlah. Nah habis itu lu balas lagi nih, "Eh congrats men, ini startup lu yang marketplace designer itu ya?" "Problemnya gua ngerti sih, cari designer di Indonesia susah banget." "Cari designer susah banget, gua selama 5 tahun terakhir ngerjain project design di Singapore. Dan banyak yang sudah gua bantu, tapi kadang enggak terlalu di appreciate. Gua rasa orang kayak lu yang bisa appreciate designer." "Wajib dong bro, kan gua bikin marketplace designer, gua harus percaya dong designer tuh ada harganya." Terus di situ baru buka, apa yang kalian dengar barusan itu namanya bridge. Kita lanjut ke step five ya, offer. Dan di sini, kalian harus gabungin step satu, step dua, step tiga dan step empat. Step satu KYC, inget semua yang kalian inget tentang orang itu. Step dua, report, perkuat lagi. Kalau kasus ini gua bilang, "Gila, gua respect sama lu, enggak banyak orang Indonesia yang percaya yang menghargai jasa designer." Step tiga credibility, diulang lagi, lanjut ya. Again, gua 5 tahun nge-design di Singapore aja gua enggak ngerasa di appreciate. Step empat bridge, "Eh, you know what?" Step lima offer, "Gimana kalau gua bantuin lu ngerjain design?" "Gua tuh cuma kerja sama orang yang gua ngerasa gua bisa sama-sama win-win. Dan gua terima project emang pilih-pilih, cuman selama 10 menit terakhir ngobrol sama lu gua ngerasa kita punya satu prinsip yang sama. Lu mau gua bantuin enggak?" Nah, di situ, kalau lu ngikutin step 1 sampai 5, kalian sangat punya kesempatan tinggi untuk dia bilang yes. And that my friend, step 1 sampai step 5, versi Raymond Chin is The Art of Influencing. Kalau kalian suka video kayak gini, gua sih pengen bikin video lanjutan biar video ini enggak kepanjangan, lebih ke tips and trick lanjutan. Untuk berkomunikasi, negosiasi, influencing atau bahkan leadership habis ini. Tapi yang mana dulu, kalian nanti komen di bawah kalau kalian ngerasa tadi bermanfaat atau ada pertanyaan lanjutan, feel free. I guess I'll see you guys next video, bye-bye.

5 Teknik KOMUNIKASI untuk Bisnis & Karir
Raymond Chin
9m 38s2,050 words~11 min read
YouTube auto captions
Transcript source
YouTube auto captions
This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.
Pull quotes
[0:00]Konon katanya kalau misalnya kita pengen sesuatu dalam hidup, kita harus minta dari orang.
[0:00]Berkomunikasi dan negosiasi sama orang itu kayak sebuah seni yang bisa dipelajariin.
[0:00]Dan orang yang sangat ahli di hal ini bisa ngegunain skill ini untuk hal-hal yang jahat.
[0:00]Jadi sebelum gua skill ilmunya yang again, kalian cuma bakal dapat dari video ini, karena ini versi gua pribadi.
Use this transcript
Related transcript hubs
Watch on YouTube
Share
MORE TRANSCRIPTS


