[0:10]Halo Bro dan Sis, apa kabarnya? Fenomena bajak laut selitas seperti sebuah mitos, namun ternyata tidak, Guys. Bajak laut nyata adanya dan menjadi ancaman bagi kapal-kapal yang hendak berlayar menuju perairan laut lepas.
[0:24]Salah satu kejadiannya diangkat di film yang akan kita bahas sekarang berjudul Captain Phillips diperankan oleh Tom Hanks yang berperan sebagai Kapten Phillips. Mengisahkan salah satu dari insiden pembajakan kapal laut tersebut oleh perompak Somalia.
[0:42]Richard Phillips adalah seorang pelaut yang mana dia diminta untuk mengomandoi sebuah kapal laut mengangkut kargo Maersk Alabama dari pelabuhan Salalah Oman menuju Kenya, Afrika.
[0:54]Kapal laut tersebut membawa kontainer-kontainer yang berisi makanan dan air bersih untuk bantuan bagi para penduduk yang mengalami kelaparan di daerah Mombasa, Kenya.
[1:04]Rute perjalanan mereka akan melewati jalur yang disebut sebagai Tanduk Afrika dari Oman ke Djibouti terus melewati perairan Somalia sebelum sampai ke Mombasa.
[1:13]Kapten Phillips menyadari bahwa mereka akan melewati jalur yang rawan. Oleh karena itu, sejak dari pelabuhan, dia meminta agar segala pintu dan ruangan kapal untuk dikunci.
[1:23]Sementara itu di sebuah perkampungan lain di sebuah pantai di Somalia, sebuah operasi hendak dijalankan oleh sekelompok orang yang mana mereka ini dikenal sebagai bajak laut Somalia atau perompak Somalia.
[1:34]Seseorang berperan sebagai perekrut bagi warga sipil lain yang hendak ikut bekerja dengan mereka merampok di lautan. Mereka akan bergerak dengan pasukan dua perahu bot kecil dan satu perahu induk yang akan mendukung aksi mereka di belakang.
[1:49]Anggota telah berhasil direkrut, mereka masing-masing dibekali dengan senjata. Maka meluncurlah mereka ke lautan lepas untuk mencari mangsanya.
[1:57]Sementara itu, kapal laut Maersk Alabama juga telah berada di lautan lepas. Kapten Phillips sangat menjaga kewaspadaan, sejak awal perjalanan dia langsung meminta agar diberlakukan pelatihan persiapan standar operasi keamanan terhadap para kru.
[2:11]Proses tersebut sedang berlangsung, dua motor bot kecil tiba-tiba sedang mendekati kapal laut tersebut dan Kapten Phillips melihat hal itu.
[2:19]Untuk lebih meyakinkan ia kemudian meminta agar kapal belok arah dan ternyata si perahu kecil itu bergerak mengikuti arah mereka.
[2:26]Lalu lewat peneropong, Kapten Phillips juga melihat bahwa orang-orang ini berbekal persenjataan. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka ini adalah para bajak laut yang hendak memburu mereka.
[2:36]Kapten Phillips segera menghubungi pihak pemantau perairan untuk diminta pertolongan, namun mereka masih menduga bahwa perahu kecil itu hanya perahu nelayan saja.
[2:47]Dua perahu kecil itu memang ditumpangi oleh kawanan perompak Somalia yang tadi yang berbekal senapan. Masing-masing perahu beranggotakan empat orang kru.
[2:56]Mereka mencoba untuk mendekati kapal laut Maersk ini. Kapten Phillips kemudian meminta semua kru agar kembali ke posisinya masing-masing dan menyatakan bahwa ini adalah bukan latihan lagi, namun tantangan yang nyata yang ada di depan mata.
[3:09]Scanner pelacak menunjukkan bahwa jarak mereka sudah semakin dekat. Tidak berhasil mendapat respon dari pihak pemantau perairan yang ia hubungi, Kapten Phillips pun berimprovisasi.
[3:19]Ia berlaga seolah-olah sedang dalam pembicaraan dengan komando Angkatan Laut Amerika Serikat dan mereka siap untuk bergerak mengirimkan artileri udara untuk melindungi kapal laut Maersk ini.
[3:30]Saluran telepon kapal laut ini tertangkap pada radio penerima kawanan perompak, maka perahu yang satu pun yang ketakutan mendapat serangan dari pihak militer segera belok arah putar haluan.
[3:39]Namun perahu yang satunya lagi yang dikomandoi oleh Abdul Wali Muse memilih untuk tidak mengindahkan hal itu. Ia terus memacu perahu botnya mendekati kapal laut Maersk yang jaraknya kini cuma 250 meter aja dari mereka.
[3:53]Tapi karena memacu botnya tersebut terlalu kencang, akhirnya mesin bot itu meletup dan mati. Maersk Alabama kali ini berhasil lepas dari kejaran para perompak tersebut.
[4:07]Malamnya para pekerja berkumpul. Kapten Phillips mengevaluasi kejadian tadi bahwa mereka telah terbebas dari bahaya.
[4:14]Dia menyebutkan bahwa pihak yang berwenang telah dikabari mengenai hal itu dan menyatakan apresiasi terhadap kerja para kru yang cekatan dan mempersilakan mereka untuk melanjutkan makan malam.
[4:24]Namun salah seorang dari kru merasa yakin bahwa perompak tadi akan balik lagi mengejar mereka. Mereka merasa keberatan harus kerja dengan menghadapi ancaman perompak dengan keadaan mereka tanpa senjata.
[4:35]Kapal kargo memang tidak dibekali dengan senjata. Mungkin ada semacam peraturan yang mengawasi hal seperti itu. Kita kurang ngerti.
[4:42]By the way, perdebatan dan ketegangan sedikit melutup sampai akhirnya kemudian Kapten Phillips memaparkan bahwa mereka saat itu sudah tidak ada opsi lain untuk memilih jalur, karena ke manapun mereka belok pasti di suatu titik pasti akan ketemu dengan perompak.
[4:57]Sementara itu pihak perompak sedang berusaha untuk memperbaiki mesin botnya. Sepertinya mereka memang berencana untuk melanjutkan pengejarannya besok pagi.
[5:06]Krunya Muse menyatakan bahwa mesin mereka sudah usang dan kehabisan diperbaiki. Muse meminta mesin dari perahu satunya agar diberikan kepadanya.
[5:13]Si pemilik perahu pertama menolak dan menantangnya. Muse mengemplang rekannya itu dengan sebuah kunci besar sampai mati. Si Muse ini rupanya seorang yang bengis dan kejam dan sangat berambisi.
[5:23]Besoknya baru aja bangun tidur, Kapten Phillips sudah dihubungi oleh senior officer agar segera merapat ke atas ruangan kontrol.
[5:30]Perahu bot si perompak sudah kembali dalam usahanya untuk mendekati kapal laut Maersk. Kapten Phillips meminta agar Maersk Alabama diset pada kecepatan full speed dan mulai membunyikan alarm tanda bahaya.
[5:42]Dia juga mulai menghubungi pihak darurat maritim bahwa mereka sedang dalam kejaran pihak perompak. Selang penyembur air pun yang dipasang di sekitaran badan dari kapal segera diaktifkan.
[5:52]Muse lewat radionya menghubungi radio kapal, meminta agar Maersk Alabama segera berhenti. Namun tentu saja kapal laut ini tidak mau berhenti.
[6:00]Maka dari itu Muse memberi peringatan bahwa mereka kali ini sangat serius. Dia mulai memerintahkan krunya untuk melancarkan tembakan.
[6:07]Suasana di dalam kapal pun mulai tegang. Perahu bot bermanufer bergerak menuju bagian sisi dari kapal laut. Mereka hendak mengaitkan tangga yang sudah mereka persiapkan agar mereka bisa naik ke kapal kargo.
[6:19]Kapten Phillips berusaha menyerang dengan flare tapi tembakan-tembakannya meleset. Meski dengan perjuangan yang cukup menguras tenaga, Muse dan kawan-kawan akhirnya bisa mendarat di dek kapal kargo ini.
[6:33]Kapten Phillips meminta agar semua kru berdiam diri di ruangan mesin karena ia tidak ingin ada yang tertangkap dan kemudian jadi sandera.
[6:40]Dia mencoba memberikan kepercayaan diri kepada krunya bahwa mereka lebih hafal kondisi kapal ini daripada para perompak yang enggak tahu apa-apa.
[6:48]Muse tiba di flying bridge di mana Kapten Phillips sedang berada. Kawanan perompak itu menodong mereka semua.
[6:54]Muse meminta agar Kapten Phillips tidak khawatir, dia semua perlu uang saja, tidak akan terjadi pembunuhan.
[7:00]Ketika Muse mengetahui bahwa kapal ini adalah kapal Amerika, standarnya kemudian jadi meninggi. Dia menolak untuk menerima uang 30.000 dolar yang ada di dalam brankas.
[7:11]Dia ingin mendapatkan lebih, dia meminta 10 juta dolar. Operator mesin di engine room saat itu sedang mematikan mesin kapal tersebut.
[7:17]Muse jadi mencurigai ada pergerakan di bawah tanpa sepengetahuannya. Kapten Phillips bilang bahwa mesin kapalnya overheat karena ngebut mencoba menghindar kejaran mereka.
[7:28]Muse kemudian mempertanyakan keberadaan semua kru kapal. Ia meminta diajak untuk melakukan penggeledahan terhadap semua ruangan kapal.
[7:33]Kapten Phillips saat percakapan itu sengaja menyalakan radionya, sehingga informasi tersebut terdengar oleh pihak kru yang berada di dalam ruangan mesin.
[7:42]Mereka kemudian bersiaga dan melakukan strategi. Salah seorang kru akan masuk ke ruang generator untuk mematikan aliran listrik agar keadaan di ruang mesin menjadi gelap.
[7:51]Di dalam kapal, Muse melihat denah dari kapal tersebut. Dia meminta untuk diantar ke ruangan mesin.
[7:57]Menyadari bahwa bahaya akan segera mengancam, Kapten Phillips mencari akal untuk mengulur waktu.
[8:03]Dia mengajak Muse masuk dulu ke ruangan logistik untuk mengambil air karena kondisi ruangan mesin pasti panas dan pengap karena kalau listrik mati AC pun enggak jalan, begitu alasannya.
[8:13]Mereka pun mampir dulu ke ruangan logistik. Shane, ajudan dari Kapten Phillips saat itu kebetulan sedang berada di dalam ruangan itu untuk mengambil perbekalan bagi kru di ruang mesin.
[8:21]Akhirnya dia pun mendengar percakapan Kapten Phillips dan para perompak bahwa mereka dari sana akan langsung menuju ruangan mesin.
[8:28]Saat itu ia melihat bahwa seorang perompak enggak pakai alas kaki. Dia menghubungi kru di ruangan mesin agar menyiapkan pecahan kaca agar terinjak oleh anggota perompak tersebut.
[8:39]Operator mesin yang hendak bergerak ke ruangan generator mencoba mengalihkan perhatian para perompak yang sedang berada di atas flying bridge dengan melemparkan sebuah besi sehingga menimbulkan bunyi.
[8:50]Perompak tersebut terpancing, mereka bergerak ke arah sumber suara dan kesempatan itu dipergunakan oleh sang operator untuk masuk ke ruangan generator.
[8:58]Pada saat yang bersamaan, Kapten Phillips dan Muse sudah tiba di pintu ruangan mesin. Sang perompak yang bernama Bilal ini menginjak pecahan-pecahan kaca yang ditebar tepat di depan pintu dan mengakibatkan luka yang sangat parah.
[9:10]Muse tidak mau terganggu dengan hal itu. Ia mengerti bahwa Kapten Phillips sudah mempermainkannya. Dia ingin memeriksa ke setiap celah ruangan mesin untuk mencari rombongan kru.
[9:19]Pada saat yang bersamaan operator berhasil mematikan aliran listrik kapal, sehingga ruangan mesin itu pun menjadi gelap.
[9:25]Muse kemudian menyuruh Kapten Phillips untuk membawa Bilal ke atas flying bridge dan memberikannya bantuan.
[9:31]Sementara dia sendiri akan mencoba memeriksa ruangan mesin. Muse meskipun dia membawa sepucuk senapan, tapi dia ini cuma seorang diri.
[9:37]Akhirnya jadi santapan para anggota kru yang lebih banyak dan lebih mengetahui medan. Si pemimpin perompak ini berhasil ditangkap dan disekap.
[9:45]Kapten Phillips bersama Bilal sudah berhasil naik ke atas flying bridge. Perompak yang lain kaget karena Muse enggak ada bersama mereka.
[9:52]Tiba-tiba radio milik Kapten Phillips berbunyi. Suara tersebut dari Shane. Dia menanyakan posisi dari Kapten Phillips.
[10:00]Dia juga mengabarkan bahwa mereka telah berhasil menangkap Muse. Negosiasi pun akhirnya terjadi antara mereka untuk saling membebaskan tawanan masing-masing dan pihak perompak akan tetap bisa membawa uang 30.000 dolar yang tadi sempat ditawarkan.
[10:13]Mereka juga boleh membawa lifeboat kapal laut ini untuk pergi menuju daratan. Perjanjian disepakati.
[10:18]Kelompok perompak turun menuju lifeboat tersebut bersama Kapten Phillips yang mencoba ngasih tahu cara untuk mengoperasikan lifeboat tersebut.
[10:26]Sementara itu Muse dilepaskan di saat Kapten Phillips masih berada di dalam lifeboat itu. Perompak pun seperti dikasih kesempatan.
[10:33]Muse berbuat curang, dia memukul Kapten Phillips dan menembaki kru kapal dan lifeboat itu pun akhirnya terjun ke lautan dengan Kapten Phillips yang masih ada di dalam cengkeraman mereka.
[10:43]Kabar ini sampai ke kapal perang militer Amerika USS Bainbridge. Mereka telah mencatat posisi dari lifeboat itu dan terlebih dahulu melakukan pantauan udara.
[10:52]Sementara USS Bainbridge meluncur menuju lokasi pembajakan tersebut. Lifeboat tersebut bergerak sangat lambat sampai besok paginya mereka masih belum mencapai daratan Somalia.
[11:02]Sementara Maersk Alabama pun terus mengikuti lifeboat ini untuk mengawal kapten mereka yang hidupnya sedang terancam di bawah sekapan para perompak.
[11:11]Di dalam lifeboat, Muse memberi jaminan bahwa Kapten Phillips akan baik-baik saja. Setelah uang tebusan dikirimkan, dia akan segera dibebaskan.
[11:20]Si Muse ini terlihat rasional dan masih waras, namun seorang perompak yang bernama Naji terlihat sangat stres, dia bertindak kejam.
[11:27]Naji tidak mengizinkan Kapten Phillips untuk banyak bicara dan hanya memberi dia minum satu teguk saja, meskipun Kapten Phillips telah berbaik hati merawat luka-luka kaki Bilal.
[11:36]Pihak militer Amerika di USS Bainbridge melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan pelaku pembajakan.
[11:42]Kapal induk dari perahu bot kecil itu yang dipakai perompak adalah milik seseorang yang bernama Garard, seorang biang teror asal Somalia.
[11:50]Mereka terbiasa beroperasi untuk mendapatkan uang, jadi diperkirakan negosiasi akan bisa dilakukan.
[11:56]Syarat yang diminta dari pihak pusat militer, Kapten Phillips jangan sampai mendarat di pantai Somalia karena urusan akan lebih berabe.
[12:02]Namun demikian pihak Pentagon telah menyiapkan pasukan Navy Seal untuk antisipasi apabila Kapten Phillips pada akhirnya bisa dibawa para perompak ke daratan.
[12:11]Muse telah berulang kali mencoba menghubungi Huva atasannya agar mereka dijemput dari lifeboat itu yang lajunya sangat lambat, namun tidak seorang pun di markas atasannya itu ada yang mau menjawab.
[12:22]Orang-orang di markas mereka sepertinya memang tidak mau berurusan dengan angkatan perang sebuah negara sehingga mereka tidak mau merespon Muse.
[12:30]Mereka membiarkan sandera mereka terombang-ambing di lautan lepas tanpa bantuan, sementara Muse dan kawan-kawannya belum menyadari hal tersebut.
[12:38]Sebuah sirine yang kencang disertai dengan lampu yang terang tiba-tiba menerpa lifeboat itu. Mereka kini telah berada di posisi yang berdekatan dengan kapal perang USS Bainbridge.
[12:51]Komandan Frank Castellano dari USS Bainbridge menyuruhkan bahwa mereka ingin mengakhiri krisis ini dengan damai. Mereka tidak akan mengincar para perompak, hanya ingin agar Kapten Phillips dibebaskan dengan selamat.
[13:03]Muse namun tetap pada pendiriannya, meminta 10 juta dolar sebagai uang tebusan. Kemudian seorang negosiator yang berbahasa Somalia melanjutkan pembicaraan.
[13:12]Uang sebesar itu tidak akan mudah begitu saja mereka bawa, untuk sementara itu mereka menawarkan untuk memberi mereka makan dan minuman.
[13:19]Pada saat itu juga seorang dari anggota militer merapat di kapal Maersk Alabama, meminta agar kapal kargo itu untuk langsung aja melaju ke arah Mombasa.
[13:27]Lifeboat yang membawa Kapten Phillips akan berkat tangani dengan saksama. Shane pun mengikuti instruksi tersebut.
[13:33]Maersk Alabama putar haluan langsung menuju tempat tujuannya di Mombasa. Besok harinya ketika hari sudah terang, dua perahu bot Navy Amerika mendekati lifeboat yang ditumpangi oleh para perompak.
[13:45]Mereka menyerukan bahwa mereka membawa logistik yang mereka janjikan tadi malam. Muse pun keluar menghadapi mereka.
[13:51]Dia berkata bahwa dia tidak butuh makanan, dia hanya butuh uang 10 juta dolar saja.
[13:57]Kapten Phillips pun ditunjukkan kepada mereka bahwa ia dalam kondisi baik-baik saja.
[14:00]Saat itu Kapten Phillips memberikan kode bahwa ia duduk di kursi nomor 15 di dalam lifeboat. Suasana menjadi tegang kemudian karena Naji yang enggak bisa waras meminta Muse agar berhenti ngobrol dan langsung melakukan aksi.
[14:13]Sementara Muse berusaha untuk bernegosiasi. Naji kemudian menembakkan pistol di depan telinga Kapten Phillips yang membuat suasana menjadi tidak terkontrol.
[14:22]Akhirnya pasukan militer Amerika menambah armada mereka dengan satu kapal perang dan satu kapal induk yang sangat besar.
[14:27]Mereka mengupung satu lifeboat kecil ini dari berbagai sisi. Kapten Phillips meyakinkan Muse bahwa ini telah berakhir.
[14:34]Pasukan militer Amerika tidak akan membiarkan mereka lolos sampai di Pantai Somalia, jadi lebih baik mereka menyerah saja.
[14:41]Muse bilang bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh untuk mundur, dia tidak bisa menyerah.
[14:46]Malamnya Kapten Phillips melihat Bilal pergi keluar, maka ia pun ikut minta izin untuk pipis di luar.
[14:52]Bilal yang agak soft sama dia setelah tadi ditolong dibalutkan lukanya tidak menodong atau mengawasinya dan itu dimanfaatkan oleh Kapten Phillips untuk mendorongnya ke perairan.
[15:01]Dan ia pun loncat dan berenang mencoba kabur dari lifeboat tersebut. Muse dan Naji pun keluar dari lifeboat, mereka mengetahui bahwa Kapten Phillips mencoba untuk kabur.
[15:10]Naji enggak ada kompromi. Dia langsung menembaki Kapten Phillips dan itu sangat ditentang oleh Muse.
[15:15]Tanpa tawanan mereka pasti akan langsung dibombardir oleh pasukan militer Amerika. Perahu lifeboat belok arah berusaha menyusul Kapten Phillips.
[15:23]Dan si pelaut ini pun terpaksa bersembunyi di bawah kapal kecil itu. Pergerakan mereka terlihat di layar pantau kapal Amerika.
[15:28]Mereka bersiaga hendak melakukan tindakan. Karena berada dekat dalam jangkauan musuh, akhirnya Kapten Phillips kembali tertangkap oleh Muse yang ikut terjun ke perairan.
[15:38]Pasukan militer tidak sempat melakukan tindakan apapun. Naji sangat marah di dalam lifeboat, dia menghajar Kapten Phillips hampir sampai mati kalau tidak dihentikan oleh Muse.
[15:47]Namun demikian Naji mendesak agar Muse melakukan tindakan. Muse kemudian mulai bertindak kasar kepada Kapten Phillips.
[15:53]Dia keluar sambil menodongnya dan menembak helikopter pasukan Amerika yang sedang melakukan pantauan lewat udara.
[15:59]Dia mengancam akan membunuh Kapten Phillips kalau pasukan Amerika tidak membiarkan dia mencapai pantai. Seorang negosiator dari pihak militer Amerika kemudian menghubungi pihak perompak.
[16:10]Dia mengenali nama satu persatu dari perompak itu. Kelompok perompak ini pun jadi terheran-heran. Negosiator bilang bahwa dia telah berunding dengan tetua dari suku mereka dan sepakat untuk bertemu memperbincangkan jumlah uang yang akan disepakati sebagai uang tebusan untuk Kapten Phillips.
[16:26]Untuk itu salah seorang wakil dari pihak perompak harus hadir dan akan dijemput oleh mereka menuju kapal militer Amerika. Naji memperingatkan bahwa itu adalah jebakan, namun ternyata Muse mempercayainya.
[16:38]Ia bersedia naik ke kapal militer Amerika untuk berunding, sementara itu perahu lifeboat akan ditarik menuju perairan yang agak tenang.
[16:45]Perahu botnya tim taktis Amerika mendekati perahu lifeboatnya perompak dan satu personal bot lain mengikatkan tali dan menempelkan bom ke dinding perahu lifeboat perompak tersebut.
[16:54]Perompak diminta memperlihatkan Kapten Phillips kepada mereka dan kemudian personal taktis tim ini memberikan Kapten Phillips baju yang kering untuk ganti.
[17:03]Kapten Phillips diharuskan memakai baju tersebut dan agar duduk di tempat yang tadi ia duduki. Tim taktis tampaknya sedang merencanakan sesuatu.
[17:11]Sementara itu Muse berpindah tempat ke botnya tim taktis dan meluncur ikut menuju kapal musuhnya. Muse berhasil dibawa menuju kapal militer Amerika dan diminta menunggu sementara para ketua sukunya sedang dijemput oleh mereka.
[17:24]Muse mempercayai omongan Komandan kapal militer tersebut. Koplak juga ternyata si perompak ini.
[17:30]Tiba-tiba lampu-lampu yang menyala sangat kencang dinyalakan di kapal militer Amerika. Sopir lifeboat jadi silau dibuatnya.
[17:37]Pendedekan akan dimulai kata Komandan di kapal laut tersebut ketika Naji mempertanyakan hal itu.
[17:42]Tim taktis menaruh beberapa orang sniper di antara lampu tersebut, siap-siap apabila mereka mendapatkan momen yang tepat.
[17:49]Mereka akan melakukan eksekusi terhadap ketiga bajak laut yang masih tersisa di dalam lifeboat. Perahu militer Amerika yang menderek perahu lifeboat melaju sangat kencang mengakibatkan perahu kecil ini pun terombang-ambing.
[17:59]Kapten Phillips sendiri saat itu sedang dalam kondisi yang putus harapan. Dua hari bersama para bajak laut dalam udara yang pengap tanpa makan sedikitpun, kondisinya kini mulai down.
[18:08]Diam-diam dia menuliskan surat yang sedianya adalah pesan bagi keluarganya apabila ia tidak berhasil diselamatkan.
[18:16]Naji melihat hal tersebut dan langsung kembali mengancam Kapten Phillips agar tidak melakukan gerakan apapun. Kali ini Kapten Phillips yang sudah merasa nothing to lose mulai berani untuk memberontak.
[18:25]Dia menyerang Naji namun kemudian terpaksa kembali dipukul jatuh oleh sodokan senapannya Bilal.
[18:31]Teriakan-teriakan di dalam lifeboat ini terdengar di speaker monitor kapal militer Amerika.
[18:35]Situasi sedang kritis, mereka merasa ini saatnya bertindak. Namun mereka masih belum mendapatkan tiga target bidikan.
[18:42]Naji dan sang sopir lifeboat masih siaga, mereka menghindari posisi di pinggir jendela kaca. Situasi di dalam lifeboat semakin kritis.
[18:49]Naji yang emosian ini kini hendak benar-benar menembak Kapten Phillips. Komandan kapal militer kemudian meminta agar mereka menghentikan mesin kapal.
[18:56]Sehingga posisi Naji dan sopir lifeboat pun oleng. Saat itulah para sniper mendapatkan target bidikan mereka dan langsung membidikkan tembakannya.
[19:04]Ketiga perompak ini pun mati seketika. Saat itu juga langsung Muse yang sedang berada di atas kapal militer Amerika menunggu tetuanya yang enggak kujung tiba, langsung diberangus dan diseret oleh pasukan militer Amerika.
[19:16]Tim taktis segera mengevakuasi Kapten kapal kargo ini. Dia dibawa menuju kapal laut militer Amerika dan diberi perawatan.
[19:23]Kondisinya sangat shock, jiwanya terlihat trauma. Namun demikian diperkirakan dia masih bisa bertahan.
[19:31]Begitulah Bro dan Sis, kisah dari insiden pembajakan kapal laut Amerika yang melibatkan seorang kapten kapal yang selamat yang bernama Richard Phillips ini.
[19:38]By the way, setelah mendapat perawatan, Kapten Phillips pun bisa kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya.
[19:46]Dia baru mulai melaut lagi satu tahun kemudian di tahun 2010. Sementara itu Abdul Wali Muse dibawa ke Amerika untuk diadili atas aksi pembajakan yang dilakukannya.
[19:55]Dia mendapat hukuman kurungan penjara selama 33 tahun dan kini masih menjalani hukuman tersebut.



